BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.8 Hasil Penentuan pH Sediaan
Hasil pengukuran pH dapat dilihat pada tabel 4.7. Penentuan pH sediaan dilakukan dengan tiga pengulangan. Berdasarkan hasil pengukuran pH sediaan gel formula dari F0 (Blanko), F1 (5 mg/ml), F2 (10 mg/ml), F3 (15 mg/ml), sediaan gel yang dibuat masih memenuhi batas pH fisiologis kulit, menurut literatur pH
44
kosmetik diusahakan sama atau sedekat mungkin dengan pH fisiologis kulit yaitu 4,5-6,5 (Tranggono dan latifah, 2007)
Tabel 4.6 Data pengamatan pH sediaan Gel Hand Sanitizer
Keterangan
F = Formula
F0 = Basis gel (blanko)
F1 = Konsentrasi ekstrak teh hijau(0.5%) F2 = Konsentrasi ekstrak teh hijau (1%)
F3 = Konsentrasi ekstrak teh hija Keterangan:
F0 : Basis gel (blanko)
F1 : Konsentrasi ekstrak teh hijau (5 mg/ml) F2 : Konsentrasi ekstrak teh hijau (1 mg/ml) F3 : Konsentrasi ekstrak teh hijau (15 mg/ml) 4.9 Hasil Viskositas Sediaan
Penentuan viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan viskometer Brookfield DV-E dengan nomor spindle yang sesuai, sebelum dan setelah penyimpanan pada suhu kamar selama 12 minggu. Pengujian viskositas bertujuan untuk menentukan nilai kekentalan suatu zat. Semakin tinggi nilai viskositasnya maka semakin tinggi kekentalan zat tersebut.
Penambahan konsentrasi ekstrak Teh hijau mempengaruhi viskositas.
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak simplisia teh hijau yang ditambahkan, maka semakin tinggi viskositasnya. Hal ini disebabkan karena semakin sedikit dasar gel yang ditambahkan sehingga air yang terdapat pada gel semakin kecil (Suryati, 2016). Hasil pengamatan viskositas dapat dilihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7 Data pengamatan Viskositas sediaan
45 Keterangan :
F : Formula
F0 : Basis gel (Blangko)
F1 : Sediaan gel dengan Konsentrasi ekstrak teh hijau (5 mg/ml) F2 :Sediaan gel dengan Konsentrasi ekstrak teh hijau (1 mg/ml) F3 : Sediaan gel dengan Konsentrasi ekstrak teh hijau (15 mg/ml)
46 BAB V
KESIMPULAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa : a. Eksrak daun teh hijau (Camelia sinensis L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli menghambat pada konsentrasi 500 mg/ml dengan diameter daerah hambat sebesar 20.03 mm, dengan sifat daya hambat sangat kuat dan pada konsentrasi 5 mg/ml dengan diameter hambat sebesar 10.70 mm. dengan sifat daya hambat kuat. Sedangkan pada pada bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 500 mg/ml dengan diameter daerah hambat sebesar 19.60 mm, dengan sifat daya hambat kuat dan pada konsentrasi 5 mg/ml dengan diameter hambat sebesar 10.80 mm, dengan sifat daya hambat kuat.
b. Formula gel yang yang baik sebagai antibakteri adalah gel dengan konsentrasi ekstrak simplisia teh hijau 15 mg/ml.
c. Sediaan gel antiseptik tangan Hand Sanitizer ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli pada konsentasi 15 mg/ml dengan diameter hambat sebesar 7,93 mm, dengan sifat daya hambat
47
cukup (medium). Dan pada konsentrasi 10 mg/ml dengan diameter hambat 7.63 mm, dengan sifat daya hambat cukup (medium). Sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus pada konsentasi 15 mg/ml dengan diameter hambat sebesar 10.56 mm, dengan sifat daya hambat kuat dan konsentrasi pada konsentrasi 10 mg/ml dengan diameter hambat sebesar 7,7 mm, dengan sifat daya hambat cukup (medium).
5.2 Saran
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat membandingkan efektivitas sediaan Hand Sanitizer dengan variasi jenis teh lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, A. N. 2006. Taklukkan Penyakit dengan Teh Hijau. Jakarta: Media Pustaka. Hal 34-36.
Allen, Jr., andLoyd. 2002. The Art, Science, and Technology Pharmaceutical Coumpounding, 2nd edition, Pharmaceutical Assosiation , USA, Pharmaceutical pp. 301-315.
bBenjamin DT. 2010. Introduction To Hand Sanitizers. Tersedia.
http://www.antimicrobialtestlaboratories.com/information_about_hand sanitizers.
Biswas, K, P. 2006. Description of Tea Plant In Encyclopedia of Medicinal Plants.New Delhi : Dominant Pubbishers and Distributor P.75.
Davis, W.W., dan Stout, T.R. 1971. Disc Plate Method of Microbiological Antibiotic Assay.Applied Microbiology, 22(1): 659-665.
Depkes. 2001. Inventaris tanaman Obat Indonesia I. Jilid II. Jakarta:
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman 299-305, 334.
Dirjen POM. 1979. Farmakope indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dirjen POM.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta : Depkes RI.
Ditjen POM. 985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 29.
Departemen Kesehatan RI.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta.
Fachraniah, Eka, K., dan Novilasi, D. T. (2012). Ekstraksi Antioksidan dari Kari.
Journal of Science and Technology. Vol. 10 (1). Halaman 35-44.
Fansworth, N. R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants. Journal of Pharmaceutical Sciences. Vol. 55 (3). Halaman 263.
Friedman, MM, Bowden, O & Jones, M. 2010. Buku Ajar Keperawatan Keluarga
48
: riset, teori, & praktik ; alih bahasa, Achir Yani S. Hamid : editor edisi bahasa indonesia, estu Tiar, Ed. 5. Jakarta : EGC
Garg, A., Deepika, A., Garg, S., dan Singla, A. K. 2002 ‘Spreading of Semisolid Formulation’, Pharmaceutical Technology, Pp. 84-104, USA.
Handajani, J. 2002. Daya imunomodulasi teh hijau (Camellia sinensis). Majalah Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia; 4(7) Halaman 175.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : ITB.
Harianna A., 2008. Tumbuhan obat dan khasiatnya Seri 2.Depok : Penebar Swadaya
Himedia Laboratories Pvt. Ltd. Reg.office : 23, Vadhani Ind. Est., LBS Marg, Mumbai-400086, India.
Jain. N. K, Sidiqqi. M.A dan Weisburger. J.H 2006. Protective Effect of Tea on Human Health. Oxfordshire : CAB International
James, A, D. 1983. Handbook Of Energy Crop Appublished.
Jawetz., etal. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick&Adelberg Ed 23 Medical Microbiology, 23th .Jakarta EGC
Juniaty T.B.2013.Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Vol 19 (3). Halman 16.
Kumalaningsih, S. 2006. Antioksidan Alami, Penangkal Radikal Bebas. Cetakan Pertama. Surabaya: Trubus Agrisarana. Hal: 8, 16, 75.
Lay,B.W.1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Lucky, H, M. Karsinah., Saharto dan Mardastuti, M, W. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi. Edisi Revisi, Binarupa Aksara, Jakarta.
Nickerson, E.K., West, T. E., Day, N. P. &Peacock, S. J., 2009, Staphylococcus aureus. Disease and Drug Resistance in Resource- Limited Countries in South and East Asia. Lancetinfect Dis, 9 (130).
Oxoid.1982. The oxoid mannual of culture media, ingredients and other laboratory services. Fifth Edition. Published by Oxoid Limited Wade Road.
Basingtoke. Hampshire
Radji M, Suryadi H, Dan Ariyanti D. 2007. Uji Efektivitas Antimikroba Beberapa Merek Dagang Pembersih Tangan Antiseptik. Majalah Ilmu Kefarmasian 4(1).
Rahayu,M.S.,K,Wiryosoendjoyo.,A,Prasetyo. 2009. Uji aktivitas antibakteri ekstrak sokletasi dan maserasi buah Makasar terhadap bakteri Shigelladysentriae ATCC 9361 secara in vitro. Biomedika, 2, 1, 40-46.
Rawlins, E.A. 2003.BentleysofPharmaceutics, Eighteen ed., 22, 35, Baillierre Tindall, London.
Rowe R.C., Sheskey P.J., and Quinn M.E. (2009). Handbook of Pharmaceutic Excipients, Six th Edition, Pharmaceutical Press, London.
Santoso J. 2008. Petunjuk Teknik Pengolahan Teh, Pusat Penelitian Teh dan Kina, Bandung, 4-9, Halaman 2430.
Sihombing C.N., Nasrul W., & Taofik R., 2009. Formulasi Gel Antioksidan Ekstrak Buah Buncis (Phaseolusvulgaris L.) dengan Menggunakan Basis Aquapec505 HV, Jurnal Farmaka.
Suryati, L., M Saptrarini. 2016. Formulasi sampo ekstrak Daun Teh hijau (Camelia sinensis var, assamica) jurnal Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran, Sumedang, Jawa Barat.
49
Sinko, Patrick J. 2006. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika, Edisi 5, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Soemarno. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bakteri. Analisis Kesehatan. Yogyakarta.
Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Terjemahan : S. Noerono.
Gadjah Mada University Press. Indonesia.
Warsa, U.C. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Bina Rupa Aksara. Jakarta.
Halaman 40.
WHO. 1998. The World Health Organization Quality of Life Assesment (WHOQOL): Development and General Psychometric Properties.Soc.
Sci.Med Vol. 46, No 12, pp 1569-1585. Great Britain
Zatz, J. L., and Kushla, G. P. 1996. Gels, in Lieberman, HA., Lachman, L.
Schwatz,JB., Pharmaceutical Dosage Form: DysperseSystem,Vol. 2, 2nd edition, Marcell DekkerInc, New York, (pp.) 399-417.
50
Lampiran 1. Hasil identifikasi tumbuhan
51
Lampiran 2. Gambar tumbuhan teh hijau (Camelia sinensis L.)
Lampiran 3.Gambar kemasan Teh hijau (Camelia sinensis L.)
52
Lampiran 4. Gambar ekstrak Teh hijau (Camelia sinensis L.)
Lampiran 5. Gambar serbuk Teh hijau (Camelia sinensis L.)
53 Lampiran 6. Bagan kerja penelitian
54
Lampiran 7. Bagan pembuatan ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.)
Dimasukkan kedalam wadah
55
Lampiran 8. Bagan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak teh hijau (Camelia Sinensis L.)
Diambil dengan jarum ose steril
Ditanam pada media Nutrient agar miring Diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24 jam
Disuspensikan dalam 10 ml media Nutrient Broth
Dimasukkan 0,1 ml inokulum kedalam cawan petri
Ditambahkan 15 ml media MHA kedalam cawan petri
Dihomogenkan dan dibiarkan hingga memadat
Diletakkan cakram kertas yang telah direndam dengan ekstrak teh hijau diatas media
Diinkubasi pada suhu 37 oC selama 18-24 jam Diukur diameter daerah hambatan dengan jangka sorong
Stok kultur bakteri Biakan murni bakteri
Inokulum bakteri
Media memadat
Hasil
56
Lampiran 9. Bagan formulasi gel antiseptik Hand Sanitizer ekstrak hijau (Camelia sinensis L.)
57
Lampiran 10. Bagan pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel Hand Sanitizer Ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.)
58
Lampiran 11. Perhitungan kadar air ekstrak teh hijau (Camelia sinensis. L) Kadar air simplisia = Volume Akhir – Volume Awal X 100 %
Berat sampel
No Berat sampel (gr) Volume awal (ml) Volume Akhir (ml) Selisih Volume
1 5,003 2,8 3,0 0,2
2 5,003 3,0 3,4 0,4
3 5,002 3,4 3,7 0,3
59
Lampiran 12. Perhitungan kadar sari larut air ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.)
Kadar sari = Berat cawan sari – berat cawan kosong x 100 x 100%
Berat sampel 20
No Berat sampel (gr) Berat cawan kosong (gr) Berat cawan sari (gr)
1 5.003 64.23 0.29
2 5.002 60.33 0.12
3 5.003 60.42 0.27
60
Lampiran 13. Perhitungan kadar sari larut etanol ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.)
No Berat Sampel (g) Berat Cawan kosong (g) Berat Cawan sari (g)
1 5.002 62.41 62.81
2 5.002 64.71 65.32
3 5.003 57.91 58.42
61
Kadurabu total = Berat abu X 100 % Berat sampel
Lampiran 14. Perhitungan kadar abu total serbuk teh hijau (Camelia sinensis L.)
Berat Sampel (gr) Berat Abu (gr)
1 2,001 0,11
2 2,003 0,19
3 2,003 0,11
62
Lampiran 15. Perhitungan kadar abu total tidak larut asam ekstrak Teh hijau (Camelia sinensis L.)
Kadar Abu tidak Larut asam = Berat Abu x 100%
Berat Sampel
Berat Sampel (g) Berat abu (g)
1 2.001 0.01
2 2.003 0.02
3 2.003 0.01
63
Lampiran 16. Hasil pengukuran daerah hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dari gel Hand
Sanitizer ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L.)
Konsentrasi (%)
Diameter daerah hambatan (mm)
Staphylococcus aureus Escherichia coli
D1 D2 D3 Dr D1 D2 D3 Dr
1,5 10,58 10,56 10,54 10,56 7,90 7,90 7,99 7,93
1 7,7 7,9 7,5 7,7 7,63 7,60 7,60 7,63
0,5 0 0 0 0 0 0 0 0
Blanko 0 0 0 0 0 0 0 0
Keterangan :
D1 = Diameter perlakuan ke 1 D2 = Diameter perlakuan ke 2
64 D3 = Diameter perlakuan ke 3 Dr = Diameter rata- rata
Lampiran 17. Gambar hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak Teh hijau (Camelia sinensis L.) terhadap Staphylococcus
aureus
Lampiran 18. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak Teh hijau
65
(Camelia sinensis L.) terhadap Escherichia coli
Lampiran 19. Hasil Pengujian aktivitas antibakteri Ekstrak gel ekstrak Teh hijau (Camelia sinensis L.) terhadap Staphylococcus aureus
Keterangan
P = Hand sanitizer Pembanding
0,5 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 5 mg/ml 1 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 10 mg/ml
66
1,5 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 15 mg/ml
Lampiran 20. Gambar hasil pengujian aktivitas antibakteri gel ekstrak Teh hijau (Camelia sinensis L.) terhadap Escherichia coli
Keterangan
P = Hand sanitizer Pembanding
0,5 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 5 mg/ml 1 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 10 mg/ml
1,5 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 15 mg/ml
67
Lampiran 21. Gambar hasil uji homogenitas gel ekstrak simplisia Teh hijau (Camelia sinensis L.)
Keterangan
F0 = Hand sanitizer tanpa ekstrak teh hijau (Blanko)
FI = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 5 mg/ml F2 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 10 mg/ml
F3 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 15 mg/ml F 0
F3
F2
F 1
68
Lampiran 22. Gambar sediaan Hand sanitizer ekstrak teh hijau (Camelia sinensis L)
Keterangan
F0 = Hand sanitizer tanpa ekstrak teh hijau (Blanko)
FI = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 5 mg/ml F2 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 10 mg/ml
F3 = Hand sanitizer dengan konsentrasi ekstrak teh hijau 15 mg/ml
69 Lampiran 23. Gambar alat penelitian
(A)
70
71 Keterangan:
A. Oven. B. Jangka Sorong. C. PH Meter. D. Rotary evaporator.
E. Timbangan analitik .F.Viskometer (Brookfield)