BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2. Hasil Pengukuran Biomassa Tanah
Sebagian dari wilayah Kabupaten Bantul memiliki tanah yang sangat baik untuk budidaya pertanian dan masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian, oleh sebab itu harus ada upaya terhadap pengendalian kerusakan tanah untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan produksi biomassa. Menurut Prasetyo (2013), produksi biomassa adalah bentuk-bentuk pemanfaatan sumberdaya tanah untuk menghasilkan biomassa. Sedangkan arti biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu bunga, biji, buah, daun, ranting, batang dan akar, termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman.
Pengukuran kriterian baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa memiliki tata cara yang hanya berlaku untuk kerusakan tanah karena tindakan manusia. Penentuan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa didasarkan pada parameter kunci sifat dasar tanah yang mencakup sifat fisik, sifat kimia, dan sifat biologi tanah. Sifat – sifat tersebut adalah : a. Ketebalan solum; b. Kebatuan permukaan; c. Komposisi fraksi; d. Berat isi; e. Porositas tanah; f. Derajat pelulusan air. g. Kadar keasaman (pH);
h. Daya hantar listrik (DHL); i. Reaksi Redoks;
j. Jumlah mikrobia dalam tanah.
Sifat tersebut merupakan sifat dasar tanah yang digunakan untuk menentukan kemampuan tanah dalam menyediakan air dan unsur hara
tanah tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa.
Sifat dasar tanah dikatakan rusak apabila nilai pada masing-masing variabel untuk suatu sampel tanah hasilnya kurang dari ataupun melampaui batas baku mutu. Sifat dasar tanah dapat berubah dalam hubungannya dengan produksi biomassa dapat disebabkan oleh tindakan-tindakan pengolahan tanah yang tridak memperhatikan kaidah konservasi, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan penggunaan pestisida maupun herbisida yang terus menerus dengan takaran yang melampaui batas.
Tinggi rendahnya ketebalan solum pada suatu bentuk lahan biasanya dipengaruhi oleh kemiringan lereng. Adanya kemiringan lahan yang terlalu tinggi, sehingga tanah di bagian atas banyak yang tererosi menyebabkan solum tanah menjadi tipis. Langkah untuk memperdalam solum tanah dapat dilakukan dengan membuat terasering atau menanam tanaman keras dan tanaman penutup tanah.
Keberadaan kebatuan permukaan disebabkan karena batuan induk bersifat keras dan tanah tersebut terbentuk in situ, kebatuan permukaan ini juga sering disebabkan akibat dari tanah yang terbentuk mempunyai potensi erosi yang sangat tinggi (di daerah dengan kemiringan yang tinggi) atau batuan singkapan terlihat karena tanah yang terbentuk tererosi. Langkah untuk mengatasi hal tersebut dengan cara mengambil batuan tersebut untuk dijadikan bibir teras.
Komposisi fraksi dengan kandungan koloid (klei) yang rendah disebabkan karena proses terbentuknya tanah belum lanjut sehingga banyak didominasi oleh mineral primer. Peningkatan koloid (klei) tanah perlu waktu yang sangat lama karena terbentuknya klei akibat dari proses pelapukan secara fisik, kimia dan biologi. Umumnya pada tanah tersebut bersifat kurang subur, mempunyai daya mengikat air rendah yang disebabkan dominasi mineral primer, untuk meningkatkan tingkat
kesuburan tanah tersebut dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik.
Parameter permeabilitas tanah atau derajad pelulusan air dipengaruhi oleh tingkat ruang pori tanah dan kemampatan tanah. Derajad pelulusan air yang di luar ambang baku kerusakan adalah tanah yang mempunyai nilai di bawah ambang baku. Hal ini menunjukkan bahwa derajad pelulusan airnya rendah sehingga air limpasan permukaan (run off) akan meningkat yang akan meningkatkan erosi. Jika erosi berlangsung besar maka akan berakibat pada kerusakan tanah. Langkah untuk memperbaiki permeabilitas tanah atau infiltrasi tanah dapat dilakukan dengan cara pengolahan tanah dan pemberian bahan organik.
Parameter potensial redoks (reduksi-oksidasi) tergolong rusak karena mempunyai nilai kurang dari 200 mV. Hal ini disebabkan karena sebagian lahan merupakan lahan sawah yang sering mengalami proses penggenangan serta curah hujan yang tinggi, khususnya pada musim penghujan selain itu juga jenis tanah vertisol yang bersifat sulit meloloskan air. Akibat dari tanah yang tergenang dan permeabilitas lambat maka akan didominasi suasana reaksi reduksi dibanding oksidasi sehingga di lahan tersebut mempunyai nilai redoks yang rendah.
Proses anaerob atau rendahnya nilai redoks berakibat pada proses dekomposisi bahan organik yang lambat, sehingga produksi biomassa di dalam tanah menjadi rendah. Namun jika ditinjau dari aspek penggunaan lahan, rendahnya nilai redoks merupakan hal yang wajar, karena tanah sawah serta tanah yang mempunyai kelembaban tanah tinggi mempunyai nilai redoks yang rendah. Di sisi lain lahan tersebut merupakan lahan yang justru mampu menghasilkan produksi pertanian yang tinggi, sehingga apabila dilihat dari sisi parameter redoks saja menjadi kurang tepat, namun secara umum hal tersebut masih tergolong wajar.
pengembalian biomassa ke dalam tanah sekaligus menambah unsur hara di dalam tanah. Usaha ini bisa diartikan juga dengan pemupukan lahan secara organik, baik dari seresah hasil limbah budidaya pertanian seperti jerami ataupun dengan pemberian pupuk kandang dari kotoran ternak.
Hasil pengukuran dengan sample masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Data hasil analisa sampel melalui pengamatan dan laboratorium di Kabupaten Bantul
No
Lokasi Koordinat Jeluk Kebatuan (Berat BV Volume) n (Poros itas) HC (permea bilitas) pH DHL Redo ks JM Keteran gan Kecamatan Desa Zona E S (cm) (%) g.cm (%) cm.jam-1 mS. cm-1 mV Cfux106.g-1
1 Banguntapan Banguntapan 49 M 434446.00 m E 9138149.00 m S 100 30 1,24 42,56 0,59 6,61 0,05 200 21,3 Sawah
2 Dlingo Muntuk 49 M 439239.44 m E 9125860.91 m S 100 50 1,01 51,56 0,92 6,5 0,000076 269 2,19 Tegalan
3 Sedayu Argomulyo 49 M 420804.00 m E 9138781.00 m S 100 40 1,42 37,17 4,72 7,23 5,44 359 42 Sawah
4 Jetis Patalan 49 M 428005.00 m E 9125726.00 m S 100 10 1,36 39,01 0,98 5,55 0,046 319 81,7 Sawah
5 Sewon Timbulharjo 49 M 429504.00 m E 9129692.00 m S 100 10 1,31 55,59 1,25 6,16 0,063 318 10,8 Sawah
6 Kretek Parangtritis 49 M 422434.00 m E 9116487.00 m S 15 30 1,3 50 0,12 7,25 0,165 289 38,4 Sawah
7 Pandak Gilangharjo 49 M 423893.00 m E 9126073.00 m S 12 10 1,3 50 0,97 8,36 0,394 101 10,8 Sawah
8 Pajangan Guwosari 49 M 423307.00 m E 9128124.00 m S 14 20 1,3 50 11,33 8,01 0,236 102 13,8 Tegalan
9 Piyungan Sitimulyo 49 M 437399.00 m E 9131896.00 m S 25 16 1,3 50 1,23 7,62 0,1 97 10,5 Tegalan
10 Imogiri Trimulyo 49 M 432516.00 m E 9128315.00 m S 25 17 1,3 50 0,26 8,16 0,312 98 6,49 Tegalan
11 Pundong Seloharjo 49 M 427728.00 m E 9120589.00 m S 100 15 1,23 48,22 1,34 6,91 0,076 307 16,3 Sawah
12 Pleret Wonokromo 49 M 432171.60 m E 9129793.61 m S 25 10 1,26 44,6 1,26 6,82 0,21 163 16,9 Sawah
13 Bambanglipuro Sumbermulyo 49 M 426344.00 m E 9122269.75 m S 25 10 1,36 40,12 0,98 5,55 0,046 319 81,7 Sawah
14 Sanden Srigading 49 M 420385.07 m E 9117435.04 m S 30 10 1,8 37 0,14 6,55 0,01 278 45,2 Sawah
15 Srandakan Poncosari 49 M 414691.81 m E 9116859.62 m S 30 10 1,6 39 0,16 6,7 0,2 280 44,6 Tegalan
16 Kasihan Bangunjiwo 49 M 425002.58 m E 9131883.12 m S 30 15 1,51 52 10,23 7,81 0,185 121 14,6 Tegalan
17 Bantul Trirenggo 49 M 427940.90 m E 9127010.95 m S 30 10 1,43 57,51 1,28 6,34 0,087 320 12,8 Sawah
Rata-rata 50,65 18,41 1,35 46,73 2,22 6,95 0,45 231,76 27,65
5.2. PEMBAHASAN