• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.4 Hasil Uji Hipotesis Penelitian II

Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis pada materi Pernapasan pada Hewan siswa kelas V SD salah sekolah swasta di Yogyakarta semester Gasal tahun ajaran 2018/2019. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan menganalisis, sedangkan variabel independen yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri dari 2 soal uraian yaitu item 1 yang mengandung indikator menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung, item 2 menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air, dan item 3 menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak mengganggu sistem parnapasannya.

Hasil analisis statistik keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM SPSS Statictics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) Uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Hasil distribusi data menentukan analisis statistik parametrik atau non-parametrik tahap selanjutnya, 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap

93 kemampuan menganalisis pada kedua kelompok, 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan dan, 4) Uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya, dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) Uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1Uji Perbedaan Kemampuan Awal

Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan menganalisis. Data yang diuji adalah skor pretest kedua kelompok. Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji normalitas distribusi data homogenitas varian menggunakan Levene’s test. 1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas Distribusi Data

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan adalah data dari seluruh skor pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). (lihat Lampiran 4.3).

Tabel 4. 19 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest

Kelompok p Keputusan

Kontrol 0,136 Normal

Eksperimen 0,066 Normal

Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p = 0,136, 0,066 (p > 0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, Hnull artinya data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda atau Paired Samples t-test untuk kelompok yang sama (Field, 2009: 326).

94 b. Uji Homogenitas Varian Data

Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menganalisis dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4).

Tabel 4. 20 Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest kemampuan Menganalisis

Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan

Levene’s Test 4,647 1 46 0,036 Tidak

Homogen Tabel 4.20 menunjukkan harga F (1, 46) = 4,647 dan p =0,036(p < 0,05), maka Hnull gagal diterima, artinya tidak terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan.Jika tidak terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang digunakan adalah Independence Samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris kedua dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340).

2. Uji Statistik

Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan Uji statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Jika data tidak homogen, maka data yang digunakan adalah Equal Variences not Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 maka ada perbedaan kemampuan awal pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 50) . Berikut hasil uji statistik perbedaan kemampuan awal ( lihat Lampiran 4.5).

Tabel 4. 21 Uji Statistik Perbedaan Kemampuan Awal pada kemampuan Menganalisis

Uji Statistik p Keterangan

Independent samples t-test 0,265 Tidak ada perbedaan

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol (M = 1,735; SE = 0,104) lebih rendah daripada skor pretest kelompok eksperimen (M = 1,9433; SE = 0,15102). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t (40,850)= -1,131; p = 0,265 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak

95 ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok yang dibandingkan.

4.1.4.2Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan

Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk melihat dan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus : (O2-O1) – ( O4-O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Marrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh. Berikut perhitungannya : (2,95 – 1,94) – (2,72 – 1,73) = 1,01 – 0,98 = 0,03 . Hasil dari perhitungan diperoleh angka 0,03 atau lebih besar dari 0 yang artinya ada pengaruh perlakuan, tetapi tidak terlalu signifikan. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, maka dilakukan uji statistik. Sebelum uji statistik dilakukan uji normalitas distribusi data menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test, kemudian dilakukan dilakukan uji homogenitas varian menggunakan

Levene’s test karena data berdistribusi normal. Apabila data homogen, maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama, dari output SPSS Independent Samples t-test dengan keterangan Equal Variances Assumed.

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas Distribusi Data

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak, hal ini sebagai syarat digunakannya analisis parametrik (Priyatno, 2012: 132). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan

96 adalah data dari rerata selisih skor posttest I – pretest dari kedua kelompok. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345).

Tabel 4. 22 Uji Normalitas Distribusi Data Rerata selisih skor Posttest- Pretest

Kelompok p Keputusan

Kontrol 0,125 Normal

Eksperimen 0,123 Normal

Hasil analisis menunjukkan aspek dengan harga p = 0,125 dan 0,123 (p >0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan demikian, Hnull artinya data rerata selisih skor posttest I – pretest berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal maka analisis statistik menggunakan Independent samples t-test untuk kelompok yang berbeda (Field, 2009: 326).

b. Uji Homogenitas Varian Data

Uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika p < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varian dari kedua kelompok yang dibandingkan ( Field, 2009: 340). Hasil uji homogenitas varian untuk selisih skor posttest-pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menganalisis dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.6).

Tabel 4. 23 Uji Homogenitas Varian Rerata selisih skor Pretest-Posttest I kemampuan Menganalisis

Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan

Levene’s Test 0,78 1 46 0.781 Homogen

Berdasarkan tabel 4.23 diketahui bahwa F (1,46) = 0,78 dan p = 0,781 (p > 0,05) maka Hnull diterima, artinya terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika terdapat homogentitas varians, data uji statistik yang digunakan adalah Independent Samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 340).

97 2. Uji Statistik

Setelah dilakukan uji homogenitas varian, dilakukan Uji statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan signifikan antara selisih skor posttest I- pretest pada kedua kelompok. Jika data homogen, maka data dihitung menggunakan Independence Samples t-test dan data yang digunakan yang digunakan adalah Equal Variences Assumed. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 150). Berikut hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan ( lihat Lampiran 4.7).

Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan

Uji Statistik p Keterangan

Independent samples t-test 0.883 Tidak Signifikan

Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata selisih skor posttest I dan pretest pada kelompok eksperimen ( M = 1,013; SE = 0,13548) lebih tinggi dari kelompok kontrol (M = 0,986; SE = 0,12761). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(46)= -0,148; p = 0,883 (p > 0,05), maka Hnull gagal ditolak, artinya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I- pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif learning tipe Make a Match tidak berpengaruh pada kemampuan menganalisis. Berikut grafik peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kedua kelompok.

Gambar 4. 6 Grafik Rerata skor Pretest-Posttest I

Grafik tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan selisih skor antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest pada kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan dengan skor kelompok eksperimen. Perolehan

1.7348 2.7217 1.9433 2.9588 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Pretest Posttest I Mea n Kontrol Eksperimen

98 skor posttest I pada kelompok kontrol pun lebih rendah dibandingkan dengan perolehan skor pada kelompok eksperimen. Dengan kata lain, skor pretest-posttest I pada kelompok eksperimen selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol baik sebelum maupun sesudah treatment meskipun tidak signifikan. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,0,986, sedangkan mean kelompok eksperimen 1,013. Berikut diagram hasil perbedaan selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Gambar 4. 7 Grafik Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I 4.1.4.3Uji Besar Pengaruh Perlakuan

Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III ( halaman 20). Peneliti menghitung koefisien determinasi (R2) dengan dikuadratkan harga r kemudian dikalikan dengan 100% (Field, 2009: 179). Data yang digunakan untuk untuk menghitung besar pengaruh perlakuan adalah selisih skor posttest I-pretest pada kedua kelompok. Data diuji menggunakan Independent Samplest-test karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 345). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan menganalisis (lihat Lampiran 4.8).

99 Tabel 4. 25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan

Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Kategori efek

Menginterpretasi -0,148 0,021 46 0,02 0,0004 0,04% kecil

Hasil analisis menunjukkan besar r = 0,02 setara dengan 0,04%. Menurut Field (2009: 57) r = 0,02 masuk dalam kategori efek kecil, sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun (2012: 14) r = 0,02 masuk kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih teoritis untuk membuat prediksi.

4.1.4.4Analisis Lebih Lanjut

1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I

Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan pada rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I yang diambil dari data rerata skor pretest dan posttest I pada uji normalitas distribusi data yang menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih rerata posttest I – pretest dengan rerata pretest, selanjutnya dikalikan 100%. Normalitas distribusi data skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah normal, sehingga untuk menguji seberapa besar peningkatan skor pretest-posttest I menggunakan analisis statistik yaitu Paired Samples t-test. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53). Berikut ini hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9).

Tabel 4. 26 Peningkatan rerata Pretest ke Posttest I

No Kelompok Rerata Peningkatan (%) Uji statistik p Keterangan Pretest Posttest I 1 Kontrol 1,735 2,721 56% Paired Samples t-test 0,000 Signifikan 2 Eksperimen 1,943 2,958 52% 0,000 Signifikan

Tabel 4.26 menunjukkan bahwa rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 1,735 dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,943 serta rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,721 dan rerata skor posttest I

100 pada kelompok eksperimen sebesar 2,958. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 56% sedangkan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 52%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Hasil uji signifikansi pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,000 (p < 0,05), sedangkan hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memperoleh hasil harga p= 0,000 (p < 0,05). Kedua kelompok sama-sama memiliki p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dan metode ceramah meningkatkan kemampuan menganalisis pada kelompok kontrol dan eksperimen.

Gambar 4. 8 Grafik Perbandingan Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I

Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen yaitu 56%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 52%. Hasil tersebut diperjelas pada gambar 4.3 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah grafik yang

1.9433 1.7348 2.9588 2.7217 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Kontrol Eksperimen R e ra t a Pretest Posttest I

101 menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (lihat Lampiran 4.9.3).

Gambar 4. 9 Grafik Gain Score Kemampuan menganalisis

Berdasarkan grafik di atas menunjukkan, gain terendah pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebesar 0. Gain terttingggi dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama, yaitu sebesar 2,33. Nilai tengah gain score diperoleh dari 50% dari skor tertinggi. Gain score diperoleh 1. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai 1pada kelompok kontrol ada 13 anak, dan pada kelompok ekssperimen ada 16 anak. Besar persentase gain score 13 pada kelompok kontrol yaitu 54% sedangkan kelompok eksperimen 66%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 66% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 54% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memiliki persentase lebih besar daripada persentase daripada penerapan metode ceramah.

2. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I

Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I. Uji ini dilakukan dengan menggunakan rumus Pearson Correlation karena kedua data kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009:

2 3 6 5 3 2 2 1 3 4 1 7 2 5 1 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 0.33 0.67 1 1.33 1.67 2 2.33 F r e k u e n si Gain Score Kontrol Eksperimen

102 53 & Santoso, 2015: 396). Berikut hasil uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.10).

Tabel 4. 27 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I kemampuan Menganalisis

Variabel Kelompok t t2 df r (effect size) R

2 % Kategori efek

Analisis Kontrol 7,728 59,72 23 0,849 0,722 72% Besar

Eksperimen 7,501 56,26 23 0,842 0,705 70% Besar

Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kemampuan pada kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = 0,985; SD = 0,624; SE = 0,127; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I.

Hasil uji statistik pada kelompok eksperimen M = 1,015; SD = 0,663; SE = 0,135; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05) maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang signifikan dari skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen lebih rendah daripada persentase besar pengaruh metode ceramah pada kelompok kontrol. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif pada kelompok kontrol r = 0,85 setara dengan 72% yang masuk dalam kategori efek besar dan pada kelompok kontrol r = 0,84 setara dengan 70% yang termasuk dalam kategoti efek besar.

3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I

Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah korelasi rerata pretest dan posttest I positif dan signifikan. Positif artinya semakin tinggi pretest semakin tinggi pula posttest I, sedangkan signifikan artinya hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Uji korelasi ini dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapat skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor

103 pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Morisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan rerata posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Analisis data menggunakan uji Pearson Correlation karena kedua data pada kedua kelompok berdistribusi normal. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada korelasi yang signifikan antara rerata pretest dan posttest I (Priyatno, 2012: 45 & Santoso, 2015: 331-336). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan menginterpretasi ( lihat Lampiran 4.11).

Tabel 4. 28 Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I

Kelompok Rumus r p Keputusan

Kontrol Pearson

Correlation 0,232 0,275 Positif dan tidak Signifikan

Eksperimen Pearson

Correlation 0,445 0,029

Positif dan Signifikan

Tabel 4.28 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. hasil uji korelasi menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,275 (p > 0,05) dan r berharga positif, maka Hnull ditolak. Hal ini berarti ada korelasi positif dan tidak signifikan antara hasil pretest dan posttest I pada kemampuan menganalisis kelompok kontrol. Hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, jika skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi begitu juga sebaliknya. Jika hasil p > 0,05 dan r negatif, berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik.

Pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0, 029 (p < 0,05) dan harga r bernilai positif, artinya ada korelasi positif dan signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan menganalisis kelompok eksperimen. Hasil rerata Pearson Correlation menunjukkan nilai positif, jika skor siswa pada pretest tinggi, maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi begitu juga sebaliknya. Jika hasil p < 0,05 dan r positif, berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik.

104 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan

Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk megetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat dalam jangka waktu tertentu setelah treatment dan memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan memberikan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan, maka dilakukan pengujian distribusi data skor posttest I dan posttest II. Hasil uji normalitas rerata skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3).

Tabel 4. 29 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Menganalisis

Kelompok Aspek p Keputusan

Kontrol Posttest I 0,70 Normal

Posttest II 0,54 Normal

Eksperimen Posttest I 0,68 Normal

Posttest II 0,194 Normal

Tabel 4.29 menunjukkan harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok, artinya distribusi data pada kedua kelompok normal. Dengan demikian uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test karena data berasal dari kelompok yang sama. Data yang digunakan yaitu skor posttest II yang dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah dilakukan posttest I. Hasil posttest II dibandingkan dengan posttest I untuk melihat apakah ada peningkatan skor. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II (Priyatno 2012: 31). Berikut hasil uji Paired Samples t-test pada tabel 4.30 (lihat Lampiran 4.12)

Tabel 4. 30 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Menganalisis

No Kelompok Mean Peningkatan (%) Uji Statistik p Keputusan Posttest I Posttest II 1 Kontrol 2,721 2,625 -3,5% Paired Samples t-test 0,559 Tidak signifikan 2 Eksperimen 2.958 2,236 -24% 0,000 Signifikan

Hasil analisis pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengalami penurunan. Pada kelompok kontrol diperoleh M =-0,096 ; SD = 0,794; SE = 0162; df = 23 dan p = 0,559 (p > 0,05),

105 maka Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest II ke posttest I. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = -0,722; SD = 0,641; SE = 0,130; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan skor yang signifikan antara posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen terjadi penurunan yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4. 10 Grafik Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Menganalisis

Untuk memastikan apakah pencapaian skor posttes II berbeda dengan kondisi awal pretest maka dilakukan analisis statistik terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II. Analisis statistik menggunakan Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. (Field, 2009; 345). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan antara pretest ke posttest II. Berikut hasil uji perbandingan skor pretest ke posttest II (lihat Lampiran 4.12).

Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II

No Kelompok Rerata Uji Statistik p Keterangan Pretest Posttest II 1 Kontrol 1,735 2,625 Paired Samples t-test 0,000 Ada perbedaan

2 Eksperimen 1,943 2,236 0,82 Tidak ada

perbedaan

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok kontrol diperoleh M = 0,889; SD = 0,732; SE = 0,149; df = 23 dan p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull

Dokumen terkait