BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Teknik Pengujian Instrumen
Pengujian instrumen dilakukan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Teknik yang digunakan adalah menggunakan uji validitas dan reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2008: 5-6). Suatu tes atau instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Validitas berdasarkan garis besar dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan validitas eksternal (Yusuf, 2014: 174). Validitas internal mengacu kepada kadar kesahihan, ketepatan, ataupun keakuratan kesimpulan hasil penelitian sebagai akibat perlakuan (treatment), sedangkan validitas eksternal mengacu kepada kadar ketepatan kepada siapa penelitian dapat digeneralisasikan baik kepada kelompok maupun lingkungan di luar setting penelitian. Pada validitas internal harus memenuhi validitas isi
44 (content validity) validitas muka (face validity) dan validitas konstrak (construct validity).
a. Validitas Muka
Validitas muka merujuk pada segi “rupa sebuah alat ukur”, suatu alat pengukur tampak mengukur apa yang akan diukur (Martono, 2014: 101). Validitas ini lebih mengacu pada penampilan dan juga bentuk dari instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Validitas muka merupakan penilaian terhadap formal penampilan tes, apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi (Azwar, 2008: 46). Cara mengujikan validitas muka dengan memperlihatkan soal kepada siswa untuk menilai kejelasan dari soal yang dibuat peneliti. Validitas muka diperoleh dengan mengujicobakan soal pada 30 siswa kelas V di salah satu SD Negeri di Yogyakarta tahun ajaran 2017/2018. Pengerjaan soal dilakukan pada Sabtu, 02 Juni 2018 dengan waktu 2 x 30 menit. 30 siswa tersebut dipilih dengan rekomendasi dari guru kelas dan sesuai dengan tingkat kemampuan kognitif tinggi, sedang, dan rendah. Dari ujicoba ini beberapa siswa masih belum paham dengan kata “adaptasi”, “pernapasan” dan “identifikasi”. Pada instrumen nomor 1b dan 1c peneliti mengganti soal supaya lebih mudah dipahami oleh siswa. Meskipun demikian, setiap pertanyaan atau kalimat perintah sudah mampu dipahami dengan baik oleh siswa.
b. Validitas isi
Validitas isi merupakan suatu alat ukur yang dipandang valid apabila sesuai dengan isi yang hendak diukur (Surapranata, 2004: 51). Validitas isi merupakan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur atau sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Cara yang dilakukan peneliti untuk melakukan validitas isi yaitu dengan memberikan instrumen kepada para ahli (expert judgement) (Azwar, 2008: 45). Peneliti memberikan instrumen kepada para ahli yaitu dosen Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma, dan 2 guru SD. Para ahli memberi komentar dan masukkan terhadap intrumen yang dibuat peneliti layak atau tidak untuk diujikan. Pada soal nomer 1a mendapat skor rerata 3,00 dengan komentar bahwa isi atau maksud pertanyaan sudah mudah dipahami, tinggal membetulkan struktur
45 kalimat saja. Soal nomer 1b mendapat rerata sebesar 3,00 dengan komentar bahwa efektivitas penggunaan kata diperbaiki. Soal nomer 1c mendapat rerata 2,33 dengan komentar bahwa apa kaitannya antara berjalan, menempelkan perut dan pernapasan, sehingga struktur dan maksud dari soal diperbaiki kembali. Pada soal nomer 2a, mendapat skor rerata 4,00 dengan komentar baik, soal nomer 2b mendapat rerata 3,67 dengan komentar sudah baik, nomer 2c mendapat skor rerata 2,00 dengan komentar bahwa cek kunci kembali, bahasa harus lebih di perjelas lagi supaya anak dapat memahami kalimat dengan mudah, dan kalimat harus diperbaiki. Sesudah melakukan expert judgement selanjutnya validitas isi juga dilakukan dengan validitas konstruk (construct validity). Jumlah skor dari validator 1 untuk semua variabel penelitian gabungan yaitu 65 yang berarti bahwa instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan, validator 2 yaitu 67 yang berarti bahwa instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan, dan skor dari validator 3 yaitu 57 yang berarti instrumen layak diimplementasikan dengan sedikit revisi. (lihat Lampiran3.4).
c. Validitas Konstruk
Selanjutnya peneliti menggunakan validitas konstruk. Validitas konstruk lebih menekankan pada seberapa jauh instrumen yang disusun itu terkait secara teoretis mengukur konsep yang telah disusun oleh peneliti atau seberapa jauhkan konstruk atau trait psikologis itu diwakili secara nyata dalam instrumen (Azwar, 2011: 48). Validitas konstruk adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya (Allen & Yen dalam Azwar, 2011: 48). Validitas konstruk ini diberikan untuk melihat apakah setiap item pertanyaan dalam soal memiliki korelasi yang kuat terhadap konsep kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Validitas konstruk diberikan pada siswa kelas V SD, akan tetapi tidak diberikan di SD yang dijadikan sebagai tempat penelitian. Sekolah yang dipilih untuk melakukan validitas konstruk yaitu salah satu SD Negeri yang ada di Yogyakarta.
Peneliti memberikan soal kepada 30 siswa di salah satu SD Negeri di Yogyakarta. Peneliti memilih SD tersebut karena dianggap memiliki kemampuan yang setara dengan SD yang menjadi menjadi tempat penelitian. Perhitungan validitas menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows.
46 Hasil perhitungan uji validitas menggunakan rumus korelasi Pearson terhadap 6 soal essay untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil dari uji instrumen soal dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kepercayaan 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Rumus tersebut digunakan, karena data berupa interval yang diberi skor 1 sampai 4 (Field, 2009: 177).
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Field, 2009: 177-178).
1. Jika rhitung > rtabel item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika rhitung < rtabel item tersebut dikatakan tidak valid.
2. Jika harga p < 0,05 maka item tersebut dikatakan valid, sedangkan jika harga p > 0,05 item tersebut dikatakan tidak valid.
Berikut ini adalah tabel hasil uji validitas instrumen penelitian: (lihat Lampiran 3.6).
Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Kemampuan Menginterpretasi dan Menganalis
Variabel Indikator r tabel r hitung p Keterangan
Menginterpretasi
Mengelompokkan hewan di kebun binatang tersebut
berdasarkan alat
pernapasannya
0,2960 0.570** 0,000 Valid
Menjelaskan fungsi trakea
pada serangga 0,2960 0.432* 0,000 Valid
Menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular dan cacing berdasarkan organ pernapasan dan proses pernapasannya
0,2960 0,588** 0,000 Valid
Menganalisis
Menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung
0,2960 0.599** 0,000 Valid
Menjelaskan alasan
berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air
0,2960 0,536** 0,000 Valid
Menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacing agar tidak
mengganggu sistem
parnapasannya
47 Keterangan: * artinya tingkat signifikansi 0,05
** artinya tingkat signifikansi 0,01 3.7.2 Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu, walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan (Sugiyono, 2013: 174). Penelitian ini menggunakan soal berbentuk uraian sebagai instrumen pengumpulan data. Pemberian skor pada jawaban soal uraian dengan menggunakan rentang skor 1 hingga 4, dengan didasarkan pada kriteria yang sudah ditentukan. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach> 0,60 (Nunnally dalam Ghozali, 2007: 42) (lihat Lampiran 3.6).
Tabel 3. 4 Uji Reliabilitas
N Alpa Cronbach Keterangan
30 0,893 Reliabel