BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.2.2 Pembahasan Hipotesis
4.2.2.1 Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match
Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi pada materi sistem pernapasan pada hewan kelas V SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi.
Indikator pertama mengelompokkan hewan di kebun binatang berdasarkan alat pernapasan, pada kelompok kontrol perolehan skor 2 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 sebanyak 5 siswa, pada kelompok eksperimen perolehan skor 4 meningkat sebanyak 12 siswa.
Indikator kedua yaitu menjelaskan fungsi trakea pada serangga, pada kelompok kontrol skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 4 siswa, sedangkan
111 yang lain menurun, sedangkan pada kelompok eksperimen, skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 11 siswa.
Indikator ketiga yaitu menjelaskan perbedaan sistem pernapasan ular (reptil) dan cacing (vermes) berdasarkan organ pernapasannya dan proses pernapasannya, pada kelompok kontrol skor 2 mengalami peningkatan 2 siswa, skor 3 mengalami peningkatan 2 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan 3 siswa. Sedangkan pada kelompok eksperimen skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 10 siswa, dan yang lain menurun.
Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 2,3471 dan kelompok kontrol sebesar 2,0979. Perbedaan tersebut signifikan dilihat dari harga p sebesar 0,64 (p > 0,05) artinya Hnull diterima. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kedua kelompok sehingga kedua kelompok layak untuk dibandingkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal pada karakteristik subjek dapat terkendali dengan baik.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi. Hal tersebut dilihat dari harga p sebesar 0,32 (p < 0,05), artinya Hnull ditolak dan Hi diterima artinya ada perbedaan signifikan antara selisih skor pretest dam posttest I pada kelompok eksperimen. dengan kata lain, model pembelajaran Make a Match berpengaruh terhadap kemampuan menginterpretasi.
Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menginterpretasi sebesar 9,61% atau dalam kategori menengah (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,31 setara dengan 9,61%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan sebesar 9,61%, sedangkan 90,39% merupakan pengaruh daru variabel lain diluar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari hal seperti motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh.
112 Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I kedua kelompok dapat dilihat dari Grafik 4.1. peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,457, sedangkan pada kelompok eksperimen 0,916. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 39% sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 20%. Kedua kelompok mengalami peningkatan skor namun peningkatan kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok eksperimen memiliki harga r = 0,80 atau setara dengan 64%, masuk dalam kategori efek besar dan efek cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Kelompok kontrol memiliki harga r = 0,46 setara dengan 21%, masuk dalam kategori efek menengah dan cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Dengan demikian, persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar dibandingkan dengan metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen sebesar 64% dan 21% pada kelompok kontrol. Hasil diperkuat dengan hasil signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,000 (p < 0,05).
Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan menginterpretasi. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,896 ( p > 0,05) dan r = -0,36. Pada kelompok kontrol harga p = 0,361 (p > 0,05) dan r = -0,195. Berkorelasi negatif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest dan sebaliknya. Tidak signifikan artinya, hasil penelitian yang dilakukan belum dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas. Hal ini berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik.
Setelah kurang lebih satu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttes I. Hasil posttest I ke posttest II diuji menggunakan uji statistik parametrik, karena data berdistribusi normal.
113 Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,093 ( p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan mengalami kenaikan sebesar 13%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,275 ( p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan -6%. Maka terjadi penurunan skor posttes II ke posttest I pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menginterpretasi. Meskipun kelompok eksperimen mengalami penurunan skor posttest II, akan tetapi skor posttest II tetap lebih tinggi dari pada skor pretest. Demikian juga pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih tinggi dari skor pretest dan posttest I. Meskipun begitu persentase penurunan dari posttest II ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih kecil dibandingkan dengan kelompok kontrol. Maka, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih efektif dari pada metode ceramah. Hal ini terbukti dengan hasil uji mean skor pretest ke posttest II kelompok kontrol 2,09 dan 2.84 dan kelompok eksperimen 2,34 dan 3,09.
Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menginterpretasi diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33 dengan penerapan metode ceramah diperoleh siswa sebanyak 15 anak, sedangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sebanyak 22 siswa. Dengan demikian 91,7% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, sedangkan 62,5% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Keuntungan lainnya dari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sehingga dapat mengembangkan kemampuan menginterpretasi dapat dilihat saat pelaksanaan implementasi yaitu ketika siswa secara berpasangan mempresentasikan hasil diskusi mereka terkait kartu soal dan kartu jawaban. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan menginterpretasi.
114 4.2.2.2Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match
Terhadap Kemampuan Menganalisis
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis pada materi sistem pernapasan pada hewan kelas V SD salag satu sekolah swasta di Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menganalisis.
Indikator pertama menyebutkan perbedaan pernyataan tentang alat pernapasan burung, pada kelompok kontrol perolehan skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 sebanyak 9 siswa, pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 5 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 8 siswa.
Indikator kedua yaitu menjelaskan alasan berdasarkan pernyataan alat pernapasan katak saat di dalam air, pada kelompok kontrol skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 4 siswa, skor 4 mengalami kenaikan sebanyak 8 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen, skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 9 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 2 siswa.
Indikator ketiga yaitu menguji pandangan sendiri berdasarkan perlakuan terhadap cacaing agar tidak mengganggu sistem pernapasannya, pada kelompok kontrol skor 3 mengalami peningkatan 2 siswa, skor 4 mengalami peningkatan 3 siswa, dan sedangkan pada kelompok eksperimen skor 3 mengalami peningkatan sebanyak 5 siswa, dan skor 4 mengalami peningkatan sebanyak 3 siswa.
Pada uji perbedaan kemampuan awal, siswa pada kelompok eksperimen memiliki nilai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada rerata pretest kelompok eksperimen sebesar 1,943 dan kelompok kontrol sebesar 1,735. Perbedaan tersebut signifikan dilihat dari harga p sebesar 0,265 (p > 0,05) artinya Hnull diterima. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kedua kelompok sehingga kedua kelompok layak untuk dibandingkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap validitas internal pada karakteristik subjek dapat terkendali dengan baik.
115 Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis. Hal tersebut dilihat dari harga p sebesar 0, 883 (p < 0,05), artinya Hnull gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan signifikan antara selisih skor pretest dam posttest I pada kelompok eksperimen. dengan kata lain, model pembelajaran Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis.
Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terhadap kemampuan menganalisis sebesar 0,04% atau dalam kategori sangat kecil (Field, 2009: 57). Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,021 setara dengan 0,04%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan sebesar 0,04%, sedangkan 99,96% merupakan pengaruh dari variabel lain diluar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari hal seperti motivasi, konsentrasi, intelegensi, minat, dan kondisi tubuh. Selain itu, terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan di sekitar yang ramai
Perbedaan peningkatan skor pretest ke posttest I kedua kelompok dapat dilihat dari Grafik 4.6. Peningkatan rerata skor pada kelompok kontrol sebesar 0,9863, sedangkan pada kelompok eksperimen 1,0138. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 52%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 56%. Kedua kelompok mengalami peningkatan skor namun peningkatan kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok eksperimen. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih besar daripada metode ceramah. Kelompok eksperimen memiliki harga r = 0,842 atau setara dengan 70%, masuk dalam kategori efek sangat penting tapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan dan efek cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Kelompok kontrol memiliki harga r = 0,849 setara dengan 72%, masuk dalam kategori efek sangat penting tapi jarang dicapai dalam penelitian pendidikan dan cukup besar secara praktis dan teoritis (Field, 2009: 57 & Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 14). Dengan demikian,
116 persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih kecil dibandingkan dengan metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada kelompok eksperimen sebesar 50% dan 72% pada kelompok kontrol. Hasil diperkuat dengan hasil signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan harga p = 0,000 (p < 0,05).
Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki korelasi negatif dan tidak signifikan terhadap kemampuan menganalisis. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,029 ( p < 0,05) dan r = 0,445. Pada kelompok kontrol harga p = 0,275 (p > 0,05) dan r = 0,232 . Berkorelasi positif, artinya semakin semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest dan sebaliknya. Tidak signifikan artinya, hasil penelitian yang dilakukan belum dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas. Hal ini berarti ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik.
Setelah kurang lebih satu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II. Tujuannya untuk mengetahui apakah masih ada pengaruh perlakuan setelah beberapa waktu dilakukan posttes I. Hasil posttest I ke posttest II diuji menggunakan uji statistik parametrik, karena data berdistribusi normal. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,559 ( p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II, tetapi mengalami penurunan -3,5%. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,000 ( p < 0,05) artinya ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II dan persentase penurunan -24%. Maka terjadi penurunan skor posttes II ke posttest I pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan menganalisis. Meskipun kelompok eksperimen mengalami penurunan skor posttest II, akan tetapi skor posttest II tetap lebih tinggi dari pada skor pretest. Demikian juga pada kelompok kontrol, skor posttest II lebih tinggi dari skor pretest dan posttest I. Meskipun begitu persentase penurunan dari posttest II ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Maka, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kurang efektif dari pada metode ceramah terhadap kemampuan menganalisis. Hal tersebut dapat terjadi karena saat kelas kontrol
117 hendak mengerjakan, siswa kelas kontrol hendak menghadapi ulangan Bahasa Inggris, sehingga mereka lebih fokus pada ulangan yang akan mereka hadapi. Hal ini terbukti dengan hasil uji mean skor pretest ke posttest II kelompok kontrol 1,73 dan 2,62 dan kelompok eksperimen 1,94 dan 2,23. Hal lain yang menyebabkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match tidak berpengaruh terhadap kemampuan menganalisis adalah karena faktor yang tidak diteliti oleh peneiti seperti kemampuan yang dimiliki anak, lingkungan, tingkat kerjasama, motivasi, kondisi kesehatan dan minat siswa.
Hasil perhitungan gain score pada kemampuan menganalisis diperoleh skor ≥ 1. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 1 dengan penerapan metode ceramah diperoleh siswa sebanyak 13 anak, sedangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match sebanyak 16 siswa. Dengan demikian 66% siswa pada kelompok eksperimen diuntungkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Sedangkan 54% siswa pada kelompok kontrol diuntungkan dengan metode ceramah. Keuntungan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Maka model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match lebih mampu mengembangkan kemampuan menganalisis.