• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN PCT PADA KELOMPOK KONTROL

A. Hasil Utama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh N-Asetil Sistein (NAS) oral terhadap kadar TNF-α dan Prokalsitonin (PCT) pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PKG) stadium V yang menjalani Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Penjelasan deskriptif karakteristik subyek penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap berkenaan dengan karakteristik subyek yang diteliti.

Penelitian Eksperimen dengan Randomisasi (Randomized Control Trial / RCT) dipilih karena teknik ini merupakan standar baku penelitian eksperimen, yang bisa mengeneralisasikan hasil penelitian, sehingga hasil yang didapat pada penelitian ini bisa dipakai pada semua pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) stadium V yang menjalani CAPD. Selain itu, dengan teknik ini bisa mengabaikan faktor - faktor perancu baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.

Penelitian ini dilakukan terhadap 34 pasien PKG stadium V yang menjalani CAPD, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dikelompokkan menjadi dua kelompok masing-masing 17 pasien sebagai subyek penelitian. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol yaitu kelompok yang hanya diberikan plasebo atau tidak dilakukan perlakuan (treatment). Kelompok kedua adalah kelompok perlakuan yaitu kelompok yang diberikan perlakuan NAS oral (treatment ).

commit to user

Pada kelompok perlakuan yang mendapatkan NAS oral dan pada kelompok kontrol yang mendapatkan Plasebo selama delapan minggu, dilakukan anamnesa keluhan yang muncul. Keluhan perut perih, mual, muntah, kembung, sering buang angin, diare, badan panas, pusing, nafsu makan berkurang, frekuensi/ jumlah kencing berkurang, gangguan Buang Air Besar (BAB) , ataupun kondisi umum badan yang memburuk, tidak dikeluhkan pada kedua kelompok (Tabel 5.1).

Sebanyak 88% pada kelompok perlakuan merasakan kondisi badan membaik dan 12% menyatakan kondisi badan tidak terjadi perubahan, setelah mendapatkan perlakuan NAS oral selama delapan minggu. Sedangkan pada kelompok kontrol, 18% merasakan kondisi badan yang membaik dan 82% menyatakan kondisi badan tidak mengalami perubahan, selama mendapatkan plasebo selama delapan minggu (Tabel 5.1.)

Hasil penelitian ini sesuai dengan referensi bahwa tidak ada efek samping yang bermakna selama penggunaan NAS oral, membuktikan keamanan NAS oral dalam penggunaan terapetiknya. Banyak uji klinik NAS oral dengan indikasi khusus menggunakan dosis tinggi atau dalam pengobatan jangka panjang telah memperlihatkan bahwa obat NAS oral ditoleransi dengan baik. Pada laporan kadang-kadang keluhan gastro-intestinal (nausea, vomitus, dispepsia), jarang berupa urtikaria, anoreksia, vomitus, meteorisme (Heloisa, 2005; Borras dkk., 2007; Aguiar-Souto, 2008).

Hasil pengujian homogenitas menunjukkan bahwa semua karakteristik demografis dan klinis subyek penelitian bersifat homogen (Tabel 5.2. dan

commit to user

Tabel 5.3.). Hal ini berarti bahwa karakteristik demografis dan klinis masing-masing subyek penelitian pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan tidak ada perbedaan yang meyakinkan. Sehingga jika terjadi perubahan penurunan variabel utama yang diteliti yaitu kadar TNF-α dan PCT diharapkan benar - benar karena pengaruh perlakuan yang diberikan yaitu pemberian NAS oral.

Hasil analisis Willcoxon untuk uji beda 2 mean sampel berhubungan menunjukkan bahwa uji terhadap variabel utama kadar TNF-α dan PCT pada kelompok kontrol, keduanya tidak signifikan pada derajat signifikansi 5 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar TNF-α dan PCT pada kelompok kontrol tidak mengalami perubahan setelah mendapatkan plasebo selama delapan minggu. Bahkan terjadi peningkatan rata – rata kadar TNF-α dan PCT (Tabel 5.5.).

Hasil ini sesuai dengan referensi yang menyatakan bahwa penanda inflamasi seperti TNF-α dan PCT meningkat seiring dengan penurunan fungsi ginjal pada PGK. Beberapa faktor dapat terlibat dalam memicu proses inflamasi termasuk stres oksidatif (Cachofeiro, 2008). Di samping itu, proses inflamasi sendiri juga dapat memicu pembentukan ROS (Himmelfarb, 2005).

Penyakit Ginjal Kronis menginduksi kondisi stres oksidatif yang dapat dideteksi jauh sebelum menjalani terapi dialisis dan memburuk seiring dengan progresi gagal ginjal. Penyakit Ginjal Kronis merupakan suatu penyakit inflamasi, menyebabkan dilepaskannya sitokin IL-1ß, IL-6 dan TNF α. Meningkatnya kadar TNF-α terdapat pada keadaan inflamasi akut dan kronis

commit to user

(Guntur, 2001 ; Malaponte, 2002). Peningkatan TNF-α dan IL-1 ß akan memacu peningkatan sekresi PCT ( Christ-Crain dan Muller, 2005)

Stres oksidatif pada PGK dengan CAPD dapat terjadi melalui mekanisme berikut: (1) Aktivasi komplemen saat membran peritoneum kontak dengan cairan dialisat, memicu aktifasi fagosit neutrofil polimorfonuklear dan monosit. (2) Stimulasi pelepasan NADPH-oksidase fagosit menyebabkan reduksi molekul oksigen pada anion superoksida setelah aksi superoksida dismutase, meningkatkan hidrogen peroksida dan kaskade ROS. (3) Myeloperoxidase yang dilepaskan dari degranulasi neutrofil memicu pembentukan oksidasi klorinasi jangka panjang melalui reaksi katalisasi antara hidrogen peroksida dan klorida, dan (4) Sitokin pro-inflamasi yang dilepaskan oleh monosit juga berkontribusi memperkuat pelepasan ROS (Santangelo dkk., 2004).

Hasil analisis beda 2 mean sampel berpasangan dengan uji Willcoxon menunjukkan bahwa uji terhadap variabel utama kadar TNF-α dan PCT pada kelompok perlakuan keduanya signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar TNF-α dan PCT pada kelompok perlakuan itu benar-benar mengalami perubahan penurunan yang meyakinkan. Hal itu dapat diartikan bahwa dengan pemberian NAS oral berpengaruh secara meyakinkan terhadap penurunan kadar TNF-α dan PCT. Dengan demikian hipotesis penelitian pertama dan kedua dapat dibuktikan (Tabel 5.6.).

commit to user

Hasil penelitian ini sesuai dengan referensi bahwa NAS merupakan suatu senyawa yang mengandung tiol dengan efek antioksidan dan antiinflamasi (Nascimento dkk., 2010). Efek antioksidan NAS dapat terjadi secara langsung melalui interaksi dengan ROS elektrofilik maupun sebagai prekusor glutation (GSH), suatu antioksidan vital yang melindungi sel dari stres oksidatif yang diketahui menurun pada PGK (Dekhuijzen, 2004).

Secara farmakodinamik NAS oral berperan pre-cursor Glutation (GSH) atau indirect antoxidant, direct antioxidant menetralisir oksidan (ROS) menghilangkan keadaan stres oksidatif dan membaiki disfungsi sel (Oikawa, 2005). N-Asetil sistein mengontrol pelepasan mediator pro-inflamasi sistemik seperti kemokin, sitokin (TNF, interleukin, interferon) agar bekerja tidak berlebihan sehingga menyebabkan inflamasi kronik (Borras dkk., 2004). N-Asetil sistein bekerja sebagai immune-booster (meningkatkan sistem imunitas) dengan meningkatkan aktivitas sel imunitas (T-limfosit, makrofag, neutrofil) untuk memfagositosis dan melisis bakteri atau benda asing, sehingga memperbaiki daya tahan terhadap infeksi, meningkatkan kemampuan antioksidan, mengembalikan keseimbangan redox (reduced and oxidized) glutathion selular. Mengembalikan keseimbangan redox ini sangat penting dalam mengatur respon terhadap inflamasi (Hansen, Watson dan Jones, 2004).

Tiga hasil uji statistik pada penelitian yang menguatkan bukti bahwa pemberian NAS oral menurunkan kadar TNF-α dan PCT pada pasien PGK sadium V yang menjalani CAPD.

commit to user

Pertama, hasil Uji Mann Whitney atas variabel utama TNF-α dan PCT sebelum perlakuan menunjukkan bahwa pengujian itu tidak signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p > 0,05). Hal itu dapat diartikan bahwa rata-rata variabel utama TNF-α dan PCT pada kedua kelompok penelitian yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan itu tidak bervariasi secara meyakinkan atau sama untuk 2 kelompok penelitian (Tabel 5.7.).

Kedua, pengujian Uji Mann Whitney beda 2 mean setelah mendapatkan perlakuan NAS oral 2x600 mg selama delapan minggu, signifikan pada derajat signifikan 5 persen baik untuk variabel utama TNF-α post maupun variabel PCT post. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa setelah dilakukan pemberian NAS oral maka kadar TNF-α dan PCT menurun (Tabel 5.8.)

Ketiga, berdasarkan hasil analisis beda 2 mean variabel Delta TNF-α dan Delta PCT itu dengan Uji t dan Uji Mann-Whitney didapatkan hasil bahwa pengujian atas variabel Delta TNF-α dan Delta PCT signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p < 0,05). Hal itu berarti terdapat perbedaan yang meyakinkan variabel Delta TNF-α dan Delta PCT berdasarkan kelompok penelitian yaitu antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (Tabel 5.9.)

Korelasi variabel utama TNF-α dan PCT sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan signifikan pada derajat signifikansi 5 persen. Hal itu dapat dijelaskan bahwa pada kondisi sebelum dilakukan perlakuan pada pasien PKG stadium V memiliki kecenderungan kadar TNF-α meningkat, dan peningkatan kadar TNF-α itu cenderung mendorong terjadinya peningkatan

commit to user

kadar PCT. Setelah dilakukan perlakuan dengan pemberian NAS oral ada kecenderungan kadar TNF-α mengalami penurunan dan penurunan kadar TNF-α itu mendorong terjadinya penurunan pula pada kadar PCT. Dengan demikian hipotesis ketiga penelitian ini yang menyatakan bahwa ada korelasi antara kadar TNF-α dengan PCT pada pasien PKG Stadium V yang menjalani CAPD benar-benar dapat dibuktikan. Korelasi kadar TNF-α dengan PCT sesudah mendapatkan perlakuan cenderung menguat dibandingkan sebelum mendapatkan perlakuan (Tabel 5.10.)

Hasil penelitian ini sesuai dengan referensi bahwa sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL - 1ß menginduksi ekspresi PCT mRNA pada leukosit mononuklear manusia, sehingga terbentuk PCT. Pasien tanpa infeksi pada PGK dengan dialisis terjadi peningkatan sekresi PCT dari sel polimorfonuklear dibandingkan kontrol sehat. Hubungan antara kadar TNF-α dan PCT dapat memberikan peluang untuk mendeteksi inflamasi subklinis pada kondisi mikro-inflamasi kronis seperti pada Penyakit Ginjal Kronis (Alscher dan Thomas, 2005).

Dokumen terkait