HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Karyawan Swasta/Buruh 271
4.2 Hasil Wawancara
Peneliti melakukan penelitian terhadap sepuluh keluarga, dengan ketentuan bahwa keluarga tersebut terdiri atas unsur inti yang lengkap, yakni ada ayah dan ada ibu, serta di dalam keluarga tersebut memiliki anak dengan usia antara 6 sampai 12 tahun. Wawancara dilakukan terhadap kedua orang tua dan anak yang berusia sesuai dengan ketentuan tersebut (full family). Sepuluh keluarga yang dipilih masing-masing memiliki perbedaan dalam hal karakteristik demografis, baik usia, jenis pekerjaan, pendidikan, dan jumlah anak yang dimiliki. Keberagaman ini, menurut peneliti akan dapat memberikan warna yang berbeda dalam hal pengungkapan opini. Adapun tahapan proses wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1. Peneliti datang ke rumah keluarga yang terpilih menjadi informan untuk memberitahukan tujuan peneliti dalam melakukan wawancara serta menanyakan kesediaan setiap keluarga untuk diwawancarai.
2. Setelah mendapat persetujuan, peneliti menanyakan kembali waktu yang paling tepat bagi peneliti untuk melakukan wawancara tersebut. Kebanyakan keluarga langsung mempersilahkan peneliti untuk mewawancarai mereka, namun ada juga yang menyatakan kesediaannya untuk diwawancara pada hari-hari berikutnya. Pada umumnya ibu dan anak yang menjadi informan pilihan berada di rumah dalam kapasitas yang mudah ditemui, sedangkan kepala keluarga kebanyakan bekerja di luar rumah sehingga peneliti baru dapat menemui ketika malam tiba.
3. Peneliti melakukan wawancara sambil mengobrol, dan selalu mendahulukan wawancara terhadap orang tua lalu ke anak.
4. Saat wawancara, peneliti hanya membawa secarik kertas berisi acuan wawancara serta telepon seluler sebagai alat perekam, hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kesan kaku yang dapat menimbulkan kegugupan dalam proses tanya jawab selanjutnya.
Informan 1 (Keluarga Bapak Nazlan)
Keluarga Bapak Nazlan (48 tahun) dan Ibu Fatonah (42 tahun) terdiri atas lima anggota keluarga, termasuk tiga anak laki-laki mereka. Dalam kesehariannya Bapak Nazlan menjalankan usaha wiraswasta, tepatnya berdagang kebutuhan sehari-hari di sebuah toko yang terletak di samping rumahnya sendiri. Usaha yang dijalankan tersebut dikatakannya cukup menyita waktu dan tenaga, sehingga istri dan anak-anaknya turut membantu dalam proses jual beli tersebut. Kedua suami istri yang sama-sama menamatkan pendidikannya sampai ke jenjang SMP ini mengatakan bahwa toko tersebut merupakan sumber nafkah utama dan cukup menjanjikan bagi mereka.
Dalam keluarga Pak Nazlan, televisi bukanlah sebuah benda yang aktif, dalam artian, intensitas menonton televisi cenderung minimal. Selain disebabkan kesibukan keluarga tersebut di toko yang mereka kelola terdapat juga penilaian negatif terutama dari kepala keluarga mengenai dampak buruk dari tayangan televisi, terutama bagi anak bungsu mereka, Raihan yang berusia 9 tahun. Tayangan televisi dianggap membuat Raihan menjadi pasif, terpaku, dan
terkonsentrasi penuh, sehingga mengakibatkan dirinya enggan untuk mengerjakan aktivitas lain yang sebenarnya lebih penting. “Saya terkadang menyembunyikan steker televisi di saat-saat Raihan harus turut membantu di toko”, ungkap Pak Nazlan yang beranggapan bahwa hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendisiplinkan anak, sehingga anak menjadi lebih terampil membagi waktu, baik untuk urusan sekolah maupun tugasnya di rumah.
Bahkan Pak Nazlan mengaturkan jadwal rutinitas bagi si anak, antara lain jadwal les, mengaji, serta sekolah, yang cukup padat dengan harapan waktu yang dimiliki oleh anaknya tidak tersita oleh kegiatan yang sia-sia, termasuk menonton televisi. Selain itu, sedapat mungkin Pak Nazlan senantiasa mengajak Raihan untuk Shalat berjamaah di masjid yang letaknya tepat di depan tokonya. Karena bagi Pak Nazlan tayangan televisi memiliki potensi menghipnotis yang cukup kuat, “Kalo udah di depan televisi ya dianya melongo aja terus, sampe berapa jam juga tahan”, ujar Pak Nazlan menggambarkan kondisi anaknya ketika sedang menikmati tayangan televisi kesukaannya yang didominasi oleh kartun dan sinetron yang bersifat fantasi.
Mengenai keberadaan kedua orang tua ketika anak sedang menyaksikan televisi, mereka berdua mengatakan bahwa tidak ada waktu untuk menemani mengingat kesibukan di toko mereka. Perihal konsumsi nilai-nilai moral maupun amoral yang kerap terkandung dalam suatu tayangan, termasuk kartun maupun sinetron fantasi favorit anaknya, mereka serahkan sepenuhnya kepada Raihan. Mereka menganggap Raihan akan memahami maksud dari apa yang ditontonnya tersebut dengan sendirinya.
Ibu Onah sendiri mengungkapkan bahwa dirinya sependapat dengan suaminya dalam hal membatasi waktu menonton bagi Raihan. Ibu Onah bukanlah pecinta sinetron-sinetron yang mengangkat tema-tema keluarga, namun terkadang dirinya menonton sinetron tersebut di sela-sela waktu antara selesai menutup toko dan sebelum tidur. Biasanya, Raihan turut serta menyaksikan sinetron tersebut, namun beliau menyatakan jika terdapat konten dewasa yang belum layak disaksikan oleh Raihan, televisi akan langsung dimatikan. Pak Nazlan menganggap kegiatan menonton televisi sebagai sesuatu yang sia-sia, sehingga menonton televisi bersama satu keluarga inti hampir tidak pernah terjadi. Bahkan siaran berita sering kali hanya disaksikan oleh Pak Nazlan seorang diri, itu pun dengan catatan tokonya sudah tutup. Dapat dikatakan, baik Pak Nazlan maupun Bu Onah tidak mendukung kegiatan menonton televisi yang dilakukan oleh Raihan. “Masih banyak kerjaan lain yang lebih penting, dibanding nonton televisi yang memang kurang ada manfaatnya”, tegas Pak Nazlan.
Pak Nazlan, selaku kepala keluarga, memegang kendali penuh terhadap tindakan mengonsumsi televisi yang dilakukan oleh Raihan. Dirinya membuat batasan ketat dalam hal porsi waktu menonton, di hari-hari sekolah (Senin sampai Sabtu) diperkirakan Raihan menonton televisi sekitar 1 sampai 2 jam sedangkan Minggu merupakan hari “bonus” baginya, pada hari tersebut Raihan diberi kebebasan menonton di pagi hari namun tetap dibatasi. Masalah konten tayangan yang disaksikan, beliau cenderung meyakini bahwa sang anak tidak akan memilih tayangan yang tidak sesuai dengan usianya.
Pengaruh tayangan televisi, menurut mereka terkadang tampak pada gaya berbicara dan penggunaan kosa kata baru yang diucapkan oleh Raihan, dan terdengar aneh, namun masih dalam batas wajar dan tidak dalam jangka waktu yang berkepanjangan. Selebihnya, tidak ada pengaruh yang berarti dalam pengamatan Pak Nazlan maupun Ibu Onah, dan mereka yakin bahwa ini merupakan buah dari hasil pembatasan terhadap jadwal menonton televisi yang mereka lakukan.
Mengenai dampak media, terutama televisi, Pak Nazlan kembali pada pernyataan bahwa setiap tayangan yang disajikan memiliki potensi melemahkan fungsi otak, termasuk otak anaknya. Menurutnya, ketika menonton televisi, Raihan cenderung akan malas bergerak dan malas berpikir. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap tingkat intelegensi maupun postur tubuh Raihan selanjutnya. Jika tidak dibatasi sejak dini, Pak Nazlan yakin kegiatan menonton televisi terlalu lama akan dapat melemahkan kemampuan berpikir dan membuat anaknya menjadi tidak enerjik, bahkan dirinya juga mewaspadai ancaman obesitas.
Beberapa judul program acara yang terkadang disaksikan Raihan, menurut sepengetahuan mereka tidak memiliki nilai edukatif sedikitpun, “Paling ngajari berantem sama ngomong kasar, kalau yang mendidik betul-betulan ya kami selaku orang tua juga guru-gurunya di sekolah”, ungkap Pak Nazlan. Meski mengaku tidak mengetahui bagaimana isi program yang ditonton Raihan, Pak Nazlan tetap teguh mempertahankan prinsipnya tersebut, menurutnya program acara yang sedang digemari saat ini tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya,
sehingga hanya dengan melihat satu judul kartun di tahun sebelumnya, sudah dapat dipastikan akan muncul kembali kartun-kartun berwujud berbeda dengan isi yang sama pada tahun-tahun berikutnya.
Karena minimnya jumlah jam menonton membuat Pak Nazlan maupun Bu Onah tidak terlalu mengetahui perkembangan program acara di televisi, dan mengakibatkan mereka juga tidak dapat memberikan tanggapan tentang program yang baik maupun buruk bagi Raihan. Mereka berpendapat bahwa Raihan tahu program mana yang memang ditujukan bagi dirinya. Tidak ada harapan konkret tentang program acara yang ideal menurut kacamata mereka, karena mereka juga menyadari, jika pun ada program yang sangat baik bagi anak bungsunya tersebut, belum tentu ada kesempatan untuk menyempatkan waktu menontonnya.
Dari proses wawancara yang peneliti lakukan terhadap Keluarga Bapak Nazlan, dapat disimpulkan beberapa hal. Di keluarga ini orang tua menunjukkan peranannya sebagai pendamping anak dalam mengonsumsi media, yaitu memberi batasan seketat-ketatnya terhadap tindakan mengonsumsi program-program televisi. Kelangkaan kesempatan menonton televisi bersama Raihan membuat Pak Nazlan maupun Bu Onah tidak pernah tahu bagaimana penerimaan Raihan terhadap apa yang disaksikannya. Semua diserahkan pada Raihan. Sikap antipati yang ditujukan Pak Nazlan maupun Bu Onah terhadap televisi mendorong dirinya untuk tidak terlalu peduli dalam mencari tahu tentang ketidaktahuan Raihan terhadap setiap tontonan yang ditontonnya.
Dapat dikatakan bahwa tingkat melek (literasi) media Pak Nazlan dan Bu Onah sudah baik, jika dilihat dari pengawasan super ketat yang mereka lakukan dengan berpijak pada hal-hal yang mereka antisipasi dan pemahaman mereka dalam melihat dampak media, baik yang berlaku jangka pendek maupun yang mereka anggap akan terjadi di masa yang akan datang. Namun, pendampingan memang tidak pernah dilakukan karena ketiadaan waktu bagi mereka berdua untuk bersantai terlalu lama. Penyeleksian serta pengarahan juga tidak dilakukan oleh keduanya. Mereka memberi kebebasan kepada Raihan, mengingat sudah sangat terbatasnya jumlah waktu yang dimilikinya untuk menonton.
Raihan pada dasarnya juga tidak banyak mengerti tentang arti dari apa yang disaksikannya. Namun, dia merasa sangat menikmati kegiatan langka tersebut, karena sering membuatnya tertawa. Dirinya juga membenarkan bahwa selama menonton, dirinya sangat jarang didampingi, tetapi sangat diawasi dalam hal frekuensi dan intensitas menonton. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada peningkatan pemahaman yang terjadi pada Raihan.
Informan 2 (Keluarga Bapak M.Ilham Rangkuti)
Pak Ilham, yang biasa disapa dengan panggilan Pak Am ini memiliki istri bernama Ibu Fatimah Syam Hutabarat serta empat orang anak. Jenjang pendidikan terakhir kedua suami istri ini adalah Sekolah Dasar. Kini Pak Am tinggal bersama istri dan dua orang puterinya karena dua puteranya yang lain menetap di propinsi lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Setiap harinya, Pak Am menghidupi keluarganya dengan mengoperasikan becak mesin miliknya sendiri. Puterinya yang satu baru saja meluluskan pendidikan di tingkat SMA dan putri bungsunya, yang bernama Umi Kalsum (11 tahun) masih duduk di kelas 4 SD.
Dalam keluarga Pak Am, televisi dapat dikatakan sebagai sumber hiburan yang cukup diidolakan oleh seluruh penghuni rumah. Hanya saja terkadang terdapat perbedaan dalam hal selera terhadap tayangan. Namun, penguasaan terhadap layar kaca berwarna tersebut mutlak berada di tangan anggota keluarga yang paling dewasa saat kegiatan menonton dilakukan. Anggota keluarga yang lebih muda akan mengalah dan biasanya akan ikut menonton program pilihan anggota keluarga yang lain tersebut. Sehingga, Umi yang merupakan anak bungsu lebih banyak mengalah dengan kakak atau ibunya. Program acara apapun itu, tidak ada larangan bagi Umi untuk menontonnya, karena menurut sang ibu apa yang ditontonnya bersama anak-anaknya adalah program-program biasa dan berfungsi sebagai hiburan semata.
Karena pekerjaannya yang menyita waktu, bahkan bisa sampai larut malam, Pak Am menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu mengetahui bagaimana tindakan konsumsi terhadap televisi yang dilakukan oleh Umi, semua diserahkan
pada sang istri. Hanya, terdapat keyakinan kuat bahwa tayangan televisi yang disiarkan di bawah jam 9 malam tidak memuat konten-konten dewasa maupun berbahaya, seperti adegan tembak menembak pada film-fim laga, sehingga menurutnya layak disaksikan oleh Umi.
Ibu Fatimah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Umi. Berbeda dengan suaminya, Bu Fatimah berpendapat bahwa suatu tayangan dikatakan layak tonton oleh Umi jika tidak terdapat adegan-adegan yang menunjukkan unsur seksualitas secara vulgar, “Ya Umi ikut nonton juga kalau Ibu nonton sinetron, tapi kan ga banyak seksnya” ujar Bu Fatimah. Biasanya, Umi menonton televisi setelah menyelesaikan rutinitasnya, yaitu bersekolah dan mengaji, sekitar jam 4 sore. Tayangan yang menjadi favoritnya adalah kartun-kartun yang menonjolkan tema kelucuan serta sinetron anak yang bersifat fantasi. Ibu Fatimah termasuk pecinta sinetron bertema keluarga. Pada saat menonton, biasanya Umi juga turut duduk bersamanya. Ketika Ibu Fatimah melihat suatu adegan yang menurutnya menunjukkan nilai yang bersifat asusila atau amoral, maka dia akan mengganti saluran televisi, dan akan kembali pada saluran tersebut setelah jeda beberapa saat. Ketika dirinya melihat suatu adegan yang mengajarkan tentang sesuatu yang baik, maka dia akan memberitahukannya kepada Umi, “Tengok itu Mi, contoh yang kayak gitu itu”, Bu Fatimah menirukan.
Pemberian pemahaman ini dilakukan oleh Ibu Fatimah ketika mereka bersama-sama menyaksikan suatu sinetron dan biasanya sinetron tersebut ditujukan bagi remaja atau orang dewasa. Jadi, dapat dikatakan bahwa ketika Umi sedang menyaksikan tayangan kartun maupun sinetron fantasi favoritnya, dia
dibiarkan sendirian dalam mengambil atau menolak nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Waktu paling larut bagi Umi untuk menonton televisi adalah jam 9 malam. Ibu Fatimah menyatakan bahwa dirinya tidak membatasi jam menonton yang dilakukan oleh Umi, selama masih di bawah jam 9 malam serta tidak mengganggu kegiatan-kegiatan lain, seperti mengerjakan pekerjaan rumah pada jam 7 sampai jam 8 malam, Umi bebas menonton. Menonton televisi sudah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kegiatan keluarga Pak Am sehari-hari. “Selagi ada orang di rumah, televisi ga pernah mati, karena memang kami semua suka nonton walaupun seleranya beda-beda tapi ya seringan saya yang pegang kendali”, papar Bu Fatimah.
Tentang dampak negatif suatu tayangan, Ibu Fatimah kembali pada opininya, yaitu sebuah tayangan dapat dinilai memiliki dampak negatif jika sarat dengan unsur seksual dalam konteks vulgar. Sedangkan menurut Pak Am, dampak negatif dari suatu tayangan sering tampak pada banyaknya kebiasan-kebiasaan dari Umi yang berubah ke arah peniruan terhadap apa-apa yang sering ditontonnya tersebut. Peniruan yang dilakukan oleh Umi, antara lain adalah menirukan gaya bahasa khas Jakarta, serta terkadang berdandan agak berbeda, namun peniruan ini dianggap Pak Am masih dalam skala kecil sehingga tidak mengkhawatirkan.
Bagi Pak Am dan Ibu Fatimah, televisi telah menjadi sahabat bagi Umi, televisi adalah sumber hiburan yang sangat potensial. Mengenai nilai edukasi maupun informasi yang terkandung dalam tayangan, Pak Am dan Ibu Fatimah
sepakat meyatakan bahwa kedua hal tersebut tidak menjadi perhatian utama bagi Umi dalam memilih tayangan, dan keduanya tidak terlalu menunjukkan peranannya dalam hal mengarahkan Umi untuk memilih tayangan-tayangan tertentu, karena bagi mereka saat ini hal tersebut belum menjadi prioritas, mengingat usia Umi yang masih kanak-kanak.
Pak Am dan Ibu Fatimah menganggap bahwa tayangan yang sering disaksikan oleh Umi dapat dikatakan layak dan sudah memenuhi standar sebuah tayangan yang baik bagi Umi tanpa mengharapkan tayangan-tayangan baru dengan nilai-nilai yang mereka ingin untuk ditonjolkan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak terlalu memahami bagaimana suatu program dikatakan baik atau buruk, sehingga menurut mereka program yang ada saat ini sudah baik dan dapat melepaskan kejenuhan otak.
Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa baik Pak Am maupun Bu Fatimah, keduanya sama-sama tidak memberi pengawasan maupun pendampingan yang berarti dalam tindakan konsumsi televisi yang dilakukan oleh Umi. Keduanya memberi kebebasan penuh terhadap Umi, dengan sedikit pengecualian terhadap beberapa tugas yang harus lebih diutamakan. Pemahaman mereka tentang baik buruknya tayangan televisi, didasarkan pada ada tidaknya unsur kekerasan serta unsur seksualitas yang terkandung di dalamnya. Namun, hal ini sering luput dari perhatian mereka karena Umi lebih sering menonton televisi sendirian. Keduanya juga tidak menyeleksi tayangan yang
layak maupun tidak layak untuk Umi, Umi terlibat dalam setiap tayangan yang ditonton oleh keluarganya.
Begitu juga dengan penilaian terhadap muatan program yang ada, keduanya tidak mementingkan nilai edukasi maupun informasi, dengan menyesuaikannya terhadap usia Umi yang mereka katakan masih sangat kanak-kanak. Dapat dikatakan bahwa tingkat melek media keluarga ini masih cenderung rendah, dengan melihat hal-hal yang telah disebutkan. Ketidaktahuan tentang dampak media juga menjadi salah satu penunjuk bahwa keluarga ini merupakan konsumen media yang aktif dalam penggunaan namun pasif dalam pemahaman.
Jika melihat dari sisi Umi, dirinya merupakan pecinta televisi. Jawaban-jawaban yang diberikannya berujung pada satu kesimpulan bahwa dirinya belum terlalu mampu membedakan mana hal yang fiktif dan yang nyata. Umi hanya mengetahui bahwa apa yang disaksikannya merupakan tayangan yang lucu, sedih, atau menakutkan. Umi memberi pembenaran bahwa kedua orang tuanya sangat jarang mengawasinya ketika dia menonton televisi. Dari situ, dapat dilihat bahwa orang tua tidak memiliki peran dalam meningkatkan pemahaman Umi terhadap tayangan televisi.
Informan 3 (Keluarga Bapak Takari Siregar)
Bapak Takari Siregar, yang akrab disapa dengan panggilan Pak Ucok merupakan seorang wiraswasta yang menekuni bidang fotografi, sedangkan istrinya, Ibu Dona Ernawati merupakan seorang guru di beberapa sekolah swasta. Mereka memiliki dua putera, yang pertama duduk di bangku SMP dan yang kedua duduk di kelas 4 SD, bernama Doli Syahputra. Pendidikan terakhir Pak Ucok adalah SMA dan pendidikan terakhir Ibu Dona adalah Perguruan Tinggi dengan gelar Sarjana Sastra Indonesia. Keduanya berusia 45 tahun.
Sebagai seorang forografer, Pak Ucok banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, baik itu di studio maupun lokasi-lokasi lain yang menyewa jasanya, bahkan pada hari libur pun kerap ada yang membutuhkannya. Hal ini membuat dirinya jarang berinteraksi dengan anak-anaknya, dalam hal kegiatan menonton televisi. Setahu dirinya, Doli anak bungsunya sangat menyukai tayangan kartun bola, sinetron fantasi, serta perandingan sepak bola yang sering ditayangkan larut malam. Menurutnya, Doli adalah anak yang cerdas dan mudah memahami stimulus baru yang diterimanya, sehingga tidak ada kekhawatiran terhadap tayangan apapun yang ditonton olehnya, selain itu dirinya juga yakin bahwa Doli tidak sedikitpun menyukai sinetron-sinetron dewasa.
Tentang jadwal menonton, keluarga Pak Ucok dan istrinya tidak pernah membatasi secara keras. Belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah adalah pengecualian bagi Doli untuk tidak boleh menonton televisi, namun jika sudah diselesaikan, bebas baginya untuk menonton kembali. Pukul setengah sebelas malam adalah waktu maksimal bagi Doli untuk menonton, namun pertandingan
bola tengah malam menjadi sebuah pengecualian. Bu Dona mengatakan bahwa dirinya hampir tidak pernah mendampingi puteranya ketika menyaksikan televisi. Ketika menonton, program acara dipilih secara sepihak oleh Doli serta sang abang yang kebetulan memiliki selera yang sama dengannya. Baik Pak Ucok maupun Bu Dona tidak pernah melarang atau pun mengarahkan Doli untuk menonton suatu program yang menurut mereka buruk atau baik. Doli dianggap sudah cakap dalam memilah-milih program apa saja yang layak dan baik baginya.
Aktivitas kerja di sekolah serta tugas rumah yang harus diselesaikannya membuatnya letih untuk melakukan hal lain yang kurang penting. Terkadang dirinya menyempatkan diri untuk menonton berita, namun sering kali dirinya harus mengalah terhadap kedua puteranya yang memprotes dan meminta agar salurannya diganti. Setelah itu, Bu Dona memilih untuk tidur di depan televisi sementara anaknya menyaksikan kartun favoritnya. “Kalau sudah seharian di sekolah, terus ngerjakan pekerjaan rumah lagi, capek lah nonton-nonton televisi lagi, apalagi kalau acaranya punya anak-anak ini”, ungkap Bu Dona.
Tentang dampak negatif sebuah tayangan, Pak Ucok maupun Bu Dona cenderung memusatkan perhatian pada sinetron percintaan yang menurutnya menjadi sumber dari dampak negatif tersebut, sedangkan Doli anaknya tidak pernah menyaksikan sinetron percintaan, begitu juga dengan dirinya, sehingga untuk saat ini apa yang disaksikan Doli mereka anggap tidak memiliki dampak negatif. Dirinya tidak pernah melihat Doli melakukan peniruan tindakan dari apa yang disaksikannya. Bu Dona menyebutkan bahwa tayangan televisi, apapun itu, sama sekali tidak berpengaruh dalam kehidupan keseharian anak-anaknya, “Mana
ngerti orang ini yang kayak gitu, taunya nonton, ketawa-ketawa, ya gitu aja”, tutur Bu Dona yang memastikan bahwa anak-anaknya hanya menyaksikan tayangan kartun dan sinetron anak.
Tentang nilai moral maupun amoral yang terkandung dalam tayangan kartun maupun sinetron anak yang disaksikan oleh anaknya, Pak Ucok dan Bu Dona menyerahkannya kepada anaknya, karena mereka percaya bahwa Doli telah mampu membedakan mana hal yang baik dan patut ditiru dan mana hal yang buruk dan patut dihindari. Pak Ucok maupun Bu Dona tidak menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai suatu hal yang yang diperhatikan secara seksama.
Begitu pula mendidik atau tidaknya program tersebut, Pak Ucok