URAIAN TEORETIS
2.3.2 Program Acara di Televisi
Para akademisi dan praktisi meramalkan bahwa media massa, termasuk televisi, akan mengalami perubahan secara drastis baik sifat, peran, maupun jenisnya. Terutama peranannya, televisi di waktu yang akan datang akan lebih banyak mengambil peran sebagai institusi produktif daripada sebagai institusi edukasi. Hal ini disebabkan perubahan sosial yang begitu cepat dan tuntutan-tuntutan pemilik modal yang begitu kuat sehingga siapapun yang telah memilih untu berkecimpung di dunia pertelevisian akan memiliki visi yang sama, yaitu “menyelamatkan diri” dengan menyelamatkan stasiun televisinya dari kebangkrutan atau dari larinya pemilik modal. Menghadapi persoalan ini, maka secara substansial sebenarnya stasiun televisi sudah bermasalah, di mana visi dan misi media secara substansial juga sudah berubah (Bungin, 2008 : 325).
Dalam rangka menarik khalayak yang akan berdampak langsung pada pemasang iklan (pada stasiun televisi), televisi berusaha untuk membuat dan menayangkan acara-acara yang semenarik mungkin yang dapat berimbas pada
rating televisi. Karena dengan semakin tinggi rating sebuah acara, semakin besar pula minat para pengiklan untuk mensponsori acara tersebut meskipun dengan harga yang tinggi. Karena itulah semua stasiun televisi berlomba-lomba membuat acara semenarik mungkin dan bisa menyedot sebanyak mungkin penonton. Salah satu jenis acara televisi yang "booming" dan hampir semua stasiun televisi mempunyai program acaranya adalah program sinetron.
Pada saat ditayangkannya suatu jenis tayangan, sebagian stasiun televisi menampilkan simbol yang menunjukkan pemirsa yang bagaimana yang layak mengonsumsinya, dalam hal ini berkaitan dengan usia yang cukup. Namun, pada dasarnya simbol ini tidak cukup mewakili esensi sinetron tersebut secara substansial. Ada kalanya, simbol yang menandakan bahwa anak-anak layak menyaksikannya, berisikan adegan-adegan yang masih jauh dari pemahaman anak. Jika anak terus menjejali dirinya dengan tayangan-tayangan yang belum mampu dicernanya tersebut, tentu tayangan tersebut tidak menjadi sesuatu yang bersifat edukatif, atau malah diragukan sifat rekreatifnya secara benar.
Saat ini tayangan televisi yang dibombardir ke khalayak sarat akan unsur-unsur yang diorientasikan pada selera pasar, bukan berdasarkan uji coba mengenai manfaatnya bgi yang mengonsumsinya. Tayangan televisi terjebak dalam mindstream yang berkembang di masyarakat, sehingga ini mengaburkan peran stasiun televisi, sebagai empunya sinetron, dalam menjadi media transformasi dan budaya yang sangat strategis dalam mencerdaskan masyarakat (Bungin, 2008 : 332). Tayangan televisi pada dasarnya memiliki fungsi strategis dalam mengaplikasikan fungsi pendidikan nasional, yakni membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat. Dengan antusiasme masyarakat, termasuk anak-anak dalam menyaksikan tayangan televisi, rekayasa sosial bisa dilakukan, seperti membentuk sikap terpuji dan perasaan simpati serta empati, serta menjunjung nilai-nilai keadaban. Idealnya, tayangan televisi yang ditujukan untuk anak-anak memiliki keterkaitan dengan gejala kehidupan yang melingkupinya, antara lain persoalan sosial atau moralitas tertentu, tidak sukar dipahami, namun tetap menghibur.
Program acar khusus anak yang ditayangkan beberapa stasiun televisi berbeda judul atau jenis namun berjalan dengan langgam yang seragam. Dalam sinetron atau kartun, narasi cerita sering kali mengusung keajaiban. Setiap permasalahan selalu berawal dari konflik yang berbau kekerasan. Solusinya justru menawarkan jalan pintas yang menerabas batas rasionalitas. Dalam sinetron itu akal sehat nyaris tidak mendapat tempat. Sinetron dengan tema sentral keajaiban akan mengacak-acak logika dan sistematika berpikir anak. Disadari atau tidak, internalisasi nilai-nilai tersebut di benak seorang anak dapat membidani lahirnya generasi sumbu pendek. Sebuah generasi berpikiran instan yang merindukan keajaiban sebagai solusi dari tiap permasalahan yang dihadapinya.
Penggodokan suatu ide cerita untuk menjadi tayangan yang layak siar sejatinya membutuhkan proses yang panjang dan pemikiran yang bertumpu pada tanggung jawab, bukan pada kepentingan finansial semata. Penentuan tema sampai alur ceritanya secara kompleks serta target tayangan yang tepat adalah dua hal penting yang harus dipertimbangkan oleh para pengelola suatu tayangan.
Mustahil untuk menjauhkan televisi dari kehidupan anak, bahkan orang tua sekalipun. Namun, sebagai orangtua terdapat tanggung jawab untuk melakukan sejumlah hal demi mencegah menembusnya hal-hal negatif ke diri buah hatinya. Pendampingan secara baik yang didasari oleh kemauan untuk melek terhadap media dengan menerapkan kunci utama literasi media dan terus konsisten dalam menerapkannya merupakan upaya sederhana yang dapat dilakukan oleh para orang tua.
2.4 Literasi Media (Media Literacy)
Kehidupan kita sehari-hari saat ini tidak dapat dipisahkan dari berbagai media yang ada di sekitar. Ribuan pesan media membombardir setiap hari. Tadinya media dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dan dikonsumsi begitu saja. Namun sebenarnya tidak demikian. Orang harus memiliki bekal yang memadai untuk mampu berinteraksi dengan media, tanpa harus menjadi korban. Inilah awal dari ide perlunya melek media, karena pesan-pesan yang disampaikan media massa akan berbeda maknanya jika pesan tersebut ditranslasikan dari satu media ke media lainnya.
Pada dasarnya dibutuhkan kemampuan khusus untuk dapat memproses pesan-pesan yang berasal dari saluran-saluran yang berbeda tersebut, namun ada sebentuk kemampuan yang lebih “umum” yang menopang kemampuan konsumen media untuk memproses beragam jenis pesan media – dan inilah yang menjadi fokus dari literasi media. Mulanya, literasi selalu dikaitkan dengan media cetak,
yakni kemampuan orang untuk membaca. Tetapi selanjutnya literasi berkembang ke arah visual, dengan melihat pada bentuk media massa lain, seperti televisi dan film. Orang-orang yang melek media lebih mampu dalam memaknai pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa. Kemampuan literasi media membuat seseorang tidak hanya memahami “permukaan” dari isi media tetapi lebih dalam lagi dan sering kali lebih dapat memahami makna yang lebih penting ketimbang apa yang tampak di permukaan tersebut.
William James Porter (Massey, 2001 : 31) menyatakan bahwa literasi media merupakan sebuah perspektif, di mana kita menganalisis media dan menginterpretasikan makna pesan yang kita terima dari media tersebut. Perspektif tersebut dibangun dari pengetahuan yang terstruktur. Untuk membangun pengetahuan yang berstruktur tersebut, dibutuhkan “alat dan bahan”. Alatnya adalah kemampuan, dan bahannya adalah informasi yang disajikan media serta informasi yang terdapat di kehidupan nyata. Literasi media berdasarkan pada empat pokok pikiran berikut :
a. Literasi media adalah sebuah kontinum dan bukan kategori.
Literasi media bukanlah keadaan kategorisasi, seperti halnya kenaikan tingkat sekolah atau asal kebangsaan, literasi media adalah suatu kontinum yang memiliki derajat. Ada pengisian posisi di sini, namun tidak akan ada khalayak yang disebut non literasi, juga tidak ada yang digolongkan sebagai orang yang berliterasi penuh. Selalu ada ruang untuk berkembang.
b. Literasi media harus dikembangkan
Posisi seorang konsumen media dalam kontinum literasi media dapat meningkat ke level yang lebih tinggi. Perubahan yang terjadi muncul dari proses pematangan serta dibutuhkannya pembiasan secara sadar. Disebut pematangan, karena kapasitas kita tumbuh dari sejak lahir sampai kita dewasa. Ketika seorang individu dikatakan matang secara emosional, moral, maupun rasional, individu tersebut akan lebih memiliki peluang untuk mencapai level melek media, dalam artian tanggap terhadap pesan-pesan yag disampaikan media.
Pada dasarnya kedewasaan juga turut membangkitkan potensi literasi seseorang, dengan catatan ada pengembangan secara aktif terhadap potensi tersebut yang didukung dengan pengembangan pengetahuan dalam berbagai hal. Jika hanya berpasrah diri di hadapan media, tidak akan terjadi peningkatan potensi tersebut, yang terjadi adalah selalu sependapat sekaligus puas dengan informasi yang disajikan media, walau terkadang infor,asi tersebut tidak seimbang atau tidak lengkap.
c. Literasi media bersifat multidimensional
Ada empat dimensi literasi media yang saling berinterelasi, yaitu dimensi kognitif, dimensi emosional, dimensi estetika, dan dimensi moral.
Dimensi kognitif merujuk pada proses mental dan proses berpikir. Kemampuan kognitif dimulai dari kesadaran sederhana terhadap simbol-simbol sampai dengan pemahaman kompleks tentang bagaimana sebuah pesan diproduksi dan mengapa pesan tersebut ditampilkan dengan wujudnya yang seperti itu. Ini juga disebut dimensi intelektual. Dikatakan bahwa struktur pengetahuan yang baik
mempengaruhi kemampuan dalam mengkonstruksi makna dar sebuah pesan media.
Dimensi emosional disebut juga dengan dimensi perasaan. Beberapa orang memiliki sangat sedikit kemampuan untuk memperoleh pengalaman emosional selama diterpa media, sementara beberapa orang lainnya cenderung sangat sensitif untuk merasakan berbagai jenis emosi di dalamnya. Emosi sering diasosiasikan dengan dampak-dampak negatif jika dikaitkan dengan sejumlah pesan media yang sarat dengan eksploitasi hal-hal kekerasan atau menakutkan. Emosi pada dasarnya juga bernilai positif. Ketika kita turut berduka atas derita seseorang yang ditampilkan di suatu media, dapat dikatakan tingkat literasi media kita sudah cukup tinggi.
Kebutuhan emosional bukan hanya yang dianggap berpengaruh, seperti kemarahan, ketakutan, hasrat, dan kebencian. Seorang sutradara dapat dengan mudah menemukan simbol-simbol yang dapat memicu perasaan-perasaan tersebut, jadi pada dasarnya tidak dibutuhkan derajat literasi yang tinggi untuk memperoleh dan memahami gejala emosi tersebut. Ada juga perasaan-perasaan yang lebih sukar diketahui, rasa bingung, waspada, dan lain-lain. Mengkreasikan pesan yang memuat gejala emosi ini membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi bagi para pemroduksinya dan tingkat melek media yang tinggi juga dibutuhkan oleh para pemirsa untuk menangkap simbol-simbol yang menyampaikan emosi tersebut, dan untuk merasakan emosinya, sang sutradara mencoba “memancing”.
Dimensi estetis merujuk pada kemampuan untuk menikmati, memahami, dan mengapresiasi dari sudut pandang artistik. Apresiasi ini membutuhkan
kesadaran tentang kemampuan kompleks dalam memproduksi sebuah pesan media, serta kemampuan untuk mendeteksi perbedaan antara seni dan “hal yang dibuat-buat”.
Dimensi moral merujuk pada kemamapuan untuk menarik kesimpulan dari nilai-nilai yang tertanam di dalam pesan media. Media massa memiliki peranan besar dalam mengarahkan pemikiran khalayak menuju tema moral yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Misalnya, dalam tayangan komedi situasi, nilai-nilai yang digambarkan antara lain bahwa humor merupakan alat yang penting ketika memecahkan masalah; akal adalah kekuatan’ dan tidak ada masalah yang serius, semuanya dapat diatasi dalam setengah jam. Hanya orang dengan tingkat melek media tinggi yang dapat menangkap pesan-pesan moral dengan baik. Harus dipikirkan dan diperhatikan tentang setiap karakter dari permulaan agar mampu memfokuskan diri pada proses pemaknaan secara keseluruhan.
Bagi orang dengan tingkat melek media rendah, kecenderungan untuk menerima semua elemen yang disaksikan atau didengar dari suatu pesan media tanpa mampu membedakan. Untuk tingkat yang lebih tinggi, terdapat kesadaran tentang nilai-nilai yang tampak pada “permukaan” pesan. Pada level tertinggi, diperoleh pola penilaian yang berada di balik pesan, dan menempatkan diri pada suatu posisi, apakah menyetujui nilai tersebut atau bahkan menolaknya.
d. Tujuan literasi media adalah untuk memberi kontrol lebih bagi khalayak ketika menafsirkan pesan.
Semua pesan media adalah interpretasi. Aktor-aktor media menyampaikan interpretasi mereka tentang banyak hal kepada khalayaknya, seperti apa yang patut disebut penting, siapakah yang patut disebut orang penting, bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia, apa itu bahagia, dan lain sebagainya. Begitu juga, sebagai audiens, kita dapat mengonstruksi interpretasi kita sendiri tentang pesan-pesan tersebut. Kunci literasi media bukanlah untuk melekatkan diri pada pencarian kebenaran yang mustahil atau pesan-pesan yang objektif. Hal tersebut tidak pernah ada. Karena itu, kita harus tanggap terhadap proses intrpretif dan harus menjadi penjaga dalam mencari pola interpretasi yang terdapat di dalam pesan media. Ini menghindarkan dari menerpa diri secara berlebihan kepada media, yang menghasilkan penerimaan yang nirkritis terhadap interpretasi media secara umum.
Disadari atau tidak proses efek media berlangsung. Ketika kita, meraih kontrol yang lebih baik terhadap media, kita dapat memperkuat dampak-dampak yang kita pikir baik untuk diterima dan meminimalisir dampak-dampak yang ingin kita hindari.
Untuk memperoleh tujuan tersebut, kita harus mampu mengenali dampak media secara keseluruhan dan bagaimana mereka menyebarkan dampak tersebut kepada kita. Ini bukanlah pekerjaan ringan. Kebanyakan dampak media sukar diketahui; mereka terjadi sedikit demi sedikit dan sebagian besar dampak media
membutuhkan waktu yang lama untuk muncul. Lama kelamaan dampak tersebut mencapai alam bawah sadar kita.
Tanggapan terhadap “banjir” pesanmedia tersebut adalah untuk lebih aktif dalam memprosesnya supaya mendapatkan informasi dan pengalaman yang benar-benar kita inginkan dan hargai. Dengan mengembangkan tingkat melek media yang lebih tinggi, kita dapat mengontrol proses keberpengaruhan media. Kita menjadi tahu bagaimana dapat turut andil dalam proses tersebut sehingga terbentuklah dampak-dampak yang kita inginkan.
Menurut Elizabeth Thoman, dari melek media merupakan penggabungan tiga pendekatan yang saling berkaitan (interrelated approaches). Yaitu:
1. Menjadi sadar akan pentingnya keseimbangan atau pengelolaan diet media seseorang, membantu anak dan keluarganya membuat pilihan yang sehat (healthy choice), dan mengatur waktu yang digunakan untuk mengonsumsi media.
2. Mengajarkan keterampilan yang spesifik dari memirsa secara kritis (critical viewing), belajar menganalisis dan mempertanyakan apa yang ada dalam frame, bagaimana hal itu dikonstruksi dan apa yang telah diabaikan. Keterampilan ini paling baik dipelajari lewat kegiatan kelompok interaktif sekaligus menciptakan dan memproduksi pesan media masing-masing. 3. Analisis sosial, politik dan ekonomi di balik frame (melalui mana kita
Kecenderungan yang tampak sekarang menunjukkan bahwa intervensi media massa termasuk televisi ke dalam kehidupan anak dari hari ke hari akan semakin jauh. Karena itu diperlukan sejumlah langkah konkret untuk mencegah dan mengatasi berbagai kemungkinan dampak yang tidak diinginkan akibat konsumsi media berlebih yang dilakukan oleh anak. Langkah-langkah yang dimaksud dapat ditempuh melalui penataan kebijakan mengenai anak dan televisi, pengisian program televisi dengan acara-acara yang dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatannya bagi pertumbuhan anak yang sehat secara fisik dan mental, serta pembekalan anak dengan keterampilan menonton televisi secara benar, yang belakangan ini dapat dimulai dengan membekali para orang tua agar mereka dapat membimbing anaknya menjadi penonton televisi yang kritis, selektif, dan memahami isi pesan dengan tepat.
Stasiun televisi cenderung menyajikan tayangan yang homogen pada pemirsanya. Meski judulnya beragam namun sebenarnya isinya hampir seragam. Beberapa jenis tayangan tersebut di antaranya adalah, sinetron yang kerap dibumbui dengan kekerasan, hedonisme, seks, mistik. Ketika diprotes, produser dan pengelola siaran televisi akan beralasan bahwa tayangan-tayangan tersebut dibuat sesuai selera pasar. Buktinya ratingnya tetap tinggi yang berarti diminati oleh masyarakat. Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu disimak dalam menelaah interaksi antara anak dengan media massa.
Ketiga hal tersebut adalah :
1. Intervensi media terhadap kehidupan anak akan makin bertambah besar dengan intensitas yang semakin tinggi. Pada saat budaya baca belum terbentuk, budaya menonton televisi sudah sangat kuat.
2. Kehadiran orangtua dalam mendampingi kehidupan anak sehari-hari akan semakin berkurang akibat pola hidup masyarakat modern yang menuntut aktivitas di luar rumah.
3. Persaingan bisnis yang makin ketat antar media dalam merebut perhatian khalayak termasuk anak-anak terkadang mengabaikan tanggung jawab sosial, moral, dan etika, serta pelanggaran hak-hak konsumen.
Munculnya berbagai dampak tersebut, pada umumnya dapat dilihat sebagai akibat dari kurangnya pemahaman orangtua dalam mengatur dan menjembatani interaksi anak dengan televisi. Sikap ketidakberdayaan inilah yang harus dikikis dengan memberikan penyadaran bahwa kuncinya bukanlah pada orang lain atau pihak lain, tetapi ada pada si orangtua dan anak itu sendiri. Karena media dianggap memiliki kekuatan untuk menjalankan hidden curriculum (kurikulum terselubung) baik yang konstruktif maupun destruktif (dari New Mexico Media Literacy Project
2.5 Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan Peraturan KPI No.2/P/KPI/5/2006 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS)
Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dirumuskan dan selanjutnya disahkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran, karena dipandang sudah tidak sesuai lagi. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah melahirkanmasyarakat informasi yang makin besar tuntutannya akan hak untuk mengetahui dan hak untukm mendapatkan informasi. Informasi telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat dan telah menjadi komoditas penting dlam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tersebut telah membawa implikasi terhadap dunia penyiaran, termasuk penyiaran di Indonesia. Penyiaran sebagai penyalur infomasi dan pembentuk pendapat umum, perannya menjadi semakin strategis. Penyiaran telah menjadi salah satu sarana komunikasi bagi masyarakat, lembaga penyiaran, dunia bisnis, dan pemerintah. Perkembangan tersebut telah menyebabkan landasan hukum pengaturan penyiaran yang ada selama ini menjadi tidak memadai. Atas dasar hal tersebut, perlu dilakukan pengaturan kembali mengenai penyiaran, dan pengaturan ini serta merta mengikutsertakan setiap stasiun televisi.
Jika dikhususkan pada pasal-pasal yang berkaitan dengan pembuatan suatu program secara ideal dan berdekatan dengan dunia anak, maka dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Pasal 36
(1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia. (2) Ayat (3) Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan
pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran. (3) Ayat (5) Isi siaran dilarang :
i. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan, dan/atau bohong; ii. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian,
penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang; atau
iii. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antar golongan. b. Pasal 47
Isi siaran dalam bentuk film dan/atau iklan wajib memperoleh tanda lulus sensor dari lembaga yang berwenang.
Peraturan KPI No.2/P/KPI/5/2006 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), ditetapkan untuk mengatur perilaku lembaga penyiaran dan lembaga lain yang terlibat dalam dunia penyiaran Indonesia mengingat lembaga penyiaran, dalam menjalankan aktivitasnya, menggunakan spectrum frekuensi radio yang merupakan sumber daya alam
terbatas, sehingga pemanfaatannya harus senantiasa ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya (dalam Pasal 3).
Dalam Pasal 4 juga disebutkan bahwa P3SPS ditetapkan dengan tujuan memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertaqwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera.
Adapun pasal-pasal yang secara eksplisit mendukung tindakan pencerdasan terhadap program-program televisi, terutama bagi anak, adalah :
a. Pasal 32
(1) Program atau promo program yang mengandung muatan kekerasan secara dominan, atau mengandung adegan kekerasan eksplisit dan vulgar, hanya dapat disiarkan pada jam tayang di mana anak-anak pada umumnya diperkirakan sudah tidak menonton televisi, yakni pukul 22.00-03.00 sesuai dengan waktu stasiun penyiaran yang menayangkan.
(2) Lembaga penyiaran dilarang menyajikan program dan promo program yang mengandung adegan yang dianggap di luar kemanusiaan atau sadistis.
(3) Lembaga penyiaran dilarang menyajikan program yang dapat dipersepsikan sebagai mengagung-agungkan kekerasan atau menjustifikasi kekerasan sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.
(4) Lembaga penyiaran dilarang menyajikan lagu-lagu atau klip video musik yang mengandung muatan pesan menggelorakan atau mendorong kekerasan.
b. Pasal 35
Dalam program anak-anak, kekerasan tidak boleh tampil secara berlebihan dan tidak boleh tercipta kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagipelaku dan korbannya.
c. Pasal 44
Ayat (4) Lembaga penyiaran dilarang menampilkan tayangan yang menjadikan anak-anak dan remaja sebagai obyek seks, termasuk di dalamnya adalah adegan yang menampilkan anak-anak dan remaja berpakaian minim, bergaya dengan menonjolkan bagian tubuh tertentu atau melakukan gerakan yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual.
d. Pasal 52
(1) Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecenderungan menghina/merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, serta menghina agama dan Tuhan. (2) Kata-kata kasar dan makian yang dilarang disiarkan mencakup
kata-kata dalam bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah, baik diungkapkan secara verbal maupun non-verbal.
e. Pasal 64
Ayat (2) Lembaga penyiaran televisi wajib menyertakan informasi tentang penggolongan program berdasrkan usia khalayak penonton di setiap acara yang disiarkan.
f. Pasal 65
Penggolongan program diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu : a) Klasifikasi A: Tayangan untuk Anak,yakni khalayak berusia di bawah
12 tahun;
b) Klasifikasi R: Tayangan untuk remaja, yakni khalayak berusia 12-18 tahun;
c) Klasifikasi D: Tayangan untuk Dewasa; dan d) Klasifikasi SU: Tayangan untuk Semua Umur. g. Pasal 66
Program siaran dengan Klasifikasi ‘A’ mengikuti ketentuan sebagai berikut :
a) Program tersebut khusus dibuat dan ditujukan untuk anak;
b) Program tersebut berisikan isi, materi, gaya penceritaan, tampilan yang sesuai dengan dan tidak merugikan perkembangan dan kesehatan anak;