OTONOMI KHUSUS PROVINSI PAPUA
HHHH Pendidikan
H ' HH HHH , # $ ! HHHH Pendidikan Provinsi Papua IPM 7,8 Tahun 2010 IPM Pendidikan 6,2 Belum menyentuh kualitas pendidikan Tingkat pembangunan manusia yang terbelakang khususnya di bidang pendidikan Jayapura, Biak, Tolikara,
Kerom, Puncak Jaya, Sarmi, Yahukimo, Yapen, & Waropen Belum mengalokasikan anggaran pendidikan sesuai amanat Otsus.
Penganggaran dan penggunaan dana otonomi khusus pada Dinas Pendidikan tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan; Personil/Pegawa i Andriani (2002) menyimpulkan Belum Memahami Anggaran Otsus
Kualitas Rendah Personil yang mengelola keuangan
daerah belum memadai baik dari
bahwa pengetahuan anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah, dan Mardiasmo, 2003) dan hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan anggaran berpengaruh signifikan terhadap pengawasan APBD segi kompetensi, jumlah dan tingkat pendidikan dan pelatihan; Akuntabilitas AKUNTABEL (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Provinsi PapuaTahun Anggaran 2010) Belum sesuai dengan amanat UU Otsus belum optimalnya pertanggungjaw aban program atau kegiatan. Kepatuhan Pengelolaan anggaran
sesuai dengan peraturan perundangan (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Provinsi PapuaTahun Anggaran 2010) Belum sesuai dengan realisasi Belum optimalnya pertanggungjaw aban program atau kegiatan.
Pengawasan Sistem pengendalian internal yang efektif telah berhasil kita kembangkan Belum sesuai dengan realisasi Belum menyiapkan perangkat peraturan yang mengatur pengelolaan dana otonomi khusus. Pemerintah Pusat belum mengevaluasi efektivitas pengelolaan dana otonomi khusus khususnya dalam rangka mendorong tercapainya tujuan pemberlakuan
otonomi khusus melalui pembangunan bidang pendidikan DPRP/DPRD belum menjalankan fungsi budget secara optimal. Efisiensi dan Efektifitas anggaran Semua kebijakan pengelolaan anggaran telah sesuai dengan peraturan perundangan Belum sesuai dengan realisasi Alokasi anggaran dana otonomi khusus ke bidang pendidikan dan kesehatan yang lebih rendah dari yang ditentukan tidak menunjang pencapaian tujuan pemberlakuan otonomi khusus bagi Provinsi Papua Tim Anggaran Pemerintah Daerah tidak memperhatikan skala prioritas di bidang pendidikan
Sumber: *) Program dari UU Otsus, Perdasi No 6 2006; **) Lap Pertanggungjawaban Gubernur Provinsi Papua Tahun 2010; ***) Informan; **** Lap BPK RI Tahun 2008, 2009 dan 2011.
Dari tabel 5.4. makna perbedaan kinerja keuangan dan pencapaian hasil penelitian maka ditemukan suatu fenomena inefisien dan inefektifitas dari kinerja keuangan otonomi khusus dan ditemukan perbedaan perbedaan akuntabilitas pengelolaan dana otonomi khusus. Sebagaimana dilustrasikan dalam gambar berikut ini:
Gambar 5.4. Kinerja** Keuangan DANA OTSUS* Akuntabilitas** Pengelolaan Dana**
&
& !
**** Perencanaan Pelaksanaan pelaporan Pengawasan Lemahnya Kepatuhan Pengawasan Pengetahuan ***Ilustrasi Inefisensi dan Inefektifitas pengelolaan dana otsus
Sumber: Diolah berdasarkan berbagai referensi untuk disertasi ini *)Program dari UU Otsus, Perdasi No 6 2006; **) Lap Pertanggungjawaban Gubernur Provinsi Papua Tahun 2010; ***) Informan; **** Lap BPK RI Tahun 2008, 2009 dan 2011
Berdasarkan gambar ilustrasi 5.4. ilustrasi inefisiensi dan inefesiensi pengelolaan dana otonomi khusus maka diperoleh jawaban pertanyaan penelitian bahwa kinerja keuangan dan akuntabilitas pengelolaan dana otonomi khusus di sektor pendidikan Provinsi Papua belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan masyarakat belum memperoleh manfaat dari dana otonomi khusus sektor pendidikan. Dari tema)tema yang diperoleh dan direduksi maka salah satu kelemahan adalah kepatuhan dan Pengawasan. Pengawasan merupakan tahap integral dengan keseluruhan tahap pada penyusunan dan pelaporan APBD. Secara teori Pengawasan diperlukan pada setiap tahap bukan hanya pada tahap evaluasi saja (Mardiasmo, 2001). Pengawasan yang dilakukan oleh dewan dimulai pada saat proses penyusunan APBD, pengesahan APBD, pelaksanaan APBD, dan pertanggungjawaban APBD. Alamsyah (1997) menyebutkan bahwa tujuan adanya pengawasan APBD adalah untuk: (1) menjaga agar anggaran yang disusun benar)benar dijalankan, (2) menjaga agar pelaksanaan APBD sesuai dengan anggaran yang telah digariskan, dan (3) menjaga agar pelaksanaan APBD benar) benar dapat dipertanggungjawabkan.
5.2.2.3. Temuan Perbedaan Budaya Pengetahuan Pengelolaan Kinerja Keuangan Dana Otonomi Khusus
Konsep Budaya pengetahuan peneliti berdiskusi bersama Supoyo (2006) dan mendapat referensi disertasi sebagai sumber dan kajian mengenai budaya dan pengetahuan. Menurut Schein (1985), budaya terdiri atas tiga tingkatan, yaitu (1) artifak dan penciptaan, (2) nilai, dan (3) asumsi dasar. Ketiga tingkatan tersebut mengandung baik praktika maupun tata nilai. Menurut Hofstede (1991) budaya organisasi dapat dipelajari baik dengan melihat praktika maupun tata nilainya. Walaupun anggota organisasi dipengaruhi oleh baik praktika maupun tata nilai, mereka cenderung untuk secara sadar lebih memegang tata nilai di atas segalanya. Sejalan dengan Hofstede, Johnson (2005) juga menyatakan bahwa untuk melakukan analisis tata nilai dari budaya organisasi, yang dilihat adalah praktikanya. Pengukuran langsung terhadap tata nilai sulit untuk dilakukan karena mengandung unsur alam bawah sadar dari para anggota kelompok. Oleh sebab itu menurut Hofstede (1991 dan 2001), karena inti budaya organisasi adalah kesalingmengertian dalam perilaku sehari)hari, pengukuran tata nilai dilakukan dengan cara melihat perilaku sehari)hari dari para anggota organisasi. Dengan kata lain, sebenarnya Hofstede melakukan analisis budaya organisasi berdasarkan praktika. Dengan demikian walaupun Hofstede membahas mengenai budaya nasional, latar belakangnya identik dengan budaya organisasi.
Untuk memelajari pengaruh)pengaruh budaya dalam masyarakat, diperlukan tipologi budaya (Schein, 1985), atau dimensi budaya (Hofstede, 1980) untuk melakukan analisis terhadap perilaku, tindakan, dan tata nilai dari anggota masyarakat. Menurut Ogbor (1990), kerangka kerja yang digunakan untuk menerangkan realitas suatu budaya masyarakat tertentu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu dimensi budaya (Hofstede, 1980, 1984, 1985), paradigma budaya (Schein, 1985), pola budaya (Geertz, 1973) atau variabel pola budaya (Parsons and Shils, 1952).
Budaya organisasi Pemerintah Daerah adalah kerangka pemikiran yang ada pada setiap anggota organisasi Pemerintah Daerah. Kerangka pemikiran tersebut berisi asumsi dasar dan sistem nilai. Asumsi dasar dan sistem nilai tersebut diajarkan pada anggota baru sebagai suatu cara untuk memperhatikan, berpikir, merasakan, berperilaku, dan mengharapkan orang lain untuk berperilaku di dalam organisasi. Penelitian ini tidak melakukan analisis dengan pendekatan budaya organisasi Schein (1999) melainkan pendekatan budaya Hofstede (1999). Di dalam penelitian ini yang diamati adalah perbedaan budaya kelompok yang ada pada setiap Pemerintah Daerah.
Boyle (1998) yang melakukan penelitian di Thailand, Indonesia, dan Malaysia, menyimpulkan bahwa budaya berpengaruh terhadap birokrasi pemerintahan. Berbagai hasil
penelitian lain juga menunjukkan bahwa budaya berpengaruh terhadap manajemen pemerintahan termasuk sistem kontrolnya (Anbari et al., 2000; Alhelsi, 2004; Dahl, 2005). Sebaliknya, Barkai dan Samuel dalam penelitiannya (2005) menunjukkan bahwa perubahan pada unsur internal organisasi termasuk sistem kontrolnya, akan berpengaruh terhadap budaya. Dalam penelitiannya Barkai dan Samuel menyimpulkan bahwa antara unsur eksternal, unsur internal, dan budaya organisasi, saling berpengaruh antara satu dengan yang lain. Bagaimanapun, Barkai dan Samuel melakukan penelitian dengan pendekatan budaya Schein (1990) dan Senge (1990), serta dilakukan di Israel. Penelitian ini memasukkan hubungan antara sistem kontrol dengan budaya pada Pemerintah Daerah di Indonesia, dan melakukan analisis dengan menggunakan pendekatan dimensi budaya organisasi Hofstede (1991).
Pada lain pihak, Holden (2001) meragukan bahwa terapan manajemen pengetahuan akan berpengaruh terhadap budaya secara luas. Berbagai penelitian lain juga mendukung pernyataan Holden (Ford dan Chan, 2003; Zhu, 2004; Peltokorpi, 2006), walaupun khusus untuk bidang ekonomi mereka memberikan pernyataan yang berlawanan. Dalam lingkup sistem monitoring dan evaluasi peneliti belum menemukan dukungan tentang pengaruh terapan manajemen pengetahuan terhadap budaya.
Berdasarkan berbagai penelitian di atas, penelitian ini mengamati kekuatan budaya terhadap kepatuhan dan pengawasan. Sampai sejauh ini penulis belum menemukan referensi yang menunjukkan bahwa pembangunan kapasitas dalam bidang sistem kepatuhan dan pengawasan akan berpengaruh secara langsung terhadap budaya. Dapat dinyatakan bahwa:
“Gpembangunan kepatuhan dan pengawasan memang tidak akan berpengaruh langsung terhadap budaya, melainkan melalui implementasi sistem Kepatuhan dan pengawasanG”
Pengetahuan yang berada di dalam pikiran manusia bukan hanya merupakan hasil dari proses edukasi. Cowey (1999) menyatakan bahwa pengetahuan “Eis not the result of education. Organizational knowledge comes from the interaction of the knowledge of the employees. Knowledge is an intangible asset that must be leveragedE”.
Manajemen pengetahuan relatif merupakan aktivitas manajemen, baik untuk organisasi swasta maupun Pemerintah. Tiwana (2003: p. 4) menyatakan bahwa manajemen pengetahuan: “...simply the systematic process of creating, maintaining and nurturing an organisation to make the best use of knowledge...”.
Pengetahuan yang semula milik individu, kini menjadi milik organisasi, dan dapat digunakan serta disebarluaskan untuk kepentingan organisasi. Dalam hal ini pengetahuan dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya organisasi, termasuk aktivitas monitoring dan evaluasi (Zack, 1999). Pengetahuan dapat disusun, dipergunakan berulang)ulang, dipindahkan, dipelajari, dan direkam, tetapi tidak mudah untuk dihilangkan. Pada hakekatnya, karakteristik pengetahuan dalam suatu organisasi akan membentuk konten dari organisasi tersebut (Tiwana, 2003: p. 5). Karena sifat karakteristik tersebut pengetahuan dalam organisasi perlu untuk dikelola dengan baik. Manajemen pengetahuan merupakan pendukung dari fungsi manajemen (Litvack et al., 1999). Dalam manajemen publik fungsi pengendalian melibatkan kegiatan monitoring dan evaluasi (McCarthy, 2004: p. 64).
Gambar 5.5 adalah suatu diagram yang menunjukkan pengaruh dari manajemen pengetahuan terhadap monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan desentralisasi. Duffy, J. (2000) menyatakan bahwa manajemen pengetahuan bukan teknologi, tetapi suatu proses dalam mengembangkan berbagai inovasi dengan cara meningkatkan intelektual dan pengalaman di dalam organisasi.
Fenomena pengelolaan dana otonomi khusus di provinsi Papua mendapat catatan negatif, Dimana berdasarkan Laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan RI, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, seperti yang dikutip Laporan BPK RI 2011,
“GPersonil yang mengelola keuangan daerah belum memadai baik dari segi kompetensi, jumlah dan tingkat pendidikan dan pelatihanG”
Juga ditemukan oleh BPK RI bahwa pengelolaan Dana Otonomi Khusus masih menggunakan pola sebelum dilaksanakan Otonomi Daerah dan Otonomi Khusus, Kutipan Catatan tersebut adalah Sebagai Berikut:
“GHasil evaluasi atas sistem pengendalian intern menyimpulkan bahwa Kabupaten Waropen masih mengacu pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 dalam Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang sudah tidak relevan untuk digunakanG”
Temuan dari penelitian ini adalah masih memberlakukan sistem pengelolaan keuangan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002, maka program)program prioritas seperti yang diamanatkan dalam UU Otsus menjadi tidak berjalan efektif dan efisien.
Gambar 5.5:
Unsur Manajemen Pengetahuan memengaruhi bekerjanya Sistem Monitoring dan Evaluasi.
Dalam penelitian ini memberikan pendapat bahwa pentingnya pengetahuan khusus tentang kinerja keuangan otonomi khusus bagi para pegawai atau pengelolan dana otsus. Juga perubahan budaya organisasi pemerintah provinsi Papua dalam pengelolaan keuangan untuk lebih spesifik ke pengelolaan keuangan otonomi khusus sesuai dengan amanat UU Otsus. 5.2.3. Kajian Kinerja Keuangan dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Otsus Berdasarkan
Kajian Fenomenologi Weber
Landasan berpikir dalam penelitian kualitatif adalah pemikiran Max Weber (1997) yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan gejala)gejala sosial, tetapi pada makna) makna yang terdapat di balik tindakan)tindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala)gejala sosial tersebut. Oleh karena itu metode utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah verstehen atau pemahaman (jadi bukan erklaren atau penjelasan). Agar dapat memahami makna yang ada dalam suatu gejala sosial, maka seorang peneliti harus dapat berperan sebagai pelaku yang ditelitinya, dan harus dapat memahami para pelaku yang ditelitinya agar dapat mencapai tingkat pemahaman yang sempurna mengenai makna)makna yang terwujud dalam gejala)gejala sosial yang diamatinya (Suparlan, 1997:95). Weber mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menjadi pokok persoalan sosiologi.
Tindakan sosial yang dimaksudkan Weber dapat berupa tindakan yang nyata)nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat “membatin” atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa bisa juga berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu.
Dua fenomena yang dapat dipahami dalam penelitian ini, Pertama Pemahaman perilaku individu pengelola keuangan atau pengelola dana otonomi khusus. Kedua adalah Pemahaman Organisasi pengelola keuangan atau dana Otsus. Dengan menggunakan pemahaman fenomenologi Weber maka dapat dikemukakan pemahaman gejala sosial dalam pengelolaan dan otsus sebagai berikut:
1. Pemahaman Individu pengelola dana otonomi khusus dihadapkan pemahaman model keuangan otonomi khusus masih belum dinyatakan dalam kinerja keuangan. Kinerja keuangan pada era otonomi khusus di provinsi Papua masih menggunakan kinerja keuangan sebelum otonomi khusus diberlakukan. Maka dalam penelitian ini ditemukan individu)individu pelaku keuangan masih memahami konsep kinerja keuangan sebelum otonomi khusus. Andriani (2002) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh dewan. Semetara Pramono (2002) menyebutkan bahwa faktor)faktor yang menghambat fungsi pengawasan adalah minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kurangnya sarana dan prasarana. Maka dapat dipahami bahwa pemahaman dan pengetahuan tentang kinerja keuangan dengan amanat UU Otsus diperlukan pengetahuan khusus sesuai dengan era otsus di Papua.
2. Pemahaman organisasi keuangan adalah Provinsi Papua merupakan organisasi publik yang diberikan amanat mengelola dan otsus. Gejala social yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa pemerintah provinsi Papua sudah berupaya menciptakan tata kelola pemerintahan berdasarkan amanat UU Otsus dengan memberikan prioritas)priorotas pembangunan antara lain Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Sumber Daya Alam. Fenomena yang terjadi bahwa pelaksanaan pembangunan infrastuktur, program)program pendidikan dan kehidupan social sudah mencerminkan pelaksanaan Otonomi Khusus. Tetapi ditemukan suatu gejala social yang berbeda pada budaya pemerintah provinsi Papua dalam pengelolaan dana otonomi khusus. Dari berbagai referensi dalam penelitian ini di temukan bahwa dalam pengelolaan dana otsus oleh pemerintah provinsi Papua masih menggunakan pengelolaan keuangan sebelum otonomi khusus diberlakukan walaupun Undang)undang Otsus, Perdasus dan Perdasi sudah diberlakukan tetapi dalam pelaksanaan masih mengacu pada pola yang lama.
Pemahaman pemerintah provinsi Papua dalam manajemen keuangan pada era otonomi khusus menggunakan perilaku keuangan sebelum otonomi khusus diberlakukan dengan mengacu pada peraturan menteri dalam negeri. Tuntutan pemahaman pemerintah provinsi Papua untuk mengelola keuangan sesuai dengan kinerja keuangan Otsus dilakukan secara pasif dan belum sesuai dengan amanat UU Otsus dengan anggaran pendidikan, kesehatan
dan infrastruktur. Pengelolaan secara pasif dan belum sesuai dengan amanat UU Otsus ini dilakukan berulang)ulang setiap periode keuangan dan mengakibatkan gejolak sosial masyarakat Provinsi Papua yang menyatakan bahwa Otonomi Khusus selama 10 tahun di Papua belum memberikan manfaat. Salah satu bentuk aktivitas gejolak social masyarakat Papua adalah keinginan mengembalikan Otonomi Khusus kepada Pemerintah Pusat.
Bentuk lain dari gejolak sosial terhadap pengelolaan dan Otsus adalah keinginan masyarakat untuk Pemerintah Provinsi Papua menjalankan prinsip kepatuhan, pengawasan, pertanggungjawaban dana otonomi khusus yang sesuai dengan amanat Otsus. Ketiga Prinsip) prinsip tersebut mencuat ke permukaan dikarenakan laporan pertanggungjawaban pengelolaan dana otsus setiap tahunnya menunjukan akuntabilitas yang berpihak kepada pemerintah provinsi Papua, bukan berpihak kepada program)program prioritas dan masyarakat.
3. Fenomena akuntabilitas mencuat di masyarakat dikarenakan laporan pertanggungjawaban yang dipublikasikan seringkali berbeda dengan perencanaan dan pelaksanaan. Apalagi program)program yang direncanakan tidak memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Weber mengartikan fenomenologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Pemerintah provinsi Papua sebagai aktor utama pemegang kendali perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan pengawasan otonomi khusus karena mendapatkan Kewenangan sesuai dengan UU Otsus No 21 Tahun 2001. Maka wajib memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai sasaran pembangunan, maka fenomena ini membentuk Pemerintah Papua untuk memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. Selanjutnya sebagai hubungan social maka Masyarakat sebagai sasaran pembangunan dapat menjadi aktor utama untuk memperoleh informasi dan manfaat dari pengelolaan Dana Otsus. Peran masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan dana otsus ini sering diabaikan oleh pemerintah.
Masyarakat sebagai aktor utama dari akuntabilitas menuntut adanya kepatuhan dan pengawasan dana otsus dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan. Gejolak social terhadap pengelolaan dana otsus selalu berdampak negative thinking, dalam arti akuntabilitas dari pemerintah selalu berbanding terbalik bahkan bertolak belakang dengan harapan dari masyarakat. Bahkan banyak masyarakat, media massa dan lembaga swadaya masyarakat selalu memberikan pendapat kritis terhadap pemerintah Papua.
Maka dari proposisi mayor (hal 152) dalam penelitian ini memberikan solusi untuk mengelola dana otsus sesuai dengan amanat UU Otsus adalah dengan mengelola dana otsus dengan mengedepankan prinsip kepatuhan dan pengawasan pada Perencanaan, Pelaksanaan dan Pelaporan terhadap kinerja keuangan pemerintah provinsi Papua. Dengan mengedepankan prinsip Kepatuhan dan Pengawasan pada kinerja keuangan maka akan memunculkan akuntabilitas keuangan. Dengan memasukkan Prinsip Kepatuhan dan Pengawasan ke dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Pelaporan Kinerja Keuangan Otsus maka fenomena gejolak sosial penolakan pelaksanaan dan pelaporan kinerja keuangan otonomi khusus dapat diminimalisasi.
5.2.4. Implikasi Penelitian: Manajemen Keuangan
Gambar 5.6
:
+
Perencanaan Pengawasan Pengorgani) sasian Pengawasan Pelaksanaan Pengawasan Pengendalian Pengawasan Koordinasi Pengawasan dan Jaminan KualitasImplikasi Penelitian Manajemen Keuangan
Sumber: Diolah berdasarkan berbagai referensi untuk disertasi ini, Sumber Utama BPKP (2007: 3), BPK RI, dan Informan
Sejak otonomi daerah mulai diberlakukan di Negara Kesatuan Republik Indonesia maka sejak saat itu sampai dengan sekarang telah banyak peraturan serta perundang)undangan yang dibuat. Peraturan tersebut mulai dari undang)undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden, serta peraturan menteri. Kesemuanya dibuat agar pelaksanaan otonomi dapat berjalan dengan baik. Seperti diketahui, hal yang paling esensial dari adanya otonomi daerah ini adalah pada bidang keuangan. Bidang keuangan merupakan kunci dari penentu berhasil atau tidaknya otonomi daerah diterapkan di daerah)daerah di Indonesia (Halim, 2002).
Keberhasilan organisasi publik dalam hal ini pemerintah daerah yang memperoleh otonomi khusus seperti Provinsi Papua maka dituntut pengelolaan keuangan yang baik termasuk organisasi yang bertugas di lingkungan pengawasan. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian merupakan fungsi pengelolaan yang berkaitan satu sama lain yang digunakan oleh pemimpin organisasi dalam mencapai tujuannya.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Kep MenPan) Nomor: 19 Tahun 1996 tentang jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya mendefinisikan:
“GSeluruh proses penilaian terhadap objek dan atau kegiatan tertentu yang bertujuan untuk memastikan, apakah tugas dan fungsi objek dan atau kegitan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketetapan yang berlakuG”
Dari pernyataan tersebut maka prinsip Kepatuhan dan Pengawasan merupakan bagian dari aktivitas pengawasan yang melakukan pengujian atas kegitan objek pengawasan dengan cara membandingkan kondisi yang terjadi dengan kondisi yang seharusnya.
Organisasi pengawasan dalam melaksanakan tugasnya perlu melakukan perencanaan kegiatan, pengorganisasin kegiatan dan sumber daya yang dimilikinya.
Maka setiap fungsi manajemen selalu terkait dengan koordinasi dan system jaminan kualitas. BPKP (2007: 11) memberikan hubungan fungsi)fungsi manajemen dengan koordinasi serta jaminan kualitas yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 5.7 Manajemen Pengawasan
Sumber: Diolah berdasarkan berbagai referensi untuk disertasi ini, Sumber Utama BPKP (2007: 3), BPK RI, dan Informan
Perencanaan Pengawasan Pengorgani) sasian Pengawasan Pelaksanaan Pengawasan Pengendalian Pengawasan Koordinasi Pengawasan dan Jaminan Kualitas # B BPK RI DPRP BAWASDA BPKP Masyarakat: ) MRP ) LSM ) Tokoh Masyarakat ) Tokoh Agama ) Tokoh Adat
Kadmasasmita (2007: 9) dan Mardiasmo (2007: 29) menjelaskan untuk Lebih Menerapkan Konsep Value for Money. Reformasi penataan keuangan Negara saat ini menghendaki penerapan konsep value for money atau yang lebih dikenal degan konsep 3 E (Ekonomi, Efisien, dan Efektif). Oleh karena itu dalam reformasi ini pemerintah diminta baik dalam mencari dana maupun menggunakan dana selalu menerapkan prinsip 3 E tersebut. Hal ini mendorong pemerintah berusaha selalu memperhatikan tiap sen/rupiah dan (uang) yang diperoleh dan digunakan. Perhatian tertuju pada hubungan antara input9output9outcome.
Gambar 5.8
Model Kinerja Keuangan dan Akuntabilitas
Sumber: Diolah berdasarkan berbagai referensi untuk disertasi ini, Sumber Utama BPKP (2007: 3), BPK RI, dan Informan
Undang)undang Otsus dan seperangkat peraturan perundang)undangan lainnya mengatur pengelolaan keuangan daerah di provinsi Papua, Mulyadi (2005), Sucipto (2007), Jumingan (2006), Sutrisno (2009). Dengan tambahan penerimaan dana otonomi khusus maka pengelolaan keuangan harus mengacu dan patuh terhadap regulasi yang sudah ditetapkan, Mulyadi71997), Halim (2008). Maka diharapkan dengan menjalankan keuangan sesuai dengan regulasi akan tercapai efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian program. Dana otonomi khusus yang diberikan di Papua memiliki makna afirmatif action dimana dana tersebut digunakan untuk mendukung percepatan ketertinggalan masyarakat asli Papua untuk sama dengan provinsi lainnya, Sumule (2002). Pengetahuan tentang makna afirmatif action harus dipahami oleh pengelola keuangan, pemahaman afirmatif action sangat perlu karena pengelolaan dana otsus berbeda dengan pengelolaan keuangan otonomi daerah sehingga diperlukan manajemen keuangan secara khusus, dengan mekanisme perencanaan keuangan (anggaran) strategis sesuai amanat otsus (pendidikan dan kesehatan). Pemahaman pengetahuan mempengaruhi kinerja didukung oleh penelitian Supoyo (2006:154) menjelaskan bahwa pengetahuan mempengaruhi kinerja. Maka kinerja keuangan merupakan prestasi kerja dan pencapaian efisiensi dan efisiensi selain didukung oleh peraturan perudang)undangan juga harus didukung oleh pengetahuan dari makna otonomi khusus. Pelaksanaan program harus sesuai dengan prioritas, Pelaporan penggunaan dana otsus harus sesuai dengan dana yang telah disediakan dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap pengelolaan dana otsus agar sesuai dengan amanat undang)undang. Dari fungsi pengawasan pengelolaan dana otonomi khusus dapat diketahui kepatuhan pengelolaan keuangan di provinsi Papua sesuai dengan peraturan perundang)undangan.
Dengan pengawasan yang ketat dan kepatuhan mekanisme pengelolaan keuangan sesuai dengan regulasi otsus diharapkan tercapainya efektifitas dan efisiensi maksimal, sehingga pengelola dana otsus dalam memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja keuangan kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk