Kesimpulan dan Verifikasi
1 Pembebasan Biaya
, 1 Pembebasan Biaya Pendidikan Dasar Pembebasan Biaya Pendidikan Sekolah gratis 2 Pengurangan biaya pendidikan menengah Pengurangan biaya pendidikan menengah Pendidikan murah 3 Seluruh biaya pendidikan
dasar ditanggung pemerintah dan pemerintah daerah melalui APBN dan APBD
Terjaminnya pendidikan dasar 9 tahun
Kualitas meningkat
4 Warga negara usia wajib belajar yang orang tuanya tidak mampu membiaya pendidikannya, pemerintah wajib memberikan bantuan biaya pendidikan
Bebas SPP, biaya praktik
SMK, biaya
pembangunan, biaya ulangan dan ujian,
Pendidikan murah
5 Penyediaan bantuan biaya operasional
Biaya kelebihan jam mengajar dan honor guru tidak tetap, serta biaya lain
Pendidikan murah
6 Perpustakaan Minim Siswa sulit mengakses informasi
Akses pendidikan 7 Ruang Kelas yang rusak Sulit belajar Akses pendidikan 8 Kualifikasi guru Tenaga professional, guru
harus berkualitas serta memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi yang memadai
Kualitas Pendidik
9 Jumlah Guru Banyak sekolah tidak guru
Kualitas Pendidik 10 Kualitas guru Banyak sekolah belum
SSN
Kualitas sekolah 11 Mayoritas Guru lulusan D1
dan D2
Kualitas pendidik Sumber: Hasil Reduksi data Informan, baik melalui wawancara medalam dan simpulan dari Focus Group Discussion.
Gejolak sosial terhadap pengelolaan dana otsus yang terjadi di provinsi Papua dikaji dari akuntabilitas yang dipublikasikan oleh pemerintah provinsi, berupa laporan keuangan tahun 2002)2010, pelaporan pertanggungjawaban, pernyataan masyarakat (LSM, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat). Dari pernyataan)pernyataan informan tersebut diperoleh tema)tema yang menjadi kata kunci penelitian, tema tersebut disajikan pada tabel 4.16 dibawah ini,
* 9215
! 6 & B
% ! 6
1 Partisipasi rakyat sebesar)besarnya
L Partisipasi rakyat sebesar)besarnya dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat, agama dan kaum perempuan
Partisipasi
I1 Telah dilakukan partisipasi kepada masyarakat yang seluas)luasnya melalui mekanisme dialog antara pemerintah bersama berbagai komponen masyarakat. Baik Tokoh adat, agama, perempuan, akademisi dll
Partisipasi
I2 Kurangnya pemerintah provinsi mengajak partisipasi bersama masyarakat, selama ini hanya merupakan wacana saja
Kurang Partisipasi I3&I7 Partisipasi yang dilakukan antara pemerintah bersama masyarakat
sangat kurang bahkan hanya simbolis saja. Penyusunan anggaran cenderung dilakukan sepihak oleh pemerintah saja.
Kurang Partsipasi
I4&I6 Perencanaan dan penganggaran di Provinsi Papua mengacu pada UU 25/2004, UU 32/2004 DAN UU 33/2004 tentang mekanisme pengelolaan anggaran daerah dimana lebih banyak melibatkan SKPD) SKPD di Provinsi. Sehingga peranan masyarakat kurang.
Kurang Partisipasi
I5 Pemerintah tidak pernah melibatkan seluruh komponen masyarakat, cenderung bersifat politik saja
Kurang Partisipasi M & SD Pemerintah Provinsi Papua kurang melibatkan partisipasi Masyarakat
dalam menentukan anggaran daerah. Proses penyusunan anggaran lebih banyak ditentukan oleh 2 (dua) Organisasi Pemerintahan yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan Pemerintah Provinsi Papua M & SD Kurang melibatkan Majelis Rakyat Papua, Karena selama ini MRP
merupakan lembaga simbolis saja. 2 Transparansi
L Mewujudkan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang baik yang bercirikan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab
Transparan
Tabel 4.16. lanjutan
2
...Lanjutan Transparansi
I1 Pemerintah provinisI selalu menerbitkan laporan Tahunan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Otonomi Khusus Papua melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
Transparan
I2,I3&I4 Setiap kali penyusunan anggaran partisipasi masyarakat kurang dilibatkan, dari perencanaan anggran, proses, realisasi bahkan sampai dengan penyusunan Laporan Keuangan hanya Pemerintah Provinsi dan DPRP.
Kurang Transparan
I5 Pemerintah tidak transparan terhadap pengelolaan dana otonomi khusus apalagi dana pendidikan sebesar 30% untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota, pemerintah tidak transparan apakah telah melaksanakan amanat Undang2 Otonomi khusus tersebut
Kurang Transparan
M Pemerintah provinsi kurang memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengelolaan dana otonomi khusus
Kurang Transparan LSM1 Tidak ada laporan keuangan yang jelas mana laporan Dana Otonomi
khusus dan mana laporan keuangan APBD, semua dijadikan satu
Kurang Transparan LSM 2 Keterbukaan (tranparansi) APBD belum dilaksanakan. Hal ini terlihat
dari:
) Pemerintah Provinsi tidak melakukan publikasi terhadap RAPBD dan APBD yang telah disahkan.
) Tidak dilakukannya konsultasi publik sebagai media bagi masyarakat untuk menguji dan memberikan masukan atas program)program prioritas bagi masyarakat. Hal ini melanhgar Kepmendagri No. 59 Tahun 2007 (Perubahan Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), yang menyaratkan perlunya dilakukan konsultasi publik sebelum APBD disahkan. ) Sulitnya publik mengakses dokumen APBD
Kurang Transparan
SD Dalam implementasinya, dana otsus yang disediakan pemerintah Daerah untuk dikelola oleh dinas terkait, tidak sesuai kebutuhan dan masih kurang transparan terhadap besaran alokasi dana
Kurang transparan
Tabel 4.16. lanjutan
I9&I10 Masyarakat merasa sulit berkomunikasi dengan pemerintah terkait dengan implementasi Otonomi khusus karena pemerintah kabupaten kurang terbuka dan tidak maupun mengajak dialog untuk mendengar langsung keluhan)keluhan masyarakat.
3 Efisiensi
I1 Perubahan sistem anggaran yaitu dengan diberlakukannya Keputusan Menteri Dalam Negeri (KEPMENDAGRI) Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, berdampak pada kinerja aparatur pemerintah baik di tingkat provinsi terutama kabupaten)kabupaten pemekaran, terkait dengan pemahaman dan kesiapan aparatur yang masih relatif kurang.
Kurang Efisien
I1, I2 Dropping dana penerimaan khusus dalam rangka otonomi khusus dari pemerintah pusat per triwulan pada umumnya terlambat, sehingga sangat mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan
Kurang Efisien
I3, I5 Pengetahuan, ketrampilan, kesungguhan dan tanggungjawab para aparatur pengelola kegiatan pada umumnya masih kurang, hal ini mengakibatkan kinerja pelaksanaan, pertanggungjawaban dan laporan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Kurang Efisien
I4 Masalah yang terkait dengan sulitnya geografis dan transportasi dalam rangka mobilitas ketersediaan bahan)bahan serta cuaca yang pada umumnya sangat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Kurang Efisien
I4, I6 Laporan kinerja program/kegiatan yang sangat terlambat secara berjenjang, baik dari pengelola program/kegiatan tingkat kabupaten/kota kepada bupati/walikota, selanjutnya ke gubernur dan laporan dari pengelola program/kegiatan tingkat provinsi kepada gubernur, serta laporan gubernur kepada pemerintah pusat.
Kurang Efisien
Tabel 4.16. lanjutan
SD Belum efektifnya pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan program / kegiatan pembangunan, hal ini antara lain disebabkan berbagai keterbatasan dan kesulitan untuk dapat menjangkau seluruh program/kegiatan yang lokasinya di kabupaten/kota, terutama yang berada di wilayah – wilayah pedalaman, terpencil dan terisolir.
Kurang Efisien
M Penggunaan dana masih ada yang tidak/kurang sesuai dengan arah kebijakan penggunaan dana penerimaan khusus, serta masih terjadi perubahan sasaran dan target)target yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota tanpa lebih dulu berkordinasi/disetujui oleh Pemerintah Provinsi.
Kurang Efisien
4 Pengelolaan Dana Otsus
I1 Rendahnya perhatian pemerintah membantu biaya pendidikan untuk suksesnya wajar 9 tahun, khususnya anak)anak Papua; Bantuan biaya untuk pengelola pendidikan (yayasan swasta) sangat terbatas dan tidak mencukupi; Bantuan dana Otonomi khusus untuk anak didik Papua terbatas dan tidak rutin. Otonomi khusus belum mampu menjawab masalah pendidikan bagi Orang Papua, karena belum ditemukan perubahan mencolok ke arah yang lebih baik
Rendah
I2 Masyarakat belum dapat menikmati dana Otonomi khusus yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar, karena Pemerintah masih mengutamakan pembangunan di kota dibanding di kampung) kampung dan pulau)pulau. Ada ketimpangan yang mencolok antara kota dan kampung, padahal sebagian terbesar penduduk ada di kampung)kampung.
Perbedaan
Tabel 4.16. lanjutan
I3 Bagi aparat Distrik, implementasi kebijakan pendidikan yang berpihak belum optimal, karena belum memadainya prasarana dan sarana, kesejahteraan guru, keterjangkauan jarak, dan life skill; Dengan adanya Otonomi khusus, peningkatan mutu pendidikan dapat didorong secara intensif dalam berbagai segmen penting. Diakui secara sadar bahwa unsur aparatur pemerintah Kabupaten Biak Numfor belum optimal dalam hal: (1) transparansi dan akuntabilitas ke masyarakat dalam hal penggunaan dana Otonomi khusus; (2) masih rendahnya responsivitas terhadap usulan program pengembangan pendidikan.
Belum Optimal
I4 Secara umum banyak kekecewaan masyarakat yang kian meluas dalam pelaksanaan Otonomi khusus, oleh karena; (1) alokasi dana yang sangat terbatas tidak mengimbangi harapan masyarakat yang tinggi; (2) beberapa bidang pembangunan menunjukkan kinerja yang tidak memadai karena ketidakjelasan sumber dana yang digunakan, terjadinya kebocoran dan tidak tepat sasaran.
Tidak Sesuai
... lanjutan
Pengelolaan Dana Otsus
I5, SD, M Terjadinya resitensi di masyarakat terhadap implementasi Otonomi khusus, karena implementasi Otonomi khusus di berbagai bidang prioritas tidak nampak secara jelas, tidak berdampak nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan infrastruktur dasar, Otonomi khusus sudah 5 tahun berjalan tetapi tidak ada hasil yang menonjol, masih ada keraguan masyarakat bahwa pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, infrastruktur tidak meningkat secara signifikan
Penolakan
I6 masih ada perbedaan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat mengenai wujud nyata yang telah dicapai selama kurun waktu diluncurkannya kebijakan Otonomi khusus
Kesenjangan
Tabel 4.16. lanjutan
I7 Otonomi Khusus belum memberikan kontribusi yang sangat positif karena masyarakat belum tahu tentang dana Otonomi Khusus dan dana lainnya yang biasa diterima oleh Pemerintah Daerah. Bahkan masyarakat banyak yang belum tahu tentang Otonomi Khusus dalam pengertian, nama, isi, falsafah, dan jumlah dana yang biasa diterima/dikelola oleh Pemerintah Daerah. Dengan begitu jelas, bahwa Otonomi Khusus masih merupakan wacana saja ditingkat Kaum terpelajar dan Pemerintah Daerah
Belum Tahu
I9 Masyarakat merasa kecewa dengan implementasi Otonomi khusus yang dianggapnya hingga saat ini belum diketahui bentuknya seperti apa saja. Mereka hanya mendengar bahwa Otonomi khusus sama dengan banyaknya uang yang diberikan kepada pemerintah, tetapi masyarakat belum pernah melihat uang atau program)program yang dibiayai Otonomi khusus untuk masyarakat.
Kecewa
5 Dana Otsus
Pendidikan
I1 & I3 Rendahnya perhatian pemerintah membantu biaya pendidikan untuk suksesnya wajar 9 tahun, khususnya anak)anak Papua; Bantuan biaya untuk pengelola pendidikan (yayasan swasta) sangat terbatas dan tidak mencukupi; Bantuan dana Otonomi khusus untuk anak didik Papua terbatas dan tidak rutin. Otonomi khusus belum mampu menjawab masalah pendidikan bagi Orang Papua, karena belum ditemukan perubahan mencolok ke arah yang lebih baik
Rendahnya Biaya Pendidikan
Tabel 4.16. lanjutan
G lanjutan
Dana Otsus
Pendidikan
I2
implementasi kebijakan pendidikan yang berpihak belum optimal, karena belum memadainya prasarana dan sarana, kesejahteraan guru, keterjangkauan jarak, dan life skill; Dengan adanya Otonomi khusus, peningkatan mutu pendidikan dapat didorong secara intensif dalam berbagai segmen penting. Diakui secara sadar bahwa unsur aparatur pemerintah Kabupaten Biak Numfor belum optimal dalam hal: (1) transparansi dan akuntabilitas ke masyarakat dalam hal penggunaan dana Otonomi khusus; (2) masih rendahnya responsivitas terhadap usulan program pengembangan pendidikan.
Rendah Respon Pemerintah
Reduksi tema)tema:
1. Pengalokasian dana Otonomi khusus bidang pendidikan yang cukup besar dari pemerintah pusat untuk membangun pendidikan bagi masyarakat asli Papua melalui Pemerintah Kabupaten dan Provinsi. Dengan Otonomi pendidikan di Papua disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan budaya dan keadaan geografis.
2. Otonomi khusus di bidang pendidikan di Papua memberi kesempatan seluas)luasnya kepada masyarakat guna berpartisipasi dalam pendidikan. Mengingat semakin banyaknya siswa)siswa asli Papua yang tingkat kemampuannya rendah tersisih dari sekolah bermutu, maka pasrtisipasi masyarakat semakin terbuka, baik dalam penyelenggaraan pendidikan atau memberikan dukungan kepada sekolah yang sudah ada.
3. Penelitian menunjukkan tingginya tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap pelaksanaan Otonomi Khusus Papua. Beberapa informan menjelaskan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah antara lain:
a. Dimensi politik dalam penyelesaian masalah Papua jauh lebih kuat dibanding pembangunan pendidikan,
b. Evaluasi terhadap Otonomi Khusus yang seharusnya dilakukan setiap tahun sebagaimana diamanatkan dalam Undang)undang Otonomi khusus tidak dilakukan secara mendalam, sehingga masyarakat tidak pernah mendapat informasi pelaksanaan otsus dalam hal pemenuhan hak)hak medasar mereka secara utuh.
c. Anggaran pendidikan 30% untuk pendidikan belum terealisasi utuh baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Sumber: Hasil Reduksi data Informan, baik melalui wawancara medalam dan simpulan dari Focus Group Discussion.
Setelah mereduksi pernyataan)pernyataan atau narratives seluruh informan yang tersaji pada tabel 4.16. Maka terindentifikasi empat tema tentang akuntabilitas pemerintah dan gejolak sosial masyarakat yang mengkritik terhadap pengelolaan dana otonomi khusus”?Keempat tema tersebut adalah:
1. Perencanaan. 2. Pelaksanaan. 3. Pelaporan. 4. Pengawasan. 9232;212
Peneliti mengidentifikasi dokumen perencanaan oleh Key Informan Pemerintah terhadap tuntutan masyarakat yang mengkritik tajam terhadap pengelolaan dana otonomi khusus. Seorang informan menjelaskan bahwa sejak diberlakukan otonomi khusus tahun 2002 s/d 2010 pengelolaan keuangan di provinsi Papua seharusnya mengacu pada UU Otsus dan Perdasus, tapi mekanismen pengelolaan keuangan masih mengacu pada permendagri seperti pernyataan informan berikut ini,
“...Perencanaan anggaran pendidikan terhadap program)program prioritas pendidikan di Provinsi Papua, pada hakekatnya mengikuti ketentuan yang berlaku dalam KEPMENDAGRI Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Yaitu melalui fase dari musyawarah perencanaan pembangunan (MUSRENBANG) tingkat desa, musyawarah perencanaan pembangunan (MUSRENBANG) tingkat kecamatan, musyawarah perencanaan pembangunan (MUSRENBANG) tingkat kabupaten/kota, dan musyawarah perencanaan pembangunan (MUSRENBANG) tingkat pusat...”
Selanjutnya informan tersebut memberikan dokumen mekanisme perencanaan berdasarkan “Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Provinsi Papua Tahun 2002 ) 2006” yang dikelurakan oleh pemerintah Provinsi Papua Tahun 2007. Hasil Focus Group Discussion (Lampiran III) yang hadir antara lain Key Informan dan Informan pendukung (Dosen, Wartawan, LSM dan Tokoh Masyarakat), semua informan dalam narratives) nya yang terdapat pada lampiran I, menyatakan bahwa Mekanisme perencanaan dalam rangka membahas/menyusun program/kegiatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pada hakekatnya mengikuti ketentuan yang berlaku dalam KEPMENDAGRI Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah. Selanjutnya seorang informan wartawan media cetak (Nama lihat lampiran I) memberikan pernyataan:
“GKesepakatan)kesepakatan yang dihasilkan dalam pembahasan sesuai mekanisme perencanaan tersebut, harus menghasilkan program) program prioritas yang diformulasikan ke dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) yang merupakan bagian dari rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) di tingkat provinsiG”
Informan pendukung adalah seorang dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Papua memberikan pernyataan:
“G.Berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah, khususnya terkait dengan pelaksanaan Pasal 15 Undang)Undang Nomor 21 Tahun 2001, maka Pemerintah Provinsi Papua, mempunyai kewenangan untuk mengatur, menetapkan dan mengendalikan pengelolaan dana otonomi khusus. Pengelolaan yang optimal dapat mendorong pemanfaatan dana
otonomi khusus tersebut secara berdaya guna dan hasil guna, sesuai sasaran dan target yang telah ditetapkan dalam rangka peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat PapuaG”
Salah satu program prioritas pemerintah pusat adalah pendidikan, sebagaimana tertuang di dalam beberapa dokumen kebijakan nasional seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005)2009, Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dan Rencana Strategis (Renstra) Depdiknas 2005)2009. Kebijakan) kebijakan pemerintah pusat tersebut dijadikan acuan bagi Pemerintah Provinsi Papua dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dan Kebijakan Umum APBD di bidang pendidikan.
Dalam dokumen RPJMD Provinsi Papua 2006)2010 (Perda No. 10 Tahun 2006), dapat diketahui bahwa pemerintah provinsi bertekad ingin meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan dengan pembebanan biaya pendidikan yang serendah)sendahnya bagi masyarakat. Artinya, biaya penyelenggaraan pendidikan terutama menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi dan kabupaten/kota melalui APBD. Jika kebijakan ini dilaksanakan dengan serius, mutu pendidikan di Papua yang kini masih memprihatinkan lambat laun dapat ditingkatkan. Kuncinya harus ada komitmen dan kepedulian yang sungguh)sungguh dari para pejabat tinggi yang ada di level pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota (eksekutif dan legislative) untuk mendukung kebijakan tersebut melalui pengalokasian anggaran pendidikan dalam APBD sesuai aturan, dan kemudian dilaksanakan secara transparan, efisien, efektif, dan berkeadilan disertai dengan pengawasan yang pofesional dari aparat pengawas internal maupun eksternal birokrasi.
Maka dari pernyataan informan dapat ditarik makna Perencanaan adalah Kemampuan pemerintah provinsi Papua (Dinas Pendidikan dan Pengajaran) yang mampu menjelaskan pembahasan program) program prioritas yang diformulasikan ke dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) untuk mengatur, menetapkan dan mengendalikan secara berdaya guna dan hasil guna, sesuai sasaran dan target yang telah ditetapkan dalam rangka peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat Papua.
9232;232
Seluruh informan pada saat Focus Group Discussion (FGD) sepakat menyatakan bahwa Pelaksanaan program/kegiatan harus senantiasa berpedoman pada ketentuan/peraturan yang berlaku serta petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang ada. Petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) sebagai pedoman petunjuk pelaksanaan bagi para pengelola program/kegiatan, disusun oleh tim anggaran eksekutif Pemerintah Provinsi Papua, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah.
Pada saat diajukan pertanyaan pada forum FGD, salah satu key informan dari pemerintah memberikan pernyataan sebagai berikut:
“...Pelaksanaan program/kegiatan harus senantiasa berpedoman pada ketentuan/peraturan yang berlaku serta petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang ada. Petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) sebagai pedoman petunjuk pelaksanaan bagi para pengelola program/kegiatan, disusun oleh tim anggaran eksekutif Pemerintah Provinsi Papua, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah...”
“...Pada era otonomi khusus kurun waktu tahun 2002)2006, realisasi fisik pelaksanaan program/kegiatan pembangunan di 29 kabupaten/kota secara
kumulatif mencapai 95,23%. Beberapa kabupaten realisasi fisiknya masih relatif rendah, hal tersebut antara lain berkaitan dengan tingkat kesiapan dan kesungguhan daerah, serta pelaksanaan kegiatan yang pada umumnya terlambat serta kondisi alam, selain itu akibat keterlambatan dropping dana dari pemerintah pusat/provinsi...”
Hal ini di dukung oleh key informan dari Dinas pendidikan dan pengajaran bahwa dana otsus untuk pendidikan,
“...Realisasi penggunaan dana penerimaan khusus (OTSUS) untuk kabupaten/kota, pada umumnya pemanfaatannya telah sesuai dengan arah yang telah ditetapkan, walaupun masih terjadi perubahan sasaran/target yang telah ditetapkan/disepakati antara pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi...”
Perbedaan pernyataan terhadap pelaksanaan diungkapkan oleh informan dari Lembaga Swadaya Msyarakat (LSM) yang banyak menganalisis keberadaan pengelolaan dana otonomi khusus bidang pendidikan. Berikut adalah analisis yang dilaporkan oleh tim dari LSM:
“...Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun merupakan salah satu program prioritas pemerintah pusat (RPJMN 2005)2009) dan pemerintah provinsi Papua (RPJMD Papua 2006)2011 dan Nota Keuangan RAPBD 2010). Secara umum, program wajib belajar bertujuan untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan akses (pelayanan) pendidikan dasar yang bermutu, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Targetnya adalah seluruh anak usia 7)15 tahun dapat memperoleh pendidikan minimal sampai sekolah menengah pertama (Renstra Depdiknas 2005)2009). Pemerataan dan perluasan akses maksudnya manarik semua anak usia sekolah yang belum pernah sekolah, siswa putus sekolah, dan lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan. Untuk melaksanakan program pemerataan dan perluasan akses, antara lain harus didukung dengan: (1) penyediaan bantuan biaya operasional agar sekolah dapat mencapai proses pembelajaran yang optimal; (2) perpustakaan dan buku pelajaran yang lengkap; (3) rehabilitasi ruang kelas yang rusak; (4) pembangunan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB) di tingkat SMP untuk menampung jumlah lulusan SD; dan (5) penyediaan guru sesuai kualifikasi yang dibutuhkan...”
“....Selanjutnya dijelaskan bahwa pengelolaan wajib belajar pendidikan dasar secara hukum diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Pasal 6 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Supaya terselenggara dengan baik, pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan dana melalui APBN dan APBD. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2003, yang menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Pasal 34 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2003 dan Pasal 9 ayat (1) PP No. 47 Tahun 2008 juga mengatur bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Artinya, seluruh biaya pendidikan dasar ditanggung pemerintah dan pemerintah daerah melalui APBN dan APBD. Dengan kata
lain, usia wajib belajar tidak boleh membayar, sehingga pengelola satuan pendidikan (sekolah) tidak diperkenankan melakukan pungutan kepada orang tua siswa, dengan dalil apapun. Selain tidak membayar, bagi warga negara usia wajib belajar yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya, pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan bantuan biaya pendidikan (Pasal 9 ayat (4) PP No. 47 Tahun 2008)...”
Pada RAPBD 2010, program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dianggarkan sebesar Rp 74,37 miliar, lebih tinggi dibanding dengan anggaran tahun 2007 dan 2008. Perlu diingat bahwa program ini tidak mendapatkan anggaran pada APBD 2009. Meski anggarannya bertambah, sebagian besar kegiatan pada program ini dihapus (tidak diberi anggaran). Hanya ada empat kegiatan yang dibiayai dari anggaran wajib belajar tahun 2010, yakni manajemen berbasis sekolah, peningkatan mutu kesiswaan, penyediaan tenaga SD, SMP, dan SMA (guru kontrak), dan pembebasan biaya pendidikan.
Anggaran program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dalam RAPBD 2010 terutama ditujukan untuk pembebasan biaya pendidikan dengan nilai sebesar Rp 60,15 miliar.
Tabel 4.17
Rincian Anggaran Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Yang Bersumber Dari Dana Otsus Pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi
Papua (juta rupiah) $ 344= $ 344A $ 3414 1 Pembangunan gedung sekolah 1.350,00 0,00 0,00 2 Pengadaan buku)buku dan alat)
alat tulis siswa
865,00 1.087,50 0,00 3 Pelatihan kompetensi tenaga
pendidik
361,50 2.156,46 0,00 4 Pelatihan penyusunan kurikulum 459,68 870,97 0,00 5 Pembinaan forum masyarakat
peduli pendidikan
594,80 2.167,40 0,00 6 Penyediaan Bantuan Operasional