• Tidak ada hasil yang ditemukan

52;3A)19 Sumber: Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Otonomi Khusus Papua

Dalam dokumen Analogi Manajemen keuangan Model Affirma (Halaman 54-73)

Kesimpulan dan Verifikasi

52;3A)19 Sumber: Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Otonomi Khusus Papua

2002 829,38 248,81 552,92 165,88 1.382,30 414,69 2003 934,05 280,22 605,51 181,65 1.539,56 461,87 2004 657,42 197,23 985,20 295,56 1.642,62 492,79 2005 920,31 276,09 855,00 256,50 1.775,31 532,59 2006 1.264,35 379,31 1.648,93 494,68 2.913,28 873,98 2007 1.565,14 469,54 1.730,61 519,18 3.295,75 988,73 2008 1.859,53 557,80 1.730,61 519,18 3.590,14 1.077,04 2009 1.043,92 313,18 1.565,87 469,76 2.609,79 782,94 2010 1.045,95 313,78 1.298,92 389,68 2.344,87 703,46 / 142134)4< ;24;5)41 142@=;)= = ;23@3)1; 3124@;)5 3 52;3A)19 Sumber: Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Otonomi Khusus Papua Tahun 2002)2010 (Pemerintah Provinsi Papua, 2010)

Sebagaimana diatur dalam Undang)undang Otonomi Khusus, bahwa dana otsus terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan. Kebijakan ini kemudian diatur secara konkrit melalui peraturan daerah Nomor 5 Tahun 2006 yang menetapkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 30% dari dana otsus.

Mengacu pada ketentuan Undang)undang otonomi khusus dan perda nomor 5 tahun 2006, jumlah anggaran pendidikan di Papua yang bersumber dari dana otsus Provinsi tahun anggaran 2002)2010 pada tabel 4.6 diatas. Dari analisis deskripsi data keuangan yang diperoleh peneliti dari informan yang disajikan pada tabel 4.5 dan 4.6. dapat maka diperoleh makna bahwa dana pendidikan diperoleh selama 10 tahun sebesar Rp. 3.036.010.000.000,) dan para informan menyatakan bahwa dana sebesar itu lebih dari cukup untuk membangun pendidikan di Provinsi Papua.

92321232 6

Reduksi data, merupakan langkah analisis yang dilakukan dengan menyeleksi seluruh data yang telah diperoleh berdasarkan informan (Tabel 4.2). Peneliti mengidentifikasi makna dengan menggabungkan tema)tema yang ditemukan pada Semua informan dimana dalam narratives)nya yang terdapat pada lampiran II dan juga data Fokus Group discussion yang tertuang dalam lampiran III, dan dihubungkan dengan teori atau referensi terkait dan ketentuan yang berlaku. Selanjutnya sajian data dirangkai dalam kalimat yang baik, logis, sistematis, mudah dipahami. Maka temuan penelitian menyatakan: ketentuan alokasi anggaran pendidikan telah diatur dengan tegas dalam Pasal 31 UUD 1945, Pasal 49 undang)undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Pasal 80 PP No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, yakni sekurang)kurangnya sebesar 20 % dari total APBN maupun APBD. Anggaran dimaksud sudah termasuk gaji pendidik,1 tetapi di luar biaya pendidikan kedinasan, sesuai putusan Mahkamah Konstitusi No. 24/PUU)V/2007. Alokasi anggaran pendidikan tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan publik, bukan diutamakan untuk meningkatkan kesejahteraan aparat birokrasi

1 Pengertian pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

pendidikan yang selama ini menjadi beban anggaran belanja pemerintah pusat dan daerah dalam konteks anggaran rutin.

Anggaran pendidikan dalam APBD Provinsi Papua secara eksplisit diatur di dalam undang)undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Pasal 34 undang)undang Otonomi khusus menyatakan bahwa dana otonomi khusus yang besarnya setara dengan 2 % DAU nasional terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Artinya, pendidikan dan kesehatan merupakan bidang) bidang prioritas yang harus dibiayai dengan dana otonomi khusus. Kata “terutama” dalam ketentuan pasal 34 tersebut harus diartikan bahwa porsi anggaran pendidikan (dan kesehatan) dalam APBD harus lebih besar dibanding dengan bidang)bidang lainnya. Hal ini sangat masuk akal, karena sesungguhnya salah satu tujuan utama pembentukan undang)undang Otonomi khusus adalah untuk mengejar ketertinggalan pembangunan pendidikan di Papua. Pembangunan pendidikan dimaksud meliputi penyiapan sumber daya manusia dan infrastruktur pendidikan yang berkualitas di tanah Papua.

Amanat undang)undang otonomi khusus tentang pendanaan pendidikan selanjutnya diatur secara konkrit melalui Perda No. 5 Tahun 2006 tentang Pembangunan Pendidikan di Provinsi Papua.2 Pada Pasal 45 Perda No. 5 Tahun 2006 diatur bahwa anggaran pendidikan di Papua bersumber dari: (i) paling sedikit sebesar 30 % dari dana otonomi khusus; (ii) paling sedikit sebesar 30 % dari penerimaan bagi hasil sumber daya alam pertambangan minyak bumi; dan (iii) paling sedikit sebesar 30 % dari penerimaan bagi hasil sumber daya alam pertambangan gas alam.3 Anggaran sebagaimana yang dimaksud Pasal 45 hanya diperuntukkan bagi pendidikan publik, bukan untuk biaya pendidikan kedinasan, sebagaimana diatur pada Pasal 46 Perda No. 5 Tahun 2006. Artinya, penggunaan anggaran pendidikan yang berasal dari dana otonomi khusus serta dana bagi hasil minyak bumi dan gas alam harus digunakan untuk memenuhi biaya penyelenggaraan pendidikan publik, baik biaya investasi, biaya operasional satuan pendidikan, maupun biaya personal peserta didik pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (negeri dan swasta). Dengan kata lain, anggaran pendidikan dimaksud harus diprioritaskan untuk peningkatan mutu pendidikan masyarakat, bukan untuk gaji pendidik, biaya administrasi, honorarium, biaya perjalanan dinas pegawai, biaya makan)minum pegawai, dan belanja)belanja birokrasi lainnya dalam kelompok belanja rutin. Perda No. 5 tahun 2006 secara detail juga di antaranya mengatur tentang: (1) prinsip penyelenggaraan pendidikan (Pasal 3); (2) tanggung jawab pemda terhadap pendidikan (Pasal 5); (3) hak dan kewajiban penduduk (Pasal 7)9); (4) hak dan kewajiban masyarakat, LSM, lembaga keagamaan, dan dunia usaha (Pasal 12)13); (5) hak peserta didik (Pasal 14); (6) sarana dan prasarana pendidikan (Pasal 32); (7) pembiayaan pendidikan bagi lembaga pendidikan keagamaan, pendidikan swasta, dan

2Khusus untuk Kabupaten Jayawijaya, penyelenggaraan pendidikan diatur melalui Perda No. 13 Tahun 2008, isinya antara lain diatur mengenai tanggung jawab pemda terhadap pendidikan, yakni: (1) menyediakan media pembelajaran dan alat-alat laboratorium untuk semua jenjang pendidikan; (2) membangun perpustakaan di semua jenjang pendidikan; (3) menyediakan balai pelatihan dan pendidikan guru; (4) menyediakan perumahan bagi pendidik dan tenaga kependidikan; (5) menyediakan kendaraan dinas untuk semua jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah; (6) memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan dari keluarga pendidik/tenaga kependidikan yang kurang mampu; (7) menyediakan biaya bagi pendidikan yayasan-yayasan; dan (8) mengalokasikan dana pendidikan sebesar 30 % dari dana otsus yang diterima daerah. Selain itu, secara garis besar Perda No. 13/2008 mengatur tentang hak dan kewajiban anak didik, pengangkatan guru, pengawas, dan tenaga kependidikan, pengawas sekolah, tugas dan wewenang pemerintah daerah, peran serta masyarakat, evaluasi pendidikan, dan sanksi.

3 Data mengenai besaran alokasi dana bagi hasil sumber daya alam pertambangan minyak bumi dan gas lam dari pemerintah pusat yang diberikan untuk pemerintah provinsi Papua sulit diketahui publik, karena tidak dicantumkan secara rinci dalam dokumen APBD. Hal ini sebagai indikasi bahwa pengelolaan sumber daya alam pertambangan minyak bumi dan gas alam tidak transparan dan berpotensi menyimpang.

perguruan tinggi (Pasal 47)51); (8) kualifikasi pendidik (Pasal 54); (9) kesejahteraan dan penghargaan pendidik dan tenaga kependidikan (Pasal 59)61), dan (10) pengawasan.4 Jika semua ketentuan Perda dilaksanakan dengan baik, penyelenggaraan pendidikan di Papua diperkirakan dapat berjalan secara optimal, dengan catatan biaya pendidikan tersedia dalam APBD sesuai kebutuhan.

Menurut PP No. 48 Tahun 2008, biaya pendidikan meliputi: (1) biaya satuan pendidikan, (2) biaya penyelenggaraan pendidikan, dan (3) biaya pribadi peserta didik. Biaya satuan pendidikan adalah biaya penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan (sekolah), yang terdiri dari: (a) biaya investasi (biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan SDM, dan modal kerja tetap), (b) biaya operasi (gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga kependidikan, bahan habis pakai, telepon, air, listrik, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, pajak, asuransi, dll), (c) bantuan biaya pendidikan (dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya), dan (d) beasiswa (bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang berprestasi). Adapun biaya penyelenggaraan pendidikan juga meliputi biaya investasi dan biaya operasi.

Sehubungan dengan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pendanaan pendidikan dasar dan menengah, Pemerintah Provinsi Papua telah mengeluarkan kebijakan baru berupa Peraturan Gubernur Provinsi Papua No. 5 Tahun 2009 tentang Pembebasan Biaya Pendidikan Bagi Wajib Belajar Pendidikan Dasar dan Pengurangan Biaya Pendidikan Bagi Peserta Didik Orang Asli Papua Pada Jenjang Pendidikan Menengah. Dengan adanya peraturan ini, pengelolaan dan pendanaan pendidikan dasar dan menengah di wilayah provinsi Papua (dari kota hingga di kampung)kampung terpencil) diharapkan lebih terarah dan benar)benar membebaskan orang tua murid dari segala bentuk pungutan liar yang dilakukan sekolah.

Peraturan Gubernur Papua No. 5 Tahun 2009 adalah dana untuk membiayai operasional satuan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan, dan kebutuhan pribadi peserta didik. Pembebasan biaya pendidikan adalah penghapusan seluruh biaya pendidikan untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan peserta didik orang asli Papua dari keluarga tidak mampu pada jenjang pendidikan menengah. Sedangkan pengurangan biaya pendidikan adalah pembebasan sebagian dari komponen biaya pendidikan yang menjadi tanggung jawab keluarga peserta didik.

Dengan berlakunya Peraturan Gubernur Papua No. 5 tahun 2009 tersebut, pengelolaan pendidikan dasar dan menengah di Papua diharapkan berjalan optimal dan permasalahan)permasalahan pendidikan dasar dan menengah yang terjadi selama ini sudah dapat teratasi. Adanya kebijakan pendidikan gratis pada jenjang pendidikan dasar dan pengurangan biaya bagi warga kurang mampu (miskin) pada jenjang pendidikan menengah harus dimaknai sebagai bentuk perhatian pemerintah provinsi terhadap pendidikan. Untuk merealisasikan peraturan ini, Pemerintah Provinsi Papua menyediakan anggaran sebesar Rp 60,15 miliar dalam RAPBD 2010, yang dialokasikan melalui pos anggaran Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga. Anggaran ini diharapkan dapat menunjang anggaran yang bersumber dari pemerintah pusat (dana dekonsentrasi), seperti dana BOS, beasiswa, peningkatan kualifikasi dan kesejahteraan guru, dan biaya pembangunan/rehabilitasi sekolah.

923212;2 *

Semua responden dalam narratives)nya yang terdapat pada lampiran II dan juga data FGD menyatakan bahwa sebagai program prioritas, pendidikan seharusnya mendapatkan alokasi anggaran yang memadai dalam APBD, sehingga berbagai

4 Selengkapnya lihat isi Perda No. 5 Tahun 2006. Pasal-pasal yang disebutkan di atas dijadikan acuan analisis ini, terutama pada saat membahas anggaran pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, manajemen pendidikan, dan peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

permasalahan pendidikan di Papua dapat segera dipecahkan. Akan tetapi, walaupun bidang pendidikan telah ditetapkan sebagai program prioritas, namun dalam pembagian APBD ternyata pendidikan tidak menjadi prioritas. Ketentuan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 % dari APBD (UUD 1945, undang)undang 20/2003, dan PP 48/2008) atau 30 % dari dana otonomi khusus (undang)undang Otonomi khusus dan Perda No. 5/2006) sampai sekarang masih dilanggar oleh eksekutif dan legislatif di Papua. Sebagai gambaran, alokasi anggaran pendidikan di Papua selama lima tahun terakhir (2006)2010) hanya bermain pada angka 3 persen hingga 5 persen dari total APBD, dan juga belum sampai 30 % dari dana otonomi khusus (Tabel 4.7). Salah satu indikasi bahwa pemerintah provinsi dan anggota DPRD kurang memiliki komitmen dan kepedulian untuk menangani masalah pendidikan di Papua.

* 92=2 344563414 7 8 $ $ 794 :8 / : $ : 2006 3.918,02 1.264,35 198,27 5,06 15,68 2007 5.856,89 1.565,14 203,49 3,47 13,00 2008 5.449,04 1.859,53 228,72 4,19 12,30 2009 5.142,08 1.043,92 231,15 4,49 22,14 2010 5.124,53 1.043,92 244,40 4,77 23,41

Sumber: APBD Papua 2006)2009; RAPBD Papua 2010; dan Nota Keuangan RAPBD Papua 2010 (diolah)

Mengkaji hasil analisis ICS Papua dan FITRA Jakarta yang membahas anggaran pendidikan tahun 2010, dengan membandingkannya dengan anggaran tahun)tahun sebelumnya, terutama tahun 2008 dan 2009. Untuk anggaran pendidikan tahun 2010 sebesar Rp 244,40 miliar,5 dialokasikan melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga sebesar Rp 236,36 miliar, Badan Pengelola Sumber Daya Manusia Rp 756,75 juta, dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah sebesar Rp 7,29 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk belanja tidak langsung (gaji dan tunjangan pegawai) sebesar Rp 34,21 miliar (14 %) dan belanja langsung (untuk biaya pelaksanaan program pendidikan) sebesar Rp 210,19 miliar (86 %).

Dari data tabel 4.8 terlihat bahwa alokasi anggaran pendidikan mengalami kenaikan dari Rp 231,15 miliar tahun 2009 menjadi Rp 244,40 miliar tahun 2010 (naik sekitar 5,73 %). Kenaikan tersebut terjadi pada belanja tidak langsung maupun belanja langsung. Anggaran belanja tidak langsung naik dari Rp 27,11 miliar tahun 2009 menjadi Rp 34,21 miliar tahun 2010 (naik sekitar 26,19 %). Sementara anggaran belanja langsung naik dari Rp 203,45 miliar tahun 2009 menjadi Rp 210,19 tahun 2010 (naik sekitar 3,31 %).

5 Pada lampiran III RAPBD Papua 2010, anggaran Dinas Pendidikan, Pemuda , dan Olah Raga berjumlah Rp 248,89 miliar, terdiri dari belanja tidak langsung Rp 34,21 miliar dan belanja langsung Rp 214,68 miiar. Angka ini berbeda dengan data yang tercantum pada lampiran II dan Lampiran IV. Perbedaan alokasi anggaran antara satu lampiran dengan lampiran lainnya dalam satu dokumen menunjukkan bahwa penyusun RAPBD Papua 2010 tidak teliti dan sembarangan.

* 92A2 344@63414 7 8 2 % 7" 8 $ # $ # / 344@

1 Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga

27,11 193,41 221,11

2 Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah

0,00 10,04 10,04

/ 3=)11 34;)9< 3;1)1<

3414

1 Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga

34,21 202,15 236,36

2 Badan Pengelola SDM 0,00 0,76 0,76

3 Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah

0,00 7,29 7,29

/ ;9)31 314)1@ 399)94

Sumber: APBD Papua 2009, RAPBD Papua 2010, dan Nota Keuangan RAPBD Papua 2010.

92321292 ! ,

Semua responden dalam narratives)nya yang terdapat pada lampiran II dan juga data FGD menyatakan Jika mengacu pada beberapa peraturan perundang) undangan yang mengatur besaran alokasi anggaran pendidikan dalam APBD, sebagaimana telah diuraikan di atas, anggaran pendidikan provinsi Papua tahun 2010 yang hanya sebesar 6,11 % dari APBD atau 11,99 % dari dana otonomi khusus jelas melanggar, undang)undang Otonomi khusus, undang)undang No. 20/2003, PP No. 48/2008, dan Perda No. 5/2006. Hal ini berarti bahwa APBD Papua 2010 yang menetapkan 4,77 % untuk pendidikan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat (hal yang sama juga telah terjadi pada APBD Papua 2006)2009). Padahal, jika menggunakan ketentuan, undang)undang No. 20/2003, dan PP No. 48/2008 yang menetapkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 % dari APBD, anggaran pendidikan Papua tahun 2010 seharusnya minimal sebesar Rp 1.024,91 miliar (atau Rp 1,02 triliun). Apabila menggunakan Perda No. 5 Tahun 2006 dengan ketentuan 30 % dari dana otonomi khusus, anggaran pendidikan Papua pada APBD 2009 paling sedikit sebesar Rp 782,94 miliar.

Penggunaan anggaran pendidikan untuk publik (belanja langsung) juga cenderung tidak berorientasi publik atau dengan kata lain tidak dapat menyelesaikan masalah)masalah pendidikan yang dihadapi publik. Berdasarkan hasil identifikasi dan perhitungan terhadap item)item anggaran belanja langsung pada sektor pendidikan tahun 2010 dengan total anggaran sebesar Rp 210,19 miliar, ternyata hanya sebesar Rp 21,63 miliar atau 10,29 % yang diperkirakan bermanfaat langsung bagi publik, yakni terdapat pada pos belanja modal.6 Selebihnya sebesar Rp 61,39 miliar atau 29,21 % habis digunakan untuk belanja pegawai, yakni berupa honorarium pegawai tidak tetap, honorarium panitia pelaksana kegiatan baik dari pegawai negeri maupun pegawai tidak tetap, dan honorarium instruktur/narasumber yang terlibat dalam kegiatan)kegiatan dinas pendidikan. Adapun untuk belanja barang dan jasa menelan anggaran paling besar yang mencapai Rp 127,17 miliar atau 60,50 %, yakni untuk biaya)biaya yang berkaitan dengan pelayanan administrasi perkantoran (jasa surat

6 Yang termasuk dalam pos belanja modal antara lain pengadaan komputer untuk sekolah, pengadaan perpustakaan sekolah dan buku-buku pelajaran, pengadaan meubelair sekolah, pengadaan tanah sarana pendidikan, pengadaan media pembelajaran, pembangunan gedung sekolah, dll.

menyurat, alat tulis kantor, biaya cetak/penggandaan, biaya perjalanan dinas, biaya rapat dan koordinasi, biaya telepon, air, listrik, pemeliharaan gedung kantor dan kendaraan dinas/operasional, dan biaya makan minum pegawai). Sumber: ICS Papua dan FITRA Jakarta.

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa alokasi anggaran untuk belanja pegawai menurun dari Rp 124,29 miliar tahun 2009 menjadi Rp 61,39 miliar tahun 2010 (turun sekitar 50,61 %). Demikian pula, alokasi anggaran untuk belanja modal menurun dari Rp 31,52 miliar tahun 2009 menjadi Rp 21,63 miliar tahun 2010 (turun sekitar 31,38 %). Kebijakan menurunkan porsi anggaran belanja modal semakin menguatkan hipotesis bahwa penyusunan anggaran pendidikan tahun 2010 tidak berorientasi publik. Sebaliknya, anggaran pendidikan tahun 2010 lebih berorientasi birokrasi, karena alokasi anggaran untuk belanja barang dan jasa mengalami kenaikan yang sangat tajam dari Rp 47,64 miliar tahun 2009 menjadi Rp 127,17 miliar tahun 2010 (naik sekitar 167 %). Dengan kata lain, sekitar 90 % anggaran pendidikan tahun 2010 habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelembagaan yang sifatnya administratif dan belanja pegawai dinas pendidikan provinsi (gaji, tunjangan, honor).

Pengelolaan anggaran pendidikan tahun 2010 juga diperkirakan akan terjadi penyimpangan jika tidak dilakukan pengawasan secara ketat dan profesional. Dugaan ini cukup beralasan, karena pengelolaan dana otonomi khusus dan anggaran pendidikan tahun)tahun sebelumnya selalu bermasalah, menyimpang dari ketentuan, dan ada yang terindikasi merugikan keuangan daerah.

Tabel 4.9.

Penggunaan Anggaran Belanja Langsung Pendidikan Provinsi Papua 2009)2010 (miliar rupiah) % $ B $ $ C / $ / 344@ 1 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga 122,37 42,81 28,23 193,41 2 Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah 1,92 4,83 3,29 10,04 / 139)3@ 9=)59 ;1)<3 34;)9< : 51)4@ 3;)93 1<)9@ 144)44 3414 1 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga 60,00 122,67 19,48 202,15 3 Badan Pengelola Sumber Daya Manusia 0,12 0,63 0,00 0,76 ; Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah 1,27 3,87 2,14 7,28 / 51);@ 13=)1= 31)5; 314)1@ % 3@)31 54)<4 14)3@ 144)44

Sumber: APBD Papua 2009 dan RAPBD Papua 2010 (diolah)

Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua Tahun 2005)2006, ditemukan indikasi penyimpangan penggunaan dana otonomi khusus tahun 2005 sebesar Rp 27,51 miliar dan tahun 2006 sebesar Rp

77,56 miliar. Khusus untuk dana pendidikan yang dikelola Dinas Pendidikan Provinsi Papua tahun 2005)2007, BPK menemukan total penyimpangan yang berakibat pada kerugian keuangan daerah sebesar Rp 4,81 miliar2 Bentuk)bentuk penyimpangannya adalah belanja tidak dipertanggung jawabkan (tidak disertai bukti)bukti kuitansi yang sah), pemborosan dalam pengadaan barang dan jasa dan pelaksanaan fisik tidak sesuai dengan kontrak.7 Tim analisis ICS Papua dan FITRA Jakarta belum memperoleh informasi baru mengenai perkembangan penyelesaian masalah ini.

Selain itu, pengelolaan dana BOS dan dana pendidikan dasar lainnya (APBN dan APBD) di Papua juga bermasalah. Sebagai contoh, pengelolaan dana BOS tahun 2007 dan 2008 pada Dinas Pendidikan Provinsi, antara lain BPK menemukan masalah berikut: (1) penyaluran dana BOS ke sekolah terlambat, sehingga sekolah harus berhutang untuk memenuhi biaya operasionalnya, (2) sisa dana BOS tahun 2007 sebesar Rp 549 juta tidak disetor ke kas Negara; (3) dana BOS buku tahun 2008 sebesar Rp 15,04 miliar tidak dicairkan; (4) dari total biaya pengadaan alat laboratorium IPA SMP sebesar Rp 4 miliar, yang tidak didukung dengan bukti yang sah sebesar Rp 1,51 miliar; dan (5) fisik pekerjaan kurang dilaksanakan sebesar Rp 922 juta.8

Masalah pengelolaan dana BOS dan dana pendidikan dasar lainnya juga terjadi di kabupaten/kota. Sebagai contoh, beberapa temuan BPK terhadap laporan Dinas Pendidikan Kota Jayapura dan Dinas Pendidikan Kab. Jayapura di antaranya adalah: (1) pengeluaran dana BOS di Kota Jayapura sebesar Rp 398 juta tidak didukung dengan bukti yang lengkap (berpotensi menyimpang); (2) penitipan uang pajak senilai Rp 1,21 miliar atas DAK bidang pendidikan yang diterima sekolah di Kota Jayapura dipergunakan untuk kepentingan lain dan sisa dana penitipan yang pajak sebesar Rp 423 juta tidak disetor ke kas negara; dan (3) pengadaan asset sekolah yang bersumber dari dana bantuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebesar Rp 3,09 miliar (Kota Jayapura) dan Rp 6,77 miliar (Kab. Jayapura) tidak diadministrasikan dengan tertib (potensi pindah tangan atau hilang); (4) dana BOS di Kab. Jayapura sebesar Rp 303 juta digunakan tidak sesuai peruntukannya; (5) pelaksanaan pekerjaan pembangunan sekolah baru di Kab, Jayapura sebesar Rp 742 juta tidak sesuai RAB.9

923212< 6 *

Semua responden dalam narratives)nya yang terdapat pada lampiran II dan juga data FGD Pendidikan diarahkan untuk peningkatan pemerataan dan mutu pelayanan pendidikan, antara lain melalui program)program pendidikan dasar dan menengah, pendidikan kejuruan, pendidikan luar sekolah serta pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta dengan memberdayakan yayasan ) yayasan pendidikan yang ada.

Program)program prioritas pemerintah di bidang pendidikan disajikan pada tabel 4.10. dibawah ini:

Sejumlah program pendidikan pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga, dikaji 6 (enam) program, yakni program wajib belajar pendidikan dasar, program pendidikan menengah, program pendidikan non formal, program manajemen pelayanan pendidikan, program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dan program pendidikan tinggi.

7 Hasil Pemeriksaan BPK tahun 2006 dan 2007

8 Hasil Pemeriksaan BPK atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana BOS dan Dana Pendidikan Dasar Lainnya (APBN dan APBD) pada Pemerintah Provinsi Papua Tahun 2007 dan 2008, yang dikeluarkan pada bulan Maret 2009.

9 Hasil Pemeriksaan BPK atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana BOS dan Dana Pendidikan Dasar Lainnya (APBN dan APBD) pada Pemerintah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura Tahun 2007 dan 2008, yang dikeluarkan pada bulan Maret 2009.

* 92142 ) ) 344A63414 7 8 / $ 344A $ 344@ $ 3414 1 Program pelayanan administrasi perkantoran 3.649,56 2.677,34 3.615,23 2 Program peningkatan sarana dan prasarana

aparatur

6.084,02 761,50 2.122,65 3 Program peningkatan disiplin aparatur 450,00 250,00 292,20 4 Program peningkatan kapasitas sumber daya

aparatur

240,62 130,00 452,20 5 Program pendidikan anak usia dini 6.640,65 927,15 1.424,29 6 Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun 61.321,27 0,00 74.366,09 7 Program pendidikan menengah 35.011,93 2.830,01 20.129,93 8 Program pendidikan non formal 7.897,38 14.780,07 13.388,34 9 Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga

kependidikan

16,665,17 23.345,88 6.262,74 10 Program pengembangan budaya baca dan

pembinaan perpustakaan

209,55 206,69 424,06 11 Program manajemen pelayanan pendidikan 8.462,75 28.044,08 24.768,16 12 Program peningkatan SDM perguruan tinggi 43.934,14 49.277,52 22.214,19 13 Program pengkajian perguruan tinggi 5.094,65 4.324,00 3.200,00 14 Program KPG Khas Papua 6.656,47 5.806,23 1.330,00 15 Program peningkatan mutu kesiswaan

pendidikan dasar

0,00 6.963,50 0,00 16 Program penyelenggaraan dan perluasan

pendidikan berpola asrama

0,00 10.853,10 0,00 17 Program peningkatan mutu kesiswaan

pendidikan menengah

0,00 5.889,80 12.088,17 18 Program pengembangan sekolah bertaraf

nasional dan internasional (SBN dan SBI)

0,00 15.415,91 16.071,50 19 Program peningkatan mutu tenaga

kependidikan

0,00 6.526,20 0,00 20 Program penyediaan tenaga pendidik dan

kependidikan

0,00 4.205,00 0,00 21 Program peningkatan peran serta kepemudaan 0,00 2.571,50 1.911,65 22 Program peningkatan upaya penumbuhan

kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda

0,00 200,00 270,00 23 Program pendidikan dan pemasyarakatan olah

raga

0,00 4.507,92 4.714,91 24 Program peningkatan sarana dan prasarana

olah raga 0,00 2.919,52 5.632,78 / 1A<2A;<)A @ 1@;2913)@ 1 343219<)< 9

Sumber: APBD Papua 2008)2009 dan RAPBD Papua 2010

Sejumlah program pendidikan pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga, dikaji 6 (enam) program, yakni program wajib belajar pendidikan dasar, program pendidikan menengah, program pendidikan non formal, program manajemen pelayanan pendidikan, program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dan program pendidikan tinggi.

Dokumen RPJMD Provinsi Papua 2006)2010 (Perda No. 10 Tahun 2006), dapat diketahui bahwa pemerintah provinsi bertekad ingin meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan dengan pembebanan biaya pendidikan yang

serendah)sendahnya bagi masyarakat. Artinya, . Jika kebijakan ini dilaksanakan dengan serius, mutu pendidikan di Papua yang kini masih memprihatinkan lambat laun dapat ditingkatkan. Kuncinya harus ada komitmen dan kepedulian yang sungguh) sungguh dari para pejabat tinggi yang ada di level pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota (eksekutif dan legislative) untuk mendukung kebijakan tersebut melalui pengalokasian anggaran pendidikan dalam APBD sesuai aturan, dan kemudian dilaksanakan secara transparan, efisien, efektif, dan berkeadilan disertai dengan pengawasan yang pofesional dari aparat pengawas internal maupun eksternal birokrasi.

(3) Konsistensi pemerintah provinsi antara kebijakan pembangunan pendidikan yang dituangkan dalam RKPD dengan pengalokasian anggaran dalam APBD,

(6) Ketepatan sasaran dan manfaat program)program pendidikan yang direncanakan dalam RKPD dan APBD.

92321252

Hasil identifikasi ditampilkan pada Tabel 4.11 pada halaman berikut:

Peneliti mengidentifikasi kinerja keuangan sejak otonomi khusus daerah mulai diberlakukan di Negara Kesatuan Republik Indonesia maka sejak saat itu sampai dengan sekarang telah banyak peraturan serta perundang)undangan yang dibuat. Peraturan tersebut mulai dari undang)undang, peraturan pemerintah, keputusan

Dalam dokumen Analogi Manajemen keuangan Model Affirma (Halaman 54-73)

Dokumen terkait