Kesimpulan dan Verifikasi
' * Undang)undang Otonomi khusus dan seperangkat
Undang)undang Otonomi khusus dan seperangkat
peraturan pemerintah merupakan kinerja keuangan dalam rangka pengelolaan dana otonomi khusus.
Kebijakan Khusus Percepatan UU Otsus pengelolaan dana Pengetahuan, pemahaman dan kekhawatiran masyarakat keberhasilan dan kualitas pendidikan
Akuntabilitas
Kepatuhan, pengelolaan dana, efektifitas, efisiensi dan manfaat yang diterima oleh masyarakat
besarnya dana otsus, kualitas pendidikan, pengawasan kinerja keuangan akuntabilitas
Pelaksanaan undang)undang otonomi khusus di Provinsi Papua memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di provinsi papua.
Pengelolaan dana otonomi khusus harus memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.
Pengeloaan dana yang besar dan kekhawitaran masyarakat terhadap pengelolaan dana menjadi dasar referensi masyarakat kepada pemerintah daerah terkait akuntabilitas keuangan.
Akuntabilitas yang diharapkan oleh masyarakat menentukan keberhasilan dalam pengelolaan dana otonomi khusus.
Pengetahuan dan pemahaman pegawai pemerintah terhadap makna otsus dan menjalankan UU otsus menentukan keberhasilan pembangunan.
Akuntabilitas pemerintah daerah dalam mengelola dana otsus menentukan kepatuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Ketidakberhasilan peningkatan kualitas pendidikan akan memberikan akuntabilitas kepada pemerintah daerah dan memberikan referensi untuk meningkatkan kepatuhan pengelolaan dana otsus
Kepatuhan menjalankan seperangkat undang)undang otsus, akuntabilitas dan pengelolaan dana berhubungan dengan kualitas pendidikan dan manfaat yang diterima oleh masyarakat.
Besarnya dana otonomi khusus menentukan kualitas pembangunan pendidikan di provinsi papua. Peningkatan Kualitas pendidikan menjadikan pengeloaan dana yang akuntabel, efisien dan efektif.
Masyarakat melakuan pengawasan dengan cepat untuk meminta akuntabilitas terhadap pengelolaan dana otsus.
Berdasarkan pemetaan tersebut, maka dirumuskan proposisi mayor sebagai berikut:
1. UU Otsus, Peraturan pemerintah daerah dan kepatuhan menentukan kinerja keuangan
atau pengelolaan dana otonomi khusus.
2. Kepatuhan, pengawasan, pertanggungjawaban dana otonomi khusus menentukan akuntabilitas terhadap pengelolaan dana otonomi khusus.
3. Pengetahuan berkaitan dengan pendidikan dan pengalaman yang menjadi dasar pengelolaan dana yang efektif dan efisien dan memberikan manfaat kepada masyarakat provinsi Papua.
5.2. Pembahasan
5.2.1. Kinerja Keuangan dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Otsus.
Faktor)faktor yang menentukan kinerja keuangan dan pengelolaan dana otonomi khusus banyak disebut pada berbagai kajian dan penelitian, antara lain Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005, tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam ketentuan umumnya menyatakan bahwa keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan daerah tersebut. Menurut Munir, dkk (2004:96) “Keuangan daerah adalah keseluruhan tatanan, perangkat, kelembagaan dan kebijakan penganggaran yang meliputi Pendapatan dan Belanja Daerah”. Menurut Halim (2007: 23) menyatakan bahwa “Keuangan daerah dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak)pihak lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku.” Pemerintah daerah selaku pengelola dana publik harus menyediakan informasi keuangan yang diperlukan secara akurat, relevan, teapt waktu, dan dapat dipercaya. Untuk itu, pemerintah daerah dituntut untuk memiliki sistem informasi akuntansi yang handal.
Penelitian tentang kinerja keuangan terhadap pengelolaan dana otonomi khusus ditemukan dalam penelitian oleh Eriadi (2005) menyatakan bahwa untuk pengelolaan keuangan dan efisiensi penggunaan anggaran menunjukkan hasil yang positif atau menjadi lebih baik setelah otonomi daerah diterapkan di daerah yang menjadi sampel penelitiannya, sedang untuk derajat desentralisasi fiskal dan tingkat kemandirian pembiayaan menunjukkan hasil yang negatif atau mengalami penurunan kinerja setelah otonomi daerah diterapkan. Selain itu, dari hasil penelitiannya juga memperlihatkan bahwa untuk derajat desentralisasi fiskal, tingkat kemandirian pembiayaan, dan efisiensi penggunaan anggaran perubahan antara sebelum dan sesudah otonomi daerah tidak terlalu signifikan. Penelitian serupa pernah juga dilakukan oleh Marnanda (2007) di mengatakan bahwa secara keseluruhan tidak ada perubahan yang mendasar sebelum dan sesudah otonomi daerah pada semua rasio keuangan yang dipakai atau diuji. Bahkan, untuk beberapa rasio terjadi penurunan nilai setelah otonomi daerah diberlakukan.
Dalam penelitian ini, fenomena menarik yang ditemukan adalah Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah adalah tingkat capaian dari suatu hasil kerja di bidang keuangan daerah yang meliputi penerimaan dan belanja daerah dengan menggunakan indikator keuangan yang ditetapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang)undangan selama satu periode anggaran.
Penelitian terdahulu yang mendukung kinerja keuangan pemerintah daerah dan pada era otonomi daerah dinyatakan oleh Mahsun (2006 : 25) “Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang teruang dalam stategic planning suatu organisasi”. Disamping itu, menurut Sedarmayanti (2003 : 64) “Kinerja (performance) diartikan sebagai hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat diukur dengan dibandingkan standar yang telah ditentukan”. Menurut Mardiasmo (2002:121) “Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untk membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan nonfinansial”.
Apabila mengkaji dengan teori keuangan daerah yang dikemukakan oleh Menurut Munir, dkk (2004: 96) “Keuangan daerah adalah keseluruhan tatanan, perangkat, kelembagaan dan kebijakan penganggaran yang meliputi Pendapatan dan Belanja Daerah”. Menurut Mamesah (Halim, 2007:23) menyatakan bahwa “Keuangan daerah dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak)pihak lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku.”
“GMaka kinerja keuangan pada era otonomi khusus adalah seperangkat kebijakan untuk mengelola dana otonomi khusus yang efektif dan efisien dan
harus menyediakan informasi keuangan yang diperlukan secara akurat, relevan, tepat waktu, dan dapat dipercayaG”
Dari pernyataan kinerja keuangan era otonomi khusus ditemukan tiga lembaga pemerintah antara lain Lembaga Administrasi Negara (LAN, 2006); Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP, 2007: 12) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK, 2010: 24) informasi keuangan yang diperlukan secara akurat, relevan, tepat waktu, transparansi dan dapat dipercaya adalah Akuntabilitas Keuangan.
Kadmasasmita (2005: 3) menyatakan Akuntabilitas sebagai decision makers (in government, private sector, and citizens groups) must answer to the public as well as to their own organization, dewasa ini sering digabungkan dengan rule of law, transparancy, responsiveness, equity, serta effectiveness dan efficiency, untuk mewujudkan good governance. Keuangan Negara sebagai kegiatan (pemerintah) di dalam mencari sumber) sumber dana (sources of fund), dan bagaimana dana tersebut digunakan (uses of fund), untuk mencapai tujuan)tujuan pemerintah, dewasa ini sering dikaitkan dengan akuntabilitas, menjadi akuntabilitas keuangan negara, untuk mewujudkan good governance.Tuntutan untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara tersebut, membutuhkan komitmen, integritas, dan kompetensi manajerial dan teknis dalam penataan keuangan Negara khususnya, serta dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
“GMaka akuntabilitas keuangan adalah pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan, pengungkapan dan ketaatan terhadap peraturan perundang) undanganG”
Integritas keuangan mencerminkan kejujuran penyajian dimana laporan keuangan dapat harus profesionalitas dan akuntabilitas yang semakin tinggi, konsistensi, komitmen yang tinggi, serta menggambarkan secara jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
Tuntutan akuntabilitas pengelolaan dana otonomi khusus di Provinsi Papua, memberikan pemahaman tentang akuntabilitas keuangan, dimana didalam penelitian ini ditemukan Provinsi Papua mendapat anggaran dana yang sangat besar dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Maka Masyarakat memberikan penekanan kepada manfaat yang diterima dari dana otonomi khusus tersebut. Kajian mengenai manfaat dana otonomi khusus ini merujuk dari teori Value for Money (Mahmudi, 2009:24). enataan keuangan Negara saat ini menghendaki penerapan konsep value for money atau yang lebih dikenal degan konsep 3 E (Ekonomi, Efisien, dan Efektif). Oleh karena itu dalam reformasi ini pemerintah diminta baik dalam mencari dana maupun menggunakan dana selalu menerapkan prinsip 3 E tersebut. Hal ini mendorong pemerintah berusaha selalu memperhatikan tiap sen/rupiah dan (uang) yang diperoleh dan digunakan. Perhatian tertuju pada hubungan antara input9output9outcome.
Konsep kinerja keuangan dan akuntabilitas pengelolaan dana otonomi khusus adalah Transparansi tentang keuangan negara merupakan salah satu persyaratan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan bertanggungjawab. Mengingat penanganan pemerintah merupakan salah satu sarana evaluasi pencapaian kinerja dan tanggungjawab pemerintah mensejahterakan masyarakat, maka keuangan negara harus dapat memberikan informasi yang jelas tentang tujuan, sasaran, hasil dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang dianggarkan. Selain itu setiap dana yang diperoleh, penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Gambar 5.2. Model Akuntabilitas
Sumber: Akuntabilitas Pendidikan dan Pelatihan (Edi, 2006: 2), Institute For Public Management anda Community Service (2006)
Model akuntabilitas pada gambar 5.2. diatas, merupakan akuntabilitas adalah kunci dari konsep good governance yang kini sedang menguat dalam situasi dunia yang global. Akuntabilitas yang menjunjung tinggi nilai equitable dan responsiveness to people’s needs
merupakan resultante dari proses dan prinsip)prinsip good governance (transparansi, efisiensi dan efektifitas) serta globalisasi (demokrasi dan kompetisi). Globalisasi, good governance telah menjadi sebuah parameter dari tuntutan masyarakat terhadap kinerja aparatur pemerintah. Sebagai actor penting dalam menjalankan proses dan praktek pengelolaan organisasi serta perancangan kebijakan)kebijakan publik, aparatur pemerintah yang semula bersandar pada prinsip responsibility (tanggungjawab) dan obligation (kewajiban), kini harus berpatokan pada kriteria accountability.
Good governance menjunjung efisiensi, transparansi dan efektifitas. Pengelolaan sumberdaya dan pencapaian tujuan organisasi diarahkan agar sesuai dengan kepuasan masyarakat atau penerima pelayanan. AUSAID (2006: 2) memberikan batasan yang bagus mengenai governance dan good governance.
“EGovernance is the exercise of power or authority – political, economic, administrative or otherwise – to manage a country’s resources and affairs. It comprisers the mechanisms, processes and institutions throught which citizens and groups articulate their interests, exercise legal rights, meet their obligations and mediate their differencesE”
“EGood governance means competent management of a country’s resources and affairs in a manner that is open, transparent, accountable, equitable and responsive to people’s needsE”
Dari pernyataan tersebut prinsip)prinsip good governace yang bisa dijadikan rujukan dalam memotret kinerja keuangan dalam era otonomi khusus adalah:
1. Akuntabilitas pengelolaan dana otonomi khusus atau akuntabilitas keuangan.
2. Adanya lembaga)lembaga dan perangkat hukum yang efektif dan mampu mengontrol tindakan)tindakan individu dan organisasi serta negosiasi atas perbedaan)perbedaan.
3. Budaya transparansi dan akuntabilitas dalam proses)proses tata pemerintahan.