BAB II HAK DARI SUAMI ATAU ISTERI YANG HIDUP
A. Hibah Dalam Islam
Kata Kata hibah adalah bentuk masdar dari kata wahaba digunakan dalam al-Qur’an beserta kata derivatifnya sebanyak 25 kali dalam 13 surat. Wahaba artinya memberi, dan jika subyeknya Allah berati memberi karunia, atau menganugerahi (QS. Ali Imran, 3:8, Maryam, 19:5, 49, 50, 53).100 Demikian pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemberian dengan sukarela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain.101
Abd al-Rahmân al-Jazairî dalam Kitab al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah,102 menghimpun empat definisi hibah dari empat mazhab, yaitu :
a. Menurut mazhab Hanafi, hibah adalah memberikan sesuatu benda dengan tanpa menjanjikan imbalan seketika.
b. Menurut mazhab Maliki yaitu memberikan milik sesuatu zat dengan tanpa imbalan kepada orang yang diberi, dan juga bisa disebut hadiah.
c. Menurut Mazhab Syafi’i dengan singkat menyatakan bahwa hibah menurut pengertian umum adalah memberikan milik secara sadar sewaktu hidup.
d. Menurut Mazhab Hambali, hibah adalah pemilikan harta dari seseorang kepada orang lain yang mengakibatkan orang yang diberi boleh melakukan tindakan hukum terhadap harta itu, baik harta itu tertentu maupun tidak, bendanya ada dan boleh diserahkan yang penyerahannya dilakukan ketika pemberi masih hidup, tanpa mengharapkan imbalan.
100 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 466
101
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 398 102 Abd al-Rahmân al-Jazirî, Kitab al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah, Penerjemah : Ali Syafi’i (Beirut: Dâr al-Fikr, Juz III, 1972) hal. 208 - 209
Beberapa definisi di atas sama-sama mengandung arti yang serupa, bahwa hibah merupakan suatu jenis perbuatan pemberian harta kepada seseorang secara langsung tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hibah adalah akad atau perjanjian yang menyatakan perpindahan hak milik seseorang kepada orang lain diwaktu ia masih hidup tanpa mengharapkan penggantian sedikit pun.
2. Rukun dan Syarat Hibah
Para ulama sepakat mengatakan bahwa hibah mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga hibah itu dianggap sah dan berlaku hukumnya. Menurut Ibnu Rusy dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid mengemukakan bahwa rukun hibah ada tiga hal yang essensial yaitu :
a. Orang yang mengibahkan atau al-wahib
b. Orang yang menerima hibah atau al-mauhublah
c. Pemberian atau perbuatan hibah tersebut atau al-hibah.103
Dengan adanya tiga unsur dalam yang dipenuhi dalam hibah, bukan berarti hibah tersebut bisa langsung dilaksanakan dan sah hukumnya. Para ahli Hukum Islam sepakat tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang mengibahkan, yaitu :104
a. Bahwa barang yang dihibahkan adalah milik si pengibah sendiri.
b. Orang yang memberi hibah bukanlah orang yang dibatasi haknya yang disebabkan oleh sesuatu alasan.
c. Orang yang memberi hibah itu adalah orang cakap bertindak menurut hukum dewasa, berada dalam keadaan yang sehat dan mampu bertindak hukum.
103Abdurrahman Al Jaziri, Op. cit. hal. 247
d. Orang yang memberi hibah tersebut tidak memberikan hibah dalam keadaan terpaksa dalam memberi hibah, haruslah memiliki kebebasan dalam menghilangkan bendanya.
Jadi kesimpulannya untuk orang yang menghibahkan hartanya disyaratkan bahwa orang itu adalah orang yang cakap bertindak hukum, yaitu baligh, berakal dan cerdas. Oleh sebab itu, anak kecil dan orang gila tidak sah hibahnya, karena mereka termasuk orang-orang yang tidak cakap bertindak hukum.
Sedangkan syarat orang yang menerima hibah adalah para ahli hukum Islam sepakat bahwa orang yang menerima hibah haruslah orang yang benar-benar ada pada saat hibah dilaksanakan dan tidak dipermasalahkan apakah dia anak-anak, kurang akal dan derajat hidupnya atau bisa saja orang yang tidak normal mendapat hadiah.105
Dalam hal benda yang akan dihibahkan, para ahli hukum Islam berpendapat benda tersebut harus benar-benar ada atau mempunyai nilai, kepunyaan pribadi, tidak terikat dengan benda lainnya dan dapat langsung dikuasai.106
3. Pemberian Hibah
Sayyid Sabiq107 dan Chairuman Pasaribu108 mengemukakan dalam bukunya, bahwa para ahli hukum Islam sepakat berpendapat bahwa seseorang dapat mengibahkan semua hartanya kepada siapapun atau bukan ahli waris. Tetapi menurut sebagian pentahkik mahzab Hanafi menegemukakan bahwa tidak sah mengibahkan
105Ibid., hal. 123.
106
Chairuman Pasaribu & Syuhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), hal. 70
107Sayyid Sabiq, Op.cit., hal. 390.
semua harta, meskipun untuk perbuatan kebaikan. Mereka menganggap orang memberikan semua hartanya sebagai orang dungu yang harus diabatasi tindakannya.
Dalam pemberian hibah tidak pernah dikatakan hibah haruslah diberi kepada seseorang tertentu. Artinya kepada siapa saja hiba dapat diberikan, namun menurut pendapat Imam Ahmad Ishaq, Tsauri, dan beberapa pakar hukum Islam menyatakan batal hibah apabila melebihkan satu dengan yang lain, tidak diperkenankan mengibahkan hartanya kepada salah seorang anak si pengibah.109
Dalam Kompilasi Hukum Islam menganut prinsip bahwa hibah hanya bisa diberikan 1/3 bagian dari harta yang dimilikinya, hibah orang tua terhadapa anak dapat diperhitungkan sebagai waris. Prinsip yang dianut oleh hukum Islam adalah sesuai dengan kultur bangsa Indonesia dan sesuai pula apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ibnul Hasan bahwa orang yang menghilangkan semua hartanya itu adalah orang yang dungu dan tidak layak bertindak hukum. Oleh karena itu hibah tersebut dapat dianggap batal, sebab ia tidak memenuhi syarat dalam melaksanakan pengibahan.
Prinsip pelaksanaan hibah orang tua terhadap anaknya haruslah sesuai petunjuk Allah SAW. Dalam beberapa hadist dikemukakan bahwa bagian mereka supaya disamakan dan tidak dibenarkan memberi semua harta kepada salah seorang anaknya. Jika hibah yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi ketentuan bagian waris, maka hibah tersebut dapat diperhitungkan sebagai waris. Sikap seperti ini menurut Kompilasi didasarkan pada kebiasaan yang dianggap positif oleh masyarakat. Karena
bukan suatu hal yang aneh apabila bagian waris yang dilakukan tidak adil akan menimbulkan penderitaan bagi pihak tertentu, lebih-lebih kalau penyelesaiannya sampai ke Pengadilan Agama tentu akan terjadi perpecahan keluarga.
Sehubungan dengan hal ini Umar Ibnul Khatab pernah mengemukakan bahwa kembalikan putusan itu diantara sanak keluarga, sehingga mereka membuat perdamaian, karena seseungguhnya putusan pengadilan itu sangat menyakitkan hati dan menimbulkan penderitaan.
Dalam Kompilasi Hukum Islam diatur mengenai syarat-syarat pengibah, yaitu:110
a. Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki. b. Harta benda yang dihibahkan harus merupakan hak dari penghibah.
4. Macam-macam hibah
Bermacam-macam sebutan pemberian disebabkan oleh perbedaan niat (motivasi) orang-orang yang menyerahkan benda, adapun macam-macam hibah adalah sebagai berikut:
a. Al-Hibah, yakni pemberian sesuatu kepada yang lain untuk dimiliki zatnya tanpa mengharapkan penggantian (balasan) atau dijelaskan oleh Imam Taqiy al-Din Abi Bakr Ibnu Muhammad al-Husaini dalam kitab Kifayat al-Akhyar bahwa al-Hibah ialah pemilikan tanpa penggantian.111
b. Shadaqah. Yakni yang menghibahkan sesuatu dengan harapan pahala di akhirat.112 Atau juga dapat disebut sebagai pemberian zat benda dari
110
Pasal 210 Kompilasi Hukum Islam 111
Imam Taqiyuddin Abubakar ibn Muhammad Al-Hussaini, Kifayah Al Akhyar, Penerjemah : Muhammad Aqsha (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, 1970), hal. 323
seseorang kepada yang lain dengan tanpa mengganti dan hal ini dilakukan karena ingin memperoleh ganjaran (pahala) dari Allah Yang Maha Kuasa. c. Washiat, yang dimaksud dengan washiat menurut Hasbi Ash-Siddieqy ialah
suatu akad di mana seorang manusia mengharuskan di masa hidupnya mendermakan hartanya untuk orang lain yang diberikan sesudah wafatnya.113 d. Hadiah, yang dimaksud dengan hadiah ialah pemberian yang tanpa menuntut
orang yang diberi hibah untuk memberi imbalan.114 Atau dalam redaksi lain yaitu pemberian dari seseorang kepada orang lain tanpa adanya penggantian dengan maksud memuliakan.
5. Penarikan / Pencabutan Hibah
Hibah yang diberikan pada dasarnya tidak dapat dicabut atau ditarik kembali, karena penarikan hibah itu dilarang oleh hukum Islam. Menurut hadis Ibnu Abbas, Rasullulah SAW, bersabda bahwa orang yang meminta kembali hibahnya adalah laksana anjing yang muntah kemudian dia memakan kembali muntahnya itu. Seperti juga dalam riwayat lain Ibnu umar dan Ibnu Abbas mengemukakan Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa tidak halal bagi seorang muslim yang memberikan suatu pemberian kemudian dia meminta kembali pemberiannya itu, kecuali orang tua dalam suatu pemberian kepada anaknya.
Dalam Kompilasi Hukum Islam juga diatur mengenai penarikan hibah yang terdapat dalam Pasal 211 dan Pasal 212 yang isinya adalah hibah dapat ditarik dalam perhitungan sebagai warisan dan hibah dapat ditarik oleh orang tua terhadap anaknya.
Sedangkan dalam hal penarikan hibah juga diatur di Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang terdapat dalam Pasal 1688, yaitu :
113
TM Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1997), hal. 107
a. Karena orang yang menerima hibah tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh orang yang memberi hibah, syarat ini biasanya berbentuk pembebanan kepada orang yang menerima hibah;
b. Orang yang menerima hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan suatu kewajiban yang bertujuan menghilangkan jiwa orang yang memberi hibah, atau sesuatu kejahatan yang lain bertujuan dan mecelakakan orang yang memberi hibah;
c. Jika orang yang menerima hibah menolak untuk memberikan tunjangan nafkah terhadap diri orang yang meberi hibah karena ia jatuh miskin.
Pada dasarnya hibah tidak dapat ditarik lagi oleh si pemberi hibah, karena hibah itu adalah suatu pemberian yang dilakukan oleh si pemberi hibah dengan secara cuma-cuma atau tanpa syarat apapun. Namun berbeda halnya jika penarikan hibah tersebut dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, karena dalam Kompilasi Hukum Islam diperkenankan orang tua dapat menarik hibah yang telah diberikan kepada anaknya.