• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HAK DARI SUAMI ATAU ISTERI YANG HIDUP

B. Pembagian Harta Peninggalan Menurut Hukum Islam

Bagi umat Islam yang mentatati dan melaksanakan ketentuan pembagian harta peninggalan atau warisan (waris) sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT, niscaya mereka akan dimasukkan oleh Allah SWT kedalam surga untuk selama-lamanya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mengindahkannya akan dimasukkan kedalam api neraka untuk selama-lamanya.

63 Idris Ramulyo, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Ind Hill Co., 1994), hal. 132 64 Ahmad Rifa’I Arief, Op. Cit., hal. 2

Mengenai pembagian warisan ini, Rasulullah saw, memerintahkan secara tegas kepada umatnya untuk melaksanakan pembagian warisan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan dalam Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud bahwa Rasulullah saw, bersabda:65

“Bagikanlah harta waris diantara para ahli waris menurut Kitabullah”

1. Pengertian Waris.

Waris berasal dari Bahasa Arab, yang artinya mewariskan, pusaka-pusaka dan warisan.66 Sedangkan menurut istilah para Ulama Fiqh, kata waris atau ilmu waris diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang ketentuan orang-orang yang diwarisi, orang-orang yang tidak mewarisi besar yang diterima oleh masing-masing ahli waris serta cara pembagiannya.67

Istilah waris sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia, sehingga kebanyakan masyarakat Indonesia mengartikan Ilmu Waris sebagai suatu perpindahan hak dan kewajiban serta harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang lain yang masih hidup.68

65 Suparman Usman dan Yusuf Somawinata, Op. Cit., hal. 16 66

Ahmad Warson munawir Al-Munawir, Kamus Arab Indonesia, (Yogyakarta: Pondok Pesantren “ Al-Munawir”, 1984), hal. 1655

67 Hasbi Ash Shiddiqy, Fiqhul Al-Mawarisi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 18 68Muslim Maruzi, Pokok-pokok Ilmu Waris, (Semarang: Mujahidin, 1989), hal. 28

2. Prinsip Waris

Setelah mengetahui definisi tentang Waris, untuk lebih mendalaminya perlu mempelajari prinsip-prinsipnya. Beberapa prinsip dalam Hukum Kewarisan Islam adalah sebagai berikut :

a. Prinsip Ijbari.

Yang dimaksud dengan Prinsip Ijbari adalah bahwa peralihan harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup, berlaku dengan sendirinya.69Dalam Hukum Kewarisan Islam, dijalankannya Prinsip Ijbari ini berarti, peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya, berlaku dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Allah, tanpa bergantung kepada kehendak pewaris atau ahli waris.70

b. Prinsip Individual.

Secara singkat dapat dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan Prinsip Individual adalah warisan dapat dibagi-bagikan kepada ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. Ini berati setiap ahli waris berhak atas bagian warisan yang didapatkan tanpa terikat oleh ahli waris yang lain. Ada perbedaan yang sangat mencolok, jika Prinsip Individual dalam Hukum Kewarisan Islam dibandingkan dengan salah satu prinsip dalam Hukum Kewarisan Adat, yakni Prinsip Kolektif. Menurut prinsip ini, ada harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagikan kepada para ahli waris. Di

69

Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau, (Jakarta: Gunung Agung, 1984), hal. 27

beberapa daerah di Indonesia terdapat suatu adat, harta peninggalan yang turun-temurun diperoleh dari nenek-moyang, tidak dapat dibagi-bagi, jadi ahli waris harus menerimanya secara utuh.71 Misalnya adalah Harta Pusaka di Minangkabau dan Tanah Dati di Hitu Ambon. Tiap-tiap anak, turut menjadi anggota (deelgenot) dalam kompleks famili yang mempunyai barang-barang keluarga (harta pusaka) itu.72 Apabila kompleks famili itu menjadi terlalu besar, maka kompleks famili itu dipecah menjadi dua, masing-masing berdiri sendiri dan menguasai Harta Pusaka.

c. Prinsip Bilateral.

Yang dimaksud dengan Prinsip Bilateral adalah bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mewaris dari kedua belah pihak garis kekerabatan, yakni pihak kekerabatan laki-laki dan pihak kekerabatan perempuan. Tegasnya, jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewaris atau diwarisi dan baik dalam garis lurus ke bawah, ke atas serta garis ke samping, Prinsip Bilateral tetap berlaku.73

d. Prinsip Kewarisan hanya berlaku karena kematian.

Hukum Kewarisan Islam menetapkan, bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan sebutan kewarisan berlaku setelah yang mempunyai harta tersebut meninggal dunia. Dengan demikian, tidak ada pembagian

71

Utsman Nasan, Meninjau Hukum Adat Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 1981), hal. 121 72

Ibid, hal. 122

73Rachmad Budiono, Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hal.5

warisan sepanjang pewaris masih hidup. Segala bentuk peralihan harta seseorang yang masih hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak termasuk ke dalam persoalan kewarisan menurut Hukum Kewarisan Islam.

3. Rukun Waris

Menurut Hukum Kewarisan Islam, Rukun Kewarisan ada 3 (tiga), yaitu :

a. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.74

b. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.75

c. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya.76

4. Sebab-sebab Kewarisan

Adapun seseorang yang berhak mendapatkan harta harus berdasarkan salah satu sebab sebagai berikut, yaitu:77

74Pasal 171 huruf b Kompilasi Hukum Islam 75Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam 76Pasal 171 huruf d Kompilasi Hukum Islam

77Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris menurut Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 39

a. Kekerabatan

Kekerabatan adalah hubungan nasib dengan orang yang mewariskan (muwaris) dengan orang yang akan menerima warisan karena adanya pertalian darah, waris karena hubungan nasab ini mencakup:

1. Anak, cucu baik laki-laki maupun perempuan (furu). 2. Ayah, kakek, ibu, nenek (usul).

3. Saudara laki-laki atau perempuan, paman dan anak laki-laki paman, bibi (hawasy).

b. Perkawinan

Perkawinan yang sah menyebabkan adanya hubungan hukum saling mewarisi antara suami dan isteri, apabila diantara keduanya ada yang meninggal, maka isterinya atau jandanya mewarisi harta suaminya. Demikian juga, jika seorang isteri meninggal dunia, maka suaminya mewarisi harta isterinya.

c. Wala

Wala yaitu hubungan hukmiah, suatu hubungan yang ditetapkan oleh Hukum

Islam, karena tuannya telah memberikan kenikmatan untuk hidup merdeka dan mengembalikan hak asasi kemanusiaan kepada budaknya. Tegasnya, jika seorang tuan memerdekakan budaknya, maka terjadilah hubungan keluarga yang disebut wala’ itqi. Jadi, pengertian wala disini adalah hubungan kewarisan akibat memerdekakan hamba sahaya, atau melalui perjanjian tolong-menolong.

Sedangkan Kompilasi Hukum Islam Pasal 174 Ayat 1 hanya menyebabkan dua sebab, yaitu karena hubungan darah dengan perkawinan.

5. Syarat-syarat Kewarisan

Yang menyebabkan keawarisan, antara lain78: a. Meninggal dunianya pewaris

Yang dimaksud dengan meninggal dunia di sini ialah baik meninggal dunia hakiki (sejati), meninggal dunia hukmi (menurut Putusan Hakim) dan meninggal dunia taqdiri (menurut dugaan). Tanpa ada kepastian, bahwa pewaris meninggal dunia, warisan tidak boleh dibagi-bagikan kepada ahli waris.

b. Hidupnya ahli waris

Hidupnya ahli waris harus jelas, pada saat pewaris meninggal dunia. Ahli waris merupakan pengganti untuk menguasai warisan yang ditinggalkan oleh pewaris. Perpindahan hak tersebut diperoleh melalui jalan kewarisan. Oleh karena itu, sesudah pewaris meninggal dunia, ahli warisnya harus benar-benar hidup.

c. Mengetahui status kewarisan

Agar seseorang dapat mewarisi harta orang yang meninggal dunia, haruslah jelas hubungan antara keduanya. Misalnya, hubungan suami-isteri, hubungan

orang tua-anak dan hubungan saudara, baik sekandung, sebapak maupun seibu.

6. Penghalang Mewaris

Tidak semua ahli waris mendapatkan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh si almarhum. Ada beberapa hal yang meghalangi seseorang ahli waris untuk mendapatkan harta warisan. Halangan tersebut adalah:79

a. Pembunuhan

Para ulama Fiqh sepakat, bahwa pembunuhan tidak bisa menerima warisan mulai dari masa tabi’in sampai pada masa mujtahid, hal ini berdasarkan orang yang membunuh sesamanya, berarti ia telah berbuat dosa, dan dosa tidak bisa dijadikan alasan atau sebab menerima warisan.

b. Berlainan Agama

Islam menetapkan, bahwa tidak ada antara orang dengan orang kafir meskipun diantaranya ada hubungan yang menyebabkan kewarisan atau ada wasiat maka wasiat itu wajib dilaksanakan sedang hak waris antara kedua tetap terhalang, sebab perbedaan agama menyebabkan terhalangnya hak waris. c. Perbudakan

Perbudakan menjadi penghalang mewarisi bukan karena status kemanusiaannya, tetapi karena status formalnya sebagai hamba sahaya (budak). Mayoritas sepakat seorang budak terhalang untuk menerima warisan karena ia tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seorang budak tidak dapat diwarisi, jika ia meninggal dunia, sebab ia orang miskin yang tidak memiliki harta kekayaan sama sekali.

d. Berlainan Negara

Pengertian negara adalah suatu wilayah yang ditempati suatu bangsa yang memiliki angkatan bersenjata sendiri, Kepala Negara sendiri dan kedaulatan sendiri serta tidak ada ikatan dengan negara asing. Adapun berlainan negara yang menjadi penghalang mewaris adalah apabila diantara ahli waris dan mewarisnya berdomisili di dua negara yang berbeda kriterianya seperti yang disebutkan dimuka, apabila dua negara sama-sama muslim menurut para ulama tidak menjadi penghalang mewarisi.

Sedangkan Kompilasi Hukum Islam hanya menyebutkan dua hal yang menghalangi kewarisan, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 173, yaitu :

“Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena :

1. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris.

2. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan, bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Akan tetapi pada Pasal 171 huruf c, secara tersirat telah menunjukkan bahwa perbedaan agama menjadi penghalang untuk mewarisi. Terdapat perbedaan halangan untuk mewarisi antara fiqh dan Kompilasi Hukum Islam. Dalam fiqh perbudakan dan perbedaan negara dapat menjadi penghalang. Untuk mewarisi, sedangkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) hanya menyebutkan pembunuhan dan fitnah, perbedaan agama yang menjadi penghalang.

7. Ahli waris dan bagiannya

Sesungguhnya, sepanjang suatu persoalan kewarisan telah diatur secara tegas oleh Al-Qur’an, ketentuan tersebut akan dipatuhi oleh semua golongan yang mengajarkan sistem kewarisan. Timbulnya dasar-dasar pemikiran sehingga timbul penggolongan ke sistem patrilineal adalah apabila ajaran tersebut mulai memberikan

penafsiran kepada ayat-ayat Al-Qur’an, yang memungkinkan untuk ditafsir secara patrilineal. Pokok-pokok pikiran dalam kewarisan patrilineal adalah sebagai berikut:80 a. Selalu memberikan kedudukan yang lebih baik dalam perolehan harta peninggalan kepada pihak laki-laki. Dalam hubungan ini, termasuk perbandingan antara ibu dan bapak atas harta peninggalan anaknya.

b. Urutan keutamaan berdasarkan usbah dan laki-laki, Usbah adalah anggota keluarga yang mempunyai hubungan darah sesamanya, berdasarkan hubungan garis keturunan laki-laki atau patrilineal.

c. Istilah-istilah khusus mengenai kewarisan dalam Al-Qur’an mungkin disamakan dengan istilah biasa dalam kehidupan sehari-hari, atau istilah dalam Hukum Adat dalam masyarakat orang Arab. Bahkan istilah-istilah Hukum Adat dalam Al-Qur-an sendiri.

Apabila dilihat dari bagiannya yang diterima oleh ahli waris, dapat dibedakan:81 a. Ahli waris ashab al-furud, yaitu ahli waris yang menerima bagian yang ditentukan besar kecilnya yang dikenal sebagai Al-Furud Al-Muqadarah yang diatur dalam Al-Qur’an 6 (enan) bagian, yaitu : 1/2 (setengah), 1/3 (sepertiga), 1/4 .(seperempat), 1/6 (seperenam), 1/8 (seperdelapan), 2/3 (duapertiga).

80Ibid, hal. 45

b. Ahli waris asabah, yaitu ahli waris yang menerima bagian sisa setelah harta warisan dibagikan kepada ahli waris ashab al-furud. Ahli waris ini ada 3 (tiga) macam, yaitu :

1) Asabah bin nafsih, yaitu ahli waris yang karena kedudukan dirinya

sendiri berhak menerima bagian asabah, ahli waris kelompok ini semua laki-laki kecuali mu’tikah (perempuan yang memerdekakan hamba sahayanya), mereka adalah anak laki-laki dan cucu laki-laki dan garis laki-laki bapak, kakek dari garis bapak, saudara laki-laki sekandung dan seayah anak laki-laki saudara laki-laki sekandung dan seayah paman sekandung dan seayah, anak laki-laki paman sekandung dan seayah, mu’tiq dan muti’qah.

2) Asabah bi al-gair, yaitu ahli waris yang menerima bagian sisa, karena

peninggalan dengan ahli waris lain yang telah menerima bagian sisa. Mereka adalah anak laki-laki dan perempuan, cucu perempuan, cucu perempuan garis lakil-laki peninggalan cucu laki-laki garis laki-laki, saudara perempuan sekandung peninggalan saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan seayah peninggalan saudara laki-laki seayah. 3) Asabah ma’al-gair, yaitu ahli waris yang menerima bagian asabah,

karena peninggalan ahli waris lain yang bukan penerima bagian asabah, apabila ahli waris lain tidak ada, maka ia menerima bagian tertentu. Mereka adalah saudara perempuan sekandung karena peninggalan anak perempuan atau peninggalan cucu perempuan garis laki-laki dan saudara

perempuan seayah peninggalan dengan anak atau dengan cucu perempuan.

c. Ahli waris Zawi Al-Arham, yaitu ahli waris karena hubungan darah tetapi menurut ketentuan Al-Qur’an tidak berhak menerima warisan. Adapun perincian Furud Al-Muqadarah dan ahli waris yang menerima (ashab alfurud) adalah sebagai berikut :

1) Ahli Waris yang mendapatkan bagian 1/2 (setengah) :

a) Seorang anak perempuan jika tidak menjadi asabah bi al-gair.

b)Seorang cucu perempuan, bila tidak peninggalan mua’sibnya dan anak perempuannya.

c) Saudara perempuan sekandung, bila tidak terjadi asabah.

d)Saudara perempuan seayah, bila tidak terjadi asabah, tidak peninggalan saudara perempuan sekandung.

e) Suami bila tidak peninggalan far’un mutlaq. 2) Ahli waris yang mendapatkan 1/4 (seperempat) :

a) Suami bila ada fur’un mutlaq. b) Isteri bila ada fur’un mutlaq.

3) Ahli waris yang mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian ini, hanya diberikan kepada isteri, apabila meninggalkan anak, baik laki-laki maupun perempuan.

4) Ahli waris yang mendapatkan bagian dua pertiga (2/3) :

a) Dua anak perempuan atau lebih jika tidak menjadi asabah bi al-gair. b)Dua orang cucu perempuan atau lebih.

c) Dua orang bersaudara perempuan atau lebih yang sekandung, bila tidak peninggalan mua’sibnya.

d)Dua orang saudara perempuan yang sebapak jika tidak ada far’un perempuan dan mua’sibnya.

5) Ahli waris yang mendapatkan bagian sepertiga (1/3) : a) Ibu bila tidak ada anak laki-laki maupun perempuan.

b)Dua orang atau lebih saudara seibu atau sebapak, baik laki-laki atau perempuan.

6) Ahli waris yang mendapatkan seperenam (1/6) : a) Bapak, bila tidak ada far’un.

b)Ibu jika ada far’un dan saudara sekandung sebapak atau seibu, laki-laki atau perempuan.

c) Kakek bila tidak ada bapak. d)Nenek bila tidak ada ibu.

e) Cucu perempuan bila ada seorang anak perempuan.

f)Seorang saudara seibu (laki-laki atau perempuan) bila si mati dalam keadaan kalala, yaitu tidak mempunyai anak dan cucu (laki-laki ataupun perempuan) dan orang tua laki-laki.

g)Saudara perempuan sebapak jika ada saudara perempuan sekandung.

C. Harta Bersama Yang Terdapat Dalam Harta Peninggalan

Perbincangan masalah harta bersama menjadi topik yang sering menjadi pembahasan dan menyita perhatian masyarakat, terutama kasus perceraian atau kematian terkait perselisihan tentang pembagian harta bersama. Dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia, harta bersama diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 119 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dan Pasal 85 dan 86 Kompilasi Hukum Islam.

Pembicaraan atau kajian tentang gono-gini atau harta bersama tidak kita jumpai dalam kitab-kitab fiqh klasik. Masalah harta gono-gini atau harta bersama merupakan persoalan hukum yang belum disentuh atau belum terpikirkan (ghair al-mufakkar) oleh ulama-ulama fiqh terdahulu karena masalah harta gono-gini baru muncul dan banyak dibicarakan dalam masa modern ini.

Terdapat empat sumber/asal usul harta suami isteri dalam perkawinan yaitu82: 1. Harta hibah dan harta warisan yang diperoleh salah seorang dari suami atau

isteri. Harta tersebut tetap menjadi milik suami atau isteri yang menerimanya, demikian pula apabila terjadi perceraian tetap dikuasai oleh masing-masing pihak. Apabila salah satu pihak meninggal dunia dan mereka tidak mempunyai anak, maka barang-barang tersebut kembali pada masing-masing keluarga suami atau isteri yang masih hidup. Tujuannya agar barang tersebut tidak hilang dan kembali ke asalnya dan sebaliknya apabila mereka mempunyai anak, maka barang-barang tersebut beralih kepada anak dan keturunan seterusnya yang melanjutkan hak atas kekayaan dari keluarganya.

2. Harta hasil usaha sendiri sebelum mereka nikah. Terhadap harta ini, maka suami atau isteri secara sendiri-sendiri menjadi pemiliknya. Dalam hal terjadi perbuatan hukum seperti melakukan transaksi dengan barang-barang tersebut, diperlukan kemufakatan dari kerabat yang bersangkutan, sekurang-kurangnya adanya sepengetahuan dari ahli waris yang bersangkutan.

3. Harta yang diperoleh pada saat perkawinan atau karena perkawinan. Pada umumnya harta yang diperoleh suami isteri selama perkawinan jatuh ke dalam harta perkawinan milik bersama, harta ini menjadi bagian dari harta kekayaan keluarga. Dalam hal terjadi perceraian, maka suami isteri

masing-82H.A. Damanhuri HR, Segi-Segi Hukum Perjanjian Perkawinan Harta Bersama, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hal. 29

masing dapat menuntut bagiannya. Harta bersama ini dapat juga dipergunakan untuk membayar hutang piutang suami isteri selama perkawinan sepanjang untuk keperluan keluarga. Jika harta bersama tidak mencukupi untuk membayarnya, maka pelunasan utang dapat dibebankan atas barang asal dari pihak suami atau isteri. Begitu juga dalam hal utang suami isteri yang dibuatnya sebelum perkawinan, maka pelunasan pertama harus dibebankan atas barang asal yang mempunyai utang tersebut, jika tidak mencukupi kekurangannya dapat diambilkan dari harta milik bersama. 4. Harta yang diperoleh selama perkawinan selain dari hibah khusus untuk

salah seorang dari suami isteri dan selain dari harta warisan. Pengurusan harta ini menjadi milik bersama seperti diperoleh karena hadiah. Jika perkawinan mereka putus, maka suami atau isteri yang hidup meneruskan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mengurus harta perkawinan tersebut. Jika dalam perkawinan tidak mempunyai anak, maka suami atau isteri yang hidup berhak menentukan sendiri atas harta perkawinan mereka, dengan catatan orang tua atau keluarga pihak yang meninggal berhak menuntut kembali barang-barang bawaan yang masuk ke dalam perkawinan, berupa harta peninggalan, harta warisan dan harta penghasilan pribadi almarhum sebelum perkawinan terjadi. Sedangkan

harta perkawinan lainnya tetap dapat dikuasai oleh suami atau isteri yang hidup terlama untuk melanjutkan kehidupannya.83

Keempat sumber harta yang didapat tersebut dapat disebut harta kekayaan. Konsep harta kekayaan sebagaimana dikemukakan sebelumnya dapat ditinjau dari segi ekonomi dan dari segi hukum, yang keduanya memiliki hubungan satu sama lain. Tinjauan ekonomi menitikberatkan pada nilai kegunaannya, sedangkan dari segi hukum menitikberatkan pada aturan hukum yang berlaku.

Secara umum, hukum Islam tidak melihat adanya harta bersama. Hukum Islam lebih memandang adanya keterpisahan antara harta suami dan harta istri, apa yang dihasilkan oleh suami merupakan harta miliknya, demikian juga sebaliknya, apa yang dihasilkan istri adalah harta miliknya. Menurut Yahya Harahap, bahwa perspektif hukum Islam tentang harta bersama sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Muhammad Syah bahwa pencaharian bersama suami istri mestinya masuk dalam

rub’u mu’amalah, tetapi ternyata tidak dibicarakan secara khusus.84

Harta peninggalan adalah semua yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang dibenarkan oleh syariat untuk diwarisi oleh pada ahli warisnya, baik itu harta bawaan, harta perolehan, dan harta bersama. Pengaturan harta bersama ini diakui secara hukum, termasuk dalam pengurusan, penggunaan, dan pembagiannya.

Ketentuan tentang harta bersama juga diatur dalam hukum Islam meskipun hanya bersifat umum dan tidak diakuinya percampuran harta kekayaan suami istri,

83

Ibid, hal. 29

84Yahya Harahap, Kedudukan, Kewenangan, dan Acara Peradilan Agama UU No. 7 Tahun

namun ternyata setelah dicermati dan dianalisis yang tidak bisa dicampur adalah harta bawaan dan harta perolehan. Hal ini sama dengan ketentuan yang berlaku dalam hukum positif, bahwa kedua macam harta itu (harta bawaan dan harta perolehan) harus terpisah dari harta bersama itu sendiri.85

Harta bawaan adalah adalah harta masing-masing suami dan isteri yang dimiliki oleh masing-masing sebelum terjadinya perkawinan, termasuk yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan dan harta ini di bawah penguasaan masing-masing atau menjadi hak milik yang tidak dapat dipindah tangankan.86 Kemudian yang dimaksud dengan harta perolehan adalah harta masing-masing suami atau isteri yang dimilikinya dan diperoleh bukan dari usaha mereka, melainkan dari hibah, wasiat, sedekah atau warisan masing-masing sesudah mereka berada dalam hubungan perkawinan.

Penguasaan atas harta perolehan ini sama seperti harta bawaan, dikecualikan jika ada dibuat kesepakatan dalam perjanjian perkawinan, misalnya: suami istri menjadikan harta bawaan dan harta perolehan ini sebagai harta bersama. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 48 dan Pasal 49 Kompilasi Hukum Islam bahwa perjanjian percampuran harta pribadi dapat meliputi semua harta, baik harta bawaan digabung dengan harta perolehan menjadi harta bersama atau harta bawaan saja yang menjadi harta bersama.

Dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai harta bersama diatur dalam Bab XII tentang Harta Kekayaan dalam perkawinan pada Pasal 85 sampai dengan Pasal 97.

85Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2004), hal. 25

Dokumen terkait