• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HAK DARI SUAMI ATAU ISTERI YANG HIDUP

D. Pembatalan Hibah Atas Harta Peninggalan Yang Telah

Penarikan kembali atas sesuatu pemberian (hibah) adalah merupakan perbuatan yang diharamkan, meskipun hibah tersebut terjadi diantara dua orang yang bersaudara ataupun suami-isteri. Adapun hibah yang boleh ditarik hanyalah hibah yang dilakukan atau diberikan orang tua kepada anaknya.132

Menurut hadist Ibnu Abbas, Rasulullah SAW, bersabda bahwa orang yang meminta kembali hibahnya adalah laksana anjing yang muntah kemudian dia memakan kembali muntahnya itu. Dalam redaksi yang berbeda Al Bukhari meriwayatkan bahwa tidak ada tamsil yang paling jelek baginya kecuali orang yang meminta kembali hibah yang telah diberikan., seperti anjing yang muntah kemudian dia memakan kembali muntahnya itu.133Menurut pendapat ulama Al Hadawiyah dan Abu Hanifah bahwa halal meminta hibah selain sedekah, kecuali hibah kepada orang yang ada hubungan darah atau keturunan. Bahwa hadist tersebut hanya menunjukkan sangat makhruhnya saja, tidak sampai kepada tingkat haram, tamsil hadis hanya penyucian diri dari perbuatan yang merupai anjing.134

Dalam riwayat yang lain, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengemukakan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata bahwa tidak halal bagi seorang muslim yang memberikan suatu pemberian kemudian dia meminta kembali pemberiannya itu,

132

Abdul Manan, Op. Cit., hal 139 133

Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan'ani, Muqqadimah Kitab Subulus-Salam, Penerjemah : Abdul Umar, (Jakarta: Darus Sunah, 1995) hal.323

kecuali hibah seorang ayah kepada anaknya, hadis ini dinilai sahih oleh At Tarmizi, Ibnu Hibban dan Al Hakim, An Nasa’ dan Ibnu Majah.135

Sementara Imam Abu Hanafiah berpendapat bahwa seseorang boleh saja mencabut kembali apa yang telah dihibahkan kepada seseorang, kecuali apa yang telah dihibahkannya kepada perempuan yang mahram.136 Meskipun tertutup kemungkinan untuk menarik kembali hibah yang telah diberikan, kecuali pemberian atau hibah kepada anaknya, pemberi hibah dapat menarik kembali hibahnya kepada orang yang menerima hibah seandainya yang memberi hibah itu tidak menerima imbalan atau balasan dari orang yang menerima hibah, padahal imbalan dan balasan yang baik dari orang yang menerima hadiah itu sangat diharapkan karena sekarang ia sudah tua. Seandainya seseorang yang telah berusia lanjut memberikan hibah kepada orang tertentu dengan harapan orang yang menerima hibah itu mau merawatnya. Tetapi setelah hibah diberikan, orang yang menerima hibah tidak mau memperhatikan nasib oarng yang memberi hibah itu. Dalam keadaan seperti ini tidak ada halangan bagi orang yang memberi hadiah itu menarik kembali hadiah yang telah diberikan itu.137

Ketentuan hukum ini tentang hal pembatalan hibah ini didasarkan kepada hadis Rasulullah SAW, yaitu :

135

Ibid, hal. 324 136

Ibnu Rusy, 1960, Biyadatul Mujtahid, Juz II, (Musthofa al Baby al Halaby wa Auladuh), Kairo, Mesir, hal.249

“Barang siapa yang bermaksud memberikan suatu hibah maka dia lebih berhak terhadapnya selama ia belum dibahas”.138

Keadaan seperti diatas, penarikan kembali atau pengapusan hibah ini dilakukan dengan menyatakan kehendaknya orang yang menerima hibah, diikuti dengan penuntutan kembali barang-barang yang telah dihibahkan. Pembatalan hibah ini dapat dilakukan dengan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama setempat atau wilayah hukum orang yang memberi hibah bertempat tinggal.

Pada pasal 86 Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan bahwa pada dasarnya tidak ada percampuran harta suami-isteri dan harta isteri tetap menjadi harta isteri dan begitu juga dengan suami berhak atas hartanya sendiri. Suami maupun isteri bertanggung jawab menjaga harta bersama, demikian juga terhadap harta bawaan dari masing-masing suami atau isteri, jadi bukan berarti bahwa harta bawaan adalah di bawah tanggung jawab masing-masing, namun suami atau isteri hanya berhak sekedar menasehati.

Sebenarnya yang bertanggung jawab secara hukum untuk menyediakan peralatan rumah tangga, seperti tempat tidur, perabot dapur dan sebagainya adalah suami. Sekalipun mahar yang diterimanya lebih besar daripada pembelian alat rumah tangga tersebut. Hal ini karena mahar menjadi hak perempuan sepenuhnya dan merupakan hak mutlak istri. Berbeda dengan pendapat golongan Maliki yang mengatakan bahwa mahar bukan mutlak bagi istri. OLeh karena itu, ia tidak berhak

138

membelanjakan untuk kepentingan dirinya. Akan tetapi bagi perempuan yang miskin, ia boleh mengambil sedikit darinya dengan cara-cara yang baik.139

Menurut ketentuan Pasal 89 Kompilasi Hukum Islam, suami bertanggung jawab menjaga harta bersama, harta isteri dan hartanya sendiri, sebaliknya dalam Pasal 90 Kompilasi Hukum Islam juga dinyatakan isteri turut bertanggung jawab menjaga harta bersama maupun harta suami yang ada padanya.

Pengibahan atas harta peninggalan dapat dilakukan sepanjang yang dihibahkan adalah harta pribadi/harta bawaan si pemberi hibah dan bukan harta bersama. Namun apabila harta yang dihibahkan tersebut adalah harta bersama, maka haruslah ada persetujuan dari suami atau isteri mengenai pemberian tersebut. Hal ini sesuai dengan pasal 92 Kompilasi Hukum Islam, adanya persetujuan suami atau isteri dalam menjual atau memindahkan hak atas harta bersama.

Seperti dalam kasus putusan Pengadilan Agama Kota Padang Sidempuan Nomor 92/Pdt.G/2012/PA-Pspk, yaitu pemberian hibah yang dilakukan oleh ibu yang juga sesama ahli waris, merupakan harta peninggalan dan juga termasuk harta bersama (bukan harta bawaan si pemberi hibah).

Hibah dapat dilaksanakan sepanjang barang-barang tersebut merupakan milik pribadi si pengibah, bukan dari harta bersama. Jika dari harta bersama maka harus ada persetujuan suami atau isteri ketika masih hidup, sedangkan bila hibah tersebut berasal dari harta bersama yang suami atau isteri sudah meninggal, maka hibah

139 http://www.islam-yes.com/harta_benda.htm diakses pada tanggal 10 Desember 2013 pada pukul 23.00 WIB

tersebut tidak dapat dilaksanakan, karena barang-barang yang akan dihibahkan berubah menjadi harta peninggalan.

Lahirnya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989 (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama) yang mengatur kedudukan, susunan, kekuasaan dan hukum acara. Kelahiran undang-undang ini merupakan tonggak pundamental sejarah Peradilan Agama dari keberadaannya di Indonesia. Dengan itu pula kedudukan konstitusional Pengadilan Agama sebagai Pengadilan Negeri telah memiliki kepastian sebagaimana sumbernya telah ditegaskan dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.4 Tahun 2004 tentang ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman), yaitu salah satu lingkungan Peradilan yang berfungsi sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman dalam bidang perkara tertentu berdasarkan azas personalitas ke-Islaman.

Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 49, bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: perkawinan; waris; wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syari'ah.

Bagi ahli waris yang keberatan, dapat melakukan gugatan terhadap pemberian hibah yang diberikan oleh orang tua kepada salah satu ahli waris. Siapa yang menggugat, dan ternyata dalil-dalil gugatannya dibantah (tidak diakui) oleh pihak

lawan, maka dia (penggugat) dibebani wajib bukti untuk membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatannya (positanya).140

Bila penggugat dapat membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatannya, maka petitumnya dapat dikabulkan, dan apabila ternyata gugatannya tidak jelas (obscuur), maka gugatannya dinyatakan tidak dapat diterima. Sesuai dengan ratio decidendi, hakim sebagai penegak hukum, keadilan dan kebenaran, hakim dapat bebas memilah dan menilai semua alat-alat bukti.141

Seorang Hakim dalam memutuskan suatu perkara gugatan pembatalan hibah atau gugatan terhadap suatu keabsahan hibah, berdasarkan alat-alat bukti sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 284 R.Bg/Pasal 164 HIR jouncto 1866 KUH Perdata, yaitu:142

1. Bukti tulisan/bukti surat; 2. Bukti saksi;

3. Bukti persangkaan; 4. Bukti pengakuan; 5. Bukti sumpah; dan

6. Pemeriksaan ditempat (Pasal 153 HIR/Pasal 180 R.Bg, Pasal 211 Rv) 7. Saksi ahli (Pasal 154 HIR)

8. Pembukuan (Pasal 167 HIR)

140Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

141

Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

142Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

9. Pengetahuan hakim (Pasal 178 ayat (1) HIR).

Dalam hal terjadinya pembatalan dan penarikan kembali hibah, maka akibat hukumnya akan dibatalkanya suatu hibah yang telah dilakukan, dan juga menyatakan akta wasiat ataupun akta Notaris tidak berkekuatan hukum. Pertimbangan-pertimbangan hakim dalam melihat dan memutuskan sengketa hibah adalah berdasarkan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama, maka sumber hukum acara dan hukum terapan peradilan agama antara lain:143

1. Het Herziene Indonesich Reglement (HIR)/Reglemen Indonesia yang diperbaharui (RIB).

2. Rechtsreglement Buitengewesten (R.Bg) Stbl. 1927. 3. Reglement of de Burgerlijke Rechtsvorderring (RV). 4. Burgerlijke Wet Book (BW) KUH Perdata.

5. Peraturan perundang-undangan yang terkait, di antaranya: Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI).

6. Yurisprudensi;

7. Surat Edaran Mahkamah Agung RI.

8. Doktrin para pakar hukum dan ilmu pengetahuan.

143Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

Kemudian dengan dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari.ah, juga di dalam pasal-pasalnya diatur mengenai hibah, yaitu terdapat dalam Pasal 692 sampai dengan Pasal 734 peraturan Mahkamah Agung tersebut, yang juga dapat digunakan Pengadilan Agama dalam sengketa hibah, misalnya sebagaimana ditentukan dalam Pasal 702 Kompilasi Hukum Ekonomi Syari.ah, bahwa hibah dapat terjadi dengan pembebasan utang dari orang yang memiliki piutang terhadap orang yang berpiutang dengan syarat orang yang berutang tidak menolak pembebasan utang tersebut.

Faktor-faktor penyebab terjadinya pembatalan atau penarikan kembali hibah tersebut adalah banyak faktor, antara lain:

1. Penyerahan hibah tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Tidak memenuhi syarat-syarat dan rukun hibah, yaitu:144 a. Penghibah bukan pemilik harta yang dihibahkan.

b. Penghibah belum dewasa secara hukum atau idiot, gila (di bawah pengampuan).

c. Ada ahli waris lain yang keberatan terhadap hibah tersebut karena melebihi batas maksimal 1/3.

d. Pembatalan hibah wasiat yang dianggap tidak sah dan sebagainya.

144Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

Kemudian juga dalam melakukan hibah itu harus diperhatikan sebagaimana yang dianjurkan dalam Shahih al-Bukhariy Kitab Al-Hibah:, yang artinya: Bersabda Rasulullah SAW, yaitu “Persamakanlah (berbuatlah adil terhadap) di antara anak-anakmu dalam pemberian”.145

Perkara hibah yang diterima maupun yang telah diputus pada Pengadilan Agama Padang Sidempuan tersebut adalah pembatalan hibah atas harta peninggalan yang dihibahkan suami atau isteri (orang tua) yang hidup terlama kepada anak-anaknya, yang dilakukan tanpa persetujuan dari ahli waris lain ataupun hibah atas harta peninggalan tersebut melanggar dari ketentuan yang ditentukan dalam Kompilasi Hukum Islam bahwa harta yang dihibahkan adalah termasuk harta bersama.

Pada umumnya, dari kasus-kasus perkara hibah atau pembatalan hibah atas harta bersama yang dihibahkan itu bentuk gugatan pembatalan hibah oleh anak terhadap orang tua yang telah menghibahkan harta bersama kepada salah seorang anak tanpa persetujuan anak-anak yang lain (ahli waris lain), ataupun gugatan pembatalan hibah oleh anak terhadap orang tua (ibu atau ayah) yang telah menghibahkan harta bersama kepada pihak ketiga. Kemudian, pembatalan hibah orang tua atas harta bersama itu dapat terjadi karena pihak suami menghibahkan harta bersama tanpa persetujuan dari pihak isteri. Pembatalan-pembatalan seperti ini tentu

145

dapat dibatalkan karena menurut ketentuan Pasal 210 ayat (2) secara tegas dinyatakan bahwa harta benda yang dihibahkan harus merupakan hak dari penghibah.146

Pembatalan hibah yang telah diberikan dapat dibatalkan sepanjang si pengibah tidak memenuhi syarat-syarat sebagai pengibah, seperti objek yang dihibahkan bukan milik pribadi si pengibah, si pemberi hibah dibatasi tindakannya karena suatu alasan, belum dewasa, dan ada paksaan. Hal senada juga terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam bahwa harta peninggalan (yang sah/merupakan hak milik, bernilai, bermanfaat dan halal) dapat dihibahkan, sepanjang harta yang diberikan si pengibah adalah kepunyaan si pengibah.147

Penarikan/pembatalan kembali hibah yang telah diberikan adalah sah-sah saja kalau ternyata harta tersebut masih ada di tangan/dalam kekuasaan anaknya, tetapi apabila sudah beralih kepada pihak ketiga atau musnah (sudah dijual / dihibahkan / rusak / hilang batas-batasnya misalnya karena terjadi gempa), maka apabila orang tua tetap juga menuntut pengembaliannya, akan timbul derden verzet (perlawanan pihak ketiga), dan apabila ada permohonan sita, maka niet bevinding atau tidak diketemukan benda objek perkara di lapangan.148

146Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

147

Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

148Wawancara dengan Abdul Halim Ibrahim, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 21 Januari 2013 di Medan.

Dokumen terkait