• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIDUP TAK MENIKAH

Dalam dokumen Ringkasan UTS Teologi Moral Keluarga 201 (Halaman 38-44)

BAB VI KITAB SUC

HIDUP TAK MENIKAH

Bukan terpaksa, bukan sementara (1 Kor 7: 5-7), Kebimbangan (1 Kor 7: 25-40), Duda janda (1 Kor 7: 38), Mrk yg cerai (1 Kor 7: 11. 15), Asalkan tak menikah.

Pilihan sukarela. Peran dasar atau alasan yg terdorong oleh nilai ttt yg jg subjektif menyentuhnya & mjd sumber cahaya & kekuatan utk bertekun.

Lihatlah jg ”argumentasi”. Dewasa ini sering diajukan sejumlah motivasi sbg argumentasi, & tak semuanya ada dlm KS, atau sekurang-kurangnya penafsirannya tak sama. Hal ini tak mengherankan krn ada faktor perkembangan, baik dlm eksegese maupun dlm teologi & jg upaya menyajikan pertimbangan yg meyakinkan.

Kewajiban berkeluarga membuat hidup tak menikah dicurigai sbg egoisme atau ketidakmampuan prokreasi. Keraguan implementasi janji atau kaul tak menikah, diperkuat aneka pelanggaran & pengunduran diri.

Sebaiknya dibedakan dua hal: bntk hidup tak menikah krn kasih setia pd Tuhan, & bntk hidup tak menikah demi pelayanan tanpa pamrih. Argumen yg diajukan pihak katolik utk mendukung bntk hidup tak menikah banyak sekali.

Demi relasi pribadi dg Tuhan & Grj bertekanan pd hubungan pribadi dg Tuhan yg memang dpt mjd sumber melimpah yg mendesak utk pelayanan kasih kpd umat. Demi pelayanan penuh dedikasi tanpa pamrih bertekanan pd kesediaan utk melayani tanpa pamrih, yg bersumber pd hubungan pribadi dg Tuhan itu.

Kesamaan kawin & tdk kawin

Jk mengajukan suatu makna yg bersumber pd iman, sebaiknya diingat bhw unsur iman itu berlaku bgi semua pengikut Kristus, mis. dimensi eskatologis & kesetiaan tak hny berlaku bgi mrk yg tak menikah, tpi jg bgi suami istri dlm perkawinan.

a. Dlm iman kristiani hrs dihargai posisi mendasar yg berlaku bgi keduanya. Meskipun bisa hidup tak menikah lebih mengungkapkan dimensi eskatologis iman.

b. Argumentasi eskatologis iman kristiani berlaku bgi keduanya & dpt diungkapkan dlm bntk hidup menikah yg menuntut kasih setia atau tdk menikah, tpi hubungan pribadi dg Tuhan yg menuntut kasih setia.

c. Dpt dipikirkan lanjut bgmn ungkapannya tanpa mempertentangkan keduanya yg lebih mrpk pembagian tugas, mis. 1) Tak menikah krn Tuhan dikasihi scr istimewa. 2) Menikah krn perkawinan termasuk tata penciptaan & penebusan.

Selibat

Kaul kemurnian  mengacu kpd nasihat Injili & bebas. Hukum selibat  baru timbul kemudian & diwajibkan.

Nilai kesaksian selibat justru makin meyakinkan jika sukarela & tak diwajibkan oleh hukum.

SEXUALITAS & AKTUALISASI SEXUAL

Sebaiknya lebih disadari bhw:

1) Moral sexual berkaitan erat dg moral perkawinan & keluarga, shg

2) Moral perkawinan & keluarga tersangkut dg sexualitas. 3) Bg Grj, aktualisasi sexual sah hny antara suami istri dlm

perkawinan.

4) Sanggama pasutri hrs dilaksanakan scr natural, artinya terbuka bgi prokreasi (bdk. KB & posisi ensiklik Humanae Vitae) & demikian pula prokreasi hrs diusahakan dg sanggama pasutri (bdk. Donum Vitae)

5) Ada banyak bntk aktualisasi sexual, baik yg dibenarkan, maupun yg tak dibenarkan, maka tak boleh semua disamaratakan, hrs ada norma yg jelas, mana yg dibenarkan, mana yg tak dibenarkan & mengapa.

6) Bila persyaratan utk aktualisasi sexual yg dibenarkan dua, yakni antara pasutri dlm perkawinan, & scr natural, maka semua bntk lain aktualisasi sexual tdk dibenarkan. Hal ini berarti bhw:

a. Yg berhak beraktualisasi sexual, hrs melakukannya scr natural

b. Sejumlah kalangan (mrk yg bkn atau belum suami-istri) tak dibenarkan melakukan aktualisasi sexual.

7) Pendapat (jg banyak org katolik sendiri) yg tak serasi dg ajaran resmi

Grj Katolik jalan terus & tak berorientasi pd Grj sbg instansi moral.

Suatu kesulitan:

a. Dlm hal moral (yg bkn misteri) diperlukan argumentasi. b. Argumentasi berdasarkan KS tak semudah diperkirakan

banyak org, jg krn istilah spt ”porneia” (percabulan) atau ”akatharsia” (kekotoran) lingkup artinya tak selalu jelas, & diterjemahkan macam2.

c. Argumentasi berdasarkan tradisi jg hrs dipertanyakan krn penilaian moral tak boleh mendahului fakta yg ternyata terus berkembang, mis. teori tentang biologi reproduksi sdh ada sebelum ada mikroskop yg membantu kejelasan biologi reproduksi.

d. Argumen yg mengacu pd ”infallibilitas” Pimpinan Grj jg memberi kesulitan, posisi mana yg menikmati infallibilitas? Selain itu bukankah lebih baik pengertian ”indefectibilitas”?

e. Argumen yg mengacu hukum kodrati (penalaran akal sehat) dpt dipertanyakan: Bukankah org di luar Grj jg mempunyai akal sehat?

KEMURNIAN

Citra (image) tak selalu sesuai kenyataan, tpi pengaruhnya besar. Citra Grj Katolik sering dikaitkan dg moral sex (imam, biarawan yg berwadat, be-ratnya moral perkawinan katolik, KB, larangan cerai), seolah2 itu satu2nya kriteria penilaian

katolisitas, bdk. tulisan wartawan yg mempengaruhi citra dlm masyarakat, meski kadar kebenarannya dipertanyakan.

Sanggama hny dibenarkan dlm perkawinan scr natural, maka dibedakan antara kemurnian suami istri (castitas coniugalis) & pantang aktualisasi kemampuan sexual sama sekali (castitas perfecta) yg banyak dipakai dlm dokumen Grj, mis. ensiklik ”Sacra virginitas” 25-3-1954. Kategorisasi ”Perfecta” utk pantang total & ”imperfecta” utk pasutri dlm perkawinan dapat menimbulkan kesan gradasi & diskriminasi. Memang dg “perfecta” & ”imperfecta” dpt dimaksudkan harfah “tuntas diselesaikan” & ”tak diselesaikan”, tpi dpt menimbulkan salah paham. Apakah tdk lebih baik langsung dipakai istilah “kemurnian suami-istri” spt dlm ”Vademecum Bapa Pengakuan” 12-2-1997.

KGK 2337: Kemurnian berarti integrasi yg berhasil sexualitas dlm diri seorg & dg demikian kesatuan intern mns sbg makhluk jasmani & rohani.

Moral & kultis. Dua aspek ini harus dibedakan, agar jangan dr kemurnian kultis (yg memenuhi kualifkasi moral) ditarik kesimpulan utk kemurnian moral (yg hrs memenuhi kualifkasi moral: tahu, mau & mampu).

PORNEIA & AKATHARSIA (& BERBAGAI DERIVATNYA)

Dlm PB, Porneia sering diterjemahkan dg percabulan & akatharsia diterjemahkan dg “kekotoran”. Kesulitan menerjemahkannya bkn melulu soal bahasa, tpi jg

menyangkut pengertian. Perlu hati2, apa yg dimaksud, agar

kesimpulan tidak kurang tepat. Dlm PL dipakai kata Ibrani z’nut, z’nunim, taznut, zonah. Ini tak mengacu pd zina biasa, atau hub. luar nikah, tpi pelacuran istri. Scr teologis: ketidaksetiaan Israel thd Yahweh.

Porne dlm LXX bkn zina biasa, tpi mengacu pelacuran bdk. Kej 38: 24 ttg Tamar. Pembahasan global sj (pengikut Kristus menjauhi segala hal yg cabul atau kotor) tak cukup, sebab dlm moral hrs jelas didasarkan argumen atas ajaran ttt yg disimpulkan dr teks KS. Hrs jelas mis. apa yg dipersoalkan, mis. perzinaan atau pelacuran. Ini sering tampak dlm pernyataan para ahli KS, dlm berbagai terjemahan KS & dlm banyak dokumen Grj sendiri, maka diperlukan kearifan & kehati2an dlm menarik kesimpulan, terutama dlm menyusun

norma-norma & larangan tindakan ttt yg berkaitan dg soal kemurnian berdasarkan KS.

Demikianlah bbrp gagasan sumbangan PB utk moral sexual, perkawinan & keluarga. Sebaiknya diperhatikan bbrp hal: 1) PB hendaknya dilihat dlm kesatuannya dg PL yg

diandaikannya.

2) Bahan ini tdk lengkap & masih “mentah”, & digumuli dlm tradisi Grj dua puluh abad, khususnya dlm pertemuan dg berbagai aliran & kebudayaan lain. Tampaknya nada positif KS mjd kurang positif, bahkan dlm arti ttt timbul kesan sikap negatif thd sexualitas, shg tradisi Grj Katolik dlm hal ini oleh banyak kalangan dirasa tak hny kurang meyakinkan, tpi jg kadaluwarsa, meskipun jg ada unsur2

yg perlu dipertahankan dlm arus perubahan.

3) Pergumulan berlangsung terus, tak hny krn perkembangan berbagai ilmu & penelitian (mis. biologis, psikologis, sosiologis & flosofs teologis), melainkan jg krn perkembangan kesadaran mns.

BAB VII

TRADISI (& MAGISTERIUM)

Dasar atau alasan pembahasan Tradisi antara lain krn:

1. Bobot peran Tradisi  magisterium Grj Katolik, dampingan Tuhan agar Grj tidak sesat scr substansial. Perhatikan jg gradasi ungkapan publik Grj serta hierarki

kebenaran, & adanya perkembangan & teologi, ilmu gerejawi. Kita hrs rendah hati bertanya: Dulu bgmn? Apa yg dulu sdh ditentukan & hrs dipertahankan? Apa yg hrs disesuaikan dg perkembangan & diperbaharui?

2. Kesulitan pewartaan & penghayatan moral katolik ttg sexualitas, perkawinan & keluarga  posisi magisterium mempertahankan posisi tradisional (yg mengandaikan faktor nonteologis) yg dinilai mencerminkan kehendak Tuhan & dinilai tak dpt dicabut. Khusus utk tema teologi moral sexualitas, perkawinan & keluarga, salah satu kesulitan terbesar berkaitan dg tradisi itu, terutama sehubungan dg perkembangan IPS pd umumnya & biologi, psikologi serta sosiologi.

3. Dr sejarah tradisi pelajaran ttg inkulturasi Grj.

4. Pembagian tonggak2 & tahap2 sjrh Grj & sjrh teologi

tak dpt ditarik dg tajam, tak hny krn perkembangan ide sering lebih mengalir dp perubahan mendadak, tpi jg krn perbedaan sistem dlm ilmu2 yg lebih langsung berkaitan

dengannya, mis. sejarah Grj, sejarah ilmu2 sosiokultural,

flsafat & teologi. Keluarga & perkawinan dipengaruhi perkembangan sosial, maka faktor perkembangan jg perlu dicermati.

5. Grj berada di tengah masyarakat. Periodisasi sejarah Grj seiring periodisasi sejarah profan. Belum ada kesepakatan ttg periodisasi itu.

PSL 35 – BBRP CATATAN TTG TRADISI & MAGISTERIUM

Tradisi sbg jalan

Sesuatu sampai pd generasi skrg lewat tradisi yg berfungsi sbg jembatan.

Tradisi sbg penerusan nilai-nilai

Sesuatu itu sering kali berupa nilai budaya atau adat istiadat yg diteruskan atau diwariskan lewat pendidikan dlm kelompok ttt & mjd orientasi, sekurang-kurangnya pd kesempatan ttt.

1) Jalan keluar  Konstitusi dogmatis “Dei Verbum” dipahami sbg upaya mengurangi salam paham itu yg dewasa ini dpt dikatakan sdh mereda.

2) Titik temu  Rumus konvergen mrpk titik temu yg dihasilkan dialog dlm kalangan yg berkehendak baik & bersama2 mencari kebenaran.

Sistematisasi & perkembangan dlm teologi

a. Wahyu & teologi. Teologi mrpk usaha mengembangkan lebih lanjut apa yg tercantum dlm tradisi jg dg bantuan aneka ilmu lain & dipengaruhi aneka aliran.

b. Apa jadinya skrg adl hasil perkembangan yg dpt membantu lebih memahami jadinya skrg.

c. Interaksi magisterium & teologi.

Teologi diminta memberi argumentasi yg meyakinkan utk posisi magisterium. Hal ini sering tak mudah. Sumbangan terbaik teologi adl sikap kritis kreatif & bukannya servilitas, agar maju. Teologi diminta mendalami posisi magisterium. Teologi diminta berorientasi pd magisterium. Teologi diukur menurut posisi magisterium. Teologi jg mendampingi magisterium dg kritis.

Pengaruh teologi atas magisterium

Perdebatan dlm Teologi ditanggapi magisteriu. Sbg ilmu yg scr terbuka bergumul mencari kebenaran tdpt banyak perdebatan yg jg mjd perhatian Grj yg tak jarang jg memperdengarkan suaranya. Bbrp istilah yg semula beredar di kalangan teologi tak jarang juga diambil alih dlm dokumen magisterium, mis. optio fundamentalis, dosa sosial, teologi pemerdekaan.

Ungkapan publik magisterium dipersiapkan teologi

Hubungan antara teologi & magisterium jg tjd bila ungkapan publik magisterium dipersiapkan jg dg bantuan teologi.

MAGISTERIUM

Dalam dokumen Ringkasan UTS Teologi Moral Keluarga 201 (Halaman 38-44)

Dokumen terkait