• Tidak ada hasil yang ditemukan

OBJEKTIF-SUBJEKTIF A OBJEKTIF

Dalam dokumen Ringkasan UTS Teologi Moral Keluarga 201 (Halaman 69-73)

BAB VIII AKAL BUD

PSL 49 – BBRP CATATAN TTG PENILAIAN

II. OBJEKTIF-SUBJEKTIF A OBJEKTIF

1. Penilaian objektif

Tentu sj diharapkan adanya penilaian objektif, artinya, tdk sesukanya menurut kepentingan sesaat, tpi menurut kebenaran. Tpi, jg ttg objektivitas kebenaran ada banyak pendapat.

2. Kebenaran objektif tak dpt dipaksakan

Keluarga, perkawinan & sexualitas bukanlah kebenaran ilmu pasti & alam, tpi sebagian besar termasuk IPS, shg tdk mengherankan bhw ada banyak interpretasi & penghayatan tanpa ada yg dpt dipaksakan.

B. SUBJEKTIF

1. Penilaian subjektif

Mns memang hrs tunduk kpd kebenaran objektif, tpi jg penangkapan kebenaran objektif ini melalui persepsi subjek yg tak jarang jg subyektif.

2. Dialog & persuasi

Spt dpt disimpulkan dr sikap KV II yg menyepakati dokumen “Dignitatis humanae”, dlm hal kebenaran religius (& moral) tetap dipertahankan hormat thd martabat mns yg dikedepankan jg dlm soal kebenaran objektif. Yg penting adl sikap hormat thd pribadi mns yg bermartabat, apapun pendapatnya. Jadi, soal kebenaran objektif tdk disisihkan, tpi dlm perilaku konkret org lebih berorientasi pd martabat pribadi mns dp pd soal, apakah ia benar atau salah.

III. PRINSIP & NORMA

A. ADANYA PRINSIP & NORMA 1. Dlm semua budaya

a. Adanya prinsip & norma

Tanpa mengajukan bukti satu demi satu para pakar budaya mengakui adanya prinsip & norma yg mengatur hal-hal mendasar hidup bersama spt keluarga, perkawinan & sexualitas. Dlm berbagai keadaan adanya prinsip & norma tdk disangkal, meskipun hrs diakui adanya kebhinnekaan prinsip & norma itu.

b. Adanya kebhinnekaan

Tpi para pakar budaya jg menyimpulkan kebhinnekaan penilaian keluarga, perkawinan & sexualitas.

Kiranya tdk tepat menarik kesimpulan bhw ketidaksesuaian penilaian berarti tdk ada nilai sama sekali, seolah-olah org hny hidup sembarangan. Dg kata lain: bukannya tdk ada aturan, tpi aturannya berbeda. Siapa yg berwenang menentukan, mana yg benar, mana yg salah. Dlm agama tertentu seringkali memang ada otoritas yg menentukannya, tpi belum pasti ditaati oleh penganutnya sendiri.

2. Sepanjang masa

a. Perubahan krn perkembangan

Jg hrs diakui bhw memang ada perubahan dlm penilaian. Perubahan ini mempunyai banyak penyebab, antara lain: perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi (yg memperlancar penerapan ilmu pengetahuan itu), perubahan mentalitas & gaya hidup, perubahan zaman & keadaan, perubahan konteks & lingkungan, interaksi yg tjd antara berbagai kalangan, & bahkan manipulasi.

b. Prinsip & norma dr tradisi

1) Tradisi bisa meliputi baik flsafat & teologi, maupun magisterium yg pernyataannya memerlukan interpretasi tersendiri dg mengindahkan konteks & gradasinya.

2) Yg sulit adl menafsirkan tradisi itu, sejauh mana daya ikatnya yg masih berlaku mengingat perubahan zaman & situasi sesudah sekian banyak waktu lewat, bila tradisi jg mrpk kontekstualisasi & seringkali dipengaruhi oleh banyak faktor lain.

c. Sbg sumber utk argumentasi moral sering dsbt: Kitab Suci, Tradisi, Penalaran akal budi. Skematis sbb. : /Sabda Tuhan

1) Argumentum ex Sacra Scriptura< \Budaya tempat & zaman ttt

/Magisterium (yg. masih hrs dirinci lebih 2) Argumentum ex Traditione< lanjut) \Auctores probati (= penulis andalan) /Akal sehat, hukum kodrati

3) Argumentum ex ratione<

\Ilmu pengetahuan serta pengalaman yg jg mjd bahan refeksi.

Sebaiknya diperhatikan betapa besar pengaruh dampak buruk sbg argumentasi, apalagi jk akibat buruk itu kasat mata & jangka pendek, kebanyakan dpt dikategorikan sbg penalaran akal sehat. Banyak orang yakin akan argumentasi yg mengajukan dampak buruk ini. Jg dlm tradisi etika flosofs & teologi moral katolik berlaku gagasan spt itu.

d. Kesulitan argumentasi: 1) Argumen dr Kitab Suci

Sulit membedakan apa yg termasuk Sabda Tuhan & apa yg lebih berkaitan dg budaya lokal zaman ttt. Seringkali dlm eksegese sendiri tiada kesepakatan

2) Argumen dr tradisi

Banyak posisi sdh ditetapkan sebelum data ilmiah (sexuologi, psikiatri dsb. ) & pengaruh dualisme pesimistis yg ikut mewarnai tradisi. Kurang dibedakan infallibilitas posisi yg dirumuskan (jadi tak terlalu terpaku pd rumusan) & indefectibilitas Grj (lebih mengandalkan fungsi Grj yg tak dpt hancur krn didampingi Roh Kudus & setia pd evangelisasi.

3) Argumen akal-sehat

Sebagian argumentasi Grj & teologi moral jelek atau tak meyakinkan banyak org, jg kaum beriman sendiri yg berkehendak baik.

Proses sekularisasi makin meninggalkan Grj sbg instansi moral. Jurang antara teori & praktek (yg sdh ada dulu & akan selalu ada) memang bkn argumen yg mesti berlaku, tpi patut diperhatikan & membuat kita berpikir, meskipun jg ada pihak yg bertahan pd posisi yg sdh ada (tradisional).

c. Peran para pakar

Jg para pakar berpengaruh, mis. “homosexualitas” yg dikeluarkan dr daftar gangguan jiwa, & dinilai lebih sbg variasi dg segala akibatnya. Demikian pula bntk hidup bersama tanpa nikah, atau apa yg dsbt “perkawinan” homosexual yg di bbrp kawasan diterima masyarakat, mungkin jg krn sebagian bersikap individualistis & permisif.

B. PERKEMBANGAN DI MASA MENDATANG 1. Tak dpt diramalkan

Kita tdk tahu dg tepat ke mana arah & bgmn perkembangan di masa mendatang, krn ada banyak kemungkinan, tpi sikap teguh & tetap terbuka bgi perkembangan di masa depan kiranya perlu dikembangkan.

2. Tpi dpt diprakirakan a. Belajar dr masa lampau

Jk kita mengamati sejarah perkembangan, maka hrs diakui bhw telah tjd perkembangan besar, tak hny dlm kenyataan di lapangan, tpi jg kesadaran mns, shg perkembangan di masa mendatang dpt diprakirakan menurut kecenderungan yg menetap atau makin menguat sekurang-kurangnya bbrp aspeknya.

b. Siap mental

Mengetahui prakiraan itu dpt membuat kita lebih siap mental, & sejauh perlu jg mempersiapkan banyak hal agar hidup perkawinan & keluarga dihayati scr katolik & kontekstual

PSL 50 – PRINSIP & NORMA DI BIDANG KELUARGA

Diperlukan sikap hati-hati agar jangan sampai pola ttt (mis. kawasan budaya & peradaban barat) dianggap sbg normatif utk keluarga katolik Indonesia, meskipun kita tentu tetap memperhatikan ajaran Grj Universal.

Dalam dokumen Ringkasan UTS Teologi Moral Keluarga 201 (Halaman 69-73)

Dokumen terkait