• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”

BAB II HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA

2.4 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”

2.4.1 Alur

Cerita dibuka dengan ditemukannya mayat Maruti oleh warga Desa Sela Cengkar di pagi hari. Mayat gadis itu tergantung di dahan pohon dengan leher yang terikat tali tambang. Keluarga Maruti menangis. Warga pun menurunkan mayat Maruti. Warga tidak heran karena sudah berkali-kali Maruti inging gantung diri.

Mayat Maruti pun dibawa pulang untuk disucikan.

Cerita lalu mundur ke masa kecil Maruti. Maruti hanya seorang gadis desa biasa. Sepulang sekolah ia selalu bejalan berkilo-kilo meter untuk mencari air karena desanya mengalami kekeringan. Selebihnya dia menunggu pengumuman dari kelurahan mengenai datangnya truk tangki air dari kota. Ketika ada pengumuman, Maruti dan gadis-gadis lain berlari ke kelurahan dan mengantri pembagian air. Maruti baru akan kembali ke rumah ketika sore tiba, dan dia melakukan hal tersebut setiap hari selama musim kemarau datang hingga dia tumbuh menjadi perawan.

Meskipun sering berpanas-panasan, kulit Maruti tidak terlalu gelap. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Setelah lulus SMA, Maruti bekerja sebagai pelayan toko besi dekat pasar. Meskipun gajinya pas-pasan, Maruti masih memberikan sedikit uangnya pada ibunya yang bekerja sebagai penari tayub pimpinan Widarso, seorang tokoh adat di Desa Sela Cengkar.

Ibu Maruti mendadak menyuruh Maruti untuk menari tayub minggu depan.

Maruti disuruh menggantikan Darsi yang sedang mengurus perceraiannya. Ibu Maruti langsung mengeluarkan pakaian tari, kain, kebaya, dan selendang. Maruti hanya terdiam dan tidak membantah ibunya.

Pentas ledek tayub disambut hangat. Tarian itu disukai oleh para penonton, petinggi desa dan kecamatan. Akan tetapi hal yang paling menjadi perhatian utama adalah kecantikan Maruti. Tarian Maruti membuat para tamu terhormat turun dan ikut ngibing (menari) silih berganti bersama Maruti. Dargo sejak awal tarian selalu mengamati Maruti. Tangan kanannya memutar-mutar tasbih dengan mulut komat-kamit. Namun matanya tak pernah lepas dari tubuh Maruti yang bergoyang.

Pak Kepala Desa mengajak Dargo untuk ikut menari, tetapi Dargo menolak karena orang seperti dirinya tabu untuk ikut menari. Dargo takut orang-orang marah karena dia sudah dicap sebagai pendoa dan jadi panutan. Dargo pun akhirnya meminta Pak Kades untuk mengenalkan dirinya dengan Maruti.

Setelah pentas tayub selesai, seluruh rombongan penari dan pemusik makan di ruang depan kelurahan, kecuali Maruti yang makan di dalam kamar bersama Dargo dan Pak Kades. Dargo tampak bergairah berbicara dengan Maruti yang lelah.

Beberapa ucapan nakal terlontar dari mulut Dargo, tetapi maruti hanya membalasnya dengan senyuman.

Alur cerita pun maju kembali. Kematian Maruti menambah deretan kasus gantung diri di desa Sela Cengkar. Orang-orang menghubungkan kasus itu dengan mitos pulung gantung. Pulung gantung akan muncul di saat tertentu dan jatuh di pemukiman warga. Rumah yang kejatuhan pulung gantung akan memilih mati

dengan cara gantung diri. Untuk menghindari musibah itu, setiap pulung gantung muncul di langit, warga akan memukul kentungan. Namun tetap saja ada orang bunuh diri. Biasanya orang yang gantung diri punya masalah di hidupnya.

Di acara selamatan 40 hari kematian Maruti, nenek Maruti berkata bahwa sudah lama Maruti inging gantung diri. Tiba-tiba tubuh nenek Maruti menegang.

Dia berteriak-teriak sambil mengayunkan kerisnya lalu tumbang. Warga pun menghampiri untuk menolong.

Beberapa hari setelah kematian Maruti, nenek Maruti bercerita bahwa tiap malam Maruti didatangi raksasa berwajah api. Raksasa itu menyerang dan meringkus tubuh Maruti. Nenek Maruti langsung mengibaskan kerisnya hingga jeritan Maruti hilang.

Cerita kembali ke latar waktu sebelum kematian Maruti. Saat Maruti tertidur sendirian di kamar, mendadak tubuhnya disekap sosok hitam dengan wajah dibebat kain. Maruti mencoba melawan, tetapi sosok itu lebih kuat. Sosok itu pun melucuti pakaian Maruti dan memperkosanya. Setelah sosok itu puas, Maruti membuka paksa kain yang membebat wajah sosok itu. Setelah terbuka, Maruti lantas mengumpat dan menyebut nama Dargo.

Maruti tak berani lapor polisi karena Dargo merupakan orang kuat di desa itu dengan pengikut yang banyak dan sangar. Dia hanya berani bercerita kepada bapak, ibu, dan neneknya. Beberapa bulan kemudian, dokter puskesmas menyatakan bahwa Maruti hamil. Maruti pun nekat menemui Dargo yang hanya menyeringai. Maruti pun marah dan meludahi wajah Dargo.

Pada suatu malam, empat sosok lelaki mengendap-endap. Mereka membuka paksa pintu rumah Maruti. Mereka melihat Maruti tertidur dan langsung mumukul tengkuk Maruti dengan lonjoran besi. Maruti pun tewas seketika. Lalu mereka pun membawa tubuh Maruti ke hutan. Paginya orang-orang menemukan tubuh Maruti tergantung di dahan pohon randu alas yang terkenal angker. Orang-orang pun menghubungkan peristiwa itu dengan pulung gantung yang melesat di rumah Maruti.

2.4.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik

Sebelum menemukan hierarki metafisik dalam teks, oposisi biner yang terdapat dalam teks perlu untuk ditemukan. Oposisi biner di dalam teks akan menunjukkan penggambaran antar kubu yang berlawanan. Kata-kata di dalam teks saling berlawanan, saling menguatkan dan melemahkan. Di bawah ini adalah tabel yang menunjukkan oposisi biner yang terdapat didalam cerpen Di Atas Tanah Retak.

Tabel 3

Oposisi Biner Dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”

Kubu Maruti Kubu Dargo

Gadis Laki-laki

Berisi Gemuk

Lemah Kuat

Kijang Serigala

Penari Pendoa

Lugu Nakal

Diam Tertawa

Kata yang berada di dalam kiri tabel menunjukkan kata yang mengggambarankan tokoh Maruti dan sebelah kanan adalah kata yang menggambarkan tokoh Dargo. Terjadi pertentangan makna antara kata yang berada

di dalam kiri dan kanan tabel. Kata yang berada di dalam kiri tabel seolah memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan kata yang ada di kanan tabel. Kata gadis yang di dalam teks dimaknai dengan gender yang lebih lembut dan indah dibandingkan laki-laki. Padahal kata kata gadis juga bisa dimaknai sebagai kelemahan dan ketidakberdayaan.

Kata berisi dianggap lebih baik karena menggambarkan keindahan yang tidak berlebihan dan tidak kurang, sedangkan gemuk adalah kondisi badan yang berlebihan. Padahal kata berisi bisa dimaknai sebagai kondisi yang biasa saja dan tidak unik. Kata lembut juga dilihat seakan lebih baik dibandingkan kata kuat. Kata lembut digambarkan sebagai sifat yang lembut sedangkan kata kuat digambarkan cenderung seenaknya. Padahal lemah juga bisa dilihat sebagai kemalasan untuk berusaha berkembang sedangkan kuat sebagai hasil dari usaha keras.

Kata kijang terlihat lebih baik dibandingkan kata serigala. Kata kijang digambarkan memiliki sifat yang menawan sedangkan serigala bersifat bengis.

Padahal kata kijang juga bisa menjadi simbol keangkuhan dan kata serigala sebagai kekompakkan. Kata selanjutnya adalah pemaknaan dari kata penari dengan pendoa.

Pemaknaan kata penari lebih bebas. Penari digambarkan sebagai orang-orang yang bebas mengeskpresikan diri mereka lewat tarian di depan banyak orang, tidak seperti pemaknaan kata pendoa yang terbatas untuk melakukan sesuatu. Padahal kata penari juga bisa dilihat sebagai pekerjaan rendahan dibanding kata pendoa yang lebih tinggi derajatnya dan terhormat.

Kata lugu juga digambarkan lebih baik di dalam teks dibandingkan kata nakal. Teks menggambarkan kata lugu sebagai kemurnian sedangkan nakal adalah

perbuatan yang kurang baik. Padahal lugu juga bisa dilihat sebagai hal yang monoton dan kata nakal dilihat sebaliknya. Kata diam terlihat lebih baik dibandingkan tertawa. Kata diam terlihat sebagai tindakan yang santun sedangkan kata tertawa terlihat sebagai tindakan meremehkan. Padahal kata diam bisa dilihat sebagai ketidakberanian dan ketidakpedulian sedangkan kata tertawa sebagai sebuah kebahagiaan.

Setelah menentukan oposisi biner di dalam teks, ternyata masih ada kata yang tidak bisa ditentukan keberpihakkannya. Kata tersebut ialah kata tubuh. Kata tubuh memiliki beberapa pemaknaan seperti yang ditunjukan dalam beberapa kutipan berikut.

“Pentas ledek tayup itu disambut hangat. Para penonton dan petinggi desa dan kecamatan sangat suka. Terutama melihat kecantikan Maruti.

Dengan rias tipis, tanpa bulu mata palsu, wajah gadis itu tampak ayu.

Tubuhnya bersih. Lumayan padat dan berisi...” (Tranggono, 2019)

“Dargo, laki-laki gemuk berpeci hitam, sejak awal pertunjukan selalu mengamati Maruti. Tangan kanannya tampak memutar-mutar tasbih.

Mulutnya komat-kamit. Namun, matanya tak pernah lepas membidik tubuh Maruti yang bergoyang. Beberapa kali Dargo menahan napas.” (Tranggono, 2019)

“Beberapa hari setelah kematian Maruti, nenek Maruti bercerita, cucunya itu setiap malam didatangi raksasa berwajah api. Raksasa itu menyerang dan meringkus tubuh Maruti.” (Tranggono, 2019)

”..Dalam sekejap ada tangan berkelebat, memukul tengkuk Maruti dengan lonjoran besi. Maut merenggut nyawa Maruti dengan sangat tenang.

Lalu, mereka langsung membawa tubuh Maruti keluar. Menembus malam.

Masuk hutan di pinggir desa.” (Tranggono, 2019)

“Paginya, orang-orang menemukan mayat Maruti tergantung di dahan pohon randu alas yang terkenal angker. Lidahnya menjulur.

Tubuhnya bergenteyongan...” (Tranggono, 2019)

Kutipan pertama dan kedua memperlihatkan pemaknaan bahwa tubuh yang indah adalah sesuatu yang dikagumi oleh banyak orang. Tubuh memiliki sebuah kenikmatan tersendiri saat dipandang. Tubuh adalah sesuatu yang mengundang

gairah. Kutipan ketiga memiliki pelebaran makna dari kedua kutipan sebelumnya.

tubuh tidak hanya dinikmati dengan dipandang, tetapi juga untuk dimiliki.

Berbeda dengan kutipan sebelumnya, kutipan keempat dan kelima mempunyai makna bahwa tubuh juga bisa menjadi sesuatu yang tidak diingkan.

Tubuh Maruti yang sudah tidak bernyawa sudah tidak lagi mengundang gairah, sehingga tubuhnya pun dibuang di tengah hutan dengan kondisi menggantung. Kata tubuh tidak bisa ditentukan keberpihakannya di dalam teks. Dari hasil penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa kata tubuh termasuk sebagai unsur undicidable dan tidak bisa menemukan maknanya sendiri.

Setelah menentukan oposisi biner dan unsur undecidable, bisa disimpulkan bahwa cerpen “Di Atas Tanah Retak” memiliki dua kubu yang memiliki kedudukan berbeda di dalam teks. Kubu pertama adalah kubu dari Maruti. Teks menggambarkan Maruti sebagai seorang gadis dari keluarga yang miskin. Meski begitu Maruti adalah orang yang pekerja keras dan patuh terhadap orangtuanya. Hal ini membuat Maruti mendapatkan simpati yang lebih dari pembaca. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan berikut.

“Maruti masih diam. Tak bereaksi ketika ibunya mengeluarkan pakaian tari, kain, dan kebaya. Juga selendang.

“Aku yakin kamu bisa. Minggu depan rombongan kita ditanggap di kelurahan. Katanya, untuk bersih desa dan upacara minta hujan. Kamu harus ikut nari.”

Maruti tak membantah.” (Tranggono, 2019)

“Beberapa ucapan nakal pun sempat terlontar, tapi Maruti menanggapinya dengan tersenyum. Dari ibunya, Maruti pernah mendengar, kebanyakan laki-laki itu berubah nakal bila ada kesempatan. Kamu mesti hati-hati, Maruti.” (Tranggono, 2019)

“Maruti tak berani lapor polisi karena Dargo orang kuat di desa itu.

Pengikutnya pun banyak dan sangar. Ia hanya berani mengungkapkan peristiwa naas itu kepada bapak, ibu, dan neneknya.” (Tranggono, 2019)

“Beberapa bulan kemudian, jantung Maruti terasa berhenti berdetak setelah mendengar ucapan dokter puskesmas bahwa dia hamil. Jiwa Maruti terasa dihantam martil besar dan berat. Ia pun nekat menemui Dargo.

Namun, Dargo hanya menyeringai. Pamer taring. Kemarahan Maruti tak terkendali.

Ia meludahi wajah Dargo.” (Tranggono, 2019)

Beberapa kutipan tersebut menunjukkan bagaimana teks membentuk tokoh Maruti dan perilaku tokoh-tokoh lain terhadap Maruti. Kutipan pertama memperlihatkan bagaimana Maruti adalah anak yang taat. Dia menuruti ibunya dan tidak membantah sama sekali. Kutipan kedua memperlihatkan Maruti yang tidak melawan kata-kata nakal yang dilontarkan oleh Dargo. Maruti hanya tersenyum dan tidak melawan ucapan yang melecehkan dia karena dia mengikuti ajaran ibunya, yaitu untuk berhati-hati terhadap lelaki. Hal tersebut memperlihatkan Maruti sebagai tokoh yang tertindas dan membuat pembaca menjadi kasihan dengan nasibnya.

Kutipan ketiga menceritakan tentang Maruti yang tidak berani melaporkan tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh Dargo karena kekuatan sosial yang dimiliki oleh Dargo. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan Maruti dan superioritas yang dimiliki oleh Dargo. Sedikit berbeda di kutipan terakhir, Maruti akhirnya berani mendatangi Dargo dan berani melawan dengan meludahinya. Akan tetapi, perlawanan yang dilakukan oleh Maruti berakhir dengan hilangnya nyawa Maruti. Hal ini menunjukkan kelemahan Maruti dan kekuasaan Dargo yang kembali unggul.

Kubu selanjutnya adalah kubu dari Dargo. Dargo merupakan kubu yang lebih berkuasa dibandingkan dengan kubu Maruti. Hal tersebut dikarenakan Dargo

memiliki kekuatan sosial dan gender yang berada di atas Maruti. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan-kutipan berikut.

“Dargo tertawa kecil. “Orang macam saya ini mana pantas nari tayup? Tidak ilok. Tabu.”” (Tranggono, 2019)

“Usai pentas tayup, seluruh rombongan penari dan pemusik makan di ruang depan kelurahan. Hanya Maruti yang diperbolehkan makan di dalam kamar bersama Dargo dan Pak Kades. Dargo punya kesempatan untuk mengamati kecantikan Maruti. Juga menikmati suara, tutur katanya yang halus. Beberapa kali Dargo menahan napas. Mereka pun ngobrol.

Dargo tampak bergairah bicara tanpa peduli pada Maruti yang lelah.”

(Tranggono, 2019)

Kutipan pertama menunjukkan keengganan Dargo untuk ikut ngibing karena Dargo menganggap hal itu tabu. Ungkapan tersebut dilontarkan Dargo untuk mempertegas statusnya sebagai seorang pendoa dan panutan di desa. Dargo takut mencoreng namanya di tempat umum. Berbeda dengan kutipan kedua. Dargo lebih berani melakukan apa yang dia mau karena berada di tempat yang lebih privat.

Dargo pun terlihat egois karena tidak memedulikan Maruti yang masih kelelahan.

Dari setiap penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa kubu Dargo memiliki hierarki yang lebih tinggi dari kubu Maruti. Hal tersebut diakibatkan status Dargo sebagai panutan desa dan kekuatan sosialnya yang tinggi. Berbeda dengan Maruti yang hanya gadis desa biasa. Dargo dengan semena-mena memanfaatkan kekuasaanya terhadap Maruti. Pembaca menjadi jengkel dan membenci Dargo. Hal ini makin menguatkan simpati pembaca terhadap maruti yang menderita di akhir hidupnya.

2.4.3 Ideologi Teks

Langkah selanjutnya setelah menentukan oposisi biner adalah mencari ideologi teks. Dalam dekonstruksi, ideologi akan dibalik untuk menemukan

makna-makna baru. Ideologi ditemukan dengan melihat momen puncak yang ada di dalam cerpen. Momen puncak yang ada di dalam cerpen Di Atas Tanah Retak adalah ketika Maruti terbunuh. Momen puncak tersebut berada pada kutipan berikut.

“Malam tanpa bulan. Tanpa bintang. Empat sosok lelaki mengendap-endap. Membuka paksa pintu rumah Maruti. Mereka melihat Maruti tergolek di atas ranjang kayu. Dalam sekejap ada tangan berkelebat, memukul tengkuk Maruti dengan lonjoran besi. Maut merenggut nyawa Maruti dengan sangat tenang. Lalu, mereka langsung membawa tubuh Maruti keluar. Menembus malam. Masuk hutan di pinggir desa.”

(Tranggono, 2019)

Kematian Maruti menunjukkan betapa malangnya nasib dia. Maruti meninggal dengan keadaan hamil. Kehamilan dia pun karena diperkosa Dargo.

Orang-orang mengira Maruti menggantung dirinya sendiri, padahal kenyataannya dia dibunuh. Maruti dibunuh tanpa melakukan kesalahan. Hidup Maruti yang sederhana, dan ketaatan dia pada ibu dan keluarganya berakhir tragis dengan kematian dirinya. Hal ini menegaskan bahwa ideologi yang ada di dalam cerpen ini adalah kemalangan Maruti dalam hidupnya.

Dokumen terkait