• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDEOLOGI TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO DI TAHUN 2019: DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDEOLOGI TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO DI TAHUN 2019: DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

IDEOLOGI TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO DI TAHUN 2019: DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Yohanes Juan Antony Sijabat 164114004

PRODI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA Januari 2021

(2)

i

IDEOLOGI TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO DI TAHUN 2019: DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Yohanes Juan Antony Sijabat 164114004

PRODI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA Januari 2021

(3)

vi

PERSEMBAHAN

Saya mempersembahkan ini untuk kedua orang tua saya, Yustina Prihantini dan Nestor Simon Sijabat

(4)

vii MOTO

He who fears death will never do anything worth of a man who is alive.

-Seneca-

That’s the other thing I learned that day, that the truth, however shocking or uncomfortable, in the end leads to liberation and dignity.

-Ricky Gervais-

That which does not kill us makes us stronger.

-Friedrich Nietzsche-

(5)

x ABSTRAK

Sijabat, Yohanes Juan Antony, 2020. “Ideologi Tiga Cerpen Indra Tranggono di Tahun 2019: Dekonstruksi Jacques Derrida”. Skripsi Strata Satu (S- 1). Program Studi Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini berisi dekonstruksi cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji ideologi tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019 dan mendeskripsikan proses decentering dan diseminasi dalam cerpen tersebut.

Paradigma penelitian ini menggunakan paradigma M. H. Abrams dengan pendekatan diskursif. Penelitian ini merupakan penelitian post-struktural yang menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks dengan teknik double reading. Penelitian ini menghasilkan dua hal utama. Pertama adalah ideologi teks yang disimpulkan dari hierarki metafisik dan oposisi biner yang ada dalam teks. Kedua, proses dekonstruksi yang berupa proses decentering dan diseminasi.

Proses pertama dekonstruksi menghasilkan ideologi yang terdapat di dalam teks. Ideologi teks dalam cerpen “Profesor Pogob” adalah (i) keberanian Profesor Pogob dalam membela koruptor. Ideologi teks dalam cerpen “Elegi Ampas Kopi”

adalah (ii) ketabahan Bangsa Kopi dalam menghadapi penderitaan. Ideologi teks dalam cerpen “Di Atas Tanah Retak” adalah (iii) kemalangan Maruti dalam hidupnya. Proses kedua dekonstruksi menghasilkan ideologi baru dan makna- makna baru yang terdapat di dalam teks. Cerpen “Profesor Pogob” memiliki ideologi baru yaitu keegoisan Profesor Pogob. Makna baru yang dihasilkan adalah (i) tidak tahu malu, (ii) Profesor Pogob bermulut besar, (iii) kepengecutan. Cerpen

“Elegi Ampas Kopi” memiliki ideologi baru yaitu keluhan Bangsa Kopi terhadap nasibnya. Makna baru yang dihasilkan adalah (i) sikap narsis menimbulkan kekecewaan, (ii) Penderitaan diperlukan untuk meraih potensi, (iii) Jeritan adalah tindakan yang sia-sia. Cerpen “Di Atas Tanah Retak” memiliki ideologi baru yaitu ketakutan Maruti terhadap Dargo. Makna baru yang dihasilkan adalah (i) Stigma dari masyarakat membatasi ekspresi diri, (ii) Tindakan nekat menyebabkan kemalangan, (iii) Kepasrahan hanya memperparah masalah. Dari hasil dekonstruksi tersebut, ideologi kerakyatan merupakan ideologi yang ingin dicapai di dalam tiga teks cerpen. Ketiga cerpen tersebut menggambarkan bagaimana penindasan dan pragmatisme bisa dilawan dengan ideologi kerakyatan yang mementingkan kepentingan bersama.

Kata kunci: dekonstruksi, hierarki metafisik, ideologi teks, decentering, diseminasi

(6)

xi ABSTRACK

Sijabat, Yohanes Juan Antony, 2020. “The Ideology of Indra Tranggono’s Three Short Stories in 2019: Jacques Derrida’s Deconstruction”.

Bachelor Degree. Indonesian Letters Study Program. Faculty of Letters. Sanata Dharma University.

This research discusses deconstructions on three short stories of Indra Tranggono in 2019. The purpose of this research is to explain the ideology of Indra Tranggono’s three short stories in 2019 and to describe the decentering process and dissemination from that three short stories.

This research uses M. H. Abrams paradigm with a discursive approach. This research is post-structural research using Jacques Derrida deconstruction theory.

This research uses text analysis method with the double reading technique. This research has two main results. First is text ideology is concluded from metaphysics hierarchy and the binary oppositions inside the text. Second, the deconstruction process that including decentering process and dissemination.

The first deconstruction process produces the ideology contained in the text.

Text ideology from “Profesor Pogob” short story are (i) Profesor Pogob’s bravery in defending corruptor. Text ideology from “Elegi Ampas Kopi” short story is (ii) Bangsa Kopi fortitude in facing the suffering. Text ideology from “Di Atas Tanah Retak” short story is (iii) Maruti’s misfortune in her life. The second process of deconstruction produces new ideologies and new meanings contained in the text.

“Profesor Pogob” short story has a new ideology. The ideology is Profesor Pogob’s selfishness. The new produced meanings are (i) no shame, (ii) Profesor Pogob’s big mouth, (iii) cowardice. “Elegi Ampas Kopi” has a new ideology. The ideology is Bangsa Kopi complaints about their fate. The new produced meanings are (i) narcissism causes disappointment, (ii) suffering is a necessary to reach potential, (iii) screaming is a futile act. “Di Atas Tanah Retak” has a new ideology. The ideology is Maruti’s fear of Dargo. The new produced meanings are (i) society's stigma is self-limiting, (ii) reckless action leads to misfortune, (iii) resignation only makes matters worse. From the results of the deconstruction, the populist ideology is the ideology to be achieved in the three short story texts. The three short stories illustrate how oppression and pragmatism can be countered by a popular ideology that emphasizes common interests.

Keywords: deconstruction, hierarchy metaphysics, text ideology, decentering, dissemination

(7)

xii DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN PENGESAHAN PENDAMPING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

MOTO... ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

ABSTRACK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Tinjauan Pustaka ... 7

1.6 Pendekatan Penelitian ... 9

1.7 Landasan Teori ... 10

1.8 Metode Penelitian ... 14

1.8.1 Metode Pengumpulan Data ... 14

1.8.2 Metode Analisis Data ... 15

1.8.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ... 15

1.8 Sistematika Penyajian ... 15

BAB II HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO TAHUN 2019 ... 17

2.1 Pengantar ... 17

(8)

xiii

2.2 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Profesor Pogob” ... 18

2.2.1 Alur ... 18

2.2.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik ... 19

2.2.3 Ideologi Teks ... 24

2.3 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi” ... 25

2.3.1 Alur ... 25

2.3.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable dan Hierarki Metafisik ... 26

2.3.3 Ideologi Teks ... 32

2.4 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak” ... 33

2.4.1 Alur ... 33

2.4.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik ... 36

2.4.3 Ideologi Teks Cerpen “Di Atas Tanah Retak” ... 41

2.5 Rangkuman ... 42

BAB III DECENTERING DAN DISEMINASI DALAM TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO TAHUN 2019 ... 44

3.1 Pengantar ... 44

3.2 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Professor Pogob” ... 44

3.2.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru ... 45

3.2.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru ... 46

3.3 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi” ... 49

3.3.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru ... 49

3.3.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru ... 51

3.4 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak” ... 54

3.4.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru ... 55

3.4.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru ... 57

3.5 Rangkuman ... 60

BAB IV PENUTUP ... 63

4.1 Kesimpulan ... 63

4.2 Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67

BIOGRAFI PENULIS ... 69

(9)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Oposisi Biner Cerpen “Profesor Pogob”...19

Tabel 2 Oposisi Biner Cerpen “Elegi Ampas Kopi”...27

Tabel 3 Oposisi Biner Cerpen “Di Atas Tanah Retak”...36

Tabel 4 Hierarki Metafisik dan Ideologi Teks...63

Tabel 5 Proses Decentering dan Diseminasi...64

(10)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Profesor Pogob”...45 Gambar 2 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”...50 Gambar 3 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”..55

(11)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Karya sastra merupakan sebuah seni bahasa sehingga karya sastra bisa dinikmati oleh para pembaca dan dengan pemahaman yang dalam akan karya tersebut karya sastra tidak hanya suatu hal untuk dinikmati, tetapi dimaknai.Sastra sebagai suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988: 8).

Karya sastra mengandung perasaan, semangat, keprihatinan, keyakinan dan banyak lagi karena sastra tidak terbatas.

Karya sastra memang adalah hal fiksi yang muncul dari imajinasi penulis, tetapi tidak hanya sekadar imajinasi dalam bentuk kata-kata yang indah, ada juga tuangan jiwa dan pengalaman yang bisa dipelajari oleh penikmat karya tersebut (Taum, 1997: 13). Cerita dalam karya sastra merupakan realitas alternatif yang tanpa belenggu. Hal itu bisa menjadi sebuah keresahan penulis terhadap realitas sebenarnya yang ada di dunia. Keresahan tersebut bisa meliputi banyak hal seperti keresahan sosial, lingkungan, keadilan sehingga karya sastra merupakan suara untuk mengajak para pembaca untuk turut peduli dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan tersebut.

Kritik sastra Indonesia merupakan sebuah disiplin yang belum berkembang secara maksimal. Hampir semua pakar sastra mengungkapkan kekecewaannya terhadap perkembangan teori kritik sastra di Indonesia. Kritik sastra di Indonesia cenderung mendewakan unsur-unsur intrinsik di dalam teks, dan terbatas pada

(12)

kajian teks dan konteks, tema, alur, dan latar, padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan paragdimanya sudah berkembang pesat (Taum, 2017). Hal tersebut menyebabkan kritik sastra tidak mendapatkan apresiasi yang layak.

Perkembangan paradigma kritik sastra sudah meliputi objek kajian pengarang, pembaca, dan teks. Bahkan saat ini kritik sastra sudah memasuki masa poststruktural dengan menggunakan pendekatan diskursif. Kritik sastra makin meluas dan tidak lagi terjebak pada pengarang, pembaca, dan teks, tetapi juga mengenai hal-hal aktual, aliran tertentu, dan paradigma yang baru.

Penelitian ini menggunakan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida.

Derrida lahir di kota El-Biar, Aljazair sebagai seorang Yahudi Sefradis. Dia besar di sana dan akhirnya pindah ke Prancis. Setelah menyelesaikan pendidikannya Derrida menjadi seorang filsuf. Teori Dekonstruksi dari Derrida memberikan kebebasan interpretasi dalam mempermainkan kata-kata dan selalu mempertanyakan kebenaran absolut (Al-Fayddl, 2011: 8). Awalnya teori ini digunakan dalam pembacaan filsafat, tetapi dalam perkembangannya digunakan juga untuk menganalisis berita, wacana, hingga teks-teks sastra.

Teori Dekonstruksi dari Jacques Derrida pada awalnya dianggap absurd.

Derrida berpendapat bahwa tidak ada apa-apa di luar teks. Dekonstruksi adalah sebuah cara untuk menggeser ideologi teks yang berperan sebagai acuan dan membuka peluang pada pemikiran-pemikiran yang dikesampingkan untuk berperan (Sudiarja: 2005). Dekonstruksi sendiri dilakukan karena setiap teks retak dan tidak imbang, sehingga selalu terjadi diseminasi/atau penyebaran makna. Dekonstruksi diawali dengan pembacaan kritis. Setelah membaca pertama dilakukan kembali

(13)

pembacaan dengan melihat keberpihakan yang kemudian hierarkinya dibongkar dengan melihat oposisi biner teks. Kemudian dilakukan pembalikan teks (decentering) dengan meletakkan oposisi biner ke tempat semula. Teks akan berhasil jika pemaknaan baru tampak asing dan jauh dari pemaknaan sebelumnya.

Pada tahun 2019, terdapat 4 cerpen karya Indra Tranggono yang dipublikasikan oleh koran di Indonesia. Penelitian ini menggunakan objek material berupa tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019, yaitu “Profesor Pogob”,

“Elegi Ampas Kopi”, dan “Di Atas Tanah Retak”. Penulis tidak memasukkan cerpen “Bilik Suara” yang juga dipublikasikan pada tahun 2019 karena cerpen tersebut memiliki tema yang sama dengan cerpen “Profesor Pogob”, yaitu tema politik. Cerpen “Bilik Suara” tidak penulis jadikan objek penelitian karena penggambaran akan politik di Indonesia sudah diwakilkan oleh cerpen “Profesor Pogob”

Ketiga objek material tersebut dimuat pada tiga koran yang berbeda.

Cerpen “Profesor Pogob” dimuat di koran Kedaulatan Rakyat pada tanggal 27 Oktober 2019, cerpen “Elegi Ampas Kopi” dimuat di koran Jawa Pos pada tanggal 27 Januari 2019, dan cerpen “Di Atas Tanah Retak” dimuat di koran Kompas pada tanggal 23 Juni 2019. Penulis memilih cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019 karena cerpen ini mewakili gambaran tiga hal di tahun 2019, yaitu politik, gaya hidup, dan budaya.

Cerpen harus berbentuk padat, di dalamnya pengarang menciptakan karakter-karakter, semesta mereka, dan tindakan-tindakannya sekaligus secara bersamaan (Stanton, 2012: 76). Cerpen memiliki semestanya dan kebenarannya

(14)

sendiri. Cerpen bisa menjadi sebuah media menyampaikan sebuah gagasan tertentu yang secara sadar maupun tidak akan mempengaruhi cara pandang pembaca terhadap suatu peristiwa. Keberpihakan teks akan menggiring opini tertentu kepada pembaca. Hal ini menjadi sangat efektif karena cerpen cepat dibaca, ditambah lagi dengan penyebaran yang luas karena banyak cerpen yang dimuat di dalam koran- koran.

Cerpen-cerpen tersebut sudah dimuat di dalam koran di Indonesia. Hal itu menunjukkan kualitas cerpen Indra Tranggono, bahkan sudah banyak cerpen karangan dia yang dimuat di dalam koran. Sebelum dimuat di koran, setiap cerpen yang masuk akan diseleksi oleh redaksi koran tersebut. Cerpen yang lolos adalah cerpen yang kualitasnya sudah sesuai dengan standar redaksi dan juga memiliki ideologi yang sesuai yang dimiliki oleh koran tersebut. Cerpen karangan Indra Tranggono adalah salah satunya, karena itu penulis ingin tahu ideologi apa yang dimuat di dalam cerpen lalu mendekonstruksinya untuk menambah sudut pandang dalam melihat cerpen itu.

Ketiga cerpen tersebut dipilih karena banyak alasan. Salah satunya adalah karena cerpen tersebut tidak hanya menarik dibaca, tetapi memiliki plot yang tragis.

Ketiganya juga selalu memenangkan sang penguasa di akhir cerita sedangkan para korban hanya pasrah dengan keadaan. Selain itu, cerita di dalam cerpen-cerpen tersebut juga memiliki hegemoni yang kuat, sehingga teks memiliki keberpihakan dan kebenaran tunggal yang cocok untuk didekonstruksi. Penulis tertarik untuk menggali lebih dalam lagi tentang ideologi dan makna-makna yang tersembunyi di dalam teks akibat adanya logosentrisme.

(15)

Ketiga cerpen yang penulis pilih memiliki tema besar yang sama, yaitu tentang kekuasaan dan kepasrahan. Cerpen “Profesor Pogob” bercerita tentang seorang profesor yang dipanggil presiden untuk menenangkan keadaan negara yang kacau akibat sebuah kebijakan kontroversial. Profesor itu akhirnya malah memprovokasi rakyat sehingga menimbulkan kekacauan di mana-mana. Cerpen ke-dua yang berjudul “Elegi Ampas Kopi” bercerita tentang personifikasi bangsa kopi ketika akan diseduh oleh seorang penyair. Pengarang memberikan gambaran betapa tersiksanya biji-biji kopi itu dari tahap mereka dipanen hingga diseduh dengan air panas. Cerpen ke-tiga “Di Atas Tanah Retak” bercerita tentang seorang gadis yang mati tergantung di pohon. Orang-orang menyangka dia bunuh diri karena sering berbicara demikian, tetapi kenyataannya dia dibunuh oleh sekelompok orang karena hamil setelah diperkosa oleh orang yang berpengaruh di desanya.

Penulis memilih topik “Ideologi Tiga Cerpen Indra Tranggono di Tahun 2019: Dekonstruksi Jacques Derrida” karena beberapa alasan. Pertama, penggunaan teori dekonstruksi masih sedikit, padahal teori ini memiliki manfaat yang besar. Pengaplikasian teori dekonstruksi sangat luas, tidak hanya terbatas pada teks sastra saja, tetapi pada setiap teks. Teori dekonstruksi juga sangat sesuai di era postmodern, karena kemudahan informasi yang tidak terbatas memerlukan kebijakan pembaca untuk memahami dan mengambil sebuah kesimpulan terhadap suatu teks.

Kedua, cerpen karya Indra Tranggono sudah dimuat di dalam koran-koran sejak tahun awal tahun 2000, tetapi hanya sedikit penelitian yang menggunakan

(16)

cerpen-cerpen karya Tranggono. Hal ini mendorong penulis untuk menjadikan cerpen karya Indra Tranggono sebagai objek material, dan mencari tahu ideologi- ideologi apa saja yang terdapat dalam karyanya.

Dekonstruksi pada cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019 penting untuk dilakukan, karena cerpen tersebut merupakan salah satu gambaran keresahan pengarang terhadap keadaan sosialnya. Keresahan pengarang tidak sepenuhnya bisa dipahami dengan sempurna karena ketidakhadiran pengarang saat seseorang membaca, dan itulah kekuatan sekaligus kelemahan dari teks cerpen. Setiap latar belakang pembaca terhadap jejak-jejak tiap kata pada teks akan berbeda, dan untuk lebih mendalaminya perlu dibongkar dan disusun kembali dengan menggunakan teori dekonstruksi. Setelah didekonstruksi makna pada tiap cerpen akan menyebar, memperkaya, dan memperdalam pembaca dalam melihat sebuah kejadian.

1.2 Perumusan Masalah

a. Bagaimana hierarki metafisik dan ideologi teks yang terdapat pada tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019?

b. Bagaimana proses decentering dan diseminasi pada tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Menjabarkan hierarki metafisik dan ideologi teks yang terdapat pada tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019.

b. Menjabarkan proses decentering dan diseminasi pada tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019.

(17)

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperkaya kajian teks sastra dengan menggunakan teori dekonstruksi. Kajian ini juga diharapkan bisa memperkaya kajian sastra menggunakan pendekatan diskursif. Penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai referensi penelitian dengan objek material tiga cerpen karya Indra Tranggono. Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai referensi penelitian dengan objek formal teori dekonstruksi Jacques Derrida.

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan menambah aset dalam hal studi teks dalam ilmu sastra. Penelitian ini juga diharapkan bisa menjadi bacaan oleh para kurator dan juri dalam menilai sebuah karya sastra. Penelitian ini diharapkan juga bermanfaat dalam memberikan sudut pandang lain dalam sebuah karya sastra, sehingga membuat pembaca menjadi lebih kritis dalam melihat sebuah karya sastra dan tidak terperangkap dengan satu pemaknaan.

1.5 Tinjauan Pustaka

Terdapat beberapa penelitian lain yang digunakan penulis sebagai referensi untuk melakukan penelitian ini. Penelitian yang digunakan sebagai referensi karena memiliki objek formal yang sama adalah skripsi dari Respati (2018) dengan judul

“Dekonstruksi Tiga Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2013 : Klub Solidaritas Suami Hilang : Perspektif Jacques Derrida”. Penelitian tersebut menjelaskan ideologi yang ada dalam tiga cerpen pilihan kompas tahun 2013 dan menjelaskan hasil diseminasi pada tiap cerpennya.

(18)

Penelitian selanjutnya adalah artikel berjudul “Analisis Dekonstruksi Derrida pada Tokoh Margio dalam Novel Lelaki Harimau” karya Hajar dan Wazib (2018). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tokoh Margio dalam novel Lelaki Harimau digambarkan sebagai protagonis dan ditempatkan sebagai titik ordinat

dalam penceritaan. Pembunuhan yang dilakukan Margio terhadap Anwar sadat menggambarkan sebuah sikap heroisme dan patriotisme.

Penelitian selanjutnya berasal dari artikel dalam jurnal karya Ghofur (2014) dengan judul “Analisis Dekonstruksi Tokoh Takeshi dan Mitsusaburo Dalam Novel Silent Cry Karya Kenzaburo Oe: Perspektif Jacques Derrida”. Penelitian tersebut

berfokus pada oposisi biner dan membongkar sisi dalam novel Silent Cry, dan menghasilkan makna lain yang berbeda dari teks yang sebenarnya.

Penelitian selanjutnya adalah artikel jurnal karya Asmarani (2008) dengan judul “Pendekatan Feminis Dekonstruktif-Kultural Terhadap Anna and the King”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi dengan perspektif feminis untuk menganalisis dua budaya yang berbeda, yaitu Inggris dan Siam yang mempunyai interaksi panjang dalam novel Anna and the King.

Penelitian lain yang digunakan sebagai referensi adalah penelitian yang memiliki objek material dari pengarang yang sama, yaitu cerpen Tikus karya Indra Tranggono. Penelitian tersebut ialah artikel jurnal berjudul “Formasi Ideologi Dalam Cerpen Tikus Karya Indra Tranggono” karya Rokhmansyah (2019).

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana hubungan ideologi-ideologi yang terdapat dalam cerpen Tikus. Penelitian tersebut menggunakan teori Hegemoni Gramsci.

(19)

Kelima penelitian tersebut membantu penulis sebagai referensi penggunaan teori dekonstruksi dalam berbagai karya sastra. Penelitian dengan objek material yang sama juga membantu penulis dalam memahami lebih dalam mengenai ideologi cerpen yang terdapat pada karya Indra Tranggono. Penelitian ini berjudul

“Ideologi Tiga Cerpen Indra Tranggono di Tahun 2019: Dekonstruksi Jacques Derrida”. Penelitian ini ditulis untuk mengungkapkan hierarki metafisik yang terkandung di dalam teks dan mendekonstruksinya dengan melakukan proses decentering. Penelitian ini juga akan mengungkapkan makna-makna lain yang

tersembunyi di dalam novel, sehingga bisa diketahui penyebaran maknanya (diseminasi). Hasil penelitian ini juga bisa digunakan sebagai referensi pemaknaan teks dan menambah kajian poststruktural dalam teks sastra.

1.6 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan paradigma penelitian M. H. Abrams. Paraigma M. H. Abrams memiliki empat pendekatan yaitu pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatik (Taum, 1997: 17) untuk melihat karya sastra secara menyeluruh. Terdapat dua pendekatan lain hasil reposisi oleh Taum, yaitu pendekatan ekletik dan pendekatan diskursif. Pendekatan diskursif sendiri adalah pendekatan objektif yang direposisi oleh Taum yang menjadikan teks sebagai sumber penelitian. Pendekatan diskursif juga menyertakan hasil pemikiran peneliti terhadap teks tersebut. Istilah diskursif berasal dari “wacana”. Kritik sastra diskursif membuat karya sastra yang dikaji menjadi bagian dari wacana itu sendiri. Hal ini memperluas objek penelitian sastra yang belum diteliti oleh teori kritik sastra

(20)

lainya, yaitu teks-teks sastra dan teks-teks nonsastra sebagai perwakilan kekuasaan berdasarkan praktik-praktik diskursif (Taum, 2017: 5).

Pendekatan diskursif bisa digunakan pada teori-teori postmodern. Penelitian ini menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Inti teori Derrida adalah mengkaji persebaran makna (polisemi) dalam sebuah teks. Dekonstruksi bertujuan membongkar ideologi yang kaku.

1.7 Landasan Teori

Dekonstruksi adalah sebuah teori yang diciptakan oleh Jacques Derrida yaitu seorang pemikir besar dalam filsafat. Dekonstruksi adalah cara membaca teks (sastra maupun filsafat) menurut pandangan filsafat Derrida, yang terpengaruh oleh pandangan fenomenologi (Heidegger) dan skeptisisme (Nietzche). Derrida menciptakan teori ini untuk menentang teori-teori struktural-semiotik Ferdinand de Saussure yang menganggap bahwa sebuah teks memiliki makna yang utuh di dalam sistem bahasa tertentu. Hal ini membuat teori dekonstruksi Derrida termasuk Poststructuralism (Taum,1997: 42).

Dekonstruksi adalah pembelaan terhadap makna lain yang terepresi oleh kuasa kepengarangan. Dekonstruksi mempertanyakan segala sesuatu yang telah disetujui secara masif tanpa a priori (yang membentuk pemahaman manusia).

Derrida tahu sadar atas hal yang disetujui tersebut bersifat tidak netral, karena lahir dari kuasa (sosial-kultural-politis) yang hegemonik dan intoleran terhadap perbedaan. Dekonstruksi adalah testimoni terbuka kapada mereka yang kalah dan terpinggirkan oleh stabilitas rezim bernama pengarang. Maka, sebuah dekonstruksi adalah gerak perjalanan menuju hidup itu sendiri (Al-Fayyadl, 2012: 232).

(21)

Setiap teks meninggalkan residu, serpihan-serpihan debu, sisa-sisa dari kehadiran yang telah sirna dan tertunda. Karena itu, tak ada lagi yang perlu dilakukan selain memungut residu itu – tinggal abu, il y a la cendre. (Al-Fayyadl, 2012: 109). Pemikiran tersebut muncul atas ketidaksetujuan Derrida terhadap sistem pemikiran yang meminggirkan dan merepresi dampak-dampak bahasa yang dianggap oleh para filsuf mengganggu. Oleh karena itu, tujuan Derrida adalah menunjukkan dampak-dampak ini dengan melakukan pembacaan kritis yang mendalam, untuk memahami detail terkecil yang tersembunyi. Menurut Derrida, Dekonstruksi dilakukan untuk menghilangkan ide-ide ilusif yang menguasai metafisika Barat, yaitu nalar bisa lepas dari bahasa dan sampai pada kebenaran (logos) (Norris, 2006: 56).

Derida menemukan bahwa upaya Saussure untuk memperkenalkan konsep

“tulisan fonetis” hendak menegaskan bahwa tulisan tetap berinduk pada bunyi dan tidak dapat memisahkan diri dari unsur-unsur tuturan. Tulisan tidak mungkin menjadi sistem tersendiri yang otonom dari bunyi (Al-Fayydl, 2012: 49). Posisi bunyi dalam pemikiran Saussure sangat sentral. Menurutnya unsur terpenting dalam kegiatan berbahasa adalah adanya citra akustik yang memungkinkan seorang penutur menyampaikan gagasannya (Al-Fayydl, 2012: 43). Hal tersebut membuat peran punutur sangatlah besar dan menjadi tidak sesuai jika diimplementasikan ke dalam tulisan. Ketika membaca tulisan, penutur tidak bisa hadir selain di dalam imajinasi pembaca. Saussure meletakkan bunyi di atas tulisan sehingga menghadirkan fonosentrisme yang sangat kental dengan logos.

(22)

Kebenaran yang mutlak adalah hal yang ingin dilawan oleh dekonstruksi.

Logos sendiri muncul bila bahasa dilihat secara struktural. Bahasa ada karena

sistem perbedaan yang berintikan oposisi biner. Oposisi antara penanda/petanda, tuturan/tulisan, langue/parole. Oposisi biner hadir secara berdampingan dan menyebabkan superioritas suatu oposisi. Setiap makna dalam teks tidak utuh dan retak. Meskipun begitu Derrida mengganggap tulisan lebih istimewa daripada tuturan. Tulisan dalam sudut pandang lain merupakan prakondisi dari bahasa, dan bahkan telah ada sebelum oral. Tulisan adalah bentuk permainan bebas unsur-unsur bahasa dan komunikasi. Tulisan selalu mengalami perubahan makna, dan hal ini yang membuat tulisan tidak masuk di dalam kebenaran mutlak (logos) (Norris, 2006: 9-10).

Sebuah oposisi akan bermasalah jika sebuah istilah menjadi lebih unggul.

Misalnya, istilah motor akan menjadi inferior jika disandingkan dengan istilah mobil. Sebaliknya, istilah mobil akan menjadi lebih superior dibandingkan istilah motor. Makna istilah motor akan mengalami krisis dan degradasi makna. Mobil tampak lebih bergengsi dibanding dengan motor. Oposisi biner yang seperti ini yang ingin dibongkar oleh Derrida karena memunculkan hierarki. Derrida menganggap hubungan tersebut sebagai hierarki yang brutal (Respati, 2018).

Semakin banyak oposisi dalam sebuah teks, maka semakin kuat logos di dalamnya.

Hal tersebut membuat dekonstruksi semakin diperlukan untuk menetralkan teks.

Langkah awal dalam dekonstruksi adalah menemukan pusat dari teks.

Langkah ini dinilai problematis karena operasi teks menolak penunggalan.

Dekonstruksi menetralkan teks dengan cara melakukan proses decentering, yaitu

(23)

membalikkan oposisi-oposisi biner yang ada di dalam teks. Pusat teks akan mengalami desentralisasi; pusat-pusat teks akan menyebar ke segala arah, membiak, dan memroduksi tanda-tanda yang membangun teksnya sendiri (Al- Fayydl, 2012: 77-78).

Dalam dekonstruksi, penyebaran makna disebut dengan diseminasi. Makna di dalam teks tidak mungkin ditemukan, kecuali jika teks dilihat sebagai sebuah permainan yang selalu berubah-ubah dan berkembang dari penanda lama ke penanda baru. Dengan mempermainkan tanda, maka referens yang hendak disimpulkan dalam teks dengan sendirinya tertunda. Penyebaran ini membuat seluruh tatanan teks yang ingin distabilkan menjadi berantakan (Al-Fayadll, 2012:

79).

Di dalam teks hanya terdapat residu, abu, atau jejak-jejak kehadiran yang selalu tertunda maknanya. Jejak-jejak dalam teks tersebut disebut oleh Derrida sebagai differance. Derida mengakui bahwa differance bukanlah kata-kata maupun konsep, karena kata-kata dan konsep memiliki referens yang tetap. Karena itu, differance tidak memiliki eksistensi, melainkan hanya sebuah strategi untuk

menunjukkan perbedaan implisit sekaligus menantang totalitas makna di dalam teks. Differance dapat ditemukan dalam setiap sistem pemikiran yang berusaha memberikan tafsiran tunggal terhadap realitas yang ada di dalam teks. Selama itu dipahami sebagai teks, maka teks tersebut bisa dibaca, dibongkar, dan ditafsirkan ulang secara tidak terhingga (Al-Fayyadl, 2012: 111).

Maka Derrida dengan tajam membalik prioritas tuturan menjadi tulisan.

Dengan tulisan, makna berkembang dalam permainan teks yang tak terhingga, akan

(24)

selalu mengalami lompatan tafsir-tafsir yang tak terduga, sebuah pembukaan diri terhadap yang tak teramalkan. Sesuatu yang teramalkan akan menjadi oposisi biner, mendamba kejelasan dan keutuhan yang baku. Hal yang demikian akan mustahil direngkuh, karena diterpa différance. Sebuah momen kematian makna dari pengarang, tuturan yang mendominasi filsafat Barat dibalik menjadi permainan- permainan teks yang terbuka pada ambiguitas, dan ketidakpastian makna. Makna jatuh dalam pembacaan dan tafsir yang terus bergerak dan tak teramalkan. Sebuah momen runtuhnya hierarki metafisik yang tersirat dalam oposisi biner, momen merayakan kematian dan keruntuhan metafisika. (Muther, 2018)

Untuk mengganti makna-makna tersembunyi teks, teks bisa didekonstruksi melalui tangkah-tangkah sederhana sebagai berikut: Pertama, mengidentifikasi oposisi biner (op-bin) yang dihadirkan teks. Kemudian mengganti asumsi yang melandasi op-bin tersebut. Setelah itu dilakukan 'sous roture' (pemberian tanda silang) secara imaginer pada bagian tertentu untuk mengkritisi maknanya.

Akhirnya, membatik struktur hierarkis op-bin tersebut untuk menghasilkan makna baru. Dalam dekonstruksi Derridean ini kreativitas untuk menggali makna yang berbeda yang tersembunyi sangatlah diperlukan (Asmarani, 2008: 18).

1.8 Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan tiga tahap, yaitu : (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, (iii) penyajian data.

1.8.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode studi pustaka.

Penulis mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap buku-buku,

(25)

literatur-literatur, dan catatan-catatan yang berhubungan dengan topik penelitian ini, baik dari objek formal maupun objek material.

1.8.2 Metode Analisis Data

Metode atau teknik yang digunakan dalam penelitian dekonstruksi adalah double reading. Double reading adalah teknik pembacaan cermat sebuah teks dua

kali. Pembacaan pertama adalah memahami teks dan menyimpulkan tafsiran dominan yang berupa ideologi teks. Tahap ini mengidentifikasi hierarki metafisik beserta oposisi binernya. Tahap selanjutnya adalah mejauhi tafsiran dominan yang pertama dengan melakukan decentering. Tahap ini ideologi teks dibalik dan hierarki metafisik dihancurkan (Critchley Via A. Sumarwan 2005: 14). Setiap oposisi biner yang terdapat dalam teks menjadi netral. Makna teks pun menjadi tersebar dan pusat teks digeser (disseminasi). Proses ini dianggap berhasil jika mampu mengubah pandangan pembaca terhadap teks. Teks yang tidak diubah sama sekali menjadi memiliki makna yang berbeda.

1.8.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menyajikan hasil analisis data. Penulis menyajikan hasil analisis dari penelitan ini dengan mendeskripsikan data-data secara sistematis.

1.8 Sistematika Penyajian

Bab I berisikan tentang pendahuluan penelitian, dimulai dengan (1) latar belakang masalah yang menjelaskan alasan penelitian ini dilaksanakan. (2) Rumusan masalah yang menjelaskan permasalahan apa yang akan diteliti. (3) Tujuan Penelitian yang menjelaskan tujuan penelitian ini. (4) Manfaat hasil

(26)

penelitian untuk menjelaskan dampak dari penelitian ini baik secara teoritis maupun praktis. (5) Tinjauan pustaka menjabarkan penelitian yang mirip dan digunakan sebagai referensi. (6) Landasan teori, menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam penelitian. (7) Metode penelitian, menjelaskan metode serta teknik yang digunakan. (8) Sistematika penyajian, menguraikan sistem penyajian dalam tiap bab.

Bab II berisikan tentang deskripsi ideologi teks pada tokoh Bodhi yang terdapat dalam tiga cerpen Indra Tranggono di tahun 2019.

Bab III berisikan deskripsi proses decentering dan diseminasi pada tokoh Bodhi dalam tiga cerpen Indra Tranggono di tahun 2019.

Bab IV berisikan penutup, kesimpulan dari penelitian, serta saran kepada peneliti, penulis dan masyarakat berdasarkan penelitian ini.

(27)

BAB II

HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO TAHUN 2019

2.1 Pengantar

Di Bab II ini penulis akan menganalisis ideologi dan hierarki metafisik yang terdapat dalam tiga cerpen karya Indra Tranggono di tahun 2019. Cerpen tersebut meliputi “Profesor Pogob”, “Elegi Ampas Kopi”, dan “Di Atas Tanah Retak”.

Ketiga cerpen ini mempunyai kesamaan tema, yaitu mengenai penindasan yang dilakukan oleh penguasa.

Penulis menentukan ideologi dalam teks dengan melakukan double reading.

Seperti yang sudah dijelaskan pada landasan teori, double reading pada tahap pertama dilakukan untuk menemukan tafsiran dominan. Hal tersebut didapatkan dengan memahami alur cerita, konflik, dan tokoh dalam kesan pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan mengidentifikasi hierarki metafisik yang ada di dalam cerita.

Hierarki metafisik ditemukan dengan melihat oposisi biner dari tiap kata, yaitu kata-kata yang memiliki makna berlawanan dan melihat keberpihakan dari kata- kata tersebut. Meskipun memang mungkin ditemukan kata-kata yang undecidable atau tidak bisa ditentukan keberpihakannya. Ideologi pun akan terlihat setelah oposisi biner ditemukan, karena ideologi terbentuk dari alur dan keberpihakan cerita.

(28)

2.2 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Profesor Pogob”

2.2.1 Alur

Cerita dimulai dengan Profesor Pogob yang tersenyum melihat umpatan, cacian, dan kutukan di media sosial miliknya. Menurutnya, hal tersebut diperlukan dalam demokrasi. Hal ini bermula dari pernyataan Profesor Pogob yang membela para koruptor. Pernyataan tersebut berkaitan dengan pengesahan undang-undang tindak pidana korupsi oleh Pemerintah Republik Bragallbaz dan Dewan Perwakilan Tinggi Rakyat, dimana setiap kebijakan tersebut menguntungkan para koruptor.

Kebijakan tersebut menyebabkan kekacauan. Jalan-jalan penuh dengan kerusuhan. Presiden pun memanggil Profesor Pogob untuk mendinginkan suasana.

Pada jumpa pers di istana, Profesor Pogob justru mengeluarkan pernyataan yang memprovokasi. Dia menyatakan bahwa memanusiakan para koruptor itu penting karena jasa yang telah mereka lakukan terhadap Republik Bragallbaz. Uang-uang yang mereka korupsi bukanlah masalah besar.

Dampak dari ucapan Profesor Pogob memperparah emosi para demonstran.

Fasilitas-fasilitas umum pun rusak dan korban-korban berjatuhan. Dr Gizza Arlittea, anggota staf ahli presiden, mempertanyakan alasan dari pernyataan Profesor Pogob yang bisa menyebabkan terjadinya revolusi. Profesor Pogob menjawab bahwa revolusi tidak akan terjadi dan kemarahan rakyat memang diperlukan.

Berkali-kali Profesor Pogob melakukan hal seperti ini. Dengan tersenyum, para koruptor pun rela mengirim uang ke rekening Profesor Pogob. Para koruptor pun semakin berkobar-kobar untuk korupsi. Gembong-gembong koruptor terus

(29)

mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka.

2.2.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik

Sebelum menentukan hierarki yang terdapat dalam teks, perlu ditemukan oposisi biner pada tiap makna kata di dalam teks cerpen. Penentuan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa setiap kata yang beroposisi di dalam teks memiliki keunggulan tersendiri. Ada makna kata yang lebih kuat dibandingkan makna kata yang lain. Hal ini yang membuat teks menjadi tidak stabil karena pembelaan terhadap kubu tertentu. Berikut adalah tabel yang berisikan oposisi biner pada cerpen “Profesor Pogob”.

Tabel 1

Oposisi Biner Cerpen “Profesor Pogob”

Kubu Profesor Pogob Kubu Demonstran

Berkobar Lelah

Tinggi Rendah

Rela Marah

Ringan Berat

Pemerintah Rakyat

Polisi Demonstran

Mendinginkan Ngompori

Tabel tersebut adalah bukti dari ketidakstabilan dalam teks cerpen “Profesor Pogob”. Kata berkobar yang seakan lebih baik dibandingkan dengan lelah. Kata berkobar digambarkan sebagai sebuah tindakan yang penuh dengan semangat dalam melakukan sesuatu sedangkan lelah sebuah keputusasaan. Padahal kata berkobar bisa saja bermakna suatu tindakan yang terlalu ambisius dan impulsif

(30)

sedangkan kata lelah bisa bermakna sebagai sebuah dampak dari usaha yang dilakukan terus-menerus.

Kata tinggi dalam teks juga seakan lebih baik dibandingkan kata rendah.

Kata tinggi digambarkan sebagai sifat yang lebih agung dibandingkan kata rendah.

Padahal kata tinggi juga bisa berkesan muluk dan rendah bisa dimaknai sebagai kesederhanaan. Kemudian kata rela seakan superior dibandingkan kata marah. Rela digambarkan sebagai kebaikan hati dan marah sebagai kedengkian. Padahal rela juga bisa dilihat sebagai tindakan menyerah dan kata marah juga bisa dilihat sebagai rasa tidak terima terhadap ketidakadilan.

Kata ringan di dalam teks cerpen juga terlihat lebih baik daripada kata berat.

Kata ringan digambarkan sebagai kemurahan hati dan kata berat bermakna sebaliknya. Padahal kata ringan juga bisa bermakna rapuh dan kata berat bermakna kuat dan kokoh. Kata pemerintah digambarkan lebih baik dibandingkan dengan kata rakyat. Kata pemerintah seakan bermakna berkuasa dan bertanggungjawab sedangkan kata rakyat seakan berkesan orang-orang yang banyak menuntut dan mudah tersulut. Padahal kata pemerintah juga bisa berkesan semena-mena dan kata rakyat sebagai orang kecil dan tidak berdaya.

Kata polisi di dalam teks juga berkesan lebih baik dibanding kata demonstran. Kata polisi seakan memiliki makna orang yang menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat sedangkan kata demonstran sebagai orang-orang yang rusuh dan perusak. Padahal kata polisi juga bisa dilihat sebagai pekerjaan yang sewenang-wenang dan demonstran adalah kelompok pembela kepentingan rakyat.

Kata mendinginkan di dalam teks juga terlihat lebih baik dibandingkan kata

(31)

ngompori. Kata mendinginkan berkesan menenangkan dan kata ngompori bermakna sebaliknya. Padahal kata mendinginkan bisa bermakna mengacuhkan sedangkan ngompori bisa bermakna memberikan semangat.

Tabel 1 berisi oposisi biner dari cerpen “Profesor Pogob”. Bagian kiri tabel menunjukkan kata-kata yang menggambarkan kubu pertama dan bagian kanan adalah kubu kedua. Bagian kiri menunjukkan bahwa struktur di dalam teks cenderung berpihak kepada pihak dari kubu pertama. Keberpihakan ini terlihat dari makna yang terdapat pada bagian kiri tabel memiliki keunggulan tersendiri terhadap makna yang berada di bagian kanan tabel. Keberpihakan itulah yang mengakibatkan goyahnya pemaknaan di dalam cerpen.

Meskipun pemaknaan kata di dalam teks cerpen sudah teridentifikasikan, tetapi masih ada kata yang tidak bisa ditentukan keberpihakannya. Kata tersebut ialah kata koruptor. Hal tersebut terlihat pada dua kutipan berikut.

“...Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar, ya tidak masalah.

Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!...” (Tranggono, 2019)

“...Sementara itu, gembong-gembong koruptor terus mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka.”

(Tranggono, 2019)

Kutipan pertama dan kedua memiliki makna yang berbeda terhadap kata koruptor. Pada kutipan pertama dijelaskan bahwa koruptor memiliki peran yang penting terhadap Negara Republik Bragallbaz. Ketidakhadiran para koruptor memiliki dampak yang besar terhadap negara. Kutipan tersebut juga menjelaskan bahwa koruptor harus diselamatkan demi kepentingan negara.

(32)

Berbeda dengan kutipan pertama, kutipan kedua menggambarkan kekejaman para koruptor. Kutipan itu memperlihatkan bahwa koruptor adalah orang yang jahat karena rela menyengsarakan orang miskin yang sudah menderita.

Hal tersebut membuat pemaknaan kata koruptor pada kutipan pertama dan kedua berlawanan. Pemaknaan kata koruptor tidak pasti antara orang yang penting dan harus diselamatkan demi kepentingan negara atau orang yang kejam dan sadis yang rela menindas orang lemah. Hal tersebut membuat kata koruptor undecidable dan tidak utuh.

Setelah menemukan oposisi biner di dalam teks, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Profesor Pogob” memiliki dua kubu beserta hierarki metafisiknya. Kubu pertama adalah kubu yang memihak koruptor, yaitu Profesor Pogob, Pemerintah Negara Republik Bragallbaz, Dewan Perwakilan Tinggi Rakyat, dan para koruptor.

Kubu ini mendukung undang-undang tersebut karena mendapatkan keuntungan dan tujuan tertentu. Hal tersebut terlihat dalam kutipan-kutipan berikut.

“SENYUM Profesor Pagob berulang kali mengembang, saat menatap dada monitor handphone android-nya. Di medsos, kata-kata kasar, umpatan, caci-maki, bahkan kutukan bertaburan menghajar dirinya. Juga foto dan gambar yang merendahkan martabatnya. Namun, dia tetap tersenyum. “Dalam demokrasi rakyat punya hak marah. Demokrasi semakin cepat matang di tangan rakyat yang progesif.” Dia membatin. (Tranggono, 2019)

“Undang-undang tindak pidana korupsi yang berlaku sekarang ini justru bagus. Memanusiakan koruptor. Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar, ya tidak masalah. Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!” ujar Prof Pagob dalam jumpa pers di Istana.” (Tranggono, 2019)

“Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa.”

(Tranggono, 2019)

(33)

Kutipan pertama merupakan paragraf pembuka di dalam cerpen. Kutipan itu langsung menunjukkan sifat dan gambaran Profesor Pogob di dalam cerita.

Profesor terlihat sabar dalam menghadapi berbagai makian, bahkan dia justru tersenyum melihat makian itu. Menurut Profesor Pogob, amarah merupakan hak rakyat untuk menjadi rakyat yang progesif dan mematangkan demokrasi. Hal ini menunjukkan kepandaian Profesor Pogob dalam memandang sesuatu, karena dia memikirkan beberapa langkah ke depan. Selain itu, kutipan itu juga menunjukkan sisi heroik dari Profesor Pogob, yaitu ketika dia rela dimaki demi kemajuan demokrasi di negara itu.

Kutipan kedua menceritakan pembelaan Profesor Pogob terhadap undang- undang tindak pidana korupsi. Profesor Pogob berpedapat bahwa memanusiakan koruptor lebih penting daripada menghukumnya dengan hukuman berat. Menurut dia, koruptor mempunyai jasa yang besar terhadap Republik Bargallbaz dibanding dengan milyaran uang yang dikorupsi.

Kutipan ketiga menceritakan tentang Profesor Pogob yang berani melindungi rezim penguasa, bahkan dia rela mengorbankan fisik dan kehormatannya. Profesor Pogob juga menjelaskan sendiri bahwa dirinya bukan orang yang idealis dan pemimpi. Dari keseluruhan cerita bisa disimpulkan bahwa Profesor Pogob bersifat sebaliknya. Dia adalah orang yang praktis dan realistis.

Berbeda dengan kutipan mengenai Profesor Pogob, para koruptor di cerita justru memiliki peran yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, diceritakan bahwa para koruptor adalah orang yang juga tahu cara membalas budi. Hal tersebut terbukti dari kutipan berikut.

(34)

“Para koruptor tersenyum. Mereka rela mengirim uang ke rekening Prof Pagob...” (Tranggono, 2019)

Kubu kedua adalah kubu yang berisikan demonstran dan mahasiswa. Kubu yang melawan undang-undang tindak pidana korupsi. Cerita di dalam cerpen menunjukkan bahwa rakyat beserta mahasiswa adalah orang-orang yang mudah tersulut emosi dan merusak. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan-kutipan berikut.

“Amuk massa, terutama mahasiswa, tumpah di jalan-jalan. Ratusan korban jatuh disambar timah panas atau dihajar polisi.” (Tranggono, 2019)

“Emosi para demonstran terbakar. Mereka ngamuk. Merusak fasilitas umum. Polisi bergerak. Terjadi gesekan. Korban-korban pun berjatuhan.” (Tranggono, 2019)

Berdasarkan kutipan pertama, demonstran mengamuk atas undang-undang tindak pidana korupsi. Hal itu menyebabkan polisi turun dan menyambar mereka dengan peluru dan menghajarnya. Kutipan kedua juga menunjukkan amukan demonstran akibat pernyataan Profesor Pogob. Hal tersebut menunjukkan betapa mudahnya emosi mereka tersulut dan berakhir dengan kekerasan. Tindakan itu pula yang menyebabkan jatuhnya banyak korban.

2.2.3 Ideologi Teks

Ideologi teks perlu diketahui karena akan digunakan sebagai dasar pembalikan makna dalam dekonstruksi. Penentuan ideologi ditentukan dengan menganalisis hierarki metafisik, oposisi biner, dan unsur undecidable dalam teks dengan momen klimaks di dalam cerita. Cerpen “Profesor Pogob” karya Indra Tranggono memiliki momen klimaks ketika tokoh Profesor Pogob menyatakan bahwa dirinya bukan seorang idealis dan pemimpi tolol. Hal tersebut bisa dilihat dari kutipan berikut.

(35)

“Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa

“Para koruptor tersenyum. Mereka rela mengirim uang ke rekening Prof Pagob. Kakek 38 cucu itu pun semakin berkobar-kobar membela koruptor. Sementara itu, gembong-gembong koruptor terus mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka.”

(Tranggono, 2019)

Kutipan tersebut adalah dua paragraf akhir cerpen. Dari situ bisa disimpulkan bahwa ideologi teks adalah keberanian Profesor Pogob dalam membela koruptor. Tindakan pembelaan yang dilakukan oleh Profesor Pogob memiliki risiko, bahkan hal itu menyebabkan dia dipukuli, dimaki, dan diludahi.

Akan tetapi pada bagian akhir, Profesor Pogob mendapatkan kiriman uang dari koruptor yang membuatnya semakin semangat melakukan tindakkannya. Ideologi yang ditemukan akan dibalik pada proses dekonstruksi selanjutnya. Pemaknaan akan keberanian Profesor Pogob yang menjadi objek akan dibalik dan dimaknai ulang dalam proses decentering.

2.3 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”

2.3.1 Alur

Cerita bermula dengan curhatan para ampas kopi yang menderita dan menunggu waktu untuk dibuang. Para ampas kopi mempertanyakan hasil dari sari- sari kopinya yang diminum oleh seorang penyair. Mereka ingin tahu, apakah setelah meminum kopi penyair itu menghasilkan sebuah puisi.

Cerita pun mundur di pagi hari. Pagi itu bangsa kopi bertemu kembali dengan penyair. Penyair itu kesiangan karena semalaman dia beribadah puisi.

Penyair bersiap membuat secangkir kopi. Para kopi pun tersiksa ketika penyair

(36)

mengguyur mereka dengan air panas. Air panas menghancurkan tiap butir kopi dan meleburkan jiwa mereka. Setiap harum uap kopi yang penyair hirup merupakan jeritan jiwa mereka.

Nenek moyang kopi bercerita bahwa sejarah kopi merupakan sejarah penderitaan. Kedaulatan mereka sebagai pohon direnggut ketika buah-buah yang menyatu di dalam tubuh pohon dipetik para petani. Pohon kopi kesakitan karena buah-buahnya diambil paksa. Tak berhenti di situ, buah-buah mereka pun dikuliti, lalu dijemur berhari-hari sampai kering. Setelah itu mereka berhadapan dengan panas wajan penggorengan ketika tubuh mereka disangrai. Lalu tubuh mereka ditumbuk. Tubuh dan jiwa mereka remuk dan hancur. Jeritan mereka pun dilibas deru mesin penggiling atau talu besi penumbuk. Para kopi mempertanyakan alasan Tuhan menciptakan manusia yang begitu kejam. Para kopi ingin mundur sebagai bangsa kopi. Tuhan yang mendengar jeritan mereka hanya tersenyum. Para kopi pun paham, bahwa mereka harus tetap teguh menjadi bangsa kopi selamanya dan melanjutkan penderitaan mereka selanjutnya.

2.3.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable dan Hierarki Metafisik

Setelah menentukan unsur hierarki metafisik yang terdapat di dalam cerpen, langkah pertama adalah menentukan oposisi binernya. Oposisi biner di dalam teks akan menunjukkan bagaimana setiap kata di dalam teks cerpen saling berlawanan.

Terjadi pelemahan makna kata maupun penguatan makna kata yang tersebar dalam teks. Untuk menunjukannya, penulis membuat tabel untuk menunjukkan kata mana saja yang saling beroposisi di dalam teks cerpen “Elegi Ampas Kopi”.

(37)

Tabel 2

Oposisi Biner cerpen “Elegi Ampas Kopi”

Kubu Bangsa Kopi Kubu Manusia

Rela Paksa

Bertemu Pergi

Jiwa Tubuh

Teguh Remuk

Menyatu Melebur

Hangat Panas

Membawa Dibuang

Melanjutkan Mengundurkan

Tabel 2 di atas menunjukkan kata-kata yang beroposisi di dalam cerpen

“Elegi Ampas Kopi”. Oposisi dalam kata tersebut menunjukkan bahwa makna yang ada di dalam teks tidak stabil. Kata rela dan paksa memiliki sifat pemaknaan yang seakan berbeda. Kata rela lebih berkesan baik dibandingkan paksa. Padahal kata paksa juga bisa berarti melakukan sesuatu dengan melampai batasan-batasan. Kata bertemu juga seakan lebih baik dibanding kata pergi. Kata bertemu berkesan sebuah harapan sedangkan kata pergi bisa berkesan melarikan diri dari tanggung jawab.

Kata jiwa memiliki makna yang lebih baik dibandingkan tubuh. Kata jiwa berkesan suci dan kekal sedangkan tubuh berkesan fana. Padahal kata jiwa juga bisa bersifat kotor dan tubuh bisa bersifat suci. Kemudian kata teguh juga terlihat lebih baik dibandingkan kata remuk. Kata teguh berkesan kuat sedangkan remuk sebaliknya. Padahal kata teguh juga bisa terkesan kaku dan kata remuk sebagai dampak dari sebuah pengorbanan.

Kemudian kata menyatu terlihat lebih kuat dibandingkan kata melebur, padahal yang menyatu belum tentu menghasilkan sesuatu yang harmoni yang mana bisa dicapai dalam hal yang melebur. Kata hangat juga memiliki kesan lebih baik

(38)

dibandingkan kata panas. Kata hangat bisa dilihat sebagai kondisi yang memberikan kenyamanan sedangkan kata hangat sebagai perusak. Padahal kata panas juga bisa dilihat sebagai hal yang tanggung dan tidak maksimal sedangkan kata panas bisa dilihat sebagai hal yang mematangkan.

Kata membawa dilihat lebih baik dibandingkan dengan kata dibuang. Kata membawa di dalam teks digambarkan sebagai tindakan yang mendatangkan hal baik sedangkan dibuang sebagai tindakan menelantarkan. Padahal kata membawa bisa juga mendatangkan hal-hal buruk dan dibuang sebagai tindakan untuk menjauhkan diri terhadap hal-hal buruk. Kata melanjutkan terlihat lebih baik dibandingkan kata mengundurkan. Kata melanjutkan digambarkan sebagai tindakan yang penuh perjuangan sedangkan kata mengundurkan adalah tindakan menyerah. Padahal kata melanjutkan juga bisa berkesan memaksakan dan kata mengundurkan bisa sebagai tindakan untuk mengganti hal yang baru.

Sisi kiri pada tabel 2 menunjukkan penggambaran teks terhadap bangsa kopi. Kata-kata tersebut melemahkan oposisi maknanya, sehingga memperlihatkan penderitaan yang dialami bangsa kopi lebih dominan di dalam teks cerpen. Padahal kedua oposisi kata tersebut berada di dalam satu teks. Hal ini berdampak dengan penggambaran kubu Penyair dan Petani yang hanya diceritakan sedikit dengan kata-kata yang berkesan tidak lebih baik dengan gambaran kata-kata pada kubu Bangsa Kopi. Kubu ini menjadi terlihat sebagai kelompok yang menindas.

Meskipun sudah dianalisis oposisi biner dari teks ini, tetapi masih ditemukan kata yang undecidable, yaitu kata penderitaan. Kata penderitaan tidak

Gambar

Gambar 1 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Profesor Pogob”...........45  Gambar 2 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”......50  Gambar 3 Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”..55
Tabel 1 berisi oposisi biner dari cerpen “Profesor Pogob”. Bagian kiri tabel  menunjukkan  kata-kata  yang  menggambarkan  kubu  pertama  dan  bagian  kanan  adalah  kubu  kedua

Referensi

Dokumen terkait

Tersedianya model aplikasi layanan informasi berbasis CRM diharapkan mampu memberikan kemudahaan bagian kemahasiswaan khususnya IKK dan EKA dalam pengelolaan

"Sustainability assurance and cost of capital: Does assurance impact on credibility of corporate social responsibility information?", Business Ethics: A European Review,

Pengaruh Pemberian Pupuk Organonitrofos Dan Kombinasinya Dengan Pupuk Kimia Terhadap Serapan Hara Dan Produksi Tanaman Jagung ( Zea Mays L.) di Musim Tanam Ke Dua Pada

Kotoran luwak digunakan untuk mencegah kemungkinan gagalnya proses degradasi biologis menggunakan mikroorganisme cairan rumen, mengingat bahwa limbah kulit kopi

Oleh karena itu, pemuridan yang dimaksud memiliki integrasi dengan pengajaran yang dilakukan dengan tujuan supaya setiap murid dapat belajar untuk memahami dan

Telah melakukan Tes CEPT > 6 kali akan tetapi belum memenuhi skor minimal untuk4. kelulusan yang dipersyaratkan (Minimal 422 atau setara TOEFL ITPR 425

Maslow mencetuskan teori hierarki kebutuhan, bahwa hierarki kebutuhan sesungguhnya dapat digunakan untuk mendeteksi motivasi manusia. Ada dua asumsi yang merupakan