BAB II HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA
2.5 Rangkuman
Dalam Bab II ini telah dilakukan pengkajian struktural terhadap tiga cerpen yaitu “Profesor Pogob”, “Elegi Ampas Kopi”, dan “Di Atas Tanah Retak”. Hasil dari pengkajian tersebut ialah alur cerita, hierarki metafisik, oposisi biner, dan ideologi teks. Pengkajian ini diperlukan untuk melakukan tahap selanjutnya, yaitu proses decentering dan diseminasi di bab selanjutnya.
Dalam cerpen “Profesor Pogob”, hierarki metafisik terbangun oleh dua kubu yaitu tokoh Profesor Pogob yang berusaha membela koruptor dengan para
demonstran. Ideologi dalam teks ini adalah keberanian Profesor Pogob dalam membela koruptor.
Dalam cerpen “Elegi Ampas Kopi”, hierarki metafisik terbangun oleh dua kubu yaitu Bangsa Kopi yang nasibnya tertindas dan manusia (Penyair dan Petani).
Ideologi dalam teks ini adalah ketabahan Bangsa Kopi dalam menghadapi penderitaan.
Dalam cerpen “Di Atas Tanah Retak”, hierarki metafisik terbangun oleh dua kubu yaitu Maruti yang malang dengan Dargo yang semena-mena. Ideologi dalam teks ini adalah kemalangan Maruti dalam hidupnya.
Di Bab selanjutnya akan dilakukan proses decentering dan diseminasi.
Proses decentering akan membalik hierarki metafisik yang sudah terbangun di dalam teks sehingga memunculkan perspektif dan pemaknaan baru. Kemudian akan dilakukan proses diseminasi, yaitu menyebarkan pemaknaan baru tersebut ke dalam struktur cerita.
BAB III
DECENTERING DAN DISEMINASI
DALAM TIGA CERPEN INDRA TRANGGONO TAHUN 2019
3.1 Pengantar
Dalam Bab ini akan dibahas langkah selanjutnya dalam melakukan dekonstruksi, yaitu decentering dan diseminasi. Proses decentering akan membalik hierarki dan ideologi yang sudah didapat dalam bab sebelumnya. Pembalikan ini akan mengangkat hierarki yang sebelumnya ada di bawah dan menguatkan ideologi-ideologi yang tertimbun oleh pemaknaan ideologi sebelumnya. Tahapan itu juga berdampak dengan penggambaran tokoh di dalam cerita, karena setelah dilakukan decentering tokoh yang sebelumnya tersingkirkan akan memiliki porsi yang lebih dominan. Hal itu dilakukan untuk memberikan sebuah pandangan lain terhadap teks cerpen.
Proses decentering akan memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru yang menyebar, atau biasa disebut dengan diseminasi. Pemaknaan ini akan muncul karena terjadinya penundaan makna terhadap makna sebelumnya. Tahap ini dilakukan untuk menetralkan teks dari pemaknaan tunggal. Teks yang sebelumnya terkesan mendukung sebuah ideologi akan menjadi teks lebih beragam, karena memiliki banyak makna yang berbeda.
3.2 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Professor Pogob”
Proses decentering memiliki dua tahap. Tahap pertama adalah mencari ideologi baru yang terdapat di dalam teks. Tahap selanjutnya adalah mencari
penyebaran makna baru yang tersebar di dalam teks. Berikut penjelasan dari tiap tahap tersebut.
3.2.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru
Pembacaan pertama pada teks cerpen memperlihatkan bahwa hierarki metafisik yang lebih tinggi ada pada kubu Profesor Pogob. Profesor Pogob terlihat sebagai orang yang disalahpahami meskipun dia rela berkorban demi kemajuan bangsa. Hal itu berbeda dengan kubu demonstran yang meliputi mahasiswa dan rakyat. Para demonstran terlihat sebagai orang yang mudah tersulut emosi dan pengrusak. Hierarki tersebut akan dihapuskan dan dibalik. Tindakan Profesor Pogob akan dipertanyakan ulang dan sentimen terhadap para demonstran akan dihilangkan. Hal itu akan memperbarui cara pandang teks dan memunculkan pemaknaan-pemaknaan baru. Berikut ilustrasi dari pembalikan hierarki yang ada di dalam teks.
Gambar 1
Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Profesor Pogob”
Profesor Pogob adalah pusat dari inti teks. Perjuangan Profesor Pogob membela para koruptor selalu disalahkan oleh rakyat, bahkan dimaki-maki. Dalam tahap ini, para demonstran akan menjadi pusat dari teks menggantikan Profesor Pogob.
Profesor Pogob (Koruptor, Pemerintah)
Demostran (rakyat)
Profesor Pogob (Koruptor, Pemerintah)
Demostran (rakyat)
Dalam Bab II ditemukan bahwa ideologi cerpen “Profesor Pogob” adalah keberanian Profesor Pogob dalam membela koruptor. Ideologi ini muncul karena tokoh Profesor Pogob adalah pusat di dalam teks. Dalam pembahasan ini, pusat tersebut akan digantikan oleh para demonstran. Lewat kutipan ini bisa dibuktikan bahwa pusat teks merupakan para demonstran.
“Namun bukannya dingin, suasana justru bertambah panas. Emosi para demonstran terbakar. Mereka ngamuk. Merusak fasilitas umum. Polisi bergerak. Terjadi gesekan. Korban-korban pun berjatuhan.” (Tranggono, 2019)
Kutipan tersebut menunjukkan perjuangan yang dilakukan oleh para demonstran. Mereka mengamuk karena ketidakadilan pada undang-undang terbaru.
Perjuangan mereka pun berakhir dengan tindakan represi yang dilakukan oleh polisi. Tindakan perusakan yang dilakukan oleh para demonstran hanya dilihat sekadar itu saja.
Pembelaan yang dilakukan oleh Profesor Pogob terhadap para koruptor pun menjadi hal yang dipertanyakan, karena menyebabkan banyaknya korban berjatuhan. Profesor Pogob membela koruptor atas dasar kemanusiaan, tetapi dia tidak memedulikan rakyat yang menjadi korban koruptor. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ideologi dari teks ini adalah keegoisan Profesor Pogob.
3.2.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru
Pada tahap ini, ideologi lama sudah digantikan dengan ideologi baru. Proses decentering memunculkan makna-makna baru, karena tergesernya pusat dari teks.
Profesor Pogob bukan lagi dilihat sebagai seseorang yang pemberani tetapi egois.
Selanjutnya penyebaran makna baru akan dijelaskan di bawah.
3.2.2.1 Tidak Tahu Malu
Pembalikan pusat menyebabkan keberanian dari tokoh Profesor Pogob sudah tidak berlaku. Senyum Profesor Pogob saat membaca umpatan terhadap dirinya di media sosial bukan lagi dilihat sebagai kesabaran, tetapi sebuah sikap tidak tahu malu. Tindakan Profesor Pogob menimbulkan banyak korban, tetapi dia menolak bahwa hal tersebut dampak dari tindakannya dan malah beranggapan bahwa kemarahan tersebut dibutuhkan demi kamajuan rakyat. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
“SENYUM Profesor Pagob berulang kali mengembang, saat menatap dada monitor handhone android-nya. Di medsos, kata-kata kasar, umpatan, caci-maki, bahkan kutukan bertaburan menghajar dirinya. Juga foto dan gambar yang merendahkan martabatnya. Namun, dia tetap tersenyum. “Dalam demokrasi rakyat punya hak marah. Demokrasi semakin cepat matang di tangan rakyat yang progesif.” Dia membatin.” ( Tranggono, 2019)
Sampai di akhir cerita, Profesor Pogob tetap membela rezim penguasa.
Profesor Pogob tidak pernah malu, bahkan dia dengan bangga mengakui dirinya bukan lah idealis dan pemimpi tolol. Profesor Pogob hanya mementingkan apa yang dia dapatkan dari rezim penguasa. Hal itulah yang menyebabkan rakyat marah dan memaki dia di sosial media, tetapi hal tersebut juga diacuhkan oleh Profesor Pogob.
Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa Profesor Pogob adalah orang yang tidak tahu malu.
3.2.2.2 Profesor Pogob Bermulut Besar
Melalui pembacaan dekonstruksi, tokoh Profesor Pogob sudah bukan menjadi tokoh yang dominan. Hal ini membuat setiap ucapannya tidak mutlak mengandung kebenaran, bahkan dipertanyakan. Profesor Pogob bukanlah orang yang jenius, dia hanya bermulut besar dan tidak bertanggung jawab. Hal tersebut terbukti dalam kutipan berikut.
““Kenapa Prof Pagob malah ngompori demonstran? Ini bahaya.
Sangat bahaya. Bisa memicu revolusi!!” ujar Dr Gizza Arlittea, anggota staf ahli presiden.
“Tenang, nona cantik. Tidak akan terjadi revolusi! Ini hanya riak-riak demokrasi.”
“Tapi kerusakan semakin meluas. Sangat banyak fasilitas publik hancur, Prof…”
“Biarkan mereka merusak agar mereka katarsis. Sekali-sekali pemerintah mesti keluarkan duit untuk membiayai kemarahan rakyat. Nanti rakyat lelah sendiri..”
“Saya tak paham logika Anda…” ujar Gizza pergi.” (Tranggono, 2019)
Dari kutipan di atas, terlihat bahwa setiap jawaban dari Profesor Pogob hanyalah bualan saja. Dia menganggap enteng dan tidak memberikan sebuah solusi yang dibutuhkan. Dr Gizza tidak mengerti logika Profesor Pogob karena memang ucapan tersebut adalah logika bebal yang tidak memedulikan dampak terhadap orang lain. Profesor Pogob selalu berkata bahwa setiap amarah dan perusakan yang dilakukan oleh rakyat merupakan hal yang dibutuhkan untuk kemajuan demokrasi.
kenyataannya hal tersebut tidak terbukti. Rakyat tidak menjadi seperti apa yang Profesor Pogob katakan, tetapi malah makin menjadi menderita.
3.2.2.3 Kepengecutan
Pada pembacaan pertama pada teks, Profesor Pogob terlihat berani pasang badan untuk pemerintah. Akan tetapi setelah didekonstruksi, tindakan tersebut
terjadi bukan karena keberanian melainkan kepengecutan. Risiko dari tindakan Profesor Pogob hanyalah umpatan di media sosial dan orang-orang yang Profesor Pogob bela adalah para penguasa. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
“Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa.”
(Tranggono, 2019)
Pembelaan yang dilakukan oleh Profesor Pogob akan sangat berbeda jika orang yang dia bela adalah rakyat. Risiko yang dialami akan menjadi lebih besar karena orang yang akan dia hadapi adalah para penguasa. Risikonya tidak hanya berupa makian di sosial media, tetapi hal-hal yang lebih menakutkan seperti pembunuhan. Berdasarkan penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa Profesor Pogob adalah seorang pengecut. Dia hanya berani melakukan sesuatu atas perintah dari penguasa untuk mencari aman.
3.3 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”
Proses decentering memiliki dua tahap. Tahap pertama adalah mencari ideologi baru yang terdapat di dalam teks. Tahap selanjutnya adalah mencari penyebaran makna baru yang tersebar di dalam teks. Berikut penjelasan dari tiap tahap tersebut.
3.3.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru
Pembacaan pertama pada teks cerpen memperlihatkan bahwa hierarki metafisik yang lebih tinggi ada pada kubu Bangsa Kopi. Bangsa Kopi diperlihatkan sebagai kelompok yang tertindas dan menderita. Berbeda dengan Penyair dan Petani yang diperlihatkan menindas Bangsa Kopi demi keuntungan pribadi. Dalam tahap ini, hierarki tersebut akan dibalik. Penderitaan yang dialami oleh Bangsa Kopi
akan dilihat kembali dan sentimen terhadap Penyair dan Petani akan dihilangkan.
Hal tersebut akan memperbarui pandangan terhadap teks dan memunculkan pemaknaan baru. Berikut adalah ilustrasi pembalikan hierarki.
Gambar 2
Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”
Pada pembacaan pertama, Bangsa Kopi terlihat sebagai pihak yang lemah sedangkan Penyair dan Petani adalah pihak yang semena-mena. Setelah membalikkan hierarki teks, Bangsa Kopi tidak lagi dilihat sebagai pusat dalam teks.
Pusat teks akan digantikan oleh Penyair dan Petani. Hal tersebut menyebabkan Bangsa Kopi tidak lagi dilihat sebagai pihak yang harus dikasihani.
Dalam Bab II disimpulkan bahwa ideologi dari cerpen “Elegi Ampas Kopi”
adalah ketabahan Bangsa Kopi dalam menjalani penderitaan. Hal tersebut muncul karena pusat di dalam teks adalah Bangsa Kopi. Pada tahap ini Bangsa Kopi bukanlah pusat dari teks, pusat teks adalah Penyair dan Petani. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
“Sekarang kami hanyalah adonan ampas kopi. Tak ada lagi puja-puji lewat lagu atau lirik puisi. Kami tak lebih dari residu yang ngilu dirajam air mendidih tinggi suhu. Dibuang pun hanya menunggu waktu….”
(Tranggono, 2019) Bangsa Kopi
Manusia
(Penyair dan Petani) Bangsa Kopi
Manusia (Penyair dan Petani)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kondisi Bangsa Kopi sudah menjadi ampas yang sudah tidak memiliki fungsi lagi, akan tetapi Bangsa Kopi masih mengharapkan pujian. Selanjutnya Bangsa Kopi pun mengeluh tentang nasib yang dia alami. Hal tersebut membuat posisi Penyair seakan-akan kejam, padahal memang Bangsa Kopi sudah tidak memiliki kepentingan lagi bagi Penyair.
Pembacaan dekonstruksi memunculkan perspektif baru, sehingga terlihat bahwa penderitaan yang dialami oleh Bangsa Kopi adalah hal lalu yang dilebih-lebihkan. Bangsa Kopi merasa bahwa mereka adalah makhluk yang paling menderita dan menunjukkan dirinya sebagai korban. Hal ini membuat ideologi teks bergeser. Ideologi teks bukan lagi tentang ketabahan yang dialami oleh Bangsa Kopi, akan tetapi keluhan Bangsa Kopi terhadap nasibnya.
3.3.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru
Pada tahap ini, ideologi lama sudah digantikan dengan ideologi baru. Proses decentering memunculkan makna-makna baru, karena tergesernya pusat dari teks.
Cerita tidak lagi mengenai ketabahan Bangsa Kopi tetapi keluhannya. Selanjutnya penyebaran makna baru akan dijelaskan di bawah.
3.3.2.1 Sikap Narsis Menimbulkan Kekecewaan
Setelah dilakukan decentering, ideologi di dalam teks bukan lagi mengenai ketabahan yang dialami bangsa kopi. Perspektif yang baru pun muncul, begitu pula dengan makna baru. Salah satu makna yang muncul adalah mengenai sikap narsis yang dimiliki oleh Bangsa Kopi. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
“Ke mana para pencinta kopi itu pergi membawa seluruh kekayaan cita rasa kami? Apakah mereka di rumah menyeduh kami menjadi puisi?
Lalu tersaji secangkir kopi hangat yang terbuat dari remah-remah rindu dan
dipersembahkan bagi kerabat, handai tolan, dan kekasih.” (Tranggono, 2019)
Bangsa Kopi terlihat percaya diri terhadap cita rasa mereka. Pertanyaan mereka menunjukkan bagaimana mereka melihat diri mereka. Bangsa Kopi menganggap bahwa cita rasa mereka adalah hal yang istimewa karena mereka disajikan untuk sebuah karya puisi atau untuk orang yang istimewa. Padahal kopi bisa saja dilihat sebagai sekadar minuman saja.
Bangsa Kopi terlihat melebih-lebihkan nilai mereka, sehingga menghilangkan nilai praktis dan fungsi dari kopi itu sendiri. Penyair meminum kopi saat menulis puisi bukan untuk sebuah inspirasi, tetapi untuk menahan rasa kantuk.
Kopi yang diminum bersama kerabat, handai tolan, dan kekasih bukan untuk menunjukkan rindu, tetapi sebagai pelengkap bahkan formalitas semata.
Sikap narsis Bangsa Kopi lah yang membuat setiap tindakan yang dilakukan oleh Penyair dan Petani terkesan salah. Bangsa Kopi selalu ingin diperlakukan istimewa. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut.
“Sekarang kami hanyalah adonan ampas kopi. Tak ada lagi puja-puji lewat lagu atau lirik puisi. Kami tak lebih dari residu yang ngilu dirajam air mendidih tinggi suhu. Dibuang pun hanya menunggu waktu….”
(Tranggono, 2019)
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa Bangsa Kopi sudah menjadi ampas kopi. Mereka kecewa mengetahui bahwa mereka akan dibuang. Mereka masih haus akan pujian, padahal mereka tidak memiliki manfaat lagi bagi Penyair. Hal ini menunjukkan sikap narsis Bangsa Kopi. Mereka ingin selalu mendapatkan pujian dan diutamakan, bukan dibuang. Kekecewaan itu pun berlanjut dengan berbagai
keluhan. Dari penjelasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa sikap narsis menyebabkan kekecewaan.
3.3.2.2 Penderitaan Diperlukan untuk Meraih Potensi
Sebelum dilakukan decentering, penderitaan yang dialami oleh Bangsa Kopi terlihat sebagai hal-hal yang menyedihkan. Proses pembalikan pusat dari Bangsa Kopi ke Penyair dan Petani memberikan perspektif baru dalam melihat penderitaan tersebut. Sentimen terhadap tindakan yang disebut penderitaan oleh Bangsa Kopi dihilangkan. Hal tersebut memunculkan sebuah pemaknaan baru, yaitu tindakan yang dilakukan oleh Penyair dan Petani bukan merupakan penyiksaan tetapi sebagai sebuah proses untuk mencapai potensi rasa dari Bangsa Kopi. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
“Ternyata itu baru penderitaan awal. Buah-buah kami pun dikuliti, lalu dijemur berhari-hari hingga kering. Setelah itu kami harus menghadapi panasnya wajan penggorengan ketika tubuh-tubuh kami disangrai. Kami pikir penderitaan itu sudah selesai. Ternyata kami pun harus tabah untuk digiling atau ditumbuk.” (Tranggono, 2019)
“Penyair itu tak pernah membayangkan betapa pedihnya tubuh-tubuh kami diguyur air mendidih 100 derajat Celsius dalam cangkir mungil itu. Tanpa permisi, genangan air panas itu menghajar setiap butiran kopi kami hingga hancur dan menjelma jadi bubur. Lalu mereka pun tanpa ampun mengisap dan melebur jiwa rasa kami. Maka, ketika engkau mencium aroma sedap harum uap kopi, sadarlah bahwa yang kaucium itu sesungguhnya jeritan jiwa kami.” (Tranggono, 2019)
Kutipan pertama memperlihatkan proses yang dilakukan oleh Petani kepada Bangsa Kopi. Petani menguliti kulit buah kopi, menjemur, menyangrai, dan menggiling untuk mengubah biji kopi menjadi bubuk kopi. selanjutnya memperlihatkan bagaimana Penyair menyeduh bubuk kopi. Proses tersebut membuat kopi menjadi memiliki rasa yang nikmat dan aroma yang sedap. Tanpa melalui proses tersebut bangsa kopi hanya akan menjadi buah biasa di pohon.
Proses tersebutlah yang membuat bangsa kopi menjadi istimewa dan memiliki tujuan serta manfaat, yaitu untuk dinikmati. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa penderitaan diperlukan untuk mendapatkan potensi.
3.3.2.3 Jeritan adalah Tindakan yang Sia-Sia
Pada Bab II dijelaskan bahwa ideologi dari cerpen “Elegi Ampas Kopi”
adalah ketabahan bangsa kopi menghadapi penderitaan. Pembalikan pusat teks menyebabkan ideologi tersebut tidak berlaku. Ketabahan yang dimiliki oleh Bangsa Kopi pun dipertanyakan ulang, sehingga memunculkan pemaknaan baru. Bangsa Kopi tidak memiliki ketabahan, akan tetapi selalu mengeluh terhadap hal-hal yang mereka alami. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut.
“...Maka, ketika engkau mencium aroma sedap harum uap kopi, sadarlah bahwa yang kaucium itu sesungguhnya jeritan jiwa kami.” (Tranggono, 2019)
“...Ternyata kami pun harus tabah untuk digiling atau ditumbuk. Tubuh kami remuk. Jiwa kami hancur. Kami menjerit, tapi jeritan kami dilibas deru mesin penggiling atau talu besi penumbuk...” (Tranggono, 2019)
Dari dua kutipan tersebut terlihat bahwa dalam menghadapi penderitaannya, Bangsa Kopi hanya menjerit. Jeritan dan keluhan selalu muncul pada tiap penderitaan. Mereka hanya menjerit dan menyerah. Bangsa Kopi tidak mencoba menggunakan cara lain seperti mencoba berkomunikasi atau melawan Penyair dan Petani. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa jeritan tidak menyelesaikan permasalahan.
3.4 Decentering dan Diseminasi dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”
Proses decentering memiliki dua tahap. Tahap pertama adalah mencari ideologi baru yang terdapat di dalam teks. Tahap selanjutnya adalah mencari
penyebaran makna baru yang tersebar di dalam teks. Berikut penjelasan dari tiap tahap tersebut.
3.4.1 Pembalikan Hierarki Metafisik dan Ideologi Baru
Pembacaan pertama pada teks cerpen memperlihatkan bahwa hierarki metafisik yang lebih tinggi ada pada kubu Maruti. Maruti diperlihatkan sebagai orang yang tertindas dan menderita sehingga simpati pembaca terpusat pada Maruti.
Hal tersebut bertolak belakang dengan tokoh Dargo yang diperlihatkan sebagai orang yang mesum dan tidak bertanggung jawab. Dalam tahap ini hierarki tersebut akan dibalik. Tokoh Maruti akan dilihat kembali, dan sentimen terhadap tokoh Dargo akan dihilangkan. Hal ini akan memunculkan perspektif dan pemaknaan baru terhadap teks. Berikut adalah ilustrasi pembalikan hierarki teks.
Gambar 3
Ilustrasi Pembalikan Hierarki dalam Cerpen “Di Atas Tanah Retak”
Pada pembacaan pertama, Maruti terlihat sebagai pihak yang lemah sedangkan Dargo adalah pihak yang semena-mena. Setelah membalikkan hierarki teks, Maruti tidak lagi dilihat sebagai pusat dalam teks. Pusat teks akan digantikan oleh Dargo sehingga Maruti tidak lagi dilihat sebagai pihak yang harus dikasihani.
Dalam Bab II disimpulkan bahwa ideologi dari cerpen “Di Atas Tanah Retak” adalah kemalangan Maruti dalam hidupnya. Hal tersebut muncul karena
Maruti
Dargo Maruti
Dargo
pusat di dalam teks adalah Maruti. Pada tahap ini Maruti bukanlah pusat dari teks, pusat teks adalah Dargo. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
“Usai pentas tayup, seluruh rombongan penari dan pemusik makan di ruang depan kelurahan. Hanya Maruti yang diperbolehkan makan di dalam kamar bersama Dargo dan Pak Kades. Dargo punya kesempatan untuk mengamati kecantikan Maruti. Juga menikmati suara, tutur katanya yang halus. Beberapa kali Dargo menahan napas. Mereka pun ngobrol.
Dargo tampak bergairah bicara tanpa peduli pada Maruti yang lelah.
Beberapa ucapan nakal pun sempat terlontar, tapi Maruti menanggapinya dengan tersenyum. Dari ibunya, Maruti pernah mendengar, kebanyakan laki-laki itu berubah nakal bila ada kesempatan. Kamu mesti hati-hati, Maruti.” (Tranggono, 2019)
Kutipan di atas menceritakan bagaimana Dargo tertarik dengan Maruti.
Dargo yang bergairah pun menggoda Maruti dengan ucapan nakal. Rasa tertarik yang dimiliki oleh Dargo tidak bisa disalahkan. Kata nakal yang diucapkan Dargo juga bisa dilihat sebagai menggoda dan bermain-main bukan untuk melecehkan.
Maruti hanya menanggapi Dargo dengan senyuman, sehingga Dargo jadi menganggap bahwa apa yang ia lakukan tidak mengganggu Maruti.
Maruti mau untuk diajak makan di kamar bersama Dargo dan Pak Kades.
Hal ini menunjukkan bahwa Maruti hanya pasrah saja terhadap tindakkan orang lain. Kepasrahan inilah yang menyebabkan dia menjadi sasaran empuk Dargo. Jika saja Maruti berani melawan dengan menceritakan perbuatan Dargo ke masyarakat, mungkin saja Dargo tidak akan mengganggu Maruti karena Dargo sangat mementingkan nama baiknya. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan berikut.
“Ya, ndak bisa…. Nanti orang-orang bisa marah. Saya kan telanjur dicap sebagai pendoa dan jadi panutan….” (Tranggono, 2019)
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa ideologi teks yang baru adalah tentang ketakutan Maruti dalam menghadapi Dargo. Dalam pembahasan
selanjutnya, pusat teks adalah tokoh Dargo. Segala macam pemaknaan akan berporos pada tokoh Dargo.
3.4.2 Diseminasi dan Pemaknaan Baru
Pada tahap ini, ideologi lama sudah digantikan dengan ideologi baru. Proses decentering memunculkan makna-makna baru, karena tergesernya pusat dari teks.
Ideologi di dalam teks bukan lagi mengenai kemalangan Maruti tetapi ketakutan Maruti. Pusat teks juga sudah tergeser, sehingga menimbulkan perspektif baru.
Ideologi di dalam teks bukan lagi mengenai kemalangan Maruti tetapi ketakutan Maruti. Pusat teks juga sudah tergeser, sehingga menimbulkan perspektif baru.