BAB II HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA
2.3 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Elegi Ampas Kopi”
2.3.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable dan Hierarki Metafisik
Setelah menentukan unsur hierarki metafisik yang terdapat di dalam cerpen, langkah pertama adalah menentukan oposisi binernya. Oposisi biner di dalam teks akan menunjukkan bagaimana setiap kata di dalam teks cerpen saling berlawanan.
Terjadi pelemahan makna kata maupun penguatan makna kata yang tersebar dalam teks. Untuk menunjukannya, penulis membuat tabel untuk menunjukkan kata mana saja yang saling beroposisi di dalam teks cerpen “Elegi Ampas Kopi”.
Tabel 2
Oposisi Biner cerpen “Elegi Ampas Kopi”
Kubu Bangsa Kopi Kubu Manusia
Rela Paksa
Bertemu Pergi
Jiwa Tubuh
Teguh Remuk
Menyatu Melebur
Hangat Panas
Membawa Dibuang
Melanjutkan Mengundurkan
Tabel 2 di atas menunjukkan kata-kata yang beroposisi di dalam cerpen
“Elegi Ampas Kopi”. Oposisi dalam kata tersebut menunjukkan bahwa makna yang ada di dalam teks tidak stabil. Kata rela dan paksa memiliki sifat pemaknaan yang seakan berbeda. Kata rela lebih berkesan baik dibandingkan paksa. Padahal kata paksa juga bisa berarti melakukan sesuatu dengan melampai batasan-batasan. Kata bertemu juga seakan lebih baik dibanding kata pergi. Kata bertemu berkesan sebuah harapan sedangkan kata pergi bisa berkesan melarikan diri dari tanggung jawab.
Kata jiwa memiliki makna yang lebih baik dibandingkan tubuh. Kata jiwa berkesan suci dan kekal sedangkan tubuh berkesan fana. Padahal kata jiwa juga bisa bersifat kotor dan tubuh bisa bersifat suci. Kemudian kata teguh juga terlihat lebih baik dibandingkan kata remuk. Kata teguh berkesan kuat sedangkan remuk sebaliknya. Padahal kata teguh juga bisa terkesan kaku dan kata remuk sebagai dampak dari sebuah pengorbanan.
Kemudian kata menyatu terlihat lebih kuat dibandingkan kata melebur, padahal yang menyatu belum tentu menghasilkan sesuatu yang harmoni yang mana bisa dicapai dalam hal yang melebur. Kata hangat juga memiliki kesan lebih baik
dibandingkan kata panas. Kata hangat bisa dilihat sebagai kondisi yang memberikan kenyamanan sedangkan kata hangat sebagai perusak. Padahal kata panas juga bisa dilihat sebagai hal yang tanggung dan tidak maksimal sedangkan kata panas bisa dilihat sebagai hal yang mematangkan.
Kata membawa dilihat lebih baik dibandingkan dengan kata dibuang. Kata membawa di dalam teks digambarkan sebagai tindakan yang mendatangkan hal baik sedangkan dibuang sebagai tindakan menelantarkan. Padahal kata membawa bisa juga mendatangkan hal-hal buruk dan dibuang sebagai tindakan untuk menjauhkan diri terhadap hal-hal buruk. Kata melanjutkan terlihat lebih baik dibandingkan kata mengundurkan. Kata melanjutkan digambarkan sebagai tindakan yang penuh perjuangan sedangkan kata mengundurkan adalah tindakan menyerah. Padahal kata melanjutkan juga bisa berkesan memaksakan dan kata mengundurkan bisa sebagai tindakan untuk mengganti hal yang baru.
Sisi kiri pada tabel 2 menunjukkan penggambaran teks terhadap bangsa kopi. Kata-kata tersebut melemahkan oposisi maknanya, sehingga memperlihatkan penderitaan yang dialami bangsa kopi lebih dominan di dalam teks cerpen. Padahal kedua oposisi kata tersebut berada di dalam satu teks. Hal ini berdampak dengan penggambaran kubu Penyair dan Petani yang hanya diceritakan sedikit dengan kata-kata yang berkesan tidak lebih baik dengan gambaran kata-kata pada kubu Bangsa Kopi. Kubu ini menjadi terlihat sebagai kelompok yang menindas.
Meskipun sudah dianalisis oposisi biner dari teks ini, tetapi masih ditemukan kata yang undecidable, yaitu kata penderitaan. Kata penderitaan tidak
bisa ditentukan posisinya dalam tabel di atas. Konsep penderitaan di dalam teks memiliki beberapa makna yang ditunjukan dalam tiga kutipan berikut.
“Sejarah bangsa kopi adalah sejarah penderitaan. Begitu nenek moyang kopi pernah bilang. Ya, penderitaan...” (Tranggono, 2019)
“Ternyata itu baru penderitaan awal. Buah-buah kami pun dikuliti, lalu dijemur berhari-hari hingga kering. Setelah itu kami harus menghadapi panasnya wajan penggorengan ketika tubuh-tubuh kami disangrai. Kami pikir penderitaan itu sudah selesai. Ternyata kami pun harus tabah untuk digiling atau ditumbuk...” (Tranggono, 2019)
“...Kami pun paham. Kami harus tetap teguh menjadi bangsa kopi, selamanya. Dan harus melanjutkan episode-episode penderitaan kami.”
(Tranggono, 2019)
Pada kutipan pertama diceritakan bahwa penderitaan adalah hal yang terjadi di masa lampau leluhur mereka. Kutipan kedua menceritakan bahwa penderitaan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan diharap untuk segera usai.
Kutipan pertama dan kedua memiliki pemaknaan yang tidak berlawanan dan bisa digabungkan, yaitu Bangsa kopi mengharapkan penderitaan yang mereka alami sejak dahulu kala hingga sekarang segera usai.
Pemaknaan konsep penderitaan tersebut berbeda di kutipan ketiga. Kutipan ketiga menjelaskan penderitaan sebagai hal yang akan terjadi selamanya dan Bangsa Kopi harus teguh menjalaninya. Hal ini lah yang membuat pemaknaan dari konsep penderitaan bertabrakan di dalam teks dan tidak bisa ditentukan keberpihakannya. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa kata penderitaan di dalam teks cerpen Elegi Ampas Kopi merupakan unsur undecidable dan tidak utuh dalam menemukan makna tentang penderitaan itu sendiri.
Setelah menemukan oposisi biner dan unsur undecidable dalam cerpen Elegi Ampas Kopi, bisa disimpulkan bahwa terdapat dua kubu yang saling berlawanan di dalam cerita. Kubu pertama adalah Bangsa kopi, baik saat dia masih
menjadi pohon hingga menjadi Ampas Kopi. Di dalam cerpen, kubu pertama ini digambarkan menjadi pihak yang menderita karena tindakan dari kubu kedua yaitu Penyair dan Petani.
Hierarki Metafisik yang terdapat dalam cerpen Elegi Ampas Kopi sudah terlihat dari paragaraf pertama. Dalam paragraf tersebut pembaca dibuat bersimpati dengan kondisi ampas kopi. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan berikut.
“Sekarang kami hanyalah adonan ampas kopi. Tak ada lagi puja-puji lewat lagu atau lirik puisi. Kami tak lebih dari residu yang ngilu dirajam air mendidih tinggi suhu. Dibuang pun hanya menunggu waktu.” (Tranggono, 2019)
Kutipan tersebut menceritakan penderitaan yang dialami ampas kopi.
Ampas kopi tidak hanya disiksa dengan air panas tetapi juga dibuang oleh Penyair.
Di sisi lain, hal tersebut menunjukkan kekejaman Penyair terhadap ampas kopi sehingga posisi antara Ampas kopi dan Penyair saling berlawanan. Ampas kopi yang berkedudukan sebagai korban dan Penyair sebagai pelaku. Tidak hanya kutipan itu saja, terdapat banyak kutipan lain yang semakin mempertegas penderitaan dari kubu pertama. Berikut kutipan tersebut.
“Penyair itu tak pernah membayangkan betapa pedihnya tubuh-tubuh kami diguyur air mendidih 100 derajat Celsius dalam cangkir mungil itu. Tanpa permisi, genangan air panas itu menghajar setiap butiran kopi kami hingga hancur dan menjelma jadi bubur. Lalu mereka pun tanpa ampun mengisap dan melebur jiwa rasa kami. Maka, ketika engkau mencium aroma sedap harum uap kopi, sadarlah bahwa yang kaucium itu sesungguhnya jeritan jiwa kami.” (Tranggono, 2019)
“...Kami yang semula memiliki kedaulatan sebagai pohon harus rela ketika buah-buah kami dipetik para petani. Sangat menyakitkan ketika buah-buah kami yang menyatu dengan tubuh kami harus diambil paksa.
Bayangkan jika hidung, daun telinga, atau apa saja yang tumbuh di tubuhmu mendadak direnggut. Sakit. Sangat sakit.” (Tranggono, 2019)
“...Kami pikir penderitaan itu sudah selesai. Ternyata kami pun harus tabah untuk digiling atau ditumbuk. Tubuh kami remuk. Jiwa kami
hancur. Kami menjerit, tapi jeritan kami dilibas deru mesin penggiling atau talu besi penumbuk.” (Tranggono, 2019)
Ketiga kutipan di atas memperlihatkan ketidakberdayaan Bangsa Kopi.
Pada kutipan pertama, Bangsa Kopi tidak bisa melawan dan hanya bisa menahan rasa sakit diguyur air panas. Dalam kutipan kedua, pohon kopi juga tidak bisa melawan ketika buah-buahnya diambil paksa. Kutipan ketiga menceritakan rasa sakit Bangsa Kopi yang tetap digiling atau ditumbuk meskipun mereka sudah menjerit kesakitan. Dari ketiga kutipan tersebut bisa disimpulkan bahwa penderitaan yang dialami oleh bangsa kopi beragam bentuknya dan terjadi pada setiap tahap dalam hidup Bangsa Kopi. Bangsa kopi tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah terhadap nasib.
Di sisi lain, kutipan di atas juga menunjukkan bagaimana sikap kubu kedua, yaitu Penyair dan Petani terhadap kubu pertama. Kutipan kedua dan ketiga memperlihatkan kekejaman dari tokoh Petani. Dalam kutipan kedua petani terlihat semena-mena terhadap pohon kopi. Petani langsung mencabut biji-biji kopi tanpa ijin dan mempedulikan rasa sakit yang dialami pohon kopi. Di kutipan ketiga, petani tetap menggiling atau menumbuk biji-biji kopi yang sudah menjerit. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani tidak punya kepedulian sedikit pun terhadap bangsa kopi.
Tidak hanya petani, penyair juga berperilaku sama kejamnya. Dalam kutipan pertama, Penyair dengan kejam mengguyur biji-biji kopi dengan air panas.
Tidak hanya sampai disitu, Penyair juga menikmati aroma uap kopi yang merupakan jeritan jiwa Bangsa Kopi. Hal itu menunjukkan perilaku sadis dari Penyair.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kubu pertama adalah kubu yang ditindas oleh kubu kedua. Pembaca dibuat bersimpati terhadap penderitaan yang Bangsa kopi alami. Sebaliknya, pembaca merasa kubu kedua adalah kubu yang kejam. Kubu yang melakukan tindak kekerasan demi mendapatkan keuntungan. Keuntungan penyair adalah cita rasa dari secangkir kopi, dan keuntungan Petani adalah uang-uang dari hasil penjualan kopi olahan. Pembaca pun merasa bahwa kubu kedua adalah kubu yang jahat.
2.3.3 Ideologi Teks
Langkah selanjutnya setelah menentukan oposisi biner adalah mencari ideologi teks. Dalam dekonstruksi, ideologi akan dibalik untuk menemukan makna-makna baru. Ideologi ditemukan dengan melihat momen puncak yang ada di dalam cerpen. Momen puncak yang ada di dalam cerpen “Elegi Ampas Kopi” adalah ketika Bangsa Kopi ingin menyerah dari identitasnya. Momen puncak tersebut berada pada kutipan berikut.
Ya Tuhan, kenapa Engkau harus menciptakan manusia yang begitu kejam? Rasanya kami ingin mengundurkan diri dari bangsa kopi.
Mendengar jeritan kami, Tuhan hanya tersenyum. Kami pun paham. Kami harus tetap teguh menjadi bangsa kopi, selamanya. Dan harus melanjutkan episode-episode penderitaan kami. (Tranggono, 2019)
Setelah mengungkapkan perasaan mereka kepada Tuhan, bangsa kopi pun paham bahwa mereka harus teguh menjalani penderitaan mereka. Penderitaan yang banyak ditampilkan di dalam teks meneguhkan bahwa ideologi dari cerita adalah ketabahan Bangsa Kopi dalam menghadapi penderitaan. Penderitaan yang Bangsa Kopi terjadi sejak mereka masih berupa buah hingga ampas yang dibuang.
Penderitaan itu sudah lama terjadi dan akan terus berlanjut selamanya. Di akhir
cerita bangsa kopi memilih untuk menerima nasibnya dan meneguhkan diri dalam menghadapi kelanjutan dari penderitaan mereka.