• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis Penelitian

Dalam dokumen TESIS OLEH REZKI ZURRIAH (Halaman 66-0)

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.2. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, perumusan masalah dan kerangka konsep, maka diajukan tiga hipotesis penelitian berikut ini :

H1 : Terdapat pengaruh signifikan mekanisme good corporate governance (diproksikan : kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage (diproksikan : DAR) terhadap nilai perusahaan secara simultan dan parsial.

H2 : Terdapat pengaruh signifikan manajemen laba rill terhadap nilai perusahaan.

H3 : Terdapat pengaruh signifikan mekanisme good corporate governance (diproksikan : kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage (diproksikan : DAR) terhadap nilai perusahaan melalui manajemen laba rill sebagai variabel intervening.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penelitian merupakan proses penemuan solusi secara sistematis, logis, dan objektif terhadap suatu masalah spesifik berdasarkan data yang dikumpulkan (Sularso, 2003). Jenis penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian kausal atau sebab akibat karena untuk melihat hubungan pengaruh antara variabel independen, variabel dependen ataupun variabel intervening.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di situs Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id dan Pojok Bursa Universitas Sumatera Utara. Waktu penelitian dimulai dari Mei 2015 sampai dengan Oktober 2015.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi menurut Kuncoro (2007) adalah kelompok elemen yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian yang mempunyai kualitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar di dalam Jakarta Islamic Index (JII) selama periode 2010-2014 yang berjumlah 56 perusahaan. Daftar populasi perusahaan tercantum dalam lampiran 1.

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah purposive sampling.

Purposive sampling adalah suatu proses pengambilan sampel dengan menentukan

terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan kriteria tertentu (Sugiyono, 2008). Kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Telah terdaftar minimal sekali setahun di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2010 – 2014.

2. Menerbitkan laporan keuangan tahunan dari tahun 2010 – 2014.

3. Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.

4. Bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional.

5. Usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan atau minuman yang haram.

6. Tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan dan menyediakan barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan diatas, diperoleh 12 perusahaan sampel (lampiran 1) dengan 60 unit analisis observasi selama 5 tahun dari 2010 sampai 2014.

4.4 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang berupa laporan keuangan tahunan perusahaan. Metode pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan untuk memperoleh data yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan studi dokumentasi. Dimana pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari pojok BEI Universitas Sumatera Utara, Indonesian Capital Market Directory

(ICMD) dan situs resmi Bursa Efek Indonesia. Data yang diperoleh berupa data time series dan cross sectional atau dapat disebut juga sebagai pooling data.

4.5 Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2010), definisi operasional variabel adalah suatu atribut atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang ditetapkan pleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

Penelitian ini menggunakan enam variabel independen yaitu kepemilikan institusional (X1), komisaris independen (X2), ukuran dewan komisaris (X3), arus kas bebas (X4), ukuran peusahaan (X5) dan leverage (X6). Variabel dependen yaitu nilai perusahaan (Y) dan variabel intervening manajemen laba (Z). Adapun definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian diuraikan berikut ini :

4.5.1 Variabel Independen

1. Kepemilikan Institusional (X1)

Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan saham oleh investor institusi terhadap total saham yang beredar di perusahaan. Kepemilikan institusional diukur dengan skala rasio melalui rumus :

Kepemilikan Institusional = % 2. Komisaris Independen (X2)

Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, dengan salah satu karakteristik dewan yang berhubungan dengan kandungan informasi laba. Komisaris independen di ukur dengan skala rasio melalui rumus :

Komisaris Independen =

. . %

3. Ukuran Dewan Komisaris (X3)

Ukuran dewan komisaris adalah jumlah dewan komisaris yang bertugas dan bertanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Dalam UUPT No. 40 Tahun 2007 disebutkan bahwa dalam perusahaan harus memiliki minimal 2 orang anggota dewan komisaris. Ukuran dewan komisaris diukur dengan skala nominal melalui rumus :

Ukuran Dewan Komisaris = Jumlah total anggota dewan komisaris 4. Arus Kas Bebas (X4)

Arus kas bebas adalah arus kas dalam perusahaan yang dihasilkan dalam satu periode akuntansi setelah dikurangi biaya operasional dan pengeluaran perusahaan lainnya. Free cash flow dapat diukur dengan skala rasio melalui rumus :

Arus Kas Bebas = Arus kas operasi – pengeluaran modal 5. Ukuran Perusahaan (X5)

Ukuran perusahaan adalah salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan skala rasio melalui rumus :

Ukuran perusahaan = Log total aktiva 6. Leverage (X6)

Leverage adalah hutang sumber dana yang digunakan oleh perusahaan yang membiayai asetnya diluar sumber dana modal. Leverage diproksikan DAR melalui skala rasio dengan rumus :

DAR =

x 100%

4.5.2 Variabel Dependen Nilai Perusahaan (Y)

Nilai perusahaan adalah kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat atau investor terhadap perusahaan. Dalam penelitian ini nilai perusahaan diukur dengan skala rasio melaui Tobin’s Q dengan rumus :

Q = Dimana :

Q : Nilai perusahaan

EMV : Nilai pasar ekuitasa (Equity Market Value) yang diperoleh dari hasil perkalian harga saham penutupan (closing price) akhir tahun dengan jumlah saham yang beredar pada akhir tahun.

EBV : Nilai buku dari ekuitas (Equity Book Value) D : Nilai buku dati total hutang

4.5.3 Variabel Intervening Manajemen Laba (Z)

Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya atau perusahaan.

Manajemen laba dalam penelitian ini diukur dengan skala rasio menggunakan manajemen laba rill yang diproksi oleh :

 Abnormal CFO

CFOt / At-1 = α0 + α1 (1/ At-1) + α2 (St / At-1) + α3 (∆St / At-1) + ε

 Abnormal discretionary expenses

DISEXPt / At-1 = α0 + α1 (1/ At-1) + α2 (St-1 / At-1) + ε

 Abnormal production costs

PRODt / At-1 = α0 + α1 (1/ At-1) + α2 (St / At-1) + α3 (∆St / At-1) + α4 (∆St-1 / At-1) + ε

Dimana :

CFOt : arus kas operasi perusahaan i pada tahun t

DISEXPt :discretionary expenses perusahaan i pada tahun t

PRODt :production costs perusahaan i pada tahun t

At-1 :total asset perusahaan i pada tahun t

St : total penjualan perusahaan i pada tahun t

Jadi sebagai proksi keseluruhan dari manajemen laba rill maka abnormal CFO, abnormal discretionary expenses dan abnormal production costs dijumlahkan untuk dapat menangkap efek keseluruhan dari manajemen laba rill. Untuk menyamakan arahnya maka abnormal production costs dikalikan dengan minus satu (-1) sebelum penjumlahan.

Manajemen Laba Rill (MLR) = CFO + DISEXP + (PROD x -1)

Berdasarkan uraian diatas, ringkasan definisi operasional dan pengukuran variabel tercantum pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian Variabel Definisi Operasional Parameter / Indikator Skala Kepemilikan

Institusional (X1)

Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan saham oleh investor institusi terhadap total saham yang beredar di perusahaan.

Kepemilikan Institusional =

Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, dengan salah satu karakteristik dewan yang berhubungan dengan

kandungan informasi laba.

Komisaris Independen =

Ukuran dewan komisaris adalah jumlah dewan komisaris yang bertugas dan bertanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan.

Jumlah total anggota dewan komisaris, baik yang berasal dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.

Rasio

Arus Kas Bebas(X4)

Arus kas bebas adalah arus kas dalam perusahaan yang dihasilkan dalam satu periode akuntansi setelah dikurangi biaya operasional dan pengeluaran perusahaan lainnya.

Arus Kas Bebas = Arus kas operasi – pengeluaran modal

Rasio

Ukuran Perusahaan (X5)

Ukuran perusahaan adalah salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan.

Log total aktiva. Rasio

Leverage (X6)

Leverage adalah hutang sumber dana yang digunakan oleh perusahaan yang

membiayai asetnya diluar sumber dana modal.

Nilai perusahaan adalah kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat atau investor terhadap perusahaan.

Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya atau perusahaan.

MLR) = CFO + DISEXP + (PROD x -1)

Rasio

Sumber : Definisi Operasional diolah oleh Peneliti (2015).

4.6 Model dan Teknik Analisis

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi dengan variabel intervening melalui analisis jalur (path analysis). Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Analisis regresi berganda digunakan untuk meramalkan bagaimana keadaan variabel dependen bila dihubungkan dengan dua atau lebih variabel independen (Ghozali, 2006). Penelitian ini dibagi menjadi tiga model, dengan persamaan model regresi sebagai berikut :

Model 1 untuk hipotesis 1 :

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β 3X3 + β 4X4 + β5X5 + β6X6 + e

Model 2 untuk hipotesis 2 : Y = β0 + βZ+ e

Model 3 untuk hipotesis 3 :

 Persamaan Sub Struktural 1

Z = ρ1X1 + ρ2X2 + ρ3X3 + ρ4X4 + ρ5X5 + ρ6X6 + e

 Persamaan Sub Struktural 2

Y = ρ1X1 + ρ2X2 + ρ3X3 + ρ4X4 + ρ5X5 + ρ6X6 + ρ7Z + e Dimana :

Y : Nilai Perusahaan β0 : Konstanta

X1 : Kepemilikan Institusional X2 : Komisaris Independen

X3 : Ukuran dewan komisaris X4 : Arus Kas Bebas

X5 : Ukuran perusahaan X6 : Leverage

Z : Manajemen Laba Rill

β1 – β6: Koefisien Regresi ρ1 – ρ7 : Koefisien Regresi

e : error

4.6.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang terlihat dari nilai rata – rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi). Skewness mengukur kemencengan dari data dan kurtosis mengukur puncak dari distribusi data. Data yang terdistribusi secara normal mempunyai nilai skewness dan kurtosis mendekati nol (Ghozali, 2011).

4.6.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik diperlukan untuk dapat melakukan analisis regresi berganda sebagai persyaratan dalam analisis agar data dapat bemakna dan

bermanfaat. Pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.

4.6.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal (Ghozali, 2011). Pada penelitian ini uji normalitas data yang digunakan adalah dengan uji kolmogorov smirnov dengan melihat tingkat signifikansi 5%

dan uji normalitas dilihat dengan grafik histogram dan grafik normal P-P Plot.

4.6.2.2 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut himoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011). Pada penelitian ini digunakan grafik plot untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedastisitas. Dengan dasar analisis jika ada pola tertentu, seperti titik – titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas, secara titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.6.2.3 Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independensaling berkolerasi, maka variabel – variabel ini tidak ortogonal (Ghozali, 2011). Pada penelitian ini uji multikolonieritas dideteksi dengan menggunakan variance inflation factor (VIF) dan tolerance. Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0.10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10.

4.6.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Untuk melihat adanya autokorelasi yaitu dengan Durbin Watson (DW) dimana dengan membandingkan nilai DW statistik dengan DW tabel, dengan pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi :

1. Tidak ada autokorelasi positif maka keputusan ditolak jika 0 < d < dl.

2. Tidak ada autokorelasi positif maka keputusan no desicison jika dl ≤ d ≤ du.

3. Tidak ada korelasi negatif maka keputusan ditolak jika 4 – dl < d < 4.

4. Tidak ada korelasi negatif maka no desicion jika 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl.

5. Tidak ada autokorelasi positif atau negatif maka keputusan tidak ditolak jika du < d < 4 – du.

4.6.3 Uji Hipotesis Penelitian

4.6.3.1 Uji Hipotesis 1

4.6.3.1.1 Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.

Nilai yang mendekati satu berarti variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghazali, 2011).

4.6.3.1.2 Uji Statistik F (Uji Simultan)

Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan ke dalam model mempunyai pengaruh secara bersama – sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2011). Adapun kriteria pengujian untuk uji F yaitu :

a. Membandingkan nilai F hitung dengan F tabel F hitung > F tabel = H1 dapat diterima

F hitung < F tabel = H1 tidak dapat diterima b. Quick look

P Value (sig) < 0.05 = H1 dapat diterima

P Value (sig) > 0.05 = H1 tidak dapat diterima 4.6.3.1.3 Uji Statistik t (Uji Parsial)

Uji statistik t menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011). Kriteria pengujian untuk uji statistik t yaitu :

a. Membandingkan nilai t hitung dengan t tabel t hitung > t tabel = H1 dapat diterima

t hitung < t tabel = H1 tidak dapat diterima b. Quick look

P Value (sig) < 0.05 = H1 dapat diterima P Value (sig) > 0.05 = H1 tidak dapat diterima

4.6.3.2 Uji Hipotesis 2

4.6.3.2.1 Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.

Nilai yang mendekati satu berarti variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghazali, 2011).

4.6.3.2.2 Uji Statistik t

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011). Kriteria pengujian untuk uji statistik t yaitu :

a. Membandingkan nilai t hitung dengan t tabel t hitung > t tabel = H2 dapat diterima

t hitung < t tabel = H2 tidak dapat diterima b. Quick look

P Value (sig) < 0.05 = H2 dapat diterima P Value (sig) > 0.05 = H2 tidak dapat diterima

4.6.3.3 Uji Hipotesis 3 dengan Path Analysis 4.6.3.3.1 Mendeteksi Pengaruh Mediasi

Menurut Baron & Kenny (1986) dalam Ghozali (2011) suatu variabel disebut variabel intervening jika variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Pengujian hipotesis mediasi dapat dilakukan dengan prosedur yang dikenal dengan uji sobel (sobel test). Dimana uji sobel ini dilakukan untuk menguji kekuatan pengaruh tidak langsung antara variabel independen kepada variabel dependen melalui variabel intervening dengan menghitung nilai t hitung uji sobel dari koefisien persamaan a dan b melalui rumus : t =

Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel, jika nilai t hitung >

nilai t tabel maka dapat disimpulkan terjadi pengaruh mediasi (H3 diterima).

4.6.3.3.2 Analisis Jalur (Path Analysis)

Untuk menguji pengaruh variabel intervening digunakan metode analisis jalur (path analysis). Analisis jalur merupakan perluasan dari analisis regresi berganda atau dengan kata lain penggunaan analisis regresi untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel (model causal) yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Apa yang dapat dilakukan oleh analisis jalur adalah menentukan pola hubungan antara ketiga atau lebih variabel dan tidak dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau menolak hipotesis kausalitas imajiner (Ghozali, 2011). Kriteria uji variabel intervening sebagai berikut :

a. Sobel Test, dimana asumsi jumlah sampel besar dan nilai koefisien mediasi berdistribusi normal.

b. Bootsrapping, yaitu pendekatan non-parametrik yang tidak mengasumsikan bentuk distribusi variabel dan dapat diaplikasikan pada jumlah sampel kecil.

Dalam penelitian ini menggunakan 12 perusahaan sampel dengan 60 unit analisis observasi selama 5 tahun, maka penelitian ini tergolong dalam sampel diatas 30 atau jumlah sampel besar. Oleh karena itu dapat menggunakan sobel test dalam penelitian ini.

 

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai variabel – variabel penelitian yang diamati. Pengukuran statistik deskriptif dalam penelitian ini menghasilkan perhitungan sebagaimana tercantum dalam tabel 5.1.

Tabel 5.1. Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Nilai Perusahaan (Y) 60 ,0010 ,8600 2,09632 ,2122652

KI (X1) 60 ,1039 ,9575 ,326232 ,2286965

Kom Independen (X2) 60 ,2568 ,5676 ,472520 ,0768841

UDK (X3) 60 4 11 6,70 1,619

AKB (X4) 60 -945600 979374 312156,70 325079,417 UP (X5) 60 79749 941787 301936,95 253076,309 Leverage (X6) 60 ,1315 ,8843 ,459125 ,1803749

MLR (Z) 60 ,0680 ,8547 ,445085 ,2075491

Valid N (listwise) 60

Sumber : Lampiran 3 (Data diolah, 2015)

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dijelaskan nilai minimum, nilai maximum, mean dan standar deviasi dari masing – masing variabel dengen 60 observasi selama tahun 2010 sampai 2014 :

1. Nilai perusahaan (Y) yang dihitung dengan tobin’s Q menunjukkan apabila nilai tobin’s Q diatas satu maka investasi dalam aktiva menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi untuk menarik investor dan sebaliknya. Pada penelitian ini rata – rata nilai perusahaan sebesar 2,09632 artinya perusahaan sampel yang terdaftar di JII memiliki

nilai tobin’s Q diatas satu maka investasi dalam aktiva menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi untuk menarik investor. Nilai perusahaan terendah sebesar 0,0010 sedangkan nilai perusahaan tertinggi sebesar 0,8600. Standar deviasi dari nilai perusahaan dalam penelitian ini sebesar 0,2122652.

2. Kepemilikan institusional (X1) dimana dapat mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal dalam perusahaan untuk menjamin kemakmuran pemegang saham. Rata – rata kepemilikan institusional dalam penelitian ini sebesar 0,326232 dengan nilai terendah dan nilai tertinggi sebesar 0,1039 dan 0,9575. Artinya tingkat kepemilikan institusional yang tinggi maka pengawasan dalam perusahaan berjalan secara optimal yang menjamin kemakmuran pemegang saham. Standar deviasi dari kepemilikan institusional sebesar 0,2286965

3. Komisaris independen (X2) menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Rata – rata komisaris independen dalam penelitian ini sebesar 0,472520 dengan nilai terendah sebesar 0,2568 dan nilai tertinggi sebesar 0,5676. Artinya dengan nilai rata – rata sebesar 0,472520 dapat dikatakan bahwa peranan komisaris independen dalam perusahaan sampel belum terlaksana secara merata. Dan standar deviasi komisaris independen sebesar 0,0768841.

4. Ukuran dewan komisaris (X3) menjelaskan semakin banyak jumlah anggota dewan komisaris dapat berakibat pada makin buruknya kinerja yang dimiliki perusahan. Nilai rata – rata dari ukuran dewan komisaris

sebesar 6,70 dengan nilai terendah sebesar 4 dan nilai tertinggi sebesar 11.

Artinya dengan nilai rata – rata tersebut, ukuran dewan komisaris akan mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya. Dan standar deviasi ukuran dewan komisaris sebesar 1,619.

5. Arus kas bebas (X4) menjelaskan apabila arus kas bebas dari perusahaan bernilai positif (FCF ≥ 0) maka keuangan perusahaan dalam kondisi baik.

Rata – rata arus kas bebas dalam penelitian ini sebesar 312156,70 dengan nilai terendah dan tertinggi sebesar -945600 dan 979374. Artinya dengan nilai rata – rata tersebut, dapat dikatakan bahwa arus kas bebas perusahaan dalam penelitian ini dalam kondisi baik karena bernilai positif sehingga dapat digunakan dalam membayar hutang, pembelian kembali saham serta pembayaran deviden. Dengan standar deviasi sebesar 325079,417.

6. Ukuran perusahaan (X5) memberikan gambaran besar kecilnya suatu perusahaan dimana dapat dilihat dari log total aktiva. Rata – rata ukuran perusahaan dalam penelitian ini 301936,95 artinya rata – rata ukuran perusahaan dalam perusahaan sampel jika dilihat dari log total aktiva sebesar 301936,95. Nilai terendah dari ukuran perusahaan sebesar 79749 dan nilai tertinggi dari ukuran perusahaan sebesar 941787 dengan standar deviasi 253076,309.

7. Leverage (X6) menunjukkan bagaimana perusahaan memperoleh sumber pendanaan perusahaan dalam menjalankan aktivitas perusahaan apakah dari modal atau hutang. Rata – rata leverage dari perusahaan sampel sebesar 0,459125 dengan nilai terendah sebesar 0,1315 dan nilai tertinggi sebesar 0,8843. Artinya perusahaan sampel dalam penelitian ini memiliki

rasio leverage yang rendah dapat dikatakan perusahaan masih bisa mengusahakan sumber pendanaan internal. Dengan standar deviasi sebesar 0,1803749.

8. Manajemen laba rill (Z) dimana manajemen melakukan manipulasi melalui aktivitas sehari – hari selama periode akuntansi untuk memenuhi atau meningkatkan target laba. Rata – rata manajemen laba rill sebesar 0,445085 dengan nilai terendah sebesar 0,680 dan nilai tertinggi sebesar 0,8547 sedangkan standar deviasi sebesar 0,2075491. Artinya dengan nilai rata – rata yang bernilai positif maka perusahaan sampel melakukan manajemen laba rill untuk meningkatkan target laba perusahaan.

5.1.2 Hasil Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian model regresi linier berganda dan uji analisis jalur terlebih dahulu dilakukan pengujian Classical Normal Linier Regression Model untuk semua variabel yang terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.

5.1.2.1 Uji Normalitas

Pada penelitian ini uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov Test, dengan melihat tingkat signifikansi 5%.

Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardiz ed Residual

N 60 Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std.

Deviation

,18424874 Most Extreme

Differences

Absolute ,087 Positive ,087 Negative -,067

Test Statistic ,087

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber : Lampiran 4 (Data Diolah, 2015)

Pada tabel 5.2 dapat dilihat nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,200 lebih besar dari α = 0,05, dengan demikian dapat disimpulkan hasil pengujian berdistribusi normal.

Gambar 5.1 Histogram

Gambar 5.2 Normal P-Plot

Berdasarkan gambar 5.1 dan gambar 5.2 dapat disimpulkan bahwa grafik histogram berbentuk lonceng sempurna dan grafik normal P-Plot tersebar sepanjang garis diagonal. Kedua grafik ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.

5..1.2.2 Uji Heteroskedastisitas

Pada penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dilihat dari grafik plot dengan dasar jika ada pola tertentu seperti titik – titik yang membentuk pola tertentu yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik – titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar 5.3.

Gambar 5.3 Grafik Plot

Berdasarkan gambar 5.3 dapat dilihat bahwa tidak ada pola yang jelas dan titik – titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka data tidak

Berdasarkan gambar 5.3 dapat dilihat bahwa tidak ada pola yang jelas dan titik – titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka data tidak

Dalam dokumen TESIS OLEH REZKI ZURRIAH (Halaman 66-0)