BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Analisa (2011) berjudul pengaruh ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas dan kebijakan deviden terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur di BEI. Variabel dalam penelitian ini ukuran perusahaan (X1), leverage (X2), profitabilitas (X3) dan kebijakan deviden (X4). Indikator yang digunakan oleh masing – masing variabel adalah Ukuran perusahaan menggunakan log of total asset, leverage menggunakan rasio leverage sedangkan profitabilitas menggunakan ROE, kebijakan deviden menggunakan DPR dan nilai perusahaan menggunakan PBV. Analisis dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda dimana hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan leverage berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan dan kebijakan deviden berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Darwis (2012) berjudul pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan corporate governance sebagai pemoderasi. Variabel dalam penelitian ini manajemen laba (X1), nilai perusahaan (Y) dan variabel pemoderasi corporate governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial (X2) dan kepemilikan institusional (X3). Dalam penelitian indikator variabel yang digunakan adalah Manajemen laba dengan akrual modal kerja / penjualan periode, nilai perusahaan menggunakn PBV sedangkan untuk variabel pemoderasi corporate governance diproksi kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional. Analisi dalam penelitian ini adalah analisis regresi, dalam penelitian ini dihasilkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan variabel pemoderasi corporate governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan.
Debby, dkk (2014) berjudul good corporate governance, company’s characteristics and firm’s value : empirical study of listed banking on Indonesian stock exchange. Variabel dalam penelitian ini good corporate governance yang terdiri dari manajerial ownership (X1), audit committee (X2), independent commissioner (X3), firm size (X4), return on equity (X5) dan firm’s value (Y).
Indikator yang digunakan oleh masing – masing variabel adalah Manajerial ownership dengan perbandingan jumlah anggota dewan direksi dengan dewan komisaris, audit committe yaitu variabel dummy, bila perusahaan memiliki komite audit 1 dan sebaliknya, independent commissioner dengan jumlah anggota komisaris independen, firm size menggunakan log total asset, profitabilitas
menggunakan ROE dan firm’s value menggunakan Tobin’s Q. Analisis dalam penelitian ini analisis linier berganda dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa variabel manajerial ownership, audit comittee dan independent commissioner berpengaruh secara negatif terhadap firm’s value sedangkan firm size dan return on equity berpengaruh secara positif terhadap firm’s value.
Fuzuli, dkk (2013) berjudul the influence of good corporate governance and earnings management on firm value. Variabel dalam penelitian ini institutional ownership (X1), board of commissioner (X2), earnings management (X3) dan firm value (Y). Dalam penelitian ini indikator variabel yang digunaka adalah Manajerial ownership menggunakan perbandingan jumlah anggota dewan direksi dengan dewan komisaris, Institutional ownership menggunakan perbandingan jumlah saham instusi dengan jumlah saham beredar dipasar, board of commissioner menggunakn jumlah anggota dewan komisaris, earnings management dengan total akrual dan firm value dengan PBV. Analisis dalam penelitian ini analisis linier berganda dan hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa institutional ownership berpengaruh negatif terhadap firm value sedangkan board of commissioner dan earnings management dinyatakan tidak berpengaruh terhadap firm value.
Gill dan Obradovich (2013) berjudul the impact of corporate governance and financial leverage on the value of American firm’s. Variabel dalam penelitian ini CEO duality (X1), audit committee (X2), financial leverage (X3), firm size (X4), return on asset (X5), insider holdings (X6) dan firm’s value (Y). Indikator variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CEO duality merupakan variabel dummy, yang berkedudukan CEO bernilai 1 dan sebaliknya, audit
committee dengan jumlah anggota audit komite, financial leverage dengan total liabilities/total asset , firm size menggunakan log total asset, insider holdings dengan % insider share holdings, ROA menggunakn net income/total asset, dan firm value menggunakan Tobin’s Q. Analisis dalam penelitian ini analisis linier berganda dan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel CEO duality, audit comittee, financial leverage, firm size dan insider holding berpengaruh positif terhadap firm’s value di Amerika. Sedangkan return on asset tidak berpengaruh signifikan terhadap firm’s value.
Juliardi (2013) berjudul pengaruh leverage, konsentrasi kepemilikan dan kualitas audit terhadap nilai perusahaan serta laba persisten pada perusahaan publik manufaktur yang listed di BEI. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini leverage (X1), konsentrasi kepemilikan (X2), kualitas audit (Y1), nilai perusahaan (Y2) dan laba persisten (Y3). Dengan indikator variabel yang digunakan adalah Leverage dengan debt/asset, konsentrasi kepemilikan dengan pemegang saham institusional/total saham biasa, kualitas audit merupakan variabel dummy dengan nilai 1 untuk KAP Big 4 dan nilai 0 untuk KAP Non Big 4 dan nilai perusahaan dengan market to book ratio. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis berganda dan analisis jalur dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa leverage berpengaruh signifikan secara positif terhadap nilai perusahaan. Leverage tidak berpengaruh terhadap kualitas audit pada perusahaan manufaktur yang diaudit KAP Big 4 sedangkan konsentasi kepemilikan berpengaruh signifikan secara negatif terhadap kualita audit dan kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Marhamah (2013) yang berjudul pengaruh manajemen laba, ukuran perusahaan terhadap corporate social responsibility (CSR) dan nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur di BEI. Variabel dalam penelitian ini manajemen laba (X1), ukuran perusahaan (X2), nilai perusahaan (Y) dan CSR sebagai variabel intervening. Dalam penelitian ini indikator variabel yang digunakan adalah Manajemen laba menggunakan akrual diskresioner, ukuran perusahaan menggunakan total asset, CSR dengan csr disclousure index (CSRI) dan nilai perusahaan dengan Tobin’s Q. Analisis dalam penelitian ini analisis jalur, dimana dalam penelitian ini mengahasilkan variabel manajemen laba dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan variabel CSR bukan variabel yang memediasi pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dan CSR merupakan variabel yang memediasi ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.
Megawati (2009) berjudul pengaruh corporate governance, leverage dan manajemen laba terhadap nilai perusahaan. Variabel dalam penelitian ini corporate governance yang terdiri dari kepemilikan institusional (X1), kepemilikan manajerial (X2), dan komite audit (X3), leverage (X4), manajemen laba (X5) dan nilai perusahaan (Y). Indikator variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Komite audit dengan jumlah total komite audit, kepemilikan institusional dengan jumlah saham institusional terhadap keseluruhan saham perusahaan, kepemilikan manajerial dengan % jumlah saham manajerial/total saham yang beredar, manajemen laba dengan akrual diskresioner dan nilai perusahaan dengan PBV. Analisis dalam penelitian ini analisis linier berganda dengan hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa kepemilikan institusional dan
leverage berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan kepemilikan manajerial, komite audit dan manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Martini, dkk (2014) yang berjudul factors affecting firm’s value of Indonesia public manufacturing firms. Variabel dalam penelitian ini good corporate governance (X1), corporate social responsibility (X2), firm size (X3), firm’s value (Y) dan profitabilitas sebagai variabel intervening. Indikator variabel yang digunak dalam penelitian ini adalah corporate social responsibility dengan disclousure index, firm size dengan total asset dan firm’s value dengan PBV.
Analisis dalam penelirian ini analisis berganda dan analisis jalur dengan hasil penelitian bahwa variabel good corporate governance, corporate social responsibility dan firm size berpengaruh positif terhadap firm’s value. Dan good corporate governance, corporate social responsibility dan firm size melalui profitabilitas berpengaruh positif terhadap firm’s value.
Siallangan dan Machfoedz (2006) berjudul mekanisme corporate governance, kualitas laba dan nilai perusahaan. Variabel dalam penelitian ini mekanisme corporate governance yang terdiri dari kepemilikan manajerial (X1), ukuran dewan komisaris (X2) dan komite audit (X3) nilai perusahaan (Y), kualitas laba sebagai veriabel intervening. Dalam penelitian ini indikator variabel yang digunak adalah kualitas laba dengan akrual diskresioner dan nilai perusahaan dengan Tobin’s Q. Analisis dalam penelitian ini analisis berganda dan analisis jalur dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan komite audit berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Ukuran dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap kualitas laba. Sedangkan kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Dan ukuran dewan komisaris dan komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kualitas laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan kualitas laba bukan variabel pemediasi untuk nilai perusahaan.
Taufik, dkk (2014) berjudul real earnings management and firm’s value : empirical evidence from Malaysia. Variabel dalam penelitian ini real earnings management (X) dan firm’s value (Y). Indikator variabel yang digunakan dakam penelitian ini adalah Real earnings management dengan penjumlahan CFO, COGS dan DISEXP dan firm’s value dengan Tobin’s Q. Analisis dalam penelitian ini adalah analisis linier berganda dengan hasil penelitian ini menyatakan bahwa real earnings management berpengaruh positif terhadap firm’s value.
Wahyuni, dkk (2013) berjudul faktor – faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan di sektor property, real estate dan building contruction yang terdaftar di BEI. Variabel dalam penelitian ini keputusan investasi (X1), keputusan pendanaan (X2), kebijakan deviden (X3), ukuran perusahaan (X4), profitabilitas (X5), kepemilikan institusional (X6) dan nilai perusahaan (Y). Indikator variabel dalam penelitian ini adalah keputusan investasi menggunakan PER, keputusan pendanaan menggunakan DER, kebijakan deviden menggunakan DPR, ukuran perusahaan menggunakan total asset, profitabilitas menggunakan ROE, kepemilikan institusional dengan % kepemilikan institusional dan nilai perusahaan menggunakan RS. Analisis dalam penelitian ini yaitu analisis linier berganda dengan hasil penelitian ini menjelaskan bahwa keputusan investasi, ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan keputusan pendanaan dan kepemilikan institusional
berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Dan kebijakan deviden berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Wardani (2013) berjudul pengaruh manajemen laba rill pada nilai perusahaan yang dimoderasi corporate governance. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari manajemen laba rill (X1) dan nilai perusahaan (Y) dengan corporate governance sebagai variabel moderating. Indikator variabel dalam penelitian ini adalah manajemen laba rill dengan penjumlahan dari AKOABN, KPABN dan PDABN, nilai perusahaan menggunakan Tobin’s Q dan corporate governance dengan penjumlahan dari KOM, KI, KM dan KA. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis linier berganda dengan hasil penelitian manajemen laba rill berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan untuk variabel moderating menghasilkan bahwa manajemen laba rill yang tinggi tidak dapat menurunkan nilai perusahaan pada saat corporate governance rendah. Ikhtisar tinjauan penelitian terdahulu tercantum pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu rasio leverage ; profitabilitas = dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan dan kebijakan deviden berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai periode ; nilai perusahaan =
Manajemen laba tidak berpengaruh terhadap manajemen laba dan nilai perusahaan dan kepemilikan institusional
berpengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan.
Lanjutan Tabel 2.1 study of listed banking on size dan return on equity
Lanjutan Tabel 2.1 CEO bernilai 1 dab sebaliknya ; audit committee = jumlah anggota insider holdings =
% insider share holdings ; ROA = firm’s value di Amerika.
Lanjutan Tabel 2.1 kualitas audit = variabel dummy, 1KAP Big 4 dan 0 KAP Non Big 4
; nilai perusahaan = market to book ratio
Lanjutan Tabel 2.1
Manajemen laba = akrual diskresioner
; ukuran
perusahaan = total asset ; CSR = csr jumlah total komite audit ; kepemilikan institusional = saham yang beredar ; manajemen laba = akrual diskresioner ; nilai perusahaan = PBV komite audit dan manajemen laba
Lanjutan Tabel 2.1 firm’s value of Indonesia firm’s value. Dan good corporate governance, corporate social responsibility dan firm size melalui profitabilitas kualitas laba dan nilai perusahaan
Kualitas laba = akrual laba. Ukuran dewan komisaris positif terhadap nilai perusahaan dan kualitas laba bukan variabel pemediasi untuk nilai perusahaan.
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
Manajemen laba rill Dependen
Sumber : Hasil Penelitian Terdahulu diolah peneliti (2015).
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang penelitian, masalah penelitian dan landasan teori, peneliti mengembangkan kerangka konsep untuk uji regresi linier secara simultan, parsial dan uji analisis jalur sebagaimana terlihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1
Pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan
Nilai perusahaan dapat meningkat dengan institusi menjadi monitoring yang efektif. Dengan presentase saham yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup terjadinya akrualisasi sesuai dengan kepentingan manajemen (Megawati, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Megawati (2009) menghasilkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan penelitian Fuzuli, dkk (2013) dan Wahyuni, dkk (2013) menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dengan nilai perusahaan.
Pengaruh komisaris independen terhadap nilai perusahaan
Komisaris independen dalam kerangka corporate governance, ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkam terlaksananya akuntabilitas. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Debby, dkk (2014) menghasilkan bahwa komisaris independen berpengaruh seraca negatif terhadap nilai perusahaan dan penelitian Fuzuli, dkk (2013) menemukan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh Ukuran dewan komisaris terhadap nilai perusahaan
Secara umum dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggungjawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan.
Hal ini penting mengingat adanya kepentingan dari manajemen untuk melakukan manajemen laba yang berdampak pada berkurangnya kepercayaan investor, sehingga akan menggambarkan nilai perusahaan
yang rendah. Untuk mengatasinya dewan komisaris diperbolehkan untuk memiliki akses pada informasi perusahaan. Penelitian yang dilakukan Siallangan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fuzuli, dkk (2013) menemukan bahwa dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh arus kas bebas terhadap nilai perusahaan
Arus kas bebas merupakan salah satu indikator untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk mengembalikan keuntungan bagi para pemegang saham melalui pengurangan hutang, peningkatan deviden atau pembelian saham kembali dengan itu nilai perusahaan akan juga ikut meningkat. Arus kas bebas merupakan determinan dalam penentu nilai perusahaan, sehingga manajemen perusahaan lebih terfokus pada usaha meningkatkan arus kas bebas. Penelitian yang dilakukan oleh Rosanne (2010) menunjukkan bahwah arus kas bebas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan
Besar kecilnya perusahaan dapat dilihat dalam nilai total aktiva perusahaan. Dengan semakin besar ukuran perusahaan maka kecenderungan investor lebih banyak menaruh perhatian terhadap perusahaan. Karena perusahaan yang besar cenderung memiliki kondisi stabil, dengan kondisi tersebut menjadi penyebab atas naiknya harga saham di pasar modal. Penelitian yang dilakukan Analisa (2011) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap nilai perusahaan sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Marhamah (2013) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh leverage (diproksikan DAR) terhadap nilai perusahaan Semakin tinggi rasio leverage berarti semakin rendah nilai perusahaan.
Dengan itu, perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, akan menunjukkan semakin besar dana yang disediakan oleh kreditur (Mahduh dan Hanafi, 2005 dalam Analisa, 2011). Hal itu akan membuat investor berhati – hati untuk berinvestasi pada perusahaan yang rasio leverage tinggi dikarenakan semakin tinggi rasio leverage maka semakin ringgi pula resiko investasinya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Megawati (2013) bahwa leverage berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Analisa (2011) menghasilkan bahwa leverage berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh manajemen laba rill terhadap nilai perusahaan
Manajemen laba riil merupakan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen melalui aktivitas perusahaan sehari – hari selama periode akuntansi. Manajemen laba juga dapat dikatakan sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal yang dilakukan oleh manajer untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Manajemen laba dilakukan oleh manajemen pada faktor – faktor fundamental perusahaan yaitu dengan intervensi pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan akuntansi akrual. Manajemen dapat meningkatkan
nilai perusahaan melalui pengungkapan informasi tambahan dalam laporan keuangan akan mengurangi informasi asimetri sehingga peluang manajemen melakukan manajemen laba semakin kecil. Dari penelitian yang dilakukan oleh Kusumawardhani dan Veronica (2009) manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan tapi penelitian yang dilakukan Marhamah (2013) manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Peranan manajemen laba sebagai variabel intervening
Dalam jangka panjang tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan akan menggambarkan semakin sejahtera para pemegang saham. Tujuan memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham adalah tujuan yang diarahkan pada peningkatan harga saham di pasar modal. Sehingga perhatian investor sering terpusat pada informasi laba tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi laba maka dengan itu akan mendorong manajemen melakukan manajemen laba.
Manajemen merupakan wakil dari pemegang saham, akan tetapi pada kenyataannya manajemen mengendalikan perusahaan secara keseluruhan. Maka bisa terjadi konflik kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen yang mempunyai kepentingan pribadi.
Perusahaan yang melakukan manajemen laba akan mengungkapkan lebih sedikit informasi dalam laporan keuangan agar tidak mudah terdeteksi.
Manajemen laba dilakukan manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai
perusahaan dengan cara mempengaruhi laba yang dilaporkan sehingga menghasilkan kualitas laba yang dilaporkan tinggi. Jika manajemen laba dilakukan untuk tujuan mengkomunikasikan informasi laba dan meningkatkan nilai perusahaan maka hubungan antara manajemen dan pemegang saham akan terjalin dengan baik.
3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah, perumusan masalah dan kerangka konsep, maka diajukan tiga hipotesis penelitian berikut ini :
H1 : Terdapat pengaruh signifikan mekanisme good corporate governance (diproksikan : kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage (diproksikan : DAR) terhadap nilai perusahaan secara simultan dan parsial.
H2 : Terdapat pengaruh signifikan manajemen laba rill terhadap nilai perusahaan.
H3 : Terdapat pengaruh signifikan mekanisme good corporate governance (diproksikan : kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage (diproksikan : DAR) terhadap nilai perusahaan melalui manajemen laba rill sebagai variabel intervening.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian merupakan proses penemuan solusi secara sistematis, logis, dan objektif terhadap suatu masalah spesifik berdasarkan data yang dikumpulkan (Sularso, 2003). Jenis penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian kausal atau sebab akibat karena untuk melihat hubungan pengaruh antara variabel independen, variabel dependen ataupun variabel intervening.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di situs Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id dan Pojok Bursa Universitas Sumatera Utara. Waktu penelitian dimulai dari Mei 2015 sampai dengan Oktober 2015.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi menurut Kuncoro (2007) adalah kelompok elemen yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian yang mempunyai kualitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar di dalam Jakarta Islamic Index (JII) selama periode 2010-2014 yang berjumlah 56 perusahaan. Daftar populasi perusahaan tercantum dalam lampiran 1.
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah purposive sampling.
Purposive sampling adalah suatu proses pengambilan sampel dengan menentukan
terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan kriteria tertentu (Sugiyono, 2008). Kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini sebagai berikut :
1. Telah terdaftar minimal sekali setahun di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2010 – 2014.
2. Menerbitkan laporan keuangan tahunan dari tahun 2010 – 2014.
3. Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
4. Bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
5. Usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan atau minuman yang haram.
6. Tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan dan menyediakan barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan diatas, diperoleh 12 perusahaan sampel (lampiran 1) dengan 60 unit analisis observasi selama 5 tahun dari 2010 sampai 2014.
4.4 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang berupa laporan keuangan tahunan perusahaan. Metode pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan untuk memperoleh data yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan studi dokumentasi. Dimana pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari pojok BEI Universitas Sumatera Utara, Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) dan situs resmi Bursa Efek Indonesia. Data yang diperoleh berupa data time series dan cross sectional atau dapat disebut juga sebagai pooling data.
4.5 Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2010), definisi operasional variabel adalah suatu atribut atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang ditetapkan pleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.
Penelitian ini menggunakan enam variabel independen yaitu kepemilikan institusional (X1), komisaris independen (X2), ukuran dewan komisaris (X3), arus kas bebas (X4), ukuran peusahaan (X5) dan leverage (X6). Variabel dependen yaitu nilai perusahaan (Y) dan variabel intervening manajemen laba (Z). Adapun definisi operasional dan pengukuran variabel penelitian diuraikan berikut ini :
4.5.1 Variabel Independen
1. Kepemilikan Institusional (X1)
Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan saham oleh investor institusi terhadap total saham yang beredar di perusahaan. Kepemilikan institusional diukur dengan skala rasio melalui rumus :
Kepemilikan Institusional = % 2. Komisaris Independen (X2)
Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, dengan salah satu karakteristik dewan yang berhubungan dengan kandungan informasi laba. Komisaris independen di ukur dengan skala rasio melalui rumus :
Komisaris Independen =
. . %
3. Ukuran Dewan Komisaris (X3)
Ukuran dewan komisaris adalah jumlah dewan komisaris yang bertugas dan bertanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Dalam UUPT No. 40 Tahun 2007 disebutkan bahwa dalam perusahaan harus memiliki minimal 2 orang anggota dewan komisaris. Ukuran dewan komisaris diukur dengan skala
Ukuran dewan komisaris adalah jumlah dewan komisaris yang bertugas dan bertanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Dalam UUPT No. 40 Tahun 2007 disebutkan bahwa dalam perusahaan harus memiliki minimal 2 orang anggota dewan komisaris. Ukuran dewan komisaris diukur dengan skala