BAB IV METODE PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.1 Pembahasan Hasil Penelitian untuk Hipotesis 1
5.2.1.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional (X1) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung < ttabel (0,281 < 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,780 lebih besar dari α = 5% maka keputusan H1 tidak diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis tidak diterima yang artinya kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Keberadaan kepemilikan institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajemen. Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitoring manajemen karena dengan adanya kepemilikan institusional maka akan mendorong peningkatan pengawasan yang optimal, monitoring ini akan menjamin kemakmuran pemegang saham.
Dalam penelitian ini, kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan rendahnya tingkat monitoring (pengawasan) serta pengendalian dari institusi dalam perusahaan sampel yang terdaftar di JII. Pengawasan yang tidak efektif dapat menyebabkan terjadinya agency cost dimana manajemen tidak sejalan dengan keinginan pemegang saham dalam meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Suranta dan Machfoedz (2003) bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Tetapi tidak konsisten
dengan hasil penelitian Megawati (2009) bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.2 Pengaruh Komisaris Independen (X2) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian komisaris independen terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung < ttabel (-1,166 < 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,249 lebih besar dari α = 5% maka keputusan H1 tidak diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis tidak diterima yang artinya komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Peranan komisaris independen dalam perusahaan ditugaskan untuk mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perusahaan sehingga peranan komisaris menjadikannya bertanggung jawab secara rentang dengan direksi apabila terjadi sesuatu terhadap perusahaan. Selain itu dalam kerangka corporate governance komisaris juga ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya akuntanbilitas, fungsi akuntabilitas komisaris ini ditujukan agar perlindungan terhadap para penanam modal serta stakeholder lainnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, hal ini dikarenakan komisaris independen kurang objektif dalam melakukan pengawasan terhadap manajemen ataupun dewan direksi sehingga kinerja dewan direksi kurang efektif dan efisien yang akhirnya berdampak pada turunnya nilai perusahaan. Hasil penelitian ini
konsisten dengan penelitian Debby (2014) bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.3 Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris (X3) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian ukuran dewan komisaris terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung < ttabel (-0,708 < 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,482 lebih besar dari α = 5% maka keputusan H1 tidak diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis tidak diterima yang artinya ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Peranan dewan komisaris diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui monitoring atas pelaporan keuangan. Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan memiliki hasil yang beragam, salah satunya pendapat menyatakan bahwa makin banyak personel yang menjadi dewan komisaris dapat berakibat pada makin buruknya kinerja yang dimiliki perusahaan (Sundgren dan Wells, 1998 dalam Nasution dan Setiawan, 2007). Hal tersebut dapat dijelaskan dengan adanya agency problems (masalah keagenan) yaitu dengan makin banyaknya anggota dewan komisaris maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya masing – masing.
Dalam penelitian ini, ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, artinya besar kecilnya jumlah anggota dewan komisaris dalam perusahaan sampel yang terdaftar di JII tidak menentukan fungsi dari dewan komisaris dalam memonitoring perusahaan guna memaksimalkan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Fuzuli, dkk (2013)
bahwa ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Siallangan dan Machfoedz (2006) bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.4 Pengaruh Arus Kas Bebas (X4) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian arus kas bebas terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung >
ttabel (2,177 > 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,044 lebih kecil dari α = 5% maka keputusan H1 diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis diterima yang artinya arus kas bebas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Arus kas ini merefleksikan tingkat pengembalian bagi penanam modal, baik itu dalam bentuk hutang atau ekuitas. Arus kas bebas dapat digunakan untuk membayar hutang, pembelian kembali saham, pembayaran deviden atau disimpan untuk kesempatan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang. Jika arus kas bebas dari perusahaan bernilai positif (FCF ≥ 0) maka keuangan perusahaan dalam konsidi yang baik sedangkan jika arus kas bebas dari perusahaan bernilai negatif (FCF ≤ 0) dan perusahaan harus mengeluarkan saham untuk penambahan modal, maka akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan per saham dari perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Andini dan Wirawati (2014) bahwa arus kas bebas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan (X5) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung > ttabel (2,090 > 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,041 lebih kecil
dari α = 5% maka keputusan H1 diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis diterima yang artinya ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Dengan semakin besar ukuran perusahaan maka kecenderungan investor lebih banyak menaruh perhatian terhadap perusahaan. Karena perusahaan yang besar cenderung memiliki kondisi stabil, dengan kondisi tersebut menjadi penyebab atas naiknya harga saham di pasar modal. Maka semakin besar ukuran perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Analisa (2011) dan Gill & Obradovich (2013) bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Marhamah (2013) bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.6 Pengaruh Leverage (X6) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian leverage terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung < ttabel
(-1,338 < 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,171 lebih besar dari α = 5%
maka keputusan H1 tidak diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis tidak diterima yang artinya leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Leverage merupakan faktor penting dalam sumber pendanaan, dimana leverage adalah sumber dana yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai asetnya di luar sumber dana modal. Jika leverage digunakan secara efektif dan efisien maka dapat meningkatkan nilai perusahaan (Saffudin, 2011). Pada titik tertentu peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat
yang diperoleh dari hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya. Para pemilik perusahaan biasanya menciptakan hutang pada tingkat tertentu untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, hal ini dikarenakan dalam perusahaan sampel yang terdaftar di JII memiliki nilai hutang yang kecil sehingga investor tidak menggunakan leverage sebagai dasar untuk keputusan investasi. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Analisa (2011) bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Juliardi (2013) dan Megawati (2009) bahwa leverage berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
5.2.1.7 Pengaruh secara simultan Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris Independen (X2), Ukuran Dewan Komisaris (X3), Arus Kas Bebas (X4), Ukuran Perusahaan (X5) dan Leverage (X6) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Berdasarkan hasil penelitian hipotesis diperoleh nilai Fhitung sebesar 2,548 dan tingkat signifikansi 0,021. Nilai Ftabel dengan menggunakan α = 5% adalah 2,37 maka dapat disimpulkan Fhitung > Ftabel (2,548 > 2,37) atau Sig = 0,021 lebih kecil dari α = 5%. Jadi dapat disimpulkan bahwa H1 diterima artinya kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage secara simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
5.2.2 Pembahasan Hasil Penelitian untuk Hipotesis 2
5.2.2.1 Pengaruh Manajemen Laba Rill (Z) terhadap Nilai Perusahaan (Y)
Hasil pengujian manajemen laba rill terhadap nilai perusahaan diperoleh thitung < ttabel (-2,463 < 1,960) dan tingkat signifikansi pada level 0,017 lebih kecil dari α = 5% maka keputusan H2 diterima. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis diterima yang artinya manajemen laba rill berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Dalam jangka panjang tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan akan menggambarkan semakin sejahtera para pemegang saham. Manajemen laba dilakukan manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai perusahaan dengan cara mempengaruhi laba yang dilaporkan sehingga menghasilkan kualitas laba yang dilaporkan tinggi.
Hasil penelitian ini menunjukkan manajemen laba rill berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan manajemen laba yang dilakukan manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi untuk meningkatkan nilai perusahaan tidak merata dimana manajemen melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk meningkatkan utilitasnya. Sehingga berdampak pada terjadinya konflik kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen yang mempunyai kepentingan pribadi. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Wardani (2013) bahwa manajemen laba rill berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaam. Tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Taufik,
dkk (2014) bahwa manajemen laba rill berpengarh positif terhadap nilai perusahaan.
5.2.3 Pembahasan Hasil Penelitian untuk Hipotesis 3
5.2.3.1 Pembahasan Hasil Penelitian untuk Persamaan Struktural 1
5.2.3.1.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional (X1) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung kepemilikan institusional terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung < ttabel
(0,514 < 1,960) dan tingkat signifikansi 0,609 lebih besar dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya keberadaan kepemilikan institusional dalam perusahaan tidak dapat memonitoring manajemen dalam mengurangi tindakan manajemen laba rill yang dilakukan untuk menguntungkan dirinya sendiri.
5.2.3.1.2 Pengaruh Komisaris Independen (X2) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung komisaris independen terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung < ttabel (-1,475 < 1,960) dan tingkat signifikansi 0,146 lebih besar dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya peranan komisaris independen dalam perusahaan tidak efektif dalam menjalankan tanggungjawabnya
untuk mengawasi serta membatasi tindakan menajemen sehingga manajemen dengan mudah melakukan manajemen laba rill.
5.2.3.1.3 Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris (X3) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung ukuran dewan komisaris terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung < ttabel (-1,368 < 1,960) dan tingkat signifikansi 0,177 lebih besar dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya perusahaan yang memiliki jumlah anggota dewan komisaris yang banyak tidak menentukan semakin banyak pula tindakan manajemen dalam melakukan manajemen laba rill di perusahaan.
5.2.3.1.4 Pengaruh Arus Kas Bebas (X4) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung arus kas bebas terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung < ttabel (-0,362 < 1,960) dan tingkat signifikansi 0,719 lebih besar dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung arus kas bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya tinggi atau rendahnya arus kas bebas yang dihasilkan perusahaan tidak menentukan adanya masalah keagenan dalam perusahaan sampel sehingga manajemen tidak termotivasi melakukan tindakan manajemen laba rill.
5.2.3.1.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan (X5) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung ukuran perusahaan terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung < ttabel (-0,197 < 1,960) dan tingkat signifikansi 0,845 lebih besar dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya besar atau kecilnya ukuran perusahaan belum tentu dapat mengurangi kemungkinan terjadinya manajemen laba rill dalam perusahaan sampel.
5.2.3.1.6 Pengaruh Leverage (X6) terhadap Manajemen Laba Rill (Z)
Hasil pengujian pengaruh langsung leverage terhadap manajemen laba rill dengan menggunakan uji statistik t diperoleh thitung > ttabel (9,541 > 1,960) dan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari α = 5%, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsung leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba rill. Artinya perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi, dimana proporsi hutangnya lebih tinggi dari proporsi aktivanyaakan cenderung melakukan tindakan manajemen laba rill sehingga perusahaan yang memiliki leverage yang tinggi akan mengatur laba yang dilaporkan dengan menaikkan atau menurunkan laba periode masa yang akan datang dengan periode saat ini.
5.2.3.2 Pembahasan Hasil Penelitian untuk Persamaan Struktural 2
5.2.3.2.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional (X1) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah 0,075 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah -0,02188. Oleh karena nilai thitung < ttabel (0,0182 < 1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar -0,02188 tidak signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill bukan merupakan variabel intervening.
5.2.3.2.2 Pengaruh Komisaris Independen (X2) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah -0,603 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah 0,18051. Oleh karena nilai thitung < ttabel (-1,3596 <
1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar 0,18051 tidak signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas komisaris independen terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill bukan merupakan variabel intervening.
5.2.3.2.3 Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris (X3) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah -0,020 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah 0,007658. Oleh karena nilai thitung < ttabel (-3,8510 < 1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar 0,007658 tidak
signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas ukuran dewan komisaris terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill bukan merupakan variabel intervening.
Good corporate governance (kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris) merupakan suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang diharapkan dapat memberikan dan meningkatkan nilai perusahaan kepada para pemegang saham. Dalam penelitian ini peranan manajemen laba rill sebagai variabel intervening untuk meningkatkan nilai perusahaan tidak terbukti, hal ini dikarenakan praktek manajemen laba yang dilakukan dalam perusahaan sampel tidak terlaksana. Dimana tujuan manajemen laba rill dilakukan untuk memenuhi atau meningkatkan target laba perusahaan dengan itu harga saham akan meningkat maka nilai perusahaan juga meningkat.
5.2.3.2.4 Pengaruh Arus Kas Bebas (X4) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah 9,417 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah 1,093453. Oleh karena nilai thitung < ttabel (-2,5923 < 1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar 1,093453 tidak signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas arus kas bebas terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill bukan merupakan variabel intervening.
Arus kas bebas merupakan salah satu indikator untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk mengembalikan keuntungan bagi para pemegang saham melalui pengurangan hutang, peningkatan deviden atau pembelian saham
kembali dengan itu nilai perusahaan akan ikut meningkat. Dalam penelitian ini peranan manajemen laba rill tidak terbukti sebagai variabel intervening, artinya praktek manajemen laba yang dilakukan dalam perusahaan sampel tidak terlaksana karena perusahaan sampel memiliki arus kas bebas yang baik.
5.2.3.2.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan (X5) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah 2,239 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah 0,737356. Oleh karena nilai thitung < ttabel (-2,5924
< 1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar 0,737356 tidak signifikan yang berarti tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill bukan merupakan variabel intervening.
Dengan semakin besar ukuran perusahaan maka kecenderungan investor lebih banyak menaruh perhatian terhadap perusahaan, karena perusahaan yang besar cenderung memiliki kondisi stabil dengan kondisi tersebut menjadi penyebab atas naiknya harga saham di pasar modal.
Peranan manajemen laba rill dalam penelitian ini tidak terbukti sebagai variabel intervening, hal ini dikarenakan praktek manajemen laba yang dilakukan dalam perusahaan sampel tidak terlaksana. Artinya perusahaan sampel memiliki ukuran perusahaan yang besar dilihat dari nilai total aktivanya, semakin besar ukuran perusahaan biasanya informasi yang tersedia untuk investor dalam pengambilan keputusan semakin banyak, hal ini dapat langsung meningkatkan nilai perusahaan.
5.2.3.2.6 Pengaruh Leverage (X6) terhadap Nilai Perusahaan (Y) melalui Manajemen Laba Rill (Z) sebagai variabel intervening
Besarnya pengaruh langsung adalah 0,279 sedangkan besarnya pengaruh tidak langsung adalah 0,488471. Oleh karena nilai thitung > ttabel (2,6784
> 1,96) maka dapat disimpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar 0,488471 signifikan yang berarti ada pengaruh mediasi manajemen laba rill atas leverage terhadap nilai perusahaan atau manajemen laba rill merupakan variabel intervening.
Hutang merupakan perjanjian antara perusahaan sebagai debitur dengan kreditur. Dalam perjanjian hutang, ada kepentingan perusahaan untuk dinilai positif oleh kreditur dalam hal kemampuan membayar hutangnya. Semakin besar rasio leverage berarti semakin tinggi nilai perusahaan. Jika leverage dipergunakan secara efektif dan efisien maka dapat meningkatkan nilai perusahaan (Saffudin, 2011).
Peranan manajemen laba rill dalam penelitian ini terbukti sebagai variabel intervening, hal ini dikarenaka jika perusahaan mempunyai rasio leverage yang tinggi berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan proporsi aktivanya akan cenderung melakukan praktek manajemen laba untuk meningkatkan nilai perusahaan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Mekanisme good corporate governance (kepemilikan intitusional, komisaris independen dan ukuran dewan komisaris), arus kas bebas, ukuran perusahaan dan leverage secara simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Secara parsial kepemilkan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan arus kas bebas dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
2. Manajemen laba rill berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
3. Berdasarkan hasil uji sobel yang menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh mediasi manajemen laba rill antara kepemilikan institusional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, arus kas bebas dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan maka manajemen laba rill tidak terbukti sebagai variabel intervening. Sedangkan hasil uji sobel untuk leverage menunjukkan ada pengaruh mediasi manajemen laba rill antara leverage terhadap nilai perusahaan maka manajemen laba rill terbukti sebagai variabel intervening.
6.2 Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di JII.
2. Penelitian ini hanya menggunakan periode penelitian lima tahun dengan 12 sampel dan 60 unit analisis observasi.
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan diluar variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini masih banyak.
6.3 Saran
Dengan mempertimbangkan hasil analisis, kesimpulan dan keterbatasan penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti memberikan saran untuk penelitian berikutnya yaitu :
1. Pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel diluar perusahaan yang terdaftar di JII, seperti pada perusahaan sektor manufaktur ataupun perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kemungkinan hasilnya berbeda dengan hasil penelitian ini.
2. Pada penelitian selanjutnya dapat memperluas periode pengamatan sehingga hasil penelitian diharapkan lebih memadai.
3. Penelitian selanjutnya diharapkan mempertimbangkan untuk memasukkan variabel – variabel lain yang mempengaruhi nilai perusahaan, misalnya corporate social responsibility (CSR), keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan deviden dan profitabilitas.
DAFTAR PUSTAKA
Agustia, Dian. 2013. “Pengaruh Good Corporate Governance, Free Cash Flow dan Leverage Terhadap Manajemen Laba”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 15 No. 1. Mei 2013 27-42. (Diakses tanggal 13 Mei 2015).
Andini, Ni Wayan Lady dan Ni Gusti Putu Wirawati. 2014. “Pengaruh Cash Flow Pada Kinerja Keuangan Dan Implikasinya Pada Nilai Perusahaan Manufaktur”. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.1 (2014) : 107-121. (Diakses tanggal 13 Mei 2015).
Analisa, Yangs. 2011. “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Profitabilitas dan Kebijakan Deviden Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur di BEI)”. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Semarang. (Dikases tanggal 08 Mei 2015)
Baron, R.M dan Kenny, D.A. 1986. “The Moderator – Mediator Variable Distinction in Social Psychological Research : Conceptual, Strategic and Statistical Consideration”. Journal of Personality and Social Psychology.
(Diakses tanggal 07 Mei 2015).
Brigham, Eugene F and Joel F Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Alih Bahasa Dodo Suharto dan Herman Widodo. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Cohen, Daniel A, et al. 2007. “Real And Acrual Based Earnings Management In The Pre- and Post- Sarbanes Oxley Act”.
http://ssrn.com/absrtact=813088. (Diakses tanggal 14 Mei 2015).
Darwis, Herman. 2012. “Manajemen Laba Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Corporate Governance Sebagai Pemoderasi”. Jurnal Keuangan dan Perbankan Vol. 16 No. 1 Januari 2012, 45-55. (Diakses tanggal 14 Mei 2015).
Debby, Julia Farah, dkk. 2014. ”Good Corporate Governance, Company’s Characteristics and Firm’s Value : Empirical Study Of Listed Banking On Indonesian Stock Exchange”. GSTP Journal On Business Review (GBR), Vol 3 No. 4. (Diakses tanggal 08 Mei 2015).
Fuzuli, Muhammad Ilham, dkk. 2007. “The Influence Of Good Corporate Governance and Earnings Management On Firm Value”. International Conference On Business And Economic Research (4th ICBER 2013) Proceeding. (Diakses tanggal 08 Mei 2015).
Gill, Amirjit and John D Obradovich. 2013. “The Impact Of Corporate Governance and Financial Leverage On The Value Of Amrican Firms”.
International Research Of Finance and Economics, ISSN 1450-2887 Issue 91.
(Diakses tanggal 07 Mei 2015).
Guna, I Welvin dan Arleen Herawaty. 2010. “Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance, Independensi Auditor, Kualitas Audit dan Faktor Lainnya Terhadap Manajemen Laba”. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol.
12 No. 1 Hlm 53-68. (Diakses tanggal 24 Oktober 2014).
Gunny, K. 2005. “What Are The Consequences of Real Earnings Management?”.
Working Paper. University of Colorado. (Diakses tanggal 14 Mei 2015).
Ghozali, Imam. 2011. Aplokasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19. Edisi kelima, Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Halim, Julia, dkk. 2005. “Pengaruh Manajemen Laba Pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Termasuk Pada LQ 45”. Simposium Nasional Akuntansi VIII. Solo. (Diakses tanggal 20 Februari 2015).
Healy, Paul M dan James M. Wahlen. 1999. ”A Review Of The Earnings Management Literature and Its Implications For Standard Setting”.
Accounting Horizons Vol. 13 No. 4 pp 365-383. (Diakses tanggal 25
Accounting Horizons Vol. 13 No. 4 pp 365-383. (Diakses tanggal 25