• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Empirik

4. Hirschmeier and Beule (2019)

Penelitian ini berjudul “Characteristics of the Classic Radio Experience Perceived by Young Listeners and Design Implications for Their Digital Transformation” yang bertujuan untuk mengetahui desain layanan radio digital nonlinear dengan fokus pada "pengalaman mendengarkan radio tradisional" dari perspektif nilai konsumen dan transformasi karakteristiknya ke konteks digital. Selanjutnya, dilakukan identifikasi implikasi untuk layanan radio digital berdasarkan karakteristik yang diajukan peneliti.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Dalam mengumpulkan data peneliti menggabungkan 2 tahap yaitu (1) pendekatan eksplorasi untuk mengumpulkan sejumlah besar karakteristik radio dari wawancara dengan pendengar muda dan (2) tugas kelompok untuk menyusun karakteristik ini ke dalam kategori. Informan dalam penelitian ini berusia 18-35 tahun berlokasi di Jerman.

Hasil dari penelitian ini membahas proyeksi ke depan dari pengalaman radio tradisional ke pengalaman radio digital, yang merupakan bagian dari gambaran yang lebih besar dari transformasi digital radio. Radio masa depan kemungkinan besar juga akan mengungkapkan fitur dan karakteristik baru yang tidak ada pada radio tradisional, seperti kesadaran lokasi, kecepatan, waktu, cahaya di sekitar, dll. Namun demikian, untuk menciptakan pengalaman radio digital yang sukses yang beresonansi dengan pendengar saat ini dan memungkinkan transisi ke layanan radio digital baru,

karakteristik pengalaman radio yang ada harus tetap terlihat saat bereksperimen dengan peluang baru dalam layanan radio digital.

Tabel 2.1 Kajian Empirik

Lanjutan Tabel 2.1 Kajian Empirik

Lanjutan Tabel 2.1 Kajian Empirik

Lanjutan Tabel 2.1 Kajian Empirik

Simamora (2003b:20) menyampaikan definisi pemasaran “sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang digunakan individu, rumah tangga ataupun organisasi untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka dengan cara menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain.

Tujuanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu maupun organisasi”. Kotler dan Armstrong (2008:6) mendefinisikan “pemasaran sebagai proses sosial dan manajerial di mana pribadi atau organisasi memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain”.

Pemasaran secara singkat menurut Cannon, dkk. (2008:8) merupakan

“suatu aktivitas yang bertujuan mencapai sasaran perusahaan, dilakukan

dengan cara mengantisipasi kebutuhan pelanggan atau klien serta mengarahkan aliran barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan atau klien dari produsen”. “Pemasaran adalah membangun merek, meyakinkan orang bahwa merek produk (barang / jasa) perusahaan adalah yang terbaik dan membangun serta melindungi hubungan dengan pelanggan.

Pemasaran adalah memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. (Clayman – Director Of Client Development, Clayman Advertising, Inc dalam Darmanto dan Wardaya, 2016:3).

Berdasarkan penjabaran pengertian pemasaran menurut para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial yang digunakan individu, rumah tangga atau pun organisasi untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, kemudian dikomunikasikan dan diwujudkan oleh produsen yang dapat menghasilkan suatu nilai dan keuntungan. Perusahaan juga perlu membangun merek agar merek tersebut diketahui dan dapat dipercaya oleh konsumen untuk terus digunakan.

b. Konsep Pemasaran

“Konsep pemasaran berorientasi pada kepuasan konsumen yang diperoleh dari pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan harapan konsumen serta berdasarkan tingkat kemudahan untuk mendapatkan produk tersebut”. (Fatihudin dan Firmansyah, 2019:20). Menurut Cannon dkk (2008:20) “konsep pemasaran adalah ketika suatu organisasi memusatkan seluruh upayanya untuk memuaskan pelangganya secara menguntungkan”.

Dari pengertian para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep pemasaran merupakan upaya suatu perusahaan agar bisa memuaskan konsumen dengan memenuhi kebutuhan dan keinginannya untuk mendapat keuntungan.

Menurut Saleh dan Said (2019:9) konsep inti pemasaran diantaranya:

1. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan. Kebutuhan merupakan syarat hidup manusia yang kemudian menjadi keinginan ketika diarahkan ke objek tertentu. Permintaan adalah keinginan akan suatu produk tertentu yang didukung dengan kemampuan untuk membayar.

2. Pasar sasaran, positioning dan segmentasi. Pemasar jarang dapat memuaskan semua orang dalam satu pasar. Karenanya, pemasar memulai dengan membagi pasar ke dalam beberapa segmen. Mereka mengidentifikasi dan membuat profil dari kelompok pembeli yang berbeda yang mungkin lebih menyukai bauran produk dan jasa yang beragam.

3. Penawaran dan merek. Penawaran dapat berupa suatu kombinasi produk, jasa, informasi dan pengalaman. Merek merupakan suatu penawaran dari sumber yang diketahui.

4. Nilai dan kepuasan. Nilai mencerminkan sejumlah manfaat baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, dan biaya yang dipersepsikan oleh pelanggan. Kepuasan mencerminkan penilaian seseorang tentang kinerja produk anggapannya.

5. Saluran pemasaran. Untuk mencapai pasar sasaran, pemasar menggunakan tiga jenis saluran pemasaran yaitu saluran komunikasi, saluran distribusi dan saluran layanan.

6. Rantai pasokan. Rantai pasokan merupakan saluran yang lebih panjang yang membentang dari bahan mentah hingga komponen sampai produk akhir dihantarkan ke pembeli akhir.

7. Persaingan. Persaingan mencakup semua penawaran dan produk substitusi yang ditawarkan oleh pesaing baik actual maupun potensial, yang ada kemungkinan dipertimbangkan oleh pembeli.

8. Lingkungan pemasaran. Lingkungan pemasaran terdiri dari lingkungan tugas (perusahaan, pemasok, distributor, dealer dan pelanggan sasaran) serta lingkungan demografis (lingkungan ekonomi, fisik, teknologi, politik-hukum dan sosial budaya).

c. Proses pemasaran

“Proses pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, serta distribusi gagasan suatu produk baik barang maupun jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan bagi pembeli maupun organisasi”. (Nurhayani dan Suryano, 2019:29).

Menurut Firmansyah (2019b:63-64) proses pemasaran adalah “tahapan di mana produk yang berupa barang atau pun jasa dapat sampai ke tangan konsumen dari produsen. Proses pemasaran dimulai dari menemukan hal apa yang menjadi keinginan konsumen”.

Sementara itu proses pemasaran menurut Morissan (2015:55) adalah

“suatu proses yang harus dijalankan praktisi pemasaran dalam memilih atau menentukan pasar atau yang biasa disebut dengan target pemasaran (target marketing process) atau lebih singkatnya, proses pemasaran saja, yang mencakup empat langkah, antara lain: a) identifikasi pasar atau konsumen yang belum terpenuhi kebutuhannya, b) menentukan segmentasi pasar, c) memilih pasar yang akan dijadikan target, d) menentukan positioning produk melalui strategi pemasaran.

Dari pengertian proses pemasaran menurut beberapa ahli tersebut, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa proses pemasaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dijalankan oleh praktisi mengenai perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, menemukan hal apa yang menjadi keinginan konsumen, target pemasaran, penetapan harga, promosi, serta distribusi gagasan suatu produk baik barang atau pun jasa agar dapat sampai ke tangan konsumen dari produsen. Proses ini diharapkan mampu menciptakan pertukaran yang memuaskan bagi pembeli maupun produsen.

d. Relationship Marketing

Tujuan utama pemasaran adalah untuk menarik dan memuaskan konsumen dalam jangka panjang demi mendapatkan keuntungan bagi perusahaan.

Tanggung jawab utama pemasar adalah membangun serta mempertahankan pasar bagi produk yang dihasilkan oleh perusahaan. “Proses hubungan antara perusahaan dan pelanggannya ini sering disebut dengan istilah hubungan pemasaran (relationship marketing)”. (Morissan, 2008:259). Menurut Chan (2003: 87), “relationship marketing ditujukan untuk menciptakan pengenalan bagi setiap pelanggan secara lebih dekat melalui komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan”.

“Relationship marketing memiliki tujuan membangun hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan utama (pelanggan, pemasok dan distributor) dalam rangka mendapatkan serta mempertahankan preferensi dan kelangsungan bisnis jangka panjang”. (Saleh dan Said, 2019:12)

Berdasarkan pengertian menurut beberapa ahli tersebut, maka dapat dikatakan bahwa relationship marketing merupakan suatu bentuk usaha pemasaran melalui pendekatan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan dalam rangka mendapatkan serta mempertahankan preferensi dan kelangsungan bisnis dalam jangka waktu yang panjang.

2. Produk

a. Pengertian Produk

Produk merupakan elemen paling mendasar namun juga penting dalam suatu proses bisnis. Produk menjadi penting karena merupakan sebuah media perusahaan untuk mengkomunikasikan eksistensi bisnis perusahaan, serta mendapatkan keuntungan yang ingin diperoleh dari penjualan. Produk didefinisikan menurut Kotler dan Keller (2009:4) sebagai “segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide”. Menurut Firmansyah (2019a:2)

“produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, atau dikonsumsikan sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan”.

H. Djasalim Saladin dalam Firmansyah (2019:3) “produk dapat diartikan ke dalam pengertian yang luas, yaitu produk merupakan sekelompok sifat

yang berwujud maupun tidak berwujud yang didalamya memuat harga, warna, kemasan, prestise pengecer, prestise pabrik, serta pelayanan yang diberikan oleh produsen dan pengecer kepada konsumen dalam rangka pemenuhan kepuasan konsumen atas apa yang diinginkannya”.

Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa produk merupakan suatu alat baik barang maupun jasa yang dapat diperhatikan, dipakai, dimiliki, atau dikonsumsikan dengan tujuan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginan pasar yang ditawarkan oleh seorang produsen.

b. Klasifikasi Produk

Menurut Kotler dan Keller (2009:5), terdapat tiga klasifikasi produk menurut ketahanan dan keberwujudanya:

a. Barang yang tidak tahan lama

Merupakan barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan. Strategi yang tepat adalah membuat barang tersedia di banyak lokasi, hanya mengenakan markup yang kecil, dan beriklan secara besar-besaran untuk mendorong percobaan dan membangun preferensi.

b. Barang tahan lama

Merupakan barang berwujud yang biasanya dapat digunakan untuk waktu lama. Produk tahan lama biasanya memerlukan penjualan personal dan jasa, menuntut margin yang lebih tinggi, dan memerlukan garansi penjual yang lebih banyak.

c. Jasa

Merupakan produk yang tak berwujud, tak terpisahkan, bervariasi, dan dapat musnah. Akibatnya, jasa biasanya memerlukan kendali kualitas, kredibilitas pemasok, dan kemampuan adaptasi yang lebih besar.

Dokumen terkait