• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hope (Harapan)

Dalam dokumen HUBUNGAN ANTARA (Halaman 65-79)

DAFTAR LAMPIRAN

C. Tujuan Penelitian

3. Hope (Harapan)

42

perubahan dan mendekati tantangan dengan tingkah laku yang dewasa.

43

Bruininks dan Malle (Worgan, 2013) juga menemukan sebuah gambaran tentang hope (harapan) yaitu, “sebuah emosi yang timbul ketika seorang individu fokus pada sebuah outcome masa depan yang positif dan penting”. Selaras dengan pendapat Seligman (Ken, 2005), harapan adalah emosi positif mengenai masa depan.

Hope (harapan) memberikan daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi depresi saat menghadapi masalah besar ataupun sebuah tekanan. Psikologi harapan berarti mempercayai orang, dan menyadari bahwa dalam diri setiap orang terdapat kekuatan untuk berubah.

Snyder (dalam Carr 2004) juga menyatakan bahwa hope (harapan) adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Hope (harapan) didasarkan pada keinginan yang positif dalam pencapaian tujuan.

Snyder, Irving, & Anderson. 1991 juga menambahkan terkait penjelasan hope (harapan), yakni keadaan individu yang termotivasi kepada hal-hal positif. Hal tersebut didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).

44

Berbeda dengan teori Snyder, dimana hope (harapan) didefinisikan sebagai sebuah emosi, sedangkan optimisme dideskripsikan sebagai sebuah konsep kognisi (Worgan, 2013). Averill, Caitlin, dan Chon (Worgan, 2013) menemukan deskripsi bahwa hope (harapan) yang berbeda dari segi elemennya, yaitu disaat individu berharap dan hasrat pencapaiannya terukur (realistis) disertai adanya keinginan untuk memperoleh penerimaan secara sosial dan moral.

Masing-masing peneliti menemukan hasil yang berbeda dalam penelitiannya mengenai hope (harapan). Sehingga, mendefinisikan hope (harapan) dengan sudut pandang yang berbeda pula. Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah hope (harapan) termasuk pada aspek kognisi atau emosi.

Kesimpulan-nya, hope (harapan) tidak hanya terkait dengan aspek kognisi semata, namun juga terkait dengan aspek afeksi dari individu.

Tingginya hope (harapan) individu dapat mempengaruhi strategi dan motivasinya untuk mencapai tujuan (Peterson &

Bryon, 2008). Beberapa studi terdahulu yang terkait dengan harapan menemukan hasil sebagai berikut; individu dengan hope (harapan) yang tinggi cenderung memiliki tingkat depresi yang rendah (Davidson, Wingate, Ramussen, & Splish, 2009).

45

Sebagaimana pendapat (Lewis & Kliewer, 1996) bahwasanya seorang individu dengan tingkat harapan tinggi maka akan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik. Sebaliknya, tingkat harapan yang rendah akan berimbas pada kesulitan dalam menyesuaikan diri.

Martin & Stremac (2010) menyatakan bahwa individu dengan tingkat harapan rendah cenderung melakukan hal-hal yang tidak seusai dengan nilai ataupun peran dan fungsinya dalam bekerja. dibandingkan individu yang memiliki tingkat harapan tinggi.

Hope (harapan) berkorelasi positif dengan rancangan dalam mencapai tujuan, taksiran pencapaian tujuan, tujuan pembelajaran, strategi koping, performa dalam mengerjakan tugas, dan prestasi. (Bernardo, 2010). Dengan memahami hope (harapan) yang dimiliki dapat membuat seorang individu memiliki sikap lapang dada, memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosial dengan mengurangi frustasi dan rasa putus asa (Worgan, 2013).

b. Aspek-aspek hope (harapan)

Menurut Snyder (1991), harapan melibatkan dua dimensi, yaitu sebagai berikut:

1) Pathway (Jalan pintas).

46

Pathway yaitu perencanaan untuk mencapai tujuan. Pathway merefleksikan kesadaran individu akan kapasitas diri untuk menentukan strategi dalam mencapai tujuan (Peterson &

Bryon, 2008). Seperti perkataan seseorang; “Saya akan menemukan sebuah cara/jalan untuk tujuan ini” (Valle, Huebner, & Suldo, 2006).

2) Agency.

Agensi yaitu motivasi yang memastikan seseorang untuk mampu memulai dan mendukung upaya yang diperlukan dalam rangka menindaklanjuti pathway/strategi tertentu yang telah ditetapkan. Seperti perkataan seseorang; “Saya tidak akan berhenti” (Valle, Huebner, & Suldo, 2006).

c. Faktor yang Mempengaruhi Harapan

Menurut Weil (2000), terdapat beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi harapan pada seseorang, antara lain yaitu sebagai berikut:

1) Dukungan Sosial

Dukungan sosial merupakan suatu hubungan interpersonal yang di dalamnya melibatkan dua orang atau lebih yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak dalam mendapatkan rasa aman, hubungan sosial, persetujuan dan kasih sayang. Sumber-sumber dukungan sosial anak dapat berasal dari orang terdekatnya, seperti teman sebaya,

47

tetangga, guru-guru di sekolah, keluarga khususnya orang tua dan saudara kandung.

2) Kepercayaan Religius

Kepercayaan merupakan sebuah keyakinan yang dipercayai oleh seseorang. Sedangkan religius merupakan kata dasar dari religi yang berasal dari bahasa inggris, yaitu religion yang memiliki makna agama dan memiliki kaitan dengan Tuhan. Kepercayaan religius dan spiritual telah diidentifikasikan sebagai sumber utama harapan.

Kepercayaan religius dijelaskan sebagai kepercayaan dan keyakinan seseorang pada hal positif atau menyadarkan individu pada kenyataan bahwa terdapat sesuatu atau tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk situasi individu saat ini.

3) Kontrol

Mempertahankan kontrol merupakan salahsatu bagian dari konsep harapan. Kemampuan kontrol dalam harapan berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan sesuatu hal, mengontrol dan menyiapkan diri. Mempertahankan kontrol dapat dilakukan dengan cara tetap mencari informasi, menentukan nasib sendiri, dan kemandirian yang menimbulkan perasaan kuat pada harapan individu.

48

Kemampuan individu akan kontrol juga dipengaruhi self-efficacy yang dapat meningkatkan persepsi individu terhadap kemampuannya akan kontrol. Harapan dapat dikorelasikan dengan keinginan dalam kontrol, kemampuan untuk menentukan, menyiapkan diri untuk melakukan antisipasi terhadap stres, kepemimpinan, dan menghindari ketergantungan.

d. Harapan dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, harapan itu tidak lantas didiamkan begitu saja tanpa ada upayauntuk bekerja keras melakukan hal yang bisa mewujudkan harapan. Usaha atau kerjakeras menjadi jalan dari tercapainya tujuan atau harapan itu. Di samping seorang Muslim juga diharuskan untuk senantiasa berdo‟a kepada Allah SWT, berharap kepada Allah agar apa yang diharapkannya tersebut bisa terwujud. Allah SWT juga secara jelas mengatakandalam firman-Nya di Surah Al-Insyirah pada dua ayat terakhirnya,

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS.

Al-Insyirah: 7-8)

49

Allah SWT memerintah manusia untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguhatas apa yang dilakukannya. Segala usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguhnantinya pun akan mendapatkan balasan yang baik. Namun, manusia juga tidak boleh lupa bahwa usaha itu juga harus disertai dengan harapan yang hanya ditujukan kepadaAllah SWT sebagai pemegang kendali atas semua usaha yang dilakukannya.

Dalamistilah lain, usaha yang dilakukan oleh manusia itu disebut sebagai ikhtiar. Dengan demikian, harapan di sini mempunyai 3 unsur penting, yakni; ikhtiar, tawakkal, dan do‟a.

1. Ikhtiar

Ikhtiar berasal dari bahasa Arab ( ikhtiyaar ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Secara istilah, yaitu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik yang berupa material, spiritual, kesehatan, atau pun masa depannya agar tujuanhidupnya selamat dan sejahtera dunia akhirat bisa terpenuhi. Maka, segala sesuatu baru bisa dikatakan sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Namun yang dimaksud kebaikan di sini tentunya adalah kebaikan yang menurut syari‟at Islam, bukan semata-mata kebaikan yang berasal dari akal, adat atau pendapat umum(Arifti dkk, 2012).

50

Ikhtiar ini juga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dansemaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masing-masingindividu.

Sebagaimana telah disebutkan pula dalam Al- Qur‟an surah Al -Insyirah ayat 7-8di atas. Akan tetapi, sekali lagi, jika ikhtiar yang dilakukan itu gagal, maka seorangMuslim tidak boleh berputus asa. Namun sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dantetap bersabar.

Agar ikhtiar atau usaha yang dilakukan tersebbut berhasil dan sukses, hendaknya juga dilandasi dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdo‟a dengan senantiasa mengikuti perintah Allah SWT yang diiringi dengan perbuatan baik, bidangusaha yang akan dilakukan juga harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset,selalu berhati-hati mencari teman atau mitra yang mendukung usaha tersebut, sertamemunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang profesional (Arifti dkk,2012).

Inilah yang dinamakan sebagai usaha dalam Islam. Islam tidak mengenal kata putus asa, sebab hal itu hanya akan membuat umatnya tidak mau mencoba melakukanhal-hal baik lainnya. Sebaliknya, Islam terus mendorong manusia untuk berusahasemaksimal mungkin. Jika pun usahanya gagal, manusia juga diminta untuk bersabar dantetap terus mencoba.

51 2. Tawakkal

Tawakkal merupakan perintah Allah SWT yang telah banyak disebutkan dalam Al-Qur‟anul Karim. Diantaranya:

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal :61).

“Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

(QS. Al-Anfal : 49).

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalankeluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Dari tiga ayat di atas dapat diketahui bahwasannya, ketika seseorang itu bertawakkal kepada Allah SWT, maka ia akan mendapatkan balasan yang tak terdugadari Allah SWT, baik itu berupa kelapangan, kemudahan atas segala urusannya, jalankeluar atas segala permasalahannya, pbahkan diberinya rezeki oleh Allah SWT dari arahyang tidak pernah ia sangka-sangka.

Selain tiga ayat di atas, masih banyak pula ayat lainnya yang menerangkan mengenai perintah untuk bertawakkal hanya pada Allah SWT. Tawakkal berasal dari kata tawakkala – yatawakkalu – tawakkal yang berarti menyerahkan,

52

mempercayakan dan mewakilkan. Jadi, orang yang bertawakkal adalah orang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanyakepada Allah SWT.

Sementara secara istilah, tawakkal memiliki beberapa pengertian berbeda dari ulama salaf. Diantara definisi tersebut ialah:

Imam Ahmad bin Hambal, mengartikan tawakkal sebagai aktivitas hati yang berarti merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkanoleh lisan, bukan pula sesuatu sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakkal juga bukan merupakan sebuah keilmuan atau pengetahuan (Al-Jauzi/ Tahdzib MadarijisSalikin: 337).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, memaknai tawakkal sebagai amalan dan ubudiyah(penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala „kecukupan‟ bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan „sebab-sebab‟ atau faktor-faktor yang mengarahkannya pada sesuatu yang dicarinya, serta usaha keras untuk dapat memperoleh nya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya‟ bidalailminal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

53

Ketika seorang Muslim menyadari bahwa semua yang terjadi dan dialami olehdirinya adalah perlindungan dari Rabbnya, tentunya ia juga akan menyadari bahwa disana ada Rabb yang Maha Kuasa, Maha Penolong, Pelindung dan Maha Pengasih. Dan,saat itulah ia bergantung pada-Nya (Al-Qarni, 2008: 227). Ketergantungan pada AllahSWT semata itulah yang juga dinamakan sebagai tawakkal.

Dalam kaitannya dengan harapan atau Raja‟, tawakkal merupakan tahap kedua yang harus dilakukan oleh seorang Muslim setelah melakukan ikhtiar (usaha). Setelah ada ikhtiyar, maka dia harus tawakal (pasrah). Pasrah bukan berarti, harapan tanpa usaha,karena tawakal hanya akan ada setelah ikhtiyar. Dan ketika seseorang lupa dengantawakal setelah ber-ikhtiyar, maka kemungkinan besar dia akan jatuh, dan berujung padasebuah keputus-asaan (Zulaiha). Dengan kata lain, hilangnya usaha berarti hilanglahhakekat dari tawakkal itu.

3. Do‟a

Tahapan ketiga dari proses Raja‟ atau harapan adalah do‟a. Do‟a menjadi penentu dari terwujudnya harapan. Selain ikhtiar dan tawakkal yang harus ada dalam harapan, juga harus ada do‟a. Sebab do‟a tanpa usaha adalah omong kosong, sedangkan usaha tanpa do‟a adalah sebuah kesombongan.

54

Allah SWT pemilik segalanya, dan hanya Dialah yang akan mengabulkan segala permintaan para hamba-Nya. Allah SWT berfirman:

ٌَ ُٕۡهُخۡذََٛس ِۡٗتَدبَجِع ٍَۡع ٌَ ۡٔ ُشِج ۡكَت ۡسَٚ ٍَِۡٚزَّنا ٌَِّا ۡؕۡىُكـَن ۡت ِجَت ۡسَا َِۡۤۡٗ ُٕۡعۡدا ُىُكُّث َس َلبَق َٔ

ٍَ ۡٚ ِش ِخاَد َىَََُّٓج

“Berdoalah kepada-Ku (Allah), maka Aku akan mengabulkan permintaanmu."(QS. Ghofir: 60)

Namun, harus diperhatikan pula, bahwa jawaban sebuah doa itu tidak akan serta merta langsung dikabulkan atau terwujud. Ada tiga macam jawaban atas do‟a yang seorang Muslim panjatkan pada Allah SWT:

Pertama, dikabulkan dengan seketika, yaitu ketika seorang hamba berdoakemudian Allah mengabulkan doa tersebut dengan seketika, atau dalam kurun waktuyang tidak lama.

Kedua, Allah tidak memberikan apa yang tertera dalam doa tersebut. Namun,Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Karena Allah Mahamengetahui apa yang diketahui hamba-Nya dan apa yang tidak diketahuinya. Allah SWT berfirman :

ٌَْأ َٰٗسَع َٔ ۖ ْىُكَن ٌشَْٛخ َُْٕ َٔ بًئَْٛش إُْ َشْكَت ٌَْأ َٰٗسَع َٔ ۖ ْىُكَن ٌِ ْشُك َُْٕ َٔ ُلبَتِقْنا ُىُكَْٛهَع َتِتُك َُْٕ َٔ بًئَْٛش إُّج ِحُت ًٌََُٕهْعَت َلَ ْىُتََْأ َٔ ُىَهْعَٚ ُ َّاللَّ َٔ ۗ ْىُكَن ٌّشَش

Boleh jadi sesuatu yang kamu benci, padahal itu baik buat kamu" (QS. AlBaqarah: 216)

55

Ketiga, Allah akan mengabulkan doa sesorang di akhirat nanti, danmenjadikannya sebagai tabungan amalan di akhirat kelak, dan hal ini sungguh merupakan pahala yang tiada terkira. Allah SWT berfirman

ىَقآبَأ َو ٌرآيَخ ُة َر ِخ آلْا َو

"Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal ." (QS. Al A'la: 17) Do‟a juga memiliki kekuatan luar biasa yang bisa menggerakkan seseorang untuk berbuat lebih guna mencapai tujuannya. Dalam Islam, do‟a tidak hanya sekedar yang terucap tatkala seseorang telah menyelesaikan ibadah Shalatnya, namun Shalat sendiri sudah merupakan do‟a. Karena itulah mengapa saat seseorang melaksanakan Shalat, hatinya akan tenang dan seolah-olah ingin melakukan ibadah itu terus menerus. Hal inimemang karena setiap bacaan yang ada dalam Shalat itu merupakan dzikir yang bisa menenangkan hati. Sebagaimana firman Allah SWT.

ِ َّاللَّ ِشْكِزِث َلََأ ۗ ِ َّاللَّ ِشْكِزِث ْىُُٓثُٕهُق ٍُِّئًَْطَت َٔ إَُُيآ ٍَِٚزَّنا ُةُٕهُقْنا ٍُِّئ ًَْطَت

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra‟d: 28) Beribadah kepada Allah SWT secara kontinu, berdzikir kepada-Nya setiap waktu, memohon ampunan, dan selalu memanjatkan

56

do‟a, bisa mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya. Dia akan merasa berada dalam lindungan dan penjagaan Allah,sehingga keyakinannya untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) semakin kuat. Diaakan merasa ridha, berlapang dada, serta lebih merasa tenang dan tentram dalam hidupnya (Najati, 2006: 414). Itulah tiga unsur yang tedapat dalam harapan menurut perspektif Islam. Ibnu Al-Wazir dalam bukunya yang sangat terkenal, Al-„Awashim wa al -Qawashim, mengatakan bahwa harapan terhadap rahmat Allah akan selalu membukakan pintu harapan bagi diriseorang hamba. Selain itu juga akan menguatkannya dalam melakukan ketaatan, dan membuatnya semakin antusias dalam melakukan amalan-amalan sunnah dan bersegera untuk melakukan kebaikan (Al-Qarni, 2008 : 141).

Dalam dokumen HUBUNGAN ANTARA (Halaman 65-79)

Dokumen terkait