• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI OPERASIONAL HOPE (HARAPAN)

Dalam dokumen HUBUNGAN ANTARA (Halaman 118-126)

DAFTAR LAMPIRAN 1. LEMBAR VALIDASI ALAT UKUR

3. TEORI OPERASIONAL HOPE (HARAPAN)

Hope (harapan) merupakan suatu emosi positif yang dimiliki seseorang dalam mewujudkan suatu keinginan berdasarkan penilaian kognitif dan afektif serta diiringi dengan motivasi yang kuat. Hapan berfungsi sebagai penyeimbang dari sumber kecemasan yang mengancam dan mengacaukan rasa aman pada individdu. Apabila individu memiliki harapan yang tinggi dengan sosialisasi antisipatif yang buruk, akan mengakibatkan terhambatnya peroses pencapaian tujuan.

Dalam penelitian ini, untuk mengukur hope (harapan) pada guru BK, menggunakan skala yang disusun berdasarkan teori Snyder (2005) yang terdiri dari 2 dimensi, diantaranya: Agency (Kemauan), dan pathway (jalan pintas)

150 BURNOUT

TEORI OPERASIONAL Aspek Indikator Aitem

Burnout adalah suatu keadaan dimana individu mengalami kondisi psikis negatif dalam jangka waktu lama dan menyebabkan perubahan sikap dan perilaku. Hal ini ditandai dengan tingkat adanya kelelahan yang ekstrim, depersonalisasi dan terjadinya penurunan pencapaian prestasi diri. Khususnya pada pekerjaan pelayanan kemanusiaan (human service). Akibat ketidakpuasan terhadap hasil yang diperoleh serta tekanan-tekanan diterima dalam waktu yang relatif lama, baik secara eksternal (lingkungan pekerjaan) maupun internal yang mempengaruhi psikis seseorang, seperti: perasaan, sikap, motif, dan harapan. Harapan yang tidak ideal dengan kenyataan sehingga, menyebabkan kelelahan secara fisik, emosi, dan mental.

Dalam penelitian ini, untuk mengukur tingkat burnout ini pada guru BK, menggunakan skala yang disusun berdasarkan teori Maslach (2001), yang terdiri dari 3 dimensi, diantaranya: Exhaustion (kelelahan), Depersonalisasi, dan Ineffectiveeness

Exhaustion

Perasaan lelah secara fisik

1. Menurut merasa pekerjaan sebagai guru BK menguras energi saya.

2. Saya merasa lesu dan tidak bertenaga dalam menghadapi rutinitas kerja saya.

3. Saya merasa sulit untuk tidur dan pola tidur saya terganggu 4. Otot saya sering terasa kaku dan

badan saya terasa sakit setelah bekerja

Perasaan lelah secara emosional

1. Saya merasa emosi saya tekuras dalam pekerjaan.

2. Menghadapi beberapa kasus yang semakin bertambah, membuat saya menjadi frustasi 3. Saya merasa wali kelas

menyalahkan saya ketika kasus anak tidak tuntas.

4. Berurusan dengan wali murid merupakan sumber ketegangan Perasaan tidak

berdaya dalam bekerja

1. Saya merasa tidak ada kemajuan dari pekerjaan saya.

2. Saya merasa tertekan dengan beban pekerjaan yang diberikan.

Kurangnya minat/perhatian terhadap pekerjaan

1. saya merasa pekerjaan bukan suatu hal menyenangkan 2. kelelahan karena pekerjaan

151

membuat saya enggan untuk melanjutkan pekerjaan

Depersonalisasi

Acuh tak acuh dengan kondisi lingkungan kerja

1. saya tidak peduli dengan liingkungan kerja saya 2. Kerap kali saya mengabaikan

pkerjaan saya

3. Saya malas membalas sapaan dari rekan kerja saya

Merasa sensitive terhadap pekerjaan dan orang disekitarnya

1. akhir-akhir ini saya mudah marah 2.

Ineffectiveness

Penurunan rasa percaya diri

1. saya merasa tidak mampu memberikan pelaynan konseling dengan baik.

2. Selama bekerja saya belum pernah mencapai prestasi terbaik.

3. Saya pesimis terhdap hasil pekerjaan saya

Merasa tidak

melakukan sesuatu yang bermanfaat

1. Tidak ada yang bisa

dibanggakan dengan pekerjaan saya

2. Ketika permasalahn yang dihasapi tidak tuntas saya merasa bersalah dan menyalahkan diri saya Berpandangan negatif

terhadap oranglain dalam pekerjaan

1. saya merasa hasil kerja yang saya lakukan tidak mendapat apresiasi positif dari rekan kerja bahkan atasan saya.

152

WORK ENGAGEMENT

TEORI OPERASIONAL Aspek Indikator Aitem

Work engagement ialah, suatu kondisi psikologis positif yang melibatkan unsur kognitif, emosi, dan perilaku yang ditandai dengan adanya semangat, dedikasi dan keterlibatan penuh dalam pekerjaan yang ia miliki, dengan tujuan agar dapat memajuan suatu lembaga (sekolah).

Dalam penelitian ini, untuk mengukur work engagement pada guru BK, menggunakan skala yang disusun berdasarkan teori yang dikemukakan oleh (Schaufeli &

Bakker, 2003) yang terdiri dari 3 dimensi, diantaranya:

vigor, dedication, dan absorbtion.

Vigor

Memiliki usaha yang

besar dalam

menyelesaikan masalah

1. Saya selalu mengerjakan tugas secara maksimal, serta menjadi contoh yang baik bagi rekan kerja saya

Memiliki ketekunan dalam bekerja

2. Saya senang membuat terobosan baru di dalam menjalankan tugas

3. Saya selalu mampu

menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya

Memiliki ketahanan diri dalam bekerja

1. Walau mengalami kesulitan saya tidak mengeluh.

2. Saya dapat bekerja dalam waktu yang lama

Semangat dalam bekerja

1. Saya bersemangat ketika berangkat bekerja Selalu berinisiatif

didalam menjalankan pekerjaan

1. Saya memeriksa kelengkapan atribut sebelum bekerja

Dedication

Memiliki rasa antusiasme di dalam bekerja

1. Saya selalu berusaha dan memberikan sumbangsih untuk kemajuan instansi

2. Saya selalu ingin memberikan kontribusi terbaik pada pekerjaan

153

Bangga terhadap pekerjaannya

1. Saya akan menjaga kualitas hasil kerja saya

2. Saya bangga dengan tempat kerja saya saat ini

3. Saya merasa pekerjaan saya membuat orang – orang menghargai saya Merasa terinspirasi

dalam bekerja

1. Saya merasa bahwa

pekerjaan/tugas saya adalah sumber inspirasi dalam kehidupan saya

Pekerjaan menjadi sebuah tantangan

1. Pekerjaan yang saya lakukan menjadi sebuah tantangan yang harus dijalani

2. Tugas dalam pekerjaan

membuat saya tertantang untuk menyelesaikan

3. Pengalaman baru dalam pekerjaan membuat saya tertantang

Absorption

Sangat menikmati di dalam bekerja

1. Saya menikmati menyukai pekerjaan saya

Sulit memisahkan diri dengan pekerjaan

1. Saya tidak akan pulang bekerja sebelum pekerjaan saya selesai 2. Saya sulit berhenti ketika

mengerjakan tugas saya Totalitas di dalam

bekerja

1. Saya rela mengorbankan waktu istirahat saya dalam rangka menyelesaikan tugas/pekerjaan

154

Merasa bahagia terhadap pekerjaan yang dilakukan

1. Saya merasa bahagia terhadap pekerjaan yang saya lakukan.

2. Saya senang dapat mengetahui serta membantu siswa yang sedang terkena masalah Selalu berkonsentrasi

pada saat bekerja

1. Saya senantiasa ingat kepada pekerjaan/tugas yang harus saya selesaikan

2. Saya selalu fokus dalam bekerja 3. Sungguh sulit untuk

mengalihkan saya dari pekerjaan ketika saya sedang

mengerjakannya Pada saat bekerja,

merasa waktu berjalan dengan sangat cepat

1. Ketika bekerja, waktu berlalu begitu cepat

2. Sulit bagi saya untuk tidak memikirkan tentang pekerjaan yang harus diselesaikan 3. Saya merasa terhanyut dalam

pekerjaan, saat saya bekerja HOPE (HARAPAN)

TEORI OPERASIONAL Aspek Indikator Aitem

Hope (harapan) merupakan suatu emosi positif yang dimiliki seseorang dalam mewujudkan suatu keinginan berdasarkan penilaian kognitif dan afektif serta diiringi dengan motivasi yang kuat. Hapan berfungsi sebagai penyeimbang dari sumber kecemasan yang mengancam dan mengacaukan rasa aman pada individdu. Apabila individu memiliki harapan yang tinggi dengan sosialisasi

Pathway

Mampu merancang strategi

1. Saya membuat sebuah strategi dalam mengatasi kasus ataupun permasalahan siswa

2. Saya menetapkan tujuan dalam setiap melakukan pekerjaan saya 3. Saya optimis dengan tujuan

yang telah saya buat dalam

155 antisipatif yang buruk, akan mengakibatkan terhambatnya

peroses pencapaian tujuan.

Dalam penelitian ini, untuk mengukur hope (harapan) pada guru BK, menggunakan skala yang disusun berdasarkan teori Snyder (2005) yang terdiri dari 2 dimensi, diantaranya: Agency (Kemauan), dan pathway (jalan pintas)

pekerjaan saya

Merasa mampu

mengembangkan strategi

1. Begitu saya menentukan sebuah tujuan, saya sudah

merencanakan bagaimana cara mencapainya

2. Setiap kali berhadapan dengan masalah, saya selalu

menemukan jalan keluarnya 3. Saya memikirkan tujuan

selanjunya setelah tujuan pertama tercapai dalam pekerjaan saya

Agency

Mempertahankan motivasi

1. Saya yakin saya mampu mencapai tujuan saya dan dapat mempertahankanya

2. Saya bersemangat dalam mencapai tujuan yang telah saya buat

3. Perasaan tertekan saat mengalami kesulitan dalam pekerjaan, saya pandang sebagai hal yang wajar dan dapat dipahami

Bertahan ketika menghadapi hambatan

1. Masa lalu saya membuat saya meenjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah

2. Saya tetap berharap dan yakin bahwa saya dapat mengatasi kesulitan dalam pekerjaan saya 3. Bila saya menemukan diri saya

berada dalam permasalahan

156

yang rumit, saya dapat

memikirkan banyak cara untuk keluar dari permasalahan tersebut

157

Dalam dokumen HUBUNGAN ANTARA (Halaman 118-126)

Dokumen terkait