DAFTAR LAMPIRAN
2. Hubungan curah hujan dengan limpasan ( Run off )
Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses hidrologi, karena jumlah kedalaman hujan (rainfall depth) ini yang dialih ragamkan menjadi aliran di sungai, baik melalui limpasan permukaan (surface run off), aliran antara (interflow, sub surface flow) maupun sebagai aliran air tanah (groundwater flow) (O'Donnel 1973 diacu dalam Purwanto 2003) menggambarkan proses pengaliran air pada suatu daerah aliran sungai seperti pada Gambar 6.
Berdasarkan Gambar 6, curah hujan yang jatuh diatas permukaan bumi akan terinfiltrasi ke dalam tanah. Selain terinfiltrasi ke dalam tanah terjadi pula proses evapotranspirasi. Air yang terinfiltrasi selanjutnya akan mengisi simpanan (storage) di dalam tanah. Setelah simpanan mencapai maksimum (kejenuhan) terjadilah aliran antara (interflow) dan air akan terperkolasi sehingga akhirnya menjadi aliran dasar (baseflow). Aliran-aliran ini selanjutnya akan terkumpul (total run off) menjadi debit sungai.
Hisapan Air oleh Akar (Root Water Uptake)
Root water uptake adalah sebuah proses penting dari siklus air dalam tanah dan sebuah proses hisapan akar tanaman yang menyebabkan terjadinya aliran vertikal dari lapisan tanah bawah ke zona akar. Proses pengangkutan air diantara lapisan tanah tak jenuh dalam zona perakaran dikendalikan oleh sifat fisik tanah, fisiologi tanaman dan faktor meteorologi. Metode dasar untuk mendeskripsikan pergerakan air tanah dalam zona perakaran paling banyak mengikuti persamaan kontinuitas satu dimensi berdasarkan persamaan Darcy untuk aliran air dan distribusi makroskopik istilah meresap untuk penangkapan akar. Karena hisapan air oleh akar tanaman adalah sebuah proses kompleks yang ditentukan oleh proses saling interaksi secara fisik dan fisiologi dalam sistem perakaran tanah, istilah meresap untuk hisapan air sulit untuk diukur (Gong 2006).
Dari sebuah pandangan hidrologi dan ekologi, root water uptake dalam ekosistem hutan adalah proses hisapan air oleh akar yang menggambarkan lebih rinci dari root water uptake untuk memperkirakan daur nutrisi. Pola root water uptake sulit untuk diukur secara langsung dari perubahan sesaat kandungan air tanah. Oleh karena itu, pola gerakan vertikal sebuah hisapan air oleh akar ini kadang dipelajari dengan model simulasi satu dimensi yang mensimulasikan aliran vertikal tak jenuh dari air tanah. Pengukuran kandungan air tanah sangat penting untuk memperkirakan parameter- parameter dalam model root water uptake ini yang tidak dapat ditentukan secara bebas (Musters dan Bouten 2000).
Model Simulasi
Simulasi dapat diartikan sebagai penyusunan model-model matematika untuk menyatakan kenampakan dari perilaku penting dari suatu sistem nyata. Simulasi merupakan eksperimentasi yang menggunakan model suatu sistem. Dengan analisis sistem tanpa harus mengganggu atau mengadakan perlakuan terhadap sistem yang diteliti dan kegagalan seperti yang sering dialami pada eksperimentasi biasa (percobaan) tidak akan terjadi (Hillel 1971).
Gambar 6 Sistem aliran sungai (O'Donnel 1973 dalam Harto 1993) Evapotranspirasi Simpanan Permukaan Curah Hujan Infiltrasi Root Water Uptake Perkolasi Total Runoff
Simpanan Air Tanah Simpanan Kadar Air
Menurut Soerianegara (1978), simulasi merupakan salah satu kegiatan dalam analisis sistem yang secara garis besamya meliputi tiga kegiatan utama yaitu :
a. Merumuskan model yang menggambarkan sistem dan proses yang terjadi di dalamnya.
b. Memanipulasi model atau melakukan eksperimentasi.
c. Mempergunakan model dan data untuk memecahkan persoalan pengelolaan.
Model simulasi merupakan model yang rnenghitung tahapan operasional peubah- peubah model pada suatu gugus nilai parameter-parameter model. Sistem alam nyata yang kompleks dan dahulu tidak mungkin diselesaikan dengan model analitis, sekarang dapat diselesaikan dengan model simulasi yang diterapkan secara luas dalam mempelajari sistem dinamik yang kompleks (Hillel 1971).
Model simulasi didefinisikan sebagai teknik numerik untuk menyatakan percobaan-percobaan hipotetik secara kuantitatif ke dalam model matematika tentang perilaku dan sifat sistem yang dinamik. Penerapan model simulasi harus melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) pengumpulan dan analisis data lapang, (2) mendefinisikan masalah-masalah yang akan disimulasikan, (3) pembuatan model- model, (4) formulasi model ke dalam bentuk matematika, (5) pengembangan algoritma, (6) pengecekan algoritma, (7) penyusunan program komputer dari model, (8) menduga parameter yang diperlukan, (9) mengecek program komputer, (10) mengecek parameter, (11) melakukan eksperimentasi simulasi, (12) mengecek hasil simulasi, (13) membandingkan hasil simulasi dengan hasil lapang (14) penggunaan model simulasi untuk pemecahan masalah (Hillel 1971). Faktor-faktor yang mempengaruhi model simulasi dalam hidrologi adalah faktor iklim (curah hujan, radiasi matahari, suhu udara, kelembaban nisbi, dan angin), evapotranspirasi, intersepsi, infiltrasi dan perkolasi, cadangan permukaan, aliran permukaan, aliran bawah permukaan, dan aliran air bawah tanah (Viesman et al. 1977).
Sistem dan Pendekatan Sistem
Sistem adalah suatu gugus dari komponen yang saling terkait dan terorganisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau gugus tujuan tertentu, (Manetsch dan Park, 1979 dalam Eriyatno, 2003). Pengertian tersebut menjelaskan bahwa dalam sistem terdapat bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam upaya pencapaian tujuan. Sistem merupakan gugus dari elemen-elemen yang saling berinteraksi secara teratur dalam rangka mencapai tujuan atau sub tujuan (Marimin 2005).
Menurut Hartrisari (2007) suatu sistem dapat terdiri atas beberapa subsistem. Masing-masing susbsistem tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Namun secara keseluruhan dalam konsep sistem memiliki fungsi yang sama artinya masing-masing fungsi dari subsistem tersebut saling mendukung untuk berjalannya fungsi sistem secara keseluruhan. Sistem dapat digolongkan dalam dua tipe yaitu sistem terbuka (open system) yaitu sistem yang outputnya merupakan tanggapan dari input, namun tidak memberi umpan balik terhadap input dan sistem tertutup (closed system) yaitu outputnya memberikan umpan balik terhadap input (Hartrisari 2007).
Pendekatan sistem adalah suatu pendekatan analisis organisatoris yang menggunakan ciri-ciri sistem sebagai titik tolak analisis (Marimin 2005). Eriyatno (2003) menjelaskan bahwa pemikiran sistem selalu mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh, maka diperlukan suatu kerangka fikir baru yang terkenal sebagai pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem merupakan cara
penyelesaian persoalan yang komprehensif dan berorientasi tujuan. Pendekatan sistem dapat memberi landasan untuk pengertian yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sistem dan memberikan dasar untuk memahami penyebab ganda dari suatu masalah dalam kerangka sistem.
Hartrisari (2007) menjelaskan pendekatan sistem merupakan pendekatan yang tidak secara langsung mereduksi faktor yang berpengaruh tetapi lebih bersifat menyeluruh. Pendekatan yang bersifat holistik lebih memfokuskan keterkaitan antara faktor. Pendekatan sistem menggunakan model untuk mempelajari perilaku sistem yang dikaji, yang digunakan sebagai dasar perbaikan sistem. Sementara model adalah penyederhanaan system artinya karena sistem sangat komplek, maka model dibuat untuk memudahkan memahami gambaran sistem. Tujuan penyusunan model yaitu: (1) Memahami proses yang terjadi dalam suatu system, (2) Membuat prediksi dan (3) Menunjang pengambilan keputusan. Agar dapat bekerja secara sempurna, suatu pendekatan sistem mempunyai delapan unsur yaitu: (1) Metodologi untuk perencanaan dan pengelolaan, (2) Tim yang multidisipliner, (3) Pengorganisasian, (4) Disiplin untuk bidang yang kuantitatif, (5) Teknik model matematik, (6) Teknik simulasi, (7) Teknik optimasi dan (8) Aplikasi komputer (Eriyatno 2003).
Keunggulan pendekatan sistem yaitu: (1) Makin lama makin dirasakan interdependensinya dari berbagai bagian dalam mencapai tujuan sistem, (2) Sangat penting untuk menonjolkan tujuan yang hendak dicapai, dan tidak terikat pada prosedur koordinasi atau pengawasan dan pengendalian itu sendiri, (3) Dalam banyak hal pendekatan manajemen tradisional seringkali mengarahkan pandangan pada cara-cara koordinasi dan kontrol yang tepat, seolah-olah inilah yang menjadi tujuan manajemen, padahal tindakan-tindakan koordinasi dan kontrol ini hanyalah suatu cara untuk mencapai tujuan, dan harus disesuaikan dengan lingkungan yang dihadapi dan (4) Konsep sistem berguna sebagai cara berfikir dalam suatu kerangka analisis yang dapat memberi pengertian yang lebih mendasar mengenai perilaku dari suatu sistem dalam mencapai tujuannya (Marimin 2005).
Menurut Marimin (2005) sifat dasar dari suatu sistem terdiri atas: (1) Pencapaian tujuan, dimana prinsip ini memberikan sifat bahwa sistem merupakan sesuatu yang dinamis dalam mencapai tujuan, (2) Kesatuan usaha dimana prinsip ini menjelaskan bahwa hasil keselurahan dari sistem melebihi bagian-bagiannya atau disebut konsep sinergi, (3) Keterbukaan terhadap lingkungan dimana prinsip ini menjelaskan bahwa lingkungan merupakan sumber potensi dan hambatan sehingga pencapaian tujuan suatu sistem relatif tidak mutlak dan sebaliknya, dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan tantangan lingkungannya, dan ( 4) Transformasi, yaitu prinsip yang menjelaskan tentang proses perubahan input menjadi output.
Tahapan-tahapan pendekatan sistem yaitu: (1) Analisis kebutuhan, bertujuan
untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing stakeholder, (2) Formulasi permasalahan yaitu mengkombinasikan dan mensinergiskan semua
permasalahan yang merupakan kebutuhan stakeholders dalam system, (3) Identifkasi sistem, yaitu memahami mekanisme yang terjadi dalam sistem mencakup faktor-faktor yang terkait di dalamnya, dan identifikasi sistem dapat dilakukan dengan diagram
input-output atau diagram lingkar sebab akibat, (4) Simulasi pemodelan, yaitu tahap interaksi antara analisis sistem dengan pembuatan keputusan yang menggunakan model dengan mempertimbangkan berbagai variabel yang dimasukkan dan (5) Validasi dan verifikasi (Hartrisari 2007).
3 METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian berada pada areal perkebunan kelapa sawit di sub DAS Lalindu Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan ibukota Wanggudu. Berdasarkan RTRW Kabupaten, pembangunan wilayah dilakukan dengan pendekatan kawasan prioritas yang menetapkan kecamatan tersebut sebagai wilayah pengembangan perkebunan. Secara geografis luas kawasan perkebunan adalah 18.500 Ha bruto dan terletak diantara 122o10‟ 36” sampai 1220 18‟ 06” BT dan 03o 09‟ 12” sampai 030 23‟ 20” LS. Kawasan perkebunan di sebelah utara berbatasan dengan hutan negara. Kawasan perkebunan merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara dan berjarak ± 200 km ke ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara fisik kawasan perkebunan kelapa sawit terletak dalam sistem DAS Lalindu. Sungai Lalindu bermuara ke Sungai Lasolo di Desa Wadambali dan merupakan salah satu sungai yang melintas di kawasan perkebunan dan difungsikan sebagai sarana transportasi yang vital untuk mobilisasi alat berat dan mobilisasi perlengkapan lainnya. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 7.
Disain Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan beberapa macam metode analisis. Untuk menjawab tujuan pertama, digunakan analisis deskriptif, analisis regresi dan korelasi dan analisis spasial. Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan fenomena- fenomena yang bersifat kualitatif. Analisis hidrologi digunakan untuk menjawab tujuan kedua yaitu dengan menggunakan model tangki. Sedangkan untuk menjawab tujuan ketiga, digunakan analisis sistem dinamik menggunakan software Stella dan analisis deskriptif membahas kelembagaan pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Skema desain penelitian disajikan pada Gambar 8.
Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari hasil survei dan hasil penjajagan dengan kuisioner kepada responden terpilih dan dari kalangan pakar. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini digolongkan atas tujuan penggunaannya yaitu pemodelan kuantitatif dan kualitatif. Pemodelan kuantitatif yaitu sub model karakteristik tutupan lahan pada areal perkebunan kelapa sawit. Pemodelan kualitatif terdiri dari dua pendekatan yaitu : metode diskusi pakar dan metode diskusi stakeholder
dengan focus group discussion (Reed 2009). Pendekatan diskusi pakar digunakan untuk menentukan faktor-faktor dominan yang diprioritaskan untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Gambar 7 Peta lokasi penelitian
PETA LOKASI PENGAMATAN DI AREAL PERKEBUNAN KEC. WIWIRANO
KAB. KONAWE UTARA PROV. SULAWESI TENGGARA
Pengumpulan Data Primer & Sekunder
Kondisi Eksisting Lahan Perkebunan Kelapa Sawit
Analisis Limpasan
Model Dinamik (Stella)
GIS/SIG Survei Tutupan
Lahan Model Tangki 1. Curah Hujan 2. Evapotranspirasi 3. Debit 4. Konservasi
Model Konservasi Sumberdaya Air pada Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan
Analisis Keberlanjutan (Kondisi Eksisting Perkebunan Kelapa Sawit)
Ekologi Ekonomi Sosial
1. Data Iklim
2. DataTutupan Lahan dan Tanah
3. Data Debit
Pengumpulan data primer meliputi: data biofisik (iklim, hidrologi, tutupan lahan dan keanekaragaman hayati), data sosial budaya dan ekonomi masyarakat di wilayah perkebunan kelapa sawit, demografi, dan pengelolaan kelapa sawit pada dua lokasi
afdeling salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terletak di dalam lokasi penelitian. Penutupan lahan sekarang di perkebunan kelapa sawit dan sifat-sifat tanah (bahan induk) diamati di lapangan dan di plot ke dalam peta kerja saat survei lapangan berlangsung.
Data primer dikumpulkan dengan metode survei dengan teknik wawancara mendalam, pengamatan lapangan dan pengukuran. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan responden menggunakan kuisioner terstruktur atau semi terstruktur. Sedangkan pendapat para pakar dilakukan melalui wawancara atau Focus Group Discussion (FGD). Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode Expert Survey yang dibagi atas dua cara;
1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan Purposive Random Sampling (Walpole 1995).
2. Responden yang dipilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang kajian. Beberapa pertimbangan dalam penentuan pakar yang akan dijadikan responden, menggunakaan kriteria sebagai berikut: (a) mempunyai pengalaman yang kompoten sesuai dengan bidang yang dikaji; (b) memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji; (c) memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia dan atau berada pada lokasi yang dikaji.
Stakeholders yang menjadi responden meliputi masyarakat atau pekebun yang memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luasan minimal 2 ha yang berjumlah 50 orang. Jumlah responden tersebut dipilih secara acak sederhana, yang jumlahnya ditetapkan secara proporsional (proportional cluster randomsampling). Responden dari kalangan pakar atau ahli yang dipilih secara sengaja (purposive sampling) dari berbagai latar belakang keahlian dan asal instansi yang disesuaikan dengan keterwakilan
stakeholders. Jumlah pakar sebanyak 20 orang yang berasal dari Dinas Perkebunan Provinsi/Kabupaten Konawe Utara, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Bank Bahteramas, PT. Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV), PT. Damai Jaya Lestari, Perguruan Tinggi (Universitas Haluoleo dan Universitas Sulawesi Tenggara), Lembaga Adat dan LSM. Jenis dan sumber data penelitian disajikan pada Tabel 7.
Data sekunder meliputi demografi, sosial budaya, ekonomi, pengelolaan perkebunan kelapa sawit, dan laporan serta dokumen lainnya yang relevan. Data iklim diperoleh dari stasiun BMKG Kabupaten Konawe dan peta perubahan tutupan lahan Kabupaten Konawe Utara dari Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe Utara. Sedangkan data hidrologi sungai, yaitu data menyangkut pengukuran debit sungai dari DAS Lalindu.
Data-data sekunder ini juga bersumber dari RSPO/ISPO, HCV, perusahaan perkebunan, instansi terkait di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe Utara seperti Bappeda, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Kimpraswil, BP DAS, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Pusat Statistik (BPS), LSM, Kelompok Tani, dan instansi lain yang berhubungan dengan kelapa sawit, Kecamatan dan Desa dalam wilayah Kecamatan Wiwirano. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Perguruan Tinggi seperti UNHALU, IPB, BPPT, Bakosurtanal dan Badan Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan/Puslitanak Bogor. Matriks tujuan, variabel data, teknik pengumpulan data, metode analisis dan output yang diharapkan dalam penelitian disajikan pada Tabel 8.
Tabel 7 Jenis dan sumber data penelitian
Jenis Data Sumber Data
Biofisik (tanah, iklim, hidrologi, tutupan lahan dan keanekaragaman hayati)
Primer (pengukuran langsung) dan sekunder dari instansi terkait
Ekonomi: pendapatan dan produksi Primer (wawancara) dan sekunder (BPS, dinas/instansi terkait dan publikasi yaitu laporan/jurnal)
Sosial budaya: jumlah penduduk, kondisi sosial budaya, ketersediaan tenaga kerja, tingkat pendidikan, umur tenaga kerja
Primer (wawancara) dan sekunder (BPS, dinas/instansi terkait dan publikasi yaitu laporan/jurnal)
Aspek kelembagaan: kelompok tani, penyuluhan, kelembagaan keuangan
Primer dari responden dan sekunder dari BPS, dinas/instansi terkait
Tabel 8 Matriks tujuan, variabel data, teknik pengumpulan data, metode analisis dan output yang diharapkan dalam penelitian
No. Tujuan Variabel Data Sumber
Data Teknik Pengumpulan Data Metode Analisis Output yang diharapkan 1 Mengkaji kondisi eksisting perubahan
tutupan lahan yang terjadi dan kondisi fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan flora dan
fauna pada areal
perkebunan kelapa sawit di sub DAS Lalindu,
Kabupaten Konawe
Utara.
- Letak dan luas perkebunan kelapa sawit.
- Peta topografi, kemiringan lereng , dan peta geologi.
- Data sifat-sifat tanah (tekstur, struktur, porositas, kedalaman tanah dan permeabilitas profil tanah)
- Data iklim, yang meliputi data curah hujan, kelembaban, temperatur udara dan jumlah bulan basah/kering (time series minimal 5 tahun terakhir).
- Keanekaragaman hayati flora dan fauna Primer dan Sekunder Observasi langsung dan studi pustaka Deskriptif, tabulasi dan interpretasi peta dengan perangkat lunak GIS/SIG
- Kondisi aktual (exsisting)
- Masalah dan peluang pengembangan perkebunan kelapa sawit
- Data hidrologi
(evapotranspirasi dan debit sungai).
- Perubahan tutupan lahan
- Data flora dan fauna
2 Mengkaji konservasi
sumberdaya air dalam pengembangan
perkebunan kelapa sawit di sub DAS Lalindu,
Kabupaten Konawe
Utara..
Curah Hujan Evapotranspirasi Debit
Luas cover crop
Primer dan sekunder
Observasi, pengukuran langsung dan studi pustaka
Analisis hidrologi dengan model tangki
- Karakteristik hidrologi akibat perubahan tutupan lahan
- Nilai debit sub das dari akumulasi proses-proses limpasan yang terjadi
- Konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit
3 Menyusun model
konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan di sub DAS Lalindu, Kabupaten Konawe Utara.
Seluruh data yang digunakan pada analisis parsial setiap komponen konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit
Primer dan sekunder serta responden Wawancara mendalam, kuesioner dan FGD Analisis sistem dinamis dan kajian kelembagaan
Model konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan
Tahapan Analisis Data
Tahapan analisis data pada penelitian ini disajikan pada Gambar 9.
Adapun lokasi penelitian untuk pengamatan run off/pengukuran debit dilakukan pada plot contoh, sub-sub DAS dan sub DAS Lalindu pada areal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara disajikan pada Gambar 10. Pengamatan run off/pengukuran debit pada plot contoh mewakili lahan hutan, lahan alang-alang, lahan kelapa sawit dengan kelerengan >15% dan <15% dengan penanaman leguminosae atau mulsa dan tanpa penanaman leguminosae atau mulsa.
Gambar 9 Tahapan analisis data
Evaluasi Tutupan Lahan
Analisis Hidrologi Data penunjang :
1.Studi Pustaka 2.Data Sekunder
Data penunjang : 1.Kondisi biofisik lahan 2.Curah hujan 3.Evapotranspirasi 4.Debit sungai 5.Konservasi Mulai Tank Model Mikro DAS Data penunjang : 1.Peta Topografi 2.Peta kemiringan lereng 3.Peta geologi
4.Peta Tata Guna Lahan
Penulisan Proposal
Model Dinamis Konservasi Sumberdaya Air pada Perkebunan
Kelapa Sawit
Rekomendasi Kebijakan
Selesai
Gambar 11b Pengukuran run off pada plot contoh 4 m 4 m B B A A Tangki Pengukuran Q Plot Contoh Q Plot Contoh
Q Mikro DAS Antara
Q Mikro DAS Antara
Q Mikro DAS Antara
Q Sub DAS
Q Sub DAS
Q Plot Contoh
Q Plot Contoh
Q Mikro DAS Antara
Hutan Sawit >15% Sawit < 15% Alang- alang Wilayah Kebun Lain Wilayah Kebun Lain Wilayah Kebun Lain Wilayah
Kebun Lain Wilayah
Kebun Lain
Papan
Q Sub-sub DAS antara
Q Sub-sub DAS antara Q Sub-sub DAS
antara
Q Sub-sub DAS antara
Gambar 10a Pengamatan run off/pengukuran debit
Analisis Data
Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis untuk mengetahui dinamika konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini. Hasil analisis ini dijadikan acuan untuk melakukan simulasi pada perumusan altematif model konservasi sumberdaya air untuk masa mendatang. Selanjutnya, hasil analisis juga dijadikan pertimbangan dalam mengimplementasikan model konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian. Untuk memperoleh alternatif model konservasi sumberdaya air pada perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, data yang terukur dan kuantitatif dianalisis dengan pendekatan sistem dinamis. Secara rinci, teknik analisis data diuraikan sebagai berikut: