• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Model Konservas

1. Model konservasi hutan

Program konservasi kawasan hutan yang memiliki keanekaragaman jenis flora fauna tinggi, sebagai habitat satwa langka, pelestarian potensi sumber air dan daerah aliran sungai serta sumber ekonomi masyarakat desa hutan di antaranya menambah dan memperluas kawasan konservasi. Dengan makin meningkatnya pengembangan wilayah di luar kawasan konservasi maka perlu penataan fungsi kawasan untuk meningkatkan nilai dan peluang pemanfaatan kawasan untuk menunjang pembangunan. Di sisi lain adanya kepentingan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya memberi peluang pula terjadinya peningkatan pemanfaatan sumberdaya tumbuhan dan fisik kawasan secara illegal.

Guna memadukan kepentingan ekonomi masyarakat tersebut dengan kepentingan pelestarian keanekaragaman tumbuhan dan ekosistemnya, di antaranya adalah membangun daerah penyangga di luar Kawasan Pelestarian Alam. Menurut Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kawasan pelestarian alam adalah kawasan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Selanjutnya dinyatakan bahwa daerah penyangga merupakan wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam maupun kawasan pelestarian alam, baik sebagai kawasan hutan lain, tanah negara maupun tanah yang dibebani hak, yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Dengan demikian, daerah penyangga ini mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengurangi tekanan penduduk ke dalam kawasan pelestarian dan suaka alam, memberikan kegiatan ekonomi masyarakat dan merupakan kawasan yang memungkinkan adanya interaksi manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat dengan kawasan konservasi.

Dalam menetapkan dan mengelola daerah penyangga kawasan konservasi harus didasarkan pada tiga aspek yang saling terkait, yaitu aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat, sehingga daerah penyangga memiliki nilai ekonomi yang mampu meningkatkan taraf hidup dan persepsi masyarakat dalam menjaga keutuhan kawasan konservasi.

Skenario alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dilakukan pada lahan hutan yang memiliki kelerengan ≤ 45% sedangkan lahan hutan yang memiliki kelerengan ≥ 45% direkomendasikan dijadikan kawasan konservasi. Lahan hutan yang memiliki kelerengan ≥ 45% merupakan daerah yang harus diperhatikan dan dijaga kondisi lahannya karena kemungkinan pengaruh terjadinya erosi berada pada kemiringan yang semakin curam. Semakin curam suatu daerah, maka daerah tersebut berada pada tingkat pengaruh bahaya erosi yang paling besar. Dengan demikian, potensi terjadinya erosi di daerah tersebut adalah lebih besar. Untuk lahan dengan kemiringan lereng > 45% harus dijadikan sebagai kawasan penyangga atau dengan kata lain tidak boleh digunakan sebagai kawasan perkebunan. Menurut Kartasapoetra et al. (1991) kelerengan lahan merupakan faktor yang sangat penting. Lahan yang curam lebih mudah terganggu dan mengalami kerusakan tanah terutama oleh faktor erosi.

Pada lahan hutan yang memiliki kelerengan ≥ 45% dapat dikembangkan oleh masyarakat petani dengan menghasilkan hasil hutan non kayu berupa tanaman rotan sebagai sumber ekonomi masyarakat petani. Dari hasil wawancara yang dilakukan menjelaskan bahwa pengambilan rotan yang terdapat di lahan hutan telah lama dilakukan oleh masyarakat setempat. Namun, pada saat ini banyak penduduk desa di lokasi penelitian yang tidak melakukan aktifitas memungut rotan di hutan sebab

menurut mereka harga rotan tidak sebanding dengan waktu, tenaga dan biaya pemungutan serta permintaan pasar yang tidak kontinyu, sehingga pemanfaatan rotan secara komersil baru dilakukan apabila ada pesanan dari pihak luar, dan harga sudah disepakati oleh kedua belah pihak.

Pemungutan rotan di hutan sekunder atau di areal kebun sawit umumnya hanya dilakukan setengah sampai satu hari. Dalam sekali pengambilan, volume yang diperoleh tiap kepala keluarga tidak sama. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan fisik seseorang, potensi rotan yang didapat, serta jarak tempat pemungutan dan pemukiman penduduk. Hasil rotan yang diperoleh mulai dari 5 kg sampai dengan 200 kg dalam setiap pemungutan.

Harga rotan setiap desa tidak sama karena dipengaruhi oleh biaya transportasi. Harga rotan berkisar antara Rp. 1.000 – Rp. 1.500/kg. Terdapat pula penjualan rotan berbentuk rotan bulat dengan harga per batang. Namun umumnya rotan yang sudah dibelah dengan ukuran 2.75 m – 3.00 m dihargai Rp 60,- per bilah dan diikat dengan jumlah 100 bilah, maka sama dengan Rp 6.000,- /ikat atau per bal (10 ikat) sebesar Rp. 60.000.

Untuk itu, diharapkan dengan melakukan konservasi pada lahan hutan dengan penanaman rotan yang dikembangkan dengan baik diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat petani setempat. Sebagai contoh pola yang dikembangkan dalam hutan kemasyarakatan di Propinsi Sulawesi Selatan melalui program pendampingan, pelatihan masyarakat, dan program rehabilitasi lahan dengan mengkombinasikan tanaman hutan dan tanaman serbaguna yang biasa dikelola masyarakat, ternyata dari hasil tanaman sela telah memberikan peningkatan pendapatan masyarakat 100% sampai 300%, dan memberikan mata pencaharian baru dalam pengembangan hutan kemasyarakatan di areal 2.000 ha adalah sejumlah 53.000 HOK (Dephut 2001).

Dampak pembukaan hutan dari segi lingkungan yang paling utama adalah hilangnya sejumlah tertentu pohon sehingga tidak terjaminnya keberadaan hutan yang berakibat pada rusaknya lingkungan, berubahnya iklim mikro, menurunnya produktivitas lahan, erosi dan banjir serta hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat dan terfragmentasinya hutan dapat menyebabkan kepunahan suatu spesies termasuk fauna langka. Salah satu fauna langka yang ditemukan di lokasi penelitian adalah jenis anoa dan kuskus beruang Sulawesi.

Masih kurangnya informasi ilmiah tentang keragaman dan penyebaran jenis kuskus beruang Sulawesi di Kecamatan Wiwirano, tingkat perdagangan spesies ini yang meningkat serta adanya konflik pengelolaan hutan di Kecamatan Wiwirano, maka diperlukan berbagai upaya-upaya dasar untuk menyediakan data-data dan informasi guna kebijaksanaan konservasi spesies dan ekosistem di Kecamatan Wiwirano.

Manajemen untuk anoa dan kuskus beruang Sulawesi harus fokus pada restorasi habitat dan rehabilitasi, yang dapat diimplementasikan melalui regulasi hutan dengan Restorasi Ekosistem Konsesi (ERC) (Dephut 2004a). Restorasi ekosistem konsesi didefinisikan sebagai re-manajemen dan upaya restorasi pada mantan hutan produksi, termasuk biotik (flora dan fauna) dan abiotik (tanah, hidrologi, siklus nutrisi alami lainnya) untuk membangun kembali keseimbangan biologis. Upaya restorasi ini bertujuan untuk memberikan alternatif strategi konservasi berdasarkan pengelolaan habitat dan memberikan rekomendasi masa depan untuk mencegah spesies dari kepunahan serta pemulihan dan pemanfaatan ekosistem sumberdaya hutan secara lestari dan memiliki daya dukung ekonomi berkelanjutan. Lahan hutan yang memiliki

kelerengan ≥45% direkomendasikan sebagai areal konsesi untuk restorasi ekosistem khususnya untuk habitat anoa dan kuskus beruang Sulawesi.

Beberapa kekuatan dari konsep ini adalah: (1) Manajemen konsesi didasarkan pada restorasi habitat dan rehabilitasi, (2) Kepemilikan lahan, sehingga pengelolaan konsesi memiliki kewenangan yang sah untuk sepenuhnya mengelola daerah dan (3) Memantau dan menjaga daerah dari eksploitasi ilegal dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Upaya dari pemerintah setempat dan pemangku kepentingan lainnya (LSM konservasi dan kelompok masyarakat) terhadap ERC yaitu harus mengambil kesempatan untuk menggunakan program untuk secara berkelanjutan mengelola habitat Anoa dan kuskus beruang potensial di Sulawesi Tenggara. Jika ERC dapat sepenuhnya dilaksanakan dan didukung dengan mekanisme regulasi yang komprehensif, ada kemungkinan kesempatan untuk menyelamatkan anoa dan kuskus beruang di masa depan.