Strategi Model Konservas
2. Model konservasi alang-alang
Produk lahan perkebunan kelapa sawit berupa produk hijauan antar tanaman (HAT) yang merupakan vegetasi di lahan perkebunan seperti: leguminosa, semak, ilalang dan rumput lapangan. Hasil wawancara menjelaskan bahwa pemanfaatan alang- alang oleh masyarakat di daerah penelitian sebagai bahan atap (atap gubuk) dan obat- obatan tradisional. Sebagian besar responden pernah menggunakan daun alang-alang sebagai bahan atap gubuk. Penggunaan alang-alang sebagai atap saat ini jarang ditemukan karena hanya sedikit orang yang memiliki keterampilan membuat atap dari daun alang-alang dan sulit menemukan alang-alang yang masih tinggi dan lebat karena sering terjadinya kebakaran.
Pemanfaatkan alang-alang sebagai obat-obatan tradisional yaitu bagian rhizoma alang-alang yaitu sering digunakan warga masyarakat di daerah ini sebagai obat sakit perut. Tetapi ada juga beberapa responden yang tidak menggunakan tumbuhan alang- alang dan menganggap alang-alang hanya sebagai gulma (tumbuhan pengganggu) yang harus diberantas.
Skenario konversi lahan alang-alang menjadi perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan menyisakan sebagian lahan alang-alang sebagai daerah penyangga/buffer. Konversi lahan alang-alang dimaksudkan agar lahan menjadi lebih produktif baik secara ekonomis maupun ekologis. Lahan alang-alang sebagai daerah penyangga dapat dikembangkan menjadi lahan peternakan sehingga terbentuk sistem integrasi kebun kelapa sawit dengan ternak ruminansia berupa ternak sapi potong. Sehingga secara ekonomi, lahan alang-alang yang sebelumnya tidak menghasilkan setelah dikonversi menjadi peternakan sapi dapat memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat petani dan perusahaan pemegang konsesi.
Hal yang menjadi dasar pertimbangan alternatif pemanfaatan lahan alang-alang konservasi sebagai lahan peternakan sapi pada areal perkebunan kelapa sawit, karena: 1) adanya sejumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari kebun kelapa sawit; 2) Terbentang lahan alang-alang pada areal perkebunan kelapa sawit yang begitu luas yang mampu menyediakan sumber pakan ternak berupa hijauan makan ternak dalam jumlah yang sangat besar serta berkelanjutan; dan 3) Telah terdapat kebiasaan masyarakat dalam memelihara ternak besar seperti sapi. Disamping itu, daerah yang menjadi penghasil sapi potong di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Tenggara (Aritonang 1986)
Ternak yang digembalakan di lahan alang-alang akan memakan alang-alang yang masih hijau sehingga mencegah terjadinya akumulasi alang-alang yang lebih besar. Namun, keterbatasanya adalah menggembalakan ternak secara terus menerus di lahan ini akan menyebabkan tanah menjadi padat dan tandus. Selain itu, alang-alang yang sudah tua yang tersisa dapat menimbulkan resiko terjadinya kebakaran. Untuk itu, diperlukan penanaman sumber hijauan makanan ternak berupa rumput gajah atau sejenisnya di lahan alang-alang tersebut. Hijauan makanan ternak ialah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dari kelompok bangsa rumput (graminae), leguminose dan hijaunan tumbuh-tumbuhan/tanaman lain baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering, dimana perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh faktor : (1) faktor genetis atau pembawaan dan faktor lingkungan yang meliputi keadaan tanah, pengaruh iklim, perlakuan manusia (Hutabarat 2002).
Pada dasarnya keterpaduan ini menjadi daur ulang ”resourcedriven” sumberdaya yang tersedia secara optimal. Hasil dari konversi lahan alang-alang (hijauan) dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sedangkan kotoran ternak dan sisa pakan ternak yang tidak dapat digunakan untuk pakan dapat didekomposisi menjadi kompos sebagai penyedia unsur hara untuk meningkatkan kesuburan lahan. Menurut Hutabarat (2002), kotoran dan sisa pakan ternak dapat mengurangi biaya kebutuhan pupuk yang sekaligus dapat mengurangi biaya produksi disamping menjaga kelestarian bahan organik tanah dan memberikan tambahan pendapatan usahatani.
Dalam sistem integrasi ini akan terjadi simbiosis mutualisme dimana masing-masing pihak baik ternak sapi maupun perkebunan kelapa sawit sama-sama mendapat manfaat dengan adanya sistem integrasi ini. Dalam sistem tersebut dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Menjadi tenaga ternak bagi petani
2. Menghasilkan daging (untuk sapi potong) 3. Menghasilkan anak sapi (dari sapi induk) 4. Menghasilkan pupuk kandang (kotoran ternak)
Hal tersebut diatas dapat menjadi entry point bagi petani dan perusahaan pemegang konsesi dalam meningkatkan pendapatannya selain dari perkebunan kelapa sawit.
Berdasarkan hasil wawancara, pada areal perkebunan kelapa sawit di lokasi penelitian masyarakat petani belum melakukan kegiatan integrasi sawit-ternak sapi. Hal ini disebabkan karena: 1) Hampir seluruh responden mengatakan tidak memiliki modal untuk membeli sapi; 2) Responden yang memiliki sapi tidak melakukan kegiatan integrasi tersebut karena jarak kebun sawit dengan rumah petani umumnya jauh dan faktor keamanan ternak dari pencurian; dan 3) Rendahnya tingkat pengetahuan petani untuk beternak dalam pola integrasi sawit-sapi.
Kemampuan lahan pada perkebunan kelapa sawit untuk budidaya sapi potong sangat tergantung pada kondisi tanaman kelapa sawit, sistem pemeliharaan ternak (Grazing/cut and carry) dan produksi tanaman sela. Kondisi umur tanaman kelapa sawit sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman selanya. Pada tahun pertama lahan masih terbuka dan setelah umur 3–5 tahun produksi tanaman sela mengalami penurunan sebesar 10–15%, akibat semakin lebarnya kanopi daun tanaman sawit. Guna memenuhi kecukupan pakan setelah umur tanaman 5 tahun sangat tergantung kepada
agroplantation (limbah tanaman dan limbah industri kelapa sawit). Beberapa laporan menunjukkan kemampuan kapasitas tampung untuk sapi potong pada tanaman berumur 1–3 tahun adalah 1–3 ekor ha/tahun, sampai dengan umur tanaman 10 tahun
mempunyai kemampuan 0,4–0,6 ekor ha/tahun dan lebih dari 10 tahun hanya mampu sekitar 0,4 ekor ha/tahun (Didi et al. 2003).Kemampuan kapasitas tampung untuk areal kebun sawit umur 1 tahun/hektar adalah 1-3 ekor sapi dewasa, dan tanaman sawit sampai umur ± 10 tahun mempunyai kemampuan 0,6 ekor/hektar, dan selanjutnya 0,4 ekor/hektar (Aritonang 1986). Berdasarkan hal tersebut daya tampung areal kebun sawit menyediakan HMT (legum dan rumput) hingga masa tidak produktif (umur 25 tahun) adalah 2,24 ekor/hektar, hal ini seiring dengan pendapat Yulistiani dan Puastuti (2008) bahwa kapasitas tampung ternak di areal kebun sawit adalah sebesar 2,7 ekor/hektar.
Tingkat pendapatan petani dengan melakukan sistem integrasi sapi dengan kebun kelapa sawit lebih tinggi dari pada tidak melakukan sistem integrasi. Tingkat pendapatan petani dengan melakukan integrasi sapi dengan kelapa sawit sebesar Rp. 19.804.571,- sedangkan sebelum melakukan sistem integrasi sapi dengan kebun kelapa sawit adalah Rp. 14.872.181,- (Bangun 2010)
Lembaga Usahawan Tani Malaysia (2007) mengungkapkan bahwa estimasi pendapatan petani sawit tidak integrasi dan integrasi sawit-ternak sapi, dengan pemeliharaan 2 ekor ternak (3 periode/tahun) yang dikandangkan, memperlihatkan selisih pendapatan yang lebih tinggi pada usaha tani integrasi sawit-ternak sapi sekitar Rp. 17.228.000,- (43,01 %), yang diperoleh dari: (1) adanya penghematan biaya pengendalian gulma, dan (2) adanya keuntungan dari hasil penjualan sapi dan pengolahan pupuk organik, serta adanya penghematan sebesar 33,33 % biaya produksi sawit dari pengendalian tanaman penutup tanah/gulma dan limbah pelepah pada integrasi sawit-sapi yang diambil sebagai pakan ternak. Hal tersebut memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan hasil petani tidak integrasi sawit-ternak sapi di Malaysia. Selain itu, program integrasi sawit-ternak sapi, mengoptimalkan sumberdaya
lahan yang meningkatkan pendapatan setiap hektar areal kebun sawit berkisar RP. 5.000.000-6.000.000/hektar/tahun (RM 1.422-1.512 hektar/tahun), hemat 20-50%
biaya produksi (pengendalian tanaman penutup tanah/gulma) pada integrasi sawit-sapi. Menurut Dwiyanto et al. (2001) usaha peternakan sapi rakyat merupakan usaha tanpa biaya eksploitasi (zero input) karena pakan tidak dibeli dan tenaga kerja yang digunakan seluruhnya berasal dari keluarga. Umumnya petani mengelola usaha taninya secara sederhana berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan kebiasaan tanpa memperhitungkan nilai ekonomi. Biaya yang dikeluarkan oleh petani sawit yang tidak menerapkan integrasi adalah biaya kegiatan, penyemprotan gulma dan tenaga kerja. Namun petani integrasi sawit-sapi mengeluarkan biaya untuk pembelian obat-obatan. Komponen biaya untuk pakan tidak dihitung karena petani memanfaatkan hijauan yang diperoleh di areal perkebunan kelapa sawit, tidak ada peternak yang membeli hijauan pakan untuk ternaknya. Tenaga kerja yang terlibat dalam usaha taninya umumnya tenaga kerja keluarga sehingga komponen tersebut juga tidak dimasukkan sebagai biaya produksi.
Usahatani sistem integrasi sawit-ternak sapi, terdapat potensi nilai ekonomi feces dan urine yang dapat menjadi salah satu sumber keuntungan, yakni menjadi pupuk kompos tetapi di lokasi wilayah penelitian feces belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh petani menjadi bahan pembuatan kompos. Usahatani integrasi sawit-ternak tersebut sekresi feces dan urine oleh ternak yang kebetulan berada di areal kebun sawit akan berfungsi sebagai pupuk organik secara alami, dimana setiap ekor sapi dewasa dapat mengeluarkan feces sebanyak ± 20 kg/hari setara dengan 600 kg/bulan (Sitompul 2003). Untuk membantu pemupukan di areal kebun sawit dimanfaatkan pupuk organik (kompos) yang dihasilkan oleh ternak sapi Bali. Wijono et al. (2003) mengemukakan
bahwa komposisi pupuk kandang bervariasi tergantung dari jenis dan umur hewan, makanan yang dikomsumsi dan penanganan limbahnya. Hal ini seiring dengan pemaparan Setyamidjaya (1986) yang mengemukakan bahwa kandungan unsur hara kotoran padat ternak sapi mengandung 0,40% nitrogen, 0,20% phosfor, 0,10% kalium dan 85% air.