• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suhu udara dan ketinggian tempat Secara umum kelapa sawit membutuhkan suhu optimum sekitar 28 o C Adapun ketinggian tempat yang optimal adalah 0 sampai

DAFTAR LAMPIRAN

3. Suhu udara dan ketinggian tempat Secara umum kelapa sawit membutuhkan suhu optimum sekitar 28 o C Adapun ketinggian tempat yang optimal adalah 0 sampai

meter di atas permukaan laut (Setyamidjaja 1991).

4. Kelembaban udara dan angin. Kelembaban udara dan angin adalah faktor yang sangat penting untuk menunjang pertumbuhan kelapa sawit. Kelembaban udara dapat mengurangi penguapan, sedangkan angin akan membantu penyerbukan secara alamiah. Kelembaban yang optimum bagi pertumbuhan kelapa sawit berkisar antara 80-90% dan kecepatan angin 5- 6 km/jam sangat baik untuk membantu penyerbukan kelapa sawit (Pahan 2006).

Tanah

Menurut Setyamidjaja (1991), kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Tanaman kelapa sawit ini tersebar pada segala jenis tanah, yaitu Ultisol, Inceptisol, Entisol, Andisol, dan Histosol. Di beberapa lokasi juga terdapat pada tanah Oxisol. Dua sifat utama tanah sebagai media tumbuh adalah sebagai berikut:

1. Sifat fisika tanah.

Tanaman kelapa sawit menghendaki sifat fisika tanah yang gembur, subur, mempunyai solum yang dalam tanpa lapisan padat, tekstur mengandung liat dan debu 25 sampai 30%, datar serta berdrainase baik. Walaupun demikian, faktor pengelolaan budidaya atau teknis agronomis dan sifat genetis induk tanaman kelapa sawit sangat menentukan produksi kelapa sawit. Sifat fisik tanah untuk tanaman kelapa sawit disajikan pada Tabel 5.

2. Sifat kimia tanah

Sifat kimia tanah mempunyai arti cukup penting untuk menentukan dosis pemupukan dan kelas kesuburan tanah. Tanah yang mengandung unsur hara dalam jumlah yang besar sangat baik untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman kelapa sawit. Kemasaman tanah menentukan ketersediaan dan keseimbangan unsur-unsur hara dalam tanah. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH tanah antara 4 sampai 6,5 sedangkan pH optimumnya adalah 5 sampai 5,5.

Tabel 5 Sifat fisik tanah untuk tanaman kelapa sawit

No. Sifat Tanah Baik Sedang Kurang

1 Lereng (derajat) < 12 12 – 23 > 23 2 Kedalaman Tanah (cm) > 75 37,5 – 75 cm < 37,5 cm 3 Ketinggian Air Tanah (cm) < 75 75 – 37,5 cm < 37,5 cm 4 Tekstur Lempung atau liat Lempung berpasir Pasir berlempung atau pasir 5 Struktur Perkembangan Kuat Perkembangan sedang Perkembangan lemah/massif

6 Konsistensi Gembur sampai

agak teguh

Teguh Sangat

Teguh Sumber :PPKS (2009).

Pembangunan Berkelanjutan Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan mengeksplorasi kaitan antara pembangunan ekonomi, kualitas lingkungan dan keadilan sosial (Rogers et al. 2007). Konsep ini berawal dari pertemuan konferensi internasional lingkungan hidup di Stockholm, Swedia tahun 1972. Konferensi ini pertama kali dalam sejarah yang digagas oleh PBB. Sepuluh tahun kemudian PBB kembali menggelar konperensi tentang lingkungan hidup pada tahun 1982 di Nairobi, Kenya. Usul yang dihasilkan dari pertemuan lingkungan di Nairobi ini dibawa ke sidang umum PBB tahun 1983, dan oleh PBB dibentuk world comission on environment and development (WCED) yang diketuai oleh Gro Harlem Brundtland. Komisi ini menghasilkan dokumen "Our Common Future" pada tahun 1987, yang memuat analisis dan saran bagi proses pembangunan berkelanjutan. Dalam dokumen itu diperkenalkan suatu konsep baru yang disebut suatu konsep pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Pengertian pembangunan berkelanjutan adalah upaya untuk memelihara proses ekologi dan sistem penopang hidup, melindungi keanekaragaman genetik dan pemanfaatan spesies serta ekosistem secara berkelanjutan (WWF 1987 diacu dalam

Rogers et al. 2007). Terdapat tiga pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi sosial dan dimensi ekonomi. Dimensi ekologi artinya optimalisasi manfaat ekologis tidak harus mengabaikan aspek ekonomi dan sosial. Dimensi sosial maksudnya tidak harus mengabaikan aspek ekonomi dan ekologis. Sedangkan dimensi ekonomi artinya tidak mengabaikan dimensi ekologi dan sosial. Dengan demikian ketiga pilar tersebut harus digerakkan secara simultan dalam perencanaan dan implimentasi pembangunan. Selanjutnya Smith dan Jalal (2000) diacu dalam Rogers et al. (2007) menjelaskan kaitan antara pembangunan berkelanjutan, lingkungan dan kemiskinan.

Permasalahan lingkungan disumbang oleh dua kutub, yaitu kemiskinan yang berimplikasi pada kerusakan sumberdaya alam dan pembangunan yang berimplikasi pada degradasi lingkungan serta deplesi sumberdaya alam. Strategi atas permasalahan tersebut yaitu dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan. Pada kutub kemiskinan melalui pengurangan kemiskinan dengan beberapa programnya. Pada kutub pembangunan dilakukan integrasi antara pembangunan dengan lingkungan hidup (Gambar 3).

Penjelasan tersebut sejalan dengan pengertian pembangunan berkelanjutan dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yaitu upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah sedemikian rupa, sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan bagi umat manusia tidak rusak.

Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan semacam ambang batas (limit) pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Ambang batas ini tidaklah bersifat mutlak (absolute), tetapi merupakan batas yang luwes (flexible) yang

tergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam serta kemampuan biosfir menerima dampak kegiatan manusia.

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)

Pemerintah Indonesia secara konsisten telah, sedang dan akan tetap mendukung pengembangan komoditas sawit berkaitan dengan peranannya dalam perekonomian nasional. Dukungan tersebut tercermin dari luasnya penyediaan lahan untuk pengembangan sawit sekitar 9,8 juta ha, tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Sumberdaya manusia juga relatif tersedia di lokasi-lokasi yang dijadikan sentra pengembangan sawit, walaupun memerlukan peningkatan kapasitas (capacity building) agar mempunyai skill sesuai dengan yang dibutuhkan dalam pengelolaan sawit (Poeloengan 2002). Demikian juga dengan kondisi infrastruktur yang umumnya masih memerlukan perbaikan agar proses produksi dan pengolahan pasca panen sawit lancar dan efisien. Untuk itu, diperlukan strategi pengelolaan yang tepat dalam pengembangan kelapa sawit mulai dari perencanaan sampai ke jaringan pemasaran.

Dalam perkebunan kelapa sawit, konsep keberlanjutan yang paling akhir yang dirumuskan oleh Ng (2005) dalam pertemuan internasional the 3rd roundtable on sustainable palm oil (RSPO) di Singapura menyebutkan bahwa perkebunan berkelanjutan merupakan usaha yang mampu memenuhi pertumbuhan ekonomi (profit), perlindungan terhadap lingkungan (planet) dan kesetaraan sosial (people). Konsep perkebunan berkelanjutan tersebut terdiri dari 8 prinsip dan 39 kriteria yang harus dipenuhi pihak pengelola agar kondisi berkelanjutan bisa terwujud (Lampiran 1). Jika dipaparkan lebih rinci maka semua kriteria tersebut didasarkan pada azas:

1. Legalitas

2. Mampu memberikan keuntungan secara ekonomi bagi semua pihak berupa peningkatan pendapatan

SDA rusak Pembangunan Berkelanjutan

Reduksi kemiskinan 1. Pemenuhan kebutuhan dasar 2. Kontrol demografi

3. Kontrol penggunaan common property

4. Meningkatkan produktivitas

ReduksIntegrasi Pembangunan & lingkungan

1. Amdal

2. Teknologi ramah lingkungan 3. Kontrol mitigasi 4. Energi terbarukan Permasalahan Lingkungan: Pencemaran, Degradasi Lahan, Perubahan Iklim SDA rusak Kemiskinan Pembangunan

Gambar 3 Keterkaitan pembangunan berkelanjutan, lingkungan dan kemiskinan (Rogers et al. 2007)

3. Secara sosial tidak mengganggu kondisi sosial yang sudah ada seperti kearifan lokal, adat istiadat dan budaya setempat

4. Secara ekologi tidak menimbulkan kerusakan lingkungan hidup setempat berupa penurunan kualitas lahan, air dan udara, pengurangan biodiversitas dan plasma nutfah lokal.

Dari semua konsep keberlanjutan tersebut nampak bahwa aspek pengelolaan pada proses produksi masih dominan dibandingkan dengan pengelolaan pasca panen. Hal ini disebabkan oleh kontribusi terhadap dampak kepada lingkungan, ekonomi dan sosial didominasi oleh proses produksi, yang sejalan dengan luasnya areal produksi, banyaknya petani dan tenaga kerja yang dioperasikan dibandingkan dengan pengolahan pasca panen. Dengan demikian, usaha peningkatan efisiensi penggunaan sarana produksi, tenaga kerja dan mitigasi polusi terhadap lingkungan pada proses produksi akan berimbas jauh lebih besar dibandingkan pengolahan pasca panen (Ng 2005). Untuk kasus di Indonesia, dimana kebun kelapa sawit sudah luas dan akan terus ditingkatkan untuk masa mendatang maka aspek produksi ini menjadi semakin penting untuk dikelola dengan lebih profesional sesuai dengan konsep dari RSPO tersebut.

Interaksi semua kegiatan tersebut akan mampu mendukung tercapainya perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang menurut Reijntjes et al. (2005) dicirikan oleh:

1. Mantap secara ekologis: pola yang dianjurkan mampu memelihara kualitas lingkungan dan kemampuan agro-ekosistem secara keseluruhan, dan manusia, hewan, tanaman, sampai ke organisme tanah dan air bisa ditingkatkan.

2. Bisa berlanjut secara ekonomis, kebutuhan petani bisa tercukupi dari hasil usahatani kelapa sawit meliputi kebutuhan petani sendiri dan pengembalian tenaga dan biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan kelapa sawit.

3. Mantap secara sosial yang meliputi : a) Adil, bahwa semua sumberdaya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga semua kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi serta hak-hak mereka dalam penggunaan lahan, modal, bantuan teknis dan peluang pemasaran terjamin; b) Manusiawi, semua bentuk kehidupan dasar semua makhluk dihargai, dihormati, dan hubungan institusi menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar seperti : kearifan lokal, kepercayaan, kejujuran, kerjasama dan lain-lain; dan c) Luwes, kondisi dimana masyarakat desa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang terus berlangsung, misalnya : pertambahan penduduk, kebijakan pemerintah, dan permintaan pasar.

Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO)

Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) adalah suatu kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian. Tujuan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia, ikut berpartisipasi dalam rangka memenuhi komitmen Presiden Republik Indonesia untuk mengurangi gas rumah kaca serta memberi perhatian terhadap masalah lingkungan.

Peraturan ini diharapkan menjadi jawaban atas keraguan pasar dunia atas produk kelapa sawit Indonesia, bahwa produk kelapa sawit Indonesia juga memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan hidup sebagaimana dapat dilihat dalam Prinsip dan Kriteria ISPO. Berbeda dengan RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) yang sudah terlebih dahulu ada, ISPO merupakan mandatory (kewajiban) yang harus

dijalankan oleh pelaku usaha perkebunan. Untuk menjadi perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, harus memenuhi 7 (tujuh) prinsip dan kriteria yang tercantum dalam ISPO. Misalnya, memenuhi sistem perizinan dan manajemen perkebunan hingga tanggung jawab sosial dan komunitas, pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat, dan peningkatan usaha secara berkelanjutan. Menurut Suharto (2012), bagi perkebunan besar, tidak sulit untuk menerapkan sertifikasi ISPO, namun bagi petani plasma, kemungkinan agak sulit untuk menerapkannya. Karena itu perlu dilakukan kerjasama antara petani plasma melalui koperasi (KUD) dengan perusahaan perkebunan dan lembaga pendukung lainnya sebagai mitra untuk membantu petani plasma dalam mengimplementasikan ISPO. Kerjasama ini bisa diwujudkan dalam pemberdayaan organisasi petani yang efektif dan efisien.

Pelaksanaan ISPO akan dilakukan dengan memegang teguh prinsip pembinaan dan advokasi serta bimbingan kepada perkebunan kelapa sawit yang merupakan tugas pemerintah. Oleh karena itu tahap pertama dari pelaksanaan sertifikasi ISPO adalah klasifikasi. Klasifikasi ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian 07 Tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan sedangkan sertifikasi merupakan tuntutan perdagangan internasional yang dilaksanakan sesuai ketentuan internasional yang antara lain memenuhi kaedah International Standard Organization (ISO). Kementerian Pertanian akan melaksanakan penilaian untuk sertifikasi ISPO secara transparan dan independen. Persyaratan dari ISPO disajikan pada Lampiran 2. Adapun perbedaan antara RSPO dan ISPO disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Perbedaan RSPO dan ISPO

RSPO ISPO

Standar yang disusun oleh asosiasi nirlaba pemangku kepentingan terkait kelapa sawit atas desakan konsumen Uni Eropa. Di luar Uni Eropa, belum ada tuntutan konsumen untuk menerapkan sustainability seperti RSPO.

Standar yang mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.19/Permentan/ OT.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 yang

diterbitkan dalam rangka pemenuhan

sustainability sebagai amanah UUD 1945. RSPO bersifat voluntarily (sukarela), sehingga

kurang kuat penegakannya (enforcement), dan tidak berbasis peraturan pemerintah .

ISPO adalah mandatory (wajib bagi seluruh perusahaan kelapa sawit di Indonesia)· Penegakannya kuat (enforcement) , karena didasarkan atas peraturan dan ketentuan Pemerintah .

Seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia wajib menaati ketentuan ISPO mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (pengolahan hasil) paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2014

Tidak ada prasyarat bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk sertifikasi RSPO.

Ada prasyarat yakni penilaian usaha perkebunan (Kelas I, Kelas II, dan Kelas III) hanya yang dapat mengajukan permohonan sertifikasi ISPO. RSPO memiliki 8 prinsip, 39 kriteria dan 139

indikator (65 indikator mayor dan 74 indikator minor).

ISPO memiliki 7 prinsip, 41 kriteria dan 126 indikator. Tidak ada indikator mayor dan minor, karena seluruh indikator merupakan hal hal yang diminta oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, sehingga bersifat wajib dipenuhi.

HCV = High Conservation Value atau Nilai Konservasi Tinggi

Konsep HCV saat ini sering disebut sebagai „pendekatan HCV‟ atau “proses HCV” (HCV = High Conservation Value atau Nilai Konservasi Tinggi) untuk mencerminkan pemakaian istilah ini dalam bidang-bidang diluar bidang kehutanan (Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia 2008). Salah satu prinsip dasar dari konsep HCV adalah bahwa wilayah-wilayah dimana dijumpai atribut yang mempunyai nilai konservasi tinggi tidak selalu harus menjadi daerah dimana pembangunan tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, konsep HCV mensyaratkan agar pembangunan dilaksanakan dengan cara yang menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan HCV tersebut. Dalam hal ini, pendekatan HCV berupaya membantu masyarakat mencapai keseimbangan rasional antara keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang.

Meski konsep HCV pada awalnya didisain dan diaplikasikan untuk pengelolaan hutan produksi („areal HPH‟ dalam istilah Bahasa Indonesia), dengan cepat konsep ini menjadi populer dan digunakan dalam berbagai konteks yang lain. Di sektor publik, HCV digunakan dalam perencanaan pada tingkat nasional dan propinsi, antara lain di negara-negara seperti Bolivia, Bulgaria dan Indonesia. Di sektor sumberdaya terbaharui, HCV digunakan sebagai alat perencanaan untuk meminimalisasi dampak-dampak ekologi dan sosial yang negatif dalam pembangunan perkebunan. Sebagai contoh, kriteria kelapa sawit yang terbaru yang digunakan oleh organisasi multipihak

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mensyaratkan bahwa untuk mendapatkan sertifikasi pengelolaan yang keberlanjutan dari RSPO, pembangunan perkebunan baru harus menghindari konversi kawasan yang diperlukan untuk mengelola HCV yang ada. Menurut Muhtaman (2011), areal-areal yang terdapat di dalam kawasan perkebunan kelapa sawit (HGU) yang perlu dicadangkan dan/atau dipertahankan serta dikelola untuk melindungi fungsi-fungsi produksi, ekologi, sosial & budaya. Konsep HCV bahkan telah memperoleh kekuatan di sektor keuangan, dengan banyaknya pemberi pinjaman dana komersil yang mensyaratkan penilaian HCV sebagai bagian dari kewajiban peminjam dalam evaluasi pinjaman kepada sektor-sektor yang memiliki riwayat dampak-dampak negatif pada lingkungan hidup dan komunitas-komunitas lokal.

Dengan demikian konsep HCV yang berawal sebagai alat untuk meningkatkan keberlanjutan produksi kayu dengan memperhatikan aspek-aspek sosial, budaya dan keanekaragaman hayati telah berkembang menjadi konsep yang memiliki implikasi luas bagi masyarakat. Di sektor swasta, penggunaan konsep HCV menunjukkan komitmen perusahaan untuk melakukan praktek terbaik (best practice) yang seringkali melebihi apa yang disyaratkan oleh peraturan atau undang-undang, dan sekaligus memberikan jalan bagi perusahaan untuk menunjukan diri sebagai warga dunia usaha swasta yang bertanggung-jawab. Di sektor pemerintahan HCV merupakan alat yang dapat digunakan untuk mencapai perencanaan tata guna lahan yang menjaga keberlanjutan fungsí dan manfaat biologi, sosial, dan ekologis yang tidak terpisahkan berada pada alam. Di sektor keuangan, penilaian HCV merupakan cara yang memungkinkan pihak penanam modal komersil yang progresif untuk menghindari praktek pemberian pinjaman yang mendukung perusakan lingkungan hidup ataupun ketimpangan sosial ekonomi. Keragaman kegunaan HCV ini melukiskan betapa luwesnya konsep ini yang menjadi ciri kunci popularitasnya (Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia 2008).

Gambar 4 Beberapa bentuk daerah aliran sungai (Browne 1999) Daerah Aliran Sungai

Daerah aliran sungai yang biasa disingkat dengan DAS dalam beberapa literatur menggunakan istilah yang berbeda dan arti yang sama, diantaranya menggunakan istilah: watershed, river basin, catchment atau drainage basin. Istilah watershed

biasanya dihubungkan dengan batas aliran, sedang istilah river basin, catchment atau

drainage basin dikaitkan dengan daerah aliran. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang secara topografi dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama (Asdak 2007).

Chow et al. (1988), mengemukakan bahwa DAS dapat dipandang sebagai suatu sistem hidrologi dimana curah hujan merupakan input dari aliran sungai serta evapotranspirasi adalah output sistem. Selanjutnya dikatakan bahwa DAS merupakan tempat terjadinya proses-proses yang berangkaian dan menjadi bagian dari siklus hidrologi.

Dalam perkiraan volume air, selain panjang, dibutuhkan pula informasi rata-rata lebar dan kedalaman untuk setiap sungai dan jumlah dari perkiraan air untuk semua sungai (Chang 2006). Pada umumnya DAS kira-kira berbentuk seperti buah pir seperti pada Gambar 4(a) tetapi ketika keluaran DAS berubah-ubah sama sekali dari bentuk ini, maka DAS perlu dibagi menjadi beberapa sub-area, seperti pada Gambar 4(b).

Menurut Seyhan (1990) faktor utama di dalam DAS yang sangat mempengaruhi ketersediaan sumberdaya air adalah:

1. Vegetasi, merupakan pelindung bagi permukaan bumi terhadap hempasan air hujan, hembusan angin dan terikan sinar matahari. Fungsi utama dari vegetasi adalah melindungi tanah. Perlindungan ini berlangsung dengan cara: (a) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (b) melindungi tanah dari daya merusak aliran air di atas permukaan tanah, dan (c) memperbaiki kapasitas infiltrasi dan struktur tanah serta daya absorpsi atau daya simpan air.

2. Tanah, berfungsi sebagai media tumbuhnya vegetasi dan pengatur tata air. Peranan tanah dalam mengatur tata air tergantung pada tingkat kemampuan tanah untuk meresapkan air yang dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tanah.

Sumberdaya Air

Air merupakan sumberdaya yang sangat vital bagi kelangsungan hidup dan kehidupan manusia. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka suatu saat air mungkin tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia apabila tidak diupayakan cara untuk melestarikannya. Para ahli memprediksikan menjelang Tahun 2025 sekitar dua pertiga penduduk dunia akan kekurangan air maka akan terjadi persaingan yang sangat ketat antar pengguna dalam pemanfaatan sumberdaya air (Sutawan 2001).

Menurut Undang-Undang No. 7 Tahun 2004, Sumberdaya Air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air.

Dalam konteks Indonesia dewasa ini, berbagai masalah terkait dengan sumberdaya air dapat diidentifikasi antara lain: adanya gejala krisis air, degradasi sumberdaya air, konflik akibat persaingan antar pengguna air, menciutnya lahan beririgasi karena alih fungsi, kurang jelasnya ketentuan hak penguasaan air, lemahnya koordinasi antar instansi dalam menangani sumberdaya air dan kelemahan kebijakan sumberdaya air (Sutawan 2001). Masalah-masalah ini tentunya menuntut adanya opsi kebijakan yang tepat sehingga pemanfaatan sumberdaya air bisa berkelanjutan.

Siklus Hidrologi

Secara alami, apabila tidak mengalami gangguan daur atau siklus, sumberdaya air dapat melalui perubahan bentuk, fasa dan distribusi secara berkesinambungan tanpa terputus sehingga proses ini akan berulang secara pasti. Proses siklus tersebut suatu saat akan berinteraksi dengan bagian alam yang kondisinya dipengaruhi berbagai kegiatan manusia, terutama bagian alam yang berada di permukaan bumi. Proses daur atau siklus air tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh dinamika manusia. Seluruh sumberdaya air di muka bumi ini dengan berbagai awal mula fasa siklus air tidak dapat ditentukan secara pasti, hanya saja untuk mempermudah dalam memahami siklus tersebut dapat dijelaskan pada Gambar 5.

Pada Gambar 5 terlihat bahwa satu-satunya sumber air yang masuk ke sistem DAS berasal dari presipitasi (berbentuk air hujan, salju maupun titik-titik air). Hujan yang turun ke bumi mengalami siklus dari daerah topografi tinggi seperti pegunungan menuju ke tempat yang lebih rendah hingga akhirnya bermuara ke laut. Air yang mengalir di permukaan tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah disebut aliran permukaan. Aliran permukaan akan terkumpul pada suatu jaringan sungai atau terkumpul pada reservoir alami seperti danau ataupun cekungan air. Pada reservoir alami tersebut air tertahan untuk beberapa waktu dan umumnya digunakan manusia untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi, perikanan dan pembangkit listrik tenaga air. Sinar matahari mengubah air dari daratan dan lautan menjadi uap melalui proses evaporasi, namun air yang menguap melalui tumbuhan disebut transpirasi. Gabungan penguapan dari tanah dan tumbuhan disebut evapotranspirasi. Uap air tersebut mengalami kondensasi di atmosfir dan terkumpul menjadi awan hingga turun kembali

Gambar 5 Siklus hidrologi Sumber: Raharjo dan Saifudin (2009).

ke bumi dalam bentuk hujan, salju maupun embun. Selain menjadi aliran permukaan, air meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi. Di dalam tanah air akan mengalami perkolasi dan berkontribusi pada aliran air tanah yang nantinya mengalir ke sungai sebagai base flow (aliran dasar). Air sungai kemudian mengalir menuju outlet (titik keluar) di muara sungai (Linsley dan Franzini 1991).

Peristiwa-peristiwa alam tersebut terjadi terus menerus dan berulang membentuk suatu siklus hidrologi, dimana terbentuk prinsip keseimbangan air secara global di