BAB III PROSES PEN YELESAIAN PEMBUATAN PERIKATAN
A. Perikatan Secara Umum
4. Macam-Macam Perikatan
Macam-macam perikatan dibedakan atas beberapa macam, yakni : 1. Perikatan bersyarat
Perikatan bersyarat adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya digantungkan pada syarat tertentu.91 Mungkin untuk memperjanjikan bahwa perikatan itu barulah akan lahir, apabila kejadian yang belum tentu timbul itu.
89 Ibid., hlm 17.
90 Ibid., hlm 18.
91Purwahid Patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Bandung : CV Mandar Maju, 1997, hlm 26.
Suatu perjanjian yang demikian itu, menggantungkan adanya suatu perikatan pada suatu syarat yang menunda atau mempertangguhkan.92
Menurut Pasal 1253 KUHPerdata tentang perikatan bersyarat yaitu :
“Suatu perikatan adalah bersyarat manakala ia digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum terjadi, baik secara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun secara membatalkan menurut terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tersebut.
Berdasarkan Pasal ini dapat diketahui bahwa perikatan bersyarat dapat dibedakan atas dua, yakni:93
a. Perikatan dengan syarat tangguh
Apabila syarat peristiwa yang dimaksud itu terjadi, maka perikatan dilaksanakan. Sejak peristiwa itu terjadi, kewajiban debitur untuk berprestasi segera dilaksanakan. Misalnya, A setuju apabila B adiknya mendiami paviliun rumahnya setelah B menikah. Nikah adalah peristiwa yang masih akan terjadi dan belum pasti terjadi. Sifatnya menangguhkan pelaksanaan perikatan, jika B nikah A wajib menyerahkan paviliun rumahnya untuk didiami oleh B.
b. Perikatan dengan syarat batal
Perikatan yang sudah ada akan berakhir apabila peristiwa yang dimaksud itu terjadi. Misalnya, A setuju apabila B kakaknya mendiami rumah A selama dia belajar di Inggris dengan syarat bahwa B harus
92 Subekti, Op., Cit., hlm 128
93 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Hukum Perikatan : Penjelasan Makna Pasal 1233 sampai 1456 BW, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm 19-20.
mengosongkan rumah tersebut apabila A selesai belajar dan kembali ketanah air. Dalam contoh, B wajib menyerahkan kembali rumah tersebut kepada A adiknya.94
Istilah syarat berakhir dan bukan syarat batal yang digunakan karena istilah syarat berakhir tersebut lebih tepat, istilah syarat batal pada umumnya mengesankan adanya sesuatu secara melanggar hukum yang mengakibatkan batalnya perikatan tersebut dan memang perjanjian tersebut tidal batal, tetapi berakhir, dan berakhirnya perikatan tersebut atas kesepakatan para pihak sedangkan kalau batal adalah kalau perjanjian tersebut dimintakan pembatalan oleh salah satu pihak atau batal demi hukum.95
2. Perikatan Dengan ketetapan Waktu
Perikatan dengan ketetapan waktu ialah bahwa pelaksanaan perikatan itu digantungkan pada waktu yang ditetapkan. Waktu yang ditetapkan itu adalah peristiwa yang masih akan terjadi dan terjadinya sudah pasti, atau berupa tanggal yang sudah tetap. Contonya: A berjanji pada anak laki-lakinya yang telah kawin itu untuk memberikan rumahnya, apabila bayi yang sedang dikandung isterinya itu telah dilahirkan”.96
94 Abdulkadir Muhammad, Op., Cit., hlm 249.
95 Ibid., hlm 20.
96 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata : Dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta : Kencana, 2008, hlm 215.
Menurut KUHPerdata Pasal 1268 tentang perikatan-perikatan ketetapan waktu, berbunyi “suatu ketetapan waktu tidak, menangguhkan perikatan, melainkan hanya menangguhkan pelaksanaannya”. Pasal ini menegaskan bahwa ketetapan waktu tidak menangguhkan lahirnya perikatan, tetapi hanya menangguhkan pelaksanaannya. Ini berarti bahwa perjanjian dengan waktu ini pada dasarnya perikatan telah lahir, hanya saja pelaksanaanya yang tertunda sampai waktu yang ditentukan.97
Perbedaan antara suatu syarat dengan ketetapan waktu ialah yang pertama, berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau tidak akan terlaksana. Sedangkan yang kedua adalah suatu hal yang pasti akan datang, meskipun belum dapat ditentukan kapan datangnya. Misalnya meninggalnya seseorang.98
3. Perikatan mana suka
Perikatan mana suka objek prestasinya ada dua macam benda.
Perikatan mana suka karena debitur boleh memenuhi presatasi dengan memilih salah satu dari dua benda yang dijadikan objek perikatan. Namun, debitur tidak dapat memaksakan kreditur untuk menerima sebagian benda yang satu dan sebagian benda yang lainnya. Jika debitur telah memenuhi salah satu dari dua benda yang ditentukan dalam perikatan, dia dibebaskan dan
97 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Op., Cit., hlm 19-20.
98 Subekti, Op., Cit., hlm 129.
perikatan berakhir. Hak milik prestasi itu ada pada debitur jika hak ini tidak secara tegas diberikan kepada kreditur.99
Menurut Pasal 1272 KUHperdata tentang mengenai perikatan-perikatan mana suka berbunyi, yaitu :
“Tentang perikatan-perikatan mana suka debitur dibebaskan jika ia menyerahkan salah satu dari dua barang yang disebutkan dalam perikatan, tetapi ia tidak dapat memaksa si berpiutang untuk menerima sebagian dari barang yang satu dan sebagian dari barang yang lainnya”.
Dalam perikatan alternatif ini debitur telah bebas jika telah menyerahkan salah satu dari dua atau lebih barang yang dijadikan alternatif pembayaran. Misalnya, yang dijadikan alternatif adalah dua ekor sapi atau dua ekor kerbau maka kalau debitur menyerahkan dua ekor sapi saja debitur telah dibebaskan.
Walaupun demikian, debitur tdak dapat memaksakan kepada kreditur untuk menerima sebagian dari barang yang satu dan sebagian barang lainnya.
Jadi, debitur tidak dapat memaksa kreditur untuk menerima seekor sapi dan seekor kerbau.
4. Perikatan tanggung menanggung atau tanggung renteng
Ini adalah suatu perikatan dimana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu orang yang menghutangkan atau sebaliknya. Beberapa orang bersama-sama berhak menagih suatu piutang dari satu orang. Beberapa orang yang bersama-sama
99 Abdulkadir Muhammad, Op., Cit., hlm 250-251.
menghadapi orang berpiutang atau penagih hutang, masing-masing dapat dituntut untuk membayar hutang itu seluruhnya. Tetapi jika salah satu membayar, maka pembayaran ini juga membebaskan semua temen-temen yang berhutang. Itulah yang dimaksud suatu perikatan tanggung-menanggung.
Jadi, jika dua A dan B secara tanggung-menanggung berhutang Rp. 100.000, kepada C maka A dan B masing-masing dapat dituntut membayar Rp.
100.000,-.100
Perikatan tanggung menanggung dibagi menjadi 3 yaitu : a. Perikatan tanggung menanggung aktif
Perikatan tanggung menanggung aktif terjadi apabila pihak kreditur terdiri dari beberapa orang. Hak pilih dalam hal ini terletak pada debitur.
Perikatan tanggung menanggung aktif ini dapat dilihat pada Pasal 1279 KUHPerdata menyebutkan :
“ Adalah terserah kepada yang berpiutang untuk memilih apakah ia akan membayar utang kepada yang 1 (satu) atau kepada yang lainnya diantara orang-orang yang berpiutang, selama ia belum digugat oleh salah satu.Pembebasan yang diberikan oleh salah satu orang berpiutang dalam suatu perikatan tanggung-menanggung, tidak dapat membebaskan siberutang untuk selebihnya dari bagian orang yang berpiutang tersebut”.
b. Perikatan tanggung menanggung pasif
Perikatan tanggung menanggung pasif terjadi apabila debitur terdiri dari beberapa orang. Contoh “ X tidak berhasil memperoleh
100 Subekti, Op., Cit., hlm 130.
pelunasan pelunasan puitangnya dari debitur Y, dalam hal ini X masih dapat menagih kepada debitur Z yang tanggung menanggung dengan Y.
Dengan demikian kedudukan kreditur lebih aman”.101
5. Perikatan yang dapat dibagi dan perikatan yang tidak dapat dibagi
Suatu perikatan dapat dikatakan dapat dibagi atau tidak dapat dibagi jika benda yang menjadi objek perikatan dapat atau tidak dapat dibagi menurut imbangan lagi pula pembagian itu tidak boleh mengurangi hakikat dari prestasi tersebut. Jadi, sifat dapat atau tidak dapat dibagi itu berdasarkan pada.:
a. Sifat benda yang menjadi objek perikatan
b. Maksud perikatannya, apakah itu dapat atau tidak dapat dibagi.
Persoalan dapat dibagi atau tidak dapat dibagi itu mempunyai arti apabila dalam perikatan itu terdapat lebih dari seorang debitur atau lebih dari sorang kreditur. Jika hanya seorang kreditur perikatan itu dianggap sebagai tidak dapat dibagi.102
6. Perikatan dengan penetapan hukuman
Untuk mencegah jangan sampai si berhutang dengan mudah saja melaikan kewajibannya dalam praktek banyak dipakai perjanjian dimana si berhutang dikenakan suatu hukuman apabila ia tidak menepati janjinya.
Hukuman itu, biasanya ditetapkan dalam suatu jumlah uang tertentu yang
101 Titik Triwulan Tutik, Op., Cit., hlm 217-218.
102 Abdulkadir Muhammad, Op., Cit., hlm 255.
sebenarnya merupakan suatu pembayaran kerugian yang sejak semula sudah ditetapkan sendiri oleh para pihak yang membuat perjanjian itu. Menurut Pasal 1304 KUHPerdata tentang perikatan-perikatan dengan ancaman hukuman, berbunyi “ Ancaman hukuman adalah suatu ketentuan sedemikian rupa dengan mana seorang untuk imbalan jaminan pelaksanaan suatu perikatan diwajibkan melakukan sesuatu manakala perikatan itu tidak dipenuhi”103
Ketentuan diatas sebenarnya merupakan pendorong bagi debitur untuk memenuhi perikatannya karena apabila ia lalai dalam melaksanakannya dia dikenai suatu hukuman tertentu, yang tentu saja akan membawa kerugian baginya karena dengan hukuman tersebut kewajiban akan semakin besar.104 5. Hapusnya Perikatan
Pasal 1381 KUHPerdata menyebutkan sepuluh cara hapusnya suatu perikatan, yaitu:
1. Pembayaran;
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan;
3. Pembaharuan utang;
4. Perjumpaan utang atau kompensasi;
5. Pencampuran utang;
6. Pembebasan utang;
7. Musnahnya barang yang terutang;
8. Batal/pembatalan;
9. Berlakunya suatu syarat batal dan
103 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Op., Cit., hlm 55.
104 Ibid.,
10. Lewatnya waktu (Daluawarsa).
Selain cara-cara di atas, ada cara-cara lain yang tidak disebutkan misalnya, berakhirnya suatu ketetapan waktu dalam suatu perjanjian atau meninggalnya salah satu pihak dalam beberapa macam perjanjian, seperti meninggalnya seorang persero dalam suatu perjanjian firma dan pada umumnya dalam perjanjian-perjanjian di mana prestasi hanya dapat dilaksanakan oleh si debitur sendiri dan tidak oleh seorang lain.
6. Perjanjian Perikatan Jual Beli
Perjanjian perikatan jual beli merupakan perjanjian yang lahir dari adanya sifat terbuka yang ada pada Buku III KUHPerdata. Sifat terbuka di sini memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada subyek hukum untuk mengadakan perjanjian yang dalam para pihak, isi dan bentuk perjanjian tersebut, akan tetapi tidak diperkenankan untuk melanggar peraturan perundang-undangan, ketertiban umum dan kesusilaan. Perjanjian perikatan jual beli timbul karena terhambatnya atau terdapatnya beberapa persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang yang berkaitan dengan jual beli hak atas tanah yang akhirnya agak menghambat penyelesaian dalam jual beli hak atas tanah.
Perjanjian perikatan jual beli ini timbul karena adanya hal-hal (persyaratan) yang belum terpenuhi atau adanya hal-hal (persyaratan) disepakati para pihak harus dipenuhi. Hal-hal (persyaratan) tersebut dapat menjadi
penghambat terselesaikannya perjanjian jual beli, yang dapat dibedakan menjadi 2 yakni karena faktor belum terpenuhinya persyaratan yang disyaratkan dalam peraturan perundangan seperti halnya yang ditentukan dalam Pasal 39 PP Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah atau pun dari faktor kesepakatan penjual/pembeli itu sendiri, misalkan tentang mekanisme pembayarannya.
Dengan keadaan di atas tentunya akan menghambat untuk pembuatan akta jual belinya, karena pejabat pembuat akta tanah akan menolak untuk membuatkan akta jual belinya karena belum selesainya semua persyaratan tersebut, untuk tetap dapat melakukan jual beli maka para pihak sepakat bahwa jual beli akan dilakukan setelah sertifikat selesai diurus, atau setelah harga dibayar lunas dan sebagainya.105 Untuk menjaga agar kesepakatan itu terlaksana dengan baik sementara persyaratan yang diminta bisa diurus maka biasanya pihak yang akan melakukan jual-beli menuangkan kesepakatan awal tersebut dalam bentuk perjanjian yang kemudian dikenal dengan nama perjanjian perikatan jual beli.
Perjanjian perikatan jual beli dapat dikatakan sebagai awalan agar terlaksananya perjanjian jual beli hak atas tanah. Berdasarkan Pasal 1457 KUHPerdata, jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Pengertian perikatan jual-beli menurut R. Subekti adalah perjanjian antar pihak penjual dan pihak pembeli
105 R. Subekti, Op., Cit, hlm 75.
sebelum dilaksanakannya jual beli dikarenakan adanya unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk jual beli tersebut antara lain adalah sertifikat belum ada karena masih dalam proses, belum terjadinya pelunasan harga. Sedang menurut Herlien Budiono, perjanjian perikatan jual beli adalah perjanjian bantuan yang berfungsi sebagai perjanjian pendahuluan yang bentuknya bebas. Dari pengertian yang diterangkan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian perjanjian perikatan jual beli merupakan sebuah penjanjian pendahuluan yang dibuat sebelum dilaksanakannya perjanjian utama atau perjanjian pokoknya.
Berdasarkan pengertiannya maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan perjanjian perikatan jual beli yang merupakan perjanjian pendahuluan, berfungsi untuk mempersiapkan atau bahkan memperkuat perjanjian utama/pokok yang akan dilakukan, karena perjanjian perikatan jual beli merupakan awal untuk lahirnya perjanjian pokoknya. Dengan demikian jelas bahwa perjanjian perikatan jual beli berfungsi sebagai perjanjian awal atau perjanjian pendahuluan yang memberikan penegasan untuk melakukan perjanjian utamanya, serta menyelesaikan suatu hubungan hukum apabila hal-hal yang telah disepakati dalam perjanjian perikatan jual beli telah dilaksanakan seutuhnya.106
106 Herlien Budiono, artikel “Pengikatan Jual Beli Dan Kuasa Mutlak” Majalah Renvoi, edis i tahun I, No 10, Bulan Maret 2004, hal 57.
B. Proses Penyelesaian Terhadap Pembuatan Perikatan Jual Beli Yang Terindikasi Wanprestasi Dikabupaten Deli Serdang
Disposisi Kasus
Terjadi peristiwa di daerah Kabupaten Deli Serdang yang melibatkan seorang Notaris bernama X. Kasus ini bermula pada tahun 2005. PT. Y dan Notaris X melakukan suatu kesepakatan kerjasama kemudian dituangkan kedalam sebuah perjanjian kerjasama. Didalam perjanjian kerjasama tersebut berisi kesepakatan dimana Notaris X menerima pekerjaan yang diberikan oleh PT Y yaitu berupa penyelesaian pengurusan pemecahan tanah sampai proses balik nama sertipikat perumahan N yang berlokasi di kabupaten Deli Serdang sebanyak 1000 unit/kavling.
Didalam salah satu kesepakatan mereka yaitu Notaris X menyanggupi untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam kurun waktu 1 tahun. Akan tetapi selang 5 tahun yaitu pada Tahun 2010 pekerjaan Notaris X tidak kunjung selesai. Akhirnya PT Y mengirim surat kepada Notaris X untuk mengetahui sejauh mana telah diselesaikannya pekerjaan tersebut. Dan Notaris X membalas dan menjelaskan yang telah dipecah sebanyak 142 (seratus empat puluh dua) sertipikat, proses NIB sudah diselesaikan sebanyak 262 (dua ratus enam puluh dua) sertipikat, dan sisanya 442 (empat ratus empat puluh dua) sertipikat yang akan diselesaikan selambat-lambatnya bulan Maret 2010.
Menurut pengakuan dari PT.Y, pihak mereka telah membayarkan lunas semua biaya proses pengurusan pemecahan sampai proses balik nama kepada Notaris X
sebesar Rp. 350.000.000,- (tiga ratus lima puluh juta rupiah). akan tetapi, sebelum Notaris X menyelesaikan semua pekerjaannya, ia mengalami keadaan sakit yang tidak memungkinkan Notaris X untuk menjalankan tugas dan jabatannya sehingga pekerjaan dari PT.Y tersebut tertunda dalam proses penyelesaiannya. PT.Y telah melakukan berbagai cara untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Akan tetapi, sampai saat ini keberadaan dari yang bersangkutan yaitu Notaris X tidak diketahui sehingga menyulitkan dalam proses penyelesaian ini.
Proses penyelesaiannya :
Secara normatif ini adalah prosedur-prosedur proses penyelesaian terhadap pemberhentian notaris terhadap yang tidak memenuhi kewajibannya.
Pasal 1 butir 5 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan anggota, Pemberhentian anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas, pengertian pengawasan adalah kegiatan yang bersifat preventif dan kuratif termasuk kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh Majelis Pengawas terhadap notaris.
Pasal 67 UUJN menyebutkan dalam hal pengawasan terhadap Notaris, disebutkan bahwa pengawasan terhadap notaris dilakukan oleh Menteri, di mana dalam melaksanakan pengawasan tersebut Menteri membentuk Majelis Pengawas, yang terdiri atas 3 (tiga) Majelis Pengawas terdiri dari unsur Departemen, Organisasi Profesi Notaris dan Para ahli/ akademisi. Majelis
Pengawas ini juga terdiri dari: Majelis Pengawas pusat, Majelis Pengawas Daerah dan Majelis Pengawas Wilayah. Pengawasan terhadap notaris meliputi perilaku Notaris dan pelaksanaan jabatan notaris.
Substansi pengawasan terhadap notaris tidak hanya dalam pelaksanaan jabatan notaris, akan tetapi perilaku notaris juga harus diawasi majelis pengawas, misalnya melakukan perbuatan tercela yang bertentangan dengan norma agama, norma kesusilaan dan norma adat dan perbuatan yang merendahkan kehormatan dan martabat Notaris. Apabila notaris terbukti melakukan hal-hal tersebut maka dapat dijadikan dasar untuk memberhentikan Notaris dari jabatannya oleh Menteri berdasarkan laporan dari Majelis Pengawas (Daerah, Wilayah dan Pusat).107
Notaris dalam menjalankan dan melaksanakan tugasnya sebagai pejabat umum untuk membuat akta otentik diawasi oleh Majelis Pengawas, dengan tujuan agar Peraturan Jabatan Notaris dan Kode etik Notaris dapat dilaksanakan dengan baik dan notaris dalam menjalankan tugasnya selalu memperhatikan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang, notaris merupakan pejabat yang memberikan jasanya kepada masyarakat dan memberikan penjelasan mengenai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Pengawasan terhadap notaris yang dilakukan oleh yang Majelis Pengawas, tidak hanya ditujukan bagi penataan kode etik notaris akan tetapi juga untuk
107Habib Adjie, Jurnal Renvoi, Nomor 10.22.II, Tanggal 3 Maret 2005, hlm 36
tujuan lebih luas, yaitu agar para Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang, demi pengamanan atas kepentingan masyarakat yang dilayaninya.
Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004, menegaskan apa saja yang dimaksud dengan pengawasan terhadap notaris adalah kegiatan yang bersifat preventif dan kuratif termasuk kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh Majelis Pengawas terhadap notaris.
Ada 3 (tiga) tugas yang dilakukan oleh Majelis Pengawas yaitu:108 1. Pengawasan Preventif
2. Pengawasan Kuratif 3. Pembinaan
Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.01. Ht.03.01 Tahun 2006 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan, Dan Pemberhentian Notaris mengatur Pemberhentian terhadap Notaris yang diatur dalam Pasal 20 yaitu :
Notaris berhenti atau diberhentikan dengan hormat dari jabatannya, apabila:
a. Meninggal dunia;
b. Telah berumur 65 (enam puluh lima) tahun;
c. Atas permintaan sendiri;
108 Habib Adjie, Op., Cit., hlm 144
d. Tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani menjalankan tugas jabatan Notaris secara terus-menerus selama lebih dari 3 (tiga) tahun;
e. Berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, pemimpin atau pegawai Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta, atau sedang memangku jabatan lain yang oleh peraturan perundang-undangan dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris.
Dari kasus Notaris X, Notaris X dikategorikan tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani menjalankan tugas jabatan Notaris secara terus-menerus selama lebih dari 3 (tiga) tahun;
Notaris yang bersangkutan, suami/istri atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas dan/atau ke bawah tanpa pembatasan derajat atau dalam garis ke samping sampai derajat ketiga atau keluarga semenda sampai derajat ketiga, atau jika tidak ada, pegawai notaris wajib memberitahukan secara tertulis kepada Majelis Pengawas Daerah mengenai ketidakmampuan notaris yang bersangkutan dan mengusulkan notaris lain sebagai pemegang protokol.
Apabila dalam hal tidak ada pemberitahuan maka, Majelis Pengawas Daerah, dapat melakukan pemeriksaan, dan setelah mendapatkan fakta-fakta dilapangan bahwa yang bersangkutan tidak cakap secara jasmani dan rohani maka Majelis Pengawas Daerah dapat menyatakan notaris tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani menjalankan jabatannya. Pemeriksaan terhadap notaris dapat dilakukan apabila adanya pengaduan dan informasi dari masyarakat.
Kemudian setelah meyakinkan bahwa notaris tersebut tidak cakap hukum secara jasmani dan rohani, Maka Majelis Pengawas Daerah mengusulkan secara tertulis kepada Menteri mengenai notaris lain sebagai pemegang protokol dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak diterimanya surat.
Menteri memberhentikan notaris yang bersangkutan terhitung sejak tanggal surat keputusan pemberhentian dan menetapkan notaris lain sebagai pemegang protokol dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak surat diterima secara lengkap.
Notaris yang diberhentikan dan Notaris lain sebagai pemegang protokol wajib melakukan serah terima protokol di hadapan Majelis Pengawas Daerah dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak surat keputusan diterima.
Ibu Sri Rejeki selaku Direktur dari PT.Y adalah salah satu klien dari Notaris X yang juga merasa dirugikan karena proses pemecahan hingga penyelesaian perikatan jual beli yang tidak selesai-selesai dengan jangka waktu yang cukup lama yaitu 5 tahun. Padahal biaya-biaya yang di perlukan oleh Notaris X sudah dibayarkan dimuka begitu pula dengan pembayaran Honorarium kepada Notaris X. Pada saat itu PT.Y ini adalah PT yang mengalami kerugian paling besar diantara PT-PT lainnya.
Pihak developer akhirnya menggunakan dana retensi dari Notaris X untuk mengcover sebagian dari kerugian yang dialami oleh PT Y dan PT-PT lainnya. Pihak developer juga merasa terbantu dengan adanya dana retensi. Pihak developer juga mengatakan seharusnya adanya sanksi yang tegas sehingga bisa menimbulkan efek jera terhadap
Notaris yang memang tidak dapat mempertanggungjawabkan dan melalaikan kewajibannya.109
MPD Notaris Kabupaten Deli Serdang yaitu Bapak Irwansyah Nasution (selanjutnya disebut MPD DS), menjelaskan mengenai permasalahan kasus Notaris X dan kendala-kendala yang dihadapi oleh MPD DS dalam melakukan upaya penyelesaian kasus Notaris X. Awalnya MPD DS mendapat pengaduan dari masyarakat terkait dengan Notaris X yang melakukan suatu tindakan yang merugikan pihak-pihak yang terkait. MPD DS kemudian melakukan peninjauan dan menyelidiki pengaduan tersebut, ketika MPD DS mendatangi tempat kediaman dari Notaris X tersebut, kediaman Notaris X tutup dan tidak ada keluarga atau kerabat dari Notaris X yang bisa dihubungi. Menurut keterangan dari MPD DS Notaris X sempat menunjuk anaknya menjadi notaris pengganti. Akan tetapi MPD DS tidak mendapatkan kabar dari notaris pengganti yang akan mengurus mengenai penyerahan protokol notaris.
MPD DS menilai tidak ada itikad baik dan sikap yang koorporatif dari notaris pengganti tersebut Karena sampai batas waktu Notaris Pengganti sudah berakhir tidak
MPD DS menilai tidak ada itikad baik dan sikap yang koorporatif dari notaris pengganti tersebut Karena sampai batas waktu Notaris Pengganti sudah berakhir tidak