• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada dasarnya hukum memberikan beban tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya, hukum sendiri memberikan batas-batas atau rambu-rambu tanggung jawab notaris, sehingga tidak semua kerugian ditanggung oleh notaris akan tetapi harus dilakukan penyelidikan terlebih dahulu pihak manakah yang melakukan pelanggaran.

Atmadja berpendapat pertanggungjawaban adalah suatu kebebasan bertindak untuk melaksanakan tugas yang dibebankan, tetapi pada akhirnya tidak dapat melepaskan diri dari kebebasan bertindak, berupa penuntutan untuk melaksanakan secara layak apa yang diwajibkan kepadanya. Pandangan tersebut bersesuaian dengan batasan Ensiklopedia Administrasi yang mendefinisikan responsibility sebagai keharusan seseorang untuk melaksanakan secara layak apa yang telah diwajibkan kepadanya.73

Mulyo Sudarmo membagi pengertian pertanggungjawaban dalam dua aspek sebagai berikut:

1. Aspek internal yakni pertanggungjawaban yang diwujudkan dalam bentuk laporan pelaksanaan kekuasaan yang diberikan oleh pimpinan dalam suatu instansi.

73 Sutarto, Encyclopedia Administrasi, MCMLXXVII, Jakarta, hlm. 291

2. Aspek eksternal yakni pertanggungjawaban kepada pihak ketiga, jika suatu tindakan menimbulkan kerugian kepada pihak lain atau dengan perkataan lain berupa tanggung gugat atas kerugian yang ditimbulkan kepada pihak lain atas tindakan jabatan yang diperbuat.74

Secara sepintas, dari berbagai pengertian pertanggungjawaban menyebabkan timbulnya kesulitan untuk memberi satu definisi yang disepakati mengenai pertanggungjawaban. Bagaimana pertanggungjawaban diartikan, dimaknai, dipahami, serta batasan- batasannya tergantung kepada konteks dan sudut pandang yang digunakan untuk menelaahnya. secara sederhana dapat dipahami bahwa eksistensi pertanggungjawaban sebagai suatu objek di dalam hak dan kewajiban ke konteks mana pun pertanggungjawaban hendak dipahami dan diwujudkan.

Seorang notaris dapat bertanggung jawab apabila dapat dibuktikan bahwa Notaris tersebut bersalah. Kemampuan bertanggung jawab merupakan keadaan normalitas psikis dan kematangan atau kecerdasan seseorang yang membawa kepada tiga kemampuan yaitu :

1. Mampu untuk mengerti nilai dan akibat-akibatnya sendiri.

2. Mampu untuk menyadari bahwa perbuatan itu menurut pandangan masyarakat tidak diperbolehkan.

3. Mampu untuk menentukan niat dalam melakukan perbuatan itu.

74 Suwoto Mulyosudarmo, Peralihan Kekuasaan; Kajian Teoritis dan Yuridis Terhadap Pidato Newaksara, Gramedia, Jakarta, 1997, hlm. 42.

Dalam kasus Notaris X apabila di analisis lebih jauh maka Notaris X dapat dimintai pertanggung jawaban sebagai berikut :

1. Tanggung jawab secara kode etik Notaris dan UUJN

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara UUJN dengan Kode Etik Notaris. UUJN mengatur notaris secara eksternal sedangkan Kode etik Notaris mengatur notaris secara internal. Dalam kasus Notaris X melakukan pekerjaannya yang berada diluar kewenangannya karena Notaris X bisa dikategorikan sebagai makelar tanah dimana hal ini dilarang oleh undang-undang. Notaris X dalam hal ini melanggar dan tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang telah diatur didalam Kode Etik Notaris dan UUJN yaitu tidak menjalankan tugas dan jabatannya dalam hal melakukan pembuatan akta dengan baik dan benar artinya akta yang dibuat tidak memenuhi kehendak hukum, dan juga tidak menghasilkan akta yang bermutu.

2. Tanggung jawab secara Pidana

Notaris X dapat dimintai pertanggungjawaban karena melanggar Pasal 263 jo 264 KUHP yaitu Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun, jika dilakukan terhadap :

1. Membuat secara tidak benar atau memalsu:

a. Akta-akta otentik;

b. Surat utang atau sertifikat utang dari suatu negara atau bagiannya atau dari suatu lembaga umum;

c. Surat sero atau utang sertifikat dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;

d. Talon, tanda bukti dividen atau bunga dari suatu surat yang diterangkan dalam angka 2 dan angka 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu; atau

e. Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan;

f. Surat keterangan mengenai hak atas tanah; atau g. Surat-surat berharga lainnya.

2. Menggunakan surat-surat sebagaimana dimaksud pada huruf a, yang isinya tidak benar atau dipalsu, jika penggunaan surat tersebut dapat menimbulkan kerugian.

UUJN tidak mengatur secara khusus mengenai ketentuan pidana, karena hubungan hukum yang terjadi antara notaris dengan para pihak berada dalam ranah hukum perdata, namun hubungan hukum tersebut dapat ditarik dalam ranah hukum pidana. Penarikan kasus pada hukum pidana terjadi apabila terdapat pelanggaran hak dari salah satu pihak dan pihak yang dirugikan melaporkan perkara tersebut kepada penyidik bahwa dari akta notaris tersebut penyidik bahwa dari akta notaris tersebut berindikasi perbuatan pidana yang dilakukan oleh notaris, baik dalam kedudukannya sebagai turut serta maupun membantu salah satu pihak sehingga merugikan pihak lainnya.

Dalam penelitian ini dianalisis dan difokuskan kedalam tanggung jawab Notaris secara perdata yaitu notaris membuat sebuah kesepakatan yang kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian kerjasama. Akibat dari perjanjian kerjasama itu mengikatkan diri notaris dengan para pihak. notaris seharusnya sudah mengerti dengan benar akan nilai dan akibat-akibat yang ditimbulkan apabila ia tidak mengerjakan sesuai dengan kesepakatan dan dampaknya adalah akta tersebut

dinyatakan cacat hukum dan bahkan akta tersebut menjadi tidak sempurna sehingga merugikan para pihak yang berkepentingan secara materil dan immateril.

Kesalahan notaris, perlu terlebih dahulu diperhatikan yakni apakah kesalahan tersebut merupakan perbuatan wanprestasi ataukah perbuatan melawan hukum.

terjadinya wanprestasi apabila didahului dengan adanya perjanjian, sedangkan jika tidak ada kaitannya dengan perjanjian maka bentuk pelanggarannya dinamakan perbuatan melawan hukum.

Dalam hal ini kesalahan dari Notaris X dikategorikan wanprestasi karena didahului dengan adanya perjanjian, dimana notaris telah membuat kesepakatan dan menyanggupi akan menyelesaikan pekerjaan tersebut. Wanprestasi itu sendiri adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian75 dan bukan dalam keadaan memaksa adapun yang menyatakan bahwa wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur.

Dalam melakukan perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu, haruslah dipenuhi terlebih dahulu persyaratan dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Notaris X dalam hal ini yang bisa dikategorikan sebagai makelar dimana Notaris X telah menyalahi kewenangan jabatannya yang diatur dalam UUJN bisa dikatakan tidak memenuhi klasul dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu mengenai suatu hal yang halal.

75 Nindyo Pramono, Hukum Komersil, Jakarta: Pusat Penerbitan UT, 2003, hlm 2.

Hubungan kontraktual antara klien dengan ahli expert, yaitu dalam hal ini Notaris merupakan perjanjian yang bersifat sui generis76. Pengaturan terhadap hubungan kontraktual tidak ada dalam aturan tersendiri, sehingga terhadap hubungan ini diterapkan peraturan umum. Dengan hubungan kontraktual antara notaris dengan klien tersebut, maka prestasi yang dibebankan kepada notaris antara lain kewajiban untuk memberikan informasi yang cukup tentang perkara atau persoalan yang dirumuskan kemudian.77 Isi prestasi dari seorang notaris terhadap kliennya dapat ditentukan oleh bentuk perjanjian antara seorang notaris dengan klien tersebut.

Prestasi untuk memberikan infomasi yang cukup, bertindak berdasarkan prinsip kecermatan dan kehati-hatian termasuk prestasi atau kewajiban yang timbul dari bentuk perjanjian, konsekuensinya dengan tidak dipenuhinya kewajiban ini akan menimbulkan suatu wanprestasi dari pihak notaris, seorang notaris yang telah membuat akta menjadi cacat hukum karena tidak terselesaikan akta tersebut secara sempurna yang mengakibatkan akta tersebut dibatalkan dan kekuatan pembuktian menjadi tidak sempurna. Disini notaris telah melalaikan kewajibannya dalam memberikan informasi yang cukup kepada kliennya karena pada asasnya seorang klien berhak untuk mengetahui dan mendapatkan laporan yang jujur, lengkap dan jelas tentang perkembangan situasi dan kondisi dari Notaris maupun dari pekerjaannya.

76 Perjanjian Sui Generis adalah perjanjian yang tidak termasuk didalam salah satu kontrak yang disebutkan didalam Undang-Undang sehingga pada dasarnya hanya dikuasai oleh ketentuan-ketentuan umum, lihat Marthalena Pohan, Tanggung Jawab Advocat, Dokter dan Notaris, Surabaya:Bina Ilmu, 1985, hlm 16.

77 Ibid.,

Notaris dalam hal ini dituntut untuk bisa bersikap berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas kecermatan, dengan membekali dirinya dengan penguasaaan terhadap peraturan-peraturan yang diterapkan dan paham mengenai yurisprudensi yang berlaku.78

Teori dari Hans Kelsen tentang tanggung jawab hukum. Satu konsep yang berhubungan dengan konsep kewajiban hukum adalah konsep tanggung jawab hukum. Bahwa seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum, subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan.79

Teori tanggung jawab hukum diperlukan untuk dapat menjelaskan antara tanggung jawab notaris yang berkaitan dengan kewenangan notaris berdasarkan UUJN yang berada dalam bidang hukum perdata. Kewenangan ini salah satunya adalah menciptakan alat bukti yang dapat memberikan kepastian hukum bagi para pihak, kemudian menjadi suatu sanksi atau perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan secara perdata, pidana atau administratif sesuai dengan akibat hukum yang ditimbulkannya.

Kewenangan notaris yang diberikan oleh UUJN, berkaitan dengan kebenaran materiil atas akta otentiknya, jika dilakukan tanpa kehati-hatian dapat membahayakan

78 Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Op., Cit., Hlm 189.

79 Hans Kelsen (Alih Bahasa oleh Somardi), General Theory Of Law and State,Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik, Jakarta, BEE Media Indonesia, 2007, hlm. 81.

masyarakat dan atau menimbulkan kerugian baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak, maka Notaris harus mempertanggung jawabkan perbuatan.80

Tanggung jawab notaris terhadap pembuatan perikatan jual beli yang terindikasi wanprestasi ini mengakibatkan akta menjadi cacat hukum dan tidak sempurna dalam penyelesaiannya, sehingga pihak yang dirugikan dapat menggugat notaris yang bersangkutan berdasarkan wanprestasi karena sebelumnya telah didahului dengan adanya perjanjian antara notaris dengan klien. Dalam mengajukan gugatan atas dasar wanprestasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, istilah wanprestasi hanya ada pada masalah perjanjian yang mana perjanjian ini melibatkan lebih dari satu pihak. Maksud dibuatnya perjanjian perikatan jual beli ini disini disebabkan beberapa hal antara lain:81

a. Sertifikat belum terbit atas nama pihak penjual, dan masih dalam proses di Kantor Pertanahan.

b. Sertifikat belum atas nama pihak penjual, dan masih dalam proses balik nama keatas nama pihak penjual.

c. Sertifikat sudah ada dan sudah atas nama pihak penjual tapi harga jual beli yang telah disepakati belum semuanya dibayar oleh pihak pembeli kepada pihak penjual.

d. Sertifikat sudah ada, sudah atas nama pihak penjual dan harga sudah dibayar lunas oleh pihak pernbeli kepada pihak penjual, tetapi pelunasan belum terjadi.

80 Hans kelsen, Op., Cit., hlm 102

81 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang -Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya,Jakarta: Djambatan, 1999, hlm 319.

e. Sertifikat pernah dijadikan sebagai jaminan di Bank dan masih belum dilakukan roya.

Dari beberapa sebab tersebut di atas, dapatlah digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:82

a. Pembayaran oleh pihak pembeli kepada pihak penjual telah lunas, tetapi Syarat-syarat formal belum lengkap, misalnya sertifikat masih dalam proses penerbitan ke atas nama pihak penjual.

b. Pembayaran atas obyek jual beli dilakukan dengan angsuran, tetapi syarat-syarat formal sudah lengkap.

c. Pembayaran atas obyek jual beli dilakukan dengan angsuran karena syarat formal belum terpenuhi.

Dengan adanya beberapa sebab tersebut, maka untuk mengamankan kepentingan penjual dan pembeli dan kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadi ingkar janji dari para pihak, diperlukan adanya suatu pegangan atau pedoman.

Berdasarkan Pasal 1340 KUHPerdata perjanjian hanya berlaku mengikat bagi pihak yang membuatnya, sedangkan pihak ketiga hanya terikat jika memang dalam perjanjian tersebut dimuat janji untuk kepentingan pihak ketiga (Pasal 1317 KUH Perdata) dalam perjanjian tersebut, memuat prestasi-prestasi yang harus dilaksanakan atau dipenuhi oleh para pihak sehingga kata mengikat dalam Pasal 1340 KUHPerdata

82 R. Subekti, Hukum Perjanjian, Op., Cit., hlm. 85

tersebut mengandung arti para pihak yang membuat akta tersebut saling terikat untuk melaksanakan prestasi yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut. atas pertimbangan inilah, maka tidak dimungkinkan bagi pihak luar yang membuat akta tersebut untuk menyatakan bahwa salah satu pihak dalam perjanjian tersebut telah melakukan wanprestasi, dengan tidak memenuhi prestasi yang diterapkan dalam perjanjian tersebut. Dalam hal perjanjian yang telah terjadi antara notaris dan klien, maka pihak yang menggugat notaris atas dasar wanprestasi adalah pihak klien itu sendiri. Dan dalam kaitannya dalam pembuatan akta yang tidak sempurna disini adalah pihak yang terlibat dalam pembuatan akta. Dalam hal ini yang menggugat notaris atas dasar wanprestasi adalah pihak yang dirugikan akibat dibatalkan atau tidak diselesaikan akta tersebut. kerugian para pihak ini dilihat dari saat setelah dibatalkan atau tidak diselesaikan akta tersebut.

Apabila seseorang dirugikan karena perbuatan seseorang lain, sedang diantara mereka itu tidak terdapat sesuatu perjanjian (hubungan hukum perjanjian), maka berdasarkan undang undang juga timbul atau terjadi hubungan hukum antara orang tersebut yang menimbulkan kerugian itu.83 Hal tersebut diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata, sebagai berikut :

“Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian pada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,mengganti kerugian tersebut”.

83AZ Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, cetakan ke 2, Jakarta: Diapit Media, 2002, hlm 77.

Keadaan ini semakin jelas dengan adanya unsur kerugian yang diderita oleh orang lain, berkaitan dengan pembuatan akta yang cacat hukum. kerugian yang diderita oleh para pihak sangat tampak pada saat dibatalkannya akta tersebut sebagai konsekuensi final dari akta yang cacat hukum. Dibatalkan atau tidak diselesaikan akta Notaris tersebut mengakibatkan prestasi-prestasi yang semula tercantum dalam perjanjian itu dianggap tidak ada dengan kata lain perjanjian dalam akta tersebut tidak mempunyai akibat hukum. Bahkan apabila sebelum dinyatakan dibatalnya akta tersebut telah dilakukan sejumlah prestasi oleh para pihak, harus dilakukan pemulihan keadaan yaitu keadaan seperti sebelumnya adanya perjanjian.84

84 Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Op., Cit., Hlm 190-191.

69

BELI YANG TERINDIKASI WANPRESTASI DIKABUPATEN DELI SERDANG

A. Perikatan Secara Umum 1. Pengertian Perikatan

Hukum perikatan diatur dalam buku ke III KUHPerdata. KUHPerdata sendiri tidak memberikan rumusan, definisi, maupun arti istilah perikatan.

Diawali dengan ketentuan Pasal 1233, yang menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan dari persetujuan, baik karena undang-undang, ditegaskan bahwa setiap kewajiban perdata dapat terjadi karena dikehendaki oleh pihak-pihak yang terkait dalam perikatan yang secara sengaja dibuat oleh mereka, ataupun ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.85

Dengan rumusan yang diberikan diatas dapat diketahui bahwa suatu perikatan, sekurangnya membawa serta di dalamnya empat unsur, yaitu :86

1. Bahwa perikatan itu adalah suatu hubungan hukum.

Hubungan hukum ini dapat lahir sebagai akibat perbuatan hukum, yang disengaja atau tidak, serta dari suatu peristiwa hukum, bahkan dari suatu keadaan hukum.

85 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Perikatan Perikatan Pada Umumnya, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003, hlm 17.

86 Ibid.,

2. Hubungan hukum tersebut melibatkan dua atau lebih orang (pihak).

Hubungan hukum dalam perikatan ini melibatkan dua orang atau lebih, yang merupakan para pihak dalam perikatan. Pihak dalam perikatan tersebut, sekurangnya terdiri dari dua pihak yaitu pihak yang berkewajiban di satu sisi dan pihak yang berhak atas pemenuhan kewajiban tersebut pada sisi lain.

3. Hubungan hukum tersebut adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan.

Rumusan diatas memberikan arti bahwa dalam setiap perikatan terlibat dua macam hal pertama menunjuk pada keadaan wajib yang harus dipenuhi oleh pihak yang berkewajiban. Kedua berhubungan dengan pemenuhan kewajiban tersebut, yang dijamin dengan harta kekayaan pihak yang berkewajiban tersebut.

4. Hubungan hukum tersebut melahirkan kewajiban pada salah satu pihak dalam perikatan.

Dalam sudut pandang KUHPerdata, pihak yang berkewajiban harus dapat ditentukan dan diketahui, oleh karena itu tidaklah mungkin suatu perikatan dapat dipenuhi jika tidak diketahui dengan pasti pihak yang berkewajiban untuk melakukan kewajiban tersebut.

2. Sumber-Sumber Perikatan

1. Perikatan yang bersumber dari perjanjian

Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian, pihak-pihak dengan sengaja dan bersepakat saling mengikatkan diri, dalam perikatan mana timbul hak dan kewajiban pihak-pihak yang perlu diwujudkan. Hak dan kewajiban ini berupa prestasi dan pihak debitur berkewajiban memenuhi prestasi dan pihak kreditur berhak atas prestasi. Dalam perikatan yang timbul karena perjanjian ini, kedua belah pihak harus selalu bertindak aktif untuk mewujudkan prestasi karena prestasi adalah tujuan dari diadakannya perikatan. Perikatan juga tercipta adanya persetujuan penerima yang menyatakan bersedia menerima atau menyanggupinya.87

Perikatan itu juga tidak timbul kalau tidak ada perundingan atau perjanjian. Perjanjian tidak akan ada kalau tidak ada persetujuan antara para pihak. perikatan tidak akan ada artinya kalau prestasi tidak terwujud. Untuk mewujudkan prestasi itu perlu adanya tanggung jawab. Jadi, disamping kewajiban berprestasi perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Jika tanggung jawab ini tidak ada, kewajiban berprestasi tidak ada artinya menurut hukum.

tanggung jawab yang dimaksud adalah tanggung jawab dengan adanya jaminan, jika debitur tidak memenuhi prestasinya. Dalam setiap perjanjian, kewajiban pihak-pihak selalu disertai tanggung jawab menurut hukum. inilah

87 Abdulkadir Muhammad, Op., Cit., hlm 12.

hakikat perjanjian yang diakui dan diberi akibat hukum dalam kehidupan masyarakat.

2. Perikatan yang bersumber dari Undang-undang

Perikatan yang timbul karena undang-undang ini diatur dalam Pasal 1352 KUHPerdata di bagi menjadi dua yaitu perikatan yang timbul semata-mata ditentukan undang-undang dan perikatan yang timbul karena perbuatan orang. Dalam perikatan yang timbul karena undang-undang, hak dan kewajiban pihak-pihak itu ada, karena ditetapkan oleh undang-undang.

Kewajiban berprestasi yang disertai tanggung jawab debitur diatur dan ditetapkan dalam undang-undang.88

3. Prestasi

Dalam uraian di atas telah disinggung tentang prestasi. Prestasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Menurut ketentuan Pasal 1234 KUHPerdata, setiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak memberikan sesuatu. Kewajiban memenuhi prestasi dari debitur selalu disertai dengan tanggung jawab, artinya debitur mempertaruhkan harta kekayaannya sebagai jaminan pemenuhan hutangnya kepada kreditur. Dalam Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata semua harta kekayaan debitur baik bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada

88 Ibid., hlm 15.

maupun yang akan ada menjadi jaminan pemenuhan kebutuhannya terhadap kreditur. Jaminan semacam ini disebut jaminan umum.89

Prestasi adalah esensi daripada perikatan. apabila esensi ini tercapai maka perikatan itu berakhir. Supaya esensi itu dapat tercapai, artinya kewajiban itu harus dipenuhi oleh debitur, maka perlu diketahui sifat-sifatnya. Sifat – sifat prestasi adalah :90

1. harus sudah tertentu atau dapat ditentukan.

2. Harus mungkin.

3. Harus diperbolehkan.

4. Harus ada manfaatnya bagi kreditur.

5. Bisa terdiri dari satu perbuatan.

Jika salah satu sifat tidak terpenuhi maka perikatan menjadi tidak berarti, dan perikatan itu menjadi batal atau dapat dibatalkan.

4. Macam-Macam Perikatan

Macam-macam perikatan dibedakan atas beberapa macam, yakni : 1. Perikatan bersyarat

Perikatan bersyarat adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya digantungkan pada syarat tertentu.91 Mungkin untuk memperjanjikan bahwa perikatan itu barulah akan lahir, apabila kejadian yang belum tentu timbul itu.

89 Ibid., hlm 17.

90 Ibid., hlm 18.

91Purwahid Patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Bandung : CV Mandar Maju, 1997, hlm 26.

Suatu perjanjian yang demikian itu, menggantungkan adanya suatu perikatan pada suatu syarat yang menunda atau mempertangguhkan.92

Menurut Pasal 1253 KUHPerdata tentang perikatan bersyarat yaitu :

“Suatu perikatan adalah bersyarat manakala ia digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum terjadi, baik secara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun secara membatalkan menurut terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tersebut.

Berdasarkan Pasal ini dapat diketahui bahwa perikatan bersyarat dapat dibedakan atas dua, yakni:93

a. Perikatan dengan syarat tangguh

Apabila syarat peristiwa yang dimaksud itu terjadi, maka perikatan dilaksanakan. Sejak peristiwa itu terjadi, kewajiban debitur untuk berprestasi segera dilaksanakan. Misalnya, A setuju apabila B adiknya mendiami paviliun rumahnya setelah B menikah. Nikah adalah peristiwa yang masih akan terjadi dan belum pasti terjadi. Sifatnya menangguhkan pelaksanaan perikatan, jika B nikah A wajib menyerahkan paviliun rumahnya untuk didiami oleh B.

b. Perikatan dengan syarat batal

Perikatan yang sudah ada akan berakhir apabila peristiwa yang dimaksud itu terjadi. Misalnya, A setuju apabila B kakaknya mendiami rumah A selama dia belajar di Inggris dengan syarat bahwa B harus

92 Subekti, Op., Cit., hlm 128

93 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Hukum Perikatan : Penjelasan Makna Pasal 1233 sampai 1456 BW, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm 19-20.

mengosongkan rumah tersebut apabila A selesai belajar dan kembali ketanah air. Dalam contoh, B wajib menyerahkan kembali rumah tersebut kepada A adiknya.94

Istilah syarat berakhir dan bukan syarat batal yang digunakan karena istilah syarat berakhir tersebut lebih tepat, istilah syarat batal pada umumnya mengesankan adanya sesuatu secara melanggar hukum yang mengakibatkan batalnya perikatan tersebut dan memang perjanjian tersebut tidal batal, tetapi berakhir, dan berakhirnya perikatan tersebut atas kesepakatan para pihak sedangkan kalau batal adalah kalau perjanjian tersebut dimintakan pembatalan oleh salah satu pihak atau batal demi

Istilah syarat berakhir dan bukan syarat batal yang digunakan karena istilah syarat berakhir tersebut lebih tepat, istilah syarat batal pada umumnya mengesankan adanya sesuatu secara melanggar hukum yang mengakibatkan batalnya perikatan tersebut dan memang perjanjian tersebut tidal batal, tetapi berakhir, dan berakhirnya perikatan tersebut atas kesepakatan para pihak sedangkan kalau batal adalah kalau perjanjian tersebut dimintakan pembatalan oleh salah satu pihak atau batal demi

Dokumen terkait