METODOLOGI PENELITIAN
BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Gambaran Variabel Dependen
6.3.5 Hubungan Kelembaban terhadap ISPA pada Balita
Pengukuran kelembaban kamar balita menggunakan alat hygrometer dengan berlandaskan pada peraturan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 mengenai persyaratan kelembaban rumah yaitu 40-60% Rh. Rumah dengan kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah merupakan kondisi dimana mikroorganisme
78
dapat tumbuh. Menurut Mudehir (2002) kelembaban dalam rumah dapat di pengaruhi oleh konstruksi rumah yang tidak baik, ventilasi yang kurang, serta pencahayaan yang minim.
Pada penelitian ini didapat hasil pengukuran kelembaban didalam kamar balita yang tidak memenuhi syarat dan menyebabkan ISPA sebanyak 5 (38,5%) dan kamar balita dengan kelembaban yang memenuhi syarat dan tidak mengalami ISPA sebanyak 46,7%. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan bahwa nilai p=0,49 yang artinya tidak ada hubungan bermakna antara kelembaban kamar terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat. Penelitian ini sejalan dengan Lindawaty (2010) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kelembaban dengan kejadian ISPA pada balita namun beresiko 2,98 kali lebih besar balita mengalami ISPA dengan tinggal dikelembaban yang tidak memenuhi syarat. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mudehir (2002) dimana terdapat hubungan antara kelembaban dengan kejadian ISPA pada balita.
Kelembaban dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat atau oleh cuaca. Pada musim hujan kelembaban akan meningkat namun bila kondisi rumah baik seperti cahaya matahari dapat masuk, tidak terdapat genangan air, ventilasi udara yang cukup dapat mempertahankan kelembaban dalam rumah (Lindawaty, 2010).
79
Hasil observasi di lapangan, sebagian besar kamar balita tidak tertutup pintu, hanya bersekatan dengan ruang tamu dan warga tidak banyak menggunakan AC di dalam kamar sehingga kelembaban ruangan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. ISPA pada balita di kelurahan Ciputat mungkin bisa disebabkan oleh faktor lain seperti mungkin dari penularan penghuni kamar yang sedang mengalami ISPA dan tidur satu ruangan dengan balita.
Walaupun tingkat kelembaban yang tidak memenuhi syarat rendah, tetap perlu diadakan upaya penyehatan kelembaban ruang tidur balita seperti yang tercantum pada peraturan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 yang meliputi :
1) Bila kelembaban udara kurang dari 40%, maka dapat di lakukan upaya penyehatan antara lain :
a) Menggunakan alat untuk meningkatkan kelembaban sepertihumidifier (alat pengatur kelembaban udara)
b) Membuka jendela rumah
c) Menambah jumlah dan luas jendela rumah
d) Memodifikasi fisik bangunan (meningkatkan pencahayaan,sirkulasi udara)
2) Bila kelembaban udara lebih dari 60%, maka dapat dilakukan upaya penyehatan antara lain :
a) Memasang genteng kaca
80
humidifier (alat pengatur kelembaban udara)
6.3.6 Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap ISPA pada Balita
Asap rokok yang di keluarkan oleh seorang perokok mengandung bahan toksik yang berbahaya dan akan menimbulkan penyakit serta menambah resiko kesakitan dari bahan toksik tersebut (Kusnoputranto, 2000). Hasil penelitian pada tabel 5.8 yang dilakukan di kelurahan Ciputat menunjukkan sebagian besar balita 54 (61,8%) tinggal didalam rumah dengan penghuni merokok dan 34 (38,6%) tidak tinggal dengan penghuni yang merokok. Tingginya jumlah balita yang tinggal bersama penghuni rumah yang merokok dimungkinkan bahwa sebagian besar balita sering terpapar dan menghirup bahan toksik yang berbahaya untuk kesehatan.
Asap rokok adalah sebuah campuran asap yang di keluarkan dari hasil pembakaran tembakau yang mengandung Polyclinic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan berbahaya bagi kesehatan (Depkes, 2011). Manusia yang menghirup asap rokok bisa disebut perokok pasif dan berisiko lebih besar pada kesehatan. Hal ini sesuai dengan penelitian Citra (2012) bahwa perokok pasif yang lebih rentan terkena penyakit gangguan pernafasan dibanding dengan perokok aktif .
Hasil uji chi square pada penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara kebiasaan merokok penghuni rumah terhadap kejadian ISPA pada balita dengan nilai p=0,409 (p>0,05). Namun, diketahui bahwa balita yang tinggal di rumah dengan penghuni merokok mempunyai resiko 1,7 kali
81
mengalami ISPA dibanding balita yang tinggal di rumah tanpa penghuni merokok. Hasil penelitian ini sejalan dengan Budiaman (2008) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara responden yang rumahnya ada yang merokok dengan kejadian penyakit gangguan saluran pernafasan balita. Penelitian ini berbeda dengan Lindawaty (2010 ) yang menyatakan bahwa balita yang tinggal bersama penguni yang merokok beresiko 2,04 kali lebih besar terkena ISPA dibanding dengan balita yang tidak terdapat penghuni rumah yang merokok.
Pada penelitian ini tidak menujukkan hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita. Hal ini dimungkinkan karena wawancara dilakukan hanya menanyakan ada atau tidak penghuni yang merokok tanpa menanyakan lebih spesifik tentang kebiasaan merokok di dalam atau di luar rumah pada perokok serta seberapa banyak jumlah rokok yang di habiskan dalam sehari. Semakin banyak jumlah rokok yang di konsumsi perokok yang merokok di dalam rumah kemungkinan besar balita terpapar asap rokok lebih banyak sehingga menimbulkan gangguan pernafasan pada balita. Walaupun tidak terdapat hubungan yang bermakna, menurut penelitian Wattimena (2004) bahwa rumah yang penghuninya mempunyai kebiasaan merokok di dalam rumah berpeluang meningkatkan kejadian ISPA pada balita 7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita yang penghuninya tidak merokok dalam rumah. Begitu pula dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa resiko penghuni
82
perokok terhadap kejadian ISPA pada balita lebih besar sehingga perlu di lakukan upaya-upaya untuk mengurangi pencemaran asap rokok sebagai berikut :
a. Penyuluhan mengenai bahaya merokok kepada keluarga balita untuk meningkatkan kesadaran penghuni dalam pentingya menjaga kebersihan udara yang terhirup di dalam rumah.
b. Memberikan pengetahuan mengenai ISPA serta sebab-sebab penularan yang dimungkinkan salah satunya disebabkan oleh asap rokok dalam rumah.
c. Menganjurkan untuk tidak merokok di dalam rumah.
6.3.8 Hubungan Pendidikan Orang Tua terhadap ISPA pada Balita
Pada penelitian ini tingkat pendidikan ibu dibagi dalam 2 kategori yakni pendidikan rendah (tidak sekolah, tamat SD, tamat SMP) dan tinggi (SMA, D3, S1). Distribusi tingkat pendidikan ibu berdasarkan tabel 5.9 sebanyak 40 ibu yang termasuk dalam kategori pendidikan rendah atau setengah dari jumlah sampel yang ada. Hasil pernyataan ibu-ibu yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mulai dari sudah ingin menikah, tidak mempunyai biaya sehingga dituntut untuk mencari kerja setelah wajib belajar 9 tahun.
Hasil uji statistik pada tabel 5.18 didapat sebanyak 26 ibu (65%) yang berpendidikan rendah memiliki balita yang mengalami ISPA dan berpendidikan tinggi dan memiliki balita yang mengalami ISPA sebanyak 19 ibu (39,6%).
83
Berdasarkan uji chi-square diperoleh nilai p=0,019 sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pendidikan orang tua terhadap ISPA pada balita di kelurahan Ciputat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Citra (2012) dan Suptiaptini (2007), menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian ISPA pada balita. Ibu yang berpendidikan rendah mempunyai resiko untuk menderita ISPA lebih besar dibandingkan dengan ibu balita yang berpendidikan tinggi. Namun hal ini bertolak belakang dengan penelitian Fitri (2004) dimana tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan kejadian ISPA pada balita.
Pendidikan ikut menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima pengetahuan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka diharapkan penerimaan pengetahuan akan semakin mudah sehingga diharapkan dapat merubah perilaku seseorang. Berdasarkan pengaruh terhadap kesehatan dan perilaku seseorang peran pendidikan juga berpengaruh terhadap lingkungan, pelayanan kesehatan dan juga heriditas (Achmadi, 2008). Perananan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan khususnya ISPA dengan tujuan agar ibu yang tidak tahu menjadi tahu bagaimana tanda-tanda gejala ISPA serta kegiatan pencegahan dan penanggulanganya bagi balita dan anggota keluarga.
Hasil observasi dilapangan membuktikan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi tindakan ibu dalam menanggulangi penyakit. Ibu dengan
84
pendidikan rendah cenderung hanya membiarkan balita yang mengalami tanda-tanda ISPA seperti batuk, pilek atau gejala ISPA sebagai penyakit biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, ibu berasumsi bahwa penyebab balita terkena ISPA akibat sering makan permen, atau es yang menyebabkan batuk-batuk pada anak. Tidak ada tindak lanjut terhadap ISPA yang diderita oleh balita. Sementara itu, ibu yang termasuk dalam kategori pendidikan tinggi lebih sedikit peduli terhadap balitanya. Ibu langsung mengambil tindakan dengan memberikan obat penurun panas/batuk pilek pada balita saat mengalami gejala ISPA.
Pentingnya pendidikan bagi ibu atau anggota keluarga yang lain mengenai gejala penyakit, dan cara penanggulangannya sangat dibutuhkan bagi balita dimana lebih rentan terhadap penyakit. Jika ibu memiliki pengetahuan tinggi, diharapkan balita yang mengalami ISPA atau gejalanya dapat segera di lakukan tindakan penanggulangan. Balita dengan pendidikan orang tua lebih rendah beresiko sebesar 2,8 kali balita terkena ISPA sehingga perlu diupayakan tindakan untuk menambah pengetahuan mengenai penyakit oleh tenaga kesehatan yang diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih pada balita dengan tindakan yang tepat dan cepat.
85
BAB VII