BAB III AKIBAT HUKUM BAGI PEKERJA/BURUH DALAM
B. Keabsahan Pemutusan Hubungan Kerja yang Dilakukan Pengusaha
3. Putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn
Dalam pertimbangan hukum pada putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn dikatakan:
“Bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan adanya mutasi dari Cashier ke Waiters dan tidak sesuai dengan Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maka Majelis Hakim mempertimbangkan dalam pokok perkara karena mutasi dan pemutusan hubungan kerja telah memasuki pokok perkara sehingga eksepsi Tergugat mengenai gugatan Penggugat obscuur libel/tidak jelas/kabur, posita dan petitum gugatan Penggugat tidak jelas/kabur dinyatakan ditolak”.134
132Pertimbangan Hukum Pengadilan Hubungan Industrial Medan pada Putusan Nomor 68/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Mdn, Hal. 38.
133Amar Putusan Nomor 68/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Mdn, Hal. 41.
134Pertimbangan Hukum Pengadilan Hubungan Industrial Medan pada Putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn, Hal. 16.
Pemutusan hubungan kerja karena pekerja/buruh menolak mutasi dalam putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn dinyatakan tidak sah dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan oleh Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo.135
Meskipun mutasi telah diatur secara otonom dalam peraturan perusahaan/perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh dan perjanjian kerja bersama antara pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh dalam 1 (satu) perusahaan tersebut, pengusaha seharusnya memperhatikan berlakunya ketentuan Pasal 32 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengarahkan penempatan pekerja/buruh pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak asasi dan perlindungan hukum.136 Apabila mutasi dilakukan dengan tidak memperhatikan rasa keadilan dan tidak sesuai dengan keahlian pekerja/buruh, maka mutasi dapat dikatakan batal demi hukum atau tidak sah. Namun, untuk memperoleh keadilan hukum, pengusaha atau pekerja/buruh dapat mengajukan gugatan pemutusan hubungan kerja ke Pengadilan Hubungan Industrial untuk mendapatkan
135Pertimbangan Hukum Pengadilan Hubungan Industrial Medan pada Putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn, Hal. 26.
136Deden Muhammad Surya, Pemutusan Hubungan Kerja Akibat Menolak Mutasi Ditinjau Dari Perspektif Asas Kepastian Hukum Dan Asas Keadilan, (Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung: Jurnal Wawasan Yuridika Volume 2 Nomor 2, 2018), Hal. 181.
keadilan hukum mengenai sah atau tidaknya pemutusan hubungan kerja yang dilakukan pengusaha terhadap pekerja/buruh yang menolak mutasi.137
Permasalahan mutasi akan terus terjadi apabila tidak ada aturan yang tegas mengenai mutasi. Pemerintah seharusnya membuat suatu peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan sehingga mutasi jelas dan tidak merugikan pihak pekerja/buruh.
Pengusaha tidak boleh semena-mena melakukan mutasi terhadap pekerja/buruh tanpa alasan yang jelas dan semata-mata untuk menghilangkan kewajibannya terhadap hak-hak pekerja/buruh dan harus dibuktikan terlebih dahulu apakah pelaksanaan mutasi merupakan iktikad baik atau iktikad buruk dari pengusaha.
Dengan tidak diaturnya mutasi secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mempunyai dampak yang sangat besar bagi nasib pekerja/buruh dalam menolak mutasi karena putusan Pengadilan Hubungan Industrial tidak mempunyai kesamaan dalam memutuskan perkara pemutusan hubungan kerja akibat menolak mutasi sehingga menimbulkan kerancuan dalam menentukan peraturan mengenai mutasi.
Kantor Dinas Tenaga Kerja tidak dapat mengintervensi pekerja/buruh yang diputus hubungan kerjanya karena pekerja/buruh menolak mutasi karena mutasi adalah hak perusahaan yang seharusnya diatur dalam peraturan perusahaan/perjanjian kerja dan/atau perjanjian kerja bersama. Dalam mediasi yang dilaksanakan pada Kantor Dinas Tenaga
137Ibid., Hal. 182.
Kerja terhadap perkara pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi sebaiknya harus mengikuti prinsip hukum ketenagakerjaan, yaitu win-win solution dan pemutusan hubungan kerja hendaknya dihindari.138 Demikian pula mengenai komitmen Hakim apabila mutasi tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maka Hakim harus melihat peraturan perusahaan/perjanjian kerja dan/atau perjanjian kerja bersama.139
138Wawancara dengan Bapak Fred Kelly W. Simorangkir, Kepala Seksi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Utara, pada hari Selasa, 21 April 2020.
139Wawancara dengan Bapak Mirza Budiansyah, Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial Medan, pada hari Kamis, 19 Maret 2020.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara khusus, perlindungan hukum dalam pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi tidak diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, namun perlindungan hukum dalam pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi dapat diatur secara otonom dalam peraturan perusahaan/perjanjian kerja dan/atau dalam perjanjian kerja bersama dengan tetap memperhatikan prinsip kesepakatan atau musyawarah untuk mufakat sebagaimana yang terkandung dalam hubungan kerja yang terjadi antara pengusaha dan pekerja/buruh.
2. Dari ketiga putusan perkara yang menjadi pembahasan dalam tesis ini, yaitu dalam putusan Nomor 123/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Mdn jo. putusan Nomor 310 K/Pdt.Sus-PHI/2016 dimana pekerja/buruh dimutasi dari bagian Security ke bagian Cleaning Service, dalam putusan Nomor 68/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Mdn dimana pekerja/buruh dimutasi ke perusahaan baru karena kelebihan pekerja/buruh di perusahaan pengusaha, dibutuhkan tenaga terampil di Kota Ambon, Provinsi Maluku dan karena pekerja/buruh telah memasuki usia pensiun dan dalam putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn dimana pekerja/buruh dimutasi dari bagian Cashier ke bagian Waiters, maka mutasi
yang dilakukan tanpa prinsip kesepakatan atau musyawarah untuk mufakat secara umum akan berakibat hukum pada perselisihan hubungan industrial yang berpotensi pada pemutusan hubungan kerja. Pekerja/buruh yang diputus hubungan kerjanya oleh pengusaha dapat mengajukan gugatan pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi pada Pengadilan Hubungan Industrial, pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi diputus oleh Pengadilan Negeri Hubungan Industrial dan pekerja/buruh berhak untuk mendapatkan hak-hak normatifnya.
3. Keabsahan pemutusan hubungan kerja dengan alasan menolak mutasi dalam beberapa putusan Hakim pada Pengadilan Hubungan Industrial masih didasarkan pada Pasal 32 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, meskipun mutasi telah diatur dalam peraturan perusahaan/perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh dan perjanjian kerja bersama antara pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh dalam 1 (satu) perusahaan. Dalam putusan Nomor 123/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Mdn jo. putusan Nomor 310 K/Pdt.Sus-PHI/2016, putusan Nomor 68/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Mdn dan putusan Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn, pelaksanaan mutasi yang dilakukan pengusaha terhadap pekerja/buruh tidak sah secara hukum dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
B. Saran
Adapun saran yang dapat dijadikan rekomendasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pemutusan hubungan kerja karena menolak mutasi belum diatur secara tegas dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sebaiknya Pemerintah melalui Menteri Tenaga Kerja membuat peraturan teknis tentang mutasi.
2. Dalam pembuatan peraturan perusahaan/perjanjian kerja dan/atau perjanjian kerja bersama, sebaiknya dimasukkan klausul tentang mutasi agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
3. Meskipun mutasi merupakan hak pengusaha dan pekerja/buruh yang menolak mutasi dianggap menolak perintah kerja, sebaiknya mutasi harus dilaksanakan secara professional bukan dilaksanakan sebagai tindakan untuk membalas atau mengintimidasi pekerja/buruh karena melakukan aktivitas hubungan industrial.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-buku:
Abdussalam, R, H. 2009. Hukum Ketenagakerjaan (Hukum Perburuhan) yang telah direvisi. Jakarta: Restu Agung.
Agusmidah, dkk. 2012. Bab-Bab Tentang Hukum Perburuhan Indonesia. Denpasar:
Pustaka Larasan.
Ali, Achmad. 1990. Mengembara di Belantara Hutan. Ujung Pandang: Lembaga Penerbitan UNHAS.
Asikin, Zainal, dkk. 2016. Dasar-dasar Hukum Perburuhan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Asyhadie, Zaeni. 2007. Hukum Kerja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Batubara, Cosmas. 2003. Hubungan Industrial. Jakarta: Sekolah Tinggi Manajemen.
Danim, Sudarwan. 2009. Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta:
Rinneka Cipta.
Darwan, Prints. 2000. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya.
Dirjosiswono, Soedjono. 1984. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: PT. Rajawali Press.
Ediwarman. 2015. Monograf Metodologi Penelitian Hukum. Medan: PT. Softmedia.
Hadikusuma, Hilman, H. 2013. Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi atau Skripsi Ilmu Hukum. Bandung: Mandar Maju.
Hadjon, M. Philipus. 1983. Perlindungan Hukum Bagi Masyarakat Indonesia. Surabaya:
Bina Ilmu.
Hariandja, Effendi, Tua, Marihot. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia, Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian dan Pengikatan Produktivitas Karyawan.
Jakarta: Gramedia.
Hasibuan. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Husni, Lalu. 2018. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Khakim, Abdul. 2009. Dasar-Dasar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti.
Kiswandari, Melania. 2014. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: PT. Rajawali Pers.
Kosidin, Koko. 1999. Perjanjian Kerja, Perjanjian Perburuhan dan Peraturan Perusahaan. Bandung: Mandar Maju.
Komaruddin dan Komaruddin, S, Tjuparmah, Yooke. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.
Maimun. 2007. Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Pradnya Pramita.
Malayu. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Mangkunegara, Prabu, Anwar, A, A. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Manulang. 1988. Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia. Jakarta: Rinneka Cipta.
Margono, H. 2019. Asas Keadilan, Kemanfaatan & Kepastian Hukum dalam Putusan Hakim. Jakarta: Sinar Grafika.
Marzuki, Mahmud, Peter. 2005. Penelitian Hukum. Surabaya: Kencana Prenada Media Group.
Mertokusumo, Sudikno. 1999. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty.
Rahardjo, Satjipto. 2014. Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Rasjidi, Lili dan Putra, Wysa, B, I. 2003. Hukum Sebagai Suatu Sistem. Bandung: CV.
Mandar Maju.
Samsudin, Sadili, H. 2019. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Soekanto, Soerjono. 2008. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI PRESS.
Soemitro, Hanitijo, Ronny. 1988. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Soepomo, Imam. 1983. Pengantar Hukum Perburuhan. Jakarta: Djambatan.
Soepomo, Imam. 2003. Pengantar Hukum Perburuhan. Jakarta: Djambatan.
Soeroso, R. 2011. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.
Subagyo, Joko. 2001. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rinneka Cipta.
Sunggono, Bambang. 2015. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sutedi, Adrian. 2009. Hukum Perburuhan. Jakarta: PT. Sinar Grafika.
Wahyudi, Eko, dkk. 2016. Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: PT. Sinar Grafika.
Wijayani, Asri. 2009.Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: PT. Sinar Grafika.
Wijayanti, Asri. 2014. Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi. Jakarta: PT. Sinar Grafika.
B. Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945.
Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep-15A/Men/1994 Tentang Petunjuk Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan Pemutusan Hubungan Kerja di Tingkat Perusahaan dan Pemerantaraan.
C. Gugatan & Putusan Pengadilan:
Gugatan Perselisihan Hubungan Industrial oleh Laksana Kencana Law Firm tentang Pemutusan Hubungan Kerja dengan Register Perkara Nomor 257/Pdt.Sus-PHI/2018/PN. Mdn.
Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dengan Register Perkara Nomor 123/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Mdn jo. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan Register Perkara Nomor 310 K/Pdt.Sus-PHI/2016.
Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dengan Register Perkara Nomor 68/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Mdn”.
Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dengan Register Perkara Nomor 200/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Mdn.
D. Artikel & Karya Ilmiah:
Agusmidah. Tanpa Tahun. Analisis Tentang Hak Atas Mutasi Kerja. Medan: Makalah Ilmiah USU.
Alfa, Z. Mawey, dkk. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemutusan Hubungan Kerja Karyawan Pada PT. PLN (Persero) Rayon Manado Utara. Manado: Jurnal EMBA.
Haryanto, Sella & Yurikoasi, Andari. Tanpa Tahun. Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pekerja Yang Diputus Hubungan Kerjanya Karena Pekerja Menolak Mutasi Pada PT. Sanggraha Dhika. Jakarta: Jurnal Hukum Adigama.
Kahfi, Ashabyul. 2016. Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja, Makassar: Jurnal Jurisprudentie UIN Alauddin Volume 3 Nomor 2.
Monica & Atalim, Stanislaus. Tanpa Tahun. Analisis Pemutusan Hubungan Kerja Akibat Adanya Demosi Pekerja pada PT. Johnson Home Hygiene Products. Bandung:
Jurnal Hukum Adigama.
Kasim, Umar. 2004. Hubungan Kerja dan Pemutusan Hubungan Kerja. Jakarta: Jurnal Informasi Hukum Volume 2.
Priyadi, Unggul, dkk. 2013. Pendampingan Hukum Hak Pekerja (Usia Produktif) Berdasarkan Hukum Ketenagakerjaan. Tanpa Kota: Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan.
Riani, Nanik, Sisilia. 2017. Perlindungan Terhadap Kebebasan Buruh. Jakarta: Jurnal Hukum Volume 9.
S, Arliman, Laurensius. 2017. Perkembangan Dan Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Di Indonesia. Padang: Jurnal Selat.
S, Charda, Ujang. 2015. Karakteristik Undang-Undang Ketenagakerjaan Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja. Universitas Subang: Jurnal Wawasan Hukum.
Saing, Bungaran. 2017. Pengaruh Mutasi dan Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Perhubungan Kota Bekasi. Jakarta: Jurnal Kajian Karya Ilmiah Universitas Bhayangkara Jakarta RayaVolume 17 Nomor 3.
Suhartoyo. 2019. Perlindungan Hukum Bagi Buruh Dalam Sistem Hukum Ketenagakerjaan Nasional. Universitas Diponegoro: Jurnal Hukum Administrasi & Pemerintahan.
Surya, Muhammad, Deden. 2018. Pemutusan Hubungan Kerja Akibat Menolak Mutasi Ditinjau Dari Perspektif Asas Kepastian Hukum Dan Asas Keadilan. Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung: Jurnal Wawasan Yuridika Volume 2 Nomor 2.
Wildan, Muhammad. 2017. Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Kontrak Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Semarang: Jurnal Hukum Khaira Ummah.
E. Peraturan Perusahaan/Perjanjian Kerja Dan Perjanjian Kerja Bersama:
Peraturan Perusahaan PT. Srikandi Inti Lestari.
Peraturan Perusahaan PT. Sumber Rezeki Bersama.
Peraturan Perusahaan PT. ABC Beton Indonesia.
Peraturan Perusahaan PT. Waruna Shipyard Indonesia.
Peraturan Perusahaan PT. Sinar Inti Berkah Sejahtera.
Peraturan Perusahaan PT. Sumber Perkasa Plastik.
Peraturan Yayasan Perguruan Katolik Don Bosco Keuskupan Agung Medan.
Perjanjian Kerja Bersama PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk.
Perjanjian Kerja Bersama PT. Bank CIMB Niaga, Tbk.
Perjanjian Kerja Bersama PT. Perkebunan Nusantara II (Persero).
F. Media Internet:
www.pengertianmenurutparaahli.com. 2016. Pengertian Mutasi Pegawai Menurut Para Ahli. www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-mutasi-pegawai-menurut-para-ahli/ (diakses pada hari Senin, 16 Desember 2019).
blogger.com. 2015. Manajemen dan Bisnis. http://sdm-dasar.blogspot.com/2015/11/mutasi-karyawan (diakses pada hari Sabtu, 29 Agustus 2020).
satuhukum.com. 2019. Akibat Hukum. https://www.satuhukum.com/2019/11/akibat-hukum.html (diakses pada hari Kamis, 17 September 2020).
www.qerja.com. Tanpa Tahun. Tujuh Pertanyaan Seputar Uang Pisah.
https://www.qerja.com/journal/view/396-tujuh-pertanyaan-seputar-uang-pisah-saat-resign-1/ (diakses pada hari Minggu, 29 November 2020).
G. Kamus:
Kamus Besar Bahasa Indonesia.