BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.7. Peluang Yang Menguatkan Marsiadapari Sebagai Modal Sosial
4.7.2 Hubungan Marga dalam Dalihan Natolu Sebagai Penguat
Masyarakat Batak Toba sebagai salah satu sub suku Batak, memiliki perangkat struktur dan sistem sosial yang merupakan warisan nenek moyang. Struktur dan sistem sosial tersebut mengatur tata hubungan sesama anggota masyarakat, baik yang merupakan kerabat dekat, kerabat luas, saudara semarga, maupun beda marga serta masyarakat umum. Struktur sosial yang dimiliki masyarakat Batak Toba pada hakekatnya berdasarkan garis keturunan bapak ( patrilineal) yang memiliki tiga unsur struktur sosial yang lebih dikenal dengan sebutan Dalihan na tolu. Dalihan na tolu adalah bentuk sistem kekerabatan Suku Batak Toba. Isi dari dalihan natolu ini adalah somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.
Suatu kelompok sosial bisa terbentuk karena adanya rasa kecocokan dan kenyamanan antar anggota kelompok serta memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Masyarakat suku Batak semua memiliki kesamaan yaitu adanya marga. Marga ini adalah nama belakang keluarga. Kesamaan marga akan membuat secara naluriah adanya ikatan kekerabatan. Adanya ikatan kekerabatan diantara masyarakat Batak tersebut maka tidak jarang kita temui organisasi atau perkumpulan masyarakat Batak. Berdasarkan sejarah desa parsingguran II, desa ini di dominasi oleh marga Banjar Nahor dan marga Lumban Gaol walaupun ada beberapa marga lain tetapi dalam jumlah yang minim.
Perkumpulan ini dapat juga disebut paguyuban dalam istilah sosiologi lebih dikenal sebagai gemeinschaft. Sehingga ketika kita berkunjung ke rumah orang lain
yang semarga dengan kita, maka kita selalu akan di terima dengan keramahan dan sikap yang santun. Hal ini membuktikan bahwa kesamaan marga sangat berarti bagi masyarakat Batak. Punguan (perkumpulan) marga Banjarnahor dan marga Lumban Gaol ini memberikan dampak yang positif untuk masyarakat. Karena keberadaan punguan ini dapat mempererat hubungan antara masyarakat.
Inti paham Dalihan Natolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong. Dalihan na tolu adalah suatu bentuk nilai budaya Batak. Dalam pelaksanaannya di Desa Parsingguran II, dalihan na tolu masih dikerjakan dalam adat oleh masyarakat sehingga kekeluargaan masih terjaga dan harmonis.
Dalam bidang pertanian, nilai tolong menolong masih dilakukan oleh para petani. hal ini tampak dari misalnya ada petani yang kemalangan, sakit, berduka maka pihak dari dongan tubu nya akan membantunya mengerjakan pertaniannya sampai akhirnya selesai. Contohnya saat panen, maka dongan tubunya akan menyelesaikan pekerjaan tersebut mulai dari menyabit rumput, mangaluhut (mengumpulkan batang padi yang telah disabit) mambanting, mardege sampai mengantar ke rumah. Hal ini dilakukan dengan sukarela dan senang hati. Seperti yang dikatakan oleh Scott (1994) bahwa sanak saudara dalam masyarakat pertanian merasa berkewajiban untuk berbuat apa yang dapat di perbuat untuk menolong seorang kerabat dekat yang sedang dalam kesulitan, akan tetapi mereka tidak dapat menawarkan lebih dari sumber daya yang dapat mereka lakukan di kalangan mereka sendiri (Scott, 1994 : 40). Sebagai bentuk ucapan terimakasih maka pihak yang dibantu akan di beri upah, tetapi hal ini tidak menjadi kewajiban bagi masyarakat. Pemberian upah lebih ini juga sebagai bentuk
terima kasih karena sudah berniat baik sesuai dengan kemauannya dan sebagai bentuk tindakan manusia yang berjiwa sosial jadi ingin membantu terhadap sesama.
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan mengenai Potensi Modal Sosial Marsiadapari pada Aktivitas Petani Padi di Desa Parsingguran II Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut
1. Sejarah menunjukkan bahwa kegiatan bekerja sama tersebut (marsiadapari) merupakan gotong royong masyarakat yang dilakukan oleh keluarga dengan keluarga atas kemauan dan prinsip kerelaan. Jaringan yang ditemukan dalam marsiadapari yaitu jaringan dengan lahan (sawah) yang berdampingan, jaringan keluarga dan jaringan tetangga. Sikapa percaya adalah perekat hubungan antar sesama petani padi. Pelaksanaan aktifitas marsiadapari di Desa Parsingguran II dapat mengefektifkan waktu. Karena waktu yang dipakai relatif cepat jika dibandingkan dengan pengolahan lahan dengan sendiri tentunya akan menghabiskan waktu yang lama. Di dalam solidaritas mekanik di Desa Parsingguran II ditemukan adanya rasa sepenanggungan, saling memerlukan dan rasa seperasaan.
2. Perubahan aktivitas marsiadapari ini karena kehadiran teknologi pertanian seperti mesin traktor tangan (jetor) yang menggeser tenaga kerja petani. Setelah diperkenalkan teknologi maka, orientasi masyakat juga ikut berubah. Masyarakat menginginkan pekerjaan cepat selesai dengan hasil pertanian yang maksimal. Sehingga sistem marsiadapari yang sejak dahulu dipelihara kini berubah menjadi sitem pengupahan. Hal ini didukung oleh semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat (pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan). Lahan yang
semakin sempit dan pertumbuhan penduduk yang meningkat juga menjadi alasan kenapa ada perubahan pada pelaksanaan marsiadapari.
3. Untuk mempertahankan agar pelaksanaan marsiadapari ini tetap dilakukan, di dalam masyarakat ada peluang yang dapat menguatkan marsiadapari yaitu: adanya institusi lokal dan potensi sosial yang juga berperan dalam pelestarian marsiadapari, seperti: dalihan natolu, hubungan marga dan keterbatasan masyarakat dalam menggunakan teknologi. Inilah yang menjadi kekuatan masyarakat Desa Parsingguran II yang jika terus dipelihara maka marsiadapari tetap ada.
5.2 Saran
Di Indonesia terdapat banyak modal sosial dalam mengolah lahan pertanian seperti di Bali disebut Sistem Subak, di Jawa disebut Sambatan dan bagi orang Batak disebut marsiadapari. Tetapi belakangan ini sistem kerja sama pertanian tersebut sudah mulai bergeser oleh modernisasi pertanian. Sehingga perlahan-lahan sitem tersebut berubah dan jika tidak dijaga dan dipelihara akan menghilang. Oleh sebab itu, setiap masyarakat harus berjuang memelihara untuk mempertahankan modal sosial tersebut. Marsiadapari bagi masyarakat petani di Desa Parsingguran II sesungguhnya adalah kekayaan dan kekuatan dalam aktivitas pertanian. Dalam pertanian khususnya, banyak manfaat yang dirasakan selain daripada mempercepat selesainya lahan. Tetapi ada kebersamaan, kedekatan, kekeluargaan yang tercipta. Maka untuk mempertahankan marsiadapari ini, setiap masyarakat harus menjaga keharmonisan dalam kekeluargaan dan dalihan natolu. Teknologi tidak selalu membawa dampak yang positif bagi masyarakat, maka masyarakat seharusnya tidak mengabaikan budaya lokal yang ada, sehingga budaya itu tidak menjadi hilang.
DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku :
Adler, P Kwon S. 2000. Social Capital: the good, the bad and the ugly. In E. Lesser (Ed). Knowledge and Social Capital: Foundations and Applications. Butterworth - Heinemmann.
Ancok, J. 2003. Modal Sosial dan Kualitas Masyarakat. Yogyakarta. Fakultas Psikologi UGM.
BPS, 2013. Sumatera Utara Dalam Angka, Medan: Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara Edisi September 2013.
Cohen & Prusak L. 2001. Social Capital In The Creation of Human Capital, The American Journal Of Sociology.
Faisal, Sanapiah. 2007. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Field, John. 2011. Modal Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Fukuyama, Francis. 1995. Trust : The Social Virtues and the Creation of Prosperity. NY: Free Press.
Fukuyama, Francis. 2002. Trust Kebajikan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Hasbullah, Jousairi. 2006. Social Capital : Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press.
Johnson, Paul Doyle. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern, diindonesiakan oleh: Robert M.Z. Lawang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat. 1993. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembagunan. Jakarta: Gramedia. Lawang, Robert. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Modul Universitas Terbuka.
Lawang R, MZ.2005.Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologi (suatu Pengantar). Jakarta:Fisip UI Press Jakarta.
Moleong, Lexi. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo. Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Woolcock, M. D. Narayan. 2000. Social Capital: Implication for Development Theory,Research, and Policy. World Bank Research Observer, 15(2), August, 225-49. In Elinor Ostrom and T.K. Ahn. 2003. Foundation of Social Capital. Massachusetts: Edward Elgar Publishing Limited.
Sumber Jurnal :
Inayah. 2012. Jurnal Pengembangan Humaniora Volume 12. Semarang
Syabra, R. 2003. Modal Sosial: Konsep dan Aplikasi. Jurnal Masyarakat dan Budaya. Vol.5. No. 1-5. Jakarta.
Badaruddin. 2003. Modal Sosial Masyarakat Nelayan. Jurnal Komunikasi Penelitian. Munthe, Hadriana Marhaeni, 2007. Jurnal Sosiologi Harmoni Sosial Volume II Nomor
1: Medan
Lubis, Zulkifli, B dan Fikarwin Zuska. 2001. Resistensi, Persistensi dan Model Transmisi Modal Sosial dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Milik Bersama, Laporan Penelitian, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, 2010. Data Potensi Sumber Daya Alam
dan Industri
Suharto, Edi. 2005. Modal Sosial dan Kebijakan Publik
Juli 2013 pukul 13:07 WIB
Serikat Petani Indonesia. 2007. Tentang Pembaruan Agraria dan Pembangunan
Pedesaan
Sumber Skripsi :
Suparman.2012. Modal Sosial Dalam Komunitas Nelayan. Disertasi(S3) Tidak Diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana Sosiologi Universitas Negeri Makassar.