• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI. ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENGARUH STAKEHOLDER

6.2 Keterkaitan antar Stakeholder yang Terlibat dalam Pengelolaan KJA

6.2.2 Hubungan antar Stakeholder

Stakeholder dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya Waduk Cirata terkait dengan pembudidayaan ikan dengan KJA tergolong dalam level penentu kebijakan (collective choice level) dan level operasional (operational choice level). Stakeholder yang termasuk dalam level penentu kebijakan yaitu Kementrian Kelautan dan Perikanan, DKP Provinsi Jawa Barat, PT. PLN dan PJB. Kelompok ini berperan dalam menyusun dan menentukan kebijakan dan aturan main formal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di Waduk Cirata. Sedangkan yang termasuk ke dalam level operasional yaitu DKP Kabupaten Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta, BPWC, BPPT, UPTD, kelompok pembudidaya ikan, ASPINDAC, kelompok nelayan, kelompok pengolah ikan, pedagang ikan, dan kelompok penjual pakan.

Berdasarkan hasil analisis stakeholder pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di Waduk Cirata diperoleh bahwa koordinasi yang terjadi antar stakeholder belum optimal. Walaupun sudah ada kesepakatan mengenai pemanfataan Waduk Cirata oleh masing-masing stakeholder, namun dalam implementasinya masih belum berjalan. Setiap stakeholder menjalankan perannya di dasarkan pada keputusannya masing-masing. Sehingga terjadi konflik kepentingan dalam kegiatan pengelolaan waduk. Perbedaan kepentingan yang paling besar dan saling mempengaruhi dalam pemenuhan kepentingannya yaitu antara BPWC dan Dinas Perikanan Provinsi. BPWC memanfaatkan waduk dalam kegiatannya untuk menjamin terpenuhinya pasokan listrik. Oleh karena itu, besar sekali kepentingan BPWC dalam menjaga kelestarian waduk. Sedangkan Dinas Perikanan menggunakan waduk sebagai lokasi budidaya ikan yang dalam

79 kegiatannya telah teridentifikasi sebagai salah satu penyebab dari penurunan kualitas air Waduk Cirata.

Pada awalnya pihak BPWC memang mengijinkan adanya pemanfaatan waduk untuk budidaya ikan dengan sistem KJA yang dimaksudkan sebagai kompensasi bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat adanya pembangunan waduk. Melihat potensi yang sangat besar untuk kegiatan budidaya tersebut, pada tahun 2003 Gubernur Jawa Barat, Bupati Bandung, Cianjur, dan Pruwakarta, serta Direktur Utama PT. PJB membuat kesepakatan tentang pengembangan pemanfaatan Waduk Cirata. Kegiatan pemanfaatan budidaya ikan dengan KJA merupakan salah satu yang disetujui dengan syarat tidak mengganggu kegiatan pembangkitan listrik. Dalam keputusan gubernur jawa barat no. 41 tahun 2002 telah diatur bahwa kuota KJA untuk seluruh wilayah dianjurkan sebanyak 12.000 petak. Pada kenyataannya jumlah KJA yang terdapat di Waduk Cirata lebih dari 50.000 (BPWC, 2011).

Banyaknya jumlah KJA tentu saja sejalan dengan keinginan dinas perikanan untuk terus meningkatkan jumlah produksi ikan. Namun hal tersebut jelas menggangu kegiatan pembangkitan listrik. Sisa pakan dan feses yang mengendap di dasar danau ditambah dengan limbah dari aktifitas rumah tangga penghuni KJA menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air. Biaya operasional yang semakin meningkat dan laju sedimentasi yang tinggi adalah dampak yang harus diterima oleh BPWC. Disamping itu, terlalu banyaknya jumlah KJA yang ada juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari ikan yang diproduksi itu sendiri. Tipe pengelolaan sumberdaya perikanan di Waduk Cirata tergolong ke dalam tipe instruktif dan konsultatif. Tipe instruktif terjadi ketika terdapat komunikasi dan tukar informasi yang minimal antara pemerintah dan pelaku perikanan. Sedangkan pada tipe konsultatif, terdapat mekanisme dialog antar pemerintah dan pelaku perikanan namun pengambilan keputusan masih dilakukan pemerintah. Petani ikan memberikan aspirasi mereka melalui penyuluh lapang yang kemudian akan disampaikan dalam berbagai rapat pengembilan keputusan mengenai pengelolaan waduk.

Pemanfaatan Waduk Cirata yang luas dengan berbagai kepentingan di dalamnnya seharusnya diatur oleh koordinasi yang baik antar stakeholder-nya.

80

DKP provinsi Jawa Barat menentukan aturain main pengelolaan sumberdaya perikanan di Waduk Cirata dan kegiatan teknis di lapangannya dilakukan oleh BP3U. masing-masing DKP Kabupaten mengatur pemanfataan perikanan di wilayahnya. Dalam pengaturan ijin dan retribusi langsung ke povinsi, hanya Kabupaten Cianjur yang mendapat retribusi dari kegiatan KJA untuk PAD. Kurangnnya intensif bagi daerah kabupaten menyebabkan tidak optimalnya pengelolaan Waduk oleh DKP Kabupaten. BPWC berwenang menerbitkan SPL bagi KJA. SPL merupakan salah satu syarat bagi pembuatan ijin di tingkat provinsi. Diagram alur hubungan antar stakeholder yang terlihat dalam pemanfaatan dan pengelolaan Waduk Cirata dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Grafik keterkaitan antar stakeholder

Keterangan : : Garis koordinasi

: Garis koordinasi di lapangan : Garis konsultasi

BPPT

Kementrian Kelautan dan Perikanan

BPWC

Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten

Purwakarta

BP3U / UPTD Provinsi Dinas Peternakan

Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat BPBP2U / UPTD Kabupaten PT. PJB PLN ASPINDAC

Kelompok Pembudidaya Ikan, kelompok nelayan,Kelompok pengola ikan, Pedagang

ikan, Kelompok Penjual Pakan (Gudang / Juragan, GPMT)

Collectivechoicelevel

Operational choice level

81 Dari grafik tersebut dapat dilihat pihak yang paling berpengaruh dalam membuat kebijakan pengelolaan waduk adalah BPWC dan DKP Provinsi. BPWC mendapat kewenangan dalam pengelolaan waduk atas perintah dari PT. PJB yang merupakan anak perusahaan dari PLN. Segala peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh DKP provinsi Jawa Barat juga harus sejalan dengan peraturan yang telah dibuat oleh KKP. DKP provinsi dibantu oleh DKP Kabupaten Cianjur, Bandung Barat, dan Purwakarta urusan teknis dilapangan. DKP Provinsi berwenang memberikan koordinasi terhadap tiga wilayah kabupaten tersebut dalam menentukan arah pengelolaan perikanan di Waduk Cirata. Selain itu, kegiatan teknis di lapangan dilakukan oleh BP3U yang mendapat koordinasi langsung dari DKP Provinsi Jawa Barat.

BPWC berkoordinasi dengan DKP provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan KJA di Waduk Cirata. Secara berkala BPWC memberikan laporan kualitas air kepada DKP provinsi sebagai bahan pertimbangan pengelolaan KJA yang akan provinsi lakukan. SPL yang diterbitkan oleh BPWC merupakan syarat bagi Ijin Usaha Prikanan (IUP) yang diterbitkan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) atas persetujuan DKP Provinsi. Dalam pelaksanaan penertiban SPL, BPWC dibantu oleh aparat desa dan penyuluh perikanan menggunakan sistem jemput bola. Sebelum sampai di provinsi, terlebih dahulu pengaju harus mendapatkan rekomendasi teknis dari DKP Kabupaten tempatnya berasal. Secara lengkap alur pembuatan IUP dapat dilihat pada Gambar 16.

Sumber : BPWC, 2012

Gambar 16. Mekanisme pengurusan SPL dan IUP KJA di Waduk Cirata

SPL & Stiker

IUP Petani Ikan

- FC. KTP/MPWP

- Permohonan SPL & IUP - Surat Pernyataan - Surat Ket. Domisili

- Rencana Usaha

BPWC :

1. Surat Penempatan Lokasi KJA (SPL) 2. Stiker Lokasi KJA

3. Membayar Rp. 1.000/m2

(Berlaku Selama 1 Tahun)

Dasar :

1. Perda Prop. No. 14 Tahun 2002 2. Kep Gub. No. 45 Tahun 2003 3. SK. DIR PJB 055.K/DIR/PJB II/99

Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat

- Membayar Retribusi Rp. 50.000/Petak KJA - Mengeluarkan IUP (Ijin Usaha Perikanan

atas nama Gubernur)

Rekomendasi Teknis Ijin Usaha Perikanan oleh Dinas Kabupaten

82

BPWC menerbitkan SPL berdasarkan Keputusan Direksi PT PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa Bali II No. 055 K/010/DIR/1999. Terdapat beberapa persayaratan dalam pembuatan SPL seperti yang dapat dilihat pada Gambar 15. Namun dalam surat keputusan mengenai SPL tersebut belum mengatur batas maksimum jumlah KJA yang seharusnya dimiliki RTP. SPL hanya mengatur tata letak KJA sesuai zonasi. Peraturan pembatasan jumlah KJA baru ada ditingkat provinsi misalnya pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7 Tahun 2011 yang membatasi jumlah KJA paling banyak 20 petak dengan ukuran keramba 7 x 7 m. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya kewenangan yang dimiliki oleh BPWC untuk membatasi jumlah KJA yang dimiliki oleh petani ikan, padahal mekanisme SPL merupakan langkah pertama dalam penertiban KJA yang ada di Waduk Cirata. Pembatasan jumlah KJA untuk setiap RTP oleh pemerintah provinsi juga belum berjalan dengan baik walaupun sudah ada peraturannya di tingkat provinsi. Jumlah KJA berlebih yang dimiliki petani dapat diketahui ketika pengurusai IUP atau dengan pengawasan langsung. Namun banyak petani ikan yang tidak mengurus IUP ke tingkat provinsi, begitu juga pengawasan yang dilakukan pemerintah provinsi yang masih lemah.

Berdasarkan Keputusan Direksi PT PLN Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa Bali II No. 055 K/010/DIR/1999, BPWC dapat memfasilitasi pengurusan IUP dan SPbi ketika petani ikan mengurus SPL. Namun sekarang hal tersebut tidak berjalan karena tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari pengurusan SPL. Padahal jika sistem ini masih dilaksanakan akan mempermudah dalam pembatasan jumlah KJA karena dilakukan bersamaan antara peraturan di BPWC mengenai SPL dan tingkat provinsi mengenai pembatasan jumlah KJA untuk setiap petani ikan. Banyaknya jumlah KJA yang meningkat setiap tahunnya disebabkan karena kurangnya instrumen pengawas yang dimiliki BPWC maupun pemerintah provinsi. Jumlah KJA yang meningkat menjadi tidak terkontrol. Pemberian SPL sekarang diberikan kepada petani ikan yang sudah mendirikan KJA, bukan lagi kepada petani ikan yang akan mendirikan KJA. Selain itu tidak jelasnya kewenangan antara BPWC dan pemerintah menjadikan mekanisme pembatasan jumlah KJA menjadi kurang efisien.

83 BPWC berkoordinasi dengan DKP Kabupaten dalam menjaga kualitas lingkungan perairan waduk. Beberapa kegiatan seperti pembersihan eceng gondok, pembersihan sampah sterofoam, penertiban KJA dilakukan secara bersama-sama. Masing-masing DKP Kabupaten memiliki penyuluh untuk melakukan kegiatan pembinaan pada petani ikan. Namun, berdasarkan wawancara dengan beberapa informan, jumlah penyuluh yang ada dirasa masih kurang. DKP Kabupaten Cianjur memiliki UPTD daerah yang melakukan kegiatan terknis dilapangan yaitu BPBP2U. Keberadaan lembaga ini di Kabupaten Cianjur mengindikasikan bahwa Kabupaten Cianjur lebih terfokus dalam pengelolaan KJA di Waduk Cirata berbeda dengan kedua wilayah lainnya yang memiliki waduk lain di wilayah administrasinya. Di Kabupaten Bandung Barat terdapat paguyuban kelompok- kelompok petani ikan yaitu ASPINDAC. ASPINDAC ini juga sering melakukan kegiatan pembinaan berupa tukar informasi diantara petani ikan dan melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian waduk.

Kelompok-kelompok yang mendapatkan pembinaan dari DKP Provinsi maupun Kabupaten yaitu POKMASWAS, kelompok pembudidaya ikan, kelompok nelayan, kelompok pengolah ikan, dan pedagang ikan. POKMASWAS bertindak mengawasi jalannya kegiatan perikanan. Namun kenyataannya peran dari kelompok ini masih kurang dirasakan. Kelompok penjual pakan memiliki pengaruh yang besar bagi petani ikan. Pakan yang dibayar diakhir setelah panen ikan dapat menjadi hutang apabila petani ikan tidak mampu membayarnya dan ketika hutang tersebut tidak kunjung dibayar maka KJA milik petani ikan dapat diambil atau dibongkar. Beberapa penjual pakan yang disebut gudang ini juga bertindak sebagai penampung hasil panen ikan dari para petani ikan. Terdapat kelompok Gabungan Pengusaha Pakan yang bernama GPMT. GPMT ini sering mengikuti kegiatan pelestarian waduk seperti pembersihan eceng gondok, pembersihan sampah, dan restoking ikan di Danau Cirata.

84

Dokumen terkait