SUMBER DAYA ALAM SUKU MENTAWAI DI CAGAR BIOSFER PULAU SIBERUT
5.3 Hasil dan Pembahasan 1 Identifikasi Stakeholders
5.3.3 Hubungan Antar Stakeholders
Teridentifikasi tiga hubungan yang terjadi antar stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan SDA di CBPS, yaitu potensi konflik (conflict), saling mengisi (complementary), dan bekerjasama (cooperation). Potensi konflik terjadi antara BTNS dan BKSDA Sumbar dengan masyarakat Siberut (Tabel 5.4). Konflik ini muncul karena perbedaan pengakuan hak kepemilikan. BTNS dan KSDA mengelola kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan negara, di lain pihak kawasan hutan tersebut juga diklaim oleh masyarakat sebagai hutan ulayat yang dimiliki oleh uma-uma.
Selanjutnya BTNS dan BKSDA dengan beberapa SKPD di Pemkab Kepulauan Mentawai. Konflik ini muncul karena perbedaan kepentingan. BTNS dan BKSDA mempunyai peran yang penting dan strategis bagi perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan SDA secara berkelanjutan. Kawasan TNS mempunyai fungsi strategis sebagai areal tangkapan air, daerah aliran sungai (DAS), hidrologi (sumber air), mengatur iklim mikro, penyerap karbon, tempat pendidikan, dan sebagai tempat wisata alam, sedangkan HSAW Teluk Saibi Sarabua menjadi perlindungan daratan dan perairan di Teluk Saibi Sarabua. Secara garis besar terdapat tiga tujuan pengelolaan kawasan konservasi, yaitu (1) perlindungan proses ekologis untuk menjamin fungsi dan perannya sebagai sistem penyangga kehidupan, (2) pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, dan (3) pemanfaatan secara lestari untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan yang berkelanjutan, khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi. Ketiga tujuan ini sesuai dengan UU No. 5/1990, sehingga dalam pengelolaan kawasan konservasi selalu memperhatikan dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial. SKPD mengelola SDA di daerahnya berdasarkan UU No. 32/2004. Terdapat anggapan bahwa semua SDA di daerah dapat dikelola oleh Pemkab, termasuk SDA yang berada di kawasan konservasi. Hal ini berdampak pada SDA di kawasan konservasi dipandang sebagai sumber daya potensial untuk dieksploitasi yang dapat menambah pemasukan ke pendapatan asli daerah (PAD). Kewenangan tersebut dianggap sebagai bagian dari kebebasan daerah yang otonom untuk
84
memperoleh PAD dari SDA yang ada, dan kadangkala tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang ditimbulkannya. Walaupun kedua belah pihak memperhatikan aspek ekonomi, tetapi pengelolaan kawasan konservasi lebih cenderung berorietasi pada aspek ekologi, sedangkan SKPD lebih berorietasi pada aspek ekonomi. BTNS seringkali dianggap beberapa pejabat Pemkab dan anggota DPRD sebagai penghambat pembangunan, karena melarang berbagai aktivitas pembangunan di Siberut, seperti pembangunan jalan raya dan pemukiman.
Tabel 5.4 Actor-linkage dalam pengelolaan sumber daya alam di Cagar Biosfer Pulau Siberut
Stake-
holdera Keterkaitan antar stakeholders b
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 1 - A,C A A,C C C C C C C C C C C C C C C A,C 2 A,C - B,C A,C A,C C C C C C C C C B,C C C C C C 3 A B,C - A,C A,C C C C C C C C C C C C C C C 4 A,C A,C A,C - C C C C A,C C A,C C C C C C C C C 5 C A,C A,C C - C C C - C C C C C C C C C C 6 C C C C C - C C - C C C C C C C C C C 7 C C C C C C - C - C C C C C C C C C C 8 C C - A,C C C C - B,C C C C C C C C C C A,C 9 C C C A,C - - - B,C - C C C C C C C C C A,C 10 C C C C C C C C C - C C C C C C C C C 11 C C C A,C C C C C C C - C C C C C C C C 12 C C C C C C C C C C C - C C C C C C C 13 C C C C C C C C C C C C - C C C C C C 14 C B,C C C C C C C C C C C C - C C C C C 15 C C C C C C C C C C C C C C - C C C C 16 C C C C C C C C C C C C C C C - C C C 17 C C C C C C C C C C C C C C C C - C C 18 C C C C C C C C C C C C C C C C C - C
19 A,C C C C C C C A,C A,C C C C C C C C C C -
a
Stakeholders 1: Masyarakat Suku Mentawai di Siberut, 2: BTNS, 3: BKSDA Sumatera Barat, 4: Dishutkab, 5: BAPPEDA Kab., 6: Disparbudkab, 7: Distankab, 8: YCM, 9: WALHI, 10: Kirekat, 11: IPMEN, 12: BPN, 13: FFI-I, 14: KN-MAB, 15: UNAND, 16: IPB, 17: UMSB, 18: Balitbanghut, 19: PT SSS. bKeterkaitan antar stakeholder A: conflict, B: complementary, C: cooperation.
Potensi konflik juga terlihat antara LSM yang berorientasi lingkungan/konservasi (seperti YCM, WALHI, IPMEN) dan masyarakat dengan SKPD (khususnya Dishutkab) dan PT. SSS. Konflik antara LSM dengan SKPD muncul biasanya ketika ada proses perizinan untuk memanfaatkan SDA dalam skala besar (seperti IUPHHK, IPK, perkebunan kelapa sawit, HTI). Kalangan LSM beranggapan bahwa pemanfaatan SDA, khususnya hutan banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat Mentawai. Begitupula konflik antara LSM tersebut dengan PT. SSS terkait dengan isu lingkungan dan distribusi manfaat yang tidak berimbang ke masyarakat lokal.
Hubungan saling mengisi dapat dilihat antara BTNS dan BKSDA. Ketiadaan petugas BKSDA di Siberut menyebabkan aktivitas peredaran tumbuhan dan satwa dilindungi di Pulau Siberut dilakukan oleh petugas BTNS, seperti beberapa kali
85 penangkapan pembawa satwa liar illegal di Pelabuhan Muara Padang berkat informasi dari petugas BTNS. Begitupula terlihat antara YCM dan WALHI. WALHI Sumbar merupakan kumpulan dari beberapa LSM lokal di Sumatera Barat, termasuk YCM, sehingga aliran informasi dapat mengalir di antara kedua organisasi dan pekerjaaan internal salah satu organisasi dapat diisi oleh yang lain.
Potensi kerjasama hampir dimiliki semua stakeholders. Kerjasama antar berbagai stakeholders telah terjalin di Siberut. Seperti ditunjukkan oleh kemitraan yang dibangun antara BTNS, UNESCO, YCM-M dengan dengan masyarakat lokal sejak tahun 1999. Namun, YCM-M keluar tidak lama setelah dari kemitraan berjalan. Visi kemitraan ini untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Pulau Siberut. Kemitraan ini sering disebut sebagai Co-manajemen di tingkat lapangan. Kemitraan ini berakhir pada tahun 2006 dan bertransformasi menjadi LSM Perkumpulan Siberut Hijau (PASIH). PASIH terus bermitra dengan BTNS dan berakhir pada tahun 2012. Berhentinya kerjasama ini dikarena permasalahan internal di tubuh organisasi PASIH. Menurut staf BTNS, proses kerjasama menuju kemitraan ini bukan proses instan, melainkan melalui proses konflik antar pihak. Negoisasi antara lembaga dilakukan, dan adanya kesamaan tujuan bahwa pelestarian SDA di Siberut mendesak untuk dilakukan membuat kemitraan bisa dilakukan.
Hubungan saling bekerjasama juga terlihat antara BTNS dengan KNMAB- Indonesia. KNMAB-Indonesia organisasi dari berbagai lembaga pemerintah yang diketuai oleh LIPI (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati) sebagai autoritas keilmuan di Indonesia, selanjutnya Ditjen KSDAE Kementerian LHK selaku wakil sebagai autoritas manajemen yang kawasannya sebagaian besar menjadi area inti cagar biosfer. Hubungan BTNS dengan KNMAB-Indonesia terjadi karena BTNS merupakan UPT dari Ditjen KSDAE (Kementerian LHK). Di tingkat lapangan, BTNS sering dianggap sebagai pengelolaan CBPS karena sampai saat ini struktur pengorganisasian CBPS belum terbentuk.
Beberapa stakeholders dari LSM menunjukkan kedekatan secara organisasional. Hal ini dapat terlihat bila suatu LSM berkegiatan, LSM mitra akan terlibat. Kedekatan ini juga akan terlihat jika muncul isu pengelolaan SDA yang dapat berdampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. LSM yang “sealiran” akan mengelompok membentuk suatu aliansi. Begitupula terdapat kedekatan antara LSM dengan BTNS, yang terlihat dari kehadiran LSM pada berbagai acara yang diselengarakan oleh BTNS, seperti diskusi atau seminar, sosialisasi kegiatan, dan pendampingan masyarakat. Kegiatan-kegiatan TNS-pun sering dihadiri oleh masyarakat dan SKPD Pemkab khususnya Dishut. Kedekatan beberapa LSM dengan BTNS awalnya bukan dibangun oleh organisasi BTNS, melainkan dibangun oleh beberapa individu yang memandang bahwa BTNS tidak dapat bekerja sendiri dalam upaya konservasi di Siberut. Kedekatan ini berdampak positif bagi organisasi BTNS.
Dari Tabel 5.3 terlihat kepentingan stakeholders atas SDA di CBPS secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kepentingan ekologi (konservasi) dan ekonomi (pembangunan). Selama ini, dua kepentingan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat berjalan selaras, padahal seharusnya antara kepentingan ekologis dan ekonomi dapat berjalan selaras untuk melestarikan SDA. Darusman dan Widada (2004) menyebutkan lima prinsip yang menegaskan sinergisitas antara kegiatan konservasi dan pembangunan ekonomi. Pada prinsip kedua
86
dinyatakan bahwa ekonomi merupakan landasan pembangunan konservasi yang berkelanjutan, tanpa adanya manfaat ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan dapat dipastikan program konservasi akan terhenti karena masyarakat tidak peduli. Begitupula dengan konsep cagar biosfer yang bertujuan untuk menyelaraskan antara kepentingan konservasi dan pembangunan (UNESCO 1996).
Potensi konflik antar stakeholders dalam pengelolaan SDA di CBPS bukanlah untuk dinihilkan. Melainkan untuk saling menguatkan. Stakeholders yang memiliki posisi lemah (crowd) bukan untuk dipinggirkan melainkan dikuatkan. Begitupula berbagai perbedaan perlu dicarikan penyelesaiannya (resolusi) agar mereka memperoleh manfaat yang lebih baik atas pengelolaan SDA di CBPS.
Banyaknya peluang bekerjasama antar stakeholders di CBPS menunjukan adanya peluang pengelolaan kolaboratif16. Pengelolaan kolaboratif ini dapat mencakup kepentingan banyak pihak, baik dalam tataran pemerintah, swasta, dan masyarakat dimana setiap entitas stakeholders berada dalam posisi yang setara. Walaupun demikian, Tadjudin (2000) menyebutkan bahwa pengelolaan kolaboratif bukanlah pendekatan yang mudah diterapkan dan efektif untuk semua kondisi dan keadaan. Untuk itu, perlu komitmen dari semua stakeholders yang terlibat untuk dapat mencapai pengelolaan kolaboratif di CBPS.