• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBER DAYA ALAM SUKU MENTAWAI DI CAGAR BIOSFER PULAU SIBERUT

5.3 Hasil dan Pembahasan 1 Identifikasi Stakeholders

5.3.2 Kategorisasi Stakeholders

Berdasarkan kategorisasi atas kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam pengelolaan SDA di CBPS dihasilkan empat kuadran (Gambar 5.1). Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam pengelolaan SDA di CBPS beserta nilainya disajikan pada Tabel 5.3 dan Lampiran 10. Stakeholders dalam kuadran- kuandran tersebut dijelaskan berikut. Posisi kuadran I (subject) ditempati oleh masyarakat Siberut, BKSDA Sumbar, WALHI Sumbar, KN MAB Indonesia, dan BAPPEDA Kab. Kep. Mentawai. Masyarakat Siberut memiliki kepentingan yang tinggi terhadap SDA yang ada CBPS, tetapi memiliki pengaruh yang kurang tinggi. Pengaruh yang kurang tinggi ini disebabkan oleh kekurang mampuan masyarakat dalam mempengaruhi pihak lain, memberikan kompensasi bagi perilaku yang baik, mengorganisasi anggota uma yang jauh sehingga masyarakat seringkali diposisikan sebagai obyek bagi pendatang. Kondisi ini serupa dengan hasil penelitian Roslinda et al. (2012) di Taman Nasional Danau Sentarum, Indonesia, bahwa masyarakat di sekitar kawasan taman nasional sering diposisikan sebagai objek pengelolaan kawasan. Kepentingan yang tinggi dari masyarakat terhadap SDA terutama berkenaan dengan fungsi ekosistem dari CBPS. Hal ini sesuai dengan pendapat BTNS (2010) bahwa masyarakat Siberut masih menggantungkan hidup dari hutan dan lingkungan di sekitar mereka.

BKSDA Sumbar mempunyai kepentingan yang tinggi di CBPS, karena kelestarian kawasan Teluk Saibi Sarabua merupakan tanggung jawabnya. Namun, pengaruh organisasi ini lemah karena tidak ada petugas yang berada, dan tidak ada aktivitas yang berkesinambungan di lapangan. Menurut petugas BKSDA Sumbar, kendala pengelolaan kawasan Teluk Saibi Sarabua adalah sulitnya aksesibilitas ke Pulau Siberut, terbatasnya personil dan dana, sedangkan kawasan yang dikelola oleh BKSDA banyak dan tersebar di seluruh Sumatera Barat. SKPD yang mempunyai kepentingan terhadap pelestarian SDA di CBPS adalah BAPPEDA Mentawai karena lembaga ini bertujuan untuk mendistribusikan kesejahteraan kepada setiap anggota masyarakat melalui perencanaan pembangunan di CBPS.

80

Gambar 5.1 Kategorisasi stakeholders di CBPS menurut kepentingan dan pengaruh

LSM dan organisasi nasional/internasional yang mempunyai kepentingan cukup tinggi dengan kelestarian ekosistem di CBPS, yaitu WALHI Sumbar, FFI-I, dan Komite Nasional MAB Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan beberapa organisasi tersebut pernah beraktivitas di CBPS dan sampai saat ini masih mengikuti setiap perkembangan pengelolaan SDA di CBPS. Khusus WALHI Sumbar, mempunyai kepentingan dengan lingkungan hidup yang baik di Pulau Siberut. Namun, WALHI tidak berdomisili di Pulau Siberut, sehingga pengaruh organisasi ini tidak terlalu tinggi. Walaupun demikian WALHI Sumbar mempunyai jaringan/hubungan yang erat dengan beberapa LSM lokal di Siberut teruma untuk melakukan kegiatan advokasi. Aktivitas yang dilakukan FFI-I menggambarkan adanya kepentingan lembaga internasional terhadap kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Pulau Siberut. Sebelumnya beberapa LSM internasional telah beraktivitas di Pulau Siberut seperti World Wide Fund (WWF) di era 1980 atau Conservasi Internasional Indonesia (CI-I) di tahun 2000-an. Selanjutnya, Komite Nasional MAB-Indonesia, sebagai wadah yang menaungi semua pengelolaan cagar biosfer di Indonesia. Kinerja Komite Nasional MAB- Indonesia ini sangat tergantung pada kondisi kawasan cagar biosfer. Komite ini dipantau oleh Jaringan Cagar Biosfer Dunia. Namun, pengaruh berbagai organisasi ini kurang kuat di lapangan karena aktivitas organisasi tersebut bersifat temporal di lapangan.

Subjects Key players

81 Tabel 5.3 Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam pengelolaan

sumber daya alam di Cagar Biosfer Pulau Siberut

Kepentingan stakeholders Nilai Pengaruh stakeholders Nilai

Masyarakat Siberut (Suku Mentawai) 23 YCM-M 18

Balai Taman Nasional Siberut (BTNS) 23 BTNS 16

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar

23 Dishutkab 15

Dinas Kehutanan Kabupaten (Dishutkab) 17 BAPPEDA Kab 13

Komite Nasional MAB Indonesia 15 IUPHHK PT. SSS 12

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Barat

15 FFI-I 12

Flora Fauna International Indonesia (FFI-I) 14 WALHI Sumbar 12 PT. Salaki Summa Sejahtera (IUPHHK-PT. SSS) 13 KN-MAB Indonesia 11.5 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah

(BAPPEDA) Kabupaten

12 Masyarakat Siberut 11

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten (Disparbudkab)

12 UNAND 11

Dinas Pertanian Kabupaten (Distankab) 12 IPPMEN 11

Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCM-M) 10 Distankab 10.5

Yayasan Kirekat 11 UMSB 10.5

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Mentawai (IPPMEN)

11 Disparbudkab 10

Universitas Andalas (UNAND) 10 Yayasan Kirekat 10

Universitas Muhamaddiyah Sumatera Barat (UMSB)

10 Balitbang Kemen LHK 10

Institut Pertanian Bogor (IPB) 10 BKSDA) Sumbar 9

Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Balitbang Kemen LHK)

10 BPN Kab. 7

Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab. Mentawai

5 IPB 5

Posisi kuadran II (key players) ditempati oleh kelompok yang paling kritis karena memiliki kepentingan dan pengaruh yang sama-sama tinggi, yakni BTNS dan Dishutkab. BTNS memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi berkenaan dengan otoritas dan tanggung jawabnya untuk mengelola kawasan (46.80% dari luas pulau) dan merealisasikan program kerja di kawasannya yang mencakup kegiatan perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan evaluasi. Keberadaan resor pengelola TNS di daerah pedalaman dan intensistas kerja yang cukup tinggi di Pulau Siberut membuat organisasi ini mempunyai pengaruh tinggi di masyarakat. Hal ini lazim ditemui pada setiap kegiatan pengelolaan SDA, pengelola yang mendapat kekuasaan secara legal selalu menempati posisi sebagai pemangku kepentingan utama (Sembiring et al. 2010; Maguire et al. 2012). Dishut Kab. Kep. Mentawai mempunyai kepentingan yang tinggi karena hampir sebahagian pulau (44.55% dari luas pulau) merupakan hutan produksi dan hutan produksi yang dikelola oleh Dishut. SKPD merupakan wakil pemerintah daerah yang memiliki otoritas pengembangan wilayah. Era otonomi daerah memberikan wewenang lebih besar pada setiap daerah dalam memanfaatkan potensi SDA dan

82

SDM untuk kepentingan daerahnya masing-masing, sehingga Dishut mempunyai pengaruh yang cukup tinggi, karena sering berkegiatan di Pulau Siberut terutama di sekitar desa/dusun areal kerja IUPHHK PT. SSS.

Posisi kuadran III (contex setter) ditempati oleh PT. SSS dan YCM-M. Stakeholders ini dapat mempengaruhi pengelolaan CBPS, karena memiliki pengaruh yang cukup tinggi. PT. SSS mempunyai kekuatan finansial untuk mempengaruhi stakeholders lain, dan kepentingan produksi kayu merupakan kepentingan utama stakeholders ini. YCM-M memiliki pengaruh tinggi karena sebagai LSM lokal mereka beraktivitas di Kepulauan Mentawai (termasuk Siberut) semenjak tahun 1997. Aktivitas YCM-M fokus pada penguatan organisasi masyarakat adat Mentawai sehingga mereka mampu terlibat dalam proses pengambilan kebijakkan, mengelola potensi, serta mampu mengelola berbagai sumber penghidupannya untuk meningkatkan kesejahteraan. Saat ini YCM-M mempunyai dua media massa yang menjadi kekuatan dan perpanjangan tangan mereka di lapangan, yaitu Koran “Pualigoubat” dan berita online “Mentawaikita.com” yang dapat menyebarkan informasi dan mengkritisi stakeholders lain. Pengaruh LSM lokal yang tinggi seperti ini dijumpai pula pada pengelolaan Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat, LSM yang selalu mendampingi masyarakat akan memiliki pengaruh yang tinggi di masyarakat (Roslinda et al. 2012).

Posisi pada kuadran IV (crowd) merupakan kelompok yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang rendah dalam pengelolaan SDA di CBPS. Terdapat sembilan stakeholders yang berada pada kuadran ini, yaitu Disparbud Kabupaten, Distan Kabupaten, BPN, Yayasan Kirekat, IPPMEN, UNAND, UMSB, Balitbang Kehutanan, dan IPB. Kesembilan stakeholder ini memberikan perhatian juga dalam pengelolaan SDA di CBPS, tetapi aktivitas yang mereka lakukan hanya bersifat temporal dan “keproyekan”.

Yayasan Kirekat mendapat dana dari Tropical Forest Conservation Action (TFCA Sumatera) untuk melakukan perlindungan dan pemulihan kawasan hutan terdegrasi dan rawan bencana di CBPS. Dalam melaksanakan kegiatannya, yayasan ini berkonsorsium dengan Pusat Penelitian Geografi Terapan Universitas Indonesia (PPGT-UI), PT. Global Green, Siberut Conservation Programme (SCP), dan Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Sumatera Barat. IPMEN merupakan perkumpulan dari pelajar dan mahasiswa Mentawai yang biasanya aktif berkegiatan atau “muncul” pada saat isu-isu tertentu, misal mengkritik kebijakan rencana pembukaan perkebunan sawit di Siberut. Selanjutnya, UNAND, UMSB, Balitbang Kehutanan, dan IPB berfokus pada kegiatan penelitian dan pendidikan sehingga keterlibatan dalam kegiatan pengelolaan belum begitu terasa kepentingan dan pengaruhnya. Hasil-hasil penelitian berupa rekomendasi terhadap pengelolaan SDA seringkali tidak terpakai, karena setelah seminar hasil penelitian dilakukan, seringkali rekomendasi tersebut terlupakan dan menjadi tumpukan laporan. IPB mempunyai peran khusus di Siberut, yakni sebagai pendamping pengelolaan hutan secara lestari (PHAPL) pada IUPHHK PT. SSS. Selain itu, IPB juga bekerjasama dengan Pusat Penelitian Primata Jerman (DPZ) dalam melakukan penelitian pada Siberut Conservation Program (SCP). Areal SCP ini berada di dalam areal PT. SSS yang dialokasikan sebagai areal Kawasan Perlindungan dan Pelestarian Plasmanutfah (KPPN) dan Kawasan Perlindungan Satwa Liar (KPSL). Saat ini, peran IPB

83 sebagai PHPAL di area IUPHHK PT. SSS sudah tidak berlanjut karena PT. SSS sudah bekerjasama dengan konsultan lain. Begitupula dengan kerjasama dengan SCP yang sudah tidak berlanjut, karena SCP sudah tidak melakukan aktivitas penelitian di Siberut. BPN menyelenggarakan tata ruang dan administrasi pertanahan di Indonesia di luar kawasan hutan negara. Tanah milik di CBPS sangat kecil sehingga tidak banyak dan dimiliki oleh uma-uma (komunal) sehingga belum banyak lahan yang disertifikatkan di Pulau Siberut. Walaupun demikian, BPN mendorong masyarakat untuk mencatatkan lahan pribadi untuk di sertifikatkan.

Kepentingan dan pengaruh stakeholders akan selalu berubah sesuai dengan dinamika berbagai parameter penyusunnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Reed et al. (2009) bahwa kepentingan dan pengaruh stakeholders dapat berubah sepanjang waktu, dan dampak perubahan tersebut perlu dijadikan pertimbangan bagi pengelola suatu kawasan. Sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan saat ini, pengelolaan suatu CBPS mutlak ditangani multi stakeholders yang dapat dibangun melalui suatu kemitraan.