SUKU MENTAWAI DI CAGAR BIOSFER PULAU SIBERUT
4. Hutan dan Bukit ( Leleu )
Masyarakat Mentawai di CBPS menyebut hutan dan daerah perbukitan yang berhutan sebagai leleu. Leleu dianggap masyarakat sebagai kawasan yang berbahaya dan menakutkan, karena menjadi tempat bersemayam roh-roh (taika leleu) yang bisa menyebabkan manusia celaka atau sakit dan adanya hewan berbisa. Oleh karena itu, orang datang atau melintasi hutan pasti ada tujuannya, misal untuk berburu, mengambil tumbuhan obat, mengambil kayu, rotan, atau gaharu, dan atau menuju perkampungan tertentu. Jadi hutan bukan tempat menetap dan berjalan-jalan bagi masyarakat Mentawai. Hal ini menjelaskan bahwa masyarakat Mentawai di CBPS bukan masyarakat yang bermukim di dalam hutan, seperti banyak digambarkan orang dari luar Mentawai bahwa masyarakat Siberut hidup di hutan.
Hutan juga menjadi pembatas antar permukiman di CBPS. Walaupun berbahaya, masyarakat akan melewati hutan untuk mengunjungi sanak saudara mereka di perkampungan lain guna menguatkan tali persaudaraan atau ada keperluan tertentu, misal menyelesaikan konflik lahan uma yang letaknya jauh dari di permukiman mereka. Melintasi hutan dipilih karena kadangkala lebih menyingkat waktu dan biaya dibandingkan bila melalui sungai berliku dengan menggunakan sampan/boat yang. Di sini hutan berperan sebagai penghubung antara dua permukiman.
Hutan-hutan di CBPS juga dimanfaatkan masyarakat untuk mengambil hasil hutan kayu dan bukan kayu. Kayu digunakan masyarakat untuk dijadikan papan sebagai bahan bangunan12 dan sampan. Kayu yang digunakan untuk membuat uma merupakan kayu-kayu yang berkualitas baik (kuat dan tahan air). Menurut masyarakat, kayu yang paling banyak digunakan membangun rumah (uma dan lalep), antara lain dari pohon meranti (Shorea sp.), keruing (Dipterocarpus sp.), dan uggla (biasanya digunakan sebagai tonggak rumah), tetapi untuk membuat sapou sainak tidak harus kayu yang berkualitas baik. Kayu yang banyak digunakan untuk membuat sampan adalah meranti dan keruing. Proses pembuatan sampan ini disebut pasikut abak, sedangkan proses penarikan sampan ke sungai disebut pasigirit abak.
Hasil survei di hutan di lokasi penelitian, ditemukan 56 jenis tumbuhan tingkat pohon yang 30 jenis diantaranya dapat digunakan sebagai bahan membuat bangunan (Lampiran 6). Lima jenis pohon dengan indeks nilai penting (INP) tertinggi di hutan sekitar desa lokasi penelitian disajikan pada Tabel 4.5, sedangkan keseluruhan INP tumbuhan tingkat pohon di lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 7-9.
Hasil hutan bukan kayu yang diramu masyarakat dari hutan, seperti gaharu, madu, tumbuhan obat, dan rotan. Gaharu atau simoitek dihasilkan dari pohon Aquilaria malaccensis. Secara tradisional simoitek tidak banyak mendapat
12
Di Siberut dikenal beberapa bangunan tempat tinggal (tradisional), yaitu uma berupa bangunan berbentuk rumah panggung dengan ukuran besar dan memanjang ke belakang. Uma dapat dihuni oleh beberapa keluarga yang bertalian darah. Lalep, rumah yang lebih kecil yang dibangun di sekitar uma. Lalep dihuni oleh satu keluarga. Rumah yang berada di permukiman (desa/dusun) biasanya juga disebut lalep. Sapou sainak, pondok di perladangan berbentuk panggung yang di bagian bawahnya digunakan untuk memelihara babi. Sapou sainak biasanya dihuni sementara ketika merawat tanaman dan ternak.
62
perhatian karena kayunya dianggap masyarakat kurang kuat untuk bahan bangunan dan sampan. Namun, awal tahun 1980-an simoitek mulai bernilai komersil di Mentawai karena banyaknya permintaan pasar dari luar pulau. Masyarakat secara masif mencari simoitek hingga ke pedalaman hutan. Saat ini, simoitek sulit dijumpai di hutan, karena penebangan di masa lalu. Simoitek masih dicari oleh masyarakat ketika ada keperluan ke hutan. Selain simoitek, masyarakat juga memanen madu (manih) dari hutan. Madu umumnya dikonsumsi sendiri, hanya di daerah Siberut Utara sebagian kecil madu yang di hutan dijual kepada pendatang. Tumbuhan obat juga diambil masyarakat di hutan, jika tidak tersedia di sekitar permukiman. Tumbuhan obat menjadi bagian penting dalam ritual pengobatan yang dilakukan Sikerei (ahli pengobatan).
Tabel 4.5 Lima jenis tumbuhan tingkat pohon dengan indeks nilai penting tertinggi di hutan sekitar desa di lokasi penelitian
Nama
lokal Nama ilmiah
Parametera (%)
Pemanfaatan
KR FR DR INP
Desa Saibi Samukop
Koka Dipterocarpus sp. 14.706 10.345 30.930 55.981 Papan, kayu bakar
Boklo Shorea sp. 11.765 13.793 23.472 49.030 Papan
Tapeiki Artocarpus lanceifolius 8.824 10.345 16.897 36.065 Papan, sandang Kapot
Leituak
Vitex sp. 8.824 10.345 2.718 21.886 Kayu bakar
Buluk Surak
Elaeocarpus obtusus 8.824 6.897 3.114 18.834 Papan
Desa Matotonan
Sikokkok - 4.167 4.545 24.493 33.206 Kayu bakar
Papat Garcinia sp. 12.500 9.091 8.400 29.991 Papan
Darubei - 8.333 9.091 3.223 20.648 Papan
Sitairak Quercus argentea 4.167 4.545 9.825 18.537 Papan
Kurau - 8.333 4.545 4.321 17.200 Papan
Desa Sagulubbek
Ribbu Eugenia cymosa 18.182 12.500 11.124 41.806 Papan
Ngalo patadekat
Knema laurina 6.818 7.500 8.838 23.156 Kayu bakar
Uru kulit Chrysophyllum roxburghii
6.818 7.500 6.727 21.045 Kayu bakar
Beliu Aporosa sp. 6.818 7.500 6.678 21.034 Papan
Logau Saba
Cannarium rufum 6.818 7.500 6.438 20.756 Kayu bakar
a
KR: Kerapatan Relatif, FR: Frekuensi Relatif, DR: Dominasi Relatif, INP: Indeks Nilai Penting.
Rotan merupakan produk hutan yang terkenal dari Pulau Siberut. Selain bernilai ekonomis, rotan secara tradisional juga dijadikan bahan pembuatan peralatan rumah tangga. Berbagai jenis rotan dan pemanfaatannya di Pulau Siberut disajikan pada Tabel 4.6. Dari semua jenis rotan tersebut, beberapa rotan menjadi komoditas unggulan dari Pulau Siberut, seperti Calamus manan, C.
63 Scipionum, C. Caesius, dan Daemonorops spp. Produksi rotan dari Kepulauan Mentawai khususnya dari Pulau Siberut mendominasi produksi rotan dari Sumatera Barat. Produksi rotan dari Pulau Siberut dapat dilihat pada Tabel 4.7. Selain bermanfaat secara ekonomi, beberapa jenis buah rotan menjadi makanan kesukaan beruk siberut (Macaca siberu). Beruk ini menjadi penyebar tumbuhan rotan secara alami pada berbagai ekosistem di Pulau Siberut.
Tabel 4.6 Jenis rotan dan manfaat di Pulau Siberut
Nama ilmiaha Nama lokal Manfaatb Calamus
tomentosus
Alimama Pengikat potongan batang sagu di sungai (totok-tok), pengikat perangkap babi (seserei), buah dijual
Calamus caesius Sasa Bahan pembuat tikar (jara’jak), pengikat potongan batang sagu di sungai, batang dan buah dijual
Calamus javensis Mandorou Pengikat dedaunan untuk atap, pengikat atap ke kayu kasau, pengikat sambungan kayu di rumah/pondok, bahan
pembuat keranjang (opa), tas, sangkar ayam (roiget) Calamus
lobianus
Lobai Daun digunakan sebagai pembungkus tepung sagu ketika dibakar untuk dijadikan makanan, karena makanan (kapurut) dianggap menjadi lebih harum
Calamus manan Bebeget Batang dijual Calamus
pogonacanthus
Tailalit Bahan pengikat
Calamus scipionum
Tabu-tabu Batang dijual
Calamus subspathulatus
Alimama Pengikat potongan batang sagu di sungai, perangkap babi, buah dijual
Calamus sp.1 Alibat Bahan pengikat
Calamus sp.2 Oilab Pengikat perangkap babi, perangkap ikan (lenggeu) Calamus sp.3 Sipakpak Pengikat potongan batang sagu di sungai bila tidak ada
rotan alimama, karena rotan ini dianggap kurang kuat Daemonorops
angustifolus
Manau Bahan pengikat
Daemonorops sabut
Ugai Bahan keranjang, batang dijual
Daemonorops sp. Taset Pengikat potongan batang sagu di sungai, buah dijual Korthalsia
wallihiafolia
Talungra Bahan pengikat
Korthalsia scorthechinii
Rangou Pengikat dedaunan untuk atap, bahan rangka tangguk (subba)
Licuala spinosa - Bahan pengikat
a
Diolah dari laporan kegiatan Balai TNS, bHasil wawancara penelitian.
Selain tumbuhan, satwa dari hutan juga dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti konsumsi, dijual, dan dipelihara. Hasil pengamatan satwa di jalur pengamatan dijumpai sebanyak 10 jenis satwa yang terdiri atas 7 jenis burung, 2 jenis primata, dan 1 jenis ulat (Tabel 4.8). Beberapa jenis ulat dikonsumsi dan sangat digemari masyarakat, seperti ulat batang sagu (tamra) dan
64
ulat pohon keruing (tutube). Beberapa jenis burung diburu dan dijual masyarakat ke pendatang karena harganya yang cukup mahal. Burung dan harga jualnya disajikan pada Tabel 4.9.
Tabel 4.7 Produksi rotan dari Pulau Siberut
Tahun Manauf (potong)h Rotan laing (kg)
1975-1976a 482 111 - 1976-1977b 1 088 269 - 1977-1978 b 695 754 97 750 1978-1979 b 488 168 65 390 1979-1980 b 856 963 128 140 1981-1982 b 450 000 175 000 1982-1983 b 315 800 173 000 2002c 1 836 000 - 2007d - 16 627 2008 d - 19 276 2009 d - 250 700 2010 e 154 534 700 2011 e 407 840 13 500 2012 e 87 023 181 087 a
WWF (1980); bMitchel (1982); cAnggraini dan Suhandi (2002); dDinas Kehutanan Provinsi Sumbar (2011); eDinas Kehutanan Kab. Kep. Mentawai (2013); fRotan berbatang besar (seperti: Calamus manan, C. Scipionum, C. Caesius); gRotan berbatang kecil (seperti Daemonorops spp.);
h
Ukuran panjang 3 meter.
Tabel 4.8 Satwa yang dijumpai dalam transek di lokasi penelitian
Nama lokal Nama ilmiah Kelas Umur Jumlah
individu Pemanfaatan Tua Dewasa Anak
Desa Saibi Samukop
Lemendeu Treron vernans - - - 1 Dikonsumsi
Tapporaok Oriolus chinensis sipora - - - 1 Dipelihara
Tutube - - - - 6 Dikonsumsi
Desa Matotonan
Joja Presbytis potenziani 2 2 1 5 Dikonsumsi
Bilou Hylobates klossii - 2 - 2 Dikonsumsi
Mayang Ciconia episcopus - - - 1 -
Desa Sagulubbek
Ratdat akek Copsychus malabaricus - - - 1 Dijual
Kailaba Anthracoceros albirostris - - - 1 Dikonsumsi
Satsat Antreptes malacensis - - - 2 Dipelihara
65 Tabel 4.9 Burung bernilai komersil di Pulau Siberut
Nama Harga per
ekora (Rp) Keterangan
Indonesia Ilmiah Lokal
Beo Gracula religiosa Mainong 300 000 Anakan
Murai batu Copsychus malabaricus Ratdat akek 250 000 Anakan
Murai kampung Copsychus saularis pagiensis Lut cabai 50 000 Anakan
a
Harga di tingkat pengumpul di pedesaan di Siberut.
Hutan juga dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi berburu. Berburu (murou-rou) satwa di hutan bukan hanya sekedar untuk memperoleh protein hewani, lebih dari itu perburuan terkait dengan ritual adat, seperti penutup acara pesta pendirian uma (punen uma). Hasil buruan juga menjadi simbol kebanggaan suatu uma. Tengkorak hewan buruan digantung di dinding bagian depan uma, bersama dengan tengkorak hewan ternak (babi, sapi, kerbau). Uma yang mempunyai tengkorak hewan buruan yang banyak dianggap sebagai ahli berburu, begitupula yang mempunyai banyak tengkorak hewan ternak dianggap kaya. Bagi masyarakat yang bermukim di pesisir pantai, selain hewan buruan dan hewan ternak tersebut, hewan laut juga mempunyai nilai kebanggaan. Satwa utama yang diburu di hutan, yaitu primata13, rusa, dan babi liar, sedangkan di laut yaitu penyu dan dugong. Munazar (2004) dan BTNS (2010), menyatakan bahwa masyarakat Siberut menggantungkan hidup dari hasil ladang dan hutan.