• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

2.1 Karakteristik Biofisik Pulau Siberut

Pulau Siberut beriklim khatulistiwa yang panas dan lembab dengan curah hujan yang tinggi dan tidak ada musim kemarau yang berkepanjangan. Rata-rata curah hujan per tahun sekitar 3 320 mm. Curah hujan paling lebat turun pada bulan April hingga Oktober, sedangkan bulan-bulan yang relatif kering pada Februari hingga Juni. Suhu dan kelembaban relatif konstan dengan kelembaban berkisar antara 81-85 %, sementara rata-rata suhu minimum dan maksimumnya adalah 22ºC dan 31ºC tiap harinya.

Pulau Siberut merupakan pulau sedimen yang didominasi oleh serpihan, endapan dan marmer berumur relatif muda. Terdapat beberapa daerah kecil yang terdiri atas konglomerasi pra-Miocene yang mengandung lapisan karang tipis (sista), kwarsa dan sedikit karang kapur yang mungkin terbentuk pada masa Miocene, serta beberapa batuan vulkanis yang bersebaran yang mungkin berasal dari ledakan gunung api di Sumatera pada masa Meiocene. Sebagian besar dari bentukan geologis muncul pada masa Pliocene, Pleistocene dan Holocen.

Topografi Pulau Siberut dicirikan mendatar hingga berbukit dengan puncak tertinggi 384 mdpl (meter di atas permukaan laut). Perbukitan tersebut memiliki variasi kemiringan lereng mulai dari kemiringan 25% hingga melebihi 75%. Daerah dataran umumnya berada pada kemiringan lereng 0-15% dengan ketinggian mulai dari 0-50 m.

Sistem pola aliran di Pulau Siberut menunjukkan sistem pola aliran yang komplek, umumnya membentuk pola aliran paralel sampai sub-trellis. Hal ini diakibatkan karena kondisi medan yang non-resisten, sehingga seringkali terjadi erosi yang menyebabkan perkembangan bentang lahan (landscape) yang terpotong-potong dan tidak rata dengan sungai dan aliran air, serta kondisi kawasan yang berbukit-bukit. Sistem pola aliran sungai di Pulau Siberut yang sangat rumit menyebabkan proses regenerasi hutan sangat lambat. Peranan hutan menjadi sangat penting mengingat fungsinya sebagai pengontrol hidrologi seluruh pulau. Ditinjau dari batuan dasar pembentuk tanah Pulau Siberut, umumnya berfraksi halus/debu atau berbentuk lempungan, mudah tererosi dan sifat infiltrasinya cenderung rendah. Bukti adanya erosi yang kuat terlihat dari kondisi air sungai yang menjadi keruh akibat adanya pengupasan pada lapisan atas tanah khususnya lapisan humus atau rombakan organik. Infiltrasi yang rendah terlihat dari respon aliran sungai yang kuat terhadap presipitasi. Pada saat terjadi hujan, air sungai akan cepat naik. Hal ini disebabkan air hujan tidak sempat meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir menjadi air limpasan permukaan (run off), tetapi akan cepat turun beberapa saat setelah hujan berakhir.

Di Pulau Siberut banyak mengalir sungai-sungai yang menjadi sumber air minum, mencuci, dan media transportasi bagi masyarakat. Sungai, lokasi, dan luasan daerah aliran sungainya (DAS) disajikan pada Tabel 2.1. Hampir semua

16

semua hulu sungai besar ini berasal dari area inti CBPS (kawasan TNS). Sementara itu, sumber daya air dalam bentuk danau (danau gopgip) hanya terdapat di Siberut Barat Daya seluas 200 ha.

Tabel 2.1 Sungai, lokasi, dan luasan daerah aliran sungai (DAS) di Pulau Siberuta

Nama sungai Lokasi

(kecamatan) Luas DAS (ha) Nama sungai

Lokasi (kecamatan)

Luas DAS

(ha)

Buga Siberut Selatan 7 068 Cimpungan Siberut Utara 13 153 Tomiang Siberut Selatan 1 501 Siberut Selatan 4 998 Kalea Siberut Selatan 15 993 Simatalu Siberut Utara 35 547 Laplap Siberut Selatan 1 469 Siberut Selatan 6 059 Mabosoa Siberut Selatan 3 383 Gurukna Siberut Utara 3 190 Maileppet Siberut Selatan 1 197 Labuhan

Bajau

Siberut Utara 3 535

Makatowal Siberut Selatan 841 Murak Siberut Utara 7 396 Makerumonga Siberut Selatan 971 Puran Siberut Utara 1 274 Mangeungeu Siberut Selatan 6 180 Saibi Siberut Utara 2 158 Mapinang Siberut Selatan 3 287 Sigapokna Siberut Utara 1 265 Noinan Siberut Selatan 24 988 Sigep Siberut Utara 25 765 Pulau Masokut Siberut Selatan 1 661 Sikabaluan Siberut Utara 30 963 Putapiri Siberut Selatan 532 Sikamomui Siberut Utara 6 430 Sagulubek Siberut Selatan 14 332 Simalegi Siberut Utara 27 217 Saibi Siberut Selatan 19 647 Sirilogui Siberut Utara 5 389 Sarabua Siberut Selatan 5 673 Takungan Siberut Utara 13 526 Siberut Siberut Selatan 49 821 Tiniti Siberut Utara 3 281 Silotok Siberut Selatan 1 060 Tobekat Siberut Utara 10 553 Siribakbak Siberut Selatan 9 606

a

BPDAS Agam Kuantan (2011).

Dari aspek ekologi, ekosistem Pulau Siberut dari pantai Timur ke pantai Barat sangat berbeda (Gambar 2.2). Di bagian pantai timur memiliki garis pantai yang tidak beraturan dan terdapat banyak kelompok hutan mangrove, muara sungai yang lebar, dan terumbu karang. Sedangkan, di pantai barat yang menghadap Samudera Indonesia memiliki kelompok hutan baringtonia, pantai yang lurus dengan tebing-tebingnya yang tinggi. Secara umum terdapat lima ekosistem daratan yang terdapat di Pulau Siberut, yaitu hutan dipterocarp primer, hutan campuran, hutan rawa, hutan mangrove dan hutan baringtonia. Di lingkungan perairan juga terdapat beberapa ekosistem, yaitu terumbu karang, padang lamun, dan estuarin.

17

Gambar 2.2 Transek Pulau Siberut (Meyers 2003)

PHKA (1995) menyebutkan bahwa hutan-hutan di CBPS dikelompokkan dalam tujuh tipe ekosistem, yaitu: (1) hutan primer Dipterocarpaceae. Hutan ini berada di daerah tinggi dan berbukit-bukit. Tinggi kanopi hutan umumnya sekitar 40-50 m dengan tinggi pohon sekitar dapat mencapai 50 m. Jenis pohon yang dominan, yakni Dipterocarpus spp., Shorea spp., Vatica spp., dan Hopea spp, selain itu dapat ditemukan juga Palaquium sp. (Sapotaceae) dan Hydnocarpus sp.; (2) hutan primer campuran. Dijumpai pada lereng dan bukit yang lebih rendah di bawah hutan primer Dipterocarpaceae. Banyak jenis pohon terwakili tapi tidak ada yang dominan. Famili yang umum dijumpai, yakni Euphorbiaceae, Myristicaceae, Dilleniaceae, Dipterocarpaceae, dan Fabaceae; (3) hutan Dipterocarpaceae regenerasi bekas tebangan. Hutan tipe ini merupakan hutan bekas tebangan dari beberapa perusahaan kayu yang pernah beroperasi di CBPS. Beberapa daerah didominasi oleh tumbuhan pioneer, seperti Macaranga spp., Trema spp., dan Neolamarkis spp.; (4) hutan rawa air tawar. Pada tipe hutan ini tumbuhan tingkat pohonnya terbatas dan khusus, sering didominasi oleh Terminalia phellocarpa. Banyak terdapat di lembah dan di sekitar aliran sungai. Lahan basah dan paling luas berada di pantai timur. Tumbuhan didominasi oleh palem, rotan, pandan dan aroid; (5) hutan mangrove. Hutan ini dijumpai sepanjang garis pantai dan di pulau-pulau di pantai timur. Secara umum Rhizophora merupakan genus utama dan tersebar luas pada kelompok mangrove di Pulau Siberut; (6) hutan rawa sagu. Hutan ini banyak terdapat di lembah- lembah dan daerah yang tergenang; dan (7) hutan pantai. Hutan tipe ini dapat dijumpai sepanjang pantai barat Pulau Siberut. Jenis yang umum dijumpai, antara lain Casuarina equsetifolia, Baringtonia sp., Hibiscus tiliaceus, dan Pandanus sp.

Di dalam ekosistem-ekosistem tersebut terdapat berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Hasil kompilasi jenis tumbuhan dari beberapa dokumen selama penelitian, tercatat 1 460 jenis tumbuhan dari 160 famili. Hasil ini lebih banyak dari hasil Penelitian Biologi LIPI tahun 1995 yang mencatat sekitar 846 jenis dari 131 famili. PHKA (1995) memperkirakan 15% tumbuhan di Pulau Siberut merupakan jenis endemik, antara lain Mesua cathairinae (Clusiaceae), Diospyros brevicalyx (Ebenaceae), Aporusa quadrilocuralis (Euphorbiaceae), Baccaurea dulcis (Euphorbiaceae), Drypetes subsymemetrica (Euphorbiaceace), Horsfieldia macrothyrsa (Myristicaceace). Selain tumbuhan, terdapat pula berbagai jenis satwa di pulau ini. Mamalia sebanyak 38 jenis yang 53% di antaranya bersifat

18

endemik pada tingkat genus, jenis, dan subjenis. Di antara mamalia tersebut, kelompok primata menjadi perhatian utama karena bersifat endemik 100% untuk Pulau Siberut. Primata yang menjadi flagship tersebut, yaitu bilou (Hylobates klosii), bokkoi (Macaca siberu), joja (Presbitys potenziani), dan simakobu (Simias concolor). Selain itu, terdapat 173 jenis burung, 77 jenis herpetofauna, 120 jenis serangga, dan 32 jenis ikan air tawar (Nopiansyah et al. 2016).

Berdasarkan karakteristik pulau-pulau yang ada di Indonesia, Pulau Siberut dikategorikan sebagai ekosistem pulau kecil menurut kategori Kementerian Kelautan dan Perikanan, yaitu:

1. Pulau yang ukuran luasnya kurang atau sama dengan 10 000 km2, dengan jumlah penduduknya kurang atau sama dengan 200 000 orang. Pulau Siberut memiliki luas 4 030 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 37 416 jiwa.

2. Secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas, dan terpencil dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular. Secara ekologis, Pulau Siberut telah terpisah dari Pulau Sumatera sebagai pulau induk selama lima ratus ribu tahun yang lalu, memiliki batas fisik yang jelas, dan bersifat insular karena terisolasi dari habitat pulau induk. 3. Mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal

dan bernilai tinggi. Pulau Siberut memiliki keanekaragaman jenis yang bersifat endemik dan empat jenis primatanya menjadi jenis flagship.

4. Daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut. Pulau Siberut memiliki daerah tangkapan air yang relatif kecil akibat jenis tanahnya yang sebagian besar bertekstur liat. Sebagian besar air hujan langsung menjadi aliran air permukaan (run off) yang bersama dengan sedimen masuk ke laut.

5. Sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pulau-pulau kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya. Masyarakat Mentawai memiliki kekhasan sosial dan budaya yakni hidup dalam kelompok sosial berbasiskan pada uma. Uma merupakan satuan sosial maupun politik di masyarakat Mentawai yang egaliter. Secara ekonomi masyarakat masih tergantung dari perladangan (pumonean) dan hutan (leleu).