• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.12. Identifikasi Isu Permasalahan Danau Rawa Pening untuk

4.12.1. Masalah Ekologi dan Fisik

Tatanan ekosistem Danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang kini sudah terancam oleh ketidakseimbangan ekologis, antara lain disebabkan:

a. Sedimentasi

Kondisi Danau Rawa Pening mengkhawatirkan karena terjadi masalah ekologi dan fisik seperti sedimentasi. Sedimentasi merupakan konsekuensi dari perairan yang bersifat lentik. Sedimentasi tersebut tentu saja dapat mengancam keseimbangan ekologis di Danau Rawa Pening. Sedimentasi yang terjadi dapat disebabkan oleh 2 sumber yakni sumber allochtonous dan autochtonous. Sumber allochtonous meliputi materi-materi yang terbawa sungai-sungai yang bermuara di Rawa Pening, erosi dari hulu, serta kegiatan penduduk di sekitar danau. Sumber autochtonous yaitu berasal dari perairan itu sendiri seperti pembusukan gulma air dalam hal ini eceng gondok dan alga yang mati sesudah terjadinya blooming alga.

Sedimentasi terjadi akibat akumulasi perlakuan masyarakat pada daerah tangkapan dan erosi pada tebing serta gejala agregasi muara sungai yang terjadi serta adanya pembuangan limbah diluar kendali oleh masyarakat di sekitar Danau Rawa Pening. Permasalahan di daerah hulu disebabkan antara lain oleh tingginya erosi karena pesatnya pembangunan yang tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap kerusakan lahan dan besarnya aliran permukaan, penambangan batu secara liar dibeberapa lokasi yang kelerengannya cukup tinggi, penebangan kayu dan hutan

sehingga menyebabkan tanah gundul, fungsi lindung di hulu menjadi hunian dan sawah intensif, intensifikasi usahatani yang kurang memperhatikan kaidah konservasi (seperti tegalan/kebun berada pada kelerengan >15%) dan pola tanam di beberapa daerah yang belum mengacu pada pelestarian lingkungan. Sebagian besar bukit memiliki kelerengan tanah cukup tinggi pada topografi dengan kelerengan 25% akan mempercepat laju run off dan akan memperbanyak sedimentasi (Sutrisno 2003).

Banyaknya sungai yang masuk ke Rawa Pening dengan membawa sedimen merupakan sebab utama besarnya sedimentasi. Bahan sedimen yang masuk ke Danau Rawa Pening diperkirakan mencapai 880 kg/hari (musim penghujan) dan 270 kg/hari (musim kemarau). Ketebalan sedimen di Rawa Pening tahun 1970 telah mencapai 7 m (Suwondo 2007). Sedimentasi tergolong tinggi berasal dari Sungai Legi dan Sungai Parat (Tabel 10). Hal tersebut bisa mempercepat sedimentasi di daerah hilir dan menipiskan cadangan air tanah dan daya tampung, serta mengancam keberadaan Danau Rawa Pening.

Tabel 10. Laju erosi dan sedimentasi sembilan anak sungai Danau Rawa Pening Sungai Luas (ha) Laju Erosi (ton/tahun) Potensi Sedimentasi (ton/tahun)

Legi 931,50 405,23 215,58 Parat 3.744,00 381,27 164,71 Galeh 6.121,00 303,75 116,03 Torong 2.687,00 115,75 54,16 Panjang 4.893,24 73,37 29,13 Straten 2.822,26 290,49 133,92 Kedungringin 918,00 76,47 41,75 Rengas 1.751,00 29,15 14,49 Muncul 1.211,00 17,84 9,15 Total 778,93

Sumber: Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Tengah (2008)

b. Pencemaran perairan

Kualitas air Danau Rawa Pening terus menurun disebakan karena masuknya polutan dari pertanian sisa pupuk, pestisida, limbah domestik yang dibawa dari sungai-sungai yang bermuara ke Danau Rawa Pening, dan sisa pakan ikan dari keramba jaring apung. Kegiatan yang berpotensial terjadinya pencemaran yaitu pemanfaatan tanah disekeliling Danau Rawa Pening sebagai lahan pertanian pasang surut yang juga mempengaruhi pola operasional dan penyebab tampungan air tidak optimal. Limbah pertanian merupakan air yang berasal dari aliran permukaan (run off) maupun sisa air irigasi yang mengalir ke dalam sungai. Pola tanam yang salah dengan menggunakan pupuk secara berlebihan, akan dapat meningkatkan kendungan

organik dalam air larian (run off), sehingga menyebabkan terjadinya eutrofikasi (penyuburan) di daerah tangkapan di bawahnya, sehingga memicu terjadinya pertumbuhan secara cepat bagi jenis flora dan fauna yang peka terhadap perubahan tersebut. Seperti halnya yang terjadi di DAS Rawa Pening yang memiliki tingkat erosi lahan disekitar hulu cukup tinggi, maka akan mengangkut berbagai unsur hara yang menyebabkan pencemaran perairan di Danau Rawa Pening. Contohnya saja kandungan unsur nitrit yang melebihi ambang batas baku mutu kelas II di aliran sungai Galeh yang merupakan hulu Danau Rawa Pening (Lampiran 9), mengindikasikan adanya peningkatan unsur hara dalam air sungai tersebut, yang berpotensial menyebabkan terjadinya eutrofikasi di Danau Rawa Pening.

Kegiatan wisata di sekitar Danau Rawa Pening juga berpotensi menimbulkan pencemaran karena tempat sampah yang jumlahnya terbatas dapat meningkatkan kemungkinan wisatawan untuk membuang sampah sembarangan sehingga berpotensial terjadinya pencemaran. Hal tersebut sudah terlihat dari banyaknya sampah-sampah yang ditemukan di tepian danau dan di area wisata seperti bekas makanan dan botol-botol bekas minuman. Begitupun dengan budidaya ikan di karamba, dengan jumlah KJA sebanyak 609 petak yang masing-masing petak berisi 2000 ekor. Pakan ikan menurut petani keramba diberikan dua kali sehari dengan jumlah pakan yang diberikan 1-5 kg per karamba sekali pemberian pakan. Makanan ikan tersebut tentu saja tidak semuanya dikonsumsi oleh ikan karena ada sebagian yang langsung tenggelam waktu diberikan ataupun tenggelam karena jumlahnya terlalu banyak sehingga tidak dikonsumsi. Hal tersebut tentu saja berkontribusi terhadap peningkatan kesuburan perairan, mengingat pellet yang digunakan mengandung gizi tinggi.

c. Tumbuhan air

Peningkatan unsur hara di bagian hulu DAS Rawa Pening tentu akan memberikan dampak terhadap peledakan populasi gulma (eceng gondok) di perairan. Dengan adanya eutrofikasi pada DAS Rawa Pening tersebut, maka laju pertumbuhan populasi eceng gondok meningkat pesat sampai dengan 20% per bulan (pada umumnya laju pertumbuhan berkisar antara 7-10% per bulan). Eceng gondok yang dimasukkan ke Indonesia (dari Amerika) pada tahun 1984 sebagai tumbuhan hias telah berkembang menjadi masalah besar karena telah menutupi permukaan Rawa Pening sampai ±30% dari luas genangan dengan kenaikan populasi dapat mencapai 2 kali dalam 10-15 hari dan ±7,1% per tahun. Tanpa adanya upaya pengendalian gulma

tersebut, maka setiap bulan luas permukaan air Rawa Pening akan berkurang seluas ±460 ha setiap bulannya (BLH 2008).

Eceng gondok dimanfaatkan untuk bahan dasar kerajinan dan sebagai tempat perkembangbiakan ikan dan burung. Di lain pihak juga membawa dampak negatif seperti mempercepat laju sedimentasi, menurunkan konsentrasi oksigen, menghambat saluran irigasi, merusak panorama Danau Rawa Pening yang berakibat terganggunya pengembangan pariwisata, menyulitkan pengoperasian alat tangkap, mengganggu transportasi air dan saluran untuk membangkitkan tenaga listrik. Sisa eceng gondok yang tidak dimanfaatkan yaitu bagian daun dan akar sebagian besar dibuang ke danau pada saat panen, sehingga proporsi eceng gondok yang tidak dimanfaatkan cukup besar sehingga juga dapat meningkatkan sedimentasi ke dalam perairan. Menurut Harahap (2003), suhu ideal untuk pertumbuhan eceng gondok berkisar antara 280-

300 C dengan derajat keasaman (pH) antara 4-12.

4.12.2. Permasalahan sumberdaya manusia

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat sekitar tentu saja mempengaruhi pengelolaan Danau Rawa Pening yang multifungsi ini. Sumberdaya manusia seperti petani dan nelayan masih dirasakan kurang. Contohnya petani lahan pasang surut di tepian danau yang pengetahuan mengenai pola tanam yang baik masih rendah sehingga hal ini mempengaruhi simpanan air danau secara optimal. Selain itu juga pengetahuan nelayan dan petani keramba mengenai teknologi yang digunakan dalam penangkapan ikan dan pemberian pakan ikan yang efektif masih rendah. Permasalahan sumberdaya manusia tersebut tentu saja berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Selain itu, kadang masyarakat yang ingin memancing juga menyelinap masuk tanpa mau dikenakan tiket masuk, sehingga dapat merugikan pihak pengelola wisata.

4.12.3. Permasalahan pengelolaan

Permasalahan pengelolaan di Danau Rawa Pening terkait dengan kelemahan dalam pengambilan keputusan dan penegakan peraturan dari pengelola instansi- instansi yang terkait. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Danau Rawa Pening seperti belum teraturnya peruntukan lahan untuk budidaya perikanan air tawar, belum adanya peraturan pembatasan musim penangkapan agar ekosistem perikanan tetap berjalan seimbang, banyaknya bangunan liar yang dibangun masyarakat di

sekitar danau. Permasalahan pengelolaan yang terjadi disebabkan koordinasi kegiatan antar berbagai sektor atau instansi yang terkait dirasakan masih kurang. Jumlah keramba jaring apung di Danau Rawa Pening juga semakin banyak hal tersebut karena petani keramba yang mengelola keramba tidak dibebani pajak atau dipungut biaya dari pemerintah. Hal tersebut dikarenakan perijinan yang dilakukan kepada Bupati Semarang melalui Dinas Peternakan dan Perikanan seperti yang diatur dalam Perda No.25/2001 belum berjalan dengan baik. Pengelolaan yang belum optimal tersebut tentu saja akan mempengaruhi Danau Rawa Pening sebagai objek wisata.

4.13. Peluang Objek Wisata Danau Rawa Pening untuk Pengembangan Wisata