• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi larutan yang masih dapat digunakan

Dalam dokumen Teknik Kimia (Halaman 185-189)

3-94 Pembuangan Limbah yang Tidak Berbahaya

Bagian 5: LARUTAN STANDAR DAN PEREAKS

D. Identifikasi larutan yang masih dapat digunakan

Guna mengidentifikasi bahan kimia atau larutan bahan kimia apakah masih bisa digunakan atau telah kadaluarsa tidak terlepas dari sifat-sifat bahan tersebut. Sifat-sifat bahan kimia antara lain: beracun, korosif, iritatif, mudah terbakar, mudah meledak, mudah rusak karena terkontaminasi, dan peka terhadap pengaruh lingkungan. Sebagai contoh untuk bahan kimia yang

mudah terbakar, seperti CS2, aseton, metanol, etanol, dan lain-lain.

Beberapa zat tertentu dapat terbakar karena kontak langsung dengan

udara (O2) dapat terbakar dengan sendirinya, misal: fosfor kuning, BH3, alkil

logam, terutama alkil-alkil rantai pendek dan logam-logam yang ringan.

Dari segi mudahnya terbakar, cairan organik dibagi menjadi tiga kelas seperti pada Tabel 3 berikut.

Tabel 5.3.Zat yang mudah terbakar

Mudah terbakar pada suhu -4oC -4 s/d 21oC 21s/d 93,5oC  CS2, C2H5OC2H5  C6H6, C3H3COCH3  C2H5OH  CH3OH  Kerosin  Terpentin  C10H8  Minyak bakar

Bahan kimia seperti di atas tidak boleh disimpan di dekat benda-benda yang menimbulkan panas (oven, kompor listrik, kompor gas, gas elpiji, minyak tanah, dan sebagainya).

Beberapa bahan kimia tertentu dapat menimbulkan api/ledakan jika

tercampur, misal: zat-zat organik dengan O2, logam ringan dengan alkil

halogen, kertas dengan asam sulfat pekat, kayu, kain dengan asam nitrat pekat, dan lain-lain. Bahan-bahan seperti itu harus tersimpan jauh satu sama lain agar tak menimbulkan bahaya.

Tabel 5.4.Bahan-bahan kimia yang penyimpanannya tak boleh dicampur

Bahan Tak boleh dicampur dengan

a.Logam alkali (Li, Na, K) CCl4, CO2, air

b.Mg dan serbuk Al CCl4, RX, X2, dan CO2

c.CH3COOH HNO3, peroksida, KMnO4, CH2OH,

Guna memberikan ketahanan yang cukup lama, bahan kimia sebaiknya disimpan dengan cara seperti pada Tabel 5.

Tabel 5.5.Penyimpanan bahan kimia

Padatan Cairan/larutan Gas

 Disimpan di

tempat kering dalam botol yang bermulut lebar.

 Tutup rapat dan

mudah dibuka, sebaiknya pakai aliran.

 Disimpan di dalam botol

yang bermulut sempit (agar jika tumpah tidak cepat habis)

 Disimpan di dalam tangki

yang dilengkapi stop kran, pressure regulator (pengukur tekanan).

 Tutup pengaman atau

segel bila masih baru

Harus diberi etiket yang jelas, tidak mudah luntur, dan tidak mudah lepas

II.

LATIHAN PEMECAHAN MASALAH

Tahap pertama pada analisis volumetri adalah pembuatan larutan baku. Zat murni ditimbang dengan teliti, kemudian dilarutkan dalam labu ukur sampai volume tertentu dengan tepat. Penimbangan dengan neraca analitik, yang mempunyai ketelitian sampai 0,1 mg. konsentrasi larutan dihitung melalui perhitungan-perhitungan secara stoikiometri. Coba anda selesaikan beberapa soal latihan berikut.

1. Jelaskan perbedaan antara molaritas dan normalitas serta berikan

contohnya!

2. Hitunglah molaritas dan normalitas larutan yang diperoleh dengan jalan

melarutkan 0,6621 gram asam oksalat murni (H2C2O4.2H2O; MR = 126,1)

dalam air hingga volumenya 100 mL!

3. Larutan NaOH sebagai baku sekunder distandarisasi dengan standar

primer kalium hidrogen phtalat (KHP). 0, 8016 gram dilarutkan dalam air dan dititrasi dengan 43,10 mL larutan NaOH. Berapakah molaritas dan

normalitas larutan NaOH? MR KHP = 204,2.

4. Sebutkan bahan-bahan kimia yang bersifat korosif, mudah terbakar, dan

peka terhadap pengaruh lingkungan. Bagaimana kira-kira cara untuk memperlakukannya?

5-8

III.RANGKUMAN

Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam penyiapan larutan, antara lain tujuan penggunaannya, konsentrasi yang diinginkan, dan fase dari zat yang digunakan apakah apakah zat padat atau cairan pekatnya. Terkait tujuan penggunaan, apakah larutan tersebut termasuk larutan yang sering digunakan, atau larutan yang hanya sekali-kali saja diperlukan dengan jumlah sedikit, seperti indikator. Demikian juga penentuan konsentrasinya, apakah untuk keperluan pembakuan larutan atau pereaksi biasa. Larutan yang digunakan untuk keperluan analisa seperti dalam titrasi, hendaknya dibuat seteliti mungkin. Ketelitian yang dibutuhkan sampai 0,1%. Disamping ketelitian dalam melakukan penimbangan dan melarutkan, hendaknya juga diperlihatkan bahwa zat yang digunakan harus mempunyai kemurnian yang cukup, seperti untuk keperluan pembuatan larutan standar, terutama standar primer. Hal lain, terkait apakah suatu larutan masih bisa digunakan atau telah kadaluarsa, tidak terlepas dari sifat-sifat bahan tersebut. Sifat-sifat itu antara lain: beracun, korosif, mudah terbakar, atau mudah meledak. Hal ini berhubungan dengan proses penyimpanannya.

IV.

TUGAS

1. Disediakan zat padat NaOH. Coba anda tuliskan langkah-langkah

pembuatan larutan NaOH dengan konsentrasi 0,1 N sebanyak 0,50 liter. Larutan NaOH termasuk dalam golongan larutan baku sekunder. Coba anda jelaskan bagaimana cara mengetahui konsentrasinya secara pasti! (Cara pembakuan larutannya).

2. Hitunglah berapa mL HCl pekat (12 N) harus diencerkan untuk

memperoleh 1 liter larutan 0,10 N, dan bagaimana prosedur pengencerannya?

3. Kerapatan suatu larutan asam sulfat adalah 1,08 mg/mL dan

mengandung 9,80% SO3 (MR = 80.07). Hitunglah normalitas dan molaritas

larutan ini!

V.

SOAL-SOAL

1. Hitunglah molaritas dan normalitas larutan yang diperoleh dengan

jalan melarutkan 0,6621 gram asam oksalat murni (H2C2O4.2H2O; MR =

126,1) dalam air hingga volumenya 100 mL!

VI.

KUNCI JAWABAN

1. 0,052 M ; 0,026 N

2. 17,5 g

VII.

REFERENSI

Christian, G.D. 1994. Analytical Chemistry. New York: John Wiley & sons.

Tim Kimia Analitik. 1981. Dasar-dasar Kimia Analitik Kwantitatip. Bandung:

Departemen Kimia ITB Bandung.

Tim Kimia Analitik. 2004. Common Text Book: Kimia Analitik I. Malang: JICA-

UM

Proyek Balai Pendidikan Guru Tertulis. 1977. Ilmu Pengetahuan Alam.

6-1

Bagian 6:

PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING)

1. Deskripsi Isi:

Bagian 6 mengenai Pengambilan Sampel (Sampling) yang membahas tentang dasar pengambilan dan penanganan sampel untuk menyiapkan sampel yang representatif; identifikasi kebutuhan alat dan bahan dalam mengambil sampel gas; pengaturan tempat untuk menyimpan sampel berdasarkan sifat sampel; penyiapan sample air sungai; dan identifikasi pengawetan sampel yang ditunda.

2. Kompetensi:

Menguasai konsep dasar pada dasar-dasar pengambilan dan penanganan sampel; persiapan pengambilan sampel; sampling; pengelolaan sampel di laboratorium; penyiapan sampel untuk analisis; dan pengawetan sampel yang ditunda analisisnya.

3. Tujuan:

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkanmampu menguasai konsep dasar pada dasar-dasar pengambilan dan penanganan sampel; persiapan pengambilan sampel; sampling; pengelolaan sampel di laboratorium; penyiapan sampel untuk analisis; dan pengawetan sampel yang ditunda analisisnya.

I.

URAIAN SINGKAT

Dalam dokumen Teknik Kimia (Halaman 185-189)