BAB IV IDEOLOGI PENGARANG DALAM NOVEL KITAB OMONG
4.1 Ideologi Pengarang
4.1.2 Ideologi Pengarang Mengenai Kaum Pinggiran
Keberpihakan Seno kepada kaum yang selama ini dipandang sebelah mata, yakni mereka yang tidak pernah dicatat bahkan cenderung disepelekan, diabaikan dan dipinggirkan, sangat mendominasi keseluruhan novel. Keberpihakan pengarang secara implisit terlihat ketika dalam beberapa bagian novel pengarang sering mengangkat cerita-cerita lama yang banyak menceritakan nasib kaum terpinggirkan itu (Widijanto, 2007: 25). Satya dan Maneka merupakan dua tokoh yang mewakili kaum terpinggirkan yang dibela Seno. Maneka adalah seorang bekas pelacur yang berusaha mengubah nasibnya dengan mencari Walmiki. Maneka ingin agar garis kehidupannya dituliskan berbeda. Dia ingin mempertanyakan jalan hidupnya yang menderita akibat rajah kuda di punggungnya. Maneka ingin keluar dari cerita yang telah ditulis Walmiki dan menentukan ceritanya sendiri. Sementara Satya adalah pemuda lugu yang menjadi korban Persembahan Kuda. Keluarga dan hartanya lenyap seketika diterjang ganasnya Persembahan Kuda yang memporakporandakan kampungnya.
Tokoh pinggiran, sekecil apa pun mereka, selalu dibutuhkan kehadirannya. Mereka jugalah yang menentukan jalannya kekuasaan. Seno memiliki ketertarikan tersendiri pada kaum kecil dan terpinggirkan. Dalam
KOK justru orang yang terpinggirkanlah yang menjadi penentu jalannya cerita. Bahkan, mereka diberi tanggung jawab besar. Satya dan Maneka, sebagai rakyat biasa, menjalani takdirnya untuk mencari Kitab Omong
90
Kosong dan mengembalikan peradaban yang telah hancur lebur akibat Persembahan Kuda. Seno (dalam Ajidarma, 2002:159) mengatakan bahwa tokoh-tokoh pinggiran ini selalu diperlukan
Kehadiran Satya dan Maneka dalam KOK memberi warna berbeda dalam alur cerita Ramayana. Satya dan Maneka adalah dua orang anak muda dari golongan rakyat biasa yang menjadi tokoh utama di cerita ini. Melalui Satya dan Maneka, Seno banyak mengungkapkan keberpihakannya pada kaum terpinggirkan. Kaum kecil dan terpinggirkan pun bisa ambil bagian dalam kisah yang luar biasa ini, bahkan menjadi tokoh utama yang menentukan jalan cerita. Dengan kepiawaiannya bercerita, Seno membuat tokoh Satya dan Maneka yang semula tak berarti menjadi penentu jalannya cerita. Maneka dan Satya diberi tanggung jawab besar untuk menemukan Kitab Omong Kosong dan mengembalikan peradaban yang hancur akibat Persembahan Kuda. Kutipan berikut memperlihatkan bagaimana Satya dan Maneka memperoleh peta yang menunjukkan letak Kitab Omong Kosong.
(161)Satya tak sempat berbuat apa-apa ketika panah bersiut menembus angin dan menancap seketika di kerai pedati. Penunggang kuda ya ng tampaknya seorang petugas pos itu berbelok ke barat, sambil berteriak, “Tolong teruskan ke selatan.” Satya turun memerikasa panah itu. Ternyata ada gulungan suratnya. (Ajidarma, 2004: 193)
(162)Ketika gulungan surat itu dibuka, ternyata merupakan sebuah peta. (Ajidarma, 2004: 194)
Keberpihakan Seno kepada kaum kecil dan terpinggirkan juga ditampilkan melalui tokoh Hanoman dan Walmiki. Dalam Kitab KOK,
Walmiki ditampilkan sebagai salah seorang tokoh sekaligus penulis
Ramayana. Hanoman sebagai pemegang Kitab Omong Kosong mempercayakan kitab tersebut kepada Satya dan Maneka yang termasuk dalam kaum terpinggirkan. Hanoman juga tampil sebagai penyelamat saat Maneka ditawan oleh bandit-bandit Gurun Thar. Kutipan berikut memperlihatkan bagaimana Hanoman menolo ng Maneka saat dia hampir dijadikan korban persembahan oleh para bandit Gurun Thar.
(163) Tetapi derita yang paling kelam pun memiliki cahayanya sendiri, membuka mata Sang Hanoman dari tapanya yang panjang. Dengan segera Sang Hanoman membaca cahaya itu, dan matanya mendadak menjadi beringas, merah menyala-nyala, pertanda kemarahannya langsung naik ke puncak. Mega-mega di atas Gunung Kendalisada yang berarak tenang terbakar menyala-nyala. Sang Hanoman melayang- layang bahana murka. Ia melesat ke Gurun Thar. (Ajidarma 2004, 313-314)
(164)Sang Hanoman datan dari angkasa tepat pada waktunya. Pisau melengkung itu sudah terayun menuju punggung Maneka. Tiba-tiba pemegang pisau itu menjerit ketika pergelangan tangannya terasa panas, ternyata dipegang oleh tangan berbulu putih. Hanoman berdiri tegak di sana, memegang tangan seorang bandit yang terkulai lemas. Dengan ringan diputar-putarnya tubuh bandit itu, dan dilemparkannya ke arah gerombolan biadab yang tidak menyadari siapa berada di hadapan mereka. Hanoman menga mbil Maneka, menyandangkannya ke punggung, sementara gerombolan itu maju mengepungnya di puncak bukit itu. Mereka melepaskan pisau terbang mereka, Hanoman cukup menibaskan tangan untuk menepiskannya. (Ajidarma, 2004: 314) (165)Bumi menjadi sunyi dan senyap. Hanya angin semilir bertiup perlahan. Hanoman membawa Maneka ke tepi sungai, merawatnya di sana. Dibasuhnya wajahnya. Dibersihkannya darah di seluruh tubuhnya. Diciptakannya sari baru yang langsung menggulung tubuh Maneka. Debu-debu sirna dan ketika Maneka membuka mata ia merasa seperti baru pulang dari sebuah perjalanan yang panjang. (Ajidarma, 2004:315)
92
Dalam pandangan Seno, rakyat kecil pun berhak menuntut haknya. Tidak selamanya rakyat kecil hanya menerima segala perlakuan dari penguasa. Seno (dalam Ajidarma, 2002:145) mengatakan bahwa kursi kekuasaan, seperti yang ditulis banyak orang, adalah tempat yang paling sepi di dunia. Seseorang yang jatuh dari kursi kekuasaan akan lebih tahu makna: betapa ia ternyata lahir dan mati sendiri, tanpa orang-orang di sekitarnya.
Berdasarkan analisis ideologi pengarang mengenai kaum pinggiran, dapat disimpulkan ideologi Seno dalam menyikapi masalah kaum pinggiran dalam KOK.
Dalam KOK, kaum pinggiran atau rakyat kecil adalah kaum yang paling merasakan imbas dari setiap kebijakan. Rakyat kecil seringkali menjadi korban atas setiap kebijakan yang diambil oleh para penguasa. Dalam ideologi Seno, kaum pinggiran pun berhak menyuarakan aspirasinya atas setiap kebijakan yang dibuat oleh penguasa. Kaum pinggiran paling mudah dilupakan keberadaannya dan mereka cenderung dianggap tidak penting, padahal justru dari merekalah segala hal penting berasal. Dalam ideologi Seno, kaum pinggiran harus mampu bangkit dari keterpurukannya. Seringkali usaha kaum pinggiran untuk mengubah hidupnya terjebak pada keterbatasan, tetapi dalam ideologi Seno, kaum terpinggirkan ini harus mampu mencari jalan untuk mengangkat harkat dan martabatnya.