Iklim komunikasi organisasi adalah gabungan dari persepsi-persepsi mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respon pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik-konflik antar personal, dan kesempatan bagi pertumbuhan organisasi. Variabel yang digunakan dalam mengukur kualitas iklim komunikasi organisasi dalam unit usaha kecil dan menengah dibagi menjadi 5, yaitu tingkat kepercayaan, tingkat keterbukaan, hubungan dengan atasan, proses pengambilan keputusan, dan komitmen pada organisasi. Akan tetapi kemudian dari penelurusan di lapangan, proses pengambilan keputusan tidak dapat menjadi tolak ukur karena dari 2 unit usaha yang diteliti tidak memiliki waktu tetap untuk rapat, briefing, maupun kegiatan proses pengambilan keputusan lainnya. Oleh sebab itu hanya 4 variabel yang kemudian diukur dalam penelitian ini untuk mengukur kualitas iklim komunikasi. Berikut persentase pekerja dilihat dari konsep iklim komunikasi organisasi.
Tabel 12 Jumlah dan persentase pekerja unit usaha menurut iklim komunikasi
Hasil lapang di atas dapat dilihat bahwa tingkat kepercayaan antar pekerja mayoritas menunjukkan katergori sedang, hubungan dengan atasan terlihat memiliki kualitas yang baik dengan persentase tertinggi, tingkat keterbukaan menunjukkan tingkat sedang dengan skor kategori sedang menunjukkan persentase tertinggi, dan komitmen pada organisasi memperlihatkan kondisi sedang cenderung tinggi dengan persentase tertinggi ditunjukkan oleh komitmen yang tinggi dan sedang. Lebih jauh mengenai hasil tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut. Variabel Iklim Komunikasi Organisasi Kategori Jumlah Responden (Orang) %
Tingkat kepercayaan Tinggi 5 16.1
Sedang 17 54.8 Rendah 9 29.1 Total 100.0 Hubungan dengan atasan Baik 15 48.5 Sedang 13 41.9 Buruk Total 3 9.6 100.0
Tingkat keterbukaan Tinggi 2 6.4
Sedang 19 61.3 Rendah Total 10 32.3 100.0 Komitmen pada organisasi Tinggi 13 42.0 Sedang 13 42.0 Rendah Total 5 16.1 100.0
Tingkat Kepercayaan
Kepercayaan dalam unit usaha kecil sedikit banyak memiliki andil paling besar dalam iklim komunikasi organisasi. Karakteristik pola-pola komunikasi yang unik memperlihatkan bahwa kepercayaan menjadi basis dari setiap interaksi yang terjadi. Memang agaknya setiap pekerja memiliki tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.
Dogson (1960) menyatakan bahwa dimensi trust adalah “actor’s expectation
of other party’s competence, goodwill, and behavior”. Hal ini menjelaskan bahwa kepercayaan sebuah dimensi yang mengukur ekspektasi seseorang terhadap orang lain dalam hal kompetensi, niat baik, hingga perilaku orang tersebut. Dalam kuesioner pertanyaan yang ditujukan merupakan interpretasi konkrit sehari-hari dari interaksi yang dialami oleh para pekerja. Seperti ekspektasi kompetensi yang ditujukan dengan pertanyaan-pertanyaan bahwa apakah sesama pekerja mempercayakan pekerjaannya apabila dilakukan oleh orang lain. Pertanyaan lain dalam dimensi kepercayaan juga merupakan contoh di lapangan sehari-hari dari interaksi yang dialami oleh pekerja dalam hal niat baik (goodwill) dan perilaku. Contohnya dalam kepercayaan seorang aktor (pekerja) dengan informasi yang diberikan oleh pekerja lain, atau ekspektasi niat baik yang ditujukan dengan kepercayaan untuk meminjamkan barang atau uang. Hal ini dimaksudkan semakin percaya (dengan ditunjukannya skor yang tinggi) maka tingkat ekspektasi pekerja tersebut pada kompetensi, niat baik, dan perilaku orang lain semakin baik. Tabel 13 menjelaskan iklim komunikasi organisasi berdasarkan tingkat kepercayaan di CV. Barokah dan Unit Usaha Siti
Tabel 13 Jumlah dan persentase pekerja CV. Barokah dan Unit Usaha Siti menurut tingkat kepercayaan
Tingkat kepercayaan
CV. Barokah Unit Usaha Siti Total Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Tinggi 3 16.6 2 15.4 5 16.1 Sedang 10 55.7 7 53.8 17 54.8 Rendah 5 27.7 4 30.8 9 29.1 Total 18 100.0 13 100.0 31 100.0
Tabel 13 menunjukkan bahwa keseluruhan pekerja dari dua unit usaha memiliki tingkat kepercayaan sedang dengan persentase tertinggi sebesar 54.8 persen. tingkat kepercayaan yang tinggi dari keseluruhan pekerja menunjukkan angka 16.1 persen, dan pekerja dengan tingkat kepercayaan rendah menunjukkan angka 29.1 persen. Kondisi di lapangan juga dapet menyimpulkan beberapa hal yang unik terjadi di kalangan pekerja. Pekerja dengan lama bekerja yang lama dan pengalaman yang tinggi memiliki kepercayaan yang kurang terhadap kompetensi pekerja lain sehingga memengaruhi penilaian kepercayaan secara keseluruhan.
“.... kan semua pekerja punya bagiannya. Saya sudah bekerja disini
lebih dari 30 tahun. Ya kalau yang kerja baru berapa tahun saja dapat melakukan kerjaan saya ya silahkan. Tapi biasanya tidak dapat
sebagus yang saya kerjakan. Jadi lebih baik kerja masing-masing
saja.” (SPT, 60 tahun)
Belief perseverance, ketetapan konsepsi awal seseorang ketika dasar kepercayaan seseorang. Dalam eksperimen yang dilakukan Ross dan Anderson (1982) kepercayaan terbangun dengan landasan. Apabila kepercayaan tersebut sempat terusak, masih terdapat 75 persen kepercayaan baru kepada orang tersebut. Hal ini dikarenakan partisipan masih menyimpan penjelsan yang ditanamkan dalam kepercayaan mereka terdahulu. Oleh sebab itu Contoh di lapangan yang dapat diperoleh dilapang dengan mengetahui tingat kepercayaan antar pekerja baik melalui pertukaran informasi maupun ekspektasi perilaku untuk meminjamkan barang atau uang dapat menjelaskan kondisi kepercayaan dalam atmosfir unit usaha.Seperti dalam unit usaha CV. Barokah yang telah berdiri sejak lama dan didominasi oleh pekerja senior, kepercayaan yang terbangun atas indikator goodwill dan behaviour telah cukup kuat. Akan tetapi semakin senior, ekspektasi akan kompetensi semakin kecil.
Hubungan antar pekerja dengan atasan
Hubungan antar pekerja dan atasan adalah kualitas hubungan pekerja dengan atasan yang dalam studi ini merupakan pemilik utama unit usaha. Kualitas hubungan pekerja dengan atasan hasil lapang berbeda-beda dibagi menjadi baik, sedang, dan buruk yang ditandai dengan tinggi-rendah nya skor. Kualitas tersebut memiliki pengaruh unik dari lama bekerja, kekerabatan, maupun kompetensi yang dimiliki. Berikut tabel 14 yang berisi penjelasan iklim komunikasi organisasi berdasarkan hubungan antar pekerja dengan atasan di CV. Barokah dan Unit Usaha Siti.
Tabel 14 Jumlah dan persentase pekerja CV. Barokah dan Unit Usaha Siti menurut kualitas hubungan pekerja dengan atasan
Hasil tabel 14 menunjukkan bahwa hubungan atasan dengan pekerja dari kedua unit usaha memiliki kecenderungan baik dengan persentase tertinggi sebesar 48.5 persen. Dapat dilihat kecenderungan tersebut dipengaruhi oleh banyaknya persentase pekerja di CV. Barokah yang memiliki hubungan baik dengan pemilik usaha. Angka kecenderungan hubungan dengan atasan sedang sebesar 41.9 persen, dan sebesar 9.6 persen memperlihatkan kualitas hubungan yang buruk dengan pemilik usaha. Persentase pekerja yang memiliki hubungan baik dengan pemilik usaha CV. Barokah memiliki kecenderungan mayoritas dengan angka persentase 61.2 persen. Hal ini dapat disebabkan karena lamanya Hubungan
dengan atasan
CV. Barokah Unit Usaha Siti Total Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Baik 11 61.2 4 30.8 15 48.5 Sedang 6 33.3 7 53.8 13 41.9 Buruk 1 5.5 2 15.4 3 9.6 Total 18 100.0 13 100.0 31 100.0
unit usaha ini telah berdiri, dan mayoritas pekerja di unit usaha CV. Barokah merupakan pekerja senior yang telah mengabdi puluhan tahun.
Berbeda dengan persentasi Unit Usaha Siti yang menunjukan kecenderungan sedang dalam hubungan dengan pemilik usaha ditandai dengan persentase sebesar 53.8 persen. fenomena ini dapat dijelaskan pula dengan adanya pengaruh-pengaruh eksternal seperti kepemimpinan, dan lama bekerja dengan pemilik usaha. Berikut penjelasan salah satu pekerja mengenai kontrol dalam kepemimpinan Unit Usaha Siti.
“… ibu jarang mengetahui apa-apa dari kegiatan produksi dan penjualan. Bahkan yang hafal expired date dari barang-barang di toko untuk di retur saya. Ibu sudah memberikan tanggung jawab untuk mengawasi.” (ART, γγ tahun)
Tingkat Keterbukaan
Keterbukaan atau openness merupakan keinginan seseorang untuk membuka dirinya dan mendekatkan diri kepada orang lain dengan memberikan informasi tentang dirinya sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tingkat keterbukaan dibagi menjadi tiga kondisi yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kelas tersebut dibagi berdasarkan skor tertinggi dan terendah hasil lapang. Iklim komunikasi organisasi pada kedua unit usaha yaitu CV. Barokah dan Unit Usaha Siti berdasarkan tingkat keterbukaan dapat dijelaskan dalam tabel berikut.
Tabel 15 Jumlah dan persentase pekerja CV. Barokah dan Unit Usaha Siti menurut tingkat keterbukaan
Tingkat keterbukaan berbeda-beda dilihat dari bagaimana interaksi yang dilakukan antar pekerja berkaitan dengan penyampaian informasi, opini, kritik, maupun masalah yang sedang terjadi antar kedua belah pihak. Dalam hasil tabel dapat dilihat bahwa kecenderungan tingkat keterbukaan pekerja dengan pekerja lain adalah sedang dengan angka persentasi 61.3 persen. Selanjutnya kecenderungan pekerja dengan tingkat keterbukaan yang rendah sebesar 32.3 persen, dan kecenderungan pekerja dengan tingkat keterbukaan yang tinggi hanya sebesar 6.4 persen atau sekitar 2 pekerja saja. Hal ini dapat dijelaskan hasil lapang yang memiliki kekerabatan yang erat antar pekerja, sehingga terkadang keterbukaan akan penyampaian opini, kritik, atau penyelesaian masalah agak kecil. Kebanyakan dari pekerja tidak mau menyampaikan kritik karena sudah merupakan bagian dari budaya untuk menghormati satu sama lain. Berikut Tingkat
keterbukaan
CV. Barokah Unit Usaha Siti Total
Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Tinggi 1 5.6 1 7.7 2 6.4 Sedang 11 61.1 8 61.6 19 61.3 Rendah 6 33.3 4 30.7 10 32.3 Total 18 100.0 13 100.0 31 100.0
penjelasan salah satu pekerja mengenai keterbukaan dalam menyelesaikan masalah sesama pekerja.
“.... disini sebenarnya sudah seperti saudara semua. Ga pernah ada
masalah. Kalaupun ada masalah sama teman-teman ya diam saja besoknya juga lupa. Kalaupun ada yang tersinggung atau apa. diamkan
saja disini jarang bla’-bla’ an.” (SMN, 45 tahun)
Komitmen pada organisasi
Komitmen pada organisasi dijelaskan oleh Griffin dan Bateman (1986) senagai keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi, keyakinan dan penerimaan nilai-nilai tujuan organisasi, dan ketersediaan untuk bekerja keras atas nama organisasi. Dalam penelitian ini, komitmen pada organisasi dibagi menjadi 3 penilaian yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kategori tersebut dinilai berdasarkan skor tertinggi dan terendah hasil lapang, yang kemudian dibagi menjadi 3 kelas. Berikut tabel yang menjelaskan kondisi komitmen pada organisasi di kedua lokasi penelitian.
Tabel 16 Jumlah dan persentase pekerja pada organisasi CV. Barokah dan Unit Usaha Siti menurut komitmen pada organisasi
Komitmen pada organisasi
CV. Barokah Unit Usaha Siti Total Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Jumlah (orang) % Tinggi 10 55.5 3 23.1 13 42.0 Sedang 6 33.4 7 53.8 13 42.0 Rendah 2 11.1 3 23.1 5 16.1 Total 18 100.00 13 100.0 31 100.0
Tabel 16 menunjukkan bahwa kecenderungan komitmen pada organisasi memiliki kecenderungan sedang hingga tinggi. Hal ini ditandai dengan persentase tertinggi sebesar 42.0 persen pada pekerja yang memiliki komitmen tinggi dan sedang pada masing-masing unit usaha tempat ia bekerja. Selanjutnya sekitar 16.1 persen atau 5 pekerja saja yang memiliki komitmen rendah kepada tempat ia bekerja. Jika ditelisik lebih jauh, pekerja yang memiliki komitmen rendah kepada unit usaha adalah perkerja yang baru saja bergabung dengan unit usaha, maupun pekerja yang mengabdi kurang dari 5 tahun. Di samping itu dari kedua lokasi usaha, terlihat bahwa komitmen pekerja di CV. Barokah mayoritas tinggi dan pada Unit Usaha Siti kecenderungan komitmen pekerjanya sedang. Hal ini dapat dijelaskan dari sejarah CV. Barokah yang telah berdiri lebih dari 30 tahun, sehingga banyak pekerja senior yang bekerja sejak berdirinya unit usaha ini. Tentu saja hal tersebut menjelaskan pengaruh unik dari lama bekerja dengan komitmen yang dimiliki. Sedangkan dalam Unit Usaha Siti kebanyakan pekerjanya memiliki kecenderungan komitmen sedang dengan pengalaman mengabdi pada unit usaha yang berkisar di bawah 10 tahun. Berikut penjelasan salah satu pekerja senior mengenai pandangannya dalam pekerjaan.
“.... saya kerja disini dari gadis sampai sudah punya cucu. Jadi kerja disini
sudah kaya usaha milik sendiri. Kalau ga kerja seminggu saja kangen.” (KRM, 54 tahun)