• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Agenda Prioritas NAWACITA 2015-2019

PROGRAM DAN KEGIATAN

4.2. Implementasi Agenda Prioritas NAWACITA 2015-2019

NAWACITA sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2015-2019 mengamanatkan Kementerian Pertanian untuk berkewajiban dan bertanggungjawab terhadap pencapaian sasaran pokok sub agenda prioritas peningkatan kedaulatan pangan dan peningkatan agroindustri tahun 2015-2019. Adapun implementasi agenda prioritas tersebut dikelompokkan kedalam sasaran per kegiatan seperti disajikan pada tabel 17 berikut ini.

Tabel 17. Implementasi Agenda Prioritas NAWACITA Kementerian Pertanian tahun 2015-2019.

NO. KEGIATAN PRIORITAS PENANGGUNGJAWAB

1. Perluasan 1 juta hektar lahan sawah baru - Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Ditjen. Tanaman Pangan

2. Perluasan areal pertanian lahan kering 1 juta hektar di luar Jawa

Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan

3. Rehabilitasi 3 juta hektar jaringan irigasi yang rusak - Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Ditjen. Tanaman Pangan

4. Pembangunan pasar pertanian Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

5. Penyediaan kapal pengangkut ternak Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan

6. Pengendalian konversi lahan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian

7. Pemulihan kualitas kesuburan lahan yang airnya tercemar

- Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Badan Litbang Pertanian

8. Pengembangan 1.000 Desa Mandiri Benih dan terintegrasinya dengan SL-Kedaulatan Pangan

- Ditjen. Tanaman Pangan - Badan Litbang Pertanian

9. Pembangunan gudang dengan fasilitas pengolahan pasca panen di tiap sentra produksi

Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

10. Bank Pertanian, asuransi pertanian dan UMKM - Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Sekretariat Jenderal

11. Peningkatan kemampuan petani melalui pengembangan 100 Agro Techno Park dan 34 Agro Science Park di 34 Provinsi

- Badan Litbang Pertanian - BPPSDMP

180 | P a g e

12. Pengendalian impor pangan - Sekretariat Jenderal - Ditjen terkait komoditas

perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan - Lintas sektoral

13. Reforma agraria 9 juta hektar - Sekretariat Jenderal - Ditjen. Prasarana dan Sarana

Pertanian

- Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan - Lintas sektoral

14. Pengembangan 1.000 Desa Pertanian Organik Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan

15. Pengembangan areal pertanian melalui pemanfaatan lahan bekas tambang

- Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan - Lintas sektoral

16. Peningkatan Kemampuan Petani, Organisasi Petani dan Pola Hubungan Pemerintah

BPPSDMP

17. Pelibatan Perempuan Petani/Pekerjasebagai tulang punggung kedaulatan pangan

BPPSDMP

18. Penciptaan Daya Tarik Pertanian bagi Tenaga Kerja Muda

BPPSDMP

19. Pengembangan Inovasi Teknologi melalui Kerjasama Swasta, Pemerintah dan Perguruan Tinggi

Badan Litbang Pertanian

20. Peningkatan Akses dan Aset Petani melalui distribusi _a katas tanah Petani dan Land Reform dan Program Penguasaan Lahan terutama bagi petani gurem dan buruh tani

- Sekretariat Jenderal - Ditjen. Prasarana dan Sarana

Pertanian

21. Pengembangan food estatedi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimatan Timur dan Kepulauan Aru

Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan

22. Pengembangan Kelapa Sawit di Wilayah Perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimatan Timur

Ditjen. Perkebunan

23. Pengembangan Tebu dan Pembangunan Pabrik Gula di luar Jawa (Sulawesi, NTB dan lainnya)

Ditjen. Perkebunan

24. Pengembangan sumber air Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

25. Peningkatan produksi dan ketersediaan beras, jagung, kedelai, tebu, cabai dan bawang merah

Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan

26. Rehabilitasi 25 bendungan/waduk hingga tahun 2019 - Ditjen. Prasarana dan Sarana Pertanian

- Lintas sektoral

27. Integrasi Tanaman dengan Ternak Sapi

Di Lahan Perkebunan Kelapa Sawit, Tanaman Pangan dan di Kawasan Hutan

- Ditjen terkait komoditas perkebunan, tanaman pangan, hortikultura dan peternakan - Lintas sektor

181 | P a g e

Dari Agenda Prioritas NAWACITA sebagaimana tercantum pada tabel 18 yang dijabarkan lebih lanjut kedalam kegiatan prioritas dimana Ditjen. Perkebunan mendapat amanat untuk melaksanakan kegiatan prioritas tahun 2015-2019 sebagai berikut:

1. Pengembangan 150 desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan

Sasaran kegiatan prioritas ini adalah tercapainya 150 desa pertanian pertanian organik berbasis komoditas perkebunan yang berhasil tersertifikasi sampai dengan tahun 2019 oleh Lembaga Sertifikasi Organik yang terakreditasi. Berdasarkan hal tersebut, mulai tahun 2016, Ditjen. Perkebunan memprioritaskan kegiatan desa organik ini pada tahap awal dengan melakukan pembinaan pada kelompok tani tentang bagaimana melakukan budidaya tanaman perkebunan organik sampai dengan fasilitasi sertifikasi organik berbasis kelompok tani pada lahan perkebunan tertentu.

Adapun ruang lingkup kegiatan pengembangan pertanian organik berbasis komoditas perkebunan adalah:

• Penerapan budidaya tanaman secara organik dengan memenuhi asas keberlanjutan dan GAP organik.

• Penggunaan input budidaya secara organik (bantuan benih, sarana/sumber air dan sarana produksi lainnya seperti pupuk organik/kompos, pestisida organik dan lain-lain) dan tanpa penggunaan sarana input sintesis serta adanya siklus pengolahan limbah kebun sesuai prinsip zero waste management.

• Sistem manajemen budidaya organik dengan memenuhi syarat ramah lingkungan.

• Pengembangan sumber daya manusia (petani dan petugas) dalam memahami konsep pertanian organik.

• Pengawalan, pendampingan dan pembinaan monitoring pertanian organik.

• Petunjuk kerja perkebunan berbasis pertanian organik melalui penerapan penggunaan lahan terkonversi baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim.

• Sertifikasi produk perkebunan organik.

Kegiatan pertanian organik Ditjen. Perkebunan menjadi tanggungjawab Direktorat Perlindungan Perkebunan dengan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) adalah pembinaan dan sertifikasi desa pertanian organik berbasis komoditi perkebunan. Pertimbangan pelaksanaan pengembangan

182 | P a g e

pertanian organik berbasis komoditas perkebunan berada pada kegiatan perlindungan perkebunan adalah:

a. Telah membina kelompok-kelompok tani SL-PHT yang pada prinsipnya mengusung kaidah-kaidah pertanian organik dalam menyelenggarakan usaha perkebunannya sehingga pemilihan CP/CL desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan salah satunya berdasarkan lokasi-lokasi eks SL-PHT.

b. Telah menginisiasi kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan model usaha perkebunan rendah emisi karbon pada tanaman kopi yang komponen-komponen kegiatannya bisa menjadi bagian dari pengembangan desa pertanian organik.

Komoditas yang akan dikembangkan untuk desa pertanian organik adalah kopi, pala, lada, kakao, kelapa, jambu mete dan komoditas-komoditas lain yang eksisting telah dikembangkan dalam skala kelompok tani. Pembinaan desa pertanian organik sampai dengan sertifikasi organik akan dilaksanakan bertahap dan berkelanjutan dengan sasaran 150 desa sampai dengan tahun 2019 sehingga pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan intervensi yang berbeda antara desa dengan kelompok tani yang sudah terlebih dahulu menginisiasi pengembangan desa pertanian organik dan kelompok tani baru. Tahapan pelaksanaan pengembangan desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan sebagai berikut:

1) Tahap persiapan meliputi identifikasi dan penetapan CP/CL.

2) Tahap inisiasi meliputi 1) sosialisasi pelaksanaan kegiatan; 2) penyiapan fasilitator; 3) pemberdayaan petani (penyiapan mentalitas organik) dan 4) pengawalan dan pendampingan (intensif).

3) Tahap pengembangan meliputi 1) implementasi kedalam kegiatan seperti bantuan penyediaan bahan input organik (pupuk dan pestisida) dan sarana pendukung lainnya; 2) aplikasi budidaya organik dengan anggaran tertentu pertahun (continue) dan per provinsi; 3) pemeliharaan tanaman dengan penerapan GAP yang baik (dimungkinkan melaksanakan pertemuan GAP skala nasional); 4) fasilitasi pengujian laboratorium dan analisis organik; dan 5) pengawalan dan pendampingan (semi intensif).

4) Tahap pascapanen dan pemasaran meliputi 1) bantuan pengadaan alat pascapanen; 2) pengembangan unit pengolahan produk dan sarana pendukung lainnya; 3) penyediaan pasar/mendorong mekanisme pasar untuk menyerap produk pertanian bekerjasama

183 | P a g e

dengan sektor terkait Kemendag, Kemenperin, BKPM dan lain-lain (dimungkinkan melaksanakan pertemuan pemasaran skala nasional); dan 4) pengawalan dan pendampingan (semi intensif). 5) Tahap sertifikasi meliputi penetapan sertifikasi oleh LSO (survey dan

audit) disertai pendampingan dan pengawalan dari sub sektor terkait. Kegiatannya meliputi 1) apresiasi dan sosialisasi; 2) penyusunan dokumentasi sistem mutu; 3) penerapan internal control system (ICS); 4) pendampingan di lapang; dan 5) sertifikasi dan surveilan. Secara teknis tahapan ini akan dibahas pada Permentan/ Kepmentan tentang pedoman umum 1.000 desa pertanian organik yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Sedangkan terkait proyeksi pengembangan 150 desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan tahun 2016-2019 ditunjukkan pada lampiran.

Dasar-dasar hukum pelaksanaan pengembangan desa pertanian organik ini adalah:

a. Peraturan Menteri Pertanian nomor 64 tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik menyatakan bahwa sistem pertanian organik merupakan sistem manajemen produksi yang holistik untuk mengembangkan agrosistem termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah serta dapat dicapai dengan penggunaan budaya, metode biologi dan mekanik yang tidak menggunakan bahan kimia sintetis.

b. Peraturan Menteri Pertanian nomor 20/Permentan/OT.140/2/2010 tentang Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian.

c. SNI 6729:2010 tentang Sistem Pangan Organik. d. SNI 6729:2013 tentang Sistem Pertanian Organik.

2. Perluasan areal perkebunan 150.000 hektar di lahan kering

Perluasan areal perkebunan di lahan kering bertujuan untuk mengembangkan komoditas perkebunan dilahan-lahan bukaan baru yang sesuai dengan agroekosistemnya dan dilahan-lahan sub optimal. Komoditas perkebunan yang diproyeksikan sampai dengan tahun 2019 seluas 150.000 hektar adalah komoditas cengkeh, kakao, kopi, lada, pala, tebu, jambu mete, karet, kelapa, kelapa sawit dan kemiri sunan. Tanggungjawab pelaksanaan perluasan areal perkebunan di lahan kering ini berada pada Direktorat Tanaman Semusim dengan IKK perluasan tanaman tebu dilahan kering, Direktorat Tanaman Tahunan dengan IKK perluasan tanaman tahunan di lahan kering serta Direktorat Tanaman

184 | P a g e

Rempah dan Penyegar dengan IKK perluasan tanaman rempah penyegar di lahan kering. Adapun target hektar kegiatan perluasan areal perkebunan dilahan kering disajikan pada Lampiran.

3. Pengembangan food estate

Pengembangan food estate bertujuan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan/ sentra pangan berbasis komoditas pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan, agar Indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara berdaulat. Pengembangan food estate dilaksanakan di daerah yang belum dapat dikategorikan sebagai daerah lumbung-lumbung pangan dan belum secara mandiri memenuhi pangan masyarakatnya. Pelaksanaan food

estate bersamaan dalam mendukung kegiatan pengembangan 1 juta

hektar kawasan pangan Merauke dan pengembangan rice estate dengan di provinsi Kalimantan Barat (8 Kabupaten/Kota) seluas 120.000 hektar; provinsi Kalimantan Tengah (14 Kabupaten/Kota) seluas 180.000 hektar; provinsi Kalimantan Utara (Kabupaten Bulungan) seluas 10.000 hektar dan provinsi Maluku (Kab. Kepulauan Aru) seluas 190.000 hektar. Fasilitasi dukungan Ditjen. Perkebunan dalam pengembangan food estate adalah melalui kegiatan yang dapat memacu/ mendorong peningkatan produksi dan produktivitas komoditas perkebunan, kegiatan pascapanen dan perlindungan perkebunan.

4. Pengembangan kelapa sawit di wilayah perbatasan

Sasaran kegiatan ini adalah pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat pada areal eksisting dan perluasan areal perkebunan kelapa sawit seluas 1 juta hektar di perbatasan negara terutama di provinsi Kalimantan Barat, provinsi Kalimantan Utara dan provinsi Kalimantan Timur melalui pola PIR (perkebunan inti rakyat). Diharapkan melalui kegiatan ini dapat menarik investor untuk membangun industri hilir kelapa sawit di daerah perbatasan.

Yang perlu diperhatikan terkait kegiatan pengembangan kelapa sawit di wilayah perbatasan adalah permasalahan ketersediaan lahan dan tenaga kerja, ketersediaan sarana prasarana dan infrastruktur, kesiapan daerah dalam melaksanakan pola PIR, dukungan BUMN dan instansi terkait lainnya (Kementerian Kehutanan) serta sinergitas pelaksanaan RTRW nasional. Fokus kegiatan sub sektor perkebunan sesuai zonasi RTRW di wilayah perbatasan ditunjukkan pada bagian Lampiran.

Langkah-langkah dasar pengembangan perbatasan antara lain: a. Pemetaan potensi umum wilayah perbatasan.

185 | P a g e

b. Klasifikasi untuk mengelompokkan pilihan arah pengembangan yang sesuai: wilayah hutan tanpa penduduk/belum ada usahatani, ada usahatani sporadis, usahataninya sudah berkembang.

c. Penyusunan Kerangka Pendekatan pelaksanaan untuk masing-masing kelompok (rapat-rapat/belum operasional).

d. Penyusunan Kerangka Pelaksanaan (operasional): penganggaran dan pelayanan.

e. Membangun kesiapan penyelenggaraan pelaksanaan (dibedakan yang bersumber dari APBN, APBD, dan partisipasi sektor dunia usaha).

f. Penyiapan rencana kegiatan :

- Penetapan paket kegiatan masing-masing kelompok: (APBN dan Pelayanan).

- Penentuan bentuk peran serta dunia usaha.

- Komponen kegiatan yang meliputi SID (survey identification and design), Bantuan Benih, Bantuan Sarana Produksi Lainnya: Pupuk dan Pestisida/Herbisida, Pemberdayaan petani, Upah kerja, Pengawalan dan pendampingan.

Kerangka pendekatan pengembangan wilayah perbatasan berbasis kelapa sawit pada areal baru adalah pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi (Pola PIR-TRANS) yanghakekatnya merupakan kegiatan lintas fungsi, lintas sektor dan lintas wilayah (Pusat dan Daerah). Kerangka pelaksanaannya meliputi 1) komponen pembangunan kebun, pengaturan, pembinaan, pelayanan dan pengawasan menjadi tanggungjawab Kementerian Pertanian/Ditjen. Perkebunan; 2) pembangunan komponen pemukiman, termasuk fasilitas umum dan fasilitas sosial, menjadi tanggung jawab Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; 3) pembangunan sarana dan prasarana, seperti jalan poros dll, menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; 4) perusahaan inti adalah perusahaan perkebunan yang sudah berhasil dan dipandang akan lebih membantu dan akan lebih mendukung capaian keberhasilan PIR-Trans (Inpres nomor 1 tahun 1986).

5. Pengembangan tebu dan inisiasi pembangunan pabrik gula baru Pengembangan tebu dimaksudkan dalam mendukung pemenuhan bahan baku tebu untuk peningkatan produksi gula nasional 3,82 juta ton pada tahun 2019 (pemenuhan gula Kristal putih/ GKP) melalui perluasan

186 | P a g e

areal tebu 500.000 hektar di provinsi Sulawesi Tenggara, sedangkan kegiatan inisiasi pembangunan pabrik gula baru dilakukan dengan merekomendasikan Kementerian/Lembaga terkait (BUMN, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan) dalam hal pemanfaatan lahan pengembangan tebu yang belum dilengkapi pabrik gula dengan target membangun/rehabilitasi 10 PG baru di Jawa & Luar Jawa.

6. Integrasi tanaman perkebunan dengan ternak sapi di lahan perkebunan kelapa sawit dan integrasi tanaman pangan di lahan perkebunan kelapa sawit

Tujuan kegiatan ini adalah sebagai upaya dalam 1) mendukung swasembada daging dan pengembangan sapi berkelanjutan; 2) peningkatan produktivitas usahatani kelapa sawit melalui pemanfaatan kotoran padat dan cair ternak sapi sebagai pupuk organik dan 3) mendukung pemenuhan energi dalam bentuk biogas pada wilayah perkebunan kelapa sawit.

Pelaksanaan kegiatan integrasi tanaman kelapa sawit dan ternak yang sudah menghasilkan TM seluas 20% dilaksanakan dengan pendekatan pemanfaatan potensi lestari sumber pakan berupa: pelepah dan daun kelapa sawit serta gulma sebagai pakan hijauan; serta bungkil dan solid sebagai bahan pakan konsentrat. Pelaku kegiatan ini adalah pekebun, perusahaan kelapa sawit dan kemitraan. Pengembangan integrasi sawit – sapi oleh perkebunan dapat ditempuh dengan memanfaatkan/ mendorong tumbuhnya industri kegiatan pendukung, baik dalam negeri maupun luar negeri, seperti produsen bakalan/indukan, produsen pakan konsentrat, alat pencacah pelepah dan daun (chopper).

Adapun komponen bantuan kepada pekebun antara lain bibit ternak sapi, kandang, padang penggembalaan, alat pengolah hasil samping kelapa sawit, alat pengolah limbah ternak dan pendampingan oleh tenaga pendamping dan tenaga ahli.

Kegiatan integrasi tanaman pangan di lahan perkebunan kelapa sawit dilaksanakan dengan mengembangkan tanaman kedelai dan jagung sebesar 20% pada lahan kelapa sawit yang belum menghasilkan (TBM). Kebijakan pendukung kegiatan ini adalah memberikan insentif dan kemudahan lain kepada perusahaan kelapa sawit swasta yang melakukan pengembangan tanaman jagung dan kedelai pada lahan tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan secara penuh dan pengembangan integrasi sawit – sapi seluas 10% dari areal kebun kelapa sawit yang sudah menghasilkan. Tujuan utama kegiatan ini adalah dalam rangka mendukung sasaran strategis Kementerian Pertanian terhadap

187 | P a g e

swasembada jagung dan kedelai sekaligus optimalisasi pengembangan kelapa sawit rakyat dalam mendukung pengembangan bio-industri dan bio-energy.