Berikut ini dapat diklasifikasikan tantangan yang akan dihadapi pembangunan perkebunan kedepan dalam ruang lingkup global terutama berkaitan dengan liberalisasi pasar global.
1. Liberalisasi perdagangan global (implikasi pertemuan WTO, APEC, G20 dan kerjasama bilateral/multilateral/regional lainnya)
Tantangan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan perkebunan kedepan adalah yang terkait hasil pertemuan WTO-Konferensi Tingkat Menteri ke-9 pada bulan Desember 2013 di Bali yaitu munculnya kesepakatan paket pertanian (proteksi dan subsidi), LDCs (Least
Developed Countries/fasilitasi perdagangan bagi negara miskin) dan
fasilitasi perdagangan (kapasitas pelayanan, finance dan transfer teknologi). Di bidang keamanan pangan (food security), terdapat pertentangan dari kelompok negara maju dan kelompok grup negara berkembang tentang bagaimana mengatasi hambatan-hambatan
58 | P a g e
perdagangan bebas di sektor pertanian dan ketahanan pangan seperti penentuan tarif impor dan subsidi ekspor. Sektor pertanian dan ketahanan pangan ini selalu menjadi isu yang paling alot dibicarakan di WTO. Sebagian pihak ingin penghapusan hambatan di sektor itu harus diberlakukan secara merata, namun sebagian lagi ingin pemberlakuan secara proporsional sehingga memenuhi rasa keadilan. Ini yang selalu menjadi pertentangan antara kelompok negara maju dan negara berkembang di WTO. Kesepakatan utama lainnya meliputi penyederhanaan prosedur kepabeanan yang menghambat perdagangan dan fasilitasi perdagangan untuk mempermudah akses ekspor negara-negara miskin ke pasar negara-negara maju. Kesepakatan tentang keamanan pangan memberikan jeda kepada negara berkembang menggelontorkan subsidi pangan melebihi 10% dari output sesuai ketentuan WTO dimana pelonggaran tersebut berlaku untuk 4 tahun. Dengan pelonggaran ini, pemerintah negara berkembang boleh membeli produk pangan dari petani di atas harga pasar dan menjualnya dengan harga terjangkau untuk melindungi penduduk miskin.
Selain itu, hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC
Economic Leaders Meeting pada bulan November 2014 di Beijing,
Tiongkok, juga menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan pertanian khususnya sub sektor perkebunan di Indonesia. Hasil KTT APEC tersebut antara lain 1) pemberlakuan perjanjian fasilitas perdagangan hasil WTO Bali, sekaligus untuk menghilangkan sifat proteksi dan segala hambatan perdagangan; 2) upaya memberlakukan perjanjian perdagangan bebas pada tingkat bilateral, regional dan plurilateral sebagai pelengkap inisiasi liberalisasi tingkat global; 3) upaya realisasi area perdagangan bebas tingkat Asia Pasifik (Free Trade Area
of the Asia-Pasific-FTAAP); 4) merancang konektivitas rantai pasok untuk
melancarkan perdagangan bebas, dan 5) standarisasi keamanan pangan dan mengurangi kehilangan kualitas dan kuantitas pangan (food loss) dalam rantai nilai (value chain).
Pada pertemuan KTT G20 (G20 Leaders Summit), bulan November 2014 di Brisbane, Australia, terdapat 3 topik utama pembahasan yang akan mewarnai pembangunan perkebunan kedepan, yaitu 1) penguatan sektor swasta untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi global dengan tekanan pada pembukaan lapangan kerja dan perdagangan terbuka, 2) memperkuat posisi ekonomi dunia terhadap tantangan pada masa depan dan 3) bagaimana menopang institusi global.
59 | P a g e
2. Kondisi perekonomian global yang menimbulkan gejolak harga dunia (implikasi negatif era pasar bebas ASEAN/AEC 2015)
Kondisi global semakin meningkatkan persaingan di pasar domestik dan dunia akan mendorong bangkitnya kesadaran regionalisasi dan integrasi ekonomi. Salah satu contoh regionalisasi dan integrasi adalah terbentuknya Komunitas ASEAN yang memiliki 3 pilar utama, yaitu: ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community and ASEAN
Socio-Cultural Community. Terbentuknya AEC (Asean Economic Community) mengukuhkan terbentuknya pasar tunggal ASEAN. Manfaat
dari peluang dan tantangan adanya AEC sejatinya akan diperoleh secara optimal apabila syarat dasar proses integrasi ekonomi dapat tercapai sehingga butuh kesiapan sub sektor perkebunan menghadapi AEC 2015 atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Jika sub sektor perkebunan tidak memiliki kesiapan tersebut maka akan berimplikasi negatif terhadap pembangunan perkebunan.
Pelaksanaan MEA 2015 memberikan konsekuensi bagi Indonesia terhadap tingkat persaingan yang semakin terbuka dan tajam, terutama dalam perdagangan barang dan jasa di kawasan ASEAN. Pelaksanaan MEA 2015 telah didahului dengan penerapan ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tahun 1992 yang implementasinya secara bertahap sejak 1 Januari 1993 sampai dengan tahun 2002. Tujuan akhir MEA 2015 adalah untuk menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang, jasa, investasi, pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas, mempunyai daya saing tinggi, dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata, serta terintegrasi dalam ekonomi global. Dengan semakin terbukanya pasar ASEAN bagi para negara anggotanya, tingkat persaingan pun akan semakin tinggi.
Terdapat 4 hal yang harus diantisipasi dalam ASEAN Economic
Community bagi Indonesia antara lain:
a. Implementasi AEC berpotensi menjadikan Indonesia sekedar pemasok energi dan bahan baku bagi industrialisasi di kawasan ASEAN sehingga manfaat yang diperoleh dari kekayaan sumber daya alam kurang optimal.
b. Melebarnya defisit perdagangan jasa seiring peningkatan perdagangan barang dan hal ini akan terjadi fluktuasi harga komoditas/produk dalam negeri.
c. Implementasi AEC juga akan membebaskan aliran tenaga kerja ke Indonesia sehingga harus mengantisipasi dengan menyiapkan strategi yang tepat karena potensi membanjirnya Tenaga Kerja Asing
60 | P a g e
(TKA) akan berdampak pada naiknya remitansi TKA yang saat ini pertumbuhannya lebih tinggi daripada remitansi TKI. Akibatnya, ada beban tambahan yaitu dalam menjaga neraca transaksi berjalan dan mengatasi masalah pengangguran.
d. Implementasi AEC akan mendorong masuknya investasi ke Indonesia dari dalam dan luar ASEAN.
3. Tuntutan terhadap atribut mutu/kualitas produk (implikasi dari tuntutan daya saing komoditas)
Era perdagangan bebas baik secara global maupun dalam skema AEC tahun 2015 akan menuntut persaingan harga dan persaingan kualitas produk/barang. Pada kenyataannya, hasil perkebunan di Indonesia kerapkali kurang mampu bersaing di pasar internasional karena mutu hasil rendah yang disebabkan produk/ komoditas tidak sesuai dengan standar teknis yang dipersyaratkan, adanya kerusakan produk karena penyimpanan dan pengiriman, terkontaminasi dengan kotoran dan benda-benda asing serta proses panen dan pasca panen kurang sempurna (contoh proses pengeringan, dan lain-lain). Kenyataan ini menunjukkan bahwa budidaya tanaman dan penanganan pascapanen produk perkebunan belum dilakukan dengan optimal. Atribut mutu yang menjadi instrumen dalam peningkatan kualitas produk/komoditas pada perdagangan bebas antara lain:
a. Atribut keamanan pangan (bebas dari bahan baku yang dapat menganggu kesehatan).
b. Atribut halal (bebas dari bahan yang diharamkan untuk dikonsumsi menurut syariat islam).
c. Atribut ramah lingkungan (bebas dari produk/komoditas yang selama proses budidaya tanaman sampai dengan pascapanen menggunakan bahan dan sarana produksi yang ramah lingkungan). d. Atribut fisik (bebas dari cacat fisik, kerusakan produk, kontaminasi
kotoran dan sesuai standar teknis kualitas fisik).
e. Atribut kimia (bebas dari bahan-bahan yang secara kimia mempengaruhi kualitas produk).
f. Atribut nutrisi kesehatan (adanya kandungan bahan tertentu yang dibutuhkan untuk kesehatan, daya tahan, metabolisme dan pertumbuhan).
g. Atribut mikrobiologi (bebas dari kandungan mikrobiologi tertentu yang mempengaruhi kualitas pangan).
61 | P a g e
h. Atribut sensoris (berhubungan dengan ukuran, penampakan, rasa dan aroma yang disukai konsumen).
i. Atribut budaya (bebas dari bahan-bahan yang secara budaya masyarakat tertentu dilarang untuk dikonsumsi).
4. Perubahan iklim akibat pemanasan global (implikasi terhadap munculnya bencana alam dan peningkatan serangan OPT)
Perubahan iklim, El Nino, La Nina dan emisi GRK (Gas Rumah Kaca).
Perubahan iklim akibat pemanasan global dihubungkan dengan peningkatan emisi dan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) sehingga terjadi perubahan pola curah hujan, perubahan suhu udara dan diikuti dengan naiknya tinggi permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di wilayah kutub. Efek rumah kaca (green house effect) disebabkan naiknya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain yang ada di atmosfer (belerang oksida, nitrogen monoksida, nitrogen dioksida, gas metana, klorofluorokarbon/ CFC, dll) yang timbul karena kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan, pohon dan laut untuk menyerapnya sehingga energi yang timbul akan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi, tetapi sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh gas CO2 dan gas lain untuk dikembalikan ke permukaan bumi yang berbentuk seperti atap rumah kaca yang mengkilat.
Naiknya tinggi permukaan air laut akan meningkatkan energi yang tersimpan dalam atmosfer sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain El Nino dan La Nina. Fenomena El Nino dan La Nina sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca/iklim di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan. El Nino adalah gejala gangguan iklim yang disebabkan oleh naiknya suhu permukaan laut Samudera Pasifik sekitar khatulistiwa bagian tengah dan timur yang mengakibatkan pola angin dan curah hujan yang ada diatasnya, sedangkan La Nina adalah gejala gangguan iklim yang diakibatkan suhu permukaan laut Samudera Pasifik dibandingkan dengan daerah sekitarnya sehingga mengakibatkan hujan turun lebih banyak di Samudera Pasifik sebelah barat Australia dan Indonesia.
Dampak El Nino berhubungan dengan fenomena alam yang mengakibatkan kekeringan (musim kemarau yang panjang), peningkatan frekuensi dan luas kebakaran hutan serta penurunan ketersediaan air sedangkan La Nina yang banyak dirasakan antara lain fenomena alam
62 | P a g e
yang mengakibatkan banjir pada sebagian wilayah yang berdataran rendah. Tetapi kedua fenomena tersebut berpengaruh terhadap penurunan produktivitas pertanian/ perkebunan yang mengakibatkan gagal panen. Dampak lanjutan dari perubahan iklim adalah perubahan keanekaragaman hayati, eksplosi hama dan penyakit tanaman dan hewan. Di tingkat lapangan, kemampuan para petugas lapangan dan petani dalam memahami data dan informasi prakiraan iklim masih sangat terbatas sehingga kurang mampu menentukan awal musim tanam serta melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi.
Perubahan iklim dan pengaruh indeks pertanaman (IP). Tinggi dan
rendahnya intensitas musim hujan akan berpengaruh terhadap upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) apabila tidak tersedia varietas yang berumur lebih pendek dan tanpa rehabilitasi jaringan irigasi.
Perubahan iklim dan serangan OPT yang eksplosif. Perubahan iklim
dapat juga dilihat terhadap munculnya OPT yang populasinya sulit diproyeksi dan tanaman perkebunan rentan terhadap serangan OPT tersebut. Hal ini karena perubahan iklim mengganggu keseimbangan antara populasi serangga hama, musuh alaminya dan tanaman inangnya. Meski demikian, secara umum pengaruh perubahan iklim dapat dilihat dari tanaman yang mengalami tekanan/ stress. Dampak lainnya adalah serangga hama dan mikroba termofilik lebih diuntungkan dengan makin panjangnya musim panas/kemarau dan meningkatnya temperatur. Di sisi lain, organisme yang saat ini bukan sebagai OPT, suatu saat dapat menjadi OPT yang bisa berekspansi ke wilayah lain.
Perubahan iklim dan bencana alam. Secara umum dapat disimpulkan
bahwa perubahan iklim akan terjadi bencana alam. Indonesia termasuk wilayah dengan frekuensi bencana alam sangat tinggi dan sering disebut sebagai wilayah “rawan bencana”. Sejumlah bencana alam kerap terjadi yang meliputi erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, angin kencang dan macam bencana alam lainnya. Semua bencana alam tersebut berpotensi mengganggu aktivitas perekonomian nasional mulai proses produksi, jalur distribusi, rehabilitasi ekonomi, masa panen dan pasca panen, mengakibatkan rusaknya infrastruktur pertanian yang meliputi bangunan bendung, dam, jaringan irigasi, jalan usaha tani/ jalan produksi, kerusakan tanaman dan ternak, hingga penurunan produktivitas dan produksi pertanian/ perkebunan dan akibat bencana lainnya adalah menimbulkan trauma bagi masyarakat korban bencana. Oleh karena itu, kemampuan untuk antisipasi bencana alam,
63 | P a g e
penanganan korban bencana, serta kemampuan rehabilitasi ekonomi pasca bencana menjadi penting.
Perubahan iklim dan bergesernya pola atau kalender tanam. Dari sisi
budidaya tanaman perkebunan, perubahan iklim akan lebih banyak berpengaruh terhadap terjadinya penurunan produksi, produktivitas dan berubahnya agro-ecosystem mikro. Disisi lain, naiknya suhu permukaan bumi dan pergeseran pola curah hujan menyebabkan terjadinya pergeseran pola musim yang berdampak pada perubahan pola dan kalender tanam. Cuaca yang tidak menentu sering mengakibatkan petani/ pekebun sulit memperkirakan waktu untuk mengolah lahan dan memanen. Akibat perubahan iklim, tidak kurang dari 50% wilayah pertanian/ perkebunan di Indonesia menghadapi musim hujan yang cenderung mundur dan musim kemarau yang cenderung maju dan lebih panjang sehingga musim tanam menjadi pendek. Kondisi ini akan sangat berdampak buruk terhadap intensitas tanam jika tidak ada terobosan inovasi dan teknologi yang mampu memecahkan masalah tersebut. Disisi lain teknologi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim bagi sub sektor perkebunan belum begitu berkembang dan juga kurang tersosialisasinya informasi dalam antisipasi perubahan iklim terkait usaha tani perkebunan. Hal yang perlu diperhatikan bahwa kerentanan suatu daerah terhadap perubahan iklim atau tingkat ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, bergantung pada struktur sosial-ekonomi, besarnya dampak yang timbul, infrastruktur dan teknologi yang tersedia.
Perubahan iklim dan penegasan komitmen internasional. Tantangan
penyelenggaraan perkebunan kedepan adalah terkait kewajiban Indonesia dalam menyepakati komitmen internasional dalam hal perubahan iklim. KTT Perubahan Iklim atau COP 21 UNFCCC United Nations Framework Convention on Climate Change yang digelar selama 13 hari di Le Bourget, Paris, 30 November--12 Desember 2015.
akhirnya pada tanggal 12 Desember 2015 mencapai kesepakatan yang disebut dengan paris agreement. Sekitar 195 perwakilan negara menyepakati teks rancangan hasil pembahasan Comitte Paris. Hasil COP21 juga disebut-sebut sebagai langkah awal bagi upaya konversi energi dari bahan bakar fosil.
Sedari awal, sesi-sesi perundingan memang berlangsung sangat berat. Forum bahkan nyaris belum mencapai titik temu mengenai definisi negara maju dan berkembang yang akan menjadi dasar dalam pembagian
64 | P a g e
tanggung jawab mencegah pemanasan global serta menekan emisi karbon. Itu mengapa, meski soal klausul sokongan dana US$ 100 miliar yang sempat hilang dalam rancangan muncul lagi. Namun tak disebutkan, siapa yang harus menanggungnya, juga kapan akan dimulai. Negoisasi berlangsung soal mekanisme pendanaan perubahan iklim. juga berkaitan dengan batasan suhu perubahan iklim. Hasilnya, para pihak mencapai titik kompromi dan menetapkan kenaikan batas suhu di bawah 2 derajat sampai 1,5 derajat Celcius. Hasil kesepakatan atas negosiasi yang dimulai sejak 30 November 2015 ini akan diumumkan langsung oleh pemimpin Prancis hari ini.
Dari catatan Tempo, ada sejumlah komitmen dan negoisasi yang telah dirilis sekretariat dan mengambang. Misalnya pengumpulan mobilisasi sumber pendanaan baru dimulai pada 2020 serta mengalir melalui mekanisme keuangan konvensi. Kesepakatan COP21 Paris ini, masih berdasarkan randangan terakhir bakal di tandatangani secara terbuka di New York, Amerika Serikat, dalam rentang waktu 22 April 2016 hingga 21 April 2017.
Berikut poin-poin penting hasil kesepakatan COP21 UNFCCC:
1. Menyepakati batas kenaikam suhu rata-rata global di bawah dua derajat Celcius untuk pra industri dan berupaya menekannya hingga suhu 1,5 derajat Celcius. Ini dianggap signifikan mengurangi risiko dampak perubahan iklim.
2. Para pihak yang terlibat dalam menekan emisi gas rumah kaca dilakukan secepat mungkin dengan cara mengembangkan tenologi dan menyerap karbon.
3. Isi penting dalam poin kedua juga harus mendung upaya pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan.
65 | P a g e
4. Sebelum pertemuan COP selanjutnya pada 2025 secara kolektif bakal menetapkan pendanaan 100 miliar dolar AS pertahun untuk menekan perubahan iklim.
Pertama, perlu dilakukan upaya mitigasi dengan mengurangi emisi karbon dengan cepat, untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 C.
Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi harus dilakukan secara transparan.
Ketiga, upaya adaptasi harus dilakukan dengan memperkuat kemampuan-kemampuan negara-negara di dunia untuk mengatasi dampak perubahan iklim.
Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim, dari kerusakan.
Kelima bantuan, termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.
Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2015 , disebut juga dengan COP 21 atau CMP 21, telah diadakan di Paris sejak 30 November sampai 12 Desember 2015. Konferensi ini merupakan konferensi tahunan ke 21 anggota UNFCCC sejak UNFCCC berdiri pada tahun 1992, dan konferensi ke 11 sejak Konferensi Protokol Kyoto 1997.[1]
Konferensi ini menghasilkan Persetujuan Paris yang diadopsi secara aklamasi oleh negara anggota.[2] Persetujuan ini akan mengikat secara hukum jika setidaknya 55 negara yang mewakili 55 persen emisi gas rumah kaca global tahunan meratifikasi Persetujuan Paris atau mendaftarkan diri di New York dari 22 April 2016 hingga 21 April 2017.[3][4][5] Diharapkan persetujuan ini dapat berlaku efektif 2020.[6] Harapan utama dari COP21 adalah membatasi pemanasan global hingga
66 | P a g e
maksimum 2 derajat Celcius hingga tahun 2100[3][7] meskipun dalam piagam persetujuan Paris tertulis target utamanya adalah maksimum 1.5 derajat Celcius.[2] Berdasarkan analisis pakar, target 1.5 derajat Celcius dapat dicapai jika antara tahun 2030 hingga 2050 tidak ada emisi gas rumah kaca.[2]
Sebelum konferensi dimulai, 146 negara anggota mempresentasikan draf negara masing-masing mengenai kontribusi mereka terhadap iklim. Dari berbagai presentasi, sempat diperkirakan bahwa pembatasan pemanasan global hanya bisa mencapai maksimum 2.7 derajat Celcius pada tahun 2100.[8] Salah satu indikator pesimisme terbesar adalah komitmen Uni Eropa yang hanya menargetkan penurunan emisi hingga 40 persen pada tahun 2030 terhadap emisi 1990.[9]
residen Joko “Jokowi” Widodo memimpin langsung delegasi Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim, atau Conference of Parties (COP) 21, di Paris, Perancis, yang dimulai hari ini, Senin, 30 November.
Dalam kesempatan ini, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon 29 persen, demi mencapai tujuan bersama, yakni menghentikan suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celsius.
Berikut 4 hal yang perlu kamu ketahui tentang delegasi Indonesia di COP 21:
Tugas delegasi Indonesia
Memperjuangkan kepentingan negara untuk menjalankan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim (climate resilience).
Caranya adalah dengan mengurangi secara signifikan tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim dan kemiskinan. Intended Nationally Determined Contribution (INDC) adalah agenda yang diperjuangkan.
67 | P a g e
Tugas dilakukan melalui jalur negosiasi, jalur penjangkauan (outreach), dan kampanye (campaign).
Indonesia juga memanfaatkan COP 21 di Paris untuk menginformasikan kepada komunitas internasional mengenai program Nawa Cita pemerintahan Jokowi.
5. Dukungan terhadap optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup (implikasi terhadap pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan)
Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Akan tetapi, lingkungan hidup di Indonesia mengalami tekanan hebat akibat kegiatan-kegiatan manusia seperti eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkontrol dan tidak ramah lingkungan sehingga diperlukan upaya pemanfaatan sumber daya perkebunan secara optimal sesuai dengan daya dukung sehingga pelestariannya dapat tetap terjaga.
Munculnya isu pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan seiring dengan gagasan pembangunan berkelanjutan melalui penetapan strategi pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) sekitar tahun 1970-an seiring dengan merebaknya
masalah lingkungan. Hal ini ditandai dengan paradigma pembangunan ekonomi konvensional dengan mengejar pertumbuhan ekonomi semata, namun melahirkan kerusakan lingkungan dan sumber daya alam. Karena itu, pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan menjadi penting untuk dikaji. Pentingnya pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup meliputi kebijakan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. Oleh karena itu, dalam pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan, setidaknya terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan, yakni (1) pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana;
68 | P a g e
(2) pembangunan berkesinambungan sepanjang masa; dan (3) peningkatan kualitas hidup generasi.
Selama bertahun-tahun Komisi Eropa telah menjalin kerja sama dengan Indonesia di bidang lingkungan hidup. Sektor kehutanan dan sumber daya alam khususnya telah menjadi sektor prioritas dalam kerja sama Komisi Eropa dan Indonesia sejak tahun 1990-an. Tinjauan Tengah Waktu (Mid-Term Review) yang dimuat dalam Country Strategy Paper tahun 2007-2013 menekankan pentingnya sektor lingkungan hidup terutama terkait isu perubahan iklim sebagai bagian dari kerja sama bilateral antara Komisi Eropa dan Pemerintah Indonesia. Masyarakat sipil juga merupakan mitra penting dalam kerjasama bidang lingkungan hidup Komisi Eropa di Indonesia dan oleh karena itu sejumlah proyek memperoleh dukungan yang didanai melalui Program Tematik
Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.
Isu pembangunan berwawasan lingkungan lainnya telah dicanangkan melalui pencapaian tujuan millennium (Millennium Development
Goals/MDGs) yang merupakan Deklarasi Milenium dari hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada bulan September tahun 2000 dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York yaitu berupa 8 butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Target utamanya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada tahun 2015. Deklarasi ini berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah tujuan pembangunan yang meliputi 1) menanggulani kemiskinan dan kelaparan; 2) mencapai pendidikan dasar untuk semua; 3) mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; 4) menurunkan angka kematian anak; 5) meningkatkan kesehatan ibu; 6) memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya; 7) memastikan
kelestarian lingkungan hidup; dan 8) mengembangkan kemitraan
global untuk pembangunan. Dalam pencapaian tujuan millennium “memastikan kelestarian lingkungan hidup” dijalankan melalui strategi (1) mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan; (2) pada tahun 2015 dengan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat, aman dan berkelanjutan serta fasilitasi sanitasi dasar; (3) mengurangi laju hilangnya keragaman hayati dan mencapai pengurangan yang signifikan; dan (4) pada tahun 2020 mendatang
69 | P a g e
diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh. Setelah target pencapaian tujuan millennium (Millennium Development Goals/MDGs) pada tahun 2015, muncullah kesepakatan lanjutan berupa