• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan Perkebunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan Perkebunan"

Copied!
273
0
0

Teks penuh

(1)

1 | P a g e

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pembangunan Perkebunan

Berdasarkan Undang-Undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) 2005-2025 bahwa tahun 2015-2019 memasuki periode jangka menengah tahap III yang difokuskan dalam memantapkan pembangunan secara menyeluruh di

berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan IPTEK yang terus meningkat. Implementasi fokus perencanaan jangka menengah tersebut

diakomodir dalam dokumen Rencana Strategis.

Rencana Strategis Ditjen. Perkebunan tahun 2015-2019 disusun dengan mengacu pada arah dan kebijakan pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2015-2019 sesuai amanat Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019. Arah kebijakan umum pembangunan nasional tahun 2015-2019 adalah 1) meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan; 2) meningkatkan pengelolaan dan nilai tambah sumber daya alam yang berkelanjutan; 3) mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan; 4) meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mitigasi bencana alam dan penanganan perubahan iklim; 5) penyiapan landasan pembangunan yang kokoh; 6) meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan; dan 7) mengembangkan dan memeratakan pembangunan daerah. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan 9 Agenda Prioritas NAWACITA sebagai jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Pada tahun 2015-2019, sub sektor perkebunan masih menjadi sub sektor penting dalam peningkatan perekonomian nasional. Peran strategis sub sektor perkebunan baik secara ekonomis, ekologis maupun sosial budaya ini digambarkan melalui kontribusinya dalam penyumbang PDB; nilai investasi yang tinggi dalam membangun perekonomian nasional;

(2)

2 | P a g e

berkontribusi dalam menyeimbangkan neraca perdagangan komoditas pertanian nasional; sumber devisa negara dari komoditas ekspor; berkontribusi dalam peningkatan penerimaan negara dari cukai, pajak ekspor dan bea keluar; penyediaan bahan pangan dan bahan baku industri; penyerap tenaga kerja; sumber utama pendapatan masyarakat pedesaan, daerah perbatasan dan daerah tertinggal; pengentasan kemiskinan; penyedia bahan bakar nabati dan bioenergy yang bersifat terbarukan, berperan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca serta berkontribusi dalam pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan mengikuti kaidah-kaidah konservasi. Sejalan dengan berbagai kontribusi sub sektor perkebunan tersebut maka segala bentuk usaha budidaya perkebunan harus mengedepankan keseimbangan pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan alat/sarana prasarana input produksi melalui kegiatan penyelenggaraan perkebunan yang memenuhi kaidah pelestarian lingkungan hidup. Hal tersebut dijelaskan dalam Undang-Undang nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan.

Undang-Undang nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan menyatakan bahwa perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budidaya, panen, pengolahan dan pemasaran terkait tanaman perkebunan. Dengan pengertian yang luas tersebut, penyelenggaraan perkebunan mengemban amanat dalam mendukung pembangunan nasional. Amanat tersebut mengharuskan penyelenggaraan perkebunan ditujukan untuk (1) meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; (2) meningkatkan sumber devisa negara; (3) menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha; (4) meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas, nilai tambah, daya saing dan pangsa pasar; (5) meningkatkan dan memenuhi kebutuhan konsumsi serta bahan baku industri dalam negeri; (6) memberikan perlindungan pada pelaku usaha perkebunan dan masyarakat; (7) mengelola dan mengembangkan sumber daya perkebunan secara optimal, bertanggung jawab dan lestari; dan (8) meningkatkan pemanfaatan jasa perkebunan.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk memenuhi amanat penyelenggaraan perkebunan harus didasarkan pada asas kedaulatan, kemandirian, kebermanfaatan, keberlanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan, efisiensi-berkeadilan, kearifan lokal dan kelestarian

(3)

3 | P a g e

lingkungan hidup. Sejarah panjang penyelenggaraan perkebunan di bumi nusantara yang mengedepankan asas-asas tersebut membuktikan bahwa amanat yang diemban dapat dilaksanakan dengan baik, tepat sasaran, berdaya dan berhasil guna bagi peningkatan kesejahteraan pekebun.

Amanat pembangunan nasional dalam 9 Agenda Prioritas NAWACITA yang wajib dilaksanakan Ditjen. Perkebunan dalam pengembangan perkebunan tahun 2015-2019 sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2015-2019 mencakup 2 agenda prioritas diantaranya 1) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional dengan sub agenda prioritas akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan agroindustri berbasis komoditas perkebunan; dan 2) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik dengan sub agenda peningkatan kedaulatan pangan. Selain itu, agenda prioritas terkait membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah (perbatasan, daerah tertinggal dan daerah kawasan timur Indonesia) dan desa dalam kerangka negara kesatuan menjadi salah satu arah kebijakan yang akan diprioritaskan Ditjen. Perkebunan melalui kegiatan tematik.

Sasaran pokok sub agenda prioritas peningkatan agroindustry adalah peningkatan produksi komoditas andalan dan prospektif ekspor perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, teh, kopi dan kelapa serta mendorong berkembangnya agroindustri di perdesaan. Sedangkan sasaran pokok sub agenda prioritas peningkatan kedaulatan pangan adalah tercapainya peningkatan ketersediaan pangan dari tebu yang bersumber dari produksi dalam negeri untuk memenuhi konsumsi gula rumah tangga dan industri rumah tangga.

Secara umum pengembangan komoditas perkebunan difokuskan pada 16 komoditas unggulan yaitu Tebu, Kelapa Sawit, Karet, Kelapa, Kakao, Kopi, Lada, Teh, Pala, Cengkeh, Jambu Mete, Sagu, Kemiri Sunan, Kapas, Tembakau dan Nilam. Penentuan komoditas tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang jenis komoditas tanaman binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura serta Keputusan Menteri Pertanian nomor 3399/Kpts/PD.310/10/2009 tentang perubahan lampiran I dari Keputusan Menteri Pertanian nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006. Arah pengembangan

(4)

4 | P a g e

komoditas-komoditas tersebut dicapai melalui program peningkatan produksi komoditas perkebunan berkelanjutan dengan implementasi kegiatan seperti rehabilitasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung oleh penyediaan benih bermutu, pemberdayaan pekebun dan penguatan kelembagaan, pembangunan dan pemeliharaan kebun sumber benih, penanganan pascapanen, pengolahan, fasilitasi pemasaran, standarisasi mutu, pembinaan usaha dan perlindungan perkebunan serta pemberian pelayanan berkualitas dibidang manajemen dan kesekretariatan. Komoditas-komoditas unggulan perkebunan yang masih dalam tahap inisiasi tetap dikembangkan dan difasilitasi Ditjen. Perkebunan yang diarahkan untuk pemenuhan standar pelayanan minimum (SPM) yang meliputi penyediaan benih/ varietas unggul, pembangunan/ pemeliharaan kebun sumber benih (demplot, kebun induk, kebun entres dan lain-lain), pengendalian OPT, penanganan pascapanen, pemberdayaan pekebun, peningkatan kapasitas sumber daya insani (SDI) dan penguatan kelembagaan. Sedangkan dalam tahap penumbuhan/ pengembangan selain penguatan aspek budidaya dan perlindungan perkebunan juga difasilitasi aspek pengolahan, standarisasi mutu dan pemasarannya.

Pemerintah Daerah didorong untuk memfasilitasi dan melakukan pembinaan komoditas spesifik dan potensial di wilayahnya masing-masing. Strategi pengembangan komoditas unggulan perkebunan kedepan perlu ditekankan, diintensifkan dan difokuskan pada peningkatan kualitas komoditas unggulan baik pada penerapan teknologi produksi, teknologi pascapanen, efisiensi biaya produksi, standarisasi mutu, pengolahan sampai dengan pemasaran. Pemberdayaan pekebun dengan fokus pembinaan, pendampingan dan pelatihan kelompok tani dalam optimalisasi komoditas unggulan daerah perlu dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat pekebun secara berjenjang dan berkelanjutan agar terwujud komoditas unggulan nasional yang berkualitas, tangguh dan mampu bersaing dalam era pasar bebas baik pasar global maupun pasar ASEAN. Selain itu aspek penyuluhan akan memegang peranan penting dalam peningkatan kapasitas pengetahuan dan inovasi petani/pekebun.

Arah kebijakan pembangunan nasional dalam dokumen RPJMN 2015-2019 diimplementasikan dalam 11 (sebelas) sasaran strategis Kementerian Pertanian. Sesuai tugas pokok dan fungsinya, Ditjen.

(5)

5 | P a g e

Perkebunan bertanggungjawab dalam mendukung pencapaian 7 (tujuh) sasaran strategis yang terbagi kedalam 3 (tiga) sasaran strategis utama dan 4 (empat) sasaran strategis pendukung. Sasaran strategis Ditjen. Perkebunan juga mengacu pada Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 yang fokus dalam hal optimalisasi sumber daya alam (sumber daya lahan, sumber daya genetika dan sumber daya iklim); pengembangan sumber daya insani yang kompeten dan berkarakter (insan berkualitas, modal sosial dan modal politik) pertanian; sistem inovasi science and bio-engineering; infrastruktur pertanian/ perkebunan; sistem usaha tani bio/agro industri dan bio/agro-services terpadu; klaster rantai nilai bio-industri; dan lingkungan pemberdayaan bio-bisnis melalui pendekatan Sistem Pertanian-Bioindustri Berkelanjutan.

Sasaran strategis utama Ditjen. Perkebunan tahun 2015-2019 yang selaras dengan kebijakan Kementerian Pertanian sebagaimana tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian tahun 2015-2019 (edisi revisi) adalah mendukung: 1) pemenuhan penyediaan bahan baku tebu dalam rangka peningkatan produksi gula nasional; 2) peningkatan komoditas perkebunan bernilai tambah dan berorientasi ekspor dalam mewujudkan daya saing sub sektor perkebunan yang difokuskan pada pengembangan produk segar dan olahan dari 16 komoditas unggulan perkebunan; 3) pemenuhan penyediaan bahan baku bio-energy dan pengembangan fondasi sistem pertanian bio-industry dengan fokus pengembangan komoditas kelapa sawit baik melalui kegiatan budidaya dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas maupun melalui kegiatan integrasi tanaman perkebunan dengan ternak dan tumpang sari dengan komoditas pertanian lainnya serta penyediaan benih kemiri sunan. Sedangkan sasaran strategis pendukung Ditjen. Perkebunan tahun 2015-2019 adalah mendukung: 1) Peningkatan kualitas sumber daya insani perkebunan; 2) Penguatan kelembagaan pekebun dan kemitraan usaha perkebunan; 3) Akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baik dengan menerapkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, supremasi hukum, keadilan, integritas/ komitmen, kejujuran, konsistensi dan bebas KKN di lingkungan organisasi Ditjen. Perkebunan; dan 4) Peningkatan pendapatan keluarga pekebun yang merupakan resultan dari pencapaian sasaran strategis lainnya.

Sasaran strategis tersebut, dituangkan dalam dokumen Renstra

(6)

6 | P a g e

substansinya secara garis besar meliputi 1) kondisi umum yang meliputi kinerja pendanaan, makro dan mikro pembangunan perkebunan; 2) potensi dan tantangan; 3) arah kebijakan, sasaran strategis dan strategi Direktorat Jenderal Perkebunan; 4) visi, misi dan tujuan Direktorat Jenderal Perkebunan; 5) program, implementasi agenda prioritas NAWACITA dan kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan; 6) proyeksi kebutuhan investasi dan ketersediaan APBN Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2019 dalam ruang lingkup kerangka pendanaan; 7) kerangka regulasi dan kerangka kelembagaan Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2019; dan 8) dukungan Kementerian/Lembaga dalam pembangunan perkebunan tahun 2015-2019.

Dokumen Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2019 ini diharapkan dapat menjadi acuan perancangan/ perencanaan dan pedoman pelaksanaan kebijakan di bidang perkebunan secara nasional baik pusat maupun daerah, menjangkau kemitraan lintas bidang, lintas sektor, lintas program, lintas pelaku dan lintas Kementerian/Lembaga dalam membuka ruang solusi yang lebih lapang seiring dengan semakin luasnya rentang potensi, kelemahan, peluang, tantangan dan permasalahan yang melingkupi penyelenggaraan perkebunan saat ini dan kedepan termasuk dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis yang berimplikasi terhadap pengembangan sub sektor perkebunan tahun 2015-2019.

1.2. Dasar Hukum Penyusunan

Dasar hukum penyusunan Renstra Ditjen. Perkebunan tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2. Undang-Undang nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;

3. Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

4. Undang-Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air; 5. Undang-Undang nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

(7)

7 | P a g e

6. Undang-Undang nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;

7. Undang-Undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN);

8. Undang-Undang nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal; 9. Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 10. Undang-Undang nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik;

11. Undang-Undang nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; 12. Undang-Undang 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan

Pertanian Pangan Berkelanjutan;

13. Undang-Undang nomor 4 tahun 2011 tentang Informasi Geospasial: 14. Undang-Undang nomor 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan

Pemberdayaan Petani;

15. Undang-Undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;

16. Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

17. Undang-Undang nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan;

18. Undang-Undang nomor 2 tahun 2015 tentang Penetapan Perppu nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

19. Undang-Undang nomor 9 tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

20. Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional;

21. Peraturan Presiden nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi tahun 2010-2025;

22. Peraturan Presiden nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK);

23. Peraturan Presiden nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

24. Peraturan Presiden nomor 78 tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal;

(8)

8 | P a g e

25. Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019;

26. Peraturan Presiden nomor 45 tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian;

27. Peraturan Presiden nomor 61 tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (CPO Supporting

Fund);

28. Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional;

29. Instruksi Presiden RI nomor 3 tahun 2003 tentang e-government; 30. Inpres nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan

Bahan Bakar Nabati (Bio-Fuel) sebagai Bahan Bakar Lain;

31. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

32. Peraturan Pemerintah nomor 44 tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman;

33. Peraturan Pemerintah nomor 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan;

34. Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah;

35. Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/ Lembaga;

36. Peraturan Pemerintah nomor 40 tahun 2006 tentang Tatacara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

37. Peraturan Pemerintah RI nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota;

38. Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPI);

39. Peraturan Pemerintah nomor 46 tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil;

40. Peraturan Pemerintah nomor 65 tahun 2012 tentang Makna Bekerja dan Nilai-Nilai Kementerian Pertanian;

(9)

9 | P a g e

41. Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;

42. Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2015 tentang Perubahan atas PP nomor 60 tahun 2014 tentang dana Desa yang bersumber dari APBN;

43. Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan;

44. Peraturan Menteri Keuangan nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar;

45. Peraturan Menteri Keuangan nomor 113/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (CPO fund);

46. Permen PPN/Kepala Bappenas nomor 5 tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan dan Penelaahan Renstra K/L tahun 2015-2019;

47. PermenPAN-RB nomor 1 tahun 2012 tentang Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB);

48. Peraturan Menteri Pertanian nomor 08/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja BBP2TP Surabaya;

49. Peraturan Menteri Pertanian nomor 09/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja BBP2TP Medan;

50. Peraturan Menteri Pertanian nomor 10/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja BBP2TP Ambon;

51. Peraturan Menteri Pertanian nomor 11/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPTP Pontianak;

52. Peraturan Menteri Pertanian nomor 7 tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan;

53. Peraturan Menteri Pertanian nomor 23 tahun 2009 tentang Pedoman Umum SPI;

54. Peraturan Menteri Pertanian nomor 20/Permentan/OT.140/2/2010 tentang Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian;

55. Peraturan Menteri Pertanian nomor 50/Permentan/OT.140/8/2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian;

(10)

10 | P a g e

56. Peraturan Menteri Pertanian nomor 79/Permentan/ OT.140/12/2012 tentang Pedoman Pembinaan dan Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A);

57. Peraturan Menteri Pertanian nomor 64 tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik;

58. Peraturan Menteri Pertanian nomor 98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan;

59. Peraturan Menteri Pertanian nomor 105/Permentan/PD.300/8/2014 tentang Integrasi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dengan Usaha Budidaya Sapi Potong;

60. Peraturan Menteri Pertanian nomor 14.1/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil Certification System/ISPO);

61. Peraturan Menteri Pertanian nomor 11/Permentan/RC.220/4/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus Percepatan Swasembada Pangan dan Peningkatan Produksi Komoditas Strategis melalui APBN-P tahun 2015;

62. Peraturan Menteri Pertanian nomor 11/Permentan/ OT.140/ 3/ 2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia

(Indonesian Sustainable Palm Oil Certification System/ ISPO);

63. Peraturan Menteri Pertanian nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian;

64. Peraturan Menteri Pertanian nomor 08/Permentan/KB.400/2/2016 tentang Pedoman Perencanaan Perkebunan Berbasis Spasial; 65. Peraturan BNPP nomor 1 tahun 2015 tentang Rencana Induk

Pengelolaan Perbatasan Negara tahun 2015-2019;

66. Keputusan Menteri Pertanian nomor 803/Kpts/OT.210/7/1997 tentang Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina;

67. Keputusan Menteri Pertanian nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang Jenis Komoditas Tanaman Binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura;

68. Keputusan Menteri Pertanian nomor 3599 tahun 2009 tentang Perubahan Lampiran Keputusan Menteri Pertanian nomor 511 Tahun 2006 tentang Jenis Komoditas Tanaman Binaan Direktorat Jenderal

(11)

11 | P a g e

Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura;

69. Keputusan Menteri Pertanian nomor 46/Kpts/PD.300/1/2015 tentang Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional;

70. Peraturan Direktur Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan nomor PER-3/ AG/ 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Penelaahan Informasi Kinerja Hasil Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) Kementerian Negara/ Lembaga;

71. SNI 6729:2010 tentang Sistem Pangan Organik; 72. SNI 6729:2013 tentang Sistem Pertanian Organik.

1.3. Kondisi Umum Pembangunan Perkebunan

Sub sektor perkebunan sejak berdirinya NKRI bahkan jauh sebelumnya telah memainkan peranan penting dalam pembangunan di Nusantara yang secara garis besar meliputi 3 aspek utama yaitu ekonomi, sosial budaya dan ekologi. Gambaran kontribusi sub sektor perkebunan dalam ketiga aspek dimaksud pada jangka menengah dapat dilihat dari kinerjanya baik secara makro maupun mikro selama periode 2010-2014 sebagai berikut:

1.3.1. Kinerja Pendanaan Pembangunan Perkebunan Tahun 2010-2014

Realisasi pendanaan Direktorat Jenderal Perkebunan melalui APBN untuk pembiayaan pembangunan perkebunan pada Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Perkebunan Berkelanjutan tahun 2010-2014 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Realisasi Penyediaan Dana APBN Untuk Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Perkebunan Berkelanjutan Tahun 2010-2014.

No. Kegiatan realisasi APBN (milyar rupiah) per tahun

2010 2011 2012 2013 2014 1. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan

Mutu Tanaman Semusim

- 101,78 231,58 779,58 511,36

2. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Tahunan

- 78,05 218,89 209,87 173,97

3. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Rempah dan Penyegar

- 1.503,55 728,03 354,23 325,71

4. Dukungan Penanganan Pascapanen dan Pembinaan Usaha

(12)

12 | P a g e

5. Dukungan Perlindungan Perkebunan - 25,66 28,70 77,47 76,81

6. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen. Perkebunan

- 194,86 183,42 134,49 129,09

7. Dukungan Pengujian dan Pengawasan Mutu Benih serta Penerapan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan (Surabaya, Medan dan Ambon)

- 73,99 72,95 181,03 66,60

8. Peningkatan Ketahanan Pangan 32,07 - - - -

9. Pengembangan Agribisnis 273,64 - - - -

10 .

Peningkatan Kesejahteraan Petani 78,18 - - - -

11 .

Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara

0,0 - - - -

12 .

Penyelenggaraan Pemerintah yang Baik 70,28 - - - -

Jumlah 454,12 1.981,02 1.488,77 1.772,82 1.320,62

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.

1.3.2. Kinerja Makro Pembangunan Perkebunan Tahun 2010-2014

Gambaran kinerja makro pembangunan perkebunan yang telah dicapai selama periode 2010-2014 disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kinerja Makro Pembangunan Perkebunan tahun 2010-2014. No. Indikator

capaian makro per tahun Laju

Pertumb. (%) Capaian 2010 Capaian 2011 Capaian 2012 Capaian 2013 Capaian 2014 1. Pertumbuhan PDB a. Harga Berlaku (Rp. Milyar) 136.049 303.403 323.362 358.172 398.261 9,16 b. Harga Konstan 2010 (Rp. Milyar) 47.151 281.465 301.020 319.533 338.502 4,99 2. Tenaga Kerja a. Keterlibatan (juta orang) 20,58 20,94 21,12 22,51 22,16 1,91 b. Pendapatan Pekebun (US$/KK) 1.600 1.702 1.832 1.886 1.891 4,31 3. Ekspor

a. Volume (ribu ton) 21.405,77 21.682,44 24.431,46 26.310,40 29.130,01 8,09

b. Nilai (US$ milyar) 24,73 32,22 29,96 26,77 26,78 3,17

4. Impor

a. Volume (ribu ton) 1.704,33 2.682,49 3.792,04 4.435,80 4.004,12 26,50

b. Nilai (US$ milyar) 1,51 2,87 4,19 4,13 3,94 32,49

5. Investasi (Rp. Triliun) 0,45 1,98 1,49 1,77 1,32 77,16 6. Neraca Perdagangan Perkebunan 23,23 29,36 25,77 22,63 22,84 0,73

(13)

13 | P a g e

(US$ milyar)

7. NTP Perkebunan Rakyat 106,50 109,58 108,34 106.,38 100,86 -1,31 8. Penerimaan Negara

Lainnya (Rp. Milyar) :

a. Cukai Hasil Tembakau 63.325,78 73.258,78 90.510,91 103.600,87 96.860,04 *) 11,80 b. Bea Keluar CPO dan

turunannya

4.157,81 13.334,86 17.563,57 14.909,87 9.144,24 *) 49,66

c. Bea Keluar Biji Kakao 510,37 354,00 123,07 231,48 176,04 *) -7,93 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.

Keterangan: *) Angka sementara

Tabel 2 memperlihatkan bahwa capaian pertumbuhan PDB selama 2010-2014 berdasarkan harga berlaku dan harga konstan menunjukkan pola pertumbuhan yang positif. Pola pertumbuhan PDB ini menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh penguatan kondisi perekonomian global. Walaupun terdapat sumber sentimen negatif atas perlambatan ekonomi Tiongkok dan Jepang yang selama ini menjadi mitra dagang utama Indonesia baik ekspor maupun impor tetapi pola ekspor komoditas perkebunan ke negara Uni Eropa, ASEAN dan Amerika Serikat diyakini berpengaruh positif terhadap pola pertumbuhan PDB yang juga berpengaruh terhadap trend positif volume dan ekspor komoditas perkebunan serta peningkatan neraca perdagangan. Faktor lainnya adalah peningkatan produksi dari beberapa komoditas unggulan perkebunan terutama komoditas andalan ekspor seperti komoditas kelapa sawit, karet, kelapa, tebu, kakao dan kopi.

Berdasarkan lapangan usaha, keterlibatan tenaga kerja perkebunan masih menunjukkan pertumbuhan positif. Rata-rata penyerapan tenaga kerja selama 2010-2014 adalah 21,46 juta orang dengan pertumbuhan sebesar 1,91%. Kemampuan sub sektor perkebunan dalam menarik minat tenaga kerja sebagian besar dipengaruhi penyerapan tenaga kerja dari komoditas kelapa sawit yang memberikan potensi ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat pekebun.

Impor komoditas perkebunan masih membanjiri pasar dalam negeri dengan peningkatan pertumbuhan yang tinggi yaitu 26,50% dari sisi volume dan 32,49% dari sisi nilai. Hal ini menjelaskan bahwa produsen nasional masih belum dapat memenuhi kebutuhan dan ketersediaan produk perkebunan olahan di dalam negeri baik dalam hal volume, kualitas dan daya saing harga. Direktorat Jenderal Perkebunan terus berupaya meningkatkan pengembangan komoditas ekspor perkebunan melalui fasilitasi anggaran dan regulasi tetapi perlu didukung oleh

(14)

14 | P a g e

Kementerian/Lembaga dan pemangku kepentingan perkebunan lainnya. Peran Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian BUMN dan Kementerian/Lembaga terkait lainnya sangat besar terutama dalam hal peningkatan produksi gula nasional di aspek hilir karena impor tebu (molasses) masih mendominasi impor komoditas perkebunan dengan volume impor sampai dengan tahun 2014 mencapai 2,99 juta ton dan nilai impor sebesar US$ 1,33 milyar.

Capaian laju pertumbuhan pendapatan pekebun selama 2010-2014 menunjukan trend positif dengan persentase pertumbuhan rata-rata mencapai 4,31%. Hal ini membuktikan bahwa komoditas perkebunan baik di pasar internasional maupun dalam negeri mampu menyediakan jaminan harga yang bersaing. Para pekebun sebagian besar sudah mengembangkan sistem budidaya yang baik melalui penerapan Good

Agriculture Practice (GAP) serta pengembangan sistem pertanian

polikultur, terpadu dan terintegrasi dengan ternak atau tanaman lain sehingga memiliki nilai tambah bagi pendapatan pekebun. Hal yang menggembirakan di sub sektor perkebunan adalah masuknya investasi yang menunjukkan pola positif dengan tumbuh sebesar 77,16% selama 5 tahun, hal ini didukung oleh iklim usaha perkebunan yang mendukung usaha budidaya perkebunan, jaminan pasar dan besarnya dukungan pemerintah dalam hal regulasi terhadap komitmen dunia usaha untuk berinvestasi.

Penerimaan negara lainnya seperti cukai hasil tembakau dan bea keluar CPO selama 5 tahun mengalami pola pertumbuhan yang meningkat signifikan. Laju pertumbuhan cukai hasil tembakau sampai dengan tahun 2014 sebesar 11,8%, sedangkan untuk bea keluar CPO dan turunannya sebesar 49,66%. Industri Hasil Tembakau mempunyai peran cukup besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai, penyerapan tenaga kerja, penerimaan ekspor dan perlindungan terhadap petani tembakau dan dampak ganda lainnya. Namun disisi lain, industri hasil tembakau juga memberikan efek negatif bagi aspek kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan terhadap industri hasil tembakau sepatutnya mempertimbangkan beberapa aspek yang saling bertolak belakang tersebut. Dalam hal ini, pemerintah telah memiliki

Roadmap Industri Hasil Tembakau yang disusun para stakeholder yang

berkepentingan. Dalam road map tesebut, arah kebijakan Industri Hasil Tembakau tahun 2015-2020 diprioritaskan pada aspek kesehatan masyarakat, tenaga kerja dan penerimaan negara.

(15)

15 | P a g e

Pada tabel 2 menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan cukai hasil tembakau mengindikasi semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat Indonesia pada komoditas tembakau (sebagian besar kebutuhan turunannya berupa rokok) baik kebutuhan dalam negeri maupun kebutuhan ekspor. Industri Hasil Tembakau memiliki sumbangan yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja yang merupakan salah satu objek sumber penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang berkaitan dengan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Lebih khusus, Industri Rokok telah memberikan kontribusi terbesar terhadap APBN Indonesia dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 7-10% per tahun dan nilai kontribusi cukai rokok tersebut selama 5 tahun lebih dari Rp. 427 triliun. Realisasi total produksi rokok pada tahun 2013 sebesar 341,9 miliar batang dan di tahun 2014 di proyeksikan mencapai 358-360 milyar batang (Ditjen. Beacukai, 2014). Dengan jumlah produksi sebesar itu, konsumsi rokok rata-rata masyarakat Indonesia tahun 2013 mencapai 302 milyar batang dan bila dikonversikan dengan jumlah konsumen maka terdapat sekitar 77,8 juta orang (dengan asumsi rata-rata perokok menghabiskan 1 bungkus/hari).

Landasan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan ekspor minyak sawit adalah dengan mengenakan pajak ekspor dalam bentuk Bea Keluar. Tujuan utamanya untuk menjaga stabilitas harga di pasaran domestik. Kebijakan Bea Keluar mampu mengubah komposisi produksi dan ekspor kelapa sawit Indonesia. Dominasi ekspor produk hulu secara bertahap digantikan produk hilir kelapa sawit sehingga nilai tambah pengolahan produk perlahan dapat dinikmati stakeholder kelapa sawit domestik.

Laju pertumbuhan rata-rata BK CPO dan turunannya tahun 2010-2014 cenderung meningkat signifikan tetapi jika dilihat pada tabel 2 dari tahun 2012-2014, pertumbuhan BK CPO dan turunannya cenderung menurun. Hal ini diakibatkan oleh sepanjang tahun 2012-2014 harga CPO sulit untuk terdongkrak naik karena harga minyak nabati lain seperti kedelai,

rapeseed dan biji bunga matahari juga mengalami penurunan karena

melimpahnya stok. Sepanjang tahun 2014 negara tujuan ekspor CPO terbesar Indonesia masih diduduki India, negara Uni Eropa dan Tiongkok. Ekspor CPO ke India cenderung menurun karena berbagai faktor seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi India akibat inflasi di dalam negeri yang tinggi, lemahnya nilai tukar rupee terhadap dollar AS pada pertengahan hingga akhir tahun. Hal ini juga diperparah dengan jatuhnya harga minyak dunia.

(16)

16 | P a g e

Untuk mengatasi jatuhnya harga CPO dunia, pemerintah menetapkan Bea Keluar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk ekspor. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, jika harga referensi CPO di bawah US$ 750 per metrik ton (MT) maka tidak dikenai BK (0%), sedangkan jika harga bergerak ke kisaran US$ 750-850 per MT akan dikenai 7,5% dan ketika harga referensi menyentuh US$ 1.250 per MT akan dipungut 22,5%. Kebijakan penghapusan Bea Keluar akan mendorong meningkatnya ekspor CPO. Disisi lain, CPO akan semakin unggul dalam persaingan dengan minyak nabati lain di perdagangan global.

Kebijakan tarif Bea Keluar untuk hilirisasi industri sawit bersifat eskalatif yang artinya tarif produk hulu dari minyak sawit dikenakan Bea Keluar lebih tinggi dibandingkan produk hilirnya. Hal ini bertujuan memberikan insentif bagi pelaku usaha dalam mengembangkan industri hilir di dalam negeri yang pada gilirannya nilai tambah (value added) pengolahan minyak sawit diharapkan dapat dinikmati ekonomi domestik. Di sisi lain, Pemerintah diharapkan dapat mempertimbangkan kembali struktur tarif Bea Keluar dengan skema baru. Struktur Bea Keluar nantinya didesain untuk memaksa agar produsen berinovasi dalam pengembangan dan penciptaan produk baru dari kelapa sawit yang bernilai tambah tinggi. Melihat anomali iklim di Indonesia, Industri sawit dalam negeri kedepan akan berada pada level yang stagnan dan bahkan cenderung menurun akibat harga CPO yang terus merosot. Namun, dengan mandatori biodiesel 10% (B10) yang diterapkan sejak tahun 2014 dan akan dinaikkan menjadi 20% (B20) pada tahun 2016 hingga B30 pada tahun 2020, maka akan ada peralihan dari bahan baku yang sesungguhnya akan diekspor dipergunakan untuk pasokan dalam negeri dengan tujuan pemenuhan bahan baku bio-diesel.

Terkait penerimaan negara lainnya yang sampai dengan tahun 2014 cenderung menurun adalah bea keluar biji kakao dengan laju pertumbuhan selama 5 tahun sebesar -7,93%. Penurunan penerimaan negara dari BK kakao disebabkan oleh melemahnya harga internasional untuk komoditas kakao sehingga ekspor kakao cenderung menurun. Disamping itu kakao Indonesia kurang dapat bersaing di pasar Internasional karena kualitas internasional lebih menginginkan kakao fermentasi, sedangkan pekebun kakao Indonesia masih sulit melakukan pascapanen biji kakao dalam bentuk fermented karena margin harga yang tidak jauh berbeda dengan biji kakao non fermented. Faktor

(17)

17 | P a g e

eksternal yang juga jadi pengaruh besar yaitu Pantai Gading dan Ghana sebagai Negara produsen utama kakao dunia sudah memasuki panen raya sehingga biji coklat dari dua negara ini membanjiri pasar internasional dan harga kakao dunia cenderung turun.

Kebijakan Pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar menetapkan BK biji kakao yaitu mematok tarif Bea Keluar (BK) sebesar 0-15% atas ekspor biji kakao dengan melihat patokan harga referensi biji kakao dunia. Untuk harga referensi sampai dengan US$ 2.000 tidak dikenakan tarif BK (0%), harga referensi US$ 2.000-2.750 ditetapkan tarif BK sebesar 5%, harga referensi US$ 2.750-3.500 ditetapkan tarif BK sebesar 10% dan harga referensi lebih dari US$ 3.500 ditetapkan tarif BK sebesar 15%. Kebijakan ini diambil untuk menghambat ekspor biji mentah dan mendorong hilirisasi industri kakao. Dengan demikian diharapkan industri kakao nasional lebih berdaya saing dan memberikan nilai tambah lebih bagi ekonomi nasional.

1.3.3. Kinerja Mikro Pembangunan Perkebunan Tahun 2010-2014

Berikut ini adalah kinerja mikro pembangunan yang telah dicapai dalam upayanya mengembangkan komoditas perkebunan selama tahun 2010-2014 yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Kinerja Luas Areal Komoditas Perkebunan tahun 2010-2014. No Komoditas

capaian luas areal (hektar) per tahun Laju Pertumb. (%) Capaian 2010 Capaian 2011 Capaian 2012 Capaian 2013 Capaian 2014 1. Karet 3.445.415 3.456.127 3.506.201 3.555.946 3.606.245 1,15 2. Kelapa Sawit 8.385.394 8.992.824 9.572.715 10.465.020 10.754.801 6,45 3. Kelapa 3.739.350 3.767.704 3.781.649 3.654.478 3.609.812 -0,86 4. Kopi 1.210.365 1.233.698 1.235.290 1.241.712 1.230.495 0,42 5. Kakao 1.650.621 1.732.641 1.774.464 1.740.612 1.727.437 1,18 6. Jambu Mete 570.930 575.841 575.920 554.315 531.154 -1,76 7. Lada 179.318 177.490 177.787 171.920 162.751 -2,37 8. Cengkeh 470.041 485.191 493.887 501.378 510.174 2,07 9. Teh 122.898 123.938 122.206 122.035 118.899 -0,82 10. Jarak Pagar 50.106 47.693 44.633 34.706 31.598 -10,61 11. Kemiri Sunan 918 944 995 1.057 1.062 3,73

(18)

18 | P a g e

12. Tebu 454.111 451.788 451.255 469.227 478.108 1,31

13. Kapas 10.194 10.238 9.565 8.738 3.670 -18,20

14. Tembakau 216.271 228.770 270.290 192.809 215.865 1,81

15. Nilam 24.472 28.615 31.155 28.226 20.714 -2,55

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.

Tabel capaian luas areal komoditas perkebunan sampai dengan tahun 2014 berfluktuasi tetapi sebagian besar menunjukkan laju pertumbuhan yang positif. Sampai dengan tahun 2014, berdasarkan analisis perhitungan bahwa luas areal 15 komoditas perkebunan rata-rata tumbuh sebesar 2,89%. Trend pertumbuhan luas areal tertinggi di capai oleh komoditas kelapa sawit yang berada di atas 6%. Komoditas kelapa sawit masih menjadi daya tarik pekebun dalam meningkatkan luas areal termasuk bukaan baru, terlebih banyaknya perusahaan perkebunan swasta yang berinvestasi untuk penanaman kelapa sawit. Kontribusi ekonomi cukup menarik pelaku usaha perkebunan kelapa sawit dalam meningkatkan luas areal pengembangannya walaupun fasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan hanya terbatas pada kegiatan sosialisasi penggunaan benih unggul, perluasan areal pada wilayah perbatasan/ daerah tertinggal, pengendalian OPT dan model pengembangan karena adanya pelimpahan tupoksi kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Selain komoditas kelapa sawit, komoditas perkebunan lainnya yang berorientasi ekspor juga menunjukkan pola pertumbuhan positif seperti cengkeh, tebu, karet, kakao, kopi dan tembakau. Sedangkan sampai dengan tahun 2014, komoditas kelapa, jambu mete, lada, teh, jarak pagar dan kapas menunjukkan pola negatif. Berbagai faktor menjadi penyebab terjadinya penurunan luas areal komoditas-komoditas tersebut, salah satu diantaranya adalah konversi ke komoditas lain yang lebih ekonomis. Tabel 4. Kinerja Produksi Komoditas Perkebunan tahun 2010-2014.

No Komoditas

capaian produksi (ton) per tahun Laju

Pertumb. (%) Capaian 2010 Capaian 2011 Capaian 2012 Capaian 2013 Capaian 2014 1. Karet (karet kering) 2.734.854 2.990.184 3.012.254 3.237.433 3.153.186 3,74 2. Kelapa Sawit (CPO) 21.958.120 23.096.541 26.015.518 27.782.004 29.278.189 7,50 3. Kelapa (kopra) 3.166.666 3.174.379 3.189.897 3.051.585 3.005.916 -1,28 4. Kopi (kopi berasan) 686.921 638.647 691.163 675.881 643.857 -1,44

(19)

19 | P a g e 5. Kakao (biji kering) 837.918 712.231 740.513 720.862 728.414 -3,16 6. Jambu Mete (gelondong kering) 115.149 114.789 116.915 116.113 131.302 3,48 7. Lada (lada kering) 83.663 87.089 91.039 91.039 87.448 1,17 8. Cengkeh (bunga kering) 98.386 72.207 99.890 109.694 122.134 8,22 9. Teh (daun kering) 156.604 150.776 145.575 145.460 154.369 -0,28 10. Jarak Pagar (biji kering) 7.081 6.576 6.424 4.821 4.467 -10,43 11. Kemiri Sunan (biji kering) 2 1 0 0 3 -37,50 12. Tebu (gula) 2.290.116 2.267.887 2.591.687 2.551.026 2.579.173 3,21 13. Kapas (serat berbiji) 3.174 2.275 2.948 1.871 761 -23,65 14. Tembakau (daun kering) 135.678 214.524 260.818 164.448 198.301 15,83 15. Nilam (minyak nilam) 2.206 2.866 2.648 2.082 2.103 0,49 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.

Tabel capaian produksi komoditas perkebunan sampai dengan tahun 2014 menunjukan pola fluktuatif tetapi sebagian besar menunjukkan laju pertumbuhan yang positif. Berdasarkan analisis perhitungan bahwa pertumbuhan produksi 15 komoditas perkebunan sampai dengan tahun 2014 tumbuh cukup tinggi yaitu rata-rata sebesar 5,60%. Perkembangan produksi komoditas perkebunan umumnya di dorong oleh kondisi pasar yang kondusif, di samping komitmen pemerintah dan pelaku usaha yang turut berkontribusi dalam mengembangkan komoditas tersebut.

Usaha perkebunan tembakau didominasi oleh perkebunan rakyat. Tingginya laju produksi rata-rata tembakau menunjukkan besarnya kekuatan sumber daya pekebun dalam mengembangkan suatu komoditas yang dapat memberikan jaminan harga yang remuneratif meskipun dibatasi oleh berbagai peraturan dan tanpa adanya bantuan input produksi dari APBN. Namun demikian, peran Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi tembakau, masih tetap dilakukan terutama dalam hal pembinaan dan pengawalan serta pemberdayaan petani baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Adanya alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) kepada daerah penghasil tembakau, memungkinkan Pemerintah Daerah membina para pekebun tembakau di wilayahnya secara lebih intensif.

Usaha perkebunan kelapa sawit, meskipun didominasi oleh perusahaan perkebunan besar (±59%) namun kontribusi perkebunan rakyat dalam peningkatan produksi kelapa sawit nasional tidak dapat diabaikan. Laju

(20)

20 | P a g e

peningkatan produksi rata-rata selama periode 2010-2014 dapat lebih ditingkatkan apabila berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pekebun kelapa sawit, seperti dominannya tanaman tua di pertanaman dan buruknya infrastruktur, dapat diselesaikan dalam skala yang lebih luas. Fasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan melalui APBN untuk pengembangan komoditas kelapa sawit dilakukan melalui kegiatan demplot model peremajaan kelapa sawit, penanganan OPT, perluasan areal di daerah perbatasan/ daerah tertinggal, pergantian benih tidak bersertifikat dengan benih unggul bermutu dan bersertifikat dalam skala terbatas, serta mendorong lebih banyak pekebun untuk dapat memanfaatkan fasilitas subsidi bunga perbankan yang disalurkan melalui skim kredit program Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) dalam rangka pengembangan usaha perkebunan kelapa sawitnya.

Fasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan untuk komoditas cengkeh, karet, jambu mete dan lada selama 5 tahun ini cukup berhasil. Hal ini dibuktikan sampai dengan tahun 2014, laju pertumbuhan produksi rata-rata keempat komoditas tersebut mencapai 1-8%. Selama ini kegiatan peremajaan, rehabilitasi, intensifikasi dan perluasan tanaman cengkeh, jambu mete dan lada serta kegiatan peremajaan, intensifikasi dan perluasan tanaman karet di wilayah khusus (perbatasan, daerah tertinggal, pasca bencana dan pasca konflik) cukup mengangkat tingkat produksi tanaman.

Dalam usaha perkebunan tebu, selama periode 2010-2014 terjadi peningkatan produksi tebu yang cukup signifikan. Rasionalisasi atau penataan varietas tebu untuk mendapatkan komposisi varietas tebu unggul dan penerapan sistem tebangan Manis, Bersih dan Segar (MBS) menjadi salah satu pengungkit peningkatan produksi tebu. Peran pemerintah pusat dalam APBN diwujudkan dalam bentuk penyediaan benih unggul bermutu melalui pembangunan Kebun Benih Induk (KBI) dan Kebun Benih Datar (KBD) menggunakan teknik kultur jaringan, bantuan alat dan mesin pertanian, bongkar ratoon, rawat ratoon dan perluasan areal pada daerah potensial pengembangan tebu.

Komoditas kemiri sunan, kapas, jarak pagar, kakao, kopi, kelapa dan teh menunjukkan laju pertumbuhan produksi dengan pola negatif yang cukup tinggi sampai dengan tahun 2014 yaitu berturut-turut sebesar -37,50%, -23,65%, -10,43%, -3,16%, -1,44%, -1,28% dan -0,28%. Untuk Kemiri Sunan, secara umum hal ini disebabkan kegiatan pengembangan Kemiri Sunan selama periode 2010-2014 baru dimulai rintisannya tahun 2011

(21)

21 | P a g e

dan diarahkan pada perluasan areal penanaman sehingga diproyeksikan baru berproduksi pada tahun 2015. Adapun biji kemiri sunan dari pohon-pohon kemiri sunan yang tumbuh secara alami tidak dipanen karena fasilitas unit pengolahannya belum cukup tersedia.

Untuk komoditas kapas, rendahnya trend produksi antara lain disebabkan jaminan pasar dan harga yang kurang bersaing untuk menarik minat petani dalam membudidayakan kapas. Untuk komoditas jarak pagar, masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar dapat dihasilkan varietas unggul baru, teknik budidaya jarak pagar yang produktivitasnya tinggi dan mekanisme usahanya ditingkat petani yang dapat menghasilkan keuntungan. Pada komoditas kakao, walaupun program Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas) Kakao cukup memberikan dampak bagi kinerja komoditas kakao tetapi persoalan serangan OPT dan banyaknya tanaman tua/ rusak menjadi faktor penyebab terbesar dari penurunan produksi. Kendala lahan dan produktivitas masih menjadi simpul kritis pengembangan kopi ditengah meningkatnya permintaan dunia akan biji kopi berkualitas. Untuk komoditas kelapa, banyaknya tanaman tua/ rusak dan rendahnya produktivitas, persoalan lahan cukup berpengaruh terhadap penurunan produksi. Kendala peningkatan produksi komoditas teh sebagian besar disebabkan produktivitas tanaman yang menurun akibat banyaknya tanaman tua/rusak sehingga kedepan perlu adanya kegiatan peremajaan tanaman.

Tabel 5. Kinerja Produktivitas Komoditas Perkebunan tahun 2010-2014 No Komoditas

capaian produktivitas (kg/ha) per tahun Laju Pertumb. (%) Capaian 2010 Capaian 2011 Capaian 2012 Capaian 2013 Capaian 2014 1. Karet 986 1.071 1.073 1.083 1.053 1,72 2. Kelapa Sawit 3.595 3.526 3.722 3.536 3.601 0,12 3. Kelapa 1.159 1.158 1.157 1.130 1.136 -0,49 4. Kopi 756 702 745 739 716 -1,23 5. Kakao 804 821 850 880 880 2,30 6. Jambu Mete 371 367 364 359 416 3,16 7. Lada 756 784 771 776 776 0,66 8. Cengkeh 322 238 325 350 391 7,48 9. Teh 1.553 1.477 1.467 1.465 1.683 2,29 10. Jarak Pagar 462 434 342 309 306 -9,47

(22)

22 | P a g e 11. Kemiri Sunan 667 250 0 0 0 0,00 12. Tebu 5.292 5.030 5.770 5.467 5.406 0,84 13. Kapas 380 303 333 288 220 -11,85 14. Tembakau 884 950 1.009 928 947 1,92 15. Nilam 119 132 110 120 149 6,96

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.

Berdasarkan analisis perhitungan bahwa trend pertumbuhan produktivitas rata-rata 15 komoditas perkebunan sampai dengan tahun 2014 mengalami pola negatif sebesar -0,52%. Walaupun demikian, sebagian besar komoditas yang menunjukkan laju pertumbuhan produktivitas yang positif. Komoditas cengkeh, nilam, jambu mete, kakao, teh, tembakau, karet, tebu, lada dan kelapa sawit menunjukkan trend pertumbuhan produktivitas yang positif dengan persentase range antara 0,12-7,48% sampai dengan tahun 2014 sedangkan laju pertumbuhan produktivitas komoditas kapas, jarak pagar, kopi dan kelapa menunjukkan pola negatif.

Laju pertumbuhan produksi beberapa komoditas perkebunan diiringi dengan meningkatnya produktivitas tanaman. Hal ini ditunjukkan pada komoditas tembakau, cengkeh, kelapa sawit, karet, jambu mete, tebu, lada dan nilam. Kedelapan komoditas tersebut menunjukkan trend positif yang disebabkan oleh kontribusi kegiatan-kegiatan yang dialokasikan Direktorat Jenderal Perkebunan pada sentra-sentra produksi untuk memacu produktivitas tanaman seperti 1) kegiatan peremajaan dan perluasan areal pada komoditas karet dan jambu mete; 2) intensifikasi dan rehabilitasi pada komoditas cengkeh dan lada, 3) kegiatan pengendalian OPT dan SL-PHT, 4) kegiatan rawat ratoon, bongkar

ratoon, perluasan areal dan bantuan peralatan pada komoditas tebu; 5)

kegiatan pengembangan komoditas nilam dan tembakau dalam skala terbatas; 6) pengembangan komoditas kelapa sawit yang meliputi pergantian benih bersertifikat, model pengembangan dan perluasan daerah khusus; dan 7) pemberdayaan petani yang secara tidak langsung membina petani untuk meningkatkan produktivitas tanamannya.

Laju pertumbuhan produktivitas kapas dan jarak pagar menunjukkan pola negatif yang cukup besar. Rendahnya produktivitas jarak pagar pada dasarnya disebabkan belum adanya varietas tanaman yang dapat menghasilkan produksi yang maksimal dengan rendemen yang layak untuk bahan baku sumber bahan bakar nabati (BBN). Selain itu keterbatasan lahan masih menjadi kendala budidaya. Kedepan,

(23)

23 | P a g e

pengembangan komoditas jarak pagar dititikberatkan pada penelitian untuk menghasilkan varietas-varietas unggul dan peran Badan Litbang Pertanian akan sangat penting dalam menciptakan varietas-varietas unggul komoditas jarak pagar. Berkaitan dengan hal tersebut, komoditas jarak pagar tidak lagi menjadi komoditas perkebunan unggulan nasional pada Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Perkebunan periode 2015-2019.

Ketidakpastian iklim menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi penurunan produktivitas tanaman kapas. Disamping itu penurunan animo para pekebun untuk mengusahakan kapas terkait harga jual serat kapas berbiji yang dianggap tidak memberikan keuntungan juga menjadi faktor penyebab penurunan produktivitas kapas.

1.4. Potensi dan Tantangan

Sebagai salah satu institusi pelaksana pembangunan perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan harus dapat merumuskan kebijakan, menyusun strategi, program serta kegiatan yang dapat mengoptimalkan potensi dan menjawab tantangan pembangunan perkebunan selama 5 tahun kedepan.

1.4.1. Potensi Pembangunan Perkebunan

Pembangunan perkebunan kedepan akan tetap berfungsi sebagai salah satu pilar ekonomi yang akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dimungkinkan apabila kita dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ada baik peluang secara umum maupun peluang secara khusus menyangkut kondisi Direktorat Jenderal Perkebunan sebagai berikut:

A. Potensi Pembangunan Perkebunan secara umum

Berikut ini akan dijabarkan beberapa potensi pembangunan perkebunan yang secara umum berkaitan dengan kondisi sumber daya alam, lahan dan air, sumber daya insani, inovasi teknologi, lingkungan, demografi, bahan baku biologi/ benih, sistem infomasi manajemen, partisipasi masyarakat, semangat desentralisasi, anggaran, kelembagaan, pasar dan aspek kepemerintahan/ reformasi birokrasi dalam membangun perkebunan kedepan.

(24)

24 | P a g e

Kondisi alam Indonesia merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dapat dieksplorasi untuk menjadi modal penting pembangunan perkebunan. Sebagai negara tropis maka Indonesia secara alami merupakan kawasan dengan efektivitas dan produktivitas yang tinggi dalam pemanenan dan transformasi energi matahari menjadi bio-massa dan feedstock bio-industry. Kondisi ini juga dapat menjadi basis keunggulan kompetitif dalam bio-economic. Bio-economic adalah semua aktivitas ekonomi yang menggunakan sumberdaya hayati untuk menghasilkan bahan kimiawi, material dan bahan bakar nabati untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu negara mega biodiversity yang mempunyai jumlah keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Walaupun luas daratannya hanya 1,3% dari seluruh daratan bumi tetapi Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat berlimpah. Sekitar 10% varietas bunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptil dan amphibia, 17% spesies burung serta 25% spesies ikan terdistribusi di Indonesia. Sebagian spesies bahkan tidak terdapat di belahan bumi lain. Potensi sumber hayati berasal dari tumbuhan ada sekitar 40.000 yang terdiri dari 5.000 jenis jamur, 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah.

Melimpahnya keanekaragaman flora merupakan potensi sumber daya genetik untuk menghasilkan klon/varietas unggul perkebunan disamping dapat dimanfaatkan sebagai bahan bio-fuel, bio-pesticide, bio-fertilizer atau untuk tujuan komersial lainnya. Selain itu, keanekaragaman hayati tersebut merupakan tumpuan hidup manusia karena setiap orang membutuhkannya untuk menopang kehidupan, sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri, farmasi dan obat-obatan. Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati adalah melalui perdagangan tanaman obat dengan nilai perdagangan tanaman obat dan produk berasal dari tumbuhan termasuk suplemen. Selain berfungsi untuk menunjang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Lebih berkembang lagi, beberapa tanaman merupakan komoditas spesifik perkebunan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga sangat berpotensi untuk mengisi pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam bidang pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) perkebunan adanya potensi hayati dari organisme berupa jamur, bakteri,

(25)

25 | P a g e

virus, nematode, mikroplasma, protozoa atau jasad renik lainnya (mikroorganisme antagonistic), serta golongan hewan dan serangga yang bersifat predator (parasitoid). Organisme tersebut keberadaannya di alam memegang peran yang sangat penting dan ikut menentukan keseimbangan alam.Oleh karena itu sering disebut musuh alami untuk pengendalian hama, penyakit dan organisme penganggu tanaman perkebunan.

Keberadaan musuh alami ini sering mengalami goncangan bahkan hampir menghilang, hal ini sebagai konsekuensi logis dari perubahan bioekosistem, khususnya agroekosistem akibat tindak kelola yang dijalankan manusia atau tata perubahan alami yang terjadi di lingkungan karena pengaruh biotik dan abiotik sehingga potensinya tidak optimal dan jauh tertinggal dari populasi OPT-nya. Hal ini menjadikan sering muncul program OPT dan bumerang bagi manusia itu sendiri. Oleh karena itu dengan adanya Undang-Undang Budidaya Tanaman nomor 12 Tahun 1992 dapat dipakai sebagai landasan, mengingat pada pasal 60 menyebutkan bahwa barang siapa yang merusak sumber daya alam/kelestarian lingkungan akan dikenai pidana dan denda cukup berat (dipidana penjara 5 tahun dan denda 250 juta rupiah). Pada pasal 20 lebih ditegaskan lagi bahwa di dalam usaha perlindungan tanaman agar dilaksanakan melalui Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dimana pemanfaatan musuh alami yang berupa organisme (Agensia Hayati) menjadi prioritas utama. Hal ini terlihat betapa besar perhatian pemerintah dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati serta sekaligus mengoptimalkan potensinya dalam budidaya tanaman.

Indonesia juga memiliki sumberdaya biofisik yang cukup beragam untuk mendukung pengembangan pertanian antara lain adalah ketersedian tanah, hara, dataran rendah dan tinggi, curah hujan yang merata di sebagian wilayah, sinar matahari yang terus menyinari sepanjang tahun, kelembaban udara dan organisme-organisme serta setidaknya memiliki 47 ekosistem alami yang berbeda. Kita bisa menjumpai padang es dan padang rumput dataran tinggi di Papua. Beragam hutan basah dataran rendah di Kalimantan dan Sumatera. Adapula ekosistem danau yang dalam dan rawa dangkal. Untuk itu, agar keanekaragaman hayati dan agoekosistem tidak terancam kelestariannya, maka kita harus arif dan bijaksana dalam memanfaatkannya, dengan mempertimbangkan aspek aspek manfaat dan kelestariannya.

(26)

26 | P a g e

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati dalam bentuk komoditas pangan dan perkebunan sebagai sumber pemanfaatan bio-economic. Bio-economic mengacu pada semua aktivitas ekonomi menggunakan sumberdaya hayati untuk menghasilkan bahan kimiawi, material dan bahan bakar nabati untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pengembangan bio-economic dipacu oleh semakin tingginya tuntutan atas produk pangan berkualitas termasuk

functional food.

Pengembangan bio-economic juga telah berkontribusi nyata pada peningkatan harga komoditas pangan utama dunia selama 5 tahun terakhir. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) memperkirakan kedepan era harga bahan pangan murah telah berakhir, dan ini salah satunya dipicu karena makin beragamnya pemanfaatan pangan, termasuk untuk sumber energi dan produk turunan lainnya yang terkait dengan bio-economic.

Bio-economic berbasis dari pemanfaatan dan pengembangan pemanenan energi matahari melalui proses hayati. Keunggulan alam tropika dalam penyediaan proses hayati dalam pemanenan energi matahari harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Iklim tropika dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia harus dimanfaatkan sebesar-besarnya melalui pengembangan teknologi dan kelembagaan yang mampu mengembangkan bio-economic tropical. Agar tidak tertinggal dari negara lain maka kedepan pembangunan pertanian harus didasarkan pada konsep bio-economic yang membuka peluang pemanfaatan semua bio-massa yang dihasilkan kegiatan pertanian pada produk yang bernilai ekonomi tinggi.

3) Peningkatan permintaan dunia terhadap 4F Crops (Food, Feed, Fiber

and Fuel)

Indonesia memiliki peluang yang sangat besar karena keunggulan komparatif Indonesia sebagai negara agraris dan memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, selain itu komoditas unggulan perkebunan yang dapat ditanam diberbagai kondisi. Tetapi, untuk menjadikan komoditas unggulan perkebunan ini unggul secara kompetitif maka diperlukan penanganan yang baik seperti budidaya yang baik dan ramah lingkungan, penanganan pascapanen serta penggunaan benih unggul dan sarana produksi yang berkualitas.

Komoditas perkebunan di Indonesia memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber pangan manusia (food), sumber pakan

(27)

27 | P a g e

ternak (feed), kebutuhan serat pangan (fiber) untuk pupuk organik dan bahan bakar bio-massa dan kebutuhan minyak nabati (fuel) untuk kebutuhan bahan bakar nabati (BBN). Peluang ini perlu dimanfaatkan karena semakin tingginya permintaan dunia akan produk 4F Crops yang ramah lingkungan sebagai implikasi dari menipisnya cadangan fosil didunia. Kedepan pemanfaatan komoditas perkebunan sebagai sumber 4F Crops akan bertransformasi kedalam pemanfaatan komoditas/produk sebagai sumber 4-bio-F Crops (bio-food, bio-feed, bio-fiber and bio-fuel). Berkaitan dengan potensi fuel untuk menggantikan bahan bakar minyak (BMM) dan bahan bakar gas (BBG) yang berasal dari sumber daya fosil yang dari masa ke masa jumlahnya semakin terbatas dan akan habis, karena sumber energi tersebut memiliki sifat irreneweble (tidak dapat diperbaharui) meskipun sampai dengan saat ini dipakai sebagai sumber energi penggerak utama transportasi, industri dan juga pertanian. Sejak dieksploitasi mulai abad 20-an diperkirakan sumberdaya ini fosil semakin langka. Dengan terbatasnya ketersediaan energi dan fosil, maka harus dicarikan sumber energi alternatif lain. Dari hasil penelitian beberapa komoditas pertanian khususnya tanaman perkebunan yang dapat diolah menjadi sumber energi, seperti 1) komoditas kelapa sawit, kelapa, kemiri sunan, jarak pagar, nyamplung dan lain-lain sebagai sumber pemanfaatan bio-disel; 2) komoditas tebu, sagu, aren, nipah dan lain-lain sebagai sumber pemanfaatan bio-ethanol dan 3) limbah/ sisa tanaman dan kotoran ternak dapat diolah menjadi sumber bio-massa. Ketiga sumber energi dari hayati tersebut dapat disebut Bahan Bakar Nabati (BBN) dan dapat dikembangkan dengan baik karena bersifat renewable (dapat diperbaharui). Yang menjadi tantangan kedepan adalah bagaimana pola budidaya yang tepat, menemukan varietas yang dapat meningkatkan produktivitas dan sistem pascapanen yang baik sehingga akan meningkatkan permintaan terhadap BBN dan pada akhirnya akan memberikan peluang pasar baru bagi produk hasil perkebunan bagi pekebun.

4) Kecenderungan baru penghargaan atas jasa lingkungan dan jasa

amenity

Lahan perkebunan tidak hanya penghasil bahan makanan, serat dan energi tetapi juga mempunyai multifungsi yang menghasilkan jasa lingkungan dan jasa amenity. Jasa lingkungan dan jasa amenity lahan perkebunan antara lain penyedia sumber air tanah dan oksigen, pengendali banjir, pencegah erosi/ longsor dan sedimentasi, mempertahankan suhu udara, mendaur ulang limbah, menjaga kualitas

(28)

28 | P a g e

udara/ purifikasi, pengatur tata air dan menjaga keberadaan sumber daya air, memitigasi perubahan iklim, sumber keindahan dan kenyamanan, pelestari keanekaragaman hayati, pelestari budaya pedesaan, dan sebagainya.

Nilai manfaat jasa lingkungan dan amenity lahan perkebunan sudah mempunyai pasar, dan ini dapat dilihat dari berkembangnya beragam

eco-tourism atau wisata alam di wilayah perkebunan dengan harga jual

yang kompetitif. Berbagai jasa pariwisata ke kawasan sentra perkebunan (misalnya perkebunan teh) yang memberi pengunjung keindahan areal perkebunan serta kesempatan merasakan kehidupan pekebun telah berkembang sebagai paket pariwisata yang ditawarkan berbagai resort wisata. Kedepan dengan makin besarnya kecenderungan urbanisasi maka kebutuhan akan amenity atau kenyamanan lingkungan yang didapat dari wilayah perdesaan dengan lahan pertanian akan semakin besar sehingga nilai tambah dari kegiatan perkebunan akan semakin kompetitif. Seiring dengan berkembangnya sistem nilai dan kelembagaan, di masa datang, jasa-jasa amenity dan lingkungan dari kegiatan perkebunan akan semakin dapat diperdagangkan dan diinternalisasikan dalam mekanisme pasar. Selain itu, jasa-jasa amenity yang lain adalah dipergunakannya sentra-sentra pengembangan komoditas perkebunan baik model pengembangan maupun kawasan budidaya sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pelatihan di kalangan pegawai swasta, pelajar sekolah menengah, mahasiswa perguruan tinggi, para peneliti dan stakeholder lainnya.

Secara umum, berbagai praktek perkebunan bisa menghasilkan jasa lingkungan dan multifungsi yang negatif (negative externalities), namun sistem perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan akan memberikan

positive externalities. Sistem perkebunan berbasis pohon/ tanaman

tahunan, terutama sistem multistrata seperti agroforestry, cenderung memberikan berbagai jasa lingkungan yang positif. Sebaliknya sistem pertanian lahan kering berbasis tanaman semusim yang dikelola secara intensif di lahan berlereng curam, cenderung memberikan berbagai eksternalitas yang negatif. Kesemuanya tergantung pengelolaan dan strategi untuk mengubah negative externalities menjadi positive

externalities atau strategi mempertahankan positive externalities.

Pendekatan yang dilakukan dalam peningkatan jasa lingkungan antara lain: 1) pendekatan hukum untuk meningkatkan insentif praktek perkebunan yang memberikan fungsi lingkungan positif dan dis-insentif untuk praktek perkebunan yang berdampak negatif terhadap fungsi

(29)

29 | P a g e

lingkungan; 2) pendekatan sektoral yang aktivitasnya berdampak mengurangi atau menghilangkan kemampuan sektor pertanian dalam menghasilkan jasa lingkungan, seperti Undang-Undang 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan; dan 3) insentif finansial dan bantuan teknis untuk mengembangkan sistem pertanian yang memberikan peningkatan nilai ekonomi dan sekaligus jasa lingkungan.

Berikut ini pada Tabel 6 menunjukkan jasa lingkungan sub sektor perkebunan dan strategi peningkatan nilai positif jasa lingkungan.

Tabel 6. Jasa Lingkungan Sub Sektor Perkebunan dan Strategi Peningkatan Nilai Positif Jasa Lingkungan

No. Jasa Lingkungan Positif

Jasa Lingkungan Negatif

Strategi Peningkatan Nilai Positif Jasa

Lingkungan 1. Tanaman pohon-pohonan: a. Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan CO2

yang relatif tinggi b. Meningkatkan daya infiltrasi tanah dan mengurangi erosi/ tanah longsor Tanaman pohon-pohonan: a. Memiliki biodiversitas yang rendah bila dalam bentuk monokultur Strategi: a. Memperbanyak keberadaan sistem pertanian berbasis pohon-pohon melalui rehabilitasi lahan terlantar/ sub optimal menjadi sistem pertanian berbasis pohon b. Meningkatkan biodiversitas melalui system multistrata/ agroforestry c. Pemgembangan usaha pertanian polikultur 2. Tanaman semusim (annual) dan 2 musim (biennial): a. Penyedia sumber oksigen b. Pengendali banjir c. Eco-tourism jika dikelola dengan baik dan terintegrasi dengan usaha Tanaman semusim (annual) dan 2 musim (biennial):

a. Sumber erosi dan sedimentasi b. Pencemaran oleh residu bahan agrokimia Strategi: a. Penerapan inovasi teknologi konservasi tanah dan agroforestry b. Mendaur ulang sisa

tanaman c. Peningkatan efisiensi pemupukan dan penggunaan pestisida organik (pertanian organik)

(30)

30 | P a g e agribisnis lain berbasis keindahan alam perdesaan d. Sarana pendidikan, pelatihan dan penelitian d. Integrasi dengan ternak (nilai tambah) e. Penerapan model pengembangan komoditas perkebunan dengan basis penelitian dan pendidikan 3. Pertanian dilahan gambut: a. Sumber keanekaragaman hayati Pertanian dilahan gambut: a. Sumber emisi CO2 melalui GRK dan terganggunya tata air Strategi:

a. Pengaturan tata air dan mengurangi kedalaman saluran drainase

b. Intensifikasi pertanian pada areal eksisting di lahan gambut agar tekanan terhadap perluasan areal dapat di kurangi c. Meminimalkan penggunaan lahan gambut untuk perluasan areal pertanian dan mengutamakan penggunaan lahan mineral

d. Inovasi dan teknologi pemanfaatan lahan gambut yang

diarahkan pada sistem penggunaan dan pengelolaan lahan yang dapat meningkatkan daya adaptabilitas dan ketangguhan (resilience) sistem tersebut dan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan yang lebih tinggi

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2016-2021 merupakan penjabaran dari visi, misi, tujuan , strategi, kebijakan, program

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Tegal Tahun 2019-2024 merupakan dokumen yang berisi identifikasi permasalahan, isu

(RDKK) Pupuk Bersubsidi, dianggarkan sebesar Rp. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian / Perkebunan. a) Promosi atas Hasil Pertanian / Perkebunan

Berdasarkan pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pada triwulan I tahun 2015 target yang telah dibebankan sesuai dengan Perjanjian Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2015

Penyusunan Renstra Dinas Pertanian Kota Bogor tahun 2010-2014 dimaksudkan sebagai dokumen perencanaan jangka menengah yang menjabarkan RPJMD Kota Bogor tahun

Pencapaian target kinerja DISKOMINFO 2015 (Renstra 2015-2019), secara keseluruhan rata-rata nya mencapai adalah 85%, dari 6 indikator terdapat4 indikator kinerja

Renstra Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016 - 2021 memuat visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, program dan kegiatan pokok pembangunan sesuai

Rencana Strategis Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2011-2015, selanjutnya disingkat dengan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu 2011- 2015,