ARAH KEBIJAKAN, SASARAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN
B. Arah Kebijakan Khusus
2.4. Sasaran Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan
Dalam RPJMN tahun 2015-2019 ditetapkan 9 agenda prioritas NAWACITA yang menunjukkan sasaran prioritas pembangunan nasional dalam mewujudkan jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Perumusan agenda prioritas NAWACITA yang menjadi tupoksi Ditjen. Perkebunan adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik melalui peningkatan kedaulatan pangan dengan sasaran produksi gula tahun 2019 mencapai 3,8 juta ton. Selain itu agenda prioritas terkait akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan agroindustri berbasis komoditas perkebunan dengan sasaran produksi tahun 2019 untuk komoditas kelapa sawit sebesar 36,42 juta ton CPO; komoditas karet sebesar 3,81 juta ton karet kering; komoditas kakao sebesar 961 ribu ton biji kering; komoditas teh sebesar 162,7 ribu ton daun kering; komoditas kopi sebesar 778 ribu ton kopi berasan; dan komoditas kelapa sebesar 3,49 juta ton setara kopra.
Sasaran pokok pembangunan nasional tersebut dijabarkan lebih lanjut kedalam 11 (sebelas) Sasaran Strategis Kementerian Pertanian tahun 2015-2019 yang meliputi:
1) Meningkatnya produksi padi, jagung, kedelai, daging dan gula. 2) Terjaminnya distribusi pangan.
3) Meningkatnya akses dan pemanfaatan pangan dan gizi. 4) Meningkatnya konsumsi pangan lokal.
5) Stabilnya produksi cabai dan bawang merah.
6) Berkembangnya komoditas bernilai tambah dan berdaya saing. 7) Tersedianya bahan baku bioindustri dan bioenergy.
8) Meningkatnya kualitas sumber daya insani. 9) Meningkatnya pendapatan keluarga petani.
10) Meningkatnya kualitas aparatur dan layanan kelembagaan pertanian. 11) Meningkatnya akuntabilitas kinerja Kementerian Pertanian.
Dari sebelas sasaran strategis tersebut, Ditjen. Perkebunan bertanggungjawab terhadap 7 sasaran strategis yaitu sasaran strategis
142 | P a g e
yang berkaitan dengan 1) peningkatan produksi gula, 2) pengembangan komoditas bernilai tambah dan berdaya saing, 3) Penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergy; 4) peningkatan kualitas sumber daya insani; 5) peningkatan kualitas aparatur dan layanan kelembagaan pertanian; 6) peningkatan akuntabilitas kinerja Kementerian Pertanian; dan 7) peningkatan pendapatan keluarga petani. Kesemua sasaran strategis Kementerian Pertanian tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan arah pembangunan pertanian sebagaimana tercantum dalam dokumen Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) tahun 2013-2045.
Untuk mendukung pencapaian sasaran strategis nasional dan sasaran strategis Kementerian Pertanian tahun 2015-2019, sesuai tugas pokok dan fungsinya, Direktorat Jenderal Perkebunan menetapkan sasaran strategisnya untuk periode 2015-2019 yang difokuskan pada peningkatan produksi dan produktivitas 16 komoditas strategis yang menjadi unggulan nasional perkebunan dengan target per tahun sebagaimana diuraikan dalam Tabel 12 untuk proyeksi luas tanaman menghasilkan (TM), Tabel 13 untuk proyeksi produksi dan Tabel 15 untuk proyeksi produktivitas. Tabel 12. Proyeksi Luas Tanaman Menghasilkan/TM (hektar)
Komoditas Perkebunan tahun 2015-2019 No. Komoditas
proyeksi luas TM (hektar) per tahun Laju Pertumb. (%) 2015 2016 2017 2018 2019 1. Tebu 445.000 450.000 463.000 489.000 519.000 3,94 2. Kelapa Sawit 7.717.000 7.728.000 7.799.000 7.930.000 8.121.000 1,29 3. Karet 3.055.000 3.106.000 3.156.000 3.206.000 3.257.000 1,61 4. Kelapa 2.653.000 2.662.000 2.673.000 2.684.000 2.696.000 0,40 5. Kakao 1.180.000 1.208.000 1.238.000 1.267.000 1.278.000 2,02 6. Kopi 966.000 972.000 981.000 991.000 1.006.000 1,02 7. Teh 121.900 122.400 122.500 122.900 123.100 0,25 8. Lada 116.500 117.000 117.600 118.000 118.700 0,47 9. Cengkeh 309.000 310.000 312.000 316.000 320.000 0,88 10. Pala 150.000 157.000 164.000 171.000 178.000 4,37 11. Jambu Mete 334.900 335.000 341.000 344.000 347.000 0,89 12. Nilam 31.900 32.200 32.400 32.600 32.800 0,70 13. Kapas 7.000 7.000 7.000 7.000 7.000 0,00 14. Tembakau 274.000 279.000 285.000 291.000 296.000 1,95 15. Kemiri Sunan 25 25 25 25 25 0,00 16. Sagu 1.400 1.400 1.400 1.400 1.400 0,00
143 | P a g e
Hasil analisis laju pertumbuhan rata-rata proyeksi luas tanaman menghasilkan (TM) dari 16 komoditas unggulan perkebunan tahun 2015-2019 seperti pada Tabel 12 adalah sebesar 1,33%. Komoditas dengan proyeksi laju pertumbuhan tanaman menghasilkan (TM) yang tertinggi adalah komoditas pala, tebu dan kakao dengan laju pertumbuhan antara 2-4% selama 5 tahun mendatang. Hal ini membuktikan bahwa komoditas kakao masih menjadi primadona dalam pengembangannya setelah era program Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas Kakao) yang dicanangkan Direktorat Jenderal Perkebunan selama tahun 2009-2013. Komoditas tebu akan terus difasilitasi pengembangannya melalui kegiatan yang ditujukan untuk peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman serta kegiatan pembukaan lahan baru pada daerah yang memiliki potensi pengembangan tebu secara agroekosistem. Sedangkan komoditas pala selama ini telah dibudidayakan oleh masyarakat secara tradisional di beberapa wilayah pengembangan (Provinsi Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat) walaupun begitu, persoalan budidaya yang baik dan penanganan pascapanen masih jadi tantangan kedepan. Komoditas kapas, kemiri sunan dan sagu sampai dengan tahun 2019, diproyeksikan luas tanam (TM) tetap, faktor ketersediaan lahan dan benih akan menjadi masalah utama pengembangan ketiga komoditas tersebut kedepan sehingga arah kebijakan Ditjen. Perkebunan lebih diprioritaskan pada kegiatan dalam rangka peningkatan produktivitas, memperkuat aspek perbenihan, kelembagaan dan pascapanen.
Tabel 13. Proyeksi Produksi (ton) Komoditas Perkebunan tahun 2015-2019
No. Komoditas
proyeksi produksi (ton) per tahun Laju Pertumb. (%) 2015 2016 2017 2018 2019 1. Tebu (gula) 2.498.000 2.510.000 2.698.000 2.949.000 3.262.000 6,97 2. Kelapa Sawit (CPO) 30.798.000 30.845.000 32.657.000 34.515.000 36.420.000 4,31 3. Karet (karet kering) 3.320.000 3.438.000 3.559.000 3.683.000 3.810.000 3,50 4. Kelapa (kopra) 3.309.000 3.355.000 3.401.000 3.446.000 3.491.000 1,35 5. Kakao (biji kering) 773.000 831.000 872.000 916.000 961.000 5,60 6. Kopi (kopi berasan) 725.000 738.000 751.000 765.000 778.000 1,78 7. Teh (daun kering) 159.600 160.400 161.200 162.000 162.700 0,48 8. Lada (lada kering) 93.000 94.100 95.100 96.200 97.300 1,14 9. Cengkeh (bunga kering) 112.600 114.700 116.800 119.000 121.200 1,86
144 | P a g e 10. Pala (biji kering) 27.700 29.000 30.400 31.800 33.400 4,79 11. Jambu Mete (gelondong kering) 123.630 123.650 126.600 129.600 132.700 1,79 12. Nilam (minyak nilam) 2.750 2.760 2.780 2.810 2.840 0,81 13. Kapas (serat berbiji) 1.850 1.930 2.000 2.090 2.170 4,07 14. Tembakau (daun kering) 279.600 298.800 319.400 341.500 365.100 6,90
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.
Hasil analisis laju pertumbuhan rata-rata proyeksi produksi komoditas unggulan perkebunan tahun 2015-2019 seperti pada tabel 13 adalah sebesar 4,15%. Komoditas dengan proyeksi laju pertumbuhan produksi yang tertinggi adalah komoditas tebu, tembakau, kakao, pala, kelapa sawit, kapas dan karet dengan kisaran pertumbuhan antara 3-6% selama 5 tahun mendatang.
Untuk komoditas sagu dan kemiri sunan, 5 tahun mendatang belum bisa diproyeksikan angka produksinya. Komoditas sagu selama ini difasilitasi Ditjen. Perkebunan hanya dalam kegiatan penataan varietas, alat pengolahan dan perluasan areal dalam skala terbatas. Yang menjadi kendala adalah sebagian besar areal produktif sagu berada pada wilayah kehutanan sehingga untuk budidaya masih terkendala keterbatasan lahan dan teknologi pascapanen yang belum memenuhi aspek ekonomis pekebun sagu. Sedangkan komoditas kemiri sunan selama ini difasilitasi Ditjen. Perkebunan hanya dalam pengembangan areal dalam skala terbatas, kendala di lapangan adalah terbatasnya Unit Pengolahan Hasil, sempitnya jangkauan pasar dan varietas tanaman yang ada belum mampu menghasilkan produktivitas yang optimal sehingga daya tarik pekebun untuk budidaya kemiri sunan sangat kurang. Hal ini ditambah lagi umur panen kedua komoditas ini secara alami berkisar antara 4-7 tahun sehingga kurang memilki aspek ekonomis untuk dibudidayakan. Kedepan aspek budidaya, pengolahan, pemasaran dan penelitian/ teknologi akan memegang peranan yang penting dalam pengembangan komoditas ini.
Tebu sebagai salah satu komoditas unggulan perkebunan memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan secara nasional yaitu Gula. Hal ini sesuai dengan sasaran strategis Kementerian Pertanian dimana gula berbasis komoditas tebu menjadi komoditas strategis untuk pencapaian kedaulatan pangan nasional. Direktorat Jenderal Perkebunan pada periode 2015-2019 terus berupaya mengembangkan komoditas tebu di wilayah sentra-sentra pengembangan tebu dan wilayah pengembangan/ bukaan baru melalui
145 | P a g e
alokasi anggaran dan kegiatan yang ditujukan untuk peningkatan produksi dan produktivitas. Dalam usaha perkebunan tebu, pada 5 tahun mendatang diproyeksikan terjadi peningkatan produksi tebu yang cukup signifikan dengan laju pertumbuhan produksi sebesar 6,97%. Dukungan APBN Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mendukung peningkatan produksi tebu diwujudkan dalam bentuk penyediaan benih unggul bermutu melalui pembangunan Kebun Benih Induk (KBI) dan Kebun Benih Datar (KBD) menggunakan teknik kultur jaringan, bantuan alat dan mesin pertanian, penyediaan agro-input, penguatan riset dan kelembagaan usaha tani tebu (KPTR), bongkar ratoon, rawat ratoon dan perluasan areal pada daerah potensial pengembangan tebu dan daerah bukaan baru. Selain itu inisiasi pembangunan dan revitalisasi Pabrik Gula (PG) melalui peningkatan kapasitas giling PG dan fasilitasi pembiayaan menjadi faktor penting dalam mendukung kebijakan pengembangan tebu. Terakhir, upaya keberpihakan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam pengaturan tata niaga pertebuan, stabilitas harga dan kebijakan pembangunan infrastruktur serta melalui diversifikasi produk akan menjadi faktor pengungkit dalam mendukung pengembangan tebu rakyat kedepan.
Usaha perkebunan tembakau didominasi oleh perkebunan rakyat. Tingginya laju proyeksi produksi rata-rata tembakau menunjukkan besarnya kekuatan sumber daya pekebun dalam mengembangkan komoditas tembakau yang dapat memberikan jaminan harga yang remuneratif meskipun dibatasi oleh berbagai peraturan terutama peraturan tentang kesehatan dan intervensi tanpa adanya bantuan input produksi dari APBN. Namun demikian, peran Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi tembakau, masih tetap dilakukan terutama dalam pembinaan, pengawalan dan pemberdayaan petani baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Adanya alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) kepada daerah penghasil tembakau, memungkinkan Pemerintah Daerah membina para pekebun tembakau di wilayahnya secara lebih intensif.
Kegiatan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas Kakao) yang dicanangkan Direktorat Jenderal Perkebunan sejak tahun 2009-2013 cukup menunjukkan kinerja yang memuaskan baik produksi maupun produktivitas. Semakin meningkatnya peran serta swasta dan pemerintah daerah baik melalui kontribusi anggaran maupun dukungan regulasi sangat membantu petani/pekebun kakao dalam usaha budidaya untuk peningkatan produksi. Kedepan Direktorat Jenderal Perkebunan tetap memfokuskan pengembangan kakao melalui kegiatan
146 | P a g e
intensifikasi/ rehabilitasi/ peremajaan/ perluasan tanaman, pemberdayaan pekebun, penguatan kelembagaan pekebun, pembangunan/ pemeliharaan kebun sumber bahan tanam, bantuan alat pascapanen dan pengendalian OPT dengan 4 tujuan utama yaitu 1) peningkatan produksi, produktivitas dan mutu kakao nasional; 2) menjadi penghasil biji kakao nomor 1 dunia mengalahkan Ghana dan Pantai Gading; 3) peningkatan sumber devisa negara dari produk ekspor, dan 4) peningkatan kesejahteraan pekebun.
Peningkatan luas TM komoditas pala yang diproyeksikan 5 tahun mendatang tumbuh sebesar 4,37% akan diikuti dengan peningkatan produksi sebesar 4,79%. Optimalisasi pemanfaatan lahan eksisting komoditas pala pada daerah sentra pengembangan melalui kegiatan rehabilitasi dan peremajaan diyakini akan mampu mencapai target produksi yang dicanangkan. Selain itu pola budidaya, pemberdayaan pekebun dan teknologi pascapanen harus menjadi kegiatan pengungkit dalam rangka peningkatan produksi komoditas pala pada kawasan pengembangan.
Fasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan melalui APBN untuk pengembangan komoditas kelapa sawit tetap dilakukan melalui kegiatan demplot model peremajaan kelapa sawit, pergantian benih tidak bersertifikat dengan benih unggul bermutu dan bersertifikat dalam skala terbatas, serta mendorong lebih banyak pekebun untuk dapat memanfaatkan fasilitas subsidi bunga perbankan yang disalurkan melalui skim kredit program Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) dalam rangka pengembangan usaha perkebunan kelapa sawitnya. Walaupun saat ini telah ditetapkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang secara tupoksi lebih dominan untuk mengembangkan komoditas kelapa sawit melalui kegiatan peremajaan tanaman, pengembangan SDM, penelitian, promosi, sarana prasarana, pemanfaatan BBN sampai hilirisasi industri tetapi dalam skala terbatas Ditjen. Perkebunan tetap berkontribusi dalam pengembangan kelapa sawit nasional seperti melalui dukungan kebijakan dan regulasi.
Seiring dengan penetapan proyeksi luas tanam komoditas kapas 5 tahun mendatang lebih difokuskan pada peningkatan produktivitas pada lahan-lahan eksisting, maka diikuti dengan peningkatan proyeksi produksi kapas sampai dengan tahun 2019 meskipun anomali iklim dan aspek perbenihan masih menjadi kendala terbesar pengembangan kapas. Ditjen. Perkebunan terus berupaya mengalokasikan kegiatan dan
147 | P a g e
anggaran di sentra-sentra produksi kapas meliputi penanaman kapas pada lahan-lahan eksisting ditambah melalui pelatihan petani untuk meningkatkan kapabilitas petani dalam memahami teknik budidaya dan pascapanen yang baik pada komoditi kapas dan pelaksanaan pengendalian OPT kapas. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan animo para pekebun untuk mengusahakan kapas menjadi tinggi sehingga akan mendongkrak harga jual serat kapas berbiji yang selama ini dianggap kurang memberikan keuntungan.
Semakin meningkatnya permintaan dunia pada produk turunan komoditas karet mendorong negara penghasil karet dunia termasuk Indonesia untuk meningkatkan produksi dan produktivitas karet secara nasional walaupun dibatasi oleh perjanjian kerjasama dalam forum ITRC dengan tujuan untuk stabilisasi harga karet dunia. Kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2019 untuk pengembangan komoditas karet tetap difokuskan pada kegiatan peremajaan tanaman, perluasan areal secara terbatas di daerah tertinggal, perbatasan dan pasca konflik, pemberdayaan petani, penanganan pascapanen, pembangunan/ pemeliharaan kebun sumber bahan tanam dan pengendalian OPT. Tabel 14. Proyeksi Produktivitas (Kg/Ha) Komoditas Perkebunan tahun
2015-2019
No. Komoditas proyeksi produktivitas (kg/ha) per tahun
Laju Pertumb. (%) 2015 2016 2017 2018 2019 1. Tebu 5.613 5.642 5.827 6.031 6.285 2,88 2. Kelapa Sawit 3.991 3.991 4.187 4.352 4.485 2,98 3. Karet 1.087 1.107 1.128 1.149 1.170 1,86 4. Kelapa 1.247 1.260 1.272 1.284 1.295 0,94 5. Kakao 655 688 704 723 752 3,51 6. Kopi 751 759 766 772 773 0,75 7. Teh 1.309 1.310 1.316 1.318 1.322 0,24 8. Lada 798 804 809 815 820 0,66 9. Cengkeh 364 370 374 377 379 0,97 10. Pala 185 185 185 186 188 0,40 11. Jambu Mete 369 369 371 377 382 0,89 12. Nilam 86 86 86 86 87 0,11 13. Kapas 264 276 286 299 310 4,07 14. Tembakau 1.020 1.071 1.121 1.174 1.233 4,85
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2016.
Tabel 14 menunjukkan proyeksi produktivitas yang akan dicapai dalam kurun waktu 5 tahun kedepan. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju pertumbuhan rata-rata proyeksi produktivitas komoditas unggulan perkebunan tahun 2015-2019 adalah sebesar 2,37%. Komoditas dengan proyeksi laju pertumbuhan produktivitas yang tertinggi adalah komoditas
148 | P a g e
tembakau, kapas, kakao, kelapa sawit, tebu dan karet yang berada pada kisaran 1-4% selama 5 tahun mendatang. Proyeksi peningkatan produktivitas 14 komoditas unggulan perkebunan diyakini sebagai dampak dari kegiatan-kegiatan yang akan dicanangkan Direktorat Jenderal Perkebunan pada sentra-sentra produksi komoditas perkebunan tahun 2015-2019 seperti 1) kegiatan intensifikasi pada tanaman kelapa sawit, kakao, kopi, lada, cengkeh, pala dan teh 2) penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat serta demplot peremajaan pada kelapa sawit, 3) bongkar ratoon, rawat ratoon dan penataan varietas pada tanaman tebu, 4) peremajaan pada komoditas karet, kelapa, jambu mete, kopi, pala dan kakao, 5) rehabilitasi pada komoditas kelapa, jambu mete, kopi, teh, kakao, lada, pala dan cengkeh, 6) kegiatan penanaman kapas dan tembakau; 7) kegiatan penataan tanaman sagu; 8) kegiatan pengendalian OPT dan SL-PHT, dan 9) pemberdayaan petani yang secara tidak langsung membina petani untuk secara swadaya mengimplementasikan teknik-teknik budidaya tanaman yang benar untuk meningkatkan produktivitas tanamannya.