• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Pembangunan Perkebunan secara umum

Berikut ini akan dijabarkan beberapa potensi pembangunan perkebunan yang secara umum berkaitan dengan kondisi sumber daya alam, lahan dan air, sumber daya insani, inovasi teknologi, lingkungan, demografi, bahan baku biologi/ benih, sistem infomasi manajemen, partisipasi masyarakat, semangat desentralisasi, anggaran, kelembagaan, pasar dan aspek kepemerintahan/ reformasi birokrasi dalam membangun perkebunan kedepan.

24 | P a g e

Kondisi alam Indonesia merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dapat dieksplorasi untuk menjadi modal penting pembangunan perkebunan. Sebagai negara tropis maka Indonesia secara alami merupakan kawasan dengan efektivitas dan produktivitas yang tinggi dalam pemanenan dan transformasi energi matahari menjadi bio-massa dan feedstock bio-industry. Kondisi ini juga dapat menjadi basis keunggulan kompetitif dalam bio-economic. Bio-economic adalah semua aktivitas ekonomi yang menggunakan sumberdaya hayati untuk menghasilkan bahan kimiawi, material dan bahan bakar nabati untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu negara mega biodiversity yang mempunyai jumlah keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Walaupun luas daratannya hanya 1,3% dari seluruh daratan bumi tetapi Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat berlimpah. Sekitar 10% varietas bunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptil dan amphibia, 17% spesies burung serta 25% spesies ikan terdistribusi di Indonesia. Sebagian spesies bahkan tidak terdapat di belahan bumi lain. Potensi sumber hayati berasal dari tumbuhan ada sekitar 40.000 yang terdiri dari 5.000 jenis jamur, 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah.

Melimpahnya keanekaragaman flora merupakan potensi sumber daya genetik untuk menghasilkan klon/varietas unggul perkebunan disamping dapat dimanfaatkan sebagai bahan bio-fuel, bio-pesticide, bio-fertilizer atau untuk tujuan komersial lainnya. Selain itu, keanekaragaman hayati tersebut merupakan tumpuan hidup manusia karena setiap orang membutuhkannya untuk menopang kehidupan, sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri, farmasi dan obat-obatan. Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati adalah melalui perdagangan tanaman obat dengan nilai perdagangan tanaman obat dan produk berasal dari tumbuhan termasuk suplemen. Selain berfungsi untuk menunjang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Lebih berkembang lagi, beberapa tanaman merupakan komoditas spesifik perkebunan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga sangat berpotensi untuk mengisi pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam bidang pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) perkebunan adanya potensi hayati dari organisme berupa jamur, bakteri,

25 | P a g e

virus, nematode, mikroplasma, protozoa atau jasad renik lainnya (mikroorganisme antagonistic), serta golongan hewan dan serangga yang bersifat predator (parasitoid). Organisme tersebut keberadaannya di alam memegang peran yang sangat penting dan ikut menentukan keseimbangan alam.Oleh karena itu sering disebut musuh alami untuk pengendalian hama, penyakit dan organisme penganggu tanaman perkebunan.

Keberadaan musuh alami ini sering mengalami goncangan bahkan hampir menghilang, hal ini sebagai konsekuensi logis dari perubahan bioekosistem, khususnya agroekosistem akibat tindak kelola yang dijalankan manusia atau tata perubahan alami yang terjadi di lingkungan karena pengaruh biotik dan abiotik sehingga potensinya tidak optimal dan jauh tertinggal dari populasi OPT-nya. Hal ini menjadikan sering muncul program OPT dan bumerang bagi manusia itu sendiri. Oleh karena itu dengan adanya Undang-Undang Budidaya Tanaman nomor 12 Tahun 1992 dapat dipakai sebagai landasan, mengingat pada pasal 60 menyebutkan bahwa barang siapa yang merusak sumber daya alam/kelestarian lingkungan akan dikenai pidana dan denda cukup berat (dipidana penjara 5 tahun dan denda 250 juta rupiah). Pada pasal 20 lebih ditegaskan lagi bahwa di dalam usaha perlindungan tanaman agar dilaksanakan melalui Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dimana pemanfaatan musuh alami yang berupa organisme (Agensia Hayati) menjadi prioritas utama. Hal ini terlihat betapa besar perhatian pemerintah dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati serta sekaligus mengoptimalkan potensinya dalam budidaya tanaman.

Indonesia juga memiliki sumberdaya biofisik yang cukup beragam untuk mendukung pengembangan pertanian antara lain adalah ketersedian tanah, hara, dataran rendah dan tinggi, curah hujan yang merata di sebagian wilayah, sinar matahari yang terus menyinari sepanjang tahun, kelembaban udara dan organisme-organisme serta setidaknya memiliki 47 ekosistem alami yang berbeda. Kita bisa menjumpai padang es dan padang rumput dataran tinggi di Papua. Beragam hutan basah dataran rendah di Kalimantan dan Sumatera. Adapula ekosistem danau yang dalam dan rawa dangkal. Untuk itu, agar keanekaragaman hayati dan agoekosistem tidak terancam kelestariannya, maka kita harus arif dan bijaksana dalam memanfaatkannya, dengan mempertimbangkan aspek aspek manfaat dan kelestariannya.

26 | P a g e

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati dalam bentuk komoditas pangan dan perkebunan sebagai sumber pemanfaatan bio-economic. Bio-economic mengacu pada semua aktivitas ekonomi menggunakan sumberdaya hayati untuk menghasilkan bahan kimiawi, material dan bahan bakar nabati untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pengembangan bio-economic dipacu oleh semakin tingginya tuntutan atas produk pangan berkualitas termasuk

functional food.

Pengembangan bio-economic juga telah berkontribusi nyata pada peningkatan harga komoditas pangan utama dunia selama 5 tahun terakhir. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) memperkirakan kedepan era harga bahan pangan murah telah berakhir, dan ini salah satunya dipicu karena makin beragamnya pemanfaatan pangan, termasuk untuk sumber energi dan produk turunan lainnya yang terkait dengan bio-economic.

Bio-economic berbasis dari pemanfaatan dan pengembangan pemanenan energi matahari melalui proses hayati. Keunggulan alam tropika dalam penyediaan proses hayati dalam pemanenan energi matahari harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Iklim tropika dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia harus dimanfaatkan sebesar-besarnya melalui pengembangan teknologi dan kelembagaan yang mampu mengembangkan bio-economic tropical. Agar tidak tertinggal dari negara lain maka kedepan pembangunan pertanian harus didasarkan pada konsep bio-economic yang membuka peluang pemanfaatan semua bio-massa yang dihasilkan kegiatan pertanian pada produk yang bernilai ekonomi tinggi.

3) Peningkatan permintaan dunia terhadap 4F Crops (Food, Feed, Fiber

and Fuel)

Indonesia memiliki peluang yang sangat besar karena keunggulan komparatif Indonesia sebagai negara agraris dan memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, selain itu komoditas unggulan perkebunan yang dapat ditanam diberbagai kondisi. Tetapi, untuk menjadikan komoditas unggulan perkebunan ini unggul secara kompetitif maka diperlukan penanganan yang baik seperti budidaya yang baik dan ramah lingkungan, penanganan pascapanen serta penggunaan benih unggul dan sarana produksi yang berkualitas.

Komoditas perkebunan di Indonesia memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber pangan manusia (food), sumber pakan

27 | P a g e

ternak (feed), kebutuhan serat pangan (fiber) untuk pupuk organik dan bahan bakar bio-massa dan kebutuhan minyak nabati (fuel) untuk kebutuhan bahan bakar nabati (BBN). Peluang ini perlu dimanfaatkan karena semakin tingginya permintaan dunia akan produk 4F Crops yang ramah lingkungan sebagai implikasi dari menipisnya cadangan fosil didunia. Kedepan pemanfaatan komoditas perkebunan sebagai sumber 4F Crops akan bertransformasi kedalam pemanfaatan komoditas/produk sebagai sumber 4-bio-F Crops (bio-food, bio-feed, bio-fiber and bio-fuel). Berkaitan dengan potensi fuel untuk menggantikan bahan bakar minyak (BMM) dan bahan bakar gas (BBG) yang berasal dari sumber daya fosil yang dari masa ke masa jumlahnya semakin terbatas dan akan habis, karena sumber energi tersebut memiliki sifat irreneweble (tidak dapat diperbaharui) meskipun sampai dengan saat ini dipakai sebagai sumber energi penggerak utama transportasi, industri dan juga pertanian. Sejak dieksploitasi mulai abad 20-an diperkirakan sumberdaya ini fosil semakin langka. Dengan terbatasnya ketersediaan energi dan fosil, maka harus dicarikan sumber energi alternatif lain. Dari hasil penelitian beberapa komoditas pertanian khususnya tanaman perkebunan yang dapat diolah menjadi sumber energi, seperti 1) komoditas kelapa sawit, kelapa, kemiri sunan, jarak pagar, nyamplung dan lain-lain sebagai sumber pemanfaatan bio-disel; 2) komoditas tebu, sagu, aren, nipah dan lain-lain sebagai sumber pemanfaatan bio-ethanol dan 3) limbah/ sisa tanaman dan kotoran ternak dapat diolah menjadi sumber bio-massa. Ketiga sumber energi dari hayati tersebut dapat disebut Bahan Bakar Nabati (BBN) dan dapat dikembangkan dengan baik karena bersifat renewable (dapat diperbaharui). Yang menjadi tantangan kedepan adalah bagaimana pola budidaya yang tepat, menemukan varietas yang dapat meningkatkan produktivitas dan sistem pascapanen yang baik sehingga akan meningkatkan permintaan terhadap BBN dan pada akhirnya akan memberikan peluang pasar baru bagi produk hasil perkebunan bagi pekebun.

4) Kecenderungan baru penghargaan atas jasa lingkungan dan jasa

amenity

Lahan perkebunan tidak hanya penghasil bahan makanan, serat dan energi tetapi juga mempunyai multifungsi yang menghasilkan jasa lingkungan dan jasa amenity. Jasa lingkungan dan jasa amenity lahan perkebunan antara lain penyedia sumber air tanah dan oksigen, pengendali banjir, pencegah erosi/ longsor dan sedimentasi, mempertahankan suhu udara, mendaur ulang limbah, menjaga kualitas

28 | P a g e

udara/ purifikasi, pengatur tata air dan menjaga keberadaan sumber daya air, memitigasi perubahan iklim, sumber keindahan dan kenyamanan, pelestari keanekaragaman hayati, pelestari budaya pedesaan, dan sebagainya.

Nilai manfaat jasa lingkungan dan amenity lahan perkebunan sudah mempunyai pasar, dan ini dapat dilihat dari berkembangnya beragam

eco-tourism atau wisata alam di wilayah perkebunan dengan harga jual

yang kompetitif. Berbagai jasa pariwisata ke kawasan sentra perkebunan (misalnya perkebunan teh) yang memberi pengunjung keindahan areal perkebunan serta kesempatan merasakan kehidupan pekebun telah berkembang sebagai paket pariwisata yang ditawarkan berbagai resort wisata. Kedepan dengan makin besarnya kecenderungan urbanisasi maka kebutuhan akan amenity atau kenyamanan lingkungan yang didapat dari wilayah perdesaan dengan lahan pertanian akan semakin besar sehingga nilai tambah dari kegiatan perkebunan akan semakin kompetitif. Seiring dengan berkembangnya sistem nilai dan kelembagaan, di masa datang, jasa-jasa amenity dan lingkungan dari kegiatan perkebunan akan semakin dapat diperdagangkan dan diinternalisasikan dalam mekanisme pasar. Selain itu, jasa-jasa amenity yang lain adalah dipergunakannya sentra-sentra pengembangan komoditas perkebunan baik model pengembangan maupun kawasan budidaya sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pelatihan di kalangan pegawai swasta, pelajar sekolah menengah, mahasiswa perguruan tinggi, para peneliti dan stakeholder lainnya.

Secara umum, berbagai praktek perkebunan bisa menghasilkan jasa lingkungan dan multifungsi yang negatif (negative externalities), namun sistem perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan akan memberikan

positive externalities. Sistem perkebunan berbasis pohon/ tanaman

tahunan, terutama sistem multistrata seperti agroforestry, cenderung memberikan berbagai jasa lingkungan yang positif. Sebaliknya sistem pertanian lahan kering berbasis tanaman semusim yang dikelola secara intensif di lahan berlereng curam, cenderung memberikan berbagai eksternalitas yang negatif. Kesemuanya tergantung pengelolaan dan strategi untuk mengubah negative externalities menjadi positive

externalities atau strategi mempertahankan positive externalities.

Pendekatan yang dilakukan dalam peningkatan jasa lingkungan antara lain: 1) pendekatan hukum untuk meningkatkan insentif praktek perkebunan yang memberikan fungsi lingkungan positif dan dis-insentif untuk praktek perkebunan yang berdampak negatif terhadap fungsi

29 | P a g e

lingkungan; 2) pendekatan sektoral yang aktivitasnya berdampak mengurangi atau menghilangkan kemampuan sektor pertanian dalam menghasilkan jasa lingkungan, seperti Undang-Undang 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan; dan 3) insentif finansial dan bantuan teknis untuk mengembangkan sistem pertanian yang memberikan peningkatan nilai ekonomi dan sekaligus jasa lingkungan.

Berikut ini pada Tabel 6 menunjukkan jasa lingkungan sub sektor perkebunan dan strategi peningkatan nilai positif jasa lingkungan.

Tabel 6. Jasa Lingkungan Sub Sektor Perkebunan dan Strategi Peningkatan Nilai Positif Jasa Lingkungan

No. Jasa Lingkungan Positif

Jasa Lingkungan Negatif

Strategi Peningkatan Nilai Positif Jasa

Lingkungan 1. Tanaman pohon-pohonan: a. Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan CO2

yang relatif tinggi b. Meningkatkan daya infiltrasi tanah dan mengurangi erosi/ tanah longsor Tanaman pohon-pohonan: a. Memiliki biodiversitas yang rendah bila dalam bentuk monokultur Strategi: a. Memperbanyak keberadaan sistem pertanian berbasis pohon-pohon melalui rehabilitasi lahan terlantar/ sub optimal menjadi sistem pertanian berbasis pohon b. Meningkatkan biodiversitas melalui system multistrata/ agroforestry c. Pemgembangan usaha pertanian polikultur 2. Tanaman semusim (annual) dan 2 musim (biennial): a. Penyedia sumber oksigen b. Pengendali banjir c. Eco-tourism jika dikelola dengan baik dan terintegrasi dengan usaha Tanaman semusim (annual) dan 2 musim (biennial):

a. Sumber erosi dan sedimentasi b. Pencemaran oleh residu bahan agrokimia Strategi: a. Penerapan inovasi teknologi konservasi tanah dan agroforestry b. Mendaur ulang sisa

tanaman c. Peningkatan efisiensi pemupukan dan penggunaan pestisida organik (pertanian organik)

30 | P a g e agribisnis lain berbasis keindahan alam perdesaan d. Sarana pendidikan, pelatihan dan penelitian d. Integrasi dengan ternak (nilai tambah) e. Penerapan model pengembangan komoditas perkebunan dengan basis penelitian dan pendidikan 3. Pertanian dilahan gambut: a. Sumber keanekaragaman hayati Pertanian dilahan gambut: a. Sumber emisi CO2 melalui GRK dan terganggunya tata air Strategi:

a. Pengaturan tata air dan mengurangi kedalaman saluran drainase

b. Intensifikasi pertanian pada areal eksisting di lahan gambut agar tekanan terhadap perluasan areal dapat di kurangi c. Meminimalkan penggunaan lahan gambut untuk perluasan areal pertanian dan mengutamakan penggunaan lahan mineral

d. Inovasi dan teknologi pemanfaatan lahan gambut yang

diarahkan pada sistem penggunaan dan pengelolaan lahan yang dapat meningkatkan daya adaptabilitas dan ketangguhan (resilience) sistem tersebut dan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan yang lebih tinggi

31 | P a g e

5) Perkembangan inovasi dan ilmu pengetahuan teknologi pertanian/ perkebunan

Perkembangan penerapan inovasi teknologi secara umum masih harus dioptimalkan. Perkembangan diseminasi teknologi kepada petani/ pekebun lebih mudah dilakukan karena umumnya petani/ pekebun tertarik kepada hal-hal yang bersifat inovatif, namun tingkat adopsi masih sangat rendah. Hal ini disebabkan karena produk yang dihasilkan dengan mengadopsi teknologi baru tidak mendapatkan insentif atau nilai tambah artinya harga yang diterima tidak berbeda jauh dengan harga produk tanpa teknologi baru. Hal lain adalah tidak adanya jaminan pasar untuk teknologi tersebut berkembang di masyarakat. Contoh adalah produk kakao yang di fermentasi dan tanpa fermentasi dengan selisih harga jual yang sangat kecil.

Perkembangan inovasi dan ilmu pengetahuan teknologi pertanian/ perkebunan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas pertanian/ perkebunan dan bio-industry spesifik lokasi melalui pengembangan sistem budidaya, perbenihan dan pascapanen dengan modal dasar lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pertanian minimal harus dapat menjawab 2 hal,

pertama bagaimana teknologi dapat menjawab berbagai hal terkait

dengan dampak perubahan iklim, dan yang kedua bagaimana teknologi dapat menjawab berbagai keterbatasan pada sumberdaya yang ada di tengah perkembangan kebutuhan manusia yang tanpa batas. Untuk menjawab kedua hal di atas, diperkirakan ada 3 revolusi di bidang sains yang diperlukan dan saat ini sedang terjadi di dunia, yaitu revolusi di bidang bio-technology, nano-technology dan information-technology. Salah satu ciri pertanian yang berkebudayaan industri adalah adanya pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk pengambilan keputusan, pemakaian kemajuan teknologi sebagai instrumen utama pada pemanfaatan sumber daya dan perekayasaan untuk meningkatkan nilai tambah dan meminimalkan ketergantungan terhadap alam. Oleh karena itu pertanian/ perkebunan di sini sangat terbuka dan responsif terhadap inovasi dan ilmu pengetahuan teknologi tetapi selaras dengan lingkungan lokal. Pada masa depan tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi tinggi dalam bidang bio-technology dan telekomunikasi harus dimanfaatkan seoptimal mungkin guna meningkatkan produktivitas, mutu dan nilai tambah produk pertanian.

32 | P a g e

Kementerian Pertanian turut mendukung inovasi pengelolaan sumberdaya pertanian/ perkebunan diantaranya pedoman identifikasi dampak dan arahan antisipasi, adaptasi serta mitigasi perubahan iklim pada sektor pertanian; roadmap strategi sektor pertanian menghadapi perubahan iklim; teknologi sistem pertanian terpadu lahan kering iklim kering; teknologi pengelolaan tanah, air dan pupuk untuk mendukung peningkatan produktivitas tanaman; teknologi pengelolaan lahan sub optimal melalui penerapan pengelolaan hara terpadu dan konservasi tanah; teknologi pemberdayaan agens hayati tanah untuk pemulihan kesuburan tanah terdegradasi; teknologi mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui pengelolaan tanaman terpadu; teknologi optimalisasi pemanfaatan lahan rawa; berbagai formula pupuk organik, anorganik, hayati dan pembenah tanah; serta berbagai tools/kit seperti perangkat uji hara tanaman tebu dan sawit, alat pengukur pH, testkit digital perangkat uji pupuk organik, perangkat uji tanah rawa, dan alat analisis residu pestisida.

Inovasi dan teknologi pertanian juga berhububungan erat terhadap pengembangan alat dan mesin pertanian. Upaya yang selama ini dilakukan Kementerian Pertanian adalah melalui pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Pengembangan dengan pendekatan UPJA ini diharapkan akan membantu peredaran alat dan mesin pertanian/ perkebunan di masyarakat. Selama tahun 2011-2013 telah dikembangkan UPJA mandiri sebanyak 7.133 paket dan menyalurkan alat dan mesin pertanian kepada beberapa kelompok masyarakat sebanyak 9.794 unit. Penyaluran ini lebih berfungsi sebagai stimulan untuk menggerakkan swadaya petani/ pekebun.

6) Ketersediaan sumber daya lahan dan kesesuaian agro-ecosystem Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Total luas daratan Indonesia sebesar 192 juta hektar, terbagi atas 123 juta hektar (64,6%) kawasan budidaya dan 67 juta hektar sisanya (35,4%) merupakan kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya di daratan yang berpotensi untuk areal pertanian seluas 101 juta hektar, meliputi lahan basah 25,6 juta hektar; lahan kering tanaman semusim 25,3 juta hektar dan lahan kering tanaman tahunan 50,9 juta hektar. Sampai saat ini dari areal yang berpotensi untuk pertanian, yang sudah dibudidayakan menjadi areal pertanian sebesar 47 juta hektar sehingga masih tersisa 54 juta hektar yang berpotensi untuk perluasan areal pertanian.

33 | P a g e

Potensi lahan untuk pengembangan pertanian secara biofisik masih cukup luas sekitar 30 juta hektar, dimana 10 juta hektar di antaranya berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) dan 20 juta hektar di kawasan kehutanan (Badan Litbang Pertanian, 2007). Apabila dari 10 juta hektar lahan yang belum dimanfaatkan itu terdapat lahan dengan vegetasi hutan primer dan kawasan gambut maka tukar guling bisa dilakukan dengan kawasan kehutanan yang lahannya sesuai untuk pengembangan pertanian di areal 20 juta hektar. Disisi lain, dalam menyediakan lahan-lahan tersebut perlu juga memperhatikan penerapan Undang-Undang nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang mengamanatkan upaya pengendalian alih fungsi lahan pangan menjadi lahan-lahan non pangan (contoh: perkebunan non pangan/ industry dan permukiman).

Selain itu, jumlah luasan dan sebaran hutan, sungai, rawa dan danau serta curah hujan yang cukup tinggi, sesungguhnya merupakan potensi alamiah untuk memenuhi kebutuhan air pertanian apabila dikelola dengan baik. Waduk, bendungan, embung dan air tanah serta air permukaan lainnya sangat potensial untuk mendukung pengembangan usaha pertanian. Potensi ini apabila dapat dimanfaatkan secara optimal merupakan peluang bangsa kita untuk menjadi lebih maju dan sejahtera. Masih tersedia areal pertanian dan lahan potensial belum termanfaatkan secara optimal seperti lahan kering/rawa/lebak/ pasang surut/gambut dan lahan sub optimal lainnya yang merupakan peluang bagi peningkatan produksi tanaman perkebunan. Potensi sumberdaya ini harus dirancang dengan baik pemanfaatannya untuk produksi komoditas tanaman perkebunan dan meningkatkan pendapatan pekebun.

Potensi lainnya dalam pembangunan perkebunan adalah kondisi

agro-ecosystem. Komponen agro-ecosystem yang meliputi kondisi geografis,

penyinaran matahari, intensitas curah hujan yang hampir merata sepanjang tahun di beberapa wilayah dan keanekaragaman jenis tanah menjadi faktor yang sangat mendukung dan potensial untuk pengembangan komoditas perkebunan. Komponen agro-ecosystem lainnya yaitu tanaman perkebunan selain bernilai ekonomis juga mempunyai potensi ekologis yaitu sebagai pemfiksasi CO2 dan sebagai tanaman yang berfungsi konservasi lahan dan air. Selain itu komoditas perkebunan juga berpotensi menurunkan emisi CO2 terutama bila komoditas perkebunan dikembangkan untuk merehabilitasi lahan semak belukar/alang-alang.

34 | P a g e

Ketersediaan sumber daya air nasional (annual water resources/AWR) masih sangat besar, terutama di wilayah barat, akan tetapi tidak semuanya dapat dimanfaatkan. Sebaliknya di sebagian besar wilayah timur yang radiasinya melimpah dan curah hujan rendah (<1.500 mm per tahun) hanya terdistribusi selama 3-4 bulan. Total pasokan atau ketersediaan air wilayah (air permukaan dan air bumi) di seluruh Indonesia adalah 2.110 mm per tahun setara dengan 127.775 m3 per detik. Indonesia dikategorikan sebagai negara kelompok 3 berdasarkan kebutuhan dan potensi sumber daya airnya yang membutuhkan pengembangan sumberdaya 25-100% dibanding kondisi saat ini.

Berdasarkan analisis ketersediaan air, dapat diproyeksi bahwa kebutuhan air sampai tahun 2020 untuk Indonesia masih dapat dipenuhi dari air yang tersedia saat ini. Proyeksi permintaan air untuk tahun 2020 hanya sebesar 18% dari total air tersedia, digunakan sebagian besar untuk keperluan irigasi (66%), sisanya 17% untuk rumah tangga, 7% untuk perkotaan dan 9% untuk industri. Oleh karena itu, kedepan perlu ada upaya antisipatif terhadap fenomena kelangkaan sumber daya air yang disebabkan karena kerusakan lingkungan ataupun karena persoalan pengelolaan sumber daya air yang tidak baik. Selain itu perlu terus dikembangkan sumber baku air yang berasal dari air laut atau sumber lain yang selama ini belum dimanfaatkan dengan baik.

Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan melalui pembangunan sumber daya air, pengembangan/ pembangunan jaringan irigasi, pembangunan/ pembangunan embung dan dam parit serta pengembangan kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Pengembangan pengelolaan air di tingkat petani melalui P3A didasarkan